Minna-saannn… Gomennasai karena keterlambatan update! Saya gak ada maksud untuk bikin para readers kecewa. Sekali lagi maafkan saya, minna-san…

Ai Fuyuki : Wah… Anda jadi jengkel sama Lizzie? Saya bukan seorang provokator, lho ^^

Juvia Hanaka : Maaf karena saya update telat. Tapi… Selamat membaca ^^

Mell Hinaga Kuran : Anda milih Sebastian? Hmm… Bagaimana dengan Leavanny ya?

Sara San : Terima kasih sudah mengikuti fic ini sampai-sampai menghabiskan kuota Anda ^^ Happy reading.

Yosh, minna-san, tanpa ba-bi-bu lagi, enjoy ^^


"Leavanny!"

Seseorang telah membuka pintu rumah dengan sangat keras. Di ambang pintu terlihat seorang lelaki yang sebaya denganku. Nafasnya memburu. Aku hanya menatapnya dengan heran. Dia lalu berjalan mendekatiku dengan langkah yang berat. Dilemparnya tas ransel miliknya ke sembarang arah. Kini ia duduk di sofa yang sama denganku. Raut wajahnya terlihat kesal.

Kuulas senyum simpul. "Selamat datang."

"Apanya yang 'selamat datang', hah?!" Dia benar-benar marah. "Dari mana saja kau?! Paula mengatakan kalau kau menangis dan izin pulang ketika jam istirahat pertama! Kemudian aku meminta izin pulang dan mencarimu saat itu juga! Tapi kau tidak ada dimana pun! Aku juga sudah tiga kali memeriksa rumah ini dan kau tidak ada! Apa kau ingin memulai pertengkaran, hah?!"

Eh? Dia baru saja datang dan memarahiku dengan alasan aku tidak ada dimana pun. Untuk apa? Bukankah dia banyak menghabiskan waktunya bersama Lizzie? Untuk apa repot-repot mencariku? Itu kan hal yang tidak berguna. Lagipula... Aku yang ingin memulai pertengkaran? Hey... Sejak awal dialah yang sudah memulai pertengkaran. Tidakah ia menyadarinya?

Aku menudingnya. "Kaulah yang pertama memulainya, Ciel. Aku tidak pernah memulai pertengkaran apapun. Seandainya kau tidak banyak meluangkan waktumu hanya untuk bertemu dengan Lizzie, semua ini tidak akan terjadi."

"Apa? Lizzie katamu?"

"Awalnya kupikir kalian hanya akan berteman. Namun aku salah. Kalian mengkhianatiku. Lebih tepatnya kau mengkhianatiku!" Amarahku memuncak seketika. "Asal kau tahu saja, aku melihat apa yang kalian lakukan di halaman belakang sekolah! Kalian berciuman dan aku melihatnya dengan jelas! Apa kau tahu? Aku benar-benar kecewa padamu."

Ciel terbelalak. "Kau... Melihatnya?"

"Tentu saja! Dan kalian sama sekali tidak menggubris keberadaanku. Apa kalian begitu menikmatinya? Apa maksudmu melakukan itu? Kau hanya ingin membuatku menangis? Kau hanya ingin membuatku menderita? Silakan. Lakukan sesukamu. Sekarang kau bebas menyentuh perempuan itu. Aku tidak akan pernah melarangmu. Aku tidak peduli dengan apa yang kalian lakukan."

"Baik." Dia mendecih kesal. "Kau tidak perlu melarangku. Sekali pun jika aku menyentuh Lizzie. Kau tidak keberatan, kan?"

"Ya. Aku tidak keberatan. Karena itulah, lebih baik kita akhiri semua ini. Aku muak. Aku sangat muak padamu."

"OK."

Aku beranjak dari sofa. "Setelah lulus sekolah, aku akan segera menikah dengan seseorang. Kuharap kau tidak menggangguku lagi. Selamat tinggal."

Perlahan aku meninggalkan rumah ini.

Sebenarnya aku tidak mau mengatakan selamat tinggal. Sebenarnya aku tidak ingin berpisah dengan Ciel. Aku ingin terus bersamanya. Aku mencintainya. Tapi kenapa dia sangat menyebalkan? Dia sudah tahu kalau aku melihat dia berciuman. Namun kenapa dia tidak menyergahnya? Kumohon... Aku hanya ingin kau menghentikanku dan memintaku untuk tidak menikah dengan pria lain.

Kumohon, Ciel, hentikan aku jika kau masih peduli padaku! Karena aku tidak ingin berpisah darimu! Kumohon!

"Selamat tinggal, Leavanny." Ciel mengulas senyum tipis diwajahnya. "Aku tidak akan menghentikan keputusanmu."

Eh?

Kuhentikan langkah kakiku. Awalnya aku hanya terdiam sambil mencerna ucapan yang baru saja dilontarkan Ciel. Namun pada akhirnya aku membalikan tubuhku. Sekarang aku dapat melihatnya. Dia tengah menatapku dengan nanar. Aku juga menatap matanya. Pandangan kami saling bertautan.

Kenapa, Ciel? Kenapa kau tidak bermaksud untuk menghentikanku? Apa kau memang mencintai Lizzie? Apa kau memang sudah sejak awal ingin berpisah denganku dan pergi bersama Lizzie? Jadi... Setelah yang kau lakukan padaku, semuanya akan berakhir sia-sia? Kau hanya memanfaatkanku untuk mengisi waktu luangmu hingga akhirnya kau menemukan perempuan yang lebih pantas?

Kau kejam, Ciel...

Mataku terasa panas dan sembab. "Hanya itukah yang ingin kau katakan?"

"Ya."

"Baiklah jika hanya itu." Kuhapus air mata yang menggenang dipelupuk mataku sebelum mereka mengalir keluar. "Selamat tinggal."

-oOo-

"Apa?! Kau akan pindah ke California?!"

"Tapi kenapa?! Ada masalah apa?!"

"Jangan pergi, Leavanny!"

"Kelas ini akan sepi jika tidak ada kau!"

Mey Rin, Paula, dan teman-teman yang lain tampak terkejut dengan ucapan yang baru kuucapkan beberapa detik yang lalu.

Aku hanya tersenyum menanggapi respon yang mereka berikan. Yah... Aku memang mengatakan bahwa aku akan pindah dan melanjutkan sekolahku di California. Entah kenapa aku sangat ingin pergi ke luar negeri. Mungkin... Aku tidak bisa terus-menerus tinggal di Britania ini karena masalah kemarin. Karena itulah, aku memilih untuk pindah ke luar negeri. California, negara bagian di Amerika Serikat.

Sejenak kulirikan mataku kesuatu arah. Dia sana ada seorang lelaki yang tengah duduk seraya membaca buku. Dia tampak tenang, tak terusik oleh keributan yang teman-teman buat. Padahal aku yakin dia pasti mendengar pembicaraan kami, tetapi berusaha untuk tidak peduli. Ah... Atau mungkin dia memang sama sekali tidak peduli dengan niat kepergianku ke California.

Sudah kuduga, dia memang menyukai Lizzie, sejak saat itu. Dan juga sejak saat itulah dia telah mengabaikanku. Dia berbohong agar rahasianya itu tidak terbongkar. Namun mau bagaimana lagi, cepat atau lambat aku akan mengetahuinya. Aneh ya? Padahal Ciel sendiri yang bilang kalau dia tidak mau ada keretakan dalam hubungan kita. Lucu, kan?

Lalu... Sebenarnya untuk apa aku bersedih? Aku sudah berkali-kali memperingatkan diriku bahwa pada awalnya aku menolak pernikahan ini dan lebih memilih untuk berpisah dengannya. Dan... Lihat! Tuhan telah mengabulkannya! Harusnya aku senang dengan semua ini. Aku tidak akan terikat oleh hubungan pernikahan lagi.

Tapi... Kenapa? Setelah semua yang kuinginkan itu terkabul, kenapa kini malah membuatku terpuruk? Semua itu membawaku terlarut dalam tangisan. Bahkan aku tidak bisa melupakan Ciel. Aku tidak bisa melupakan semua yang telah kita lalui. Aku tidak bisa melupakan semuanya.

Sudahlah, memang beginilah kenyataan yang ada. Intinya, aku mencintai Ciel. Tetapi Ciel mencintai Lizzie. Dan Lizzie mencintai Ciel. Posisiku saat ini hanyalah jamur di antara mereka.

Aku... Menyedihkan, ya?

-oOo-

"Ya ampun, sayang, apa kau yakin akan ke California? Sendirian?"

Aku menutup koperku. "Ya, ma. Mungkin aku akan kembali ke sini 2 tahun kemudian."

"Tapi mama tidak akan membiarkanmu sendirian. Mama akan ikut bersamamu."

"Ah... Mama, itu berlebihan. Aku bukan anak kecil lagi, ma."

"Tapi..."

"Nah... Semua persiapan sudah selesai." Mataku menatap mama. "Mama boleh menemaniku ke airport."

Mama hanya mengangguk tanpa bersuara. Ah... Pasti mama sangat tidak rela dengan keberangkatanku, apalagi aku sendirian. Aku memang anak semata wayang mama dan papa. Wajar saja jika mereka akan merasa sangat keberatan dengan keputusanku ini.

"Kenapa Ciel tidak ikut denganmu?", celetuk mama dan itu sukses membuatku tersentak. "Seharusnya kalian pergi bersama, kan?"

Aku harus bilang apa ya? Sebenarnya aku tidak, ah lebih tepatnya, belum mengatakan apapun mengenai masalahku dengan Ciel kepada mama dan papa. Aku hanya tidak ingin mereka shock hanya karena niat kami yang ingin berpisah. Jadi... Sebisa mungkin aku merahasiakan masalah ini. Biarlah aku dan Ciel yang menyelesaikannya. Akan kupastikan masalah ini selesai sepulangnya aku dari California. Kuharap Ciel tak membocorkan rahasia ini sampai waktunya tiba.

Ah... Lagi-lagi aku dan Ciel main rahasia...

Aku tersenyum. "Ke California adalah keinginanku. Aku akan melanjutkan pendidikanku di sana. Aku ingin menjadi perempuan yang mandiri, ma. Jadi aku tidak mau melibatkan siapapun."

Senyum, senyum, dan senyum. Aku hanya bisa tersenyum menutupi semua ini.

Tangan kananku terus menggenggam ponselku. Sesekali aku mengecek apakah ada pesan masuk atau tidak. Dan ternyata tidak ada sama sekali. Kosong. Tidak ada pesan dari Ciel yang mengatakan semoga selamat sampai tujuan atau selamat tinggal. Dia tidak peduli dengan apa yang kulakukan. Tidak peduli padaku.

Sudahlah! Lebih baik aku fokus pada pendidikanku!

-oOo-

Aku terduduk di kursi yang berada di airport. Tidak hanya aku, tetapi ada mama dan papa. Kami menunggu penerbangan pesawatku yang akan take off entah berapa jam lagi. Hah... Harus menunggu. Ditambah kami tidak tahu harus terus menunggu hingga kapan.

Mataku memandang langit. Ah... Sekarang aku tahu kenapa penerbangan ditunda. Langit sedang tidak bersahabat. Warna hitam di langit menunjukan bahwa tidak aman jika mereka memaksakan penerbangan saat ini juga. Apalagi dengan hujan yang deras. Mungkin akan ada beberapa sambaran petir.

Lagi-lagi aku memerhatikan ponselku hanya untuk memastikan apakah ada pesan dari seseorang yang kutunggu sedari tadi. Kosong, tak ada apapun. Haha... Bodoh. Mana mungkin Ciel akan mengirimiku pesan. Daripada aku, dia lebih memilih untuk mengirim pesan ke gadis bernama Lizzie itu.

"Penerbangan ditunda. Bagaimana jika kau batalkan saja niatmu pergi ke California?"

Mataku menatap mama. "Tidak, ma."

"Mamamu benar, Leavanny. Batalkan saja dan kita pulang ke rumah." Papa menyela.

"Ayolah, aku hanya akan pergi sementara waktu. Toh nanti aku pasti akan kembali."

Mama dan papa saling pandang. Pada akhirnya mereka terdiam. Suasana di antara kami kembali hening. Hanya ada suara kebisingan dari orang-orang di sekitar kami.

Aku menangkap gambaran yang berada di hadapanku. Di sana terlihat sepasang muda-mudi yang tengah tertawa renyah. Terlihat sekali kalau mereka adalah sepasang kekasih. Melihat itu, aku hanya dapat menghela nafas panjang. Aku kesal. Iri pada mereka.

Seandainya saja aku...

Eh?

Aku terperangah melihat seseorang yang berdiri tak jauh dariku. Mulutku terbuka, namun tak ada suara yang keluar. Mataku membulat lebar. Tetapi segera kuusap-usap mataku, kalau-kalau itu hanyalah ilusiku. Dan... Tidak hilang! Kucoba untuk mencubit pipiku. Dan... Aw! Sakit! Jadi... Itu... Bukan ilusi? Itu sungguhan?!

Ya Tuhan! Katakan ini sungguhan!

"Leavanny?" Mama memanggil. "Itu... Ciel, kan?"

Sial! Dia benar-benar Ciel! Orang yang tengah berdiri di sana benar-benar Ciel! Ya Tuhan... Aku tidak percaya ini... Tapi... Ini nyata! Aku benar-benar tidak menyangka dia akan menemuiku! Apa dia ingin meminta maaf dan memintaku kemba- Tidak, itu tidak mungkin. Ciel pasti hanya ingin mengucapkan salam perpisahan dan yang pada akhirnya akan bahagia bersama Lizzie.

Ya, itu pasti.

Ah... Bodohnya aku yang mengharapkan happy ending...

"Ciel! Di sini!"

Ekh!

Aku menarik lengan papa yang melambai kepada lelaki navy blue itu. "Pa.. Papa! Hentikan!"

Papa... Apa yang ia lakukan? Apa dia sengaja memanggil Ciel? Padahal aku tidak mau bertemu dengannya. Aku takut jika aku akan menangis gara-gara melihatnya lebih dekat. Sudah cukup dengan semua yang ia lakukan. Aku tidak mau menyakiti diriku lebih jauh.

Merasa dipanggil, Ciel akhirnya menghampiri kami. Dia berjalan perlahan. Namun pasti, dia akan segera sampai di tempat kami berada. Dan benarlah. Tak sampai beberapa menit, dia telah sampai di hadapan kami.

Aku melihat wajahnya. Dia tak mengulas senyum. Wajahnya datar. Amat datar malah. Sorot matanya juga tajam. Dugaanku benar, kan, kalau dia ke sini bukan untuk meminta maaf, tetapi untuk mengucapkan salam perpisahan. Terlihat sekali dari raut wajahnya.

Ciel merogoh saku jacket-nya. Aku penasaran dengan apa yang akan ia keluarkan. Mungkin 'gelang keberuntungan' pemberian Lizzie. Mungkin dia ingin memamerkannya padaku. Mungkin dia ingin membuatku marah. Akhirnya, Ciel menarik sesuatu dari saku jacket berwarna hitam itu.

Eh? Tu.. Tunggu. I.. Itu... Bukan gelang! I.. Itu...

DOR! DOR!

"Arrgghhh...!"

A.. Ahh... Apa yang...

Aku yang takut, panik, dan kesakitan, langsung melihat pada kaki kananku. Hii... Aku... Melihat darah yang mengalir dari sana. Cukup banyak darah yang keluar karena dua buah peluru bersarang di dalam kakiku.

"Aku harap kau mati saat ini juga."

Seketika itu juga pandanganku langsung teralih ke sumber suara. Aku menatapnya dengan sangat tidak percaya. Aku... Tidak percaya dengan yang ia lakukan padaku. Dia... Dengan wajah datar, menembak kakiku menggunakan handgun? Dan... Ditambah ucapannya yang gila? Apa... Maksudnya?

Dia sudah gila!

Papa menarik kerah pakaian Ciel. "Apa... Yang kau lakukan pada putriku, hah?!"

"Hmph!" Ciel tersenyum sinis. "Memang aku sudah berbuat apa pada putrimu, hn?"

"Kurang ajar! Vincent harus tahu apa yang telah kau perbuat!"

"Sudah kubilang, memang apa yang telah kuperbuat?"

A.. Apa-apaan Ciel?

Ah... Sial... Pandanganku kabur. Aku terlalu banyak mengeluarkan darah...

Apa aku akan mati?

.

.

.

-oOo-

Aku terbaring di pembaringan di rumah sakit London. Gara-gara insiden seminggu lalu, aku harus mengistirahatkan tubuhku. Gara-gara insiden itu, aku tidak jadi pergi ke California. Dan gara-gara insiden itu pula, hubungan papa dan mama dengan Mr. Phantomhove dan Mrs. Phantomhive berubah total. Papa dan mama tampak sangat marah walaupun kedua sahabat mereka berkali-kali meminta maaf atas nama keluarga Phantomhive.

Aku tahu. Papa dan mama pasti sangat tidak terima dengan tindakan Ciel. Sebenarnya... Begitu juga denganku. Aku jadi berpikir lebih dalam. Pasti saking bencinya, Ciel ingin membunuhku. Ciel hanya ingin bahagia bersama Lizzie tanpa ada gangguanku. Maka dari itu dia ingin membunuhku.

Tapi... Ah... Aku tidak perlu memikirkan itu lagi. Toh kami sudah bercerai beberapa hari yang lalu. Lagipula aku sudah terlanjur benci padanya. Aku tidak menyangka Ciel akan melakukan itu. Dia gila! Dan kurasa penjara cocok untuk merenungkan tindakannya untuk sekarang ini. Ya. Ciel dipenjara. Karena kasus penembakan.

Setelah pelatuk handgun ditarik dan suara tembakan terdengar, semua pasang mata yang berada di airport menatap kami. Mereka terkejut saat mengetahui si pelaku penembakan. Ternyata hanya seorang bocah. Tapi siapa sangka.

Kemudian beberapa security berdatangan. Mereka mengamankan Ciel hingga akhirnya polisi datang dan membawanya untuk diproses lebih lanjut. Melalui persidangan dan tuntutan papa, Ciel akhirnya dipenjara untuk 12 tahun. Entah apakah itu sebuah hukuman yang pantas untuknya atau tidak.

"Leavanny, kau tidak tidur?"

Aku melihat ke ambang pintu. Senyumku merekah. "Tidak, ma. Aku tidak mengantuk."

"Ah... Ya, ada seseorang yang ingin menjengukmu.", ujar mama seraya duduk di kursi yang berada di dekat ranjangku.

"Siapa?"

"Siapa ya? Mama tidak tahu."

"Lalu dimana orangnya?"

"Membeli buah-buahan. Untukmu."

Hmm... Siapa yang ingin menjengukku? Selama aku di rumah sakit ini, yang pernah menjengukku hanyalah papa, mama, Mey Rin, Paula, dan teman-teman sekelas, kecuali Ciel. Yah... Dia memang tidak akan bisa menjengukku.

"Excuse me."

Seseorang membuka pelan pintu ruanganku.

"Ah... Dia datang.", ujar mama. "Masuklah."

Kupikir siapa yang akan memjengukku. Ternyata... Jauh dari pikiranku! Kalian tahu siapa? Dia adalah orang itu! Dia kakak Mey Rin, lebih tepatnya Sebastian Michaelis! Ya Tuhan... Untuk apa dia ke sini?! Apa dia akan membuat ulah?!

"Kau...!" Tanganku menudingnya. "Kenapa bisa ke sini?!"

Dia tersenyum. "Aku dengar dari Mey Rin, katanya kau dirawat di rumah sakit karena terkena tembakan. Jadi aku menjengukmu."

Mey Rin? Ah... Aku lupa kalau dia akan tahu bagaimana keadaanku dari Mey Rin ya?

"Oh... Kau kenal Mey Rin?" Mama menyela.

"Ya. Aku kakaknya."

"Padahal Mey Rin itu sering sekali berkunjung ke rumah kami, tetapi dia tak pernah cerita kalau dia memiliki seorang kakak laki-laki."

"Begitu ya? Maaf jika adikku itu merepotkan."

"Tidak, tidak. Justru aku sangat bersyukur Leavanny memiliki teman seperti Mey Rin. Gadis itu baik sekali."

Hah... Kenapa mama dan orang itu malah mengobrol akrab? Tidakkah mama tahu kalau orang yang diajaknya mengobrol itu adalah orang yang ingin membunuhku tujuh tahun silam? Bodohnya aku. Tentu saja mama tidak tahu. Karena pada saat itu, ruang kamarku gelap, jadi mama tidak akan melihat wajah orang yang telah membunuh anjingku. Bahkan papa juga tidak mengetahuinya. Wajar saja mama bisa mengobrol akrab dengan orang itu.

"Jadi..." Orang itu menatapku. "Bagaimana kondisimu?"

Aku berusaha menghilangkan kontak langsung dengannya. "Cu.. Cukup baik."

"Aku membawa buah-buahan. Kau ingin apel? Akan kukupaskan untukmu."

"Ti.. Tidak, terima kasih."

"Atau mungkin menghirup udara segar? Kita bisa berkeliling sebentar."

"Kakiku belum sembuh. Jadi tidak bisa berjalan."

"Bagaimana dengan kursi roda?"

U.. Uh... Kenapa orang ini jadi perhatian padaku? Aku tidak suka diperlakukan seperti itu. Apalagi di depan mama. Parahnya, mama hanya tersenyum mendengar percakapan kami. Aku takut jika suatu saat mama akan menyukai orang itu... Err... Sebagai menantunya kelak. Ah! Tidak! Tidak! Itu tidak boleh terjadi! Pokoknya tidak boleh! Apa jadinya jika aku... Menikah dengan orang itu...?

-oOo-

-Two years later-

Cih...! Aku tak menyangka akan seperti ini jadinya. Yang benar saja?! Sekarang aku berjalan memasuki sebuah gereja dengan tiga gadis kecil mengekor di belakangku. Kami, ehm... Aku harus mencapai altar agar dapat berdiri beriringan dengan seseorang. Uhh... Ingin sekali kuhilangkan senyuman diwajah maskulinnya itu.

Setiap kali melangkahkan kakiku, puluhan pasang mata selalu menatapku. Mereka berdiri dari tempat duduknya untuk menyambut kedatanganku. Mereka adalah para jemaat yang hadir untuk menyaksikan 'upacara' ini.

Lama berjalan, entah karena waktu yang berjalan lambat atau karena gaun yang menjumabai sampai ke bawah yang menyebabkan aku harus berjalan cukup lama, akhirnya aku sampai di tempat yang yang harus kutuju. Sejenak aku melirik seseorang yang kini berada di sebelahku. Dia memakai setelan jas.

"Ehem...", gumamnya seraya memergokiku yang tengah melihatnya.

Shit!

Aku hanya bisa mendengus kesal lalu memalingkan wajahku, menatap lurus kearah Pastor yang berdiri di hadapan kami.

Sang Pastor memulai, mengucapkan beberapa kalimat sebagai pembuka. Aku memerhatikan, walau tak terlalu fokus. Pikiranku masih dipenuhi oleh sebuah pemikiran. Bagaimana bisa, apa yang kutakutkan menjadi kenyataan? Mama bahkan papa menyukai orang itu dan memutuskan untuk menikahkan kami! Astaga...

~Narrator's side~

Di sebuah gereja, terlihat sekali bahwa di sana sedang dilaksanakan sebuah acara. Bukan acara sembarangan, melainkan upacara sakral. Sebagian dari kita pasti akan menyebutnya sebagai pernikahan. Semua orang tahu itu.

Sebagai mempelai wanita, Leavanny McTavish. Sebagai mempelai pria, Sebastian Michaelis. Sungguh pasangan yang ideal. Mungkin. Leavanny masih diusia belia, yaitu 19 tahun. Sedangkan calon suaminya, Sebastian, ia genap 26 tahun.

Mari kita lihat prosesi pernikahan mereka. Berlangsung dengan lancar dan khidmat. Beberapa saat lagi kedua mempelai akan segera mengucapkan janji setia. Namun... Siapa sangka, hingga pemberkatan itu tiba, semuanya akan baik-baik saja?

Tak ada seorang pun yang tahu. Tak ada seorang pun yang menyadari. Tak ada seorang pun yang dapat menghindar. Semuanya akan berakhir sia-sia. Bahkan jika seseorang menyadarinya, mungkin waktu yang ia miliki tidak akan cukup.

Hanya tinggal menghitung detik, untuk membuat semuanya hancur berantakan.

Tak lama lagi.

Waktunya akan tiba.

DUARR!

Seketika, seluruh isi gereja hancur. Semua perkakas yang ada di gereja tersebut sudah hancur berserakan. Bahkan beberapa pondasi gereja juga hancur dibuatnya. Tidak hanya itu, seluruh orang yang berada di dalam gereja juga ikut terkena ledakannya. Banyak di antara mereka yang sekarat. Ada pula yang tewas di tempat. Sisanya mendapat luka-luka yang cukup serius.

Tak jauh dari altar yang sudah rusak, terbaring tubuh yang hampir tewas. Gaun putih yang orang itu kenakan kotor sana-sini. Entah itu terkena serpihan puing-puing ataupun darah. Sementara seorang lagi, si mempelai pria, tubuhnya terpelanting cukup jauh. Nyawanya sudah tak terselamatkan.

Ah... Biar kuperjelas apa yang sebenarnya sudah terjadi.

Ketika upacara pernikahan berlangsung, tak ada seorang pun yang tahu bahwa di bawah kursi para jemaat terpasang sekitar 4 bom waktu yang akan meledak beberapa waktu setelah diaktifkan. Skala ledakan bom waktu itu cukup besar untuk memporak-porandakan seisi gereja, ah... Tidak, tetapi memang setengah dari gereja dapat dihancurkan.

Siapa gerangan yang telah memasang bom waktu tersebut? Apakah dia tidak tahu bahwa di gereja itu akan dilaksanakan upacara pernikahan? Apakah dia tidak tahu bahwa yang ia lakukan hanya akan membuat korban berjatuhan? Atau mungkin... Si pelaku memang sudah mengetahuinya. Dan semua ini memang rencana si pelaku. Bisa jadi.

Baiklah, kita lihat kembali bagaimana keadaan mereka saat ini.

Tunggu. Mereka yang terkena ledakan bom pasti tidak akan menyadari bahwa ada seseorang yang berjalan mendekati mereka. Khususnya bagi yang sudah tewas. Tentu saja.

Seseorang yang tengah berjalan mendekat itu adalah seorang lelaki. Tangan kanannya menggenggam sebuah pisau. Tak ada ekspresi apapun diwajahnya. Bahkan setelah melihat korban-korban yang terkena ledakan. Tak ada rasa kasihan. Jadi jangan berpikir kalau dia datang untuk menolong para korban.

Lelaki berwajah dingin itu terus berjalan, melewati tubuh para korban yang sudah tak berdaya. Dia terus berjalan dan sampai akhirnya berhenti di satu titik. Mata si lelaki menatap tajam kearah si mempelai wanita, seolah sedang melihat musuh bebuyutannya.

Si mempelai wanita sedikit bereaksi ketika menyadari kedatangan seseorang. Dengan susah payah, akhirnya Leavanny, si mempelai wanita, dapat melihat siapa yang berada di dekatnya. Walau dengan pandangan samar, tetapi gadis tersebut tahu benar siapa yang telah datang.

Mata Leavanny membulat lebar. Mulutnya terbuka, namun suaranya menghilang bagai ditelan angin. Dia benar-benar tidak menyangka akan melihat wajah itu lagi setelah dua tahun berlalu. Hal ini memaksa Leavanny untuk mengingat insiden penembakan di airport dulu.

"Aku kabur dari penjara hanya untuk melakukan rencanaku ini."

Leavanny dibuat takut oleh ucapan si lelaki. Bukan hanya ucapan, tetapi juga pisau dan wajah dinginnya. Terlebih setelah tahu bahwa dulu lelaki itulah yang telah membuat si gadis lumpuh untuk beberapa minggu akibat peluru yang bersarang dikaki kanannya.

Dengan rasa takut yang mulai menjalar keseluruh tubuhnya, Leavanny mulai memaksa tubuhnya yang penuh luka untuk bangkit. Namun dia tidak bisa. Dia hanya bisa terduduk. Leavanny kemudian memanfaatkannya untuk menjauh dari sosok yang ada di hadapannya. Dia beringsut mundur, sedikit demi sedikit. Sesekali dia merintih kesakitan.

Karena kondisi si lelaki yang baik-baik saja, dia dengan mudah mendekati tubuh yang tengah menjauhi dirinya. Walaupun itu hanya dengan beberapa langkah. Disiapkannya pisau yang sedari tadi ia genggam. Dia mengarahkan pisau tersebut kepada si gadis.

Leavanny makin panik dibuatnya.

"Pergi! Jangan dekati aku, Ciel!" Sebuah teriakan keras terlontas dari bibir Leavanny yang terluka.

Ciel, nama lelaki itu. Dia menyeringai. "Akan kupastikan kau mati saat ini juga, Leavanny."

"Tidak! Pergi! Pergi!"

Leavanny terpojok. Sebongkah puing menghalangi jalannya. Punggung rapuh si gadis menyentuh puing tersebut. Hal yang bisa ia lakukan saat ini adalah menangis dan memohon agar lelaki itu pergi. Dari hidup si gadis. Untuk selamanya.

Si lelaki berjongkok, mensejajarkan wajahnya dengan wajah si gadis. Sorot mata si lelaki begitu tajam. Yang dilihatnya saat ini adalah seorang gadis yang menangis sejadi-jadinya, ditambah banyak luka yang bersarang ditubuh mungilnya. Tidak bisa tidak, hal ini membuat hati si lelaki luluh. Tapi jangan sangka dia akan melepaskan si gadis begitu saja.

"Jangan menangis.", ujar si lelaki yang kini dengan suara lembut. Tangan menghapus air mata si gadis. "Aku belum pernah melihatmu menangis sampai seperti ini."

Leavanny terperangah mendengar ucapan si lelaki, namun ia menutupinya. "Apa yang kau inginkan?! Kau... Ingin aku mati?!"

"Jika itu bisa membuatmu tidak dapat dimiliki oleh pria lain, ya, aku menginginkanmu mati."

"Eh?"

"Lebih baik kau mati daripada kau dimiliki pria lain."

"Apa... Maksudmu?"

"Masih kurang jelas ya? Baiklah, aku akan memperjelasnya. Karena aku benar-benar mencintaimu, jadi kupikir kau lebih baik mati daripada dimiliki oleh pria lain. Dengan begitu, kau hanya akan menjadi milikku."

Kali ini Leavanny terbelalak. "Apa... Katamu?"

"Ah... Mungkin kau salah paham tentang hubunganku dengan Lizzie. Kami tidak memiliki hubungan apapun. Aku tidak memiliki perasaan apapun padanya. Aku hanya mencintaimu."

"La.. Lalu... Kenapa saat itu kau... Tidak menghentikanku?"

"Karena kupikir... Aku tidak berhak melarang keputusanmu untuk menikah dengan pria lain. Namun aku sadar, bahwa aku tidak mau itu terjadi. Karena itulah, aku memutuskan untuk menghancurkan pernikahanmu."

"Tapi... Bagaimana kau bisa tahu aku menikah pada hari ini?"

"Kabur dari penjara tidak sesulit yang kubayangkan. Jadi aku dapat memata-mataimu."

Leavanny yang mendengar itu menjadi bingung. Benarkah yang diucapkan si lelaki? Jika benar, maka mereka bisa memulai kisah mereka dari awal. Namun...

Sekali lagi Leavanny meringis kesakitan. Luka yang ada ditubuhnya terinfeksi oleh serpihan puing-puing. Lagipula... Dapatkah Leavanny bertahan lebih lama dengan banyaknya luka yang ia dapat? Sudah kubilang, bukan? Gadis tersebut hampir tewas. Dia hanya memaksakan dirinya agar tetap tersadar demi melihat sosok itu untuk yang terakhir kalinya.

Namun pada akhirnya...

Si lelaki tersenyum. Dia melihat gadis yang ia cintai telah pergi secara perlahan. Walau kesal karena ia hanya diberi waktu yang cukup sedikit, tetapi dia senang karena dapat mengatakan apa yang ia ingin katakan sejak dulu. Setidaknya gadis itu bisa pergi dengan tenang setelah mengetahui kesalahpahaman di antara mereka. Pada dasarnya, si lelaki menginginkan gadis tersebut mati bukan karena ia membencinya, melainkan mencegahnya agar si gadis tidak dapat dimiliki oleh pria lain.

Ciel, lelaki itu menggenggam pisau yang ia bawa sedari tadi. Diarahkannya mata pisau tersebut keperutnya sendiri. Perlahan namun pasti, tangan kirinya yang kosong memeluk tubuh yang telah tak bernyawa yang ada di hadapannya. Seiring dengan eratnya pelukan yang ia buat, hal itu juga membuat mata pisau tersebut makin menembus perut si lelaki. Darah segar mulai mengalir.

Si lelaki kembali tersenyum. Ditatapnya wajah manis gadis itu. Terulas senyum tipis diwajah manisnya.

"See you soon..."

Itulah kalimat terakhir yang diucapkan si lelaki. Kalimat itu tentu saja ditujukan untuk si gadis yang telah pergi mendahului si lelaki. Dan tak lama lagi, si lelaki juga akan pergi menyusul si gadis.

-FIN-


Baiklah para readers sekalian, jika berkenan, silakan review…