Sigh

.

.

.

Boboiboy © Monsta

Warning:

Newbie Author, GaJe, Fang's POV, Fem!Fang X Chibi!Taufan, One Sided! Halilintar X Fem!Fang Typo(s), OOT,OOC, alur kecepetan, less dialogue, Future!Au, etc.

Halilintar' POV

Fang, apa kau masih memikirkannya? Kenapa kau selalu ke taman ini? Kau masih mencoba menghangatkannya? Kenapa kau tidak bisa mengalihkan pandanganmu darinya? Bahkan setelah dia sudah meninggal! Saat dia pergi, kau menyebutnya 'Jahat', Tapi, kau tetap tidak membencinya, 'kan? Aku… Aku mengerti dia sangat berharga bagimu, tapi, Alihkanlah pandanganmu ke arahku, lihatlah aku walau hanya sekali. Kau bahkan tidak sadar kalau aku selalu memperhatikanmu, 'kan? Sadarilah keberadaanku, Fang! Kumohon! Kaulah orang yang paling berharga untukku! Bahkan lebih berharga dari nyawaku sendiri! Jika kau tidak bisa melakukannya, hanya satu permintaan terakhirku, Tersenyumlah, tersenyumlah seperti saat kau bersama Taufan.

.

.

.

"Dari taman lagi, ya? Menemui Fang?" Hhh… Baru saja aku sampai kerumah, sudah disambut Gempa. Kalau boleh jujur. Sebenarnya, Aku juga tidak terlalu menyukainya, tapi, tidak separah aku membenci Taufan.

"Hn." Jawabku yang aku yakini sudah dimengerti olehnya.

Gempa, Satu-satunya saudaraku yang tersisa, dialah kakak kembarku. Aku terkadang takut padanya. Takut ketika dia akan membongkar semua rahasiaku tentang Taufan. Jika dia memberi tahukan hal itu pada Ayah dan Ibu, mereka pasti akan membenciku! Argh! Persetan dengan keluargaku! Aku lebih takut jika dia membocorkan hal ini pada Fang! Jika, Jika Fang tahu, dia akan semakin dan sangat membenciku! Hahh… Aku lelah lebih baik aku tidur saja!

Kenapa aku tidak bisa tidur! Sudah 10 menit aku berbaring hanya untuk menatap langit-langit kamar. Aku jadi mengingat hari dimana Taufan meninggal. Hah sial! Kenapa aku harus kembali mengingat kejadian itu lagi! Aku tidak mau mengingatnya lagi! Tapi, aku kenapa tiba-tiba memikirkannya lagi.

.

.

.

Flashback

"Taufan! Taufan!"

Itu, Fang! Dia ternyata benar-benar kemari seperti tebakanku. Ironisnya, bukan aku yang akan ditemuinya. Melainkan, Makhluk menyebalkan itu! Sebenarnya apa yang Fang harapkan dari orang yang sudah sekarat seperti itu?! Taufan, Dia selalu memasang senyum bodoh itu di wajahnya! Aku membenci dia yang sok kuat itu! Kenapa dia tidak langsung mati saja! Agar Fang mengalihkan perhatiannya ke arahku! Berikan Fang padaku! Dia milikku! Ah! Mereka sudah pergi ke taman! Aku harus segera menyusul mereka!

.

.

.

Fang, Kenapa kau menangis? Kumohon jangan menangis! Itu menyakitkan! Aku ingin berada di sampingmu, mengusap air matamu dan memelukmu, Fang!Tapi, aku hanya bisa melihat kalian berdua dari jarak yang lumayan jauh. Aku bahkan tidak tahu entah apa yang dikatakan Taufan hingga kau begitu senang dan memeluknya. Aku benar-benar ingin berada di posisi Taufan. Pasti akan sangat menyenangkan. Tapi, bisakah aku menggantikan posisi Taufan di hatimu? Ini menyakitkan kau tahu? Aku tidak sanggup jika terus-menerus memendam perasaan ini. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi.

Aku sudah tidak tahan lagi! Aku tidak tahu apa yang kupikirkan sehingga aku nekat untuk membeli racun mematikan ini. Apa yang sebelumnya aku pikirkan? Apa aku berpikir untuk bunuh diri? Ah! Bukan! Aku ingat! Ini… Racun ini… Racun ini untuk adik kesayanganku, 'kan? Benarkan? Setelah ini kau tidak perlu minum obat lagi, Dan kau tidak akan merasakan sakit lagi, adikku yang manis! Pergilah dan berikan Fang padaku! Karena dia memang hanya milikku seorang!

"Halilintar! Sedang apa dengan makanan Taufan?" Oh tidak! Ini buruk! Gempa melihatku! Dia pasti melihat saat aku memasukkan racun ini ke makanan Taufan.

"Aku tidak melakukan apapun. Aku hanya mau mencicipi makanannya. Bukankah makanan untuk Taufan itu special? Aku ingin tahu seberapa specialnya?" Ya, sangat special. Sangat special hingga bisa membuat siapapun yang memakannya akan bermimpi indah untuk selamanya! Taufan akan tidur selamanya! Dan semua akan berakhir!

"Kau bukan hanya mencicipinya. Tadi, aku lihat kau memasukkan sesuatu kedalam makanan Taufan." Oh Damn it! Dia melihatnya! Jika dia tahu ini racun, semua rencanaku pasti akan gagal. Aku harus mencari alasan yang bagus! Ini… Ah! Vitamin!

"Oh itu… Tadi aku memasukkan larutan Vitamin tambahan. Habisnya dia kelihatan semakin pucat saja." Aku tahu kau pintar. Tapi, ayolah percaya! Kuharap dia percaya!

"Oh, begitu. Ya sudah. kalau gitu aku antar dulu makanan ini ke Taufan." Ucapnya seraya membawa nampan berisi makanan 'Special' untuk adikku 'tersayang yang kamarnya bersebelahan dengan dapur.

"AAA! TAUFAN! TAUFAN! AYAH! IBU! TAUFAN PINGSAN LAGI!" Wah! Padahal baru 5 menit yang lalu, sudah langsung terasa efeknya. Sebaiknya aku pergi ke kamar jika tidak ingin di curigai.

"Hahahaha! Hahahaha!" Ini benar-benar menyenangkan!Bayangkan Orang yang sudah mengambil 'Boneka' mu akan segera mati! Ini Sungguh Menyenangkan! Bersyukur kamarku kedap suara sehingga tidak akan ada yang mendengar tawaku!

"Hahahaha! Hahaha!...Hah… Hah… Hiks… hiks" Keanapa? Kenapa aku malah menangis? Apa yang salah denganku? Seharusnya aku bahagia! Tapi, kenapa aku malah menangis? Sakit. Kenapa dada ini begitu sesak? Bukankah aku bahagia karena Makhluk bodoh itu akan mati. Tapi, Kenapa?

Bodoh! Kenapa aku bias melakukan ini! Taufan! Dia walau bagaimanapun, Dia tetaplah adikku! Bagaimana bisa aku membunuhnya! Tidak mungkin! Aku… Aku membunuhnya! Aku monster! Taufan dia akan mati! Dia saudaraku! Dan, kalau dia mati, Fang… Fang pasti akan sangat sedih! Kenapa?! Kenapa aku melakukan ini?! Monster! Iblis! Aku… aku… TAUFAN MAAFKAN AKU! Aku, tidak tahu bagaimana aku bisa menjadi sesosok iblis seperti ini.

Kupercepat langkahku menuju kamar Taufan. Dia, Dia sudah tertidur di sana! Dia… apakah dia akan bangun? Apa dia akan memaafkanku? Bagaimana jika dia tidak bisa tidur dengan tenang? Jika, dia pergi… Semua… Semua akan berubah! Fang… Dia pasti akan menangis! Jika, Jika Fang tahu akan hal ini, dia pasti akan sangat membenciku! Aku… Tidak ingin dibenci oleh Fang! Aku… Aku… Aku…

"TAUFAN!"

Kurasa teriakanku dapat mengagetkan semua orang dikamar Taufan. Disana, semua berkumpul, Ayah, Ibu, Gempa, dan Dokter. Mereka semua menangis. Aku berusaha menerjang kea rah Taufan. Tapi, tangan Ayah mencegahku untuk melakukannya. Aku, ingin meminta maaf! Semua ini salahku! Aku tidak tahu apa yang ku lakukan! Siapapun tolong aku! Tolong sampaikan perasaan menyesal ini!

" Ini salahku! Semua ini salahku! Aku penyebab keadaan Taufan jadi seperti ini!"

"Tenang Halilintar! Ini bukan salahmu! Ini kehendak tuhan!"

"Ini salahku, ayah! Dia jadi seperti ini karena ulahku!"

"Nak, tenanglah. Penyakit yang diderita Taufan lah penyebab keadaannya seperti ini. Bukan salahmu."

"Kau tidak mengerti apapun, dokter! Ini… Semuanya… Semua ini kesalahanku!"

Aku tidak tahu apa yang mereka katakana ketika Taufan membuka matanya. Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran mereka. Aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan! Gempa! Jika dia menyadari Makanan Taufan kuberi racun… Dia akan…. Dia akan… Dan… Dan… mereka semua… mereka akan membenciku!

"Hei, bodoh! Kalau kau tidak dapat bertahan akan kurebut Fang!" Kau tahu 'kan apa maksudku, Taufan?! Bertahanlah! Kumohon! Maafkan aku! Tapi, aku sungguhan! Jika, kau tidak ada, Dia akan menjadi milikku!

"Fang…" Fang? Ah! Aku harus segera memanggil Fang. Aku akan segera memanggilnya sebelum terlambat.

"Taufan! Bertahanlah! Jangan tutup matamu!"

"Taufan! Buka matamu!"

" Taufan bangunlah!"

Tidak.. Tidak mungkin! Aku… Aku sudah terlambat! Aku… Harus segera membawa Fang kemari! Segera! Taufan! Tunggulah! Fang Akan Datang!

.

.

.

"Fang! Fang! Kau ada didalam?! Keluarlah! Fang!" Ayolah Fang! Keluarlah! Taufan membutuhkanmu! Fang Cepatlah! Itu dia! Suara langkah kakinya dapat kudengar! Kumohon Cepatlah!

"Halilintar? Ada apa? Tidak biasanya kau kemaaa-"

"Ayo! Cepat! Taufan membutuhkanmu!" Aku tidak mempedulikan ucapan yang Fang lontarkan terhadapku! Yang terpenting sekarang Taufan! Aku terus menarik tangannya agar segera sampai kerumah! Biarkan Taufan bertemu dengannya sekali lagi!

"Ada apa dengan Taufan?"

"Sudah ikut saja dan cepatlah!"

.

.

"Fang?" Itu ibu. Apa aku sudah terlambat? Kurasa jawabannya adalah iya. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku hanya dapat menundukkan kepalaku. Aku tidak tahu apa yang Ibu dan Fang bicarakan hingga akhirnya Fang berlari ke kamar Taufan. Aku harus segera mengikutinya.

"Taufan! Kamu jahat! Kamu bohong!" Baru aku memasuki kamar Taufan, aku sudah mendengar teriakan dan tangisan Fang. Ini menyakitkan.

"Taufan kamu jahat! Kenapa kamu ninggalin aku?! Padahal baru kemarin kamu janji temenin aku selamanya!" Fang, apa hanya Taufan yang dapat menemanimu? Apakah aku tidak bisa

"Kenapa kamu tidak cerita soal penyakitmu! Kenapa kau tidak memberi tahuku kalau kau mengidap kanker yang bahkan sudah stadium akhir?!"

"Taufan, tanganmu dingin sekali. Biarkan aku menghangatkannya!" Fang, Sadarlah. Dia sudah tidak ada. Dia tidak akan bangun lagi.

"Sudahlah, Fang! Taufan tidak akan Bangun! Mengertilah! Dia sudah meninggal!" Berhentilah melakukan hal yang sia-sia, Fang. Dia tidak akan bangun lagi.

"Tidak! Taufan tidak akan meninggalkanku! Dia sudah berjanji padaku!"

"Ya! Dia tidak meninggalkanmu! Dia meninggalkan kita semua!"

"Dia hanya tidur! Nanti pasti akan bangun!"

"Walau bagaimanapun kau mencoba mengembalikan kehangatannya, dia tidak akan kembali, bodoh!"

Fang! Apa hanya Taufan yang ada dihatimu? Aku tidak sanggup lagi melihatmu seperti ini. Lebih baik aku keluar dari sini! Fang! Kenapa? Kenapa kau jadi seperti ini hanya karena Taufan? Apa dia begitu berarti bagimu? Jika aku yang ada di posisi Taufan, akankah? Akankah kau melakukan hal yang sama padaku? Fang! Sadarilah perasaanku! Aku benar-benar menyayangimu! Aku bahkan menyayangimu lebih dari aku menyayangi diriku sendiri!

.

.

.

.

Sudah 3 hari Taufan pergi, dan sekarang Fang tidak pernah lagi ke rumah ini. Bahkan setiap aku membuntutinya, dia tidak pernah lagi tersebyum seperti dulu. Ini semua salahku. Aku yang membuat Taufan pergi sehingga Fang jadi begini. Gempa… Gempa! Bagaimana jika dia membeberkan tentang racun yang kuberi di makanan Taufan. Semua akan membenciku.

"Halilintar." Astaga! Baru saja ku pikirkan, yang bersangkutan langsung berada di hadapanku. Tapi, kenapa nada bicaranya berbeda? Apa dia marah padaku?

"Hn?"

"Yang kau masukkan ke makanan Taufan itu racun 'kan? Bukan larutan Vitamin atau semacamnya. Benarkan?"

"…" Ya tuhan. Apa yang harus aku katakan? Dan kenapa dia mengatakan hal itu terang-terangan? Bagaimana jika yang lain dengar! Aku bisa mati!

"JAWAB AKU! KENAPA DIAM! KAU TAKUT!" Sial! Dia berani membentakku?! Dia pikir dia siapa!

"Pelankan suaramu!"

"JAWAB SAJA! DI RUMAH INI HANYA ADA KITA BERDUA!"

"KALAU IYA KENAPA?!"

Buagh!

Beraninya… BERANINYA DIA MEMUKULKU! SIAL! JANGAN PIKIR AKU AKAN DIAM SAJA! KAU YANG MEMULAI PERANG! DAN AKU AKAN MELAYANIMU!

Buagh!

"APA MASALAHMU BODOH!"

"SEHARUSNYA AKU YANG TANYA APA MASALAHMU! KENAPA KAU MERACUNI TAUFAN?! DIA ITU SAUDARAMU!"

"…"

"KENAPA KAU MALAH DIAM! JAWAB AKU IDIOT! DASAR IBLIS! MONS-"

"KAU YANG TIDAK TAHU APA-APA SEBAIKNYA DIAM!"

"…"

"KAU TIDAK TAHU BAGAIMANA RASANYA BERADA DI POSISIKU! AKU SUDAH CUKUP BERSABAR KETIKA MELIHAT IBU LEBIH MEMANJAKAN TAUFAN DARIPADA AKU!"

"…"

" KAU JUGA MEMILIKI AYAH YANG BEGITU MEMANJAKANMU!"

"…"

"AKU HANYA INGIN FANG! AKU YANG PERTAMA BERTEMU DENGAN FANG! TAPI TAUFAN MEREBUTNYA DARIKU! AKU JUGA INGIN MEMILIKI SESEORANG YANG BISA MENGERTI AKU! AKU MUAK DENGAN MAKHLUK ITU! DIA LEBIH BAIK MATI! Hah… hahh…"

"…"

"…"

"… Kau juga pada akhirnya menyesal 'kan, Halilintar?"

"… Tidak. Untuk apa aku menyesal! Aku sangat senang! Akhirnya makhluk itu mati!" Bohong! Aku bohong! Aku benar-benar menyesal!

"…Kau berbohong. Kalau kau benar-benar tidak menyesalinya, kenapa kau menangis?" Menangis? Aku? Ah! Benar! Saat kuraba pipiku sudah dialiri air mata. Kenapa aku menangis?

"… Tenang. Ini akan menjadi rahasia kita berdua."

Flashback end

.

.

.

.

Tidak terasa sudah 7 tahun kepergian Taufan. Apa gempa masih ingat, ya. Aku sungguh benar-benar menyesali hal itu. Hari dimana aku membunuh adikku sendiri. Hahhh… aku ternyata masih dapat menangis mengingat hal itu. Aku mau bertamu (Baca= Mengendap) ke rumah Fang lagi. Aku merindukannya.

"Mau kemana?" Tidak bisakah Gempa berhenti mengurusiku?! Menyebalkan!

"Ke rumah Fang."

"Jangan melakukan hal yang aneh, ya." Memangnya aku mau ngapain ke rumah Fang?! Dasar aneh!

.

.

.

.

Akhirnya aku sampai ke rumah Fang. Rumah gadis pujaanku. Untunglah Jendela Kamarnya tidak di kunci. Jadi, aku bisa masuk kesana. Dan duduk disamping kasur tempat dia tidur. Kuusap wajah indahnya.

Hhh… Wajah tidurnya benar-benar damai dan semakin manis. Wajah indah yang berhasil membuatku terpana. Fang, Andai kau tahu perasaanku. Aku benar-benar mencintaimu. Aku menipiskan jarak antara kedua wajah kami.

"Fang… Aku… Mencintaimu."

Chuu~

Akhirnya kedua bibir kami bertemu. Ya, Aku mencuri ciumannya. Andai dia tahu. Dia pasti akan marah dan memukulku. Tapi, aku sungguh-sungguh mencintainya.

"Fang, Aku… aku sungguh-sungguh mencin-"

"Taufan… Boboiboy Taufan." Taufan? Bahkan dalam tidurmu kau menyebut nama Taufan? Fang! Aku mencintaimu! Kumohon sadarlah.

Aku lebih baik pulang sebelum Fang bangun. Tapi, sebelum pulang kusisipkan Setangkai Mawar putih di tangannya. Bunga Favoritnya.

"Aku mencintaimu." Dan Kukecup keningnya sebelum pergi meninggalkan rumahnya.

~Fang, Walaupun kau tidak pernah menyadari keberadaanku. Aku akan Selalu memperhatikanmu. Karena itu, Tersenyumlah Kembali. Love You~

.

.

.

.

.

~The Real End~

Akhirnya selesai juga. Paling sulit itu, buat berdasarkan sudut pandang Halilintar. Udah gitu paling panjang lagi. Terus di omelin temen karena ngebuat Boboiboys menderita. Huufft~ Tapi, akhirnya selesai juga! Dan, Terima kasih untuk yang sudah Review, Flame dan yang Cuma baca ataupun Numpang lewat. Oh iya! Untuk Chapter 2, maaf saya lupa ngetik Disclaimer 'n waningnya. Sekali lagi. HONTOU NI ARIGATOU GOZAIMASU! SAYONARA!