~First Madness~
Halaman setelah halaman pertama hanya berisi tentang perkembangan Erwin kecil. Dari mulai mengompol dan menangis di malam hari. Merengek minta susu karena belum bisa berbicara. Seperti bayi pada umumnya.
Halaman demi halaman mereka buka perlahan. Secara bergiliran mereka membaca setiap kalimat di dalamnya. Nampaknya masa kecil pak Komandan sama seperti anak yang lainnya. Hingga halaman ke tigapuluh mereka sudah merasa bosan,
"Huaaahh... aku bosaan..." keluh Hanji, meski bosan, dia tetap membuka halaman selanjutnya.
"Tunggu, Hanji-san... halaman ke tigapuluh satu, suara lonceng kebebasan pertama! Scouting Legion!" seru Eren.
"Seperti biasa kau selalu bersemangat kalau tentang Scouting Legion... aku tahu ini impian kecilmu Eren... tapi sekarang kan' kau sudah anggota Scouting Legion!"
"Bu...bukan begitu Hanji-san... tapi lihat ini..." ujar Eren sambil menunjuk ke halaman tigapuluh satu.
"Teng...teng..."
Suara lonceng itu berisik bukan nak? Itu dia yang dinamakan lonceng kebebasan. Kalau lonceng itu berbunyi artinya para pahlawan Scouting Legion telah kembali dari misi mereka. Mereka orang-orang yang kita percaya untuk membawa kebebasan bagi kita. Suatu saat karena mereka-lah kita dapat dengan bebas hidup di luar dinding nanti.
Profesor paling jenius ini sedang sibuk membawakan segudang belanjaan milik keluarga kecilnya. Sedangkan sang istri sibuk mengendong bayi laki-lakinya yang kini beratnya makin bertambah, nampaknya ia bayi yang sangat sehat! Si bayi Erwin itu sendiri sedang senang-senangnya mengamati banyak orang.
"Da...ba duudu..." gumam si kecil sambil sibuk menunjuk orang satu persatu. Sang ibu hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah polos putranya.
"Oh... kau suka dengan banyak orang ya Erwin!" ujar sang Profesor sambil tersenyum juga. Ingin rasanya ia mencubit pipi anaknya ini, namun tangannya tidak mengizinkannya untuk melakukan hal itu.
Mereka kini tepat berjalan di depan para anggota polisi militer yang sedang duduk santai, sambil bermain kartu. Entah apa alasannya, Erwin kecil berontak, meliuk-liukkan badannya dalam dekapan ibunya yang lembut. Ia bahkan menunjuk anggota PM yang sedang bersantai tadi.
"Mungkin Erwin ingin melihat kegiatan polisi militer itu" bisik profesor Smith kepada istrinya.
Mereka-pun pasrah, dan berjalan kembali mendekati para PM. Dengan tatapan keheranan, anggota PM itu mengamati keluarga kecil Smith. Beberapa diantaranya tersenyum getir. Sebagian lagi mencoba bertanya,
"Ada apa?"
"Eng... nampaknya anak kami penasaran dengan seragam kalian." jawab profesor blonde itu mencari-cari alasan. Salah satu anggota PM-pun mendekatkan wajahnya pada Erwin sambil tersenyum ramah.
"Baiklah adik manis... ini namanya seragam mili..." si anggota PM menghentikan kalimatnya. Karena jari kecil Erwin sudah meraih pipi anggota PM itu dan menariknya keras-keras
"buwaaa dabu dadadada dudud adada dududaaaa bububhubu deddeddududud dadada bwawawawawadu dadadbubu dudududadada dudbubu dadadada tatadadada dadadaududud dadada buuu!" Entahlah apa yang dikatakan oleh bayi Erwin, mungkin ia marah. Sementara itu anggota PM yang dicubit pipinya berteriak kesakitan (teriakkannya mungkin sangat memilukan...)
"Erwin... sayang... sudah lepaskan nak..." pinta sang ibu sambil berusaha membebaskan pipi anggota PM itu dari cengkraman anaknya.
"To...tolong lepaskan..." pinta si anggota PM sambil meringis kesakitan. Rupanya cengkraman tangan Erwin sangat keras hingga airmata anggota PM itu
merembes dari sudut matanya. Profesor Smith kelabakan dibuatnya, dengan cepat ia menurunkan semua belanjaan yang ada di tangannya dan ia mengeluarkan satu jurus saktinya. Ini biasa ia lakukan kalau Erwin sedang mengamuk seperti saat ini.
"Erwin... ayah punya buku..." ujarnya santai.
~dalam hati anggota PM, "mana ada anak bayi yang mau dibujuk dengan buku?"~
Secara ajaib, Erwin kecil melepaskan cengkramannya dan mulai memperhatikan ayahnya.
"Mukyaaa..." gumam Erwin kecil dengan wajah yang berseri-seri. Sekarang ia malah meronta-ronta ingin memegang buku itu.
"Woo... Wow..." para anggota PM itu terkagum dengan tingkah aneh yang baru saja mereka lihat.
Seorang bayi mau dibujuk hanya dengan sebuah buku, ini sebuah pemandangan super langka saudara! Si bayi-pun dengan senang memegang buku kecil yang diberi sang ayah tadi. Kalau dia sudah tenang, maka ia akan fokus ke benda itu selama mungkin. Begitulah bayi Erwin, selalu fokus ke suatu objek! (sifat yang mungkin akan dibawanya hingga dewasa nanti).
Setelah meminta maaf, keluarga kecil itu melanjutkan perjalanan mereka. Sebetulnya mereka hendak pulang kembali ke rumah. Karena peristiwa aneh itu, terpaksa jadwal pulang mundur selama beberapa saat. Kini Erwin kecil tenang di dekapan profesor paling jenius sepanjang sejarah manusia. Dan sang ibu membawa belanjaan mereka. Kembali perjalanan mereka terhenti karena bunyi lonceng yang memenuhi kota.
"Daa..." gumam Erwin kecil, nampaknya terkagum dengan bunyi lonceng itu.
"Oh... itu bunyi lonceng kebebasan sayang... kalau lonceng itu berbunyi artinya para pahlawan Scouting Legion sudah kembali" jelas sang ibu sambil tersenyum.
Sejenak Erwin memperhatikan wajah ibunya dengan tatapan kagum. Dalam pikiran bayinya mungkin saja Erwin berkata seperti ini,
-"Ibu ngomong apa sih? Aku tidak mengerti... mungkin ibu ngomong tentang bunyi lonceng yang bagus itu ya?"-
"Da...da...daaa...da..." ujar bayi Erwin sambil menunjuk-nujuk kerumunan orang yang sudah berjajar di pinggir jalan, menantikan pahlawan mereka melewati kota. Profesor Smith tersenyum melihat tingkah putranya yang selalu membuat kejutan bagi dirinya.
"Baiklah... ayo kita lihat!" ajak sang ayah.
(To Be Continued!)
