You or Him chap 2

.

.

Hari ini hari Senin. Dan dua hari kemudian adalah hari Kamis, yaitu hari diadakannya pameran seni. Maksudku pentas seni.

Tenda, panggung dan stand makanan telah didirikan. Para panitia sibuk menata hal-hal penting untuk mendukung acara tersebut. Setiap kelas juga sibuk menyiapkan stand masing-masing.

Lalu, dimana Junmyeon?

Oh, dia ada di atas panggung. Mengawasi penata suara dan lampu.

"Hey, pasang yang benar! Speakernya mau jatuh!" seru Junmyeon sambil menghampiri namja yang sedang memasang speaker.

"Maaf! Aku akan membenarkannya."

"Baiklah. Aku akan membeli minum. Kau mau kubawakan sesuatu?"

"Terserah saja. Ini uangnya."

"Ah, tidak, tidak! Pakai uangku saja."

"Terima kasih, Junmyeon-ssi!"

Junmyeon hanya tersenyum pada pemuda tadi. Kalau tidak salah, namanya Daehyun.

Ia berjalan menuju cafetaria. Disana, ia bertemu dengan Yifan. Junmyeon melemparkan senyumannya pada Yifan. Yifan pun balas tersenyum.

Junmyeon berjalan menuju kulkas yang menyediakan minuman dingin. Ia mengambil dua kaleng cola dari sana.

"Ahjumma, beli ini dua!"seru Junmyeon pada ahjumma yang sedang berjaga.

"Ini kembaliannya."

"Kamsahamnida."

Ia pun berjalan kearah Yifan.

"Hey, kau ikut menjaga stand tidak?"tanya Junmyeon.

"Entahlah. Lalu kau sendiri bagaimana?"

"Aku ikut menjaga."jawab Junmyeon sembari tersenyum

Yifan tersenyum tipis,"Oh iya, bagaimana kerja Daehyun? Kau tahu sendiri, kan? Dia itu cukup ceroboh."

"Ya! Kau menyindirku?"

Yifan terkekeh pelan,"Aku tak bermaksud menyindirmu."

Junmyeon memajukan bibirnya,"Saat Daehyun memasang speaker, speaker itu hampir jatuh. Untung saja aku langsung menghampirinya. Kalau tidak, mungkin speaker itu akan hancur berkeping-keping."

Yifan terkekeh pelan,"Baiklah. Awasi anak buahmu satu itu."

Yifan mengusak rambut Junmyeon lalu pergi dari sana.

"U-uh?"

Junmyeon mengerjapkan matanya. Ia kemudian mengamati punggung tegap Yifan yang lama kelamaan ditelan keramaian.

Ia tersadar, ia harus kembali keatas panggung. Junmyeon pun turut meninggalkan cafetaria yang cukup penuh ini.

.

.

"Apa yang akan kita jual?" tanya pemuda bersurai madu.

"Bagaimana kalau kita menjual makanan seperti di cafe pada umumnya?" usul pemuda lainnya.

"Memangnya menu makanannya seperti apa? Dan siapa yang memasaknya?" tanya Baekhyun.

"Kyungsoo saja. Dia kan jago masak." sahut pemuda bersurai madu tadi-Luhan.

"Aku?" tunjuk namja bermata besar pada dirinya sendiri. Semuanya mengangguk.

"Aku sendirian?!" seru nya tak percaya.

"Tentu saja tidak! Kan kasihan kalau kau bekerja sendiri."

Brak

Perdebatan itu terhenti saat pintu kelas terbuka cukup keras. Dan pelakunya ialah Junmyeon.

"Hey, apa kalian sudah memutuskan siapa yang akan ikut menjaga stand?" tanya Junmyeon pada seluruh namja yang ada dikelas.

"Belum. Kami baru menentukan siapa yang akan memasak serta menu yang akan dijual."

Junmyeon mengangguk paham.

"Em, aku jadi kasirnya ya." celetuk Junmyeon sambil menatap mereka satu persatu penuh harap.

"Baiklah. Ambil selembar kertas! Lalu kita tulis yang akan ikut menjaga stand."

.

.

Pada H-1, semua sudah siap. Tinggal memastikan berbagai hal agar kegiatan besok berjalan lancar.

Hari ini, Junmyeon memilih istirahat di kamar. Kini, ia sudah punya kasur baru. Jadi ia tidak perlu numpang tidur di kasur Yifan lagi.

"Chanyeol dimana ya? Aku tidak melihatnya sedari tadi." gumam Junmyeon.

Ia sendirian dikamar. Ia tidak tahu dimana Yifan dan Chanyeol berada. Kamar benar-benar sepi. Biasanya, Chanyeol akan bernyanyi sambil bermain gitar saat sedang bosan.

Cklek

Pintu kamar terbuka. Pucuk dicinta ulam pun saja beberapa saat yang lalu orang ini dibicarakan, tau-tau sudah muncul dihadapan Junmyeon sambil menenteng kantong plastik berisi sesuatu.

"Yeol, dari mana?"

"Aku? Aku baru saja mendaftar ke panitia. Aku mau mengisi acara besok."

"Jinjja? Apa yang kau lakukan besok?"

"Emm...rahasia!" seru Chanyeol jahil.

Junmyeon mengerucutkan bibirnya,"Ish! Tidak seru."

Chanyeol tersenyum,"Nanti kau akan tahu. Oh iya, aku membeli es krim. Kau mau satu?"

Junmyeon mengangguk antusias. Chanyeol mendekat dan memberikan satu cup es krim rasa cokelat.

"Gomawo!"

"Cheonma."

Chanyeol ikut duduk di kasur Junmyeon dan membuka tutup es krim miliknya. Ia memakannya perlahan.

Berbeda dengan Junmyeon yang memakannya dengan cepat, seakan-akan takut diminta orang lain. Chanyeol menatapnya sambil tersenyum geli.

"Haha, apa kau juga harus ceroboh saat makan, heum?"

Junmyeon mendongak. Ketika itu pula, Chanyeol menyapukan ibu jari nya di sudut bibir Junmyeon.

"Hng?"

Junmyeon mengerjap lucu. Kemudian menatap Chanyeol bingung.

"Kau makan seperti anak kecil," celetuk Chanyeol.

Junmyeon merundukkan kepalanya. Ia melanjutkan memakan es krimnya yang mulai mencair.

"Maaf, A-aku mau ke dapur sebentar,"

Junmyeon beranjak dari kasurnya dan berjalan menuju dapur.

Junmyeon kemudian mendudukkan dirinya diatas kursi meja makan.

Entah kenapa, ia tak bisa berlama-lama berdekatan dengan Chanyeol. Ia tidak mengerti. Benar-benar tidak mengerti.

.

.

Pukul 06.00 pagi..

Junmyeon sudah bangun dan berkutat didapur. Ia berencana menyiapkan sarapan untuk dua roommate-nya.

Ia sedang memotong-motong wortel dan sayuran lainnya. Dia berencana membuat sup ayam.

Tap tap tap..

Ia mendengar langkah kaki mendekat ke arah dapur.

"Junmyeon?"

Suaranya menyadarkan Junmyeon dari kegiatannya.

"Eh, Yifan?"

"Memasak apa?" Tanya Yifan sambil mengintip panci di balik bahu kecil Junmyeon.

"Sup ayam. Sekali-sekali, aku yang masak untuk kalian."

Junmyeon meneruskan kegiatannya. Kali ini, ia memotong bawang merah.

Yifan bersandar pada tembok. Ia masih menguap kecil. Terlihat sekali ia masih mengantuk. Ia pun tidur sebentar sambil berdiri, bertumpu pada tembok. Dasar tukang tidur.

"Auch!"

Pekikan kecil itu membuat Yifan tersentak dan kantuknya hilang seketika. Ia mendekati Junmyeon yang memegangi jari tengahnya.

Sebelum Junmyeon sempat untuk berjalan ke wastafel, Yifan sudah menarik jari Junmyeon dan mengisap darah yang keluar dari jari Junmyeon.

"Ah? Y-yifan?"

Pipi Junmyeon lantas memerah. Yifan kemudian melepaskan hisapannya dan merogoh sesuatu dikantung celana trainingnya.

Ternyata, Yifan mengambil plester luka bergambar kucing kecil. Dan kemudian membalutkannya ke jari Junmyeon.

Sesudahnya, Yifan menatap Junmyeon. Sedangkan Junmyeon balas menatapnya dengan wajah merah padam. Kemudian Yifan menyentil pelan kening lebar Junmyeon yang tertutup poni.

Ctak!

Namun sukses membuat Junmyeon mengaduh.

"Aduh!"

"Bisakah lain kali kau berhati-hati?"

Junmyeon mempoutkan bibirnya.

"Iya, iya! Tapi, kau jangan menyentilku begitu dong!" seru Junmyeon tidak suka.

Yifan terkekeh pelan, lalu mengusak rambutnya.

"Selesaikan pekerjaanmu! Aku mau membangunkan Chanyeol lalu mandi."

Yifan beranjak pergi dari situ. Meninggalkan Junmyeon yang terbengong-bengong karena perbuatan Yifan barusan. Ia mengamati plester bergambar kucing yang lucu itu. Lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dan meneruskan kegiatannya.

.

.

Junmyeon beserta dua roommatenya sudah berpakaian rapi. Mereka bersiap untuk pergi keluar asrama. Junmyeon duduk disamping rak sepatu sambil memasang sepatunya.

"Yeol, kau ikut jaga stand atau tidak?"

"Tidak. Kau ingat? Aku naik kepanggung bertepatan dengan dibukanya stand." Jawab Chanyeol sambil menyimpul tali sepatunya.

"Ah, iya, ya."

Yifan yang sudah selesai dari tadi berjalan keluar. Sedangkan Junmyeon mempercepat untuk mengikat tali sepatunya.

"Chanyeol, aku duluan ya. Yifan! Tunggu aku!"

Chanyeol hanya tersenyum pelan. Lalu menghela nafas pelan. Ia kemudian berdiri dan meraih tas gitarnya. Dan kemudian berjalan keluar. Tak lupa pula ia mengunci pintu asrama.

.

.

Junmyeon sedang memegangi sebuah handy cam. Mengatur benda tersebut sebelum digunakan untuk men-dokumentasikan acara ini. Tidak, handy cam ini bukan miliknya. Bukan juga orang yang ditugaskan untuk mendokumentasi.

Tapi, ini handy cam milik Taehyung-adik kelasnya yang menjabat sebagai sekretaris Osis. Ia menitipkannya pada Junmyeon. Ingin ke toilet katanya.

Kemudian ia mengedarkan pandangannya kesekitar tempatnya berdiri. Retinanya menangkap Taehyung yang berlari kecil kearahnya.

"Hyung! Terimakasih sudah menjaga handy cam ku." Ucap Taehyung sambil mengatur nafasnya.

Junmyeon tersenyum,"Ne. Aku pergi dulu ya,"

Taehyung mengangguk. Junmyeon pun pergi dari situ.

Ia hari ini menjadi pembawa acara bersama Yifan. Ia berjalan menuju belakang panggung. Ia mendapati Yifan tengah memakai jas hitamnya.

"Junmyeon-ah, kemari. Pakai jas-mu."

Ia mendekat dan menyambut jas yang diulurkan oleh Yifan.

"Yifan, aku hanya ikut ke panggung sampai jam 11 saja, ne? Soalnya aku ikut jaga stand nanti pukul 12,"

Yifan mengernyitkan dahinya,"Bukankah kemarin kita sudah mendiskusikannya?"

Junmyeon meringis pelan, lalu menepuk dahinya pelan,"Ah, mian.."

Yifan tersenyum tipis,"Tidak apa,"

Pipi Junmyeon merona tipis, malu karena dirinya yang terlalu pelupa.

"Ini susunan acaranya."

Yifan menyerahkan dua lembar kertas pada Junmyeon.

"Ne,"

.

.

Setelah setengah hari ini Junmyeon dan Yifan memandu acara, moment yang ditunggu-tunggu Junmyeon pun tiba. Dia memang benar-benar ingin menjaga stand.

"Yifan! Aku tinggal ya," seru Junmyeon sembari melambaikan tangannya.

Yifan mengangguk,"Kalau sempat, aku akan ke stand mu,"

Junmyeon mengangguk lalu mengacungkan jempolnya. Ia berjalan pelan sambil mengedarkan pandangannya. Di jalan, ia berpapasan dengan Luhan.

"Hyung! Ayo kita pergi sama-sama,"

Luhan mengangguk lalu tersenyum,"Jja."

Mereka berjalan berdampingan.

Sesampainya di stand...

Rupanya, mereka sudah stand bye disitu. Hanya Luhan dan Junmyeon yang terlambat datang.

"Hey, kalian terlambat,"ujar Minhyuk.

"Hanya 5 menit kok,"sela Luhan.

"Setiap waktu itu berharga, Lulu hyung~" Sahut Baekhyun.

"Yayaya, terserah saja,"

Luhan pun berjalan ke belakang. Junmyeon menghampiri Minhyuk dan duduk disampingnya.

"Apa sudah dimulai?" Tanya Junmyeon.

"Sebentar lagi,"

.

.

Skip at 2.00 pm KST

Mereka semua terlihat sangat senang. Walau wajah mereka terlihat lesu karena hari sangatlah panas.

"Huwaah..bolehkah aku minta segelas Lemon Tea?"tanya Baekhyun sambil mengipas-ngipaskan tangannya ke wajah dan lehernya. Walau ia tahu ia tidak bisa mendapatkan angin yang bisa mendinginkan tubuhnya.

"Minta sama Kyungsoo sana,"sahut Junmyeon.

"Tapi, jangan lupa bayar ya,"celetuk Jimin.

Baekhyun mendengus. Sehingga semuanya pun tergelak.

Sedang asyik bercanda, datang sesosok tiang-ralat. Maksudku sesosok Wu Yifan.

'Dia menepati janjinya untuk berkunjung,'batin Junmyeon merasa...senang?

Junmyeon tersenyum kecil, Baekhyun yang melihat itu menyikutnya lalu tersenyum penuh arti. Membuat Junmyeon mendengus sebal.

"Apa aku mengganggu?" Tanya pemuda jangkung itu.

"Tidak, tentu saja tidak. Kan, Junmyeon?" Tanya Baekhyun.

Junmyeon men-death glare Baekhyun. Sehingga Baekhyun mengkeret dan beringsut kearah Minhyuk.

"Ehehe, jangan dengarkan dia Yifan. Kau mau pesan apa?" Ujar Junmyeon.

Minwoo yang berdiri disamping meja menyodorkan kertas berisi menu kepada Yifan.

"Kupikir, Iced Capuccino saja."

"Tunggu sebentar ne!"

"Minwoo-ya! Aku mau Lemon Tea!"

Minwoo berlari kecil kebelakang tempat Luhan dan Kyungsoo mengerjakan pesanan. Begitu pula Baekhyun yang menyusul Minwoo dibelakangnya.

Suasana menjadi hening. Entah kenapa, mereka seakan bisu setelah Yifan mengunjungi stand mereka.

"Ehm,"

Yifan berdehem pelan mencoba menyadarkan mereka yang asyik sendiri. Dia bukanlah tipe orang yang easy going layaknya Chanyeol. Dia ini kaku dan memang seperti es batu. Ya, dia mengakui itu.

Tak lama kemudian, Minwoo datang dengan satu cup Iced Capuccino pesanan Yifan. Serta Baekhyun yang membawa segelas Iced Lemon Tea yang sedari tadi diidam-idamkan Baekhyun.

"Ini, hyung."

"Terima kasih. Berapa harganya?"

"Em, tidak usah," sahut Junmyeon.

Semuanya menatap Junmyeon heran. Sehingga ia gelagapan sendiri.

"Ah, m-maksudku, anggap saja aku mentraktirmu. Sebagai ucapan terima kasih,"

Yifan mengerutkan dahi, membuat alis angry bird-nya terlihat menyatu.

"Terima kasih? Untuk apa?"

"Ugh, untuk.. segala perbuatanmu, yang selalu ada saat aku melakukan kecerobohan." Ujar Junmyeon gugup. Apalagi teman-temannya menatapnya dengan tatapan menggoda seperti itu.

"Ah, tidak apa. Aku harus membayar ini." Ujar Yifan keukeuh.

"Sudah! Tidak perlu bayar kataku." Seru Junmyeon. Mereka sama-sama keras kepala. Membuat teman-teman Junmyeon-kecuali Luhan dan Kyungsoo- terkikik geli.

"Baiklah kalau itu maumu. Terima kasih ya, Junmyeon."

Yifan tersenyum kecil lalu pergi dari sana.

"Junmyeon-ya.."

"Hng?"

"Apa kau memakai pelet?" Tanya Baekhyun.

"Heh? Apa maksudmu?!"

Baekhyun meminum Lemon Tea segar itu melalui sedotan sebelum kembali berbicara.

"Yifan itu jarang sekali tersenyum. Dan kau, bisa membuatnya tersenyum. Bagaimana bisa?!" Seru Baekhyun heboh. Tapi, semuanya yang ada disitu-termasuk Kyungsoo dan Luhan yang baru saja ikut bergabung dengan mereka didepan-setuju dengan seruan heboh Baekhyun tadi.

"Ne, Baekhyun hyung benar. Kenapa bisa begitu?" Tanya Minwoo ikut bertanya.

"Ish! Aku pun tak tahu!"

Junmyeon seperti seorang pencuri yang tertangkap basah.

Minhyuk tertawa jahil,"Aah~aku yakin, Yifan sedang menyukai Junmyeon," goda Minhyuk disahuti dengan siulan dari yang lain membuat Junmyeon semakin salah tingkah.

"Yaaa! Bisakah kalian diam?!"

.

.

Jam sudah menunjukkan pukul 3.00. Dua jam lalu, hari benar-benar panas. Namun, sekarang awan hitam menggantung dilangit.

"Tadi panas, sekarang hujan," ucap Junmyeon ala iklan antiseptik D*tt*l.#abaikan.

Stand sudah ditutup pukul dua tadi. Dan ia memilih kembali ke asrama. Acaranya sekarang tinggal hiburan. Ia kan, bisa saja nanti menonton hasil rekaman Taehyung. Ia lelah hari ini.

Ia telah berdiri didepan pintu asrama. Tangannya merogoh kantong, mencari kunci rumah.

"Astaga!"

Ia menepuk dahinya pelan,"Aku lupa mengambil kunci tadi pagi! Ah, bodoh!" Rutuk Junmyeon.

"Aku yakin Chanyeol membawa kunci. Tapi, dimana anak itu?"

Ia memutuskan berjalan ke aula untuk mencari Chanyeol. Aula sudah mulai sepi. Yah, acara selesai 30 menit lalu. Para panitia termasuk anggota Osis membereskan aula. Junmyeon mendesis pelan karena hanya dia yang tidak ikut membantu.

"Junmyeon hyung? Bisa bantu mengangkat meja?"

"Ah, ne!"

Junmyeon pun turut sibuk membereskan aula. Ia pun melihat ke sekeliling aula. Ingat, tujuan utamanya kesini mencari Chanyeol.

"Ah, Yifan saja deh. YIFAAAAN!"

Junmyeon melambaikan tangannya pada Yifan. Kemudian menghampirinya.

"Wae?" Tanya Yifan.

"Ah, kau bawa kunci asrama? Aku lupa membawanya," ujar Junmyeon sambil memasang cengiran konyolnya.

"Ne, aku membawanya. Kau lelah ya?"

Junmyeon mengangguk,"Lumayan. Standku tadi ramai sekali!"

Yifan pun merogoh kantongnya untuk mengambil kunci,"Ini."

"Apa tidak apa-apa kalau aku pergi duluan?"

"Ne, pergilah duluan. Lagipula, kami hampir selesai."

Senyum Junmyeon terkembang,"Baiklah. Maaf ya, aku duluan. Pai pai~"

Lelaki mungil itu melambaikan tangannya dan pergi meninggalkan aula. Mengingat senyumnya, membuat sudut bibir Yifan terangkat-sedikit.

"Kau kenapa? Terbentur?"

Yifan kembali kedunianya saat si hoobae berkulit tan itu menyapanya-kurang lebih mengejeknya.

"Diamlah kau."

"Haha, aku tahu. Pasti karena Junmyeon itu, kan?"

"Heh, dasar hoobae tidak sopan! Dia sunbaemu!"

"Biar saja. Dia terlihat seumuran denganku. Beda denganmu. Kau seumuran dengannya, tapi, kelihatannya kau sangat tua."

"Tutup mulutmu. Kim Jongin!"

.

.

Hari beranjak malam. Namun langit masih menumpahkan airnya cukup deras.

Sementara itu, Junmyeon sudah mandi dan sekarang sedang membaca buku yang ada di pangkuannya. Besok kegiatan mengajar kembali berjalan dengan normal. Dan besok ia ada ulangan Fisika.

Chanyeol berada di kamar mandi. Dan Yifan sedang tengkurap diatas ranjangnya sambil membaca sesuatu. Junmyeon terlihat menguap beberapa kali. Lalu ia melirik jam.

'Masih pukul delapan. Tapi aku sudah sangat mengantuk.' Batin Junmyeon.

Ia melirik Yifan yang sekarang sedang membaca komik.

"Yifan.."

Yifan mengalihkan pandangannya pada Junmyeon,"Wae?"

"Uhm, tidak apa-apa."

Junmyeon berdiri dan meletakkan buku paket Fisika itu dimeja belajar. Lalu ia menelusupkan tubuhnya ke dalam selimut. Matanya terasa seperti sudah diberi lem. Ia menguap lagi sebelum jatuh tertidur

To Be Continued

.

.

A/N:

Aaaa...apa iniii?!*tunjukpanpikdiatas

Huu..ini adalah chap paling ancur menurutku (/.\) soalnya, aku bener-bener buntu disini.

Terus juga masalah alur. Sori ya, kalau alurnya kayak kereta express.. V(._. )V.. Sori juga kalo ngaret.

Scene favorit kalian disini yang mana? Kaloaku pas Kris ngobatin jarinya Suho sama yang pas temen-temen Suho pada ngegodain Suho pas di stand itu. Aku paling ancer nulis di dua scene itu, hehe =D

Thanks To:

| LittleMyeon | Wuyifan Kris | Zahra | hllkrisho | HamsterXiumin | publish | Emmasuho | jimae 407203 | wumy | leeyeol | lee minja elf| yongchan | shn1234 | honeykkamjong |

Kim Ocean| .5011

Maaf kalau ada kesalahan nama yaa :3

Makasih buat yg mereview plus favorite dan followers cerita ini di chap sebelumnya, laf yuu~ :*

Oke, tanpa banyak kata, saya sudahi pertemuan ini(?)

Last Word

Review juseyooo~~ :3