After 5 Years ago
By : Han Kang Woo
Cast : Do Kyungsoo, Kim Jongin, Exo member, Kpop, etc
"Only Kaisoo"
Genre : Romance, Angst (?)
Warning : This is Yaoi (Boys Love),
Rated : T+
= Happy Reading =
o…o…o…o…o…o…o…o…o…o…o
Besoknya,
Penampilan Jongin sudah sangat rapi, sejam yang lalu Chanyeol menelfonnya dan mengatakan bahwa pagi ini dia sudah bisa masuk kerja perdana, sebagai pelayan café. Café terkenal milik teman ayah Chanyeol
Jongin menatap penampilannya dicermin besar, dia sudah cukup rapi dan tampan. Setelah puas menatap penampilannya, dia berjalan pelan kearah Kyungsoo yang saat ini masih terus terbaring diatas ranjang besar
"Kyungsoo yaa, aku akan berangkat kerja. kau ikut bersamaku" gumam Jongin, yang ditujukan untuk Kyungsoo
Hening, tentu saja tidak ada timpalan
Jongin serasa ingin menangis, lagi-lagi dirinya hanya bisa berbicara sendiri, bergumam dan berkata sendiri, walau semua perkataannya itu untuk Kyungsoo, namun namja itu tentu saja tidak akan pernah bisa menjawab dan menimpalinya
Jongin memegang baju ditangannya, baju yang diambilnya dilemari kamar apartemen Chanyeol, dan sepertinya baju itu kebesaran untuk Kyungsoo
"kau harus mengganti baju dulu Kyungsoo…" kata Jongin, mendekati Kyungsoo, naik keatas ranjang dan membuka perlahan baju namja kecil itu
Jongin mengganti baju Kyungsoo dalam diam, matanya terus berkaca-kaca, ingin menangis dan menumpahkan air matanya, namun dia terus menahannya, dia tidak boleh bersedih terus menerus
Beberapa menit kemudian, Kyungsoo sudah berganti baju. Baju dengan penutup kepala yang imut, Jongin sengaja memilih baju yang ada penutup kepalanya agar Kyungsoo bisa tersamarkan
"kau tenang saja Kyungsoo, Chanyeol sudah memintakan ruangan khusus untukmu. Kau akan disana, sementara aku bekerja" ucap Jongin pelan, dia berterima kasih dalam hati pada Chanyeol sahabat yang sudah menolong dan membantunya selama ini, sahabatnya itu paham dengan keadaannya yang tidak ingin meninggalkan Kyungsoo sendirian
Dan tanpa membuang waktu lagi, Jongin langsung menggendong Kyungsoo dipunggungnya, kali ini dia sudah terbiasa dan cepat menaikkan namja itu kepunggungnya, ini adalah kali kesekian dia menggendong Kyungsoo dipunggung
"aku selalu suka menggendongmu Kyungsoo ya…" kata Jongin pelan, memperbaiki posisi Kyungsoo dipunggungnya
"…"
"tapi aku lebih suka dan senang lagi jika kau bisa membuka mata dan berbicara padaku" lanjut Jongin, mendesah pelan
Jongin memposisikan dagu Kyungsoo dipundak kanannya, dan membuat Kyungsoo kelihatan seolah-olah tertidur atau sakit
Dan kemudian namja itu bergegas keluar kamar, menyongsong hari yang cerah
.
.
.
.
O…O…O…O
Jongin dan Kyungsoo sampai tepat waktu di café yang sudah diberitahukan oleh Chanyeol. Café yang buka pagi hingga malam, dan sepertinya tempat itu berubah nama seiring waktu, jika pagi hingga sore, namanya café dan restaurant. Tapi jika malam tiba namanya berubah jadi bar
Jongin memandang plakat indah yang diatas pintu masuk utama café itu, Hyun Café
Namja itu langsung masuk kedalam ruangan utama café tersebut, sudah ada beberapa pelanggan, tapi belum terlalu banyak
Seorang namja mendatangi Jongin, dia tersenyum
"kau pasti Kim Jongin kan?" tanya namja itu, memandang ramah pada Jongin,
"ya, aku Jongin" jawab Jongin, juga tersenyum, membungkukkan dirinya pelan
Si namja memandang Jongin, tapi sepertinya pandangannya lebih tertuju pada sosok yang berada dipunggung Jongin
"apa dia adikmu yang sakit itu? Siapa namanya?" tanya si namja lagi,
"ya… adik.. ku, namanya Kyungsoo" jawab Jongin sedikit terbata, dan berpikir Chanyeol pasti sudah memberitahukan dan mengatakan bahwa Kyungsoo adalah adiknya yang sedang sakit
Si namja memandang kasihan pada Jongin dan Kyungsoo, dua kakak adik yang menurutnya sangat malang, sang kakak harus bekerja dan sang adik yang sakit
Jongin menghela nafasnya tidak kentara, berharap kemunculan jiwa Kyungsoo didekatnya, agar dia bisa meminta saran dan pendapat
"ikut denganku, untuk istirahatkan adikmu itu, ayo" ajak si namja, memberikan isyarat agar Jongin mengikutinya
Beberapa saat kemudian, si namja dan Jongin serta Kyungsoo tiba disebuah kamar kecil, mirip gudang tempat penyimpanan barang-barang, namun disana ada semacam sofa kecil
"maaf hanya ruangan ini yang layak untuk adikmu" kata si namja, nama aslinya adalah Jongdae
"tidak apa-apa" timpal Jongin, tersenyum. Dia tahu disana ada banyak kamar, tapi sepertinya kamar-kamar itu digunakan untuk penyewaan namja-yeoja yang ingin making love
Jongin menurunkan Kyungsoo pelan dari punggungnya, dia melakukannya dengan hati-hati dan mendudukkan Kyungsoo disofa kecil itu, dengan posisi bersandar
Namja pekerja cafe yang bernama Jongdae sejak tadi memperhatikan Jongin dan Kyungsoo, dia merasa aneh dengan Kyungsoo yang sejak tadi belum bangun bangun
"maaf kalau boleh tahu adikmu ini sakit apa?" tanya Jongdae pelan
Jongin selesai memperbaiki posisi Kyungsoo, dia menghela nafas dan memandang Jongdae. Pertanyaan yang tentu saja sering ditanyakan dan ditujukan untuknya
"adikku ini terkena Leukimia" jawab Jongin, mengucapkan nama penyakit yang pernah didengarnya, dan ternyata penyakit itu memang diderita oleh Kyungsoo
"leukimia? Penyakit itu sangat berbahaya" Jongdae sedikit terkaget
"ya, aku tahu" timpal Jongin, mendesah lagi
"tapi, kenapa sejak tadi dia tidak bangun-bangun?" Jongdae masih terus bertanya
"karena… karena pengaruh obat, obat dari dokter yang membuat adikku tidur dalam waktu yang lama" jawab Jongin asal,
Jongdae mengangguk pelan, tidak bertanya lebih lanjut lagi. Namja itu lalu membertitahukan pada Jongin untuk menghadap ke pemilik café yang sudah menerimanya. Dan kemudian dia dan Jongin menuju ruangan pemilik café, tepatnya asisten pemilik café, karena pemilik café sendiri sedang keluar kota
Dan beberapa saat kemudian, Jongin resmi menjadi salah satu karyawan di café itu, diterima dengan sangat mudah, berkat bantuan Chanyeol tentunya
.
.
.
.
O…O…O…O…O
Jongin mengganti bajunya dengan baju seragam khusus pelayan café, sebenarnya bukan mengganti, namja itu langsung memakai seragam baru tanpa membuka baju yang dikenakannya
Jongin tidak langsung melayani pelanggan, dia harus memperhatikan dulu cara kerja karyawan lama dan menirunya, dan tidak butuh waktu lama dia sudah tahu apa yang harus dilakukan
Salah satu karyawan senior disana, mengajari dan memberikan perintah pada Jongin
"bawakan pesanan mocca ini dimeja nomor 12, dan jangan lupa tersenyum dan ramah pada pelanggan" perintah karyawan senior itu, namanya Suho
"baik hyung" kata Jongin, dia menerima nampan yang berisi secangkir mocca hangat yang mengepul
Jongin berjalan menuju meja yang dimaksud, dia mengarahkan pandangannya kesegala arah, berharap jiwa Kyungsoo muncul dan menyapanya, tapi sepertinya jiwa itu tidak muncul
Jongin sampai dimeja nomor 12, tersenyum, lalu meletakkan cangkir berisi mocca kemeja itu
"ini pesanannya, silahkan dinikmati" ucap Jongin, tetap tersenyum ramah, mempraktekkan cara bicara Jongdae yang sejak tadi melayani pelanggan lain
Si pelanggan menoleh kearah Jongin, dia yeoja, yeoja cantik yang sepertinya menunggu best friend atau mungkin boy friendnya di cafe tersebut
Yeoja itu menatap centil pada Jongin
"apa kau karyawan baru di cafe ini?" tanya si yeoja, tidak memperdulikan pesanan moccanya, tapi malah memperhatikan wajah Jongin
"ya, noona" jawab Jongin pelan, membungkuk
Yeoja itu tertawa seperti nenek sihir
"jangan panggil aku noona, aku ini masih muda dan single, umurku baru 29 tahun" tukas si yeoja, memainkan rambut panjang indahnya, genit
Jongin hanya tersenyum
"siapa namamu?" tanya si yeoja lagi
"namaku Jongin"
"Jongin, hm… perkenalkan, namaku Soojin" ucap si yeoja, sambil mengulurkan tangan putih dan mulusnya
Jongin tidak langsung menjabat tangan yeoja itu, dia ragu, dan sepertinya yeoja itu ada maksud tertentu
Si yeoja yang bernama Soojin itu mendengus, menurunkan uluran tangannya
"kau terlalu sombong Jongin, sebagai karyawan baru seharusnya kau bisa ramah dan memuaskan pelanggan di café ini" kata Soojin, mengeraskan suaranya
"maafkan aku" Jongin membungkuk dua kali
Soojin tersenyum genit, tangannya lalu bergoyang dan langsung menyentuh selangkangan Jongin yang bisa dijangkaunya, Jongin langsung kaget dan memundurkan tubuhnya
"apa yang noona lakukan…" kata Jongin, merasa tidak terima dengan perlakuan si yeoja padanya
"aku hanya ingin menyentuhmu" timpal Soojin, masih memberikan pandangan genit dan ingin dijamah
"kalau tidak ada pesanan lagi, aku permisi" ucap Jongin, ingin berbalik, namun si yeoja menginterupsinya
"bawakan aku secangkir mocca lagi, untuk temanku" perintah Soojin, sambil memandang jam tangannya
"baik, aku akan membawakannya" Jongin permisi dan lekas meninggalkan si yeoja
Jongin berjalan sambil mendesah, dia digoda oleh noona-noona cantik, godaan pertama yang datang padanya dihari pertamanya bekerja
"Kyungsoo yaa, kau dimana?" gumam Jongin, mengarahkan pandangannya kesegala arah, mencari sosok jiwa Kyungsoo yang tidak muncul-muncul
Jongin tiba didapur khusus karyawan, ingin mengambil tambahan secangkir mocca lagi. Lalu dia teringat dengan jasad Kyungsoo, dia memutuskan untuk melihatnya sekilas
Beberapa saat kemudian, Jongin tiba dan membuka pintu ruangan gudang tempat dimana Kyungsoo duduk dengan kepala bersandar seperti anak kecil
Jongin tersenyum melihat wajah pucat Kyungsoo, dengan wajah sepucat itu, namja kecil tersebut tetap saja imut dan menggemaskan, namja malang yang kini tidak bernafas
Setelah puas memandangi jasad Kyungsoo, Jongin lalu bergegas kembali kedapur dan membawakan pesanan si noona yang menggodanya tadi
Jongin beberapa saat kemudian tiba disamping meja yeoja itu
"ini pesanannya" kata Jongin, kali ini tidak menambahkan dengan kalimat basa basi lagi
Yeoja itu tersenyum, mengambil pesanan yang baru saja datang, dan menukarnya dengan pesanan mocca lama, menyodorkannya pada Jongin
"duduklah Jongin, aku ingin kau minum bersamaku, sepertinya temanku tidak akan datang" kata Soojin, terus menyodorkan mocca pesanan pertamanya pada Jongin
Jongin tertegun dan terdiam
"ayolah, beramah tamahlah pada pelanggan. Aku salah satu pelanggan setia café ini, selalu membayar mahal hanya untuk meminum secangkir mocca pasaran seperti ini" lanjut Soojin, secara tidak langsung menghina menu minuman yang disediakan café tersebut
"menolak berarti menghina pelanggan setia…" tambah Soojin
Jongin menghela nafas panjang, dia mengarahkan tangannya untuk meraih gagang cangkir mocca itu, mengangkatnya dan mengarahkan ke bibir seksinya
Dan tiba-tiba…
"jangan diminum Jongin ah, yeoja itu memasukkan sesuatu diminuman itu" potong sebuah suara, suara yang sangat dikenali oleh Jongin
"Kyungsoo yaa…" ucap Jongin otomatis, matanya menatap dan menangkap sosok jiwa Kyungsoo yang berdiri tidak jauh darinya
Jongin secepat kilat menaruh kembali cangkir mocca itu, dengan gerakan kasar, dan membuat isinya sedikit tumpah dan mengenai baju Soojin
"shiitt… apa yang kau lakukan? Kau sengaja…" bentak Soojin keras, dia berdiri dan memaki Jongin
"maaf, aku tidak sengaja" Jongin teralihkan dari sosok Jiwa Kyungsoo, dia lalu membungkuk cepat beberapa kali, meminta maaf
"kau tidak bisa kerja, kau harus dipecat" umpat Soojin, rencananya gagal untuk memberikan obat tidur yang efeknya muncul beberapa jam kemudian, yeoja itu berencana menggaet Jongin dan membawanya kesuatu tempat, mungkin ke hotel dan sejenisnya
Mendengar suara ribut-ribut, Suho dan Jongdae lekas meninggalkan pekerjaannya dan bergegas kemeja nomor 12, dimana kini ada Jongin dan seorang yeoja yang membentak-bentak
"ada apa ini?" tanya Suho, sebagai pegawai senior dan pemimpin semua karyawan
"buruh baru ini sangat tidak sopan, dia menumpahkan mocca kebaju mahalku" seru Soojin, masih dengan nada tinggi yang berlebihan
"aku sudah mengatakan tidak sengaja" kata Jongin, mulai jengkel dengan si yeoja
"maafkan dia, dia baru bekerja disini" ucap Suho, membela Jongin, dia membungkuk pada yeoja tersebut
Soojin mendengus kentara
"dia harus dipecat, dia tidak pantas bekerja disini" tutup si yeoja, menarik tas mahalnya, lalu bergegas pergi dan keluar dari café itu, tidak membayar dua cangkir pesanan moccanya
Suho dan Jongdae menghela nafas panjang, menatap punggung si yeoja yang menjauh
"maafkan aku hyung, aku betul-betul tidak sengaja" kata Jongin, menunduk
"tidak apa-apa, aku tadi memperhatikan jika yeoja itu menggodamu, bukan salahmu" timpal Suho, tersenyum angelic
Suho membungkuk kepada beberapa pelanggan yang ada di café tersebut, memberitahukan bahwa tidak ada apa-apa dan semuanya aman, dia melakukannya dengan sangat ramah dan pelanggan-pelanggan itu kembali bersikap biasa
Jongin juga tersenyum dan bersyukur partner sepekerjanya adalah orang yang baik dan tidak menekan
Jiwa Kyungsoo yang beberapa menit yang lalu muncul secara mendadak, tersenyum bentuk love kearah Jongin
'terima kasih Jongin ah, kau tidak tergoda oleh yeoja yang tadi' batin jiwa Kyungsoo, masih terus tersenyum
Jongin menyadari bahwa jiwa Kyungsoo tersenyum padanya, dia juga tersenyum dan memandang jiwa Kyungsoo lama, sangat lama malah
Suho dan Jongdae yang melihat itu lalu saling pandang, mereka menatap kearah pandangan Jongin, dan hanya melihat meja kosong dan tembok
"Jongin, kau tidak apa-apa?" tanya Suho, menggerakkan tangannya pelan didepan wajah Jongin
"ah, tidak ada apa-apa hyung" Jongin kaget dan tersadar cepat, kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal
Lagi-lagi ketahuan memandang jiwa Kyungsoo yang tidak terlihat oleh orang lain, namun walau begitu hatinya lega, jiwa Kyungsoo muncul lagi dan otomatis dirinya bisa berbicara walau harus sembunyi-sembunyi
"kembali bekerja lagi" kata Suho kemudian, dan ketiga pekerja itu kembali bekerja seperti sedia kala
Jongin mengekor langkah Suho dan Jongdae, matanya terus melirik dan melihat kearah jiwa Kyungsoo yang tersenyum padanya
Jiwa Kyungsoo itu mendekat dan berjalan disamping Jongin
"kau membawa jasadku kesini?" tanya Kyungsoo, walau dia sudah tahu hal itu
"ya" jawab Jongin pelan, sangat pelan, tidak ingin orang disekitarnya mengiranya gila dengan berbicara sendiri
"terima kasih, aku tahu kau akan melakukan itu" timpal jiwa Kyungsoo, yakin setelah peristiwa kebakaran kecil didapur apartemen Chanyeol, namjanya pasti tidak akan membiarkan jasadnya sendirian disana
"aku melakukannya karena aku mencintaimu" ucap Jongin, masih dengan nada pelan
Jiwa Kyungsoo tersenyum love lips lagi, tetap berjalan disamping Jongin
"apa kau tidak takut jika ada yang sadar jika aku sudah meninggal?" tanya jiwa Kyungsoo
"aku jelas takut, tapi aku tidak bisa meninggalkanmu sendiri diapartemen" jawab Jongin
"apa yang kau katakan pada mereka tentangku?"
"aku mengatakan jika kau terkena penyakit Leukimia. Maaf jika aku memakai nama penyakit itu Kyungsoo ya"
"tidak apa-apa, itu memang adalah nama penyakit yang kuderita sebelumnya, Jongin ah"
"benarkah? Aku sama sekali tidak tahu" seru Jongin, tidak sadar mengeraskan suaranya
Sontak Suho, Jongdae dan 5 karyawan lain menoleh pada Jongin, mereka memandang kaget dan tidak mengerti
"ada apa Jongin?" tanya Suho, mengeryitkan dahinya
"tidak ada apa-apa hyung" jawab Jongin, menunduk, lagi-lagi dia kehilangan kontrol saat berbicara dengan jiwa Kyungsoo ditempat umum
Suho tidak bertanya lagi, dia kemudian melanjutkan pekerjaannya. Begitu juga dengan karyawan lainnya
Jiwa Kyungsoo berjalan pelan dan berhenti didepan Jongin
"sepertinya aku mengganggu pekerjaanmu Jongin ah, aku akan melihat jasadku dulu. Aku mencintaimu" kata Kyungsoo, kemudian berjalan seperti angin dan menghilang, menembus tembok
"aku juga mencintaimu, sangat mencintaimu" kali ini Jongin bergumam, nyaris tidak kentara, agar tidak menarik perhatian orang sekitarnya lagi, dia tersenyum
.
.
.
.
Hari sudah hampir sore, Jongin terus bekerja dengan telaten dan rajin. Banyak pelanggan yeoja yang menggodanya sejak tadi, namun dia berhasil menepis dengan lembut semua godaan itu. Jongin tidak akan tergoda dan jatuh dalam pelukan siapapun, karena dia sudah memiliki Kyungsoo, only Kyungsoo, tidak ada yang lain
Jam sudah menunjukkan pukul 14.01, Jongin merapikan meja bekas pelanggan, posisinya membelakangi pintu utama, seseorang masuk dari luar, tidak duduk disalah satu meja, tapi langsung menuju kedalam, ruangan karyawan sepertinya
Jongin memperhatikan orang yang baru masuk itu, seorang namja, dia hanya bisa menatap punggung namja itu yang menggunakan baju tebal dan syal
Jongin menatap kearah Jongdae yang juga membersihkan meja bekas pelanggan lain
"dia siapa?" tanya Jongin pada Jongdae, ingin tahu
"oh, dia adalah anak pemilik café ini, apa kau mengenalnya?" jawab Jongdae dan berbalik bertanya, dan menatap punggung namja yang sudah menghilang masuk kedalam
"tidak, hanya saja aku seperti pernah bertemu dengannya" tukas Jongin, dan tidak memperpanjang pertanyaannya lagi
Jongin selesai membersihkan meja pertama, dan ingin membersihkan meja kedua, tapi dia dikagetkan oleh kemunculan jiwa Kyungsoo dihadapannya, mendadak lagi
"maaf Jongin ah, aku mengganggumu. Jasadku perlu bantuanmu, cepatlah" ucap Kyungsoo cepat, seakan dia takut jika kembali menghilang tanpa memberikan informasi utuh pada Jongin
Mata Jongin sontak terbelalak dengan wajah menegang, tanpa berkata apa-apa lagi, namja berkulit seksi itu meninggalkan pekerjaannya dan berlari dengan kencang, menuju gudang dimana jasad Kyungsoo kini berada
Jongdae memandang Jongin yang berlalu dengan pandangan kaget dan tidak mengerti
.
.
.
.
Jongin sampai didepan pintu gudang kecil itu, dia menarik gagang pintu dan berniat membukanya, tapi sepertinya pintu itu dikunci dari dalam
"sial, siapa yang menguncinya" seru Jongin, tidak sabar untuk melihat keadaan jasad Kyungsoo
Jongin tidak kehabisan akal, dia menjauhkan dirinya dari pintu, dan kemudian berlari cepat dan mendobrak pintu gudang itu, pintu itu berdebam terbuka dengan bunyi keras
Jongin berhasil masuk dan matanya langsung memandang sosok namja asing yang sementara membuka baju yang digunakan jasad Kyungsoo
Jongin langsung diliputi amarah, dia bergerak cepat
"jauhkan tangan kotormu darinya, sialan…" teriak Jongin keras, lalu melayangkan tendangan kerasnya pada punggung si namja
'bughh…'
Tendangan keras Jongin tepat mengenai tulang punggung si namja, namja itu menjerit keras dan kesakitan, dia tersungkur dan menoleh pada Jongin
"kau…" kata si namja, matanya berkilat, kesakitan
"Hyunsik…" Jongin membulatkan matanya, menatap sosok namja yang tadi dilihatnya lewat pintu depan, ternyata dia adalah Hyunsik, teman sekelas Kyungsoo yang sering membully Kyungsoo disekolah
"kau… sedang apa kau disini?" tanya Hyunsik, masih tersungkur dan menahan sakit dipunggungnya, belum memperhatikan seragam karyawan yang digunakan oleh Jongin
"kau tidak perlu tahu, kau namja sialan. Aku tidak akan memafkanmu…" Jongin dengan gerakan ala serigala GGS, lalu melompat dan mencengkram baju Hyunsik, kemudian melayangkan tinju dan bogem keras beberapa kali
'bugh… bugh… bugh…'
Tinju Jongin terus mengenai wajah Hyunsik, membuat wajah namja itu merah dan bengkak sana sini, setelah puas meninjunya, Jongin lalu menendang namja itu, tendangan sangat keras
"sialan kau… kau ingin menodai Kyungsoo…" bentak Jongin, terus menendang Hyunsik
Hyunsik menggulung dirinya seperti cacing, menerima dan tidak bisa menghindari semua serangan dari Jongin, seluruh tubuhnya sakit dan ngilu
Jongin masih terus menendang Hyunsik, mengeluarkan semua kemarahannya, dan tiba-tiba beberapa namja berhamburan dari luar, lekas memegang Jongin dan menjauhkannya dari Hyunsik
"Jongin, ada apa denganmu? Kau menendang anak pemilik café ini…" kata Suho, memegang lengan kanan Jongin, dan Jongdae memegang lengan kirinya
Jongin sempat kaget mendengar kata 'anak pemilik café', dengan kata lain Hyunsik adalah anak pemilik café tersebut, namun dia kini tidak peduli
"dia ingin menodai Kyungsoo, lepaskan aku…" ucap Jongin keras, meronta-ronta
"tenangkan dirimu Jongin" Suho berusaha menenangkan Jongin
Hyunsik masih tersungkur dan terkapar dilantai, namja itu sulit menggerakkan tubuhnya, tidak bisa melancarkan serangan balasan. Beberapa karyawan membantunya untuk berdiri, tapi gagal. Hyunsik kaku
"Suho, kenapa dia disini?" teriak Hyunsik, menunjuk Jongin. ingin penjelasan
"Jongin adalah karyawan baru di café ini" jawab Suho, mengendurkan pegangannya pada Jongin
Mata Hyunsik berkilat lagi, semakin marah
"apa? tidak. Dia tidak boleh bekerja disini, aku mewakili appaku memecatnya… Jongin, kau dipecat sekarang… dan keluar dari sini…" teriak Hyunsik lagi, lalu meringis kesakitan, memegang pipinya yang bengkak
"tidak dipecatpun, aku akan keluar dari tempat ini" tukas Jongin, sekarang sudah berhasil melepaskan diri dari pegangan Suho dan Jongdae
Jongin lalu bergerak menuju Kyungsoo, merapikan baju namja itu yang sudah dibuka sebagian oleh Hyunsik, dia meneteskan air matanya,
"maafkan aku Kyungsoo yaa, semua gara-gara aku" Jongin memeluk jasad Kyungsoo, pandangannya kesana kemari, mencari jiwa Kyungsoo, namun jiwa itu tidak tampak lagi
Suho dan Jongdae memandang Jongin dan Kyungsoo dengan pandangan iba, mereka berdua masih mengira Jongin dan Kyungsoo adalah kakak adik, kakak adik yang malang
"keluar kau dari sini, kau dipecat…" Hyunsik kembali berteriak, zipper celana namja itu terbuka, hampir saja berhasil 'menjamah' Kyungsoo yang tidak bisa bergerak
Jongin tidak berkata apa-apa, dia melepaskan pelukannya ditubuh Kyungsoo, kemudian berdiri dan membuka seragam karyawannya dan memberikan seragam itu pada Suho
"terima kasih hyung, aku senang mengenal hyung" kata Jongin, berusaha tersenyum pada Suho dan tersenyum juga pada Jongdae
Suho dan Jongdae balas tersenyum, terpaksa merelakan karyawan baru partner kerja mereka, karyawan yang baru sehari dipekerjakan
Jongin kemudian menggendong kembali Kyungsoo dipunggungnya, tanpa bantuan siapa-siapa, dia sudah terbiasa walau namja yang digendong itu tidak bisa berpegangan
"terima kasih" kata Jongin, kalimat itu ditujukan untuk Suho dan Jongdae
Jongin kemudian melangkahkan kakinya keluar dari gudang kecil itu, meninggalkan Suho, Jongdae, Hyunsik dan 3 karyawan lain disana
"pulang kau namja gelandangan, pacar menyimpang sakit-sakitanmu itu dingin seperti es, aku harap dia mati dan kau juga menyusulnya" umpat Hyunsik kasar, meludah dilantai, ludah yang dipenuhi darah
Jongin mendengar umpatan dari Hyunsik itu, tapi tidak memperdulikannya, dia terus berjalan, dengan diiringi tetesan air mata yang sulit dibendungnya, dan jasad Kyungsoo tetap setia dipunggungnya
Mungkin ini adalah salah satu ujian 'pembuktian cinta' Jongin untuk Kyungsoo
.
.
.
.
O…O…O…O…O
Jongin berjalan pelan ditrotoar jalan, dengan jasad Kyungsoo yang masih dipunggungnya. Jasad yang terus terpejam, dingin dan kaku
Air mata Jongin menetes perlahan sejak tadi, merutuki nasib Kyungsoo
"maafkan aku Kyungsoo, aku lagi-lagi membuatmu hampir terkena bencana" gumam Jongin pelan
Namja itu berjalan pelan, sesekali berhenti untuk melihat kesana kemari, mencari sosok jiwa Kyungsoo yang lagi-lagi menghilang setelah memberikan informasi penting
"Kyungsoo ya, jiwamu selalu menjadi penolong untuk kita, entah apa yang akan terjadi jika jiwamu tidak memberitahuku" kata Jongin lagi, air matanya terus mengalir tanpa henti
Seperti yang sudah-sudah, tentu saja tidak ada timpalan dan tanggapan dari jasad Kyungsoo,
Dan tiba-tiba, dari arah beberapa meter dari Jongin, seorang namja yang pendeknya hampir sama dengan Kyungsoo berteriak memanggil Jongin
"Jongin, apa itu kau?" teriak si namja,
Jongin yang sejak tadi menunduk, langsung mendongakkan wajahnya, dia menatap namja teman Kyungsoo, teman yang beda kelas dengan Kyungsoo, tapi bertetangga dikamar asrama sekolah
Namja itu adalah Baekhyun,
Jongin tidak menjawab panggilan Baekhyun, dia membalik tubuhnya dan lekas berjalan cepat, menghindari Baekhyun, namja yang bisa dipastikan akan bertanya macam-macam mengenai Kyungsoo, kematian Kyungsoo masih harus disembunyikan
Jongin membelok dijalan setapak dan terus menjauh dari Baekhyun
Namja yang bernama Baekhyun juga tidak tinggal diam, dia berusaha mengejar Jongin
"hei, hitam… tunggu. Kenapa kau menggendong Kyungsoo?" Baekhyun terus berteriak, sambil mengejar Jongin
Jongin tersentak, Baekhyun baru saja menyebut nama Kyungsoo, dan itu adalah pertanda tidak bagus, beberapa hari yang lalu dirinya sudah mengatakan pada Baekhyun bahwa dia tidak melihat dan tahu keberadaan Kyungsoo
Kyungsoo sudah hampir seminggu menghilang dari kamar asramanya, dan tentunya namja itu tidak menghilang, karena si namja kini bersama Jongin, dalam keadaan yang tidak bernyawa
Jongin mengganti jalan cepatnya dengan berlari, dia mengarahkan dirinya dan masuk kedalam area sebuah rumah yang baru saja setengah dibangun, Jongin dengan Kyungsoo dipunggungnnya masuk kedalam dan bersembunyi disalah satu sudut bangunan itu
"Jongin… Kyungsoo…"
Masih terdengar samar-samar teriakan dari Baekhyun,
Jongin mencoba menormalkan nafasnya yang terengah-engah, karena habis berlari. Dia merasa bersalah pada Baekhyun karena tidak jujur pada namja teman Kyungsoo itu, kematian Kyungsoo tetap harus disembunyikan
Jongin ingin namja itu tahu tentang Kyungsoo saat Kyungsoo sudah 'terbangun' dari tidur panjangnya, bukan dengan keadaan Kyungsoo yang sekarang
Baekhyun dipastikan tidak akan mengerti dan menerima kematian Kyungsoo sahabatnya
Hening
Tidak terdengar lagi teriakan dan panggilan dari Baekhyun, hanya terdengar deru nafas Jongin yang berusaha dinormalkan
"sampai kapan akan begini Kyungsoo ya?" gumam Jongin, menoleh dan memandang Kyungsoo yang kini terduduk disampingnya, dengan mata terpejam
"sampai waktunya tiba Jongin ah" jawab seseorang
Jongin menoleh, dan memandang sosok jiwa Kyungsoo yang muncul lagi
"Kyungsoo yaa" Jongin mendadak ceria, dia menghapus keringat dan bekas air matanya pelan
Jiwa Kyungsoo tersenyum pada Jongin, dia juga duduk disamping Jongin
Jongin mencoba memegang jiwa Kyungsoo, namun seperti yang sudah-sudah hal tersebut sia-sia saja, tangan Jongin menembus tubuh jiwa Kyungsoo dan hanya udara dingin yang terasa
"sia-sia Jongin ah" kata jiwa Kyungsoo
"aku tahu, aku hanya mengharapkan keajaiban" timpal Jongin pelan
Hening
Kali ini jiwa Kyungsoo yang mengarahkan tangannya dan ingin memegang wajah Jongin, dia melakukannya dengan gerakan pelan, juga mengharapkan keajaiban yang dikatakan oleh Jongin
"aku mempunyai firasat bahwa ini adalah pertemuan terakhir kita Jongin ah" kata jiwa Kyungsoo pelan, tangannya menembus wajah Jongin, dia kecewa
Jongin terkaget mendengar kalimat jiwa Kyungsoo
"apa maksudmu Kyungsoo ya? Aku belum merelakanmu, dan sampai kapanpun tidak akan merelakanmu" seru Jongin, wajahnya gelisah dan takut. Ketidakrelaannyalah yang membuat Kyungsoo belum pergi secara utuh
"entahlah, aku hanya merasakan itu Jongin ah… setelah aku pergi, kau harus berjanji akan melanjutkan hidupmu dengan normal. Menikahlah dengan yeoja baik-baik, punya anak dari istrimu dan hidup bahagia selamanya" ucap jiwa Kyungsoo, sendu
Hati Jongin mendadak sesak dan sakit, matanya berkaca-kaca
"kenapa kau mengatakan hal seperti itu, kau tidak akan pergi. Aku belum merelakanmu. Kau akan kembali, kita akan terus bersama, bersama didunia ini, hingga tua" kata Jongin cepat, meraih-raih sosok jiwa Kyungsoo yang seperti angin
Jiwa Kyungsoo tidak berkata apa-apa lagi, dia kemudian berdiri
"aku selalu mencintaimu Jongin ah, sejak 5 tahun yang lalu, kini dan selamanya" tutup jiwa Kyungsoo, jiwa itu kemudian menjadi siluet samar lagi
"aku juga mencintaimu Kyungsoo ah, selamanya. Jangan pergi…" timpal Jongin cepat, meraih-raih sosok siluet jiwa Kyungsoo yang perlahan memudar, air matanya menetes lagi
Jiwa Kyungsoo menghilang, dan sepertinya itu menjadi penutup pertemuan Jongin dengan jiwa Kyungsoo, jiwa yang tidak akan muncul lagi
"Kyungsoo ya, kembali…" Jongin berteriak histeris, jiwa Kyungsoo sudah benar-benar hilang
Jongin lalu memeluk jasad Kyungsoo yang setia disampingnya, memeluknya dengan sangat erat, tidak ingin berpisah
"apa maksudmu dengan kalimat tadi? Apa kau tidak akan hidup lagi? Aku belum merelakanmu untuk pergi. Kau seharusnya belum pergi… kembali padaku Kyungsoo yaa… kembali" Jongin terus berteriak histeris
Dan tiba-tiba, tanpa terduga, beberapa orang muncul, berjalan cepat menuju arah Jongin, orang-orang itu berjumlah 5 orang
Jongin terkaget, dengan posisi masih memeluk jasad Kyungsoo, dan air mata menggenangi pipinya, mata sembab, namja itu mendongak dan menatap orang-orang yang muncul untuk mencarinya
Jongin mengenali dua namja yang berdiri tidak jauh dihadapannya, yaitu si polisi bernama Minhoo dan juga Baekhyun, teman Kyungsoo
Minhoo bergerak selangkah
"tangkap orang ini… dia menyembunyikan jasad orang mati bersamanya dan mungkin telah membunuhnya terlebih dahulu" seru Minhoo, berkata pada 3 polisi lainnya
Baekhyun yang berdiri disamping Minhoo, terisak-isak pelan, memandangi sosok Kyungsoo dipelukan Jongin, akhirnya sadar dengan keadaan sebenarnya, jika sahabatnya itu sebetulnya sudah lama meregang nyawa
Hening
Jongin terdiam membisu, dirinya terpojok dan tidak bisa menghindar lagi. Satu-satunya yang bisa menyelamatkannya dari jerat hukum adalah Kyungsoo harus 'terbangun' dan menjelaskan semuanya, yaa… semuanya
Tapi apakah itu bisa terjadi?
.
.
.
.
.
.
.
TBC
O…O…O…O…O…O…O
Chapter 6 update.. ho..ho.. dichapter depan semuanya akan terjawab (tinggal 2 chapter lagi). Dan mudah-mudahan pembaca tidak bosan dengan FF ini ya…
Terima kasih kepada pembaca yang memberikan tanggapan dan reviewnya dichapter lalu, hingga akhirnya FF ini update cepat lagi, he…he…
Tidak ingin berlama-lama, Reviewnya masih terus dinantikan… sampai jumpa didua chapter terakhir, salam Exolution
Thanks For Reviews :
lolamoet, Humaira9394, Viyomi, Taman Coklat, Lovesoo, OhLu BalBal, nam, firda-xmin, shikyung3, SuvinaAsantoni, Im Magnae, lalat. pucing, lovely autumn, Alienbaby88, VijnaPutri, choi seul bee, SognatoreL, zhea. Zhiioott, vira, diochan, sooman, kyung, dio, Doaddict, dyifa, nyohssehun, yasaya. mei, hoshina. imeta, deer0926, azzprynk, ukiss, hyuna12, boyboy, dokyungsoosx, luphbepz, nyohssehun, zelo. totomato. 330, nurul cynkeomma, metayaoilover, andrian. Stevano, RarasAsti, dll
By : Han Kang Woo (eks Silent Kaisoo)
