Tetsuna bagaikan ibu-ibu rempong. Apalagi semenjak melahirkan, dia jadi lebih sering rewel dibanding sebelumnya.
Seperti hari ini, satu jam sebelum para tamu akan datang.
"Mas Seijuurou, kumaha bagaimana ini? Gamis yang sudah aku siapin dari lama ga muat."
"Hm? Baju yang lain gimana? Yang baru Mas beliin belum dipakai, kan?" Si suami menjawab tanpa mengangkat kepala karena dia sibuk memasang sabuk. Kitakore!
"Tapi untuk kékahan aku maunya pakai yang ini~"
Tetsuna masih berperang dengan resleting yang sepertinya tidak bisa menutup sempurna. Berat badannya belum kembali semenjak melahirkan, apalagi dada yang kini berukuran agak wow. Terasa sesak waktu resleting dipaksa menutup.
"Mas, kok diem saja? Bantuin~"
Seijuurou yang sudah siap ganteng dengan pakaian semi-formalnya beralih ke balik punggung sang istri. Tangan siap start menarik resleting ke atas.
"Hitungan ketiga, tahan napas. Satu ... dua ... tiga!"
"Heek~!"
Sret...
Resleting memang berhasil sampai finish, tapi turun lagi hingga ke bagian tengah punggung.
Hening melanda pasangan, hanya diselingi suara si mungil yang terbatuk pelan dari dalam boks bayi.
"Mas, aku gendut."
Hah! Seijuurou terkesiap. Tetsunanya nyaris nangis!
"Tenang, Sayang. Kamu bukan gendut, ini hanya efek melahirkan."
"Tapi tetap saja aku gendut."
Kalau perempuan sudah seperti ini biasanya akan panjang perkara, Seijuurou pasti kalah debat.
Meyakinkan dirinya kalau semua baik-baik saja, si tulang punggung 'berusaha' menenangkan.
"Dengar, Tetsuna. Walau kamu gendut sampai naik 20 kilo pun enggak akan mencairkan cinta Mas ke kamu. Dan bukannya bagus? Lihat dada kamu sekarang. Lebih besar dan seksi. Kouki saja betah nyusu lama-lama sama kamu, apalagi Papihnya. Apa kamu enggak sadar kalau setiap hari Mas selalu cemburu sama anak Mas sendiri cuma karena Kouki lebih sering pegang-pegang nenen Tetsuna daripada suaminya?"
Omongan ngelantur, diwarnai senyum yang dengan dasyatnya berhasil meluluhkan hati Tetsuna.
Setelah pencarian di seisi lemari, ditemukanlah satu gamis yang rupanya cukup di tubuh Tetsuna sekarang. Gamis yang dibelikan Seijuurou pekan lalu.
Yang justru menimbulkan kata-kata pedas terlontar dari bibir sang istri.
"Oh ... jadi Mas beli ukuran XL karena tahu dan YAKIN kalau aku ini gendut, ya? Aku ini M, Mas. Selalu ukuran M."
Ngambek, Tetsuna yang tadinya hendak menggebrak pintu kamar batal melakukannya karena ingat Kouki masih tidur. Muka cemberutnya dia arahkan pada si kepala keluarga.
"Dan kita masih harus membahas nama panggilan Kouki untuk kita. Aku tetap enggak setuju dengan Papih Mamih."
Kriet ... pintu pun menutup pelan. Di baliknya wajah Seijuurou beraroma syok.
.
KuroBasu © Tadatoshi Fujimaki
Kazoku Hectic © cnbdg2508141938
.
Tamu berdatangan. Yang paling pertama datang adalah sahabat Seijuurou yang paling dia rindukan. Lama mereka tidak bertemu, belum juga bersapa dengan istri dan anaknya.
"Bang Shuuzo, lama kita bertemu."
Namanya Shuuzo Nijimura, tetangga Seijuuro semenjak kecil saat masih di Bandung. Namun saat akan masuk SMP, Shuuzo justru hijrah ke Medan, ikut dengan orang tua. Masuk kuliah dia kembali memenuhi Jawa, berbeda provinsi dengan Seijuurou. Dan semenjak dua tahun lalu dia telah menikah dengan mojang Bandung, membuahkan seorang putra.
Shuuzo itu banyak aksi sedikit bicara. Dia hanya menyalami Seijuurou dengan pegangan mantap dan anggukan keren.
"Ini, istri dan anak aku. Shori Haizaki dan Tatsuya Himuro."
Mirip preman kalau Seijuurou boleh bilang. Rambut abu-abu sebahunya terlihat seperti tak disisir. Matanya juga sedari datang terus bulak-balik menatap meja makan. Ditangannya tergendong batita bersurai hitam yang tampan. Tahi lalat di bawah matanya memberi kesan manis.
Mungkin ini memang selera Tetsuna yang aneh atau karena keseringan bergaul dengan para PA alias pecinta alam sebab Tetsuna justru menganggap istri dari sahabat suaminya tersebut keren.
"Ayo masuk, Bang Shuuzo. Yang lain belum datang."
Setelah kedatangan sahabat lama, yang datang selanjutnya adalah gerombolan ibu-ibu pengajian. Ada lebih dari 10, menyatakan siap untuk membantu syukuran kelahiran anak pertama pasangan Pak Seijuurou dan Ibu Tetsuna.
Tak berselang lama, datang para sahabat lain bersama dengan masing-masing buah hati.
Daiki Aomine bersama istrinya Taira Kagami dan kedua anak kembar mereka, Satsuki Momoi dan Atsushi Murasakibara.
Tuan berkacamata Shintarou Midorima bersama istri pecicilannya Kazuna Takao serta sang buah hati Kiyoshi Miyaji.
Pasangan Junpei Hyuga dan istri tomboynya Riko Aida beserta anak bongsor mereka Teppei Kiyoshi.
Kemudian sang penggombal tingkat akut Yoshitaka Moriyama, istrinya yang punya darah Asia Timur Shin Izuki, dan kedua buah hati yang berbeda setahun, Wei Liu dan Masako Araki.
Tak lupa adalah tetangga depan rumah. Sang pendiam Rinnosuke Mitobe, istri ceria Shinji Koganei, serta putra mereka Shigehiro Ogiwara.
Yang tidak boleh ketinggalan jelaslah keluarga besar Seijuurou dan Tetsuna: ayah, ibu, kakek, nenek, om, tante, beberapa keponakan. Jelas Ryouta berada dalam barisan keluarga, berperan sebagai supir saat menuju ke rumah adik dan adik iparnya.
Paling terakhir tiba adalah rombongan salon, dalam artian sahabat Ryouta. Eikichi Nebuya, Koutaro Hayama, Chihiro Mayuzumi, dan pastinya yang sayang berat pada Seijuurou, yaitu Reo Mibuchi. Keempatnya adalah perjaka ting-ting. Masih single dalam artian pacar pun belum punya.
Kedatangan mereka sempat membuat kehebohan, disebabkan oleh Reo yang mengumumkan kedatangan mereka berempat bersama segudang makanan. Dari Gobang Gocheez, cireng, cimol, batagor, Karuhun, Mak Icih, bakso, pizza, dan lainnya yang sudah tentu meningkatkan volume saliva dalam mulut.
"Kita mulai sekarang?"
Bersama membaca Bismillah, acara aqiqah dimulai dengan khidmat. Yang punya hajat, Kouki, tidur lelap dalam sepanjang acara. Rupanya mencekoki dia dengan ASI berhasil membuat sang buah hati kekenyangan. Entah bagaimana kalau dia tidak tidur, mungkin sekarang sudah menangis karena banyak orang di sekitarnya.
Doa-doa dilantunkan, dilanjutkan dengan kata-kata singkat penuh rasa syukur dari Seijuurou selaku ayah. Tetsuna yang duduk di sampingnya sampai terharu. Dia menghapus setitik air mata dengan baju kecil putranya.
"Nama putra kami adalah Kouki Furihata, memiliki arti biasa saja, normal, tidak begitu menonjol." Para tamu cekikikan, Tetsuna saja sampai menutup muka karena merasa malu.
"Kami menamai putra kami demikian agar dia tumbuh sebagaimana anak-anak lainnya. Berada dalam garis tengah akan terasa lebih menyenangkan dan menantang daripada berada di garis atas seperti ayah dan ibunya. Itu harapan kami."
Ngeselin! Nanaonan éta maksadna?! batin Shori, istri Bang Shuuzo, yang kemungkinan bisa berubah barbar kapanpun.
Selesai para tamu secara bergiliran mencukur sedikit rambut Kouki, ibu-ibu pengajian pun pamit. Tak lupa nasi kotak menemani langkah pulang para ibu. Dua ekor kambing yang telah disembelih pun telah lebih dulu didistribusikan pada banyak pihak yang membutuhkan. Salah satu bentuk syukur atas kelahiran yang selalu Tetsuna ingin lakukan akhirnya selesai.
Waktunya mengobrol seharian dengan para sahabat.
.
"Hey, dari mana lu dapet istri caem model gitu? Bagi resepnya dong."
"Bulan depan aku sama keluarga mau refreshing ke Bali."
"Ck! Anak urang anu laki minta adik laki-laki. Dari mana dia belajar kata-kata minta adik coba?"
"Eh, minggu kemarin aku ketemu sama mantan aku di mall. Sekarang dia gendut banget loh. Kayaknya karena aku putusin deh."
"Suami gue kemarin berisik banget waktu minta jatah malem. Masa nyuruh-nyuruh aku supaya lebih ganas waktu main, sih?"
"Mas Ryouta, temen Mas yang mukanya lempeng itu kok ngeliatin Kouki terus, ya? Aku takut jadinya. Apa dia pedofil?"
Pertanyaan terakhir dilontarkan Tetsuna pada Ryouta kakaknya.
Memang benar sedari tadi si muka datar bersurai silver terus memerhatikan putra adiknya yang masih tidur dalam gendongan Seijuurou. Matanya nyaris tak berkedip. Namun itu bukan karena dia penyuka anak kecil.
"Itu, Chihirocchi, ssu. Sekitar tiga atau bulan lalu dia ditinggal mati istrinya. Pendarahan waktu melahirkan. Anak mereka juga meninggal dalam kandungan, ssu. Kayaknya Chihirocchi keingetan mereka waktu lihat Koukicchi."
Oh ... rupanya begitu. Memang tidak dapat dipungkiri kalau di dunia ini masih banyak keluarga yang belum mendapat kebahagian yang diinginkan. Dan ketika berhasil meraih, tangan Tuhan justru lebihlah lihai menentukan segalanya.
Tetsuna harus lebih banyak bersyukur lagi.
"Mbak Tetsuna, daging kambingnya sudah habis, ya?"
"Eh? Kami sembelih tiga, kok. Yang dua memang untuk yang membutuhkan dan satunya lagi memang sengaja untuk di sini."
"Aneh~"
Padahal Kazuna dan Shin sudah cita-cita ingin mencicipi daging kambing, Shinji saja sudah rencana untuk membawa sedikit untuk para kucing kesayangannya di rumah. Tapi yang diinginkan justru tidak ada. Ah~ nasib ini sih yang kurang cepat.
Ya, kurang cepat dari pasangan tukang makan. Daiki dan Taira, seakan di rumah sendiri, makan dengan kecepatan pembalap Moto GP 250cc.
.
.
.
Siapa mengira kalau hari ini akan semelelahkan ini. Badan rasanya remuk, gempor di sana sini. Bukan karena acara aqiqah-nya, melainkan keganasan para sahabat. Mereka seakan tak lelah mengajak mengobrol. Apalagi saat dus berisi 30 batang Gobang Gocheez dibuka, obrolan semakin menggila. Efek cemilan isi keju tersebut memberi efek seperti popcorn.
"Ya Allah ... Mas, kaki aku pegal. Tolong ambilkan Kouki ke sini, ya."
Waktu menunjukkan pukul 8 malam, namun kantuk sudah melanda. Sayang sang ibu belum bisa beristirahat. Anak (mungkin) semata wayangnya menangis, minta ASI.
Diposisikan tubuh sang anak sedemikian rupa di dekat perutnya, Kouki menyusu dengan ganas, seakan baru berlari di tengah gurun.
Seperti waktu sebelumnya dan sebelumnya dan terus sebelumnya, Seijuurou pasti iri kalau melihat Kouki menyusu. Apalagi kalau melihat tangan mungilnya seakan terprogram untuk selalu meremas pelan nenen sang ibunda.
"Papih juga mau nyusu."
Suami nakal dan tidak kenal suasana, dia mendekatkan wajah pada payudara Tetsuna yang menganggur. Tangannya juga seakan tidak sabar untuk pegang sana sini.
Namun...
"Aduh!"
Muka ganteng Seijuurou sukses terkena tendangan anaknya sendiri, tepat di bagian hidung yang setiap bulannya mampu memproduksi si bulu hidung panjang dan sehelai, yang dulu membuat Kouki menangis meraung ketika melihatnya.
"Sabar, Mas. Kouki kan bobonya cepet."
Tetsuna mengedipkan sebelah matanya, diterima Seijuurou sebagai lampu hijau kalau mungkin malam nanti mereka akan melakukan ritual sayang-sayangan tanpa busana.
Apa perlu pindah kamar?
Mengelus kepala sang buah hati dengan lembut, Seijuurou membisikkan, "Nyusunya boleh banyak, tapi yang cepat ya. Papih kan juga enggak sabar untuk nyusu."
Mendengar kata sakral, ingatan Tetsuna akan beberapa waktu ke belakang kembali berputar. Perdebatan perihal nama panggilan Kouki pada orang tuanya.
"Aku tetap enggak setuju dengan Papih. Terdengar seperti manja."
"Bukannya bagus? Anak jadi dekat dengan ayahnya."
"Kenapa bukan yang lazim? Aku suka dengan sebutan Ayah."
"Sudah pasaran."
"Kalau Bapak?"
"Mas enggak mau disamakan dengan Bapak gurunya nanti."
"Terus kenapa harus Papih?"
"... Supaya terdengar tajir."
Hening.
Seijuurou dan Tetsuna serta masing-masing keluarga besar itu bagaikan trap, dalam artian pandai menyembunyikan kekayaan ekonomi mereka. Motor boleh Vespa tua (tapi mobil Mini Cooper), tapi di sana ... tabungan mereka menggunung. Mereka tajir, tapi tidak terlihat tajir. Kitakore!
"Terserah kamu saja lah, Mas."
Seijuuro tersenyum menang. Sekarang tinggal mengajarkan Kouki secara perlahan untuk mengenalnya sebagai Papih.
"Kalau Tetsuna, mau dipanggil apa?"
"Selama enggak dipanggil Mamih, aku terima panggilan apapun."
Tetsuna ngambek lagi.
Cukup biarkan saja, sebentar lagi juga dia akan meneriakkan nama Seijuurou dan memohon jangan berhenti sampai tenggorokkan sakit. Kalau perlu sampai dekat subuh supaya sekalian mandi bareng.
Selesai memberi asupan gizi utama pada Kouki dan meletakkannya di boks bayi, Seijuurou menggotong Tetsuna ke kamar tamu.
Kunci pintu, matikan lampu, buka pakaian.
Suara seksi sang ibu tidak boleh dibagi sedetik pun walau pada buah hati.
Dan ritual terakhir saat Tetsuna sudah acak-acakan adalah tarik selimut.
A/N: virtual ice cream for atsuki aichann, IoDwi, Miharu Midorikawa, CloudSomnia, Rey Ai, tiwiizqitama, Ruki-chan SukiSuki'ssu, RaniRii, Hazu, O'Rei'nji Fishcake, jesper.s, Yuna Seijuurou, ImaginationFactory, mey,chan,5872682, Shizuka Miyuki, yui-cchi, yuzuna yukito, RallFreecss, Ameru Sawada, Kazue Ichimaru, 46Neko-Kucing Ganteng, Dee Kyou, Kurokonyil, scarletjacket, favers, followers, readers.
Feedback, please ^^
