Taufan's POV

Dia disana, setiap hari ditaman itu, taman penuh kenangan aku dan dia. Dia, Fang, gadis manis itu. Sejak kapan dia berubah, dimana senyumannya yang indah itu? Apa dia tidak pernah tersenyum lagi? Apa dia tidak pernah bahagia lagi? Kenapa dia selalu menatap sedih kearah langit? Ah! Dia menghela napas, dia masih berusaha menghangatkanku? Aku benar-benar menyukai angin yang lembut yang keluar dari bibirnya itu. Tapi, itu menyakitkan disaat yang bersamaan. Lebih baik aku menghentikannya

Flashback

"Taufan! Taufan!" Seorang gadis kecil manis berwajah oriental terlihat berlari kecil kearahku. Dia adalah sahabatku yang paling kusayangi di dunia.

"Fang! Ada apa? Kangen, ya?" Hahaha, wajahnya memerah benar-benar manis. Apa dia malu atau kesal? Entahlah!

"Hmph! Katanya mau pergi bersamaku ketaman?!" Ah! Bagaimana aku bias lupa dengan janjiku!

"Aku daritadi nungguin kamu disini! Dandanan, ya! Lama banget, sih!" Wah! Wajahnya memerah lagi! Apa dia marah?

"Ya sudah kalau gak mau! Aku pergi saja sendiri!" Tuh 'kan! Beneran marah!

"Fang tunggu!"

.

.

.

.

Dan disinilah kami, Rintis central park, taman favoritnya. Sebenarnya, aku tidak suka berada di taman ini. Karena dia pasti akan mengingat orang tuanya yang sudah meninggal dan menangis lagi. Di taman ini, 2 tahun dulu ada perampokan saat Fang dan orang tuanya kemari, Fang berhasil dibawa pergi oleh orang tuaku yang kebetulan juga ada disana. Tapi, sayangnya Kedua orang tuanya jadi korban peluru Fang tidak mau diasuh oleh keluargaku, Akhirnya dia hidup sendiri dirumahnya. Menyedihkan memang. Tapi, dia tidak akan mau di beri belas kasihan.

"Hiks… Hiks… Aku memang hiks… Tidak berguna" Tuh 'kan nangis lagi.

"Fang! Jangan nangis donk! Itu gak benar kok! Terus, Kan Disini ada aku!"

"Taufan… Kamu harus janji gak akan tinggalin aku!"

Ah! Aku tidak tahu, Fang. Aku tidak tahu apakah aku akan bisa juga ingin bersamamu selamanya. Tapi, aku tidak yakin tubuh ini bisa mendampingimu selamanya. Cukup lama aku menahan rasa sakit ini, Fang. Tubuhku tidak dapat bertahan lagi. Apa yang harus kujawab? Jika aku jujur, Fang- ku akan menangis. Tapi, Jika aku berbohong, Dia akan marah ketika aku pergi. Tapi, tak apalah, setidaknya sebelum saatnya datang dia akan tersenyum.

"Tentu! Aku janji!" Yah, aku terpaksa berbohong agar dia bisa tersenyum.

"Terima Kasih!Aku sayang banget sama Taufan!" Aaahh! Dia memelukku~~~ Rasanya seperti terbang ke surga!

.

.

.

.

.

.

Aku benar-benar ingin bertemu dengan Fang hari ini. Tapi, kenapa tubuhku tidak bisa kugerakkan, Benar-benar terasa kaku. Aku, Aku mendengar suara tangisan, siapa? Siapa itu? Siapa yang menangis? Apa yang dia..Ah! bukan! Apa yang mereka tangisi? Aku? Akhirnya, walau dengan terpaksa,kubuka kelopak mataku. Dan, Semua keluargaku serta dokter yang selama ini memeriksaku ada di sini, bukan kamarku, seperti kamar di rumah sakit.

"Taufan, bertahanlah, nak!" Ibu, kenapa engkau menangis. Apa yang salah. Aku ingin mengusap air mata ibuku, tapi tubuhku tidak bisa digerakkan.

"Taufan! Bertahanlah! Kau anak yang kuat!" Kenapa? Sekarang ayah, kenapa mereka menyuruhku bertahan?

"Penyakitmu tidak akan mengalahkanmu, nak. Berjuanglah!" Dokter? Oh! Sekarang aku mengerti, mereka menangisiku. Aku yang akan meninggalkan mereka.

"Taufan, Jangan tinggalkan kami! Kau pasti akansembuh!" Semoga, gempa, semoga. Aku juga berharap demikian.

"Hei, bodoh! Kalau kau tidak dapat bertahan akan kurebut Fang!" Hahaha.. Kalau bisa ingin rasanya aku tertawa. Halilintar? Dia menangis? Ini harus dimasukkan ke guiness book of record! Walaupun kata-katanya tajam, aku tahu dia juga menyayangiku... Tunggu! Fang? Aku baru sadar, di sini tidak ada Fang. Dimana dia?

"Fang…" Hanya namanya yang dapat lolos dari bibirku. Kumohon, aku hanya ingin bertemu dengannya di akhir hayatku. Ughh… tubuh ini semakin sakit, mata ini semakin berat.

"Taufan! Bertahanlah! Jangan tutup matamu!"

"Taufan! Buka matamu!"

" Taufan bangunlah!"

Aku tidak tahu apalagi yang terjadi, semua gelap. Aku tidak dapat melihat apapun lagi. Aku… Apakah aku tidak bisa bertemu dengan Fang lagi? Aku masih ingin bertemu dengannya! Izinkan aku! Kumohon! Tuhan!

"Taufan! Kamu jahat! Kamu bohong!" Suara itu… Fang?! Ah! Dia menggenggam tanganku, Atau tangan jasadku. Aku dapatmelihatnya menangis disamping'ku'

"Taufan kamu jahat! Kenapa kamu ninggalin aku?! Padahal baru kemarin kamu janji temenin aku selamanya!" Fang… mengertilah! Aku juga tidak ingin meninggalkanmu! Percayalah!

"Kenapa kamu tidak cerita soal penyakitmu! Kenapa kau tidak memberi tahuku kalau kau mengidap kanker yang bahkan sudah stadium akhir?!" Terkadang aku bangga dengannya yang diumurnya yang masih 10 tahun sudah mengerti soal segala jenis penyakit. Tapi, kalau masalahnya seperti ini, aku tidak ingin dia tahu!

"Taufan, tanganmu dingin sekali. Biarkan aku menghangatkannya!" Dia, benar-benar mencoba menghangatkanku. Dia meniupkan angin kecil ke tanganku. Tapi, kenapa Halilintar masih terus di sana? Baiklah! Kuserahkan Fang untukmu, Hali!

"Sudahlah, Fang! Taufan tidak akan Bangun! Mengertilah! Dia sudah meninggal!" Halilintar! Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau membentak Fang! Kalau bisa ingin sekali aku memukulmu! Kau semakin membuatnya sedih!

"Tidak! Taufan tidak akan meninggalkanku! Dia sudah berjanji padaku!"

"Ya! Dia tidak meninggalkanmu! Dia meninggalkan kita semua!"

"Dia hanya tidur! Nanti pasti akan bangun!"

"Walau bagaimanapun kau mencoba mengembalikan kehangatannya, dia tidak akan kembali, bodoh!"

Wah! Sepertinya pertengkaran Halilintar & Fang membuat semua semakin menjadi-jadi tangisannya. Kurasa Fang tidak peduli akan Ucapan Halilintar dan terus mencoba menghangatkanku. Dan, akhirnya Halilintar keluar dengan wajah berurai air mata. Wow! Kau menang, Fang! Dan semua anggota keluargaku menangis, dan pergi keluar. Kurasa mereka tidak sanggup lagi melihat Fang seperti ini. Hingga hanya tersisa aku dan Fang di sini.

Flashback end

.

.

.

.

Dan dia terus melakukannya hingga sekarang hingga umurnya yang ke 17. Tapi, Dia menganggap kalau itu helaan napas. Dan, semenjak aku pergi, dia tidak pernah lagi tersenyum, aku merindukan senyumannya. Akhirnya dia berjalan pulang kerumahnya, dan berlari di tengah perjalanan. Saat sampai dia langsung merebahkan dirinya kekasurnya. Dan… Bagaimana bisa aku ada di dalam mimpinya? Ah, senangnya! THANKS GOD!

.

.

.

"Fang!" Akhirnya, setelah sekian lama aku bisa berkomunikasi lagi dengannya! Dia melihat kearahku! Oh… Kurasa dia sudah lupa denganku.

"Ng… Aku?" Aduh, Fang! Tentu saja Kau! Memangnya selain kita berdua ada siapa lagi disini? Dasar! Aku hanya mengangguk dan tersenyum kearahnya.

"Berikan aku semua helaan napas mu! Aku akan mengubahnya menjadi kebahagiaan!" Ucapku seraya mengulurkan tanganku padanya. Dan dia menyambut tanganku. Hahh… Tangan hangat ini, aku benar-benar merindukannya.

"Please." Jawabnya yang entah hanya perasaanku saja atau memang tidak menjawab perintahku. Dan…

Siing!

Tempat gelap yang awalnya kami berdua tempati, kini berubah menjadi taman yang indah dengan banyak bunga, terutama bunga mawar putih favoritnya. Seketika, dia kembali tersenyum. Senyum manis itu… akhirnya kembali helaan napasnya sudah tenggelam dalam tawanya. Suara yang indah. Akhirnya, sebuah kenangan masa kecilku dan dia muncul begitu saja tanpa kuundang. Saat dimana dia mencoba menghangatkanku yang sudah -benar menyedihkan. Dan, air mata perlahan membanjiri wajah manisnya.

"Taufan, Boboiboy Taufan." Hahh… Dia ingat? Tapi, suaranya benar-benar sangat menyakitkan untukku. Dan kupeluk lehernya dari belakang sambil membisikkan sesuatu padanya.

"Kau sudah ingat? Yang kau lakukan sebenarnya bukan menghela napas. Kau mencoba menghangatkanku, Angin yang hangat, benar-benar atas keterlambatanku. Akhirnya, aku bisa mendatangkan & membalas perasaan bahagia ini. Mulai sekarang, kau tidak boleh menghela napas lagi. Ayo! Angkat kepalamu & Tersenyumlah, Fang!" Dengan itu tubuhku perlahan menghilang, tapi, sebelum itu, aku memberinya setangkai mawar putih kesukaannya. Mulai sekarang, aku akan menjaganya dari tempat yang lain. Kumohon, Fang! Tersenyumlah seperti dulu! Untukku!

Sekarang Kuserahkan Fang padamu, Halilintar! Jaga dia! Jangan buat dia sedih lagi!

~Fin~

.

.

.

.

Yuriko-chan : Minna-sama! Setelah episode lalu dengan sudut pandang Fang, Chapter ini saya buat berdasarkan sudut pandang Taufan!

Miyako: Dan, terima kasih bagi para reader yang sudah membaca, mereview ataupun ngeflame fic gak bermutu ini!

Yuriko-chan : Ternyata memang aneh, ya Ficnya. Sepertinya, niatan saya untuk buat sudut pandang Halilintar di chapter selanjutnya itu, ide buruk, ya. Hhh…#Pundung #Pergikekamar

Miyako : Jiah… Pundung, tuh bocah! Sekali lagi saya harap review untuk Fic Yuriko-chan yang dibuat dengan (Baca=Tanpa) bantuan saya. And, For the last. If you don't Mind…

Review Please!