Author gak mau cingcong apa-apa, hanya ingin menjawab reviewan saja…
Mell Hinaga Kuran : Thank you, Mell-san. Siapa dengan 'dia'? Hmm… Silakan disimak hingga fic ini selesai ^^
Rosellia Anderson : Yosh! Silakan dibaca chap 4 ini ^^
Happy reading and enjoy, minna-san.
Aku menghela nafas. Lagi. Sesekali aku menolehkan kepalaku ke belakang, memastikan Raine duduk tenang tanpa harus melakukan hal yang merepotkan kami. Ternyata dia tengah sibuk dengan ponselnya. Entah apa yang ia mainkan diponselnya. Yang penting saat ini, dia diam, tenang, dan tidak berulah.
Di sekolah tadi sikap Raine sangat kacau. Dia berlari-lari di koridor. Naik dan melompati meja demi meja kelas. Meminta makanan lebih di kantin. Dan yang terparah, dia sangat mengganggu ketika jam pelajaran berlangsung di kelas kami. Guru-guru tampak resah dengan kehadiran orang asing di dalam kelas. Tapi mereka memberikan toleransi setelah aku menjelaskan semuanya.
Ahh... Ciel benar. Anak ini nakal.
Tapi aku bersyukur. Raine tidak mengatakan hal yang macam-macam mengenai aku dan Ciel kepada teman-teman.
"Bisakah kita mampir ke pharmacy sebentar?", ujarku kepada Ciel yang sedang mengemudi.
"Untuk apa?"
"Aku ingin membeli obat. Kepalaku sakit."
"Baiklah. Kau pasti tertekan."
-oOo-
"Yeaayyy...! Plane! Fly! Higher! Higher! Haha...!"
Uhh...!
Raine berlari mengitari rumah. Tangannya terentang, berandai dirinya sebuah pesawat. Kakinya seolah tidak pernah merasa lelah. Dia tampak senang dengan kegiatannya. Tapi... Aku yang melihatnya jadi resah. Dia terus berlari. Bisa-bisa dia memecahkan sesuatu lagi. Pasti menambah perkerjaanku.
"Raine, jangan berlari seperti itu. Bagaimana jika membantuku memasak?", ujarku dengan senyum yang dipaksakan.
Raine menggeleng kuat. "Tidak mau!"
"Kau tidak lelah?"
"Tidak."
"Lebih baik duduk dan menonton telev-"
PRANG!
Ahhh...
Lagi?
Raine menghentikan larinya. "Pecah lagi..."
Bukannya minta maaf atau merasa bersalah, Raine malah melanjutkan tingkah nakalnya. Dia berlari-lari sembarang arah yang mungkin akan memecahkan cangkir lainnya. Melihatnya yang sudah bertingkah kelewatan, membuatku ingin menghampirinya.
"Apa kau tidak bisa berhenti, hah?!"
Dibentak seperti itu, Raine langsung berhenti. Dia menolehkan wajahnya kearahku. Matanya membulat lebar, mungkin ia kaget karena baru saja kubentak.
"Si.. Sister...?" Suara anak itu terdengar gemetar.
Aku berdiri tepat di hadapan Raine. "Kenapa kau tidak pernah bisa diam?! Kau selalu merepotkan! Apa kau tidak pernah menyesali ulahmu?!"
Wajah Raine tampak ketakutan. Matanya berkaca. "Si.. Sister marah? A.. Aku.. Takut..."
"Takut?! Untuk apa takut?! Anak nakal sepertimu-"
"Leavanny, hentikan."
Eh?
Aku menangkap sosok yang baru saja turun dari lantai dua. "Ciel? Aku hanya memarahinya agar dia jera."
"Caramu salah." Ciel memeluk gadis yang tengah menangis itu. "Kau harus lebih lembut padanya. Dia memang nakal. Tapi dia tetap keluargaku. Kau tidak boleh semena-mena."
"Ta.. Tapi... Dia-"
"Aku tidak rela kalau nantinya aku melihat anakku dimarahi sedemikian kerasnya olehmu."
-oOo-
Apa-apaan dia?! Berani-beraninya berkata seperti itu kepadaku! Aku kan hanya ingin memarahi Raine agar dia bersikap lebih baik! Lagipula anak itu sudah kelewatan batas. Dia menambah perkerjaanku. Aku lelah mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Cie harusnya tahu itu! Kerjaannya hanya duduk-duduk saja. Dia tidak mengerti!
Di samping itu, kenapa dia harus membawa-bawa kata 'anak'?! Untuk apa aku memarahi anaknya?! Memangnya anaknya adalah anakku juga?! Maaf saja, aku tidak akan melanjutkan sandiwara ini! Aku berjanji, suatu saat nanti, aku akan bercerai dengannya! Aku akan mencari laki-laki yang lebih baik dari dia! Lihat saja!
Aku beranjak dari ranjangku seraya membawa piring beserta sendok di atasnya. Ya, benar, makan malam hari ini aku sengaja membawanya ke kamarku. Aku tidak mau bergabung dengan mereka. Mereka menyebalkan. Anak kecil menyebalkan.
Ketika keluar kamar dan hendak memasuki dapur, aku mendengar sesuatu...
Aku mengintipnya. Aku melihat Ciel sedang berjongkok agar tingginya sama dengan Raine. Dia berusaha menenangkan anak itu. Lagi-lagi dia menangis. Kali ini, aku tidak membuatnya menangis. Aku terus berada di kamar setelah selesai membuat makan malam. Jadi jangan salahkan aku.
"Kenapa masih menangis? Makan malammu sudah habis, kan?", ujar Ciel sambil membelai kepala Raine.
Raine sesenggukan. "Ha.. Habisnya, aku takut sister Leavanny marah lagi. Aku takut..."
"Tenang saja, aku akan melindungimu."
"Sungguh?"
Ciel tersenyum. "Tentu saja."
"Wah..." Raine berbinar-binar melihatnya. "Keren..."
"Siapa yang keren?"
"Brother Ciel keren!"
"Benarkah?"
"Yap!"
Tanpa kusangka dan kuduga, Raine mencium Ciel! Dia menciumnya?! Gila! Jika hanya pipi, itu aku maklumi, tapi ini... Bibir?! Ke.. Kenapa?! Apa yang anak itu pikirkan?! Bahkan aku saja belum pernah- Ekh! Ta.. Tapi bukannya aku mau! Aku hanya berpikir!
Ciel terbelalak. "Ra.. Raine..?"
"Aku menyukai brother Ciel."
Apa...?
Tidak bisa tidak, aku juga terkejut mendengarnya. Tanpa kusadari piring yang kubawa terjatuh begitu saja, menimbulkan suara yang cukup keras. Hal ini tentu saja membuatku dilihat oleh dua orang yang baru saja berbincang. Mereka menatapku dan aku menatap mereka. Untuk beberapa detik, tak ada percakapan. Hening. Sampai akhirnya sebuah suara memecahkan keheningan ini.
"Aku senang kau menyukaiku.", ujar Ciel yang kemudian mendapat senyuman lebar dari Raine. "Aku menghargainya."
"Benarkah?" Senyum Raine makin melebar.
"Ya. Tapi..."
"Ta.. Tapi?"
"Aku terlalu dewasa untukmu."
"Eh? Ma.. Maksud brother?"
"Carilah laki-laki yang sebaya denganmu, Raine."
"Jadi... Brother tidak mau membalas perasaanku?"
"Bukan seperti itu. Aku juga menyukaimu. Hanya saja seperti adik perempuanku." Ciel beranjak dan menghampiriku. "Lagipula aku sudah memiliki Leavanny. Dia yang akan mendampingiku selamanya."
Eh? Dia bicara... Apa? Mendampinginya...? Selamanya...? Apa aku tidak salah dengar? Kupikir dia akan mengakhiri sandiwara ini, sama sepertiku. Tapi... Ah! Tidak! Tidak! Ciel pasti hanya bercanda. Dia hanya ingin membuat Raine sadar. Ya, tidak salah lagi. Pasti seperti itu. Aku yakin!
Mata Raine mulai berkaca-kaca lagi. "Ja.. Jahat. Kalian jahat!"
"Eh?"
"Padahal aku mengira brother ingin melindungiku karena brother menyukaiku. Brother jahat!" Raine akhirnya menangis. "Aku mau pulang! Aku mau pulang sekarang juga!"
Ciel jadi serba salah. "Tapi orang tuamu belum pulang."
"Masa bodoh! Aku mau pulang!"
"Tapi-"
"Sudahlah! Ada Gretha di rumah! Dia maid pribadiku!"
"Kau yakin?"
"Yakin!"
-oOo-
Pagi ini aku sengaja mengajak Ciel makan bersama di taman belakang sekolah. Karena di sini sepi, jadi kupikir tidak apa-apa sebab teman-teman pun pasti tidak akan yang ada memergoki. Yah... Sesekali tak apa, kan? Toh aku membuat banyak porsi sandwich. Sayang kan kalau tidak dimakan?
Mengenai insiden kemarin... Itu membuatku kacau. Walaupun sebenarnya Ciel hanya berusaha untuk membuat Raine berhenti menangis. Tapi semua ucapannya sontak membuatku kaget. Bagaimana bisa dia tiba-tiba mengatakan bahwa aku akan mendampingi dirinya untuk selamanya? Kurasa ada sesuatu yang meracuni pikirannya.
"Aku jadi takut padamu.", celetukku tiba-tiba setelah menghabiskan sandwich terakhirku.
Dia menatapku dengan sandwich yang memenuhi rongga mulutnya. "Hah?"
"Ucapanmu kemarin. Itulah yang membuatku takut."
"Takut?" Ciel menelan makanannya. "Apa aku berkata ingin membunuhmu? Atau mendorongmu dari atap sekolah? Atau mungkin memunculkan dullahan di hadapanmu?"
"Ayolah... Berhenti bercanda. Maksudku... Mendampingimu selamanya? Terima kasih, aku tidak mau."
"Apa aku seburuk itu untukmu?"
"Bahkan jauh lebih buruk."
"OK. Aku akan segera pergi."
"Pergilah jauh-jauh."
Ciel berdiri dari duduknya. "Baiklah. Aku ke kelas duluan. Sepertinya kau tidak butuh aku di sini. Bye."
"Well, bye."
Ciel pergi. Sosoknya menghilang ketika berbelok ke sebelah kanan gedung sekolah.
Sekarang aku sendirian. Ini sangat menenangkan. Akhirnya aku dapat menikmati moment kesendirianku. Apalagi angin sejuk berhembus, membuatku relax. Moment ini seperti menghilangkan seluruh beban tanggungan dalam hidupku. Hyuu... Terbang. Lenyap semuanya. Aku yakin aku tidak akan dapat merasakan hal ini dalam waktu yang lama.
Aku tahu.
Dari balik gedung sekolah, tempat di mana Ciel berbelok, mataku menangkap seseorang yang tengah berjalan mendekatiku. Walau samar aku dapat mengenalinya. Tidak secara pribadi. Hanya sekedar mengenalinya saja. Dia Alois Trancy, seseorang yang telah membuat Ciel babak belur. Kaget juga sih melihat kedatangannya di sini. Masa skorsing-nya sudah habis ya?
"Yang kau duduki itu adalah tempatku.", ujar laki-laki berambut pirang tersebut setelah berada di dekatku.
"Oh... Kalau begitu, aku akan pergi."
"Tidak apa. Kau boleh menempatinya. Kita bisa berbagi."
"Tidak perlu. Aku harus segera kembali ke kelas."
"Tunggu."
"Eh? Ada apa?"
Tangan Alois terangkat. Dia mengambil sesuatu di atas kepalaku.
"Kau mungkin akan ditertawakan jika daun ini tetap bersarang di atas kepalamu." Alois menunjukan daun kering yang ia ambil.
"Eh? Daun?" Aku menoleh ke belakang. Ah... Daun dari pohon di belakangku berjatuhan karena musim gugur. "Terima kasih."
"Sama-sama."
"Baiklah, kurasa aku ha-"
"Aku seperti pernah melihatmu. Tapi dimana ya?"
"Eh?"
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Aku menghentikan perkelahianmu dengan Ciel. Mungkin saat itu kau melihatku."
"Oh ya! Aku ingat sekarang."
"Jadi... Boleh aku pergi sekarang?"
"Tentu. Tapi tunggu! Boleh aku tahu siapa namamu?"
"Hem? Namaku Leavanny McTavish."
"Leavanny? Nama yang bagus. Dan aku Alois Trancy."
"OK. See you."
"See you soon."
-oOo-
Sekarang pukul 10 a.m. waktunya istirahat. Setelah penjelasan panjang yang di sampaikan Mrs. Hopkins, rasanya aku butuh minum yang banyak. Aku sendiri bingung. Padahal dia yang banyak berbicara, tapi aku yang sangat kehausan. Mungkin efek karena terus mendengarkan penjelasannya yang kelewatan banyaknya.
Aku mengajak Mey Rin dan Paula ke kantin. Sesampainya di sana, kami mengantri dan mengambil makanan kami. Setelah itu kami memilih tempat duduk yang masih kosong. Beruntungnya, ada satu di dekat dinding. Jadi tanpa ba-bi-bu lagi, kami langsung menuju tempat tersebut sebelum ada yang menempati.
"Huaa... Aku merasa tubuhku remuk.", celetuk Mey Rin seraya duduk dan menaruh nampan makannya di atas meja.
"Memang apa yang terjadi padamu?"
"Kalian tahu? Kacamataku terjatuh ke bawah ranjang. Jadi aku harus merangkak ke bawah sana untuk mengambilnya."
"Padahal hanya hal seperti itu." Paula memakan salad buahnya. "Aku jauh lebih parah. Aku harus memindahkan meja yang ada di ruang perpustakaan ke kamar adikku."
Aku seribu kali lebih parah. Memasak, mencuci, menyapu, mengepel, membersihkan rumah, atau apapun itu, aku selalu melakukannya. Rutin disetiap mingguku. Pekerjaan yang mereka lakukan jauh lebih mudah daripada pekerjaanku. Jika saja mereka tahu apa yang kukerjakan, kurasa mereka tak akan membanggakan perkerjaan yang baru saja mereka ceritakan.
"Boleh aku duduk di sini? Tampaknya kursi yang lain penuh."
Eh?
Aku menoleh. "Alois?"
"Boleh, kan, Leavanny?"
"Err... Ya, tentu."
Alois lalu duduk. Dia menatap Mey Rin dan Paula secara bergantian. "Oh... Maaf, aku hanya mengenal Leavanny. Jadi tak apa jika aku memperkenalkan diri?"
Mey Rin dan Paula saling menoleh lalu mengangguk. "Ya."
"Namaku Alois Trancy. Dan kalian?"
"My name's Mey Rin."
"I'm Paula."
"Nice to meet you all."
Mey Rin menyikutku dan mendekatkan wajahnya ke telingaku. "Kalian saling kenal?"
"Ya.", balasku berbisik.
"Wow...! Ada hubungan apa?"
"Tak ada. Hanya teman."
"Serious?"
"Yap."
"Dia cukup terkenal di kalangan anak basket, lho..."
"That's great."
But sorry, I don't interest with that.
"Oh ya, Leavanny, kau dari kelas berapa?", tanya Alois kepadaku.
"2-A."
"Hmm... Waktu itu... Kau seperti ingin melindungi Ciel. Apa kalian memiliki hubungan?"
Ekh!
"Hubungan? Sepertinya tidak. Kami hanya rival." Aku mengelak.
"Benarkah? Tapi sepertinya kau terlihat khawatir karena aku memukulnya."
"Ah... Mungkin karena solidaritas terhadap rival. Tidak lebih."
"Syukurlah kalau begitu."
"Untuk apa?"
"Karena kalian tak ada hubungan."
"Bicara apa, sih? Aneh."
"Justru kau yang aneh." Alois tiba-tiba saja mendekatkan tangannya yang memegang tissue. "Lagi-lagi mungkin kau akan ditertawakan karena mayonnaise dibibirmu."
"Eh? Ada mayonnaise dibibirku?"
"Ya. Cara makanmu seperti anak kecil."
"Ekh! Ja.. Jangan bicara seperti itu. Aku bukan anak kecil, tahu!"
"Maaf, maaf. Aku akan membersihkannya."
Uuhh... A.. Alois membersihkan sisa makanan dari bibirku? Di depan teman-teman pula? Ugh... Bisa-bisa mereka mengejekku!
PLAK!
Eh?
"Jauhkan tangan kotormu dari Leavanny."
Aku, Mey Rin, Paula, dan Alois sontak menoleh ke sumber suara. Kami, khususnya aku, sangat terkejut. Aku sungguh tidak menyadari kedatangan Ciel. Dia terlihat marah. Tatapannya tajam dan dingin. Dan aku baru menyadari, dia baru saja menepis tangan Alois agar menjauh dariku.
"Ci.. Ciel?" Aku jadi panik.
Alois tertawa kecil. Dia membalas tatapan Ciel. "Wah.. Wah... Coba lihat siapa yang datang."
"Jangan pernah dekati Leavanny.", ujar Ciel dengan suara rendah.
"Whoa...! Apa masalahmu, Mr. Phantomhive?"
"Diam kau!"
"Apa yang membuatmu marah, hn? Karena aku merebut gadismu?"
"Bukan urusanmu."
"Tunggu, aku salah. Leavanny bukan gadismu. Dia hanya rivalmu. Baru saja dia mengakuinya. Jadi tak masalah kan kalau aku memilikinya?"
"Jangan harap."
"Wah... Kenapa, Ciel? Kupikir kalian hanya rival. Oh... Atau jangan-jangan... Karena terus bersaing, kau jadi menyukainya? Haha... Koreksi jika aku salah."
A.. Apa-apaan pertanyaannya itu?
"Jika iya, apa itu jadi masalah untukmu?" Ciel menarik tanganku. "Ayo pergi."
E.. Eh...? Apa? Aku benar-benar tidak percaya. Aku benar-benar tidak bisa percaya. Bisa-bisanya Ciel mengiyakan pertanyaan Alois yang menurutku main-main. Apa dia sudah gila? Ya. Kupikir Ciel sudah gila karena kalkunnya dihabiskan oleh Raine. Oleh karena itu, dia tidak dapar berpikir jernih lagi.
Ciel menghentikan langkahnya di koridor. Dia lalu membalikan tubuhnya. Mata navy blue-nya menatapku, entah kenapa aku jadi berdebar. Kali ini aku dapat melihat wajah Ciel yang serius. Itu membuatku resah. Kira-kira apa yang akan ia katakan?
"Kau..." Ciel memulai. "Sejak kapan kenal dengan Alois?"
Aku menunduk. "E.. Err... Sejak kau pergi duluan ke kelas."
"Jadi dia datang setelah aku pergi?"
"Ya. Ta.. Tapi aku tidak menanggapinya." Aku makin menunduk setelah melirik betapa kesalnya raut wajah Ciel. "Kau marah?"
"Ya, aku marah."
Aku merasa sangat bersalah. "Ma.. Maafkan aku. Tapi aku bersumpah, aku tidak pernah menanggapinya. Dia hanya menanyakan beberapa pertanyaan, jadi kujawab sekenanya. Aku-"
Eh?
"Aku marah kalau sampai Alois akan menjadi penyebab retaknya hubungan kita. Aku tidak mau itu terjadi. Apa yang harus kukatakan kepada orang tuamu jika kita berpisah?"
Ciel...
Aku menyentuh kepalaku yang baru saja diusap Ciel. "Kau... Bilang apa...?"
"Maaf, tidak ada pengulangan."
Ciel beranjak meninggalkanku. Aku dibuat mematung oleh ucapannya barusan. Namun aku segera sadar. Langsung saja aku menyusul Ciel yang sudah berada jauh di depanku.
Aku menggandeng tangan lelaki itu. "Jangan katakan kalau kau cemburu. Haha..."
"Haha... Mana mungkin aku cemburu." Ciel mengacak-acak rambut di pangkal kepalaku. "Aku hanya ingin membuat Alois diam, tahu."
"Bohong."
"Aku tidak bohong."
"Aku tidak percaya."
"Ya sudah."
Haha... Ciel itu bagaimana, sih? Sudah jelas-jelas dia cemburu. Aku tidak dapat dibohongin seperti itu. Aku dapat membaca dari raut wajahnya. Memang sudah berapa lama kami saling kenal? Sudah 13 tahun lamanya. Jadi aku mengerti benar dengan dirinya.
Ciel, walau aku tidak menyukai statusku saat ini, tapi aku berjanji tidak akan mengkhianatimu. Aku ini tipe perempuan yang loyal. Aku akan terus di sampingmu. Karena sejak hari itu, aku adalah milikmu. Jangan pikirkan ucapanku. Aku tidak serius mengatakan kita harus berpisah. Itu semua karena emosi dan keegoisanku.
Mungkin ada kalanya kita harus memenuhi keinginan kedua orang tua kita, Ciel.
Apa di chapter ini ke-OOC-an Ciel sudah terlihat? Oh… mungkin para readers sudah menyadarinya sejak awal chap ya?
Review?
