~Daa...daaa..Commander!~
"Erwin memang lebih abnormal dari titan!" keluh Hanji. Eren sependapat dengan Hanji kali ini. Alisnya saling bertemu pertanda dia berpikir sangat keras.
"Bagaimana bisa seorang Bayi memanjat hingga pundak orang dewasa yang sedang berkuda?" Eren bertanya pada diri sendiri saking herannya.
"Itu sama saja dengan kau bertanya apa yang dipikrkan Erwin saat ini? kau sendiri tahu pikirannya tidak pernah bisa dicapai orang-orang seperti kita." Hanji mengeluh kembali sambil membuka halaman selanjutnya.
"Kalau saja ada Armin..." Eren menerawang.
"Kau benar, hanya Armin yang mampu membaca pikiran Erwin, hey... kenapa kita jadi membicarakan Armin? Ayo lanjutkan!" suruh Hanji.
Anak ayah yang berani... untung ayah menemukanmu juga... kalau sampai kau benar-benar hilang bisa gawat bukan? tapi kenapa kau bisa sampai ada di pundak komandan sih nak?
"Maafkan kami... kami tidak bisa menjaga anak kami..." profesor Smith kembali meminta maaf. Kali ini dengan postur tubuh yang menunduk tajam seperti orang dalam penyesalan tingkat tinggi.
"Ah... tidak apa-apa... lagi pula dia tidak mengganggu kok..." ujar si komandan. Kali ini ia berdiri tegak di samping kudanya. Sedangkan Erwin kecil masih betah bertengger di pundak kanannya.
"Nah... sekarang anak ayah yang manis... ayo kita pulang... ayah punya buku nih..." profesor Smith kembali mengeluarkan jurus pamungkasnya. Nampaknya jurus itu tidak berhasil kali ini. Erwin kecil malah merajuk, dan semakin memeluk komandan itu erat-erat.
"Anak manis... ayo... kembali ke orang tuamu..." bujuk si komandan, sambil berusaha melepaskan cengkraman Erwin tentunya
"Daaa...da...!" jerit Erwin.
Susah sekali melepaskan Erwin kali ini. Sudah dibujuk makanan, tetap tidak bisa. Dibujuk dengan selain makanan-pun tidak bisa. Bahkan ayahnya, yang selalu bisa membujuk Erwin kecil, gagal total dalam misi melepaskan Erwin dari pundak komandan itu. Karena kesal dan lelah, akhirnya si komandan itu melepaskan jubahnya (tentu dengan susah payah) dan melonggarkan bolo ties hijau emerladnya. Bolo ties hijau itu satu-satunya tanda pangkat yang ada di kemiliteran sekarang ini. Merah milik pasukan Polisi Militer, biru milik Garrison, dan hijau milik Scouting Legion.
"Mugyaaa...!" seru Erwin sambil menunjuk bolo ties itu, kemudian menariknya. Sudah tertebak bukan? Tentunya si komandan tecekik karenanya. Wajah komandan itu langsung nampak biru rupanya.
"Sayang... hentikan... kasihan bukan paman-nya..." ujar Ibu dengan tenang, sambil berusaha melepaskan genggaman putra tercintanya ini.
"Baik nak...baik... ini, paman berikan..." ujar si komandan sambil melepaskan bolo ties miliknya. Kini bolo ties itu sudah berada di tangan Erwin. Sedangkan
Erwin tertawa riang, akhirnya bisa dilepaskan juga. (selamat pak komandan! Anda terlepas dari cengkraman bayi!).
"Apa ini tidak menjadi masalah? Setahuku itu satu-satunya lambang pangkat ya?" profesor paling jenius itu merasa tidak enak atas tindakan Erwin. Meskipun
dia masih bayi, tapi toh tetap harus diajar sopan santun bukan?
"Ah... tidak apa-apa... itu hanya cadangan, aku masih punya di markas." Ujar si komandan ramah. Kemudian ia mendekatkan wajahnya pada Erwin kecil, yang sudah sibuk memainkan bolo ties yang baru saja ia rebut.
"Anda hebat sekali pak, punya anak seberani dia." Puji si komandan itu,
"Anda terlalu berlebihan, dia hanya punya rasa ingin tahu yang lebih dari anak seusianya." Balas profesor Smith malu-malu.
"Siapa namamu nak?"
"Namaku Erwin paman... Erwin Smith..." ujar Ibu yang kini mendekap putranya erat-erat. Erwin yang tentunya masih belum mengerti hanya memandang komandan itu sambil terus mengigit bolo ties sang komandan.
"Baiklah Erwin Smith... kelak kalau kau sudah besar nanti kembali lagi ke sini ya... nanti kita sama-sama menebas titan ya..." ajak si komandan sambil tersenyum dan mengelus-elus kepala Erwin lembut.
"Terima kasih paman... nanti Erwin kembali lagi kok, ya kan' sayang..." jawab ibu, dekapnya masih seerat tadi dan tatapannya masih tertuju pada putranya yang sedikit jahil ini.
Sementara itu, profesor Smith mendadak sesak nafas karena kalimat itu. Tentu saja, karaean dia satu-satunya orang yang paling tidak setuju kalau anaknya masuk kemiliteran, 'anak ayah yang pintar... yang tadi jangan di dengar ya!' ujarnya dalam hati.
"Mestinya aku punya anak buah seberani dia... ha...ha...ha..." puji komandan itu. Pandangannya masih tertuju pada bayi pirang yang masih mencoba mengigiti bolo ties penanda pangkatnya itu, "Kalau begitu paman tunggu ya... sekarang paman harus pulang dulu.." ujar si komandan yang kemudian menjauh, dan semakin menjauh. Meninggalkan keluarga Smith yang masih mengiringi perginya para pasukan ini dengan tatapan mereka. Maaf kecuali Erwin yang masih berusaha mengigit bolo ties itu.
"Kau ingat sayang... siapa yang dulu sampai ngidam ingin memegang bolo ties punya komandan Zacklay?" tanya profesor berambut pirang itu kepada istrinya dengan nada jahil.
"Sudahlah... jangan mengingatkanku tentang persitiwa itu lagi." Balas sang istri.
"Aku hanya bercanda kok... nah Erwin... ayo kita pulang... kalau sudah sampai rumah kita bermain lagi ya..." ajak si profesor, mereka-pun mengikuti jejak komandan tadi. Meninggalkan tempat kejadian dan pulang ke rumah.
(To...)
