Kemarin saya hampir dapat nilai 100 diujian lisan satu mata pelajaran dengan hanya tahu nama-nama personil sebuah band mancanegara. Beliau itu katanya emang ngefans sama band itu. Sayangnya, saya gak tahu nama-namanya -_- sayang bangettt...! Eh... Ko malah curhat ya saya? Hehe... Lupakan.

Rosellia Anderson : Okok, bisa diatur ^^ dan silakan simak chapter yang satu ini.

Warning : Typo, aneh, gaje, abal, garing, dll.

Enjoy...


Sesuai janji Ciel, setelah jam pulang sekolah, kami mampir ke supermarket untuk membeli bahan makanan. Tapi bahan makanan apa ya? Aku tidak pernah belanja sebelumnya. Apakah aku harus membeli vegetable? Atau fruit? Kira-kira... Menu makan makan kali ini apa ya? Aduh... Aku bingung apa yang harus kubeli.

Mataku tertuju pada daging ayam yang ada di hadapanku. Seketika itu juga aku dapat ide.

"Kau mau tidak jika menu makan malamnya sunday roast?", tanyaku pada Ciel.

Dia menatapku heran. "Sunday roast? Kau yakin bisa membuatnya?"

"Tentu saja. Aunt Robin pernah mengajariku cara membuatnya."

"Baiklah jika kau bisa membuatnya. Selama masakannya tidak gagal, itu tidak masalah."

"Kalau begitu, kita butuh wortel, kentang, dan kacang polong sebagai pelengkapnya. Lalu kita cari juga bahan makanan yang lain."

-oOo-

Aku menaruh pisau dan garpu di atas piring dengan tatanan yang benar. Setelah itu meminum air putih. Hey... Apa yang salah dengan air putih? Jangan salah, ya? Air putih ini sehat. Daripada meminum juice kemasan yang memiliki kandungan zat kimia, lebih baik meminum air putih yang bersih dan sehat, kan?

"OK." Ciel memecahkan suasana. "Daripada kita meributkan soal kamar seperti kemarin, lebih baik kita putuskan kamar kita masing-masing."

"Ide bagus. Aku ingin kamar di lantai dasar."

"Kupikir itu kamarku."

"Tidak. Itu kamarku."

"Bagaimana bisa itu jadi kamarmu?"

"Tentu saja bisa. Bagaimana pun caranya."

"Kau...- OK, baiklah. Itu kamarmu."

"Nah... Memang begitulah seharusnya."

"Kalau bagitu, kau cepat tidur sana. Aku tidak mau mengangkutmu lagi. Kau berat."

"Iya, iya."

Aku beranjak. Lalu kami berpisah di depan tangga. Aku membuka pintu kamar dan menutupnya kembali setelah aku masuk ke kamar tentunya. Aku akan membiarkan lampu kamar tetap menyala. Itu membantuku menghilangkan rasa phobiaku terhadap kegelapan. Aku sangat berterima kasih kepada Thomas Alffa Edison yang telah menciptakan lampu.

Kurebahkan tubuhku di atas ranjang. Dan...

KLIK!

Eh? Ti.. Tidak...

"KYAAAAA...!"

Ga.. Gawat! Celaka! Bagaimana bisa listrik di rumah ini mati?! Kenapa harus mati pada malam hari?! Sial! Phobiaku muncul seketika. Aku jadi paranoid. Yang dapat kulakukan hanyalah menyembunyikan tubuhku di bawah selimut. Aku benar-benar takut! Aku tidak berani melihat sekelilingku!

Please, help me!

Tolong aku! Tolong aku! Jika tidak, aku takut akan mengulangi kejadian itu! Aku tidak mau mengalami kejadian menyeramkan itu untuk yang kedua kalinya! Aku terlalu takut... Aku tidak mau berada di tempat gelap... Aku takut... Tolong aku...!

BRAK!

"Leavanny!"

Aku mendengar suara pintu kamar ini didobrak. Ada yang memanggil namaku. Aku juga merasakan ranjangku bergoyang. Ugh! Jangan-jangan...! Mungkinkah orang itu datang lagi?! Tidak! Apa yang harus kulakukan! Kini dia berada di dekatku! Aku benar-benar takut!

Aku menjauhkan diri. "Tidak! Menjauh dariku!"

"Leavanny! Hey! Ini aku, Ciel!"

Ciel...?

Tanpa pikir panjang, aku segera memeluknya. "Tolong! Di sini gelap! Dia akan datang!"

"Dia? Dia siapa?"

"Dia! Dia! Tolong aku, Ciel!"

"Hey..! Tenanglah!"

"Bagaimana aku bisa tenang?! Dia akan datang! Di sini gelap!"

"Kalau begitu, aku akan mencari senter atau lilin."

"Tidak! Jangan tinggalkan aku! Aku takut! Tetaplah di sini!"

"Tapi kalau gelap seperti ini, kau akan terus ketakutan."

"Akan lebih menakutkan jika kau meninggalkanku sendirian!" Pelukanku makin erat. "Tetaplah di sampingku. Aku takut..."

"Uh... Baiklah."

Aku sangat ketakutan saat ini. Aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku terlalu lemah. Bagaimana jika dia tiba-tiba datang? Aku tidak mau mengalami kejadian menyeramkan itu lagi. Aku tidak mau. Jadi untuk malam ini, hanya untuk malam ini saja, biarkan aku memeluk Ciel. Aku ingin dia tetap berada di sampingku walaupun aku sudah tertidur.

"I'm sleepy...", ujarku tiba-tiba.

"Tidurlah."

"Tapi berjanji, selama aku tidur, kau tidak akan meninggalkanku."

"Iya, aku janji."

"Lindungi aku kalau dia benar-benar datang."

"Tentu saja." Ciel membalas pelukanku. "Lihat? Aku akan melindungimu."

Aku tersenyum, walaupun aku yakin dia tidak akan melihatnya di kegelapan seperti ini.

"Jadi... Siapa 'dia' yang kau sebut tadi malam? Apa yang membuatmu terlihat begitu ketakutan?"

Aku terbelalak. Sudah kuduga sebelumnya kalau Ciel akan menanyakan hal itu. Itu artinya aku harus menceritakan masa lalu yang ingin kulupakan? Mengingatnya, membuatku takut dan ingin menangis. Tapi Ciel mungkin harus mengetahuinya. Tapi apa daya, aku hanya dapat memandangi tanganku yang gemetar.

"Di.. Dia..." Tubuhku terasa seperti terguncang untuk mengatakannya. "Dia... Dia adalah..."

"Apa kau baik-baik saja?"

"I'm fine. Hanya saja... Bisakah kita tidak pergi ke sekolah untuk hari ini?"

Ciel terkejut. "Hah?!"

"Aku tidak bisa belajar dengan pikirian tertekan seperti ini."

"Maksudmu kita akan membolos?"

"Ka.. Kalau kau tidak mau, biar aku saja. Turunkan aku di sini."

"Hey... Tunggu! Kau apa-apaan sih?" Ciel menatapku lekat-lekat setelah menepikan mobil di tepi jalan. "Ahh! Baiklah. Tapi untuk hari ini saja."

-oOo-

Kami berada di sebuah cafe. Cafe ini cukup nyaman dengan beberapa pengunjung yang duduk jauh dari kami. Lebih tepatnya kamilah yang sengaja memilih tempat duduk yang agak jauh dari mereka. Ja.. Jangan salah paham! Ini bukan kencan! Aku melakukan ini hanya agar aku dapat menceritakan masa laluku dengan leluasa tanpa ada pengunjung lain yang mendengarnya!

Baiklah. Aku sudah merasa cukup tenang setelah meminum sedikit Cappuccino dari cangkirku. Jadi aku akan memulainya.

"Ini terjadi tujuh tahun yang lalu.", ujarku memulai. "Saat itu aku tidur sendirian dengan mematikan lampu kamar. Kemudian aku terbangun karena mendengar suara anjingku. Tapi dia tidak ada di sampingku. Aku mencarinya dalam kegelapan. Sampai akhirnya, aku menemukannya."

"Apanya yang menakutkan dari itu?"

"Ceritaku belum selesai." Nada suaraku sedikit meninggi. "Kupikir anjingku baik-baik saja. Tapi aku mendapati sosok yang menggendong anjingku. Petir menyambar jadi aku dapat melihat apa yang terjadi karena cahayanya. Tak jauh dari hadapanku, ada seseorang. Dia... Dia... Dia membunuh anjingku. Mengulitinya tanpa belas kasihan."

"Apa?"

"Aku takut. Terlebih setelah orang itu menyeringai dan mendekatiku. Dia berniat untuk membunuhku. Semakin dekat, aku semakin melihat wajahnya. Dia bermata ruby dengan rambut hitam. Aku menangis dan berteriak. Tak lama kemudian dia pergi setelah orang tuaku dan para penjaga datang."

"Itu benar-benar terjadi padamu?"

Mataku yang memanas menatap cangkir kopiku. "Ya. Sebenarnya aku ingin melupakan itu."

"Maafkan aku. Tapi... Apakah orang itu sudah tertangkap?"

"Tidak, belum. Pernah terlintas dipikiranku untuk pindah ke luar negeri. Namun aku tidak tahu pasti apakah dia akan mencoba membunuhku lagi atau tidak."

"Karena itulah kau phobia pada kegelapan? Kau takut orang itu tiba-tiba muncul dengan tak terduga?"

"Ya." Aku menatap Ciel. "Apakah menurutmu aku harus menyewa bodyguard?"

"Konyol."

"Eh?"

"Lalu apa gunanya aku jika kau menyewa bodyguard?" Ciel menaruh jari telunjuknya di dahiku. "Aku akan melindungimu. Walaupun merepotkan sih... Tapi kupikir itu sudah menjadi kewajibanku setelah hari itu."

"Ciel..."

"Apa? Jangan menatapku seperti itu. Aku hanya melakukan kewajibanku saja."

Kewajibannya? Ya, mungkin itu benar. Sejak hari itu, Ciel selalu melakukan sesuatu untukku. Sebenarnya aku masih belum percaya dia merelakan dirinya dihukum Mr. Faustus hanya karena aku tidak mengerjakan tugas. Karena itulah kami berdua dihukum berdiri di koridor. Aku tidak mau mengatakan ini, tapi... Inikah yang dilakukan seorang suami untuk istrinya?

Aku tersenyum untuk pertama kalinya secara tulus kepada Ciel. "Terima kasih."

-oOo-

Aku berjongkok agar dapat sejajar dengan orang yang ada di hadapanku. Nafas orang itu terengah-engah. Peluh bercucuran dari dahinya. Ia tampak kepayahan untuk bernafas. Sementara aku, aku masih baik-baik saja. Nafasku memang terengah, tetapi tak separah dia.

Hmmm... Begini, Mr. Agni menyuruh murid yang diajarnya saat ini untuk mengelilingi lapangan lari. Bisa ditebak, dia adalah guru olahraga. Materi kali ini adalah sprint, sekaligus melihat seberapa tangguh kami untuk dapat berlari sebanyak dua putaran. Sekitar 60% termasuk aku sanggup melakukannya.

"Larimu payah, ya?", celetukku kepada orang yang berada di hadapanku. "Tidak hanya lari, tapi semua jenis olahraga kau payah melakukannya."

Dia menatapku tajam. "Diam!"

"Aku hanya berbicara sesuai fakta."

"Kubilang diam!"

"Kalau nilai olahragamu jelek, bagaimana bisa kau melindungiku?" Suaraku mengecil agar teman-teman tidak mendengar.

"Kau...!"

Aku menyodorkan sesuatu setelah memastikan teman-teman sibuk dengan kegiatannya masing-masing. "Aku membawakanmu minum."

Tanpa kusangka, dia menepis tanganku. Air kemasan yang ingin kuberikan padanya terjatuh begitu saja. Aku terkejut karena tingkahnya tadi. Ketika kutolehkan wajahku kepadanya, dia tampak marah.

"Aku tidak butuh.", ujarnya dingin.

"Eh? Apa kau marah karena ucapanku?"

"Pergi."

"Aku minta maaf, bukan maksudku untuk membuatmu marah."

"Apa kau tuli? Kubilang pergi."

Astaga...

"Ciel, aku hanya-"

"PERGI!" Ciel berteriak.

Ke.. Kenapa? Aku sudah minta maaf. Lagipula aku tidak bermaksud membuatnya marah. Aku juga tidak bermaksud menyinggungnya yang tidak bisa dalam olahraga apapun. Aku hanya bercanda. Tak kusangka dia menganggap itu serius. Dia benar-benar marah. Apa yang harus kulakukan untuk menyelesaikannya?

Pada akhirnya aku pergi, meninggalkan dia dengan nafasnya yang terengah-engah. Sejenak aku menoleh kearahnya kemudian kembali menoleh ke depan. Aku melihat teman-teman tengah menatapku. Aku yakin mereka akan menanyakan apa yang terjadi dan apa yang kami ributkan.

"Ada apa?", tanya Paula ketika aku sudah berada di dekat teman-teman.

Aku tersenyum kecil. "Tidak ada apa-apa."

"Tidak mungkin. Ciel baru saja berteriak padamu. Kalian bertengkar?"

"Itu...-"

Mey Rin menepuk bahuku. "Jika bersaing, itu wajar. Kami sering melihatnya. Tapi bertengkar... Kami tidak pernah melihatnya. Terjadi sesuatu di antara kalian?"

"Tidak, kok..."

"Sudahlah. Ciel memang seperti itu. Dia juga sering berteriak padaku.", ujar Soma yang baru saja datang.

"Tapi akhir-akhir ini memang ada yang aneh." Finnian menyela. "Aku tahu Ciel mengerjakan tugas Mr. Faustus. Tapi dia memasukan kembali bukunya setelah kau kena hukum. Lalu kemarin kalian sama-sama tidak masuk sekolah tanpa ada keterangan."

"Oh... Benar juga." Soma mengiyakan ucapan Finnian.

Aku terkekeh. "Kalian ada-ada saja. Itu mungkin hanya kebetulan. Lagipula tidak terjadi sesuatu di antara kami."

"Benarkah? Tapi jika memang terjadi sesuatu, katakan saja. Kami akan membantu."

"Kalian baik sekali. Terima kasih." Aku memikirkan untuk mengganti topik pembicaraan. "Aku ingin menanyakan sesuatu. Apakah kalian pernah melihat pria dewasa dengan mata berwarna ruby dan rambut hitam legam?"

"Hah?"

"Jangan hanya 'hah'. Apa kalian tahu?"

"Tidak. Aku tidak pernah melihatnya.", jawab Paula yang diikuti dengan anggukan yang lain.

Sudah kuduga tidak akan ada yang tahu.

-oOo-

Ini sudah keempat kalinya aku memanggil Ciel untuk makan malam. Dia tidak keluar juga dari kamarnya. Bahkan hanya untuk menjawab panggilanku dia tidak mau. Kupikir dia sangat marah. Padahal selama perjalanan pulang, aku terus meminta maaf, tapi dia tak memberi respond apapun.

Dengan membawa makan malam Ciel, aku menaiki anak tangga. Perlahan, akhirnya sampai juga dianak tangga terakhir. Awalnya aku biasa saja, tetapi aku dihentikan sesuatu. Lorong nan panjang dengan penerangan yang minim. Itulah yang menghentikanku. Aku tidak berani melewatinya seorang diri.

"Ciel, keluarlah dari kamarmu. Kau tidak mau makan malam?", teriakku di ujung lorong.

Namun tetap saja dia tak menjawabnya. Padahal aku yakin, dia dapat mendengar suaraku. Keadaan di rumah ini juga cukup sunyi.

"Ciel, kau tahu kan aku takut melewati lorong ini? Setidaknya, keluarlah dan ambil makan malammu. Aku sudah membawakannya."

Hening.

Ya Tuhan... Apa dia semarah itu sampai-sampai mengacuhkanku? Aku tahu aku salah. Tapi aku sudah meminta maaf. Kenapa dia tidak mencoba untuk memaafkanku? Sebenarnya ucapanku yang keterlaluan atau dia yang sangat keras kepala?

Kalau makanan ini kutaruh di sini... Mungkin saja dia tetap tidak akan mengambilnya. Di samping itu, kalau benar tidak akan dimakan, sayang jika didiamkan. Aku harus mencari cara agar Ciel mau mengambilnya. Atau mungkin aku yang harus mencari cara agar aku dapat melewati lorong ini. But how? How?

Ayolah... Kenapa aku harus merasa takut kepada lorong seperti ini? Lagipula tidak ada hubungannya antara lorong ini dengan masa laluku. Tidak akan mempengaruhiku lagi. Dan... Siapa orang itu? Aku tidak kenal. Ah... Dia tidak akan mungkin menjadikanku target seumur hidupnya. C'mon, ini hanya lorong biasa. Tidak ada yang perlu ditakutkan. Just be brave!

OK, here I go!

Langkah kakiku perlahan namun pasti. Di setiap langkah, aku terus berseru dalam hati bahwa tidak akan terjadi apapun padaku. Aku akan sampai ke ujung lorong ini dengan selamat. Yap. Kamar Ciel memang ada di ujung lorong ini. Sangat menantang, bukan? Anggap saja ini ujian adrenaline.

Dengan langkah perlahan itu akhirnya aku sampai di depan kamar Ciel. Nah... Lihat? Tidak terjadi apa-apa, kan? Karena itulah, Leavanny, kau harus buang rasa phobia-mu pada kegelapan. Kegelapan tidak akan mencelakakanmu. Mulai sekarang sampai seterusnya, jangan pernah takut pada kegelapan!

Kuketuk pintu di hadapanku. "Ciel, aku mengantarkan makan malammu."

Hening. Lagi.

Ah...! Tetap saja dia tidak mau merespond. Aku harus bagaimana lagi? Haruskah aku mendobrak pintu- tunggu. Kenapa aku begitu ingin Ciel memakan makan malamnya? Apakah aku mencemaskan keadaannya yang kelaparan? Ah... Tidak. Aku hanya tidak ingin masakanku terbuang sia-sia. Ya, pasti karena itu.

"Aku tahu kau lapar." Kuketuk pintunya lebih keras. "Hey... Keluarlah. Jangan keras kepala seperti itu."

Tak ada jawaban. Sangat hening.

Lama kelamaan aku jadi kesal. "Cepat buka pintunya atau kau tidak akan mendapat makan ma-"

BRAK!

Ekh!

Aku terkejut ketika pintu itu terbuka. Tidak. Bukan. Ciel membanting pintu dengan begitu keras. Sekarang aku dapat melihat Ciel yang berdiri di ambang pintu. Mata deep blue-nya menatapku sangat tajam. Seketika itu juga, aku merasa takut. Aku takut jika dia benar-benar marah.

Tiba-tiba tangan Ciel mencengkram kedua pipiku. "Aku tidak butuh. Bawa pergi makanan itu."

"Ta.. Tapi kau lapar, kan?" Suaraku terdengar gemetar.

"Tidak sama sekali. Bawa itu pergi."

"A.. Aku sudah bersusah payah memasaknya."

"Aku tidak peduli." Cengkramannya terlepas. Dia membalikan tubuhnya. "Aku tidak peduli pada semua yang kau lakukan."

Kenapa dia memperlakukanku seperti ini? Aku sudah meminta maaf dan hanya ingin menebus kesalahanku. Seharusnya dia mengerti bagaimana perasaan seorang perempuan. Dia memang tidak mengerti. Dia tidak mengerti bagaimana usahaku untuk meminta maaf. Aku sudah mencoba berbagai cara agar dia memaafkanku. Tapi dia tidak peduli! Dia tidak peduli pada semua yang kulakukan!

Mataku yang sembab menatapnya dengan tajam. "Kau kejam! Tidak menghargai semua yang kulakukan! Kau hanya menginjak-injak hasil kerja kerasku! Padahal aku sudah berkali-kali meminta maaf. Kau membuatku kecewa! Aku benci kau!"

Aku berbalik dan segera melangkahkan kakiku secepat mungkin.


Tak ada yang ingin saya sampaikan selain… Review?