~First Command~

Eren tertawa terbahak-bahak, sedangkan Hanji sudah berguling-guling di lantai. Airmata keduanya sudah tidak dapat dibendung lagi. Kini mereka sudah tidak bisa membayangkan wajah komandan mereka yang seperti biasa. Sebaliknya, mereka sudah membayangkan wajah anak bayi yang dengan polosnya memarahi polisi militer dengan bahasa bayi tentunya.

"Dan baru berhenti karena buku!" Seru Eren dengan nafas satu-satu karena terlalu keras tertawa.

"Betul sekali! Ya ampun... aku tahu Erwin suka membaca buku, tapi aku tidak tahu kalau sejak bayi ia sudah suka sama buku..." Hanji membenarkan perkataan Eren tadi.

Ini juga peristiwa langka bagi mereka, bayi macam apa yang sudah bisa memarahi anggota polisi militer dalam usia beberapa bulan. Dengan bahasa bayi pula... dan bayi macam apa lagi yang hanya menurut kalau diberi buku.

"Hanji-san... ayo kita lanjutkan membacanya... bagian ini masih lama lho..." ujar Eren sambil menunjukkan sekitar sepuluh halaman yang bertanggal sama.

"Baik!" jawab Hanji bersemangat.


"Erwin sama ayah ya..." Profesor Smith menggendong anak kesayangannya itu tinggi-tinggi. Rasa penasaran Erwin melebihi bayi seusianya, ia sangat penasaran hingga ia tidak bisa diam di gendongan sang ayah.

"Sayang, jangan lupa kalau sudah barisan terakhir, tutup mata Erwin! Mereka biasanya membawa mayat anggota mereka di barisan terakhir."

"Pasti, aku akan menutupnya bahkan saat barisan prajurit yang terluka." Profesor Smith memberikan jaminan pada istrinya, bahwa ia tidak akan memperlihatkan sesuatu yang mengerikan pada anak pertamanya ini.

Tapi bayi Erwin nampaknya tidak peduli akan hal ini, ia terus saja menggeliat karena penasaran apa yang telah terjadi. Bagi bayi sepertinya suara lonceng tadi terdengar sangat indah, hingga mampu mengalihkan perhatiannya. Tapi sekarang, ia malah dibuat kebingungan, karena terlalu banyak orang. Ditambah sekelompok orang aneh dengan baju hijau mereka yang aneh dan sedang berjalan di jalan utama (maksudnya pasukan Scouting Legion). Mungkin dalam hati kecilnya Erwin berkata seperti ini,

-"Banyak sekali om-om dan tante-tante berpakaian hijau aneh seperti itu... mereka ngapain ya ada di tengah jalan?"-

Disaat masyarakat yang ada di pinggir jalan mengejek si komandan. Erwin kembali mengeluarkan bahasa bayi-nya

"Uuu... daadada... daaa bububuuu..." ujarnya sambil kembali tidak tenang. Hingga sang ayah kebingungan menggendongnya. Terpaksa ia menambahkan kekuatannya, bukannya apa-apa tapi Erwin kecil sudah lama bisa merangkak. Kalau ini dibiarkan maka profesor Smith dan istrinya-lah yang paling pertama kebingungan.

Masih terlintas segar di pikirannya peristiwa kemarin. Waktu itu mereka berkunjung ke rumah kakek mereka. Erwin kecil merangkak dan dengan polosnya mengigit besi keras milik sang kakek. Kakek sih tertawa terbahak-bahak sambil mendo'akan agar Erwin mengikuti jejaknya, menjadi seorang prajurit. Sedang ayah dan ibunya hampir dibuat pingsan. Kalau nenek lebih bijak lagi, dia bilang kalau gusi Erwin sudah gatal, sebentar lagi juga akan tumbuh gigi. Kalau bayi lain mungkin akan lebih memilih sayuran atau buah yang keras seperti wortel, hanya bayi Erwin yang memilih besi keras untuk ia gigiti (bayi macam apa dia ini?!).

Dan sekarang, keanehan Erwin kecil makin menjadi saja. Tepat 10 meter lagi, komandan Scouting Legion (saat itu) akan melewati keluarga Smith. Dengan semakin dekatnya jarak keluarga Smith dan komandan, maka makin Erwin kecil kegirangan. Bayi Erwin sangat tidak bisa diam, ia terus menunjuk-nunjuk para prajurit yang lewat satu persatu, sambil mengoceh dengan bahasa bayi tentunya.

"Erwin makin aktif saja..." profesor blonde itu sedikit mengeluh,

"Dia sama aktifnya denganmu sayang, aku harap dia bisa jadi orang pintar di segala aspek, tidak hanya di ilmu pengetahuan saja," istrinya ikut mengeluh,

"Lihat... semakin komandan itu mendekati kita, semakin anak ini tidak bisa diam."

"Mungkin dia sudah punya firasat, kelak suatu hari anakmu ini akan ada di posisi itu sayang..."

"Apa? Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Terlalu banyak masalah di dalam kemiliteran sayang..."

"Tenang saja ayah... Erwin anak yang kuat ya..." hibur ibu sambil menatap Erwin kecil,

"Erwin sayang... lihat yang ada di depan itu komandannya!" lanjut ibunya sambil menunjuk seseorang yang baru saja melewati keluarga Smith.

Mata Erwin kembali membulat, saking girangnya ia bahkan memukul-mukul ayahnya. Hingga kacamata yang dikenakan profesor Smith miring karenanya.

"Ugya... Mumu...dada buuu..." ujarnya lagi sambil menunjuk-nunjuk ke arah yang dimaksud ibunya.

"Hei... tenang sayang... anak ayah yang baik harus tenang." Profesor Smith menenangkan putranya yang sudah kelewat girang.

"Daaa...da...buuu!" teriaknya.

Otomatis semua warga yang ada di dekat keluarga Smith ini merasa terganggu dengan tingkah Erwin. Semuanya melirik tajam ke keluarga ini, ibu berusaha tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa di sini.

"Ya ampun... bisa kah kalian menghentikan suara bayi kalian! Apa kalian tidak melihat beberapa orang sudah ditelan titan lagi hari ini... seharusnya kalian berkabung..." keluh seorang warga,

"Maafkan kami... kami akan berusaha menenangkan anak kami..." Profesor Smith meminta maaf.

"Sayang... ngomong-ngomong di mana Erwin sekarang?" Tanya istri sang profesor.

"Tentu ada di sini sa..." Ujar sang profesor menunjuk ke arah tangannya, sebelum ia terkejut,

"Erwiiinnn... di mana kamu nak!"

kini sang profesor yang khawatir.

(To... ehhh... masih ada lagi lho! suer nanti ini mah to be continuenya!)