Oh Sehun, Awkward Kid Extraordinaire
Kaihun
T
Disclaimer: Original story belongs to author astrou wrote in pinkbit in livejournal. Translate dan improvisasi saya yang mikir.
Summary: Sehun adalah bocah kelewat awkward yang menarik perhatian seorang Kim Jongin.
.
.
.
Kedua kalinya Sehun bertemu Jongin, ia sedang dalam mood yang fantastis karena kantung celananya penuh dengan uang untuk membeli game sebanyak yang ia inginkan dari toko terdekat.
Mood-nya bahkan bertambah baik ketika ia telah memasuki bagian game dan tak mendapat serangan mendadak dari salah satu Hyung pekerja disini yang memaksa ingin selalu mencubit pipi Sehun setiap kali ia berkunjung. Siapa ya namanya ? Kalau tidak salah um... Park Chanyeol ?
Meja kasir terlihat kosong dan Sehun mengira-ngira dimanakah sekiranya pekerja favoritenya hari ini.
Namun, ia memiliki hal lain untuk dikhawatirkan, seperti membeli Pokemon Black setelah ia kini sudah berhasil memenangkan yang White -ia tahu keduanya sama saja, namun, demi nama Ash Ketchum, ia harus memainkan semua versi-. Juga membeli Cooking Mama untuk Wii -karena damn, dia akan mengesankan wanita kurang ajar dalam game itu-, dan tentu saja, Hello Kitty Wonderland in Party Purple -Sehun rasa ia tak perlu menjelaskan apa pun untuk yang satu ini-.
Dengan ketiga game tersebut ditangannya. Ia berjalan ke arah kasir pertama yang ia lihat dan meletakkan gamenya satu persatu di meja. Walaupun pilihan gamenya sangat memalukan, well, Sehun tidak peduli. Ia sudah kenal dengan seluruh pekerja disini dan seluruh pekerja pun mengenalnya. Mereka sudah berjanji untuk merahasiakan hal ini dan-
"Whoops, maaf. Aku tidak tahu ada pelanggan baru masuk."
"Tidak apa—ASTAGA JANGAN LIHAT TAHAN TAHAN."
—dan sungguh sial hidupnya, ada Kim Jongin disini.
"Game ini kubelikan untuk—"
Ia menjauhkan tangannya yang menutupi mata Jongin, membiarkan pria itu kebingungan dan kembali melanjutkan... pekerjaannya.
"—Kucingku."
Jongin menatap penuh tanya pada Sehun. "Kucingmu," ulangnya.
"Kucingku."
"Yang kau selamatkan dari pohon ?."
"… iya."
"Kucingmu main game."
"Dia gamer yang sangat handal."
"...Oke."
Sehun meninggalkan toko video game tersebut secepat yang ia bisa, merasa sangat sulit bernafas normal dan berusaha sekeras mungkin untuk tidak terpelesat saat ia berlari kencang, ia berhenti sejenak dengan nafas ngos-ngosan. Pandangannya jatuh pada kertas kwitansi yang ia genggam dan langsung menyadari sesuatu,
15% diskon dari pekerja.
"Huh?"
Dan pada bagian paling bawah, ada sebuah tulisan dengan tinta berwarna merah-
"Hello Kitty Wonderland sangat susah untuk dimenangkan. Hanya peringatan ramah dariku … untuk kucingmu, tentu saja!'
"Ya tuhan, aku ingin menikahinya," ia berguman gemas pada diri sendiri.
"Ia bermain game Hello Kitty."
"Apa?!."
"Aku serius."
"Apa?!."
"Berhenti mengatakan itu!"
"Apa?!."
"Dan ia memberiku diskon."
"Apa?!."
"… Luhan-hyung."
"Apa?!."
Ketiga kalinya Sehun bertemu Kim Jongin, ia sedang duduk sendirian di toko bubble tea. Sendirian. Terimakasih kepada Luhan yang memutuskan bahwa akan lebih produktif baginya untuk menghabiskan waktu dengan mengikuti pria hot dengan satu lesung pipi yang bermoon-walked keluar dari toko tepat saat mereka telah membayar minum. Dari pada menemani Sehun minum Bubble Tea disini.
Ia malas-malasan menyeruput minumannya.
"Dasar mesum," ia berguman kesal.
Bubble tea pearl rasa susunya tetap enak walau hanya diminum sendiri ngomong-ngomong.
Sehun terlalu asik dengan membenci Luhan dalam hati hingga tak menyadari banyaknya pelanggan yang mulai datang ke toko itu. Jadi, tentunya, ia tak menyadari ketika Jongin membeli minuman yang sama persis dengan miliknya -tidak sengaja- di konter minuman. Dan ia tak menyadari saat Jongin meliriknya dan melihatnya duduk sendirian. Dan ia masih tetap tidak menyadari sama sekali ketika Jongin mulai menghampiri dan menghampiri sampai,
"Hey, apa kursi ini kosong ?"
"Iya—"
Oh my Pikachu.
Hanya pada saat dimama Jongin benar-benar duduk di kursi bersebrangan darinya lah yang membuat innernya mulai terkena serangan hiperventilasi. Dengan cepat, ia menyibukkan diri dengan pipa dan minumannya, pura-pura fokus, terlalu fokus bahkan sehingga membuatnya tersedak oleh bubble tapioca.
Setelah sepuluh detik ia habiskan untuk terbatuk-batuk dan meyakinkan Jongin -yang terlihat sangat khawatir- bahwa ia baik-baik saja, Sehun mengeluarkan nafas panjang sebelum bersandar di kursinya.
"Kenapa duduk sendirian ?."
"Karena sahabatku adalah orang mesum dan ia menyukai orang lain dari pada aku."
"Oh."
"Tunggu, tidak. Maksudku karena aku suka duduk disini sendirian dan berfikir tentang hal-hal berarti seperti kehidupan dan dunia yang tenang."
"… oh."
"… Kita punya minuman yang sama ?"
"Kau menggemaskan."
"Kau juga—maksudku, terimakasih."
Setelah itu hanya dipenuhi dengan percakapan yang tak henti-henti. Percakapan tentang game yang Sehun beli untuk 'kucing'nya kembali terangkat dan Jongin terkesan akan pengetahuan game Sehun -terutama tentang Hello Kitty Wonderland-. Sehun berusaha keras untuk tak terlihat seperti gadis sekolah ketika ia terkekeh dan tertawa tapi gagal, seperti biasa.
Yeah, tapi semua hal tampak berjalan mulus, ngomong-ngomong.
"Apakah ini kencan ?" tanyanya keceplosan.
Jongin tersenyum kecut, menyelesaikan sisa minumannya sebelum berdiri untuk membuang sisa gelas itu. Sebelum ia benar-benar meninggalkan meja untuk segera pulang, Jongin berhenti.
"Jika kau inginnya begitu."
Sehun berharap ia punya keyboard sekarang jadi ia bisa menjatuhkan kepalanya di seluruh tombol untuk mengekspresikan perasaannya saat itu. Namun, segera setelah Jongin meninggalkan toko dan menghilang dari pandangannya, Sehun menenggelamkan wajahnya di lengan dan berteriak tertahan.
"Ya ampun, dia sempurna," ia berguman pada dirinya sendiri.
"Aku memang melakukannya untukmu," Luhan memaksa.
"Bohong. Kau meninggalkanku karena ingin menggoda pria dengan lesung pipi itu kan."
"…"
"Aku tahu kau memang berbohong."
Keempat, kelima, dan ketiga kalinya Sehun bertemu Kim Jongin terasa agak buram karena ia yang terlalu sibuk fanboying saat bersama Jongin. Mereka tidak berkencan sebenarnya, lebih seperti mereka menghabiskan waktu bersama dengan Sehun yang secara perlahan menunjukkan rasa sukanya kepada Jongin.
Keenam kali mereka bertemu sebenarnya saat yang paling canggung, dimana waktu itu saat Sehun ingin menuntaskan hasratnya dengan pergi ke toilet, dan melihat Jongin yang sedang pasang posisi di urinal.
Suara yang Sehun keluarkan saat itu sangat tidak mamusiawi dan ia sangat yakin telah berlari secepat mungkin dari sana, bahkan mungkin ia lari lebih cepat dari binatang manapun yang bisa berlari cepat.
Ketujuh kalinya Sehun bertemu Kim Jongin lebih seperti pertama kalinya bibir Sehun bertemu dengan bibir Jongin.
Sehun sedang terburu-buru mengingat kelas berikutnya berada di ujung kampus dan ia benar-benar hanya memiliki waktu 10 menit untuk berlari sampai kesana dari rumahnya, berusaha mengambil waktu berhenti sekurang-kurangnya 50 kali karena ia bukanlah laki-laki atletis seperti yang orang-orang anggap -tidak ada yang menganggap Sehun atletis ia hanya suka beranggapan begitu-.
Sesampainya di kampus, koridor saat itu tampak sangat sepi mengingat ini sudah hampir mencapai waktu makan malam dan kebanyakan siswa memilih untuk tak mengambil kelas malam. Jadi, disinilah Sehun, berlari seperti anak anjing kecil, perut keroncongan seperti bocah korea kurus yang kurang makan, dan tali sepatu tidak terikat seperti-
Tidak membutuhkan waktu lama sampai ia tersandung.
Dan jatuh,
Di atas tubuh seseorang.
Dan matanya terpejam erat saat merasakan nafas hangat orang asing ini yang menggelitiki pipinya. Untuk beberapa detik, Sehun membeku, berharap jika ia terus memejamkan mata kejadian ini akan tiba-tiba menghilang, kejadian memalukan ini akan menghilang dari kehidupan Sehun selamanya. Namun, kata hatinya memaksa untuk membuka mata, bertatap-tatapan dengan seseorang yang tidak lain adalah Kim Jongin.
"Oh," Sehun mencicit.
"… hey."
"Aku, um, kau—wow, okay, HAY, TIDAK, maksudku, apa ya—"
Ada keheningan canggung setelahnya dan bibir mereka secara tak sengaja kembali bersentuhan. Sehun mencicit lagi -suara yang sangat memalukan- selagi ia berusaha bangun, jari telunjuk bergegar memegang bibirnya sendiri, bersikap seolah-olah tidak terjadi apapun dan-
Jongin menciumnnya.
Seorang Kim Jongin kali ini benar-banar menciumnya.
Dan ia tak tahu mengapa karena ia sudah terlalu senang.
Kehangatan di bibirnya perlahan menjauh dan Sehun dapat merasakan rasa panas yang perlahan menjalar di pipinya. Tatapan Jongin datar, blank, seolah ia pun tak yakin mengapa ia mencium Sehun tapi-
"Yang tadi rasanya menyenangkan," Sehun berkomentar.
"… yeah."
"… kita harus melakukannya lagi lain kali," ia melanjutkan. "TUNGGU, tunggu, tidak aku tidak bermaksud-diam, Sehun."
Ia benar-banar harus berhenti bicara.
"Kau imut sekali," respon Jongin, seringaian menggoda menghiasi bibir tebalnya saat ia mengelus pipi Sehun dengan telunjuk dan jempolnya. "Aku akan membawamu kencan lagi—"
"IYA MAU."
"…"
"Maksudku, yeah, keren."
Tiga minggu kemudian, Luhan mampir ke akun livejornal untuk mengawasi adiknya itu dan memastikan tidak ada fanfiction dengan rate R disana. Luhan bukannya ingin melaporkan tingkah Sehun ke orangtuanya ngomong-ngomong, ia hanya menikmati bagaimana sahabatnya menulis dengan sangat canggung, dan tidak nyaman.
Postingan paling baru adalah seminggu yang lalu.
Ia mengeklik (Read More) dan—
'AKU PUNYA PACAR YANG SANGAT TAMPAN DAN SEMPURNA DAN KEMUNGKINAN LEBIH BAIK DARI PADA PIKACHU DAN ASH KETCHUM DIGABUNGKAN JADI SELAMAT TINGGAL SELAMANYA.
Atau mungkin sampai aku putus dengannya yang mana tidak akan pernah karena ia sempurna dan BYE.'
Luhan berkedip.
"Apa-apaan ini ?!."
.
.
.
.
FIN!
