Saya tidak ingin berkata-kata karena tak ada yang harus saya katakan *plak*. Okay… Langsung saja!

Happy reading…


"Leavanny, kau terlihat aneh hari ini."

Ah?

Kuulas senyum simpul. "Aneh bagaimana maksudmu? Aku baik-baik saja, kok, Paula."

"Aneh!", seru Mey Rin. "Kau tidak menjawab satupun pertanyaan Mr. Faustus. Bahkan tidak ada persaingan antara kau dengan Ciel. Tidak ada satupun dari kalian yang menjawabnya. Itu aneh."

"Benar. Kau juga tidak terlihat bersemangat seperti biasanya. Padahal, setiap jam pelajaran Mr. Faustus, hanya suara kalian sajalah yang selalu terdengar." Paula menambahkan.

Mey Rin menatapku dengan seksama. "Pukul 6 a.m. aku kira aku yang datang paling awal. Tapi ternyata, kau sudah berada di kelas. Aku melihatmu yang sedang melamun. Tatapanmu kosong, seperti melamunkan sesuatu yang sulit kau hadapi."

"Benarkah?", tanyaku sepolos mungkin.

"Tentu saja. Sudah kuduga, memang terjadi sesuatu di antara kau dan Ciel. Kemarin dia sempat membentakmu, kan?"

Aku terkekeh. "Ah... Kalian terlalu berlebihan. Sudahlah, daripada itu, bagaimana kalau kita ke kantin?"

-oOo-

Setelah pulang sekolah aku, Mey Rin, dan Paula memutuskan untuk berjalan-jalan. Sesekali tak apa, kan? Toh kami jarang sekali menikmati waktu luang karena tugas menumpuk. Dan untungnya, hari ini tidak ada tugas apapun, jadi kami luangkan untuk berjalan-jalan dan refreshing. Apalagi cuaca yang agak mendung membuat udara menjadi sejuk.

Kami ke pusat perbelanjaan. Mey Rin dan Paula membeli beberapa dresses dan accessories, sementara aku lebih memilih untuk membeli sayuran dan daging. Mereka heran dan bertanya untuk apa aku membeli semua itu. Aku hanya menjawab, untuk latihan memasak bersama Aunt Robin. Mereka ber'oh' ria.

Setelah puas berkeliling, kami pun singgah ke sebuah cafe. Masing-masing dari kami memesan secangkir Mochaccino. Kami menikmati waktu luang yang langka ini. Kami bercerita mengenai apa saja. Semua topik dibahas. Mulai dari pelajaran sampai apa yang terjadi antara aku dengan Ciel. Mereka begitu penasaran. Tapi aku terus-terusan menjawab, tak terjadi apapun. Terkadang berbohong demi kebaikan, tak apa-apa, kan?

Jam pun akhirnya menunjukan pukul 7 p.m. dan kami harus segera mengakhiri petualangan kami. Sebenarnya aku masih ingin menikmati waktu senggangku bersama mereka. Namun apa daya, waktu tak mendukung. Aku harus segera pulang dan membuat makan malam, sesuatu yang tak akan mereka lakukan ketika pulang ke rumah.

Aku berada di depan pintu rumah. Baru saja aku ingin menarik daun pintu, tiba-tiba pintu itu terbuka, menampakan seseorang yang sangat familiar bagiku.

Aku bersikap acuh tak acuh padanya.

"Kau dari mana saja, hah?!", semburnya ketika aku akan memasuki rumah.

"Bukan urusanmu.", jawabku ketus.

"Tapi ini sudah malam dan kau baru pulang?!"

"Lalu?"

"Kau ke mana saja dan apa yang kau lakukan sampai pulang malam?!"

"Apa pedulimu?" Aku terkekeh. "Kau seharusnya tidak peduli pada semua yang kulakukan, kan?"

"Peduliku?" Nada suaranya menurun. "Kau langsung meninggalkan kelas begitu bel pulang berbunyi. Aku menunggumu di parking place selama berjam-jam, tapi kau tidak juga muncul. Aku mendatangi cafe waktu itu, tapi kau tidak ada di sana. Aku mencarimu kemana-mana, tapi tetap tidak menemukanmu."

Mendengar itu, aku langsung melemparkan tatapanku. "Kau mencariku?"

"Tentu saja. Karena aku tidak juga menemukanmu."

"Sekeras itukah kau mencariku?"

"Ya."

"Kau mengkhawatirkanku?"

Dia memalingkan wajahnya. "Itu... Err... Sudahlah! Ayo masuk. Aku sudah menyiapkan makan malam."

"Ekh! Kau menyiapkan makan malam?"

"Memangnya kenapa? Terdengar aneh?"

"Tentu. Kau bilang, kau tidak bisa memasak. Jadi bagaimana bisa?"

"Aku menemukan buku resep di lemari."

"Ohh... " Aku mengangkat tanganku yang membawa belanjaanku. "Padahal aku baru saja akan memasak."

"Hem?"

Senyumku merekah. "Tapi tampaknya itu tidak perlu. Ayo, aku ingin mencicipi masakanmu."

-oOo-

"Ayo! Cepat!"

"Cepat! Cepat!"

"Mereka berkelahi di halaman depan!"

"Kenapa tidak ada yang melerai?!"

"Cepat! Kita lerai mereka!"

Eh? Ada yang berkelahi?

Mey Rin menuntun tanganku. "Ayo kita lihat!"

"Eh? Melihatnya?"

"Iya! Ayo, Leavanny!"

"O.. OK."

Aku dan Mey Rin keluar dari kelas. Kami menuruni tangga dan makin dekat dengan halaman depan. Semakin melangkah, semakin terlihat kerumunan. Dapat dipastikan, kerumunan itu adalah siswa siswi yang menonton perkelahian. Selain itu, ada beberapa siswa siswi yang berdatangan untuk menonton, kami salah satunya.

Uh... Terlalu padat. Kami tidak dapat melihat siapa yang berkelahi. Tapi aku dapat mendengar teguran-teguran para ketua murid agar mereka menghentikan perkelahiannya.

"Siapa yang berkelahi?", tanyaku kepada diriku sendiri.

Tanpa kusangka, ada yang mendengar. Dia menjawab, "Alois Trancy dengan siswa dari kelas 2-A."

Eh? Kelasku?

"Siapa siswa yang dari kelas 2-A itu?"

"Aku tidak tahu."

"Ciri-cirinya?"

"Mata dan rambutnya berwarna navy blue."

Tunggu. Hanya ada satu orang yang memiliki mata dan rambut berwarna navy blue. Dia adalah... Oh! Tidak!

Dengan memaksakan diri aku menembus kerumuran itu. Walau sedikit sulit, tapi akhirnya aku berhasil. Di depan mataku saat ini, aku melihat dua orang laki-laki yang babak belur. Keduanya tampak parah. Tapi mereka masih ingin untuk menjatuhkan lawannya masing-masing. Sementara para ketua murid berusaha melerai.

Mataku membulat. Bagaimana bisa dia berkelahi sampai seperti itu? Apa dia tidak tahu bahwa yang dia lakukan akan membawanya ke dalam masalah? Dasar bodoh!

"Hentikan. Hentikan!", teriakku yang seketika itu juga mendapat tatapan dari semua orang yang ada di sini.

Salah satu dari mereka berhenti lantas menatapku. "Leavanny...?"

Kulihat anak bernama Alois Trancy itu berhasil melepaskan diri dari cekalan para ketua murid. Dia lalu memukul lawannya yang kini tengah terperangah menatapku. Orang yang dipukul terjatuh. Dia meringis kesakitan. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya, membasahi kembali jejak darah yang sudah memudar.

"CIEL!" Aku segera menghampiri tubuh yang tergeletak begitu saja. "Ya Tuhan! Kenapa kau berkelahi seperti ini?!"

Dia tak menjawab.

"Lepaskan! Biar kuhabisi bocah sialan itu!"

Aku menolehkan wajahku kearah orang yang baru saja bersuara. Dia orang yang sama dengan orang yang telah memukul Ciel. Para ketua murid berhasil mencekalnya kembali. Tapi dia terus meronta. Keadaan anak itu tak jauh berbeda dari Ciel, tetapi dia masih jauh lebih baik daripada Ciel. Apa yang membuatnya begitu ingin menghabisi Ciel? Apakah Ciel memiliki kesalahan yang fatal?

"Lepaskan aku!"

Para ketua murid segera membawa anak itu pergi menjauh.

Ketua murid yang lain membopong Ciel. "Lukanya cukup parah. Aku akan membawanya ke ruang kesehatan." Dilihatnya kerumunan murid yang masih menonton. "Kalian, bubar! Ini bukan tontonan! Bubar! Bubar!"

Ketua murid yang membopong Ciel itu pergi. Dia akan ke ruang kesehatan, bukan? Aku harus mengikutinya! Tapi tampaknya dia tak menyadari keberadaanku yang mengekor di belakangnya. Dia hanya terfokus pada orang yang dibawanya. First aid! Mungkin itu yang dipikirkannya.

Sampailah kami di ruang kesehatan.

Petugas ruang kesehatan sedikit terkejut. "Kenapa dia?"

"Berkelahi.", ujar ketua murid seraya merebahkan Ciel di ranjang.

"Ya ampun, sampai separah ini?"

"Begitulah. Sebenarnya apa yang membuat mereka berkelahi mati-matian?"

"Kalau begitu, aku akan mengobatinya."

"Tolong bantuannya, Miss Alvey." Ketua murid tersebut akhirnya menyadari keberadaanku. "Lho? Kau siapa?"

"Namaku Leavanny McTavish. Aku teman dari orang itu.", ujarku memperkenalkan diri.

"Kalau begitu, bagaimana jika kau yang menungguinya? Aku masih ada urusan."

"Ba.. Baiklah." Aku memerhatikan bagaimana petugas ruang kesehatan, Miss Alvey, dalam mengobati luka Ciel. "Apakah lukanya parah?"

"Tidak terlalu parah, sih... Tapi kelihatannya sakit."

"Berapa lama dia bisa sembuh total?"

"Sembuh total? Sepertinya seminggu."

"Adakah murid lain yang lebih parah dari dia?"

"Ada. Kakinya sobek karena terkena pecahan kaca. Tapi aku angkat tangan. Aku tidak bisa menjahit lukanya. Aku hanya petugas kesehatan. Nah... Sudah selesai."

Aku memerhatikan Ciel. "Sepertinya dia tertidur. Bisakah Anda menjaganya? Saya tidak ingin membangunkannya. Jadi saya akan kembali ke sini setelah bel pulang sekolah berbunyi untuk mengantarnya pulang."

"Tentu bisa." Miss Alvey tersenyum. "Kau mengkhawatirkannya, ya?"

"Emm... Ya."

-oOo-

Sekarang bagaimana? Aku sudah memapah Ciel sampai ke parking place. Tapi... Siapa yang akan mengemudi? Aku tidak bisa mengemudi! Kalau Ciel... Ah... Dia baru saja bangun dari tidurnya. Lagipula dia babak belur. Jadi mana mungkin dia mengemudi? Aku harus bagaimana?

"Kenapa diam?", ujar Ciel

"Aku bingung. Siapa yang akan mengemudi?"

"Tentu saja aku."

"Tapi kau terluka."

"Kau pikir karena luka seperti ini, aku jadi tidak bisa mengemudi?"

"Ah! Aku akan menelepon papa."

"Tidak perlu. Hanya buang-buang waktu. Lebih baik kau bantu aku masuk ke mobil."

"Tapi..."

"Ayo cepat."

"…. Baiklah."

Pada akhirnya aku membantu Ciel duduk di kursi kemudi. Setelah selesai, aku sendiri berjalan memutar dan duduk di sebelahnya. Apa benar dia tidak apa-apa mengemudi dengan keadaan seperti itu? Apa dia tidak kesakitan? Padahal tadi dia meringis kesakitan saat dipukul oleh anak berambut pirang bernama Alois itu.

"Ciel, jangan memaksakan diri.", celetukku ketika ia menyalakan mesin mobil. "Bagaimana jika kita naik taxi saja?"

"Kau mau meninggalkan mobil ini?"

"Kalau kau kesakitan untuk mengemudi, kurasa iya."

"Jangan bodoh." Ciel mulai menginjak pedal gas secara perlahan. "Kau pikir aku selemah itu?"

"Dasar bodoh!"

"Bodoh katamu?"

"Kenapa kau berkelahi?! Memang apa untungnya?! Kau menyebabkan keributan tadi!"

"Sudahlah. Tidak perlu dibahas." Ciel menatapku sejenak. "Kau mengkhawatirkanku?"

Ekh!

Aku membuang muka. "Ti.. Tidak! Aku hanya khawatir kita tidak akan sampai ke rumah dengan selamat karena kau terluka."

"Ah-ha? Sebenarnya aku mendengar percakapanmu dengan Miss Alvey."

"Ap- Uhh...! Tidak sopan sekali! Kau menguping pembicaraan orang."

"Siapa bilang aku mengup- Ouch...!"

"Ke.. Kenapa? Ada yang sakit? Sudahlah, kita menepi saja."

"Haha... Tidak. Lebih baik kau duduk dan diam saja."

"Hey...! Seharusnya aku yang berkata seperti itu!"

-oOo-

"Mau apa kau?"

Aku sedang sibuk mencuci piring diwastafel. Tiba-tiba Ciel datang dan membuka lemari es. Itu biasa saja. Tapi yang tidak biasa, dia membawa handkerchief lalu hendak menuangkan air dingin di atasnya. Aku tahu. Dia pasti bermaksud mengobati luka lebamnya. Tapi... Ayolah, kurasa dia cukup pandai untuk berpikir panjang.

"Mengompres memarku.", jawabnya.

"Kau harus menuangkan air dingin itu ke wadah atau kau hanya akan menambah perkerjaanku." Aku membasuh tangan dan mengeringkannya. "Berikan padaku. Kau duduk saja."

Dia lantas memberikan botol air dingin dan handkerchief-nya. Lalu dia pergi duduk di kursi makan. Sekarang tugasku mencari wadah yang tidak terlalu besar untuk tempat menampung air dingin ini. Dan... Aha! Found it! Langsung saja kutuangkan air dingin ini. Selesai, aku pun menghampiri Ciel yang duduk tak jauh dariku.

"Lihat akibatnya. Wajahmu penuh dengan lebam.", ujarku seraya mencelupkan handkerchief ke air dingin, memerasnya, lalu mengompres luka lebam Ciel.

"Ouch...! Pelan-pelan!"

"Jangan mengeluh."

"Sakit. Kau ingin membunuhku?"

"Permasalahan apa yang kalian ributkan sampai terjadi perkelahian?"

"Permasalahan? Tidak ada."

"Jadi kalian berkelahi tanpa sebab?"

"Kau tahulah. Alois memang seperti itu."

"Hahh... Untung saja kau punya reputasi bagus dipandangan para guru, jadi kau tidak terancam di skorsing. Tapi tetap saja kau tidak bisa masuk sekolah karena keadaanmu."

"Kau benar juga." Ciel tampak berpikir. "Alois juga babak belur. Itu artinya... Ah! Aku memukulnya! Aku bisa berkelahi! Haha... Ouch!"

"Apa yang harus kau banggakan kalau akhirnya kau babak belur juga?"

"Setidaknya aku sudah membuktikannya padamu bahwa aku bisa berkelahi. Aku akan melindungimu."

Eh?

Aku tertawa kecil. "Kau merelakan dirimu sampai seperti ini hanya untuk membuktikan kau bisa berkelahi? Kau juga harus bisa melindungi dirimu sendiri, Ciel."

"Jangan khawatirkan aku."

"Si.. Siapa yang mengkha-"

"Because I'm worried to you." Tatapan Ciel melembut. "Aku takut jika orang itu melakukan sesuatu yang buruk padamu."

Apa... Yang baru saja dia katakan...?

"Be.. Benarkah?"

"Tidak."

Uhh...! Dia ingin mempermainkanku ya? Well then.

Aku menekan tanganku yang sedari tadi memegang kompresan di dahi Ciel. "Makan ini!"

"Huaa...! Sakit! Leavanny! Hentikan! Sakit, bodoh!"

"Salahmu sendiri! Siapa suruh kau mempermainkanku!"

"Baiklah, baiklah. Aku minta maaf."

Aku menarik tanganku kembali. "Sekali lagi kau mempermainkanku, aku tidak akan segan-segan menambah satu lebam lagi diwajahmu."

-oOo-

Lima hari sebelumnya aku selalu dipaksa untuk marah. Pasalnya, Ciel terus-terusan memaksa ingin mengantarkanku ke sekolah. Keadaannya sudah membaik, sih.. Tapi tetap saja belum sembuh total. Karena keegoisannya aku jadi banyak memarahinya. Aku memarahinya bukan tanpa alasan. Padahal alasanku mulia, yaitu menyuruh Ciel beristirahat agar dia cepat sembuh. Tapi nyatanya, dia susah sekali untuk menurut.

Untungnya hari ini adalah hari Minggu! Jadi dia tidak banyak omong ingin mengantarkanku ke sekolah. Aku sangat tertolong. Kalau begini, aku dapat menyimpan tenagaku karena tidak ada marah-marah. Tapi nampaknya... Aku masih harus mengerahkan seluruh tenagaku untuk bersih-bersih rumah.

Dan juga...

"Untuk sementara, dia akan tinggal di sini."

Aku menatap seorang anak kecil yang kira-kira usianya 11 tahun. Dia gadis kecil yang memiliki mata berwarna pink dengan rambut dark brown. Terlihat manis dengan pakaiannya yang berwarna pink cerah. Senyuman gadis itu tak memudar. Matanya terus menatap rumah ini dengan seksama.

"Tapi bagaimana dengan sekolah kita? Apa dia mau ditinggal sendirian di sini?", ujarku berbisik kepada Ciel.

"Tentu kita ajak ke sekolah."

"Apa?!"Aku menghela nafas seraya menghempaskan tubuhku ke atas sofa. "Itu tidak mungkin."

"Lebih tidak mungkin jika kita tinggal dia sendirian di sini?"

"Ahh... Lagipula kenapa harus menitipkannya pada kita?"

"Orang tua anak ini adalah adik ipar Aunt Anne."

"Aku tahu. Tapi kenapa kepada kita? Memangnya tidak ada yang bersedia mengurus anak ini?"

"Orang tuamu ke French beberapa hari yang lalu. Orang tuaku ke Swiss. Aunt Anne sibuk dengan tugasnya sebagai doctor dan suaminya sibuk mengurusi perusahaan baru mereka. Terakhir, orang tua anak ini juga pergi ke Spain untuk menengok kerabat mereka yang sakit."

"Jadi..."

"Hanya kita yang tersisa."

"Tapi, argh...! Kenapa dia tidak ikut dengan orang tuanya?!"

"Ssttt...! Jangan keras-keras! Nanti dia dengar." Ciel memastikan gadis itu berada jauh dari kami. "Orang tuanya melarang. Sebab anak ini sa-"

PRANG!

Ekh!

Aku dan Ciel segera mengalihkan pandangan kami. Sekarang kami melihat anak itu sedang berdiri tepat di samping sebuah guci... Yang sudah pecah? Eehhh...! Apa dia baru saja memecahkan guci?! Oh... Tidak...

Aku segera bangkit dan menghampiri si gadis. "A.. Apa yang terjadi?"

Gadis itu memainkan ujung pakaiannya. Kepalanya tertunduk. "Aku tidak sengaja menabraknya. Jadi pecah..."

Ugh!

"Sudah, sudah, tidak apa-apa." Aku menuntun si gadis ke kamar di lantai dua. "Kau lelah ya? Tidur siang baik untukmu."

-oOo-

Aku menuruni anak tangga. Kuhembuskan nafasku untuk yang ketiga kalinya. Rasanya beban tanggunganku akan bertambah. Aku pastinya akan membuat tiga porsi makanan. Mencuci piring lebih banyak. Dan yang terparah, aku melakukannya seorang diri! Di samping itu, aku harus tetap aktif pada kegiatan sekolah. Bisa dibayangkan seberapa lelahnya aku.

"Dia sudah tidur?"

"Ya, sudah." Aku duduk di sebelah Ciel. Sofa empuk ini cukup untuk mengurangi penatku. "Aku benar-benar merasa seperti housewife sungguhan..."

"Hah?"

"Memasak, membersihkan rumah, mengurus anak kecil, ditambah mengurusmu yang belum sembuh juga. Bagaimana aku bisa melakukan semuanya? Aku hanya perempuan yang masih berusia 17 tahun."

"Kalau kau terus-terusan mengeluh, bisa-bisa aku dan anakku akan pergi dari rumah."

Death glare kuberikan pada Ciel. "Diam."

"Baiklah, baiklah." Ciel menjentikan jarinya. "Ah... Aku belum mengatakannya padamu."

"Mengatakan apa?"

"Aku yakin kau belum mengetahui nama anak itu, kan?"

"Ya. Aku hanya pernah melihatnya beberapa kali."

"Namanya Raine. Tampangnya memang sangat manis. Tapi dia itu anak yang nakal. Maka dari itu dia dilarang ikut."

"Sungguh? Tapi tadi dia terlihat menyesal setelah memecahkan guci."

"Jangan tertipu. Aku lebih mengenalnya."

"Baiklah." Aku sedikit mencondongkan tubuhku kepada Ciel. "Kau mau makan apa siang ini?"

"Apa saja asalkan kau cepat-cepat bersihkan pecahan kaca itu sebelum ada yang terluka."

"Ahh... Aku lapar. Membersihkannya nanti saja kalau sudah selesai makan. Ya?"

"Terserah."

-oOo-

Tanpa bisa mengalihkan pandanganku, aku terus menatap Raine. Dia tengah memakan makan malamnya dengan lahap. Yah... Itu mungkin wajar. Dia tak ikut makan siang tadi. Tapi... Haruskan dia mengotori meja makan. Dan... Haruskan dia menghabiskan semua kalkun yang tersedia? Ya ampun... Itu masterpiece-ku. Aku baru saja belajar memasak kalkun dengan panduan buku resep. Dan sekarang... Habis?

Aku berpaling menatap Ciel, seolah berkata "makan malam kita habis" melalui tatapan tersebut. Ciel rupanya mengerti dan hanya mengangguk. Dia tidak mungkin melarang apalagi memarahi Raine karena kerakusannya. Anak itu bisa menangis, dan kami tidak mau terlarut dalam tangisannya.

"I'm full...", ujar Raine seraya meletakan semua alat makannya. "Kalkunnya enak. Tapi akan lebih enak jika ada dessert."

Hah?

Aku tersenyum. "Maaf, Raine, kami tidak punya dessert."

"Oh... Begitu."

"Begitulah."

"Kenapa sister Leavanny dan brother Ciel tinggal dalam satu rumah? Ini rumah siapa?"

Ekh! Bi.. Bicara apa dia?

"Begini, Raine." Ciel membuka suara. "Orang tua sister Leavanny sedang pergi ke luar negeri. Jadi mereka menyuruhku untuk menemaninya. Dan rumah ini adalah milik mereka."

Ciel berbohong. Tapi tak apa. Bukankah Raine akan ikut ke sekolah? Jika diberitahu yang sebenarnya, mungkin saja dia akan membocorkannya kepada teman-teman di sana. Bisa gawat, kan? Jadi lebih baik sembunyikan saja. Jangan biarkan dia tahu kenapa kami bisa tinggal satu atap.

"Baiklah." Raine menandaskan minumnya. "Aku mau tidur. Good night."

Lho?

"Mau diantar ke kamarmu?", sergahku.

"Kenapa harus diantar?"

"Tidak apa. Hanya saja, apa kau berani melewati lorong?"

"Tentu saja. Aku bukan anak kecil."

Dia berlalu.

Aku terperangah. "Aku dikalahkan anak kecil..."

"Pfffttt... Hahaha..."

Seketika itu juga, aku menatap tajam si empunya suara. "Apanya yang lucu?!"

"Dia lebih berani daripada kau. Haha..."

"Diam! Itu tidak lucu!" Aku bergegas beranjak. "Karena hanya ada dua kamar, kau tidur di sofa!"

"A.. Apa?! Itu tidak adil!"

"Masa bodoh! Aku tidak mau tidur satu ranjang denganmu."

"Leavanny! Hey! Tunggu!"


Well, the last word…

Review?