_Meanwhile_
"Komandan... misi kita sepertinya sama saja... para titan tidak terbasmi, malah kita menambah korban." keluh seorang Prajurit.
"Tugas ini memang berat, tapi tetap kita harus memberikan harapan untuk bebas." jawab si komandan tenang.
"Seratus tahun sudah, manusia terkekang oleh tembok, sudah saatnya kita terbebas dari teror mengerikan ini." lanjut prajurit tadi, masih mengeluh, merenungi nasibnya sebagai manusia yang diambang kepunahan.
"Apa yang kau lakukan hah? Kau seperti orang ketakutan saja! Di dalam pasukanku tidak boleh ada orang sepertimu!" si komandan memarahi prajurit yang mengeluh tadi, "Tidak ada alasan kita harus takut, kita harus bisa menghadapi ketakutan itu sendiri... kita harus tetap..."
"Bu..bu..."
Suara bayi yang keras itu mengagetkan si prajurit. Sedangkan si komandan belum tersadar kalau ada yang aneh di dirinya. Sebetulnya dari tadi ia merasa pundak sebelah kanannya sangat berat. Dia hanya berpikir kalau ini karena harness tua setua dirinya yang setia menemani perjuangannya selama ini.
"Benar sekali kita harus bu...bu..."
"Ko...komandan... ii..."
"Kenapa? Kau takut hah?"
"Itu di pundak kanan anda siapa?"
"Hah?" si komandan keheranan akhirnya menoleh ke arah kanan.
"Bwaaahhh... bayi siapa ini!" teriak komandan kebingungan. Hingga kuda sang komandan hilang kendali dan berputar-putar. Para prajurit yang melihat hanya bisa terdiam, sebagian menjaga jaraknya, kalau-kalau si bayi kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Mereka siap menangkap bayi itu kapan saja, dan mengembalikannya pada orang tua si bayi, meskipun mereka tidak tahu bayi siapa itu.
Sementara itu bayi Erwin cukup tenang dalam kondisi bahaya seperti itu. Tangan-tangan kecilnya masih mengenggam erat jubah hijau milik komandan. Dan berputar-putar tidak karuan. Hingga kuda sang komandan berhenti tepat menghadap semua prajurit Scouting Legion. Dengan lincah bayi Erwin meraih kepala si komandan dan berteriak dengan lancang (tentunya hanya prajurit terdekat dengan komandan yang mampu mendengarnya),
"Bu...bu dadadabu... dabububu bababadududu dadada dedede mumu dadbububu..." ujar Erwin bersemangat.
"dadabububu bu dadadadu dadadu?" lanjut bayi Erwin keheranan. Sedangkan seluruh anggota Scouting Legion dibuat saling menatap, antara lucu melihat tingkah anak ini dan khawatir kalau anak ini terjatuh (pasti mereka di salahi oleh orang tuanya).
"ba.. dada dudu dadu dabubu.. bu...bu...!" dengan polos, Bayi yang sudah ahli merangkak ini kembali melanjutkan ocehannya.
Sial, tidak ada yang mengerti bahasa bayi.
"Adik manis... kemari ya..." salah satu prajurit mencoba menggendong bayi Erwin tapi... bruukk... prajurit itu sukses ditendang oleh bayi Erwin.
"daaa... da..." ujar bayi Erwin.
"Siapapun... tolong lepaskan bayi ini sekarang juga..." sang komandan akhirnya meminta bantuan.
Sejuta cara sudah dikerahkan oleh Scouting Legion, demi melepaskan si bayi rewel ini.
"Adik manis... lihat... kakak punya jubah bagus..." bujuk seorang prajurit sambil mengibas-ngibaskan jubahnya dan meperlihatkan lambang 'sayap kebebasan' pada bayi Erwin. Erwin kecil masih bertengger di pundak sang komandan.
"Adik bayi... lihat kakak punya pedang panjang..." bujuk yang lainnya sambil memperlihatkan besi kerasnya. Bayi kecil itu malah terdiam tidak berreaksi, walhasil si prajurit ini diteriaki teman-teman satu legiunnya,
"Mana ada bayi yang tertarik dengan pedang bodoh!"
"Nah... kakak yakin adik suka dengan ini..." ujar prajurit yang lain sambil menembakkan kawat besi dari alat manuver 3D miliknya.
"Daaa.. mumu didid da buuu..." sepertinya Erwin kecil mencoba membalas sikap prajurit tadi. Seolah ia ingin mengutarakan bahwa ia sudah 'bosan' dengan mainan itu (bayi Erwin bilang itu mainan lho...).
"Dia ngomong apa sih?" ujar yang lain. Kini lengkap sudah semua pasukan Scouting Legion dibuat kebingungan tiada tara.
"Adik manis... lihat... kakak punya..." ujar seorang prajurit lagi sambil mengeluarkan sebuah potongan jari yang sudah telihat kerangkanya saja, "kerangka jari titan..." lanjutnya. Sialnya, si prajurit ini malah kena pukul teman-teman satu legiunnya.
"Itu untuk diteliti bodoh!" sahut yang lain.
Bayi Erwin masih belum mau beranjak dari tempat nyamannya kini. Lebih susah menghadapi bayi daripada menghadapi titan ternyata! Ditengah keputus asaan itu, tiba-tiba datang prajurit lain (mungkin ia berasal dari barisan paling belakang).
"Komandan... komandan... ada sepasang suami istri yang kehilangan anak mereka!" serunya,
"Nah... mungkin itu ayah dan ibumu... ayo... paman antarkan ke sana ya..." ujar komandan itu pada Erwin,
"Daaa..da..." Erwin menggeleng.
'Sial... anak keras kepala!' sang komandan menggerutu dalam hati.
"Kalau begitu, antarkan mereka kepadaku!" perintah sang komandan akhirnya. Dengan perasaan sedikit kesal si komandan itu kembali menatap Erwin kecil. Si komandan sendiri sangat heran dengan sikap Erwin yang sangat berbeda dari bayi seusianya. Tapi si komandan sangat menghargai tekad kuat bayi Erwin. Ya... tekad kuat untuk tetap bertahan di pundaknya dan tidak mau turun meski sudah dibujuk oleh semua prajurit Scouting Legion.
(Nah baru To Be Continued!)
