Haii… Para readers! Kabar baik, kan? Semoga semuanya dalam keadaan sehat wal'afiat. Amin…

Rosellia Anderson : Nah… Jika Anda penasaran, silakan simak chapter 6-nya ^^

Ai Fuyuki : Terima kasih sudah mau meluangkan waktu demi mengikuti fic abal saya ^^

Niechan Seicchi : Hai, hai, wakarimasu. Arigatou gozaimasu ^^ selamat membaca…

Mell Hinaga Kuran : Anoo… Mell-san, konflik di chapter sebelumnya cuma untuk memancing si 'dia' agar segera muncul. Jadi maafkan saya karena tidak bisa memenuhi permintaan Anda. Semoga Mell-san tidak kecewa dan tetap mengikuti fic ini ^^

OK, tanpa banyak ba-bi-bu lagi, happy reading…


"Leavanny! Hey! Bangun! Ini sudah pagi! Kita akan terlambat sekolah!"

Ehmm...

Mataku terasa berat. Aku masih mengantuk...

"BANGUN, PEMALAS!"

Ugh...

Pada akhirnya mataku terbuka sepenuhnya, walau, yah... Tetap saja masih terasa berat. Kugunakan kedua tanganku untuk mengusap-usap mataku agar sedikit menghilangkan rasa berat ini.

Aku menoleh kearah jendela. "Sudah pagi, ya?"

"Ya. Dan kita hampir terlambat! Cepat bergegas!"

"Iy-"

Ekh! Tu.. Tunggu! Bukankah aku mengunci pintu kamarku tadi malam?! Seharusnya tidak ada seorang pun yang dapat masuk ke sini, termasuk Ciel! Tapi bagaimana bisa dia tiba-tiba berada di dalam kamarku?! Apakah dia mendobrak pintunya?! Seketika itu juga, aku melihat kearah pintu, namun pintu itu tetap utuh, tertutup rapat. Lalu bagaimana dia bisa masuk?!

Aku menuding Ciel. "Bagaimana kau bisa masuk ke kamarku, hah?!"

"Lewat sana." Ciel menunjuk jendela kamarku yang terbuka lebar. "Karena pintu kamarmu dikunci dari dalam dan tidak dapat kubuka, aku mencari jalan lain untuk masuk. Lalu aku menemukan jendela kamarmu yang tidak tertutup."

"Benarkah? Aku tidak menutup jendela?"

"Daripada itu, lebih baik kau cepat! Kita hampir terlambat, kau tahu?!"

Aku teringat kembali permasalahan yang kualami belum lama ini.

Aku duduk tanpa ingin beranjak dari kasurku. "Aku sudah bilang kalau aku tidak mau sekolah."

"Jangan bercanda! Cepat bergegas atau aku berangkat duluan!"

"Terserah."

Ciel mengernyitkan dahinya. "Hey... Ada apa sebenarnya? Kau bersikap aneh sejak kemarin."

"Tidak ada apa-apa."

"Aku yakin ada yang mengganggu pikiranmu." Ciel duduk di tepian ranjang. "Aku akan menolongmu. Jadi, katakan saja."

"Tidak ada."

"Tapi kau tam-"

Aku tersenyum kecil. "Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Lebih baik kau segera berangkat atau kau akan berdiri di koridor."

"Tapi..."

"Ah ya, kalau mau keluar, lewat jendela saja. Aku malas membukakan pintu untukmu. Atau mungkin kau ingin membukanya sendiri?"

"Kau yakin tak apa?"

"Ya."

"Baiklah kalau kau sudah mengatakan itu."

Aku terkekeh pelan. "Jangan mempermalukan namaku saat aku tidak ada di sekolah, ya?"

"Hmph... Dasar." Ciel mendekatiku. Aku terkejut padanya yang ternyata hendak mencium keningku. "Aku berangkat. Berhati-hatilah selama aku tidak ada."

Dia pun pergi berlalu.

Mataku masih membulat lebar karena tindakannya tadi. Itu... Sangat mengejutkan. Aku tidak menyangka kalau Ciel akan melakukan hal itu. Sangat tidak Ciel sekali. Terlebih setelah dia mendengar pengakuan dari seorang gadis yang baru ia kenal. Dia... Apa dia lebih memilihku daripada gadis itu? Sebenarnya... Apa Ciel menyukaiku? Tapi kenapa terkadang dia menyebalkan?

Tanganku menyentuh kening yang baru ia cium. "Kau sangat membingungkan."

-oOo-

Lebih baik aku cepat-cepat membuat makan siang. Sebentar lagi jam pulang sekolah dan aku yakin Ciel akan kelaparan begitu sampai rumah. Aku tidak mau dia beranggapan bahwa aku adalah perempuan yang malas hanya karena hari ini tidak sekolah dan belum menyiapkan makan siang.

Tetapi, pandanganku teralihkan oleh sesuatu yang tergeletak di atas meja living room. Aku meraih benda tersebut. Kulihat baik-baik. Hmm... Aku tidak pernah melihat gelang berwarna biru ini. Atau... Akh! Jangan-jangan, ini 'gelang keberuntungan' yang diberikan Lizzie untuk Ciel! Tidak salah lagi! Ini pasti gelang itu!

Ya Tuhan... Aku tidak menyangka kalau Ciel menerima dan menyimpan gelang ini. Apakah dia bermaksud memakainya suatu saat? Apa dia akan menyimpannya karena ini pemberian Lizzie? Apa sebenarnya ia berusaha membuat semuanya baik-baik saja? Mungkin saja dia itu sebenarnya menyukai Lizzie dan berusaha menutupinya, kan? Dia ingin meyakinkanku kalau aku tidak perlu khawatir dia akan jatuh ke tangan Lizzie. Mungkin karena itulah tadi pagi ia mencium keningku?

Sudah kuduga...

Kutaruh kembali gelang itu ke tempatnya semula. Kemudian aku bergegas ke dapur untuk menyiapkan makan siang. Aku akan memasak makanan kesukaannya, sunday roast.

-oOo-

"I'm home."

Aku melemparkan senyumanku kepada lelaki yang baru saja membuka pintu utama. Dia masuk kemudian menutup pintu itu kembali. Dia berjalan dan menjatuhkan dirinya di atas sofa. Tangannya membuka tas miliknya. Sepertinya berusaha mencari sesuatu di dalam sana. Aku tak mengatakan apapun selama ia mencari sesuatu di dalam tas, sampai akhirnya ia mengeluarkan sesuatu.

Dia menyodorkan benda yang ia ambil dari dalam tasnya. "Untukmu."

"Untukku?" Aku menerimanya. "Ini bukan bulan Februari. Valentine's Day masih jauh."

"Ambil saja."

"Dalam rangka apa kau memberiku cokelat?"

"Memang harus ada alasan?"

"Tidak juga, sih..."

"Ya sudah kalau begitu."

Aku menatap lembut kepada cokelat yang ia berikan. "Kuharap cokelat ini bukan pemberian Lizzie."

"Ekh! A.. Apa?"

"Kuharap cokelat ini bukan pemberian Lizzie."

"Te.. Tentu saja bukan."

Sayang sekali, dia berbohong. Aku tahu kalau cokelat ini adalah pemberian dari gadis pirang itu. Raut wajahnya mudah sekali ditebak. Dia juga terkejut tadi. Jadi... Untuk apa Ciel berbohong? Jika dia memang ingin berpisah dariku dan memilih Lizzie, itu tak apa. Aku bisa mengalah. Toh memang pada awalnya aku menolak pernikahan ini, kan?

Aku tersenyum dan sebisa mungkin tidak terlihat dipaksakan. "Terima kasih, Ciel."

"Err... Ya, sama-sama."

"Kau lapar? Aku sudah membuatkan sunday roast untukmu."

"Kalau begitu ayo kita makan."

Ciel, sebelum kau membuatku makin hancur, berhentilah berpura-pura baik dan pergilah bersama Lizzie.

-oOo-

Sudah seminggu setelah Ciel menolong Lizzie. Dan gadis itu makin menjadi-jadi. Dia selalu memberikan sesuatu kepada Ciel. Baik itu makanan, surat cinta, syal, sweater, atau hal lainnya. Dan entah bagaimana aku bisa mengetahui itu semua. Padahal aku sudah tidak mau mengurusinya lagi. Tapi aku dapat mengetahui bagaimana perkembangan hubungan mereka, apapun caranya.

Dengan membawa buku pelajaran, aku berjalan menuju halaman belakang sekolah. Aku berniat belajar di sana. Daripada di kelas yang bising, lebih baik di halaman belakang yang sepi dan tenang. Bisa dibilang aku adalah tipe orang yang tidak bisa belajar di tempat yang berisik.

Kuharap tak ada yang menempati kursi di halaman belakang. Apalagi Alois. Aku benar-benar tak mengharapkannya.

Ketika berbelok, yang kuperhatikan hanyalah rerumputan di bawahku. Aku terus berjalan. Sampai akhirnya aku menenggakan kepalaku. Aku melihat. Aku melihatnya. Sesuatu yang kutakutkan kini dengan jelas terpampang di hadapanku.

Aku sangat terkejut. Mataku terbelalak lebar. Bahkan kakiku seperti kehilangan kekuatannya. Aku seperti lumpuh saat ini juga. Ini... Tidak mungkin...

Di hadapanku saat ini, tepat di kursi taman yang tak jauh dari tempatku berada, aku melihatnya. Aku dapat melihatnya dengan jelas. Sangat jelas. Di sana, Ciel dan Lizzie... Mereka... Kissing? Aku yakin aku tidak salah lihat. Aku juga yakin kalau aku tidak sedang tertidur. Jadi yang kulihat ini... Nyata? Ya, nyata.

Aku benar-benar tidak menyangka hal ini akan terjadi. Sungguh! Aku benar-benar tak menyangka! Mereka bahkan tak menyadari keberadaanku. Salah satu dari mereka tak ada yang bergeming. Apa mereka sangat sibuk sampai tak menghiraukanku? Apa mereka sangat menikmati moment itu sampai mengacuhkanku? Apa Ciel sangat mencintai Lizzie sampai tidak mau menoleh kearahku?

Hey... Kalian, aku ada di sini. Aku melihat apa yang kalian lakukan...

Aku menutup mulutku rapat-rapat dan mulai berlari meninggalkan mereka. Air mataku tak dapat kubendung lebih lama lagi. Mereka mengalir secara serempak membasahi wajahku. Yang dapat kulakukan hanyalah berlari seraya menghapus air mataku dengan kasar. Ya. Memang hanya itulah yang dapat kulakukan. Aku tidak bisa berteriak apalagi memaki mereka habis-habisan. Aku tidak bisa...

Jika seandainya Ciel melihatku tadi, apa dia akan berusaha mengejarku? Apa dia akan berusaha menjelaskan semuanya dan membuatku tenang? Apa dia akan melakukan hal yang ada dipikiranku? Sepertinya tidak. Sekarang aku tahu. Semua yang dilakukan Ciel untukku, tak lebih dari sekedar perhatian semata. Dia hanya melakukan hal yang sewajarnya yang dilakukan kepada pasangannya. Sampai akhirnya ia menemukan perempuan yang lebih cantik dan meninggalkanku.

Seharusnya aku tahu. Seharusnya aku tahu itu! Semua itu hanya kebohongan! Dusta! Tipu muslihat! Kenapa aku malah masuk ke dalam perangkap permainan gila ini? Rencana gila papa dan mama serta sahabat mereka! Tidakkah mereka tahu bahwa yang mereka lakukan hanya akan menghancurkanku?

"Ya Tuhan! Leavanny! Ada apa denganmu?! Kenapa menangis seperti itu?!"

Aku menoleh lalu berlari kearah suara berasal. Aku memeluk orang yang baru saja menegurku. Aku memeluknya seraya menangis sejadi-jadinya. Aku tidak peduli pada keadaan koridor yang ramai oleh siswa-siswi lain. Aku tidak peduli!

"Mey Rin... Aku... Aku benci... Sekali..." Suaraku tersedat oleh tangisan.

Mey Rin berusaha menenangkanku. "Benci apa? Benci kepada siapa? Katakan saja!"

"Dia... Aku benci sekali... Padanya..."

"Siapa? Katakan saja! Biar aku habisi dia!"

Aku hanya menggeleng pelan. "Tidak..."

"Baiklah, baiklah, bagaimana jika aku mengantarmu pulang? Ya?"

Aku mengangguk.

-oOo-

Aku hanya menatap heran kepada Mey Rin dengan mata sembabku. Aku heran sekali. Dia bilang ingin mengantarkanku pulang, kan? Tapi kenapa dia malah membawaku ke tempat yang asing. Dan... Rumah siapa yang Mey Rin masuki? Rumahnya kah? Jujur, aku belum pernah berkunjung ke kediaman temanku yang satu ini.

Sesampainya di dalam Mey Rin menatapku yang mengekor di belakangnya. Raut wajahnya tampak sedih. Ada apa sebenarnya? Apakah dia memiliki masalah juga?

"Leavanny...", panggil Mey Rin pelan.

"Ya?"

"Maafkan aku."

"Maaf untuk apa?"

"Aku telah membohongimu."

"Eh? Bohong?"

Mey Rin menatap sekeliling. "Ini adalah rumah peninggalan orang tuaku. Aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi, kecuali seorang kakak. Dan aku sangat menyayanginya."

"Ah... Maaf, aku tidak bermaksud unt-"

"Tak apa." Mey Rin menatapku lekat-lekat. "Aku sangat ingin melakukan apa saja agar kakakku bahagia."

"Mungkin aku bisa membantu?"

"Sebenarnya... Memang hanya kaulah yang bisa membantu."

"Benarkah? Katakan. Apa itu?"

"Ayo ikut aku."

Mey Rin mulai beranjak kembali. Aku pun mengikutinya. Padahal dia yang tadinya ingin membantuku. Tapi setelah sampai di sini, malah aku yang membantunya. Tapi tak apa. Aku ikhlas. Selama aku berguna untuk membantu teman, kenapa tidak? Toh Mey Rin sudah sangat baik padaku selama aku bersamanya.

Gadis berambut maroon itu berdiri di hadapan sebuah pintu. Dia menghela nafas panjang sebelum akhirnya membuka pintu itu. Dia memasuki ruangan tersebut lebih dulu kemudian menyuruhku mendekatinya. Aku menurut. Tapi aku sedikit takut dengan apa yang ada di dalam ruangan ini. Entah kenapa firasatku buruk.

Mey Rin mendekati sebuah kursi yang membelakangi kami. "Kakak, aku sudah membawanya."

Eh? Membawanya? Aku maksudnya?

Sedikit demi sedikit aku melihat seseorang yang mulai berdiri dari kursi tersebut. Aku hanya dapat melihat tubuh bagian belakangnya. Sepertinya dia seorang pria dewasa yang memiliki tubuh tinggi. Awalnya kukira aku tidak pernah melihat pria itu. Tetapi seiring dia menolehkan wajahnya, rasa takut mulai menjalar keseluruh tubuhku. Ini...!

Aku melangkah mundur, berusaha keluar dari ruangan ini. Tapi pria itu lebih dulu berjalan dan menghampiriku. Kini aku dapat melihat wajahnya. Sial! Dia memiliki wajah yang sangat mirip dengan seseorang yang sudah membunuh Loopy, anjing kesayanganku! Benarkah pria ini adalah 'dia'?! Celaka! Bahkan wajahnya tidak berubah sama sekali!

"Maaf telah membohongimu, Leavanny." Suara Mey Rin terdengar. "Tapi sejak dulu aku mengincarmu dan berniat membawamu ke rumah ini."

Ja.. Jadi ini yang ia maksud dengan bohong? Tapi kenapa?

Kakiku gemetar hebat sampai-sampai tubuhku ambruk begitu saja. Kalau begini, aku benar-benar terpojok! Aku tidak bisa berdiri apalagi melarikan diri! Semuanya sudah berakhir. Aku tidak dapat melakukan apapun selain berdo'a keselamatan dari Tuhan.

Pria itu berjongkok. "Aku sudah dengar banyak tentangmu dari adikku." Dia tersenyum sinis. "Setelah tujuh tahun berlalu, akhirnya aku bisa mendapatkanmu."

"Pergi! Pergi! Jangan dekati aku!" Aku berteriak.

"Kau tumbuh menjadi gadis yang cantik. Padahal dulu kau masih anak kecil."

"Pergi kubilang!"

"Kenapa? Kau masih trauma pada kejadian itu?" Dia membelai kepalaku. "Tenang saja, aku tidak sekejam yang kau kira."

Aku menepis tangannya dengan cepat. "Jangan sentuh aku! Pergi sana!"

"Wah.. Wah... Susah juga ya ternyata." Pria itu menoleh ke belakang. "Mey Rin, bisa tolong jelaskan padanya?"

Gadis itu kini mendekatiku. Dia tersenyum. "Jangan takut, Leavanny. Kakakku orang yang baik, kok..."

Aku menggeleng cepat. "Tidak! Tidak!"

"Leavanny, kau temanku, jadi mana mungkin aku melakukan hal yang jahat padamu." Senyum Mey Rin merekah lebar. "Sebenarnya kakakku ini ingin menjadikanmu istrinya. Kau mau, kan?"

Eh...?

Mataku membulat lebar. "A.. Apa?"

"Agar lebih jelas, bagaimana jika kita membicarakannya di ruang tamu." Mey Rin berjalan menjauhiku. "Aku akan membuatkan teh. Kakakku akan menemanimu di ruang tamu."

"Apa?! Hey! Mey Rin! Tung-"

Pria bersurai hitam itu menarik tanganku. "Kau dengar ucapan adikku? Ayo kita pergi."

"Hey...! Lepaskan aku!" Aku memberontak.

Sialnya, orang itu sama sekali tak menggubris rengekanku yang meminta untuk dilepaskan. Dia tetap mengenggam pergelangan tanganku sambil terus berjalan menuju ruang tamu. Padahal aku sudah ketakutan setengah mati! Aku benar-benar takut pada sosok di hadapanku! Bayang-bayang tujuh tahun yang lalu itu masih terus bermunculan dipikiranku!

Sampai akhirnya kami sampai di ruang tamu. Pria itu menyuruhku duduk di salah satu sofa. Kalau saja aku berani melarikan diri, aku pasti sudah melakukannya. Sayang, kakiku terlalu gemetar untuk berlari. Jadi aku hanya mematuhi perintah orang itu. Mencari aman.

Aku memilih sofa yang berseberangan dengan sofa yang ia duduki. Aku hanya ingin menjaga jarak.

"Namamu... Leavanny, kan?", ujar pria itu memecahkan keheningan.

Aku sedikit ragu untuk menjawabnya. "I.. Iya..."

"Kau dan dia memiliki wajah yang mirip. Walaupun saat itu kau masih seorang bocah dan dia gadis remaja berusia 17 tahun."

"A.. Aku tidak mengerti."

"Baiklah. Akan kuceritakan sedikit." Dia menerawang ke langit-langit. "Entah beberapa tahun yang lalu, aku mencintai seseorang. Lalu kami menjadi sepasang kekasih. Namun dia mengkhianatiku. Dia pergi bersama pria lain."

"La.. Lalu apa hubungannya denganku?"

"Seminggu setelah itu, aku melihatmu di suatu tempat. Kau hanya seorang bocah kecil tapi memiliki kemiripan dengannya. Aku yang menyimpan dendam akhirnya memutuskan untuk membunuh siapa saja yang memiliki kemiripan dengannya."

Aku tersentak. "Apa?! Jadi hanya karena itu kau ingin membunuhku?!"

"Ya. Dan… Ah… Percobaan pembunuhan itu gagal dan kau masih hidup sampai sekarang." Orang itu menatapku. "Setelah kupikir-pikir... Daripada membunuhmu, bagaimana jika aku menikahimu? Dan... Itu ide yang bagus."

Apa dia gila?

"Tidak! Aku menolak!", sergahku cepat. "Kenapa tidak cari perempuan lain saja?!"

"Aku masih belum bisa melupakan gadis itu. Hanya kaulah yang mirip dengannya."

"Masa bodoh! Itu bukan urusanku!"

Pria itu berdiri lalu mencondongkan tubuhnya kearahku. "Mau tidak mau, kau harus menyetujuinya. Itu keputusanku."

DEG!

Ba.. Bagaimana ini? Dia mengancamku! Jika dia berbuat yang tidak-tidak padaku atau kedua orang tuaku, maka tamatlah sudah! Apa yang harus kulakukan sekarang? Apa aku harus menceritakan yang sebenarnya bahwa aku sudah menikah? Ah! Mana mungkin dia akan percaya! Lagipula rahasia ini mungkin akan sampai ke telinga sekolah!

Tapi... Setelah apa yang terjadi di halaman belakang sekolah, apa aku masih harus mempertahankan hubunganku dengan Ciel? Mungkin saja dia akan meninggalkanku dan menjadikan Lizzie sebagai istrinya di masa depan. Jika itu sudah terjadi, bagaimana dengan nasibku? Haruskah aku mengemis meminta Ciel kembali? Itu tidak mungkin!

Walau bagaimana pun juga... Aku tidak mau terus-terusan menyukai seorang lelaki yang ternyata menyukai seseorang yang telah ditolongnya. Aku tidak mau terus-terusan menyukai Ciel jika yang dia cintai adalah gadis lain. Bukankah itu menyakitkan? Aku bahkan dapat merasakan jantungku berhenti berdetak ketika melihat apa yang meraka lakukan di halaman belakang sekolah.

"Tapi..." Aku membuka suara. "Aku menyukai orang lain."

"Siapa orang itu? Aku akan menyingkirkannya."

Aku berpikir sejenak. "Tidak perlu. Aku sudah berusaha untuk melupakannya."

"Itu bagus."

"Ya. Kau benar." Kedua telapak tanganku terkepal dengan kuat. "Ada baiknya jika aku melupakan orang itu dan mencari seseorang yang lebih baik."

Pria di hadapanku tersenyum puas. "Namaku Sebastian Michaelis. Aku akan melamarmu kapan pun kau siap."


OK, readers, review?