Entah kenapa hari ini saya merasa berbunga-bunga (Syahrini kali ah -_-). Ekh! Ko malah ngomong gini. Lupakan, para readers. Padahal tadi di sekolah kelompok olahraga saya kalah telak dalam pertandingan badminton -_- *abaikan*
Mell Hinaga Kuran : Author juga seneng kalo liat Ciel cemburu ^o^ yah… Sayangnya saya ga bermaksud bikin cinta segitiga. Itu cuma konflik yang sekedar lewat aja *apa coba maksudnya?* Tapi saya akan mendatangkan konflik baru. Semoga suka, Mell-san ^^
Ai Fuyuki : Wah… Arigatou gozaimasu, Ai-san ^^ semoga bisa tetap mengikuti fic abal saya ini…
Douzooo…
Uhh... Pukul berapa sekarang?
Mataku melihat alarm clock yang ada di atas meja di dekat ranjangku. Ah... Tidak jelas. Oleh karena itu, aku mengusap-usap mataku dengan kedua tangan. Setelah beberapa detik, aku melihat alarm clock kembali. Kini aku dapat melihatnya. Walaupun tidak cukup jelas, tetapi aku bisa tahu jam berapa sekarang. Oh... Cahaya lampu juga membantu pengelihatanku.
11.57 p.m.
Bisa-bisanya aku terbangun dari tidurku di malam hari seperti ini. Apa aku terserang insomnia? Ah... Tidak mungkin. Aku hanya butuh sedikit minum dan itu akan membuatku kembali tertidur. Yah... Malas juga berjalan ke dapur untuk mengambil minum. Tapi... Ya sudahlah. Daripada aku tidak bisa tidur dan bangun kesiangan.
Kusibakan selimut yang menutupi tubuhku. Setelah itu menurunkan kedua kakiku dari atas ranjang. Dengan mata yang masih terasa berat, aku mulai melangkah perlahan. Aku tidak mau terbentur dinding atau apapun karena berjalan di keadaan setengah sadar. Err... Tidak juga, sih... Aku sudah sadar total. Maksudku... 70%.
Hem? Cahaya apa itu? Setahuku, aku tidak memasang lampu tidur di ruang TV. Tapi kenapa ada cahaya? Padahal lampunya mati.
Tanpa sedikit menghiraukan dari mana asalnya cahaya itu, aku tetap melanjutkan langkahku. Toh aku pasti akan melewati ruang TV dan akan tahu dari mana cahaya itu berasal. Yah.. Semoga saja bukan hal yang akan membuatku takut atau semacamnya.
Sesampainya di ruang TV, aku melihat kearah sofa. Sofa tersebut membelakangiku. Oh... Bukan hanya sofa, tetapi ada seseorang yang duduk di sana. Dia juga membelakangiku. Kalau dilihat sekilas, orang itu seperti tengah menonton televisi. Kini aku tahu. Cahaya itu berasal dari televisi yang menyala.
Eh? Hmm... Tunggu. Siapa yang menonton televisi selarut ini?! Ciel kah? Tapi tidak biasanya dia melakukannya. A.. Atau jangan-jangan... Orang itu!
Seketika itu juga rasa kantukku hilang bagai uap yang terbang ke udara. Rasa kantuk tersebut digantikan oleh rasa takut. Kakiku mundur beberapa langkah. Sebisa mungkin menjauh dari orang itu tanpa ada suara dan tanda diketahui olehnya. Namun apa daya, karena panik, tubuhku menabrak meja di belakangku, dan...
... Tidak!
PRANG!
Gawat! Aku menjatuhkan vas bunga!
"Siapa itu?"
Celaka! Dia menyadarinya! Tapi... Tunggu... Suara ini terasa familiar untukku. Aku sering mendengarnya. Ya. Tidak salah lagi. Ini adalah suara...
"Ciel?", ujarku pelan seraya menajam pengelihatanku di ruangan yang minim cahaya ini.
Orang itu bangkit dari duduknya. "Astaga, apa yang kau lakukan malam-malam begini?"
Ternyata benar. Dia Ciel.
"Seharusnya aku yang menanyakan itu padamu." Aku mendekati Ciel. "Apa yang kau lakukan selarut ini, hah? Kau membuatku takut saja."
Dia kembali duduk dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut. "Aku tidak bisa tidur."
"Eh? Insomnia?"
"Ya."
Aku ikut duduk di sampingnya. "Kalau kau insomnia, tetaplah di kamarmu. Jangan berkeliaran di sini sambil menonton televisi."
"Memangnya kenapa?"
"Aku sempat mengira kau orang itu."
"Hah?"
"Habisnya televisi menyala dan ada seseorang yang duduk di sofa."
"Apa kau bodoh? Seharusnya kau tahu kalau itu aku. Hanya ada kau dan aku di rumah ini."
"Kau tidak pernah menonton televisi semalam ini. Jadi kupikir kau tidur di kamarmu."
"Kau sendiri, apa yang kau lakukan semalam ini?"
"Aku hanya ingin minum."
"Ya sudah, pergi sana."
Aku menatap tajam orang yang tengah menonton televisi itu. "Kau mengusirku?!"
"Tidak. Kau sendiri kan yang bilang ingin minum. Ya sudah, pergi sana."
Kenapa, sih, dia? Kasar sekali. Bukankah dia bisa mengatakannya sedang kalimat yang sedikit lembut! Seperti "Sebelum dehidrasi, lebih baik cepat minum.". Atau "Ingin kuambilkan minum untukmu?". Seharusnya dia mengatakan dengan kata-kata yang tepat! Bukannya malah mengusirku! Dasar menyebalkan!
"Sudahlah, aku tidak jadi mengambil minum.", ujarku seraya berdiri. "Aku mau tidur saja."
Baru saja ingin melangkah, tiba-tiba saja Ciel menarik tanganku. Dia menyuruhku duduk kembali. Setelah itu dia melingkarkan kedua tangannya dileherku, berusaha menyelimutiku dengan selimut yang ia gunakan. Untuk sesaat aku terdiam. Tetapi segera sadar bahwa kami berada dalam satu selimut! Astaga!
Wajahku memanas karenanya. "Ci.. Ciel! A.. Apa yang kau lakukan?!"
"Di sini dingin."
"Ka.. Kalau begitu, pergilah ke kamarmu!"
"Tidak mau. Aku ingin tetap seperti ini." Dia menyandarkan kepalanya dibahuku. "Aku tidak membawa bantal. Jadi biarkan aku tidur dibahumu."
Astaga...! Ada apa dengannya?!
"Ci.. Ciel...! Kau pasti mengigau! Cepat tidur di kamarmu!"
Ciel menatapku. "Aku yakin aku tidak mengigau."
E.. Eh..? Lalu apa yang dipikirkan olehnya? Kenapa tiba-tiba dia berubah? Padahal dulu dia tidak mau dekat-dekat denganku. Ini memang aneh. Sejak hari itu, sikapnya berubah. Walaupun sikap menyebalkannya masih melekat didirinya. Tapi tetap saja dia tidak seperti Ciel yang dulu. Ciel yang selalu menganggapku sebagai rival abadinya.
Sorot mataku melemah. "Ada apa denganmu?"
"Apanya yang ada apa denganku?"
"Kau tidak seperti Ciel yang dulu."
"Maksudmu?"
"Dulu kau hanya menganggapku sainganmu. Kau juga paling tidak mau jika berada di dekatku."
"Lalu?"
"Sekarang kau berubah. Kau jadi ingin melindungiku, khawatir akan keadaanku, dan yang paling aneh, kau tidak suka jika Alois mendekatiku. Sebenarnya ada apa?"
"Tidak ada apa-apa."
"Kau bohong."
"Aku tidak berbohong."
"Jangan membodohiku."
"Jika aku tidak mengatakannya, mungkin sampai kapan pun kau tidak akan pernah tahu."
"Eh? Tahu apa?"
Dekapan Ciel makin erat. "Entah sejak kapan... Aku mencintaimu."
Eh? A.. Apa? Apa yang baru saja ia katakan? Mencintaiku? Tidak mungkin... Ciel yang selalu bersikap dingin bisa mengatakan cinta? Ini tidak mungkin. Ataukah dugaanku benar? Bahwa Ciel mengantuk dan mengigau? Kurasa itu yang sedang terjadi padanya. Pasti.
Aku terkekeh pelan. "Kau pandai bercanda, Ciel. Tidak mung-"
"Aku tidak bercanda!", sergahnya dengan cepat. "Kau tidak mengerti. Semua yang kulakukan bukan semata-mata karena kau seorang perempuan. Semua kulakukan karena aku mencintaimu. Kau sangat berarti untukku, Leavanny."
Aku terperangah. "Ci.. Ciel... Kau..."
"Sekarang aku tahu kenapa kita harus menikah diusia yang masih muda. Itu agar kau tidak dapat bersama dengan lelaki lain. Hanya aku yang akan bersamamu."
"Kau... Baru saja mengatakan hal yang mustahil untuk kau katakan."
-oOo-
Sesekali aku melirikan mataku kepada seseorang yang tengah mengemudi. Dia terlihat sangat serius. Mungkin sebagai siswa teladan, satu-satunya tujuannya saat ini adalah untuk sampai di sekolah dengan tepat waktu. Yah... Belum ada sejarah keterlambatan di absennya.
"Err..." Suaraku memecahkan keheningan. "Jujur saja, aku jadi merasa canggung setelah kejadian semalam."
Lelaki navy blue itu menoleh sejenak ke arahku sebelum akhirnya terfokus kembali kepada setir kemudi. Sekilas aku melihat matanya menatapku dengan penuh keheranan. Hem?
"Memang apa yang terjadi semalam?"
Pertanyaannya itu membuatku terlonjak seketika. Bagaimana tidak?! Dia baru saja mengatakan pertanyaan yang terlampau bodohnya! Bukankah semalam dia berusaha meyakinkanku untuk percaya pada ucapannya?! Tapi kenapa sekarang dia malah bertanya 'apa yang terjadi semalam?'?! Ada apa dengannya?!
Mataku mendelik. "Kau lupa apa yang kau katakan semalam?!"
"Bagaimana bisa lupa? Aku bahkan tidak merasa mengatakan apapun padamu."
"A.. Apa?! Jangan bercanda!"
"Siapa yang bercanda? Aku memang tidak tahu apa yang kau maksud."
Apa-apaan dia...
"Ta.. Tapi kau yang mengatakan untuk percaya padamu, kan?"
"Percaya untuk apa? Dan apa yang kukatakan semalam?"
"Ciel... Kau gila..."
"Apa-apaan kau mengatakan aku gila? Justru kau yang gila. Kau memaksaku mengingat sesuatu yang padahal aku sendiri tidak pernah melakukannya."
"A... Sudahlah!"
Cih! Jadi benar dugaanku! Semalam dia hanya mengigau! Padahal dia bilang sendiri kalau dia tidak mengigau! Ah! Lupakan! Tak ada gunanya memperdebatkan topik bodoh ini! Lagipu-
"Kyaaa...!"
Aku benar-benar terkejut ketika Ciel mengeremkan mobil secara mendadak. Untung saja aku mengenakan sabuk pengaman. Kalau tidak, dahiku sudah memar karena benturan. Tapi apa sih yang dipikirkannya sampai-sampai melakukan hal ini? Jangan-jangan dia baru ingat dengan kejadian semalam dan berniat untuk meminta maaf atas pengelakannya.
Setelah mengendalikan rasa kagetku, aku menoleh kearah Ciel. Baru saja ingin mengeluarkan beberapa kata pedas, lelaki itu langsung membuka pintu mobil dan keluar.
"Hey...! Ciel!"
Dia tak menggubrisku. Sosok itu semakin menjauhi mobil. Tapi aku dapat melihat kemana ia ingin menuju. Mataku menangkap sebuah gambaran yang membuatku tersentak. Tak jauh dari sini, tepatnya di seberang jalan di sebuah gang kecil, aku melihat seseorang, tidak, maksudku... Dengan empat orang yang mendesaknya.
Itu membuatku tersentak memang, tapi yang membuatku makin tersentak, aku melihat Ciel yang kini tengah memukul salah satu dari empat orang itu. Tiga orang lainnya mengatakan sesuatu yang tidak dapat kudengar tapi aku dapat melihatnya. Sepertinya mereka tidak senang dengan Ciel yang ikut campur.
Ketiganya bersiap-siap untuk menghabisi Ciel. Tapi lelaki itu segera menarik tangan orang yang tadi tengah terdesak. Dia membawa orang itu ke sini. Sampai akhirnya, menyuruh orang itu masuk ke mobil dan duduk di kursi belakang. Sementara Ciel langsung beranjak untuk segera memacu mobil ini secepat mungkin agar orang-orang yang kini mengejar mereka tidak dapat menangkap orang itu ataupun menangkap Ciel.
Ciel menutup pintu mobil dan berhasil meloloskan kami dari kejaran empat orang tersebut.
Aku menatap seseorang yang sekarang berada di kursi belakang. Dia adalah seorang gadis berambut pirang. Nafasnya terengah. Lalu aku mengalihkan pandanganku kepada Ciel. Nafasnya juga terengah. Jika aku boleh membuat kesimpulan, mungkin Ciel ingin menyelamatkan gadis ini dari empat pria yang ingin berbuat macam-macam padanya.
Dan... Hey... Tunggu sebentar. Aku melewatkan sesuatu. Gadis itu memakai seragam yang sama sepertiku? Apakah dia satu sekolah dengan kami? Mungkin saja.
Aku merogoh sapu tangan dari dalam tasku dan menyerahkannya kepada si gadis. "Kau baik-baik saja?"
Gadis pirang itu sedikit ragu tapi pada akhirnya menerima sapu tangan yang kuberikan. Dia menggunakannya untuk menghilangkan peluh didahinya. Nafasnya masih terengah. Namun ia berusaha untuk menenangkan dirinya.
"A.. Aku baik-baik saja. Terima kasih banyak.", ucapnya kemudian.
"Maaf aku lancang, tapi kenapa kau bisa didesak seperti itu?"
"Aku... Aku hanya ingin pergi ke sekolah. Tiba-tiba saja mereka datang dan menyeretku ke sana."
"Begitu?" Aku mengangguk mengerti. "Kami bisa mengantarmu pulang."
"Tidak perlu. Aku ingin ke sekolah."
"Nah... Sepertinya kita satu arah. Kita bisa ke sekolah bersama."
"A.. Apa aku tidak merepotkan kalian?"
"Tidak, tidak. Kau tenang saja."
Gadis itu menunduk. "Aku... Ingin berterima kasih. Mungkin aku tidak akan selamat jika kalian tidak ada di sana. Aku benar-benar berterima kasih. Terima kasih banyak."
"Yah..." Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. "Sebenarnya yang menolongmu itu Ciel. Aku hanya melihat dari kejauhan. Lagipula Ciel yang melihatmu di dalam gang itu."
"Ah! Ka.. Kalau begitu, terima kasih banyak. Terima kasih banyak."
"Sudahlah. Yang penting kau selamat sekarang.", ujar Ciel menanggapi.
-oOo-
Aku menaruh tasku diatas meja. Sebenarnya aku sudah ingin melupakan ini. Tapi ketika sampai di kelas, aku teringat gadis itu. Setelah kami berbincang-bincang di tengah perjalanan, aku jadi tahu kalau dia adalah siswi kelas 3-B. Ya, senior kami. Dan namanya adalah Elizabeth Ethel Cordelia Midford. Entah kenapa aku bisa mengingat namanya yang panjang. Tapi nama panggilannya sangat singkat. Lizzie.
Mataku menatap Ciel lekat-lekat. Baiklah kuakui, aku sangat heran dengan tindakannya yang langsung menolong Lizzie tanpa harus disuruh. OK, OK, aku tidak bodoh. Aku tahu dengan pasti bahwa Lizzie saat itu pasti membutuhkan pertolongan dan Ciel pasti akan menolongnya, kan? Tapi... Orang dingin sepertinya? Yang bahkan enggan menolong temannya sendiri?
Setelah kupikir baik-baik, Lizzie memang sangat cantik. Apalagi dengan mata bagai emerald yang dimilikinya. Ditambah rambut ikat pirang yang indah. Mungkinkah Ciel menyukai Lizzie?! Ah... Tidak, tidak mungkin. Lelaki manapun pasti akan menolong perempuan yang kesusahan, kan?
"Hoi... Ciel, ada seseorang yang mencarimu.", ujar Soma yang entah sejak kapan berada di hadapan Ciel. "Dia cantik, lho... Haha... Tidak kusangka kau dicari perempuan secantik dia."
Apa? Perempuan? Jangan-jangan Lizzie?!
Ciel beranjak dari tempat duduknya. Nampaknya Ciel ingin menemui Lizzie. Jadi dengan mengendap-endap aku mengikutinya. Ciel keluar dari kelas. Tak lama setelah itu terdengar suaranya. Aku berhenti mengikuti Ciel dan memutuskan untuk bersembunyi di balik dinding di dalam kelas untuk menguping pembicaraan mereka yang berada di luar kelas.
"Aku ingin berterima kasih lagi." Suara seorang perempuan.
Benar! Ini suara Lizzie!
"Sudah kubilang, berhentilah berterima kasih."
Ugh... Dinginnya...
"Tapi kau telah menolongku. Apalagi ini menyangkut masa depanku. Aku benar-benar berterima kasih."
"Aku tidak ada waktu untuk mendengarkan perkatakanmu yang diulang-ulang itu."
"Tu.. Tunggu! Aku... Ke sini bukan hanya untuk berterima kasih saja."
"Lalu?"
"Aku ingin memberimu ini."
"Apa itu?"
"Ini gelang keberuntunganku."
"Gelang keberuntungan?"
"Ya."
"Gelang keberuntungan, ya? Setelah kejadian tadi kau masih menyebutnya gelang keberuntungan?"
"Tentu saja."
"Jadi dimana letak keberuntungan gelang itu?"
"Kau."
"Aku?"
"Yap. Kau datang dan menolongku. Itu sebuah keberuntungan. Dan lagi... Aku rasa aku dapat merasakan pertama kalinya menyukai seseorang."
Apa?!
"Kalau begitu kau simpan saja gelang keberuntunganmu. Siapa tahu kau dapat merasakan menyukai seseorang untuk yang kedua kalinya."
"Aku tidak mau. Aku ingin terus menyukaimu."
"Kenapa harus aku?"
"Karena kau pahlawanku. Aku jadi menyukaimu pada pandangan pertama. Karena itulah, kuharap kau menerima gelang keberuntunganku ini."
"Tidak. Kau simpan saja."
"Sudahlah, terima saja."
"Tapi-"
"Nah... Aku pergi dulu ya, bye..."
Pembicaraan mereka selesai dan aku harus segera bergegas sebelum Ciel menemukanku. Aku tidak mau dia tahu kalau akau menguping pembicaraan mereka secara diam-diam. Setelah duduk dikursiku, aku berpura-pura membaca buku.
Ini gila... Seseorang baru saja mengatakan perasaannya kepada lelaki yang sudah memiliki pasangan. Baiklah, dia memang tidak mengetahui hubunganku dengan Ciel tapi... What the hell is this?!
-oOo-
Selama perjalanan pulang dari sekolah hingga makan malam sekarang ini, aku tidak membuka pembicaraan sama sekali. Ciel yang selalu membuka pembicaraan, sementara aku hanya menanggapinya. Itu juga dengan jawaban yang sangat amat singkat. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku bersikap demikian. Apakah aku tidak terima atas pengakuan Lizzie terhadap Ciel? Mungkin.
"Aku lihat kau sama sekali tidak memperhatikan penjelasan yang diberikan Mr. Spears. Aku tidak yakin kau dapat menyelesaikan homework-mu dengan mudah. Pelajaran yang diberikan Mr. Spears cukup rumit, kau tahu?"
"Biar saja." Tanganku memainkan makan malamku dengan sendok. "Besok aku tidak sekolah."
"Kenapa? Kau sakit? Tapi sepertinya kau baik-baik saja."
"Aku tidak sakit."
"Bukan tabiatmu yang membolos sekolah tanpa alasan. Apa alasanmu?"
"Tidak ada."
"Aku tahu kau berbohong."
"Tidak."
"Kau bisa menceritakannya padaku. Tapi hanya kali ini saja."
"Tidak." Aku beranjak dari kursi. "Aku mau tidur."
"Hey... Leavanny, habiskan makan malammu."
"Tidak mau.", ujarku rendah tanpa menghentikan langkahku.
Kenapa denganku? Kenapa aku merasa begitu kesal? Aku bahkan sangat enggan untuk menimpali ucapan Ciel. Melihat wajahnya saja aku enggan. Sudah kuduga, aku memang tidak suka pada ucapan Lizzie terhadap Ciel. Aku tidak bisa menutupi bahwa aku... Cemburu.
Aku bukan Ciel. Aku tidak sepertinya yang dapat dengan mudah membentak seseorang agar tidak ada yang mengganggu hubungan kami. Aku tidak sepertinya yang dapat menyingkirkan Alois agar tidak mendekatiku. Aku seorang perempuan yang pada dasarnya tidak mau menyakiti perasaan orang lain yang sedang jatuh cinta. Aku tidak mungkin membentak Lizzie agar menjauh dari Ciel. Itu mustahil!
Jika Lizzie ingin berterima kasih kepada Ciel, ya sudah. Jika Lizzie menganggap Ciel adalah pahlawannya, ya sudah. Jika Lizzie menyukai Ciel, ya sudah. Jika Lizzie mengatakan perasaan pada Ciel, ya sudah. Jika suatu saat aku dan Ciel berpisah hanya karena Lizzie, ya sudah, kurasa aku akan baik-baik saja. Tapi... Benarkah?
Setelah memasuki kamarku, aku langsung menutup pintu kamar dan menguncinya. Kusandarkan tubuhku pada pintu yang baru saja kututup tadi. Perlahan tubuhku ambruk. Kupeluk kedua lututku erat-erat. Aku tidak tahu kenapa mataku terasa panas dan... Aku menangis.
"Di saat aku mulai menyukainya, kenapa ada yang mengganggu kami?" Kubenamkan wajahku. "Bodohnya, aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk mempertahankannya. Apa semua ini akan berakhir begitu saja?"
Well, wanna review?
