Sepertinya sejak kecil komandan sudah sering menimbulkan masalah ya..." keluh Eren.
"Begitulah... benar-benar cerita yang panjang ya Eren!"
"Ano... Hanji-san kita baru saja menyelesaikan setengah dari buku ini lho!"
"Masih banyak halaman yang harus dibaca lagi... hah... energiku bisa habis untuk membaca Diary ayahnya Erwin!" keluh Hanji, "kau tahu Eren? Sekarang aku paham kenapa Erwin seperti itu." Ujar Hanji sambil menerawang. Eren tidak menjawab, ia hanya mengangkat alisnya sebelah sebagai tanda ke-tidak pahaman-dirinya.
"Dia sudah menghabiskan kegila-annya saat masih kecil"
"Jadi maksudmu, komandan jadi orang yang serius seperti itu karena tingkah gilanya waktu masih kecil?"
"Tepat sekali..."
"Kalau begitu, komandan berbanding terbalik denganmu Hanji-san, kegilaanmu justru muncul setelah kau dewasa!"
"Apa katamu Eren?"
"Ha...ha...ha... aku hanya bercanda kok! Tapi tetap aku masih heran, apa orang seperti komandan punya kekurangan? Maksudku semacam phobia atau ketakutan gitu..."
"Entahlah, sangat susah untuk orang seperti Erwin, pemikirannya bisa menutupi kekurangannya secara sempurna!"
"Bagaimana kalau kita loncat halaman saja! Siapa tahu ayahnya komandan juga menuliskan tentang kekurangan komandan!" ide jahil Eren tiba-tiba muncul entah darimana. Yang jelas itu membuat Hanji dengan cepat membuka lembaran buku catatan itu satu persatu. Padahal ia akhirnya sadar kalau ia tidak akan mendapatkan teori profesor itu hanya dari buku Diary yang dari awal sudah berisi segala tentang Erwin. Sampai pada suatu halaman...
"Eren... baca ini!" suruh Hanji,
"Halaman ke enampuluh, Erwin kini sudah berusia lima tahun, dia tumbuh menjadi anak pemberani, dan tampan... tapi di balik itu semua ia menyimpan ketakutan terbesarnya... anakku yang sudah ingin bersekolah ini ternyata takut dengan..."
Belum sempat Eren membaca tuntas halaman itu. Mereka berdua dikagetkan dengan suara pintu yang terbuka tiba-tiba diiringi sebuah suara langkah yang berat. Serta bayangan dua orang laki-laki. Bagaimana-pun rumah keluarga Smith ini sudah tidak ditinggali, apa lagi sejak Erwin masuk pelatihan militer.
"Levi..." ujar suara itu dingin.
"Baiklah, Erwin!"
Baik Eren maupun Hanji sama-sama menatap dua bayangan itu ketakutan. Badan mereka bergidik keras, hingga buku kecil yang ada di genggaman mereka ikut bergetar. Kini mereka hanya bisa menelan ludah mereka karena ketakutan.
sepoilerngiler...
Dada dudu budududu mamaa du dadada mumu dabu bububfububu. Bububu mamamabu, tatadadada badada dadadbubu madedede mumu. Damamama dudu deddebfuu bububu madududu. Dada dudududuuu daaa dadamumumu dadada. Mumu mu... dadaa dabububu dabdufuu! Dudadadadu mudududu mamadu. Dadaaa.. mmumu damumu mugya...(Sebetulnya kenapa aku bisa sampai di pundak komandan, karena aku merangkak. Kemudian tanganku dapat meraih kotak aneh milik kakak berbaju aneh ini. dari situ aku loncat ke kotak aneh milik paman yang pakai kuda. Aku tidak tahu siapa paman ini sih... tapi apa yang kutemukan di bajunya jauh lebih berharga! Sebuah permen besar berwarna hijau tergantung di lehernya. Aku mau permen itu paman...).
#tantangan penulis: coba translate bahasa Erwin waktu bayi!
