Kebiasaaan pagi yang bisa disebut ritual pagi para ibu adalah: belanja.
Tetsuna Kuroko, masih memakai daster you can see my ketek, di suatu Sabtu pagi yang cerah, dimana burung berkicau sambil seenaknya buang kotoran ke aspal, tengah asyik memilih-milih lauk untuk makan malam nanti.
Papa, salah satu tukang sayur langganan ibu-ibu kompleks, rajin mengibas-ngibas duit sepuluh ribuannya ke atas gerobaknya. Sambil mengucap mantra "Penglaris. Penglaris," Mang Papa yang punya tinggi badan agak keterlaluan ini beberapa kali berdebat dingin dengan Tetsuna.
"Mang, tempe segini sabaraha(1)?" padahal sudah berapa tahun Tetsuna tinggal di tanah Pasundan, masih saja agak buta bahasa yang satu itu.
"Keur Ibu Seijuurou mah tilu rebu we lah(2)."
"Mani awis-awis pisan!(3)"
Yang berkicau keras barusan adalah tetangga depan rumah Tetsuna. Namanya Shinji Koganei, seorang ibu muda seperti Tetsuna. Usianya sekitar satu tahun lebih tua darinya. Seorang ibu rumah tangga tulen, bersuami dan beranak masing-masing satu. Suaminya adalah Rinnosuke Mitobe, seorang dosen di salah satu universitas swasta di Bandung. Putranya, Shigehiro Ogiwara, hanya berbeda beberapa bulan dari Kouki.
"Iya, Mang. Kok mahal?"
Pertanyaan Tetsuna hanya dibalas dengusan kesal dari Mang Papa. "Ini juga atos(4) murah, Bu."
"Tilu rebu dua meureun(5)?" Lagi-lagi Shinji tarik otot tenggorokkan.
Papa mengalah pada langganan. "Ya sudah, sok lah." Tetsuna dan Shinji nyengir kuda.
"Ngomong-ngomong, Pak Seijuurou kemana, ya? Masih tidur?" Shinji merogoh-rogoh dompet penuh recehnya.
"Barusan saya lihat sedang ngoprek mesin laser disc-nya. Jarang dipake jadi kayaknya agak rusak." Jawaban Tetsuna di "Oh" kan Shinji. "Pak Rin kemana? Hari Sabtu ada ngajar?" Tetsuna masih memilih-milih lauk. "Mang, ayam setengah ya. Sekalian tolong dipotongin."
"Ah, kalau Sabtu gini sih kerjaan si Akang mah ya tidur. Saya ga tega banguninnya juga."
Ditengah obrolan basa-basi di pagi ini, sekumpulan makhluk kecil berbulu dan berekor tiba-tiba bergentayangan di dekat kaki Shinji. Tetsuna menghitung. Ada 5 makhluk. Semuanya berteriak-teriak minta makan.
"Loh, kok kucingnya hanya ada 5?"
Yang dimaksud dengan makhluk adalah kucing-kucing peliharaan Shinji. Totalnya ada 9. Semuanya dianggap sebagai anak kedua oleh pasangan muda tersebut. Kebiasaan mereka setiap kali sang 'Ibu' berbelanja adalah menyebrang jalan, berharap mendapat oleh-oleh dari Mang Papa. Sayang, tukang sayur yang satu ini agak pelit. Dapat daging secuil juga sudah alhamdulillah.
"Oh, yang empat pasti lagi rebutan tikus. Kemarin dapat satu dari loteng, dijadiin mainan." Tetsuna meneguk ludah. Dia tidak takut, hanya geli.
Dari dalam kediaman Tetsuna, si tulang punggung keluarga alias Seijuurou, berjalan agak terseok. Masih memakai kaos hitam agak belel dan celana pendek selutut sambil membawa kain lap, diintipnya sang istri yang asyik bercengkerama dengan sesama gender-nya. Jadi agak segan untuk memanggil.
'Tapi ini darurat.' Seijuurou memilin-milin kain lap kotor, sambil sesekali memutar kepala ke belakang tanda gelisah.
Baiklah, salah satu agar Tetsuna menyadari kehadirannya: suitan.
Letakkan jempol dan jari tengah di sisi bibir, hembuskan nafas dengan kuat, lalu buatlah suara "SWIWIT!"
Mang Papa ngumpet di belakang gerobak, Shinji menamengi diri dengan kresek penuh sayuran, para kucing kabur ke dalam rumah si empunya, Tetsuna melirik galak ke arah suaminya.
"Gusti nu Agung, naon eta?" Paduan suara terjadi antara Papa dan Shinji.
"Oh, itu suami saya. Tak tinggal sebentar ya." Bahkan pada momen agak mengejutkan bercampur memalukan barusan, Tetsuna masih bertampang datar. "Mang, jangan lupa ayam saya."
Tetsuna masuk ke dalam rumah. Tepat di depan pintu masuk, dia menemukan wajah pucat sang suami.
"Ada apa, Mas Seijuurou?"
Setelah hening sepersekian detik ditambah muka Seijuurou yang memerah, akhirnya sang Papa berumur jagung ini mengumandangkan, "Kouki nangis."
Seketika itu Tetsuna melangkahkan kakinya ke kamar sambil berujar, "Aku masih nunggu ayamnya setengah kilo. Tolong diambilkan dan sekalian dibayar, ya, Mas."
Sesi belanja Sabtu pagi pun ditutup dengan Seijuurou yang asyik bergosip dengan Shinji dan Mang Papa.
Berita baiknya, Mang Papa mengerti tentang mesin laser disc dan berkat bantuannya pula si mesin warisan ayah Seijuurou itu bisa kembali berfungsi.
.
KuroBasu © Tadatoshi Fujimaki
Kazoku Hectic ch 2: Anak Gue Kenapa? © Calico Neko
Warning: OOC , alur cepat, typos, bhs tdk sesuai eyd, penggunaan nama depan, setting Indonesia, terselip bahasa daerah, berindikasi membuat sakit mata. Mengandung genderbend charas, child charas, dan keluarga ajaib lainnya.
.
Semua bermula semenjak hari keempat munculnya Kouki ke dunia. Hari itu, dimana Tetsuna dibahagiakan dengan kehadiran buah hati, berleha-leha di bath tub berisi air hangat beraroma vanila, dikejutkan oleh gedoran keras di pintu kamar mandi.
Saking kerasnya, bunyi pintu menjadi Brak! Brak! Brak!
"Tetsuna, Kouki kayaknya kena kuning!"
Bayi yang baru lahir terkadang mengalaminya.
Tidak peduli badannya masih basah, Tetsuna keluar dengan berbalutkan handuk birunya. Langkahnya lebar-lebar dan tergesa, membuatnya nyaris terpeleset. Begitu tiba di ruang keluarga, terlihat kakak Tetsuna, alias Ryouta, tengah menenangkan Kouki yang menangis. Perlu dicatat kalau Ryouta ikut-ikutan menangis.
"Tetsunacchi, ba-bagaimana ini, ssu? Hiks."
Tetsuna ikut cemas. Diceknya keadaan Kouki dan yang dia temukan membuatnya terkejut. Banyak warna kuning bermunculan di tangan dan pipi anaknya.
"I-ini!"
"Ada apa dengan anak kita, sayang? Katakan kalau dia tidak apa-apa." Seijuurou menggendong Kouki. Si anak malah semakin keras menangis.
"Ini..." Mata tetsuna membola. "Ini kunyit! Aku lupa cuci tangan waktu menyusui Kouki!"
Ryouta jatuh ke atas lantai. Seijuurou mangap kaget.
"TETSUNACCHI JAHAT! Aku kira keponakan aku kenapa-kenapa, ssu!"
Tidak peduli omelan kakak dan tatapan kaget suami, Tetsuna kembali menuju kamar mandi. Vanilla scent-nya menunggu.
Begitulah kehebohan tidak penting di hari itu. Namun bukan itu topik utamanya. Yang membuat gempar keluarga kecil ini adalah malam harinya.
Ryouta sudah pulang ke rumah orang tua sejak beberapa jam yang lalu. Maklum, dia belum menikah. Walau sudah punya tabungan rumah, mana mau dia tinggal sendirian di sana. Tetsuna mengoleskan gel anti stretch mark di perut dan betisnya. Lalu Seijuurou, menghampiri boks bayi yang berisikan Kouki tengah tidur.
"Hehehe." Si merah terkekeh bahagia melihat wajah anaknya.
"Mas Seijuurou, nanti anak kita bangun loh." Oles-oles gel di pinggang juga.
Benar saja. Mendengar suara dan mungkin merasakan sosok menghampinya, Kouki terbangun.
"Ah, maaf. Terbangun ya?"
Dengan hati-hati digendongnya Kouki sambil sesekali menimangnya pelan. Ke kanan, ke kiri. Lalu...
"OAA!"
Mata Kouki terpejam erat. Tangan mungilnya mengepal. Mulutnya terbuka lebar.
Kouki menangis.
"Cup cup cup. Ja-jangan menangis." Walau nada suaranya seperti orang marah, Seijuurou sebetulnya cemas. Bahkan ketika menyenandungkan shalawat suaranya agak bergetar.
Kembali anaknya ditimang, "OAA!" yang malah membuat Kouki menangis makin keras.
Melihat 'keakraban' keduanya, Tetsuna mengambil alih keadaan. Meletakkan tube berisi gel tadi, Tetsuna ganti menggendong anaknya.
Dua detik dalam gendongan Tetsuna...
... tangis Kouki berhenti total.
"Aku bilang juga apa. Kouki bangun, kan? Loh. Mas Seijuurou?"
Orang yang dimaksud tidak ada dihadapannya. Dia menghilang bak lelembut(6).
Rupa-rupanya Seijuurou tengah mengurung diri di kamar mandi. Jongkok di atas toilet duduk sambil memainkan gamebot kesayangannya.
Yang tadi itu perdana Kouki menangis dalam gendongannya dan Seijuurou sangatlah shock.
.
.
Kecurigaan mulai muncul. Ketika Tetsuna membuat bunyi-bunyi mengerikan dari arah dapur, Seijuurou tengah memakai dasi di kamar tidurnya. Kalau penyemangatnya sebelumnya adalah mengagetkan Tetsuna dengan meniup kuping sang istri dari belakang, kali ini ditambah dengan menatap wajah anaknya.
Mengintip dari atas boks bayi, terlihat Kouki tidak sedang tidur. Matanya yang tengah menatap langit-langit beralih menatap wajah sang ayah. Lalu...
"OAA!"
Seijuurou tercekik dasi saking kagetnya. Dia mundur dan tangisan Kouki berhenti. Intip lagi. Kouki menangis.
Intip. Nangis. Mundur. Tangisan berhenti.
Sampai pada kali kelima, keempat hal tersebut terus berulang.
Kali keenam Seijuurou berdiri menatap anaknya yang masih berkoar-koar tangisnya. "Astagfirullah. Tidak mungkin ada hal seperti ini kan?"
Naluri Tetsuna sebagai ibu memerintahkan kakinya untuk menuju ke kamar. Masih membawa-bawa ceret yang hendak dia isi air, Tetsuna menemukan Seijuurou menatap anak mereka dengan tatapan...
... apa itu tatapan membunuh? Atau terpukul? Entahlah. Yang jelas Seijuurou tampak semakin mengerikan.
"Mas Seijuurou, ada apa barusan rame-rame?"
Memalingkan wajahnya pada sang soulmate, mulut Seijuurou membuka. "Kouki. Anak kita nangis setiap kali ngeliat aku."
Ceret jatuh menimpa kaki Tetsuna.
.
.
Seijuurou adalah seorang profesional. Walau batinnya tersakiti darah dagingnya dan hiburan Tetsuna hanya mengisi 50% jiwanya hari ini, si manager yang satu ini tetap bekerja maksimal. Ryouta yang untungnya sedang tidak ada pemotretan untuk proyek barunya diminta dengan setengah hati untuk datang kerumahnya. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Ryouta diharapkan untuk menemani Tetsuna dan untuk membuktikan kecurigaan (agak) tidak masuk akal Seijuurou.
Waktu tepat menunjukkan pukup 16.30. Dengan kecepatan Sonic ketika mengumpulkan ring, Seijuurou tancap gas menuju rumahnya. Akan tetapi, mau digeber seperti apapun, Vespa tidak akan membawanya pulang secepat kilat.
Sungguh sial. Jalanan macet. Vespa birunya boyot dan sempat terserempat becak, Seijuurou tiba di rumah tepat sebelum maghrib dalam keadaan berantakan. Rambutnya yang halus mencuat ke segala arah. Dasinya robek karena tersangkut di becak tadi.
Begitu mengucap salam pada penghuni rumah, Seijuurou menemukan kakak iparnya tengah menonton siraman rohani sore ditemani Kouki. Walau pecicilan dan kadang pergi clubbing, Ryouta adalah sosok (yang bisa dikatakan) taat agama.
Terlirik Kouki yang tengah tidur pulas di pangkuan Ryouta dan Tetsuna yang lagi-lagi membuat keributan di dapur.
"Tetsunacchi tadi cerita tentang kecurigaan Seicchi." Seijuurou langsung menghempaskan pantatnya di sofa sebelah Ryouta. "Kalau menurut aku, ini bukan karena Seicchi, tapi karena Koukicchi, ssu."
Melepas atribut kantornya, Seijuurou bertanya, "Maksudnya?"
"Maksud aku... Kouki bisa melihat makhluk halus, ssu. Dan aku rasa..." Ryouta meneguk ludah, "ada sesuatu yang nyantol di Seicchi jadi Kouki nangis setiap deket Seicchi, ssu."
Jantung Seijuurou mau copot rasanya. Untung adzan maghrib berkumandang sehingga dia bisa menenangkan diri sejenak.
Selesai dengan tugas akhirat, Seijuuro, Ryouta, serta Tetsuna yang sedang menyusui Kouki berkumpul di ruang keluarga. Percobaan sederhana akan dilakukan. Syaratnya mudah: hanya bergantian menggendong Kouki.
Pertama adalah Tetsuna. Jelas tidak terjadi apa-apa, terbukti dengan si bayi yang asyik minum ASI.
Kedua adalah Ryouta. Kouki menggapai-gapai dagu pamannya sambil sesekali membuka mulutnya karena tidak sampai-sampai.
Ketiga adalah Seijuurou. "OAA!"
...
...
...
"Mas Seijuurou, kamu harus di ruqyah."
Seijuurou kembali mengurung diri di kamar mandi, kali ini ditemani tamagochi.
.
.
Padahal Seijuurou dan Tetsuna sudah berencana akan mengadakan aqiqah tepat pada hari ketujuh kelahiran Kouki. Dengan segala tetek bengek tentang tangisan dan Seijuurou yang dicurigai menjadi lapak makhluk halus, rencana tinggal rencana. Untungnya undangan belum disebar dan kambing belum disembelih.
Hari ini tepat Hari Minggu pagi. Ritual pagi Tetsuna yang biasanya berisi dengan ngobrol berjam-jam bersama Shinji harus diganti dengan kehadiran seorang ustad. Beliau adalah tokoh setempat. Agamanya sangat kuat dan walau agak tidak nyambung, beliau cukup banyak yang melirik. Sebagian besar yang melirik adalah para janda dan pembantu rumah tangga. Sayang, istrinya sudah empat, tidak bisa ditambah lagi, sudah mepet.
"Terima kasih banyak sudah mau datang kemari, Pak Ustad." Seijuurou dan Ryouta menyalami beliau lalu bercipika-cipiki. Tetsuna hanya tersenyum ramah tanpa berkontak langsung.
Diajak ke ruang tamu dan tak lupa dihidangkan teh panas manis oleh Tetsuna, diceritakanlah mengenai Kouki dan kecurigaan Seijuurou yang digelayuti lelembut. Pak Ustad yang bernama Kentarou Seto sesekali mengangguk tanda mengerti. Matanya juga melihat sekeliling ruangan dan menatap lama pada ketiga kliennya, seperti sedang menilai.
Memijit dahinya yang memiliki tanda bundar kehitaman yang disinyalir sebagai bukti karena sering sujud, Kentaro meminta ditemui dengan Kouki.
Tetsuna membawa keluar anaknya yang saat itu masih tidur pulas. Ketika berpindah tangan pada Pak Ustad, sama sekali tidak ada respon dadakan darinya. Kouki malah menyamankan posisi tidurnya pada gendongan Kentaro.
Wajah Seijuurou memendung. Tetsuna menahan lengannya karena si suami menunjukkan tanda-tanda untuk ngumpet di kamar mandi lagi.
"Saya tidak melihat hal negatif di rumah ini. Saya memang menemukan beberapa jin," Ryouta merinding, "tapi bukan jin jahil atau yang mencelakakan. Rumah Anda baik-baik saja." Mengelus kepala Kouki, Kentaro melanjutkan paparannya. "Untuk putra Anda, anak kecil biasanya memang lebih peka pada makhluk halus. Tapi mungkin saja saat besar nanti kemampuannnya hilang."
Seijuurou masih belum tenang. Ucapan Kentaro belum menjawab kenapa Kouki menangis kalau dekat dengannya. Kalau saja dia adalah orang yang blak-blakkan, mungkin Seijuurou akan curhat kalau dia belum menatap atau menggendong anaknya selama beberapa hari.
Miris.
Percobaan sederhana kembali dilakukan. Kouki yang terbangun karena merasakan kehadiran orang banyak mulai berpindah tangan dari Kentaro, lalu Ryouta, kemudian Tetsuna, dan terakhir Seijuurou.
"OAA!"
...
"Pak Seijuurou, Anda siap saya ruqyah?"
Seijuurou mengangguk mantap.
.
.
Ruqyah, atau kalau bahasa gaulnya exorcism (walau tidak melulu makhluk halus), berlangsung tanpa terlihat hasil apapun. Pernah sekali Tetsuna menonton ritual ruqyah di televisi. Para pasiennya berteriak-teriak seperti kesakitan. Berkeringat deras. Dan gejala lainnya yang menandakan mereka sakit.
Akan tetapi Seijuurou terlihat biasa saja. Dia masih duduk nyaman, bahkan dengan khidmat ikut melantunkan doa-doa.
"Mata batin saya berarti masih bagus sebab saya memang tidak melihat apapun yang bergelayut pada diri suami Anda."
Kentarou pun pulang. Berkal-kali beliau meminta maaf karena tidak banyak membantu. Beliau juga menolak keras ketika diberi sedikit tanda terima kasih berupa beberapa lembar uang merah. Tapi ketika ditawari dua sisir pisang, beliau menerima dengan senang hati.
Seijuurou semakin galau. Tetsuna yang menidurkan Kouki di kamar kembali ke ruang keluarga dan bersama dengan Ryouta berusaha menghiburnya.
"Tenang saja, pasti ketemu solusinya." Tetsuna menyandarkan kepalanya di bahu Seijuurou dan tangannya mengelus lembut lengan si suami.
"Iya, tenang saja, ssu!" Teriakan Ryouta sedikit membuat Seijuurou kaget. "Mumpung masih siang, gimana kalau kita jalan-jalan? Kouki pasti senang. Kebetulan aku ada janji ke salon hari ini, ssu. Tetsunacchi dan Seicchi bisa pakai diskon aku juga."
Yah... daripada menumpuk galau, ada baiknya kalau sedikit merilekskan diri, kan?
Akan tetapi...
"KYAA! RYOUTA? SEI-CHAN? DAN..." yang berteriak heboh barusan mendecak kesal ketika melihat Tetsuna yang menggendong Kouki, "Istri sama anak Sei-chan juga, ya?"
Namanya Reo Mibuchi, sahabat Ryouta yang adalah seorang metroseksual (dia ngamuk kalau dikatai melambai atau gemulai). Sudah menjadi rahasia umum kalau dia beneran naksir Seijuurou, juniornya dulu saat di universitas, makanya dia dendam kesumat pada Tetsuna karena berhasil merebutnya padahal cuma kenalan sebentar. Apalagi sekarang ditambah anak kecil darah dagingnya Seijuuou, dendam Reo semakin menggelegak. Tidak sampai tahap ingin membunuh kok, tenang saja.
"Eikicchi, seperti biasa ya! Adik-adik aku juga!"
Make over besar-besaran dari ujung rambut sampai ujung kaki pun dilakukan.
Seijuurou ditangani langsung oleh Reo. Dalam hati Seijuurou mengucap doa-doa karena takut digrepe-grepe. Ryouta ditangani langsung oleh si pemilik salon, Eikichi Nebuya, yang memang seorang styler para model. Badannya yang besar sama sekali bukan halangan bagi tangan berototnya untuk berkarya. Dan Tetsuna ditangani oleh seorang yang tak kalah pecicilannya dari sang kakak, alias Kotarou Hayama. Kesalahan terbesar salon ini adalah tidak punya pegawai perempuan sehingga debat panjang kembali terjadi karena Seijuurou tidak rela Tetsuna-nya dipegang-pegang lelaki lain selain dirinya. Lalu Kouki dititipkan pada seorang styler yang kebetulan sedang beristirahat. Seijuurou semakin pundung karena lagi-lagi anaknya tidak menangis dalam gendongan orang lain.
Empat jam lebih perombakan dilakukan. Lulur, creambath, waxing, meni-pedi, bersih-bersih hidung, dan khusus Seijuurou dia termasuk potong rambut sebab sering matanya ketusuk poninya sendiri. Sungguh segar dan rasanya nyaman ketika menggerakkan badan. Segala beban seperti terangkat.
Rutial yang tidak mungkin dilupakan adalah cipika cipiki, tapi untuk Seijuurou dia khusus mendapat cipok kanan kiri dari Reo. Darah Tetsuna membara. Hobinya menyindir tiba-tiba mengudara.
"Sudah tahu Mas Seijuurou sudah punya istri anak, masih diincar juga. Dasar ga tahu malu." Tetsuna setelahnya melenggang pergi sambil merebut anaknya dari gendongan seorang laki-laki jangkung, seorang styler juga. Matanya menatap Kouki dalam pandangan tak terbaca, seperti terkena suatu trans.
Dalam perjalanan pulang Tetsuna memerintahkan Seijuurou untuk membersihkan pipinya sebanyak tujuh kali dengan satunya dicampur tanah.
.
.
Seijuurou yang bawaan lahir sudah tampan semakin terlihat keren dengan potongan rambut barunya. Poninya tidak lagi menyeruduk mata. Dahinya yang untungnya tidak jenong(7) seakan mengundang untuk dikecup.
Akan tetapi, apakah anaknya akan berhenti menangis dengan sedikit perubahan ini? Kalau ruqyah saja gagal, apalagi hanya model rambut.
"Ah." Seperti suara bayi memanggil.
"Eh?"
Niatnya sih sedikit intip dari atas boks bayi, tapi ketika dilihat Kouki tengah menggapai-gapai udara. Penasaran, si darah daging dia dekati dan si anak sama sekali tidak menangis! Ketika digendong pun Kouki seperti berusaha menggapai wajah ayahnya!
"TETSUNA! KOUKI GA NANGIS AKU GENDONG!"
Pengumuman yang menggemparkan disambut haru Tetsuna. Masih membawa-bawa botol berisi minyak goreng, ketiganya berpelukan sayang.
"Alhamdulillah, ya. Sesuatu sekali." Tetsuna ketularan gaya bicara penyanyi idolanya.
Saat itu disadari perubahan penampilan Seijuuro. Namun yang menjadi fokusnya bukanlah poni ataupun jidat, melainkan...
"Mas Seijuurou, kayaknya aku tahu kenapa Kouki nangis kalau dekat sama Mas."
"Apa?"
"Hidung."
"Hidung?" Kouki berusaha menggapai hidung ayahnya.
"Pasti karena tadi si salon."
"Aku masih kurang mengerti, sayang."
"Aku baru sadar kalau sekarang sudah tidak ada."
"Apa? Jangan bikin aku bingung, Tetsuna."
"Yang membuat Kouki takut,"
"Iya. Apa yang buat Kouki takut?"
Hening...
"Aku ga enak bilangnya, Mas."
"Kenapa ga enak? Aku kan suami kamu sekarang."
"Tapi..."
"Bilang saja."
Meneguk ludahnya, akhirnya Tetsuna memberanikan dirinya untuk mengatakan kejujuran.
"Aku rasa yang buat Kouki nangis adalah..."
"Ya?"
"... bulu hidung Mas Seijuurou."
"Hah?"
"Aku pernah lihat ada sehelai bulu hidung Mas Seijuurou yang nyembul keluar. Panjang. Kayaknya itu yang bikin anak kita nangis ketakutan."
Seijuurou mengurung diri di kamar mandi ditemani peta buta.
Dasar pikun. Bisa-bisanya dia lupa menghilangkan satu-satunya aib di tubuhnya tersebut. Cacat yang membuat dia tidak bisa menggendong anaknya.
Bulu hidung. Menyembul keluar. Sehelai. Panjang.
Masalah terpecahkan.
Kasus pun ditutup.
Ketuk palu tiga kali.
Dok! Dok! Dok!
Ini artinya, rencana awal bisa segera dilakukan dalam waktu dekat.
"Halo. Bang Shuuzo?"
Sampai jumpa di chapter selanjutnya!
A/N: Si bulu hidung aku keingetan anime koplak yg judulnya Ixion Saga DT. Ada yg nntn juga ga? Dan untuk yang lupa, Kentarou Seto adalah pemain Kirisaki Daichi.
Makasih banyak untuk segala responnya. Special thanks untuk yui-cchi, Yuna Seijuurou, jesper.s, mey,chan,5872682 (maaf pennamenya kuubah, soalnya hilang), Rey Ai, icyng, Myadorabletetsuya, yacchan, O'Rei'nji Fishcake, Miaw8818, 46Neko-Kucing Ganteng, Ruki-chan SukiSuki'ssu, UseMyImagination, Pixie-Yank, ImaginationFactory atas reviewnya. Untuk yg mau kasih masukan untuk keluarga kecil lainnya mangga, aku berterima kasih bgt karena aku memang menggalau untuk itu.
Makasih sudah membaca. Feed back?
Kamus singkat:
1 sabaraha = berapa
2 Keur Ibu Seijuurou mah tilu rebu we lah = Untuk Ibu Seijuurou sih tiga ribu saja
3 Mani awis-awis pisan! = Mahal-mahal amat!
4 atos = sudah
5 Tilu rebu dua meureun = tiga ribu dua mungkin
6 lelembut = makhluk halus
7 jenong = dahi lebar
