~First Page~
14 Oktober...
Anak pertamaku lahir...
Dia laki-laki, menurutku dia bayi yang sangat tenang. Dia hanya menangis sekali, itu juga waktu baru lahir. Sekarang sudah sekitar satu jam ia menghirup udara pengap di dalam dinding. Suatu hari kau harus keluar dinding ya nak... kau harus melihat dengan matamu sendiri dunia yang terbentang luas. Ngomong-ngomong tentang matanya, warnanya biru seperti mata istriku. Lihat mulut kecilnya... manis sekali seperti milik istriku... sebentar... mana bagianku ya? Ahh... hidungnya! Nak... hidung kita sama lho... alisnya tebal sekali, tapi kenapa rambutnya lemas ya... memangnya siapa di keluargaku yang punya rambut selemas ini? oppss... kakeknya yang anggota militer itu! Sudah-lah... si tampan ini sedang tertidur dalam pelukanku sekarang. Istriku masih terbaring lemah... kau sudah berjuang sayang! Ngomong-ngomong, ayah harus memanggilmu apa ya Smith junior...
"Aku suka nama Ivan" ujar si Istri yang masih terbaring lemah.
"Apa? aneh sekali pilhanmu, bagaimana kalau Joan."
"Itu terdengar seperti anak perempuan!"
"Habis... wajahnya imut-imut begini sih..."
"Sayang... aku tahu kau pintar... tapi untuk urusan seperti ini kau tidak sepintar biasanya."
"Hmm... harus sebuah nama yang terlihat tegas." Si Profesor mengerutkan alisnya, baginya ini lebih sulit dari teori-teori yang pernah ia keluarkan.
"Harus yang mencerminkan orang yang tenang juga... lihat wajahnya yang tenang itu." Si Istri mengelus pipi putra pertamanya itu.
Dalam kegalauan dua orang tua baru (baru satu jam) ini, tiba-tiba terdengar bunyi hentakkan kaki yang keras. Seisi rumah sudah tahu siapa pemilik suara hentakkan ini.
'Oh tidak... ayah mertuaku!' gumam ayah baru ini khawatir tiga per empat mati.
Adalah kakek si bayi satu jam ini, seorang prajurit handal. Yang kemungkinan masih ada hubungan kekeluargaan dengan raja. Tidak seperti anggota militer yang lain, Kakek baru ini memiliki penampilan yang paling rapi di antara anggota militer yang lainnya (sesuatu yang kemungkinan besar ia turunkan pada cucu-nya di masa yang akan datang). Maklum, si kakek juga baru saja selesai dari tugasnya sebagai prajurit, hingga si kakek lupa untuk melepaskan segala atribut kemiliterannya.
"Bagaimana? Laki-laki atau perempuan?" tanya si kakek dengan suara ala militernya.
"Laki-laki ayah..." si profesor menjawab dengan sedikit canggung.
Si kakek kemudian tersenyum kecil, nampaknya ia sangat bersyukur cucu pertama-nya ini adalah seorang laki-laki. Dipadangnya sang cucu yang kini sudah berusia satu jam lewat empat puluh lima menit, yang sedang tertidur pulas di dekapan sang ayah.
"Ohoho... lihat alis tebalnya... sangat mirip diriku!" ujar si kakek bangga, "...kalian sudah memberinya nama?" tanya si kakek.
"Enghh... sebetulnya itu dia yang sedang kami pikirkan..." jawab si ibu yang masih lemah, berusaha untuk tersenyum.
"Kalian ini... ya sudah, aku saja yang menamainya!" si kakek kemudian memejamkan matanya seperti sedang berpikir keras, "bagaimana kalau Erwin?"
Sungguh, demi titan yang berlari dan terjatuh hingga tidak bisa bangkit lagi. Hingga si titan itu tenggelam dalam lautan luka dalam dan tersesat hingga tidak tahu arah jalan pulang. Baik si profesor dan istrinya tidak pernah terpikirkan nama itu. Entah kurang sreg dengan nama itu, atau yang lainnya. Tapi pasangan suami-istri, yang baru saja dikaruniai seorang anak laki-laki, ini tidak begitu suka dengan keputusan sang kakek.
"Ano... bagaimana kalau kita memikirkan nama yang lain ayah?" saran si Profesor.
Merasa tersinggung, kakek si bayi-pun menatap keduanya tajam, manuver 3D masih terpasang di badannya. Dengan sigap ia mengambil sebilah besi keras dan mengarahkannya ke pasangan orang tua baru itu sambil berkata dengan dinginnya,
"Erwin... namai dia dengan nama itu atau..."
Si profesor dan istrinya sama-sama menelan ludah karena ketakutan. Hanya bayi laki-laki yang ada di gendongan si profesor itu yang nampaknya tidak takut dengan ancaman besi keras sang kakek.
Begitulah jagoanku yang pintar dan tampan, dengan sedikit ancaman akhirnya kami menamaimu seperti itu... Selamat datang di dunia...
Erwin Smith... anakku...
"A...ano... Hanji-san... aku tidak akan menyinggung nama komandan lagi." Eren bergidik ketakutan. Sedangkan Hanji tertawa keras, hingga dia tidak sadar sudah terjatuh di lantai.
"Jadi itu nama ancaman ya... Kupikir Erwin hanya bisa memerintah saja... ternyata ada yang jauh lebih galak darinya..."
Eren hanya bisa memandangi seniornya ini keheranan. Ia sendiri pasti takut setengah mati kalau diancam seperti itu. Meskipun ia tahu, ia tidak akan mati kalau tidak ditebas bagian belakang lehernya. Dan ia tahu kalau yang bisa membunuhnya hanya ada empat orang di dunia ini yaitu ayahnya, Mikasa, Erwin sendiri, atau Levi.
"Eren... kemarilah... kita buka lagi halaman selanjutnya!" ajak Hanji.
Eren kemudian duduk di sebelah Hanji, kini gilirannya membuka halaman baru di buku itu.
(To be continued!)
