Bleach# Tite Kubo

CHAPTER 3: Cinta yang Terpendam

"Hei calon pengantin, bagaimana kalau kita berpesta kecil-kecilan sebelum pelepasan masa lajangmu?" Gin yang setia mengantar Rukia sampai di depan apartemennya mulai angkat bicara karena dari tadi kedua insan ini bungkam, sibuk dengan pikiran masing-masing.

"Maksudmu? Heh, bilang saja kamu mau nonton pertandingan bola malam ini denganku Gin, pakai acara pesta melepas masa lajang segala" dengus Rukia setelah pintu kamarnya terbuka.

"Hahaha, ketahuan juga. Kukira kamu ga ingat dengan pertandingan bola malam ini.. ya, karna saking berdebarnya bertemu cinta pertamamu itu" ejek Gin mengikuti Rukia memasuki apartemennya.

"Jangan memancing di kolam yang keruh Gin" Rukia yang merasa ejekan pas menohok hatinya langsung menyikut perut Gin. Gin tertawa dengan reaksi Rukia. Dia lebih suka melihat gadis dihadapannya ini bereaksi seperti itu, terlihat lebih hidup.

"Aku ingat malam ini pertandingan klub jagoanku melawan klub jagoanmu kan? Kita taruhan. Siapa yang kalah harus mengikuti semua permintaan yang menang.." saran Rukia sambil memetik saklar lampu dan menghidupkan AC.

"Semuanya? Semua keinginan maksudmu Rukia?" Gin terlihat sangat antusias dengan pertanyaannya ini. Pria bermata biru jernih ini melepas jas yang dipakainya tadi dan meletakkan di atas sofa. Jadilah sekarang dia hanya memakai kaos putih dan celana jeans. Dia mengambil remote TV lalu menghidupkannya.

Rukia yang berjalan ke dapur untuk mengambil minuman dingin dari lemari es menjadi tertawa "Pastinya permintaan yang masuk akal Gin, nanti kamu malah memintaku jadi istrimu.. ahahaha"

"Yah, ketahuan.. padahal aku maunya gitu sih"

Rukia masih terkekeh dengan sikap jahil Gin. Pria yang duduk di sofanya sambil menukar-nukar chanel TV ini memang selalu bisa mencairkan suasana. Dengan iseng Rukia menempelkan minuman dingin itu ke pipi pucat Gin. Sontak pria yang sedang serius memperhatikan tayangan didepannya ini terkejut mendapati hawa dingin merambat cepat di pipinya.

"Ck, Rukia.. tidak bisakah kau memberikan minuman ini dengan cara yang lebih manis?" dengus Gin agak kesal melihat Rukia yang terkekeh dari tadi. Dia terlihat senang sekali menjahili Gin.

"Seharusnya kau berkata seperti ini.. ini minumannya sayang.. lalu berikan minumannya ke tanganku"

"Mimpi aja terus" cibir Rukia.

Gin dan Rukia bergelut ria seperti anak kecil. tidak ada yang mau kalah. Akan tetapi pergelutan itu terhenti seketika setelah pertandingan bola dimulai. Suasana menjadi sedikit serius dan heboh karena tim jagoan Rukia dan Gin sama-sama hebat.

"Gooolll.. yay, akhirnya tim ku menang. Yayyy" Rukia yang tak bisa membendung rasa gembiranya langsung berdiri di atas sofa dan berjingkrak-jingkrak bahagia.

"Akhhh.. kenapa harus kalah sih? Ck.. dasar payah, coba saja ada aku di sana pasti menang" ucap Gin frustasi sambil mengacak rambutnya.

"Week, mimpi aja terus" ejek Rukia sambir menjulurkan lidahnya pada Gin yang menatap pasrah Rukia yang masih semangat berjingkrak di atas sofa.

Gin tersenyum melihat gadis yang kelihatan sangat senang di hadapannya ini. Inilah ekspresi Rukia yang selalu dinantinya. Mata violetnya yang bersinar bahagia sekarang membuat hati Gin hangat, merasa dia memang hebat bisa membuat Rukia melupakan sejenak masalahnya.

"Kamu memang hebat ya Gin" ujar Rukia duduk kembali di sebelah Gin.

"Selalu bisa membuatku melupakan kegundahan hatiku"

"Jangan-jangan kamu malaikat yang diturunkan Tuhan untukku?" Rukia tersenyum lembut ketika mengucapkan itu. Senyum yang dapat meyakinkan Gin bahwa dia tidak sedang menggombal saat ini.

Gin yang mendengar ucapan Rukia membulatkan matanya. Dia senang, merasa tersanjung. Dia ingin mengecup lembut bibir gadis yang terlihat rapuh di depannya ini. Ingin sekali dia mengatakan jangan nikahi Ichigo, menikahlah denganku. Akan tetapi haruskah dia merobohkan benteng pertahanan yang telah dia bangun selama ini? Menghancurkan rasa persahabatan yang telah mereka jalin selama ini? Bagaimana kalau setelah kenekatannya itu Rukia tidak mau lagi bertemu dengannya? Akh, dia bisa gila bila hal itu terjadi.

Akhirnya Gin lebih memilih untuk mengusap lembut rambut Rukia. Sangat lembut, agar Rukia bisa merasakan disetiap sentuhannya hanya melafalkan namanya.

"Yah, aku memang malaikat yang diturunkan Tuhan untukmu" Gin menyandarkan kepala Rukia di dada bidangnya.

Rukia terdiam, mencoba meresapi setiap sentuhan lembut Gin. Hanya bunyi TV yang terdengar, mereka sama-sama masih terlena dengan pikiran masing-masing.

"Ichigo telah mencintai gadis lain…" ujar Rukia memecah keheningan. Tidak perlu dengan tenaga ekstra untuk mengucapkan itu, hanya dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya sekarang sudah bisa membuat Gin mendengarnya.

Sekali lagi, Gin membulatkan matanya. Jadi inilah yang membuat Rukia tidak bersemangat setelah acara perjodohannya? Dia tetap membelai lembut rambut Rukia lalu menghela nafas panjang.

"Lalu apa yang akan kau lakukan?"

"Aku harus tetap melanjutkan pernikahan ini" jawab Rukia sedikit bergetar ketika melafalkannya.

"Kau gila" bentak Gin tidak terkendali. Saking geramnya, dia langsung melepas belaian lembutnya dan mencengkram bahu Rukia dan menatap tajam kedua violet itu untuk mencari celah bahwa gadis ini sedang bercanda.

"Lalu aku harus apa? Aku mau menolaknya, tapi takkan bisa. Kami pasti akan tetap dinikahkan dan yang tersakiti nantinya pasti lah wanita yang dicintai Ichigo.. pasti.. pasti Ichigo akan terlihat sedih melihat orang yang dicintainya disakiti.."

Hancur. Perih. Itu lah yang dirasakannya saat menjawab bentakan Gin. Dia tidak mau melihat wajah sedih Ichigo, cukup sekali sewaktu Masaki meninggal, jangan ada wajah sedih untuk kedua kalinya.

Gin yang diliputi emosi langsung terhenyak, tak bisa berkata apa-apa. Dia sesak melihat kedua violet itu berkaca-kaca. Sesak sekali, serasa ada yang menyayat hatinya ketika melihat gadis yang dicintainya harus menangis. Gin mendekap lembut gadis yang sangat rapuh ini. Berharap dadanya cukup besar menampung kesedihan Rukia. Dia tidak tahu harus berbuat apa, jika hanya ini yang bisa dilakukannya, dia akan datang dan selalu ada setiap Rukia bersedih.

Akhirnya malam yang menyesakkan itu diakhiri dengan terdengarnya dengkuran Rukia. Gin yang masih setia mendekap lembut Rukia menjadi heran lalu mencoba melihat wajah gadis mungil itu.

"Hmph.. kau ini benar-benar ya Rukia.. bisa-bisanya tertidur saat menangis" ujar Gin mencubiti gemas pipi Rukia. Dia mengangkat tubuh gadis mungil dipelukannya ini lalu membaringkannya di atas kasur.

"Hei.. coba katakan, Cuma aku kan yang bisa melihatmu seperti ini. Bahkan Ichigo yang kau cintai itupun mungkin tidak pernah melihat wajahmu yang begitu menyedihkan.." ujar Gin mengusap lembut pipi Ruikia dengan punggung tangannya.

"Kau benar-benar tanpa pertahanan Rukia. Bagaimana kalau kau kuserang saat tidur?" bibir Gin yang mengucapkan kalimat itu tepat berada di depan bibir Rukia, nyaris bersentuhan. Akan tetapi otaknya tetap merajai, tidak kalah dengan nafsunya yang menggebu. Perlahan dia mendaratkan ciuman manisnya di dahi Rukia.

Gin menatap geram pada sosok berambut orange yang terpampang indah dalam frame. Sosok anak kecil yang terlihat bahagia melingkarkan satu lengannya di pinggang gadis yang amat dipujanya saat ini. Yah, itu adalah foto Ichigo dan Rukia yang berumur 10 tahun sebelum perpisahan mereka. Senyuman mereka sanggup membuat Gin iri, lalu siapa yang menyangka perasaan yang sudah mereka pupuk sejak kecil tiba-tiba hilang hanya karena ada cinta baru?

#####

" Saat ini Rukia sedang apa ya? Apa dia melihat pertandingan bola tadi? Yang main kan tim jagoan Rukia" ucap seorang pria berambut orange sambil menimbang-nimbang handphone yang dipegangnya.

"Ah, aku telpon saja.. tapi jangan-jangan dia sudah tidur?" Ichigo terlihat seperti orang yang sedang frustasi memilih jawaban ujian. Dia mengacak-acak rambut jabriknya berharap mendapat kekuatan untuk memilih.

"Ah… telpon saja.."

Ichigo menunggu bunyi 'tut' berganti dengan suara lembut Rukia dengan penuh senyuman. Ah, akhirnya diangkat. Tiba-tiba saja Ichigo tercekat mendengar suara seorang pria yang mengangkat telponnya.

"Moshi moshi?"

"Ah, maaf Byakuya.. bukan maksudku untuk mengganggu Rukia malam-malam begini, aku Cuma.."

"Ini bukan Byakuya.."

Pria itu langsung memotong ucapan Ichigo. Membuatnya bingung. Apakah dia salah sambung? Tapi tidak mungkin, dari dulu dia selalu menelpon Rukia ke nomor ini.

"Rukia sedang tidur, apa kau ada pesan? Biar aku sampaikan padanya.."

Siapa sih pria ini? kenapa dia berkata seperti itu dengan sangat santai? Dan apa? Rukia sedang tidur? Dimana? Dengan pria itu? Yang benar saja!

"Ano.. kau siapa?"

"Aku Gin.. kalau kau tidak ada keperluan yang ingin disampaikan, hp nya kumatikan ya.. aku juga mau tidur"

"Eh tunggu…" ujar Ichigo setengah berteriak. Tapi teriakannya seakan distop oleh bunyi 'tut-tut' berulang. Menandakan sambungan telpon telah dimatikan oleh orang yang bernama Gin itu.

"Gin? Apa dia orang yang sering diceritakan oleh Rukia itu?"

"Heh.. benar kan, dia juga sudah punya pria lain, bahkan sampai tidur bersama…" gumam Ichigo dengan raut wajah tidak percaya.

Akh.. apa yang dipikirkannya? Dia sakit hati mendengar nada bicara Gin yang seolah memonopoli Rukia. Dan kenapa mereka bisa tidur bersama? Maksudnya Gin sedang berada didekat Rukia yang tidur? Bukannya Rukia tidak suka tidur jika ada orang lain didekatnya? Kecuali Ichigo? Hanya Ichigo yang diizinkan Rukia untuk tidur disebelahnya. Bahkan ketika Byakuya meminta untuk tidur menemani Rukia yang sakit, dia tidak akan mengizinkan. Akan tetapi Ichigo yang datang membesuk pasti akan diizinkan Rukia jika teman kecilnya itu sudah merengek ingin menemaninya tidur.

Ichigo sadar. Tidak seharusnya dia mengecam Rukia dan pria yang bernama Gin itu, karena dia sudah mencintai Orihime. Jadi siapa sebenarnya yang harus disalahkan? Rukia atau dia kah? Orang yang dengan mudah mengkhianati cinta pertamanya hanya karena 15 tahun berpisah?

Oh Tuhan.. tapi rasanya tetap sakit, benarkah dia telah berubah menjadi orang yang serakah? Dia belum bisa melepaskan Orihime dan juga tidak rela membayangkan Rukia dengan pria lain.

####

Di sisi lain, Gin Ichimaru tersenyum penuh kemenangan setelah mematikan sambungan telpon Rukia dan langsung meng-non aktifkan hp tersebut. Dia sangat berharap pria yang tengah ditatapnya lewat foto yang terpampang di dekat tempat tidur rukia itu menjadi kesal. Yah, biarkan hanya untuk saat ini dia merasa menang menjadi pria yang dekat dengan Rukia.

Gin pun melangkah lunglai ke sofa. Dia masih belum bisa tidur dan berharap tayangan TV bisa mendatangkan kantuk dan membuatnya tertidur. Gin tidak ada keinginan untuk beranjak dari apartemen Rukia dan tidur di apartemennya sendiri. Dia suka berlama-lama disini, menghirup dalam-dalam wangi lavender, wangi khas Rukia yang tersebar di setiap sudut ruangan. Setidaknya itu bisa menghangatkan hatinya yang kesepian.

####

Ting tong.. sudah kesekian kalinya bel apartemen Rukia berbunyi. Rangiku yang masih mengantuk jam 7 pagi ini mulai kesal tidak mendapat jawaban dari dalam kamar itu.

"Hoamhh, ukhh.. ayo lah Rukia, bukannya kau yang minta dijemput pagi ini? ck.. hp nya pakai acara mati segala" gerutu Rangiku sambil mengucek kasar matanya yang terasa perih menahan kantuk.

Ah, pintu nya terbuka. Rangiku sudah siap ingin melayangkan pukulan telaknya ke kepala Rukia karena kesal. Bukannya dia yang sudah meminta dijemput? Sampai-sampai gadis bartender ini harus rela hanya tidur 4 jam. Akan tetapi keinginannya langsung berhenti ketika mendapati Gin dengan malas membuka pintu apartemen Rukia.

Matanya yang perih itu sukses membelalak takjub melihat pemandangan sosok pria dihadapannya ini. Tubuhnya yang sixpack tergambar jelas dari kaos putih yang terlihat kusut. Rambut yang biasanya tergerai dengan rapi terlihat kusut mengarah kesana-sini, memperlihatkan sosok Gin yang sangat santai. Gin yang sedang mengucek matanya dan menguap lebar sanggup membuat dada Rangiku berdegup kencang.

'Sial dia seksi sekali' gerutu Rangiku sambil mengepal tangannya kuat-kuat berharap bisa menghilangkan rasa panas yang merambat cepat ke pipinya itu.

"Ah, Ran chan , gomme aku ketiduran. Tunggu sebentar aku mandi dulu ya.." ujar Rukia membuyarkan lamunan Rangiku yang masih setia berdiri di depan pintu. Gadis mungil berambut raven itu berlari kecil ke kamar mandi meninggalkan dua sahabatnya yang masih berdiri di dekat pintu.

Gin melangkah lunglai tetap membiarkan pintu terbuka. Rangiku yang seakan mengerti maksud Gin melangkahkan kakinya mengikuti pria yang bersikap seolah-olah apartemen ini adalah miliknya, duduk di sofa setelah menutup pintu. Dia menatap penuh tanya pada pria yang 100% cuek ini.

"Heh, memang tak salah kan ku ingatkan kalian untuk tidur di apartemen masing-masing.. jangan-jangan yang mematikan hp Rukia juga kau" tuding Rangiku pada pria disampingnya ini. Gin tidak menjawab, malah memilih untuk menutup matanya yang terasa berat karena baru 3 jam yang lalu rasanya dia memulai tertidur.

"Jangan teruskan kebiasaanmu ini Gin, nanti kau bisa hancur"

Ucapan Rangiku itu sukses membuat Gin membuka matanya, menatap langit-langit apartemen Rukia. Lalu dia pun menutup matanya lagi dan mendengus,

"Sekarangpun aku sudah hancur.. saat aku memberanikan diri memasuki kehidupan Rukia, saat itu aku sudah merasa hancur. Tapi aku suka.. asal aku bisa berada didekatnya"

"Kau gila, dasar abnormal"

"Yah, salahkan temanmu itu yang sudah membuatku gila" balas Gin memasang seringaian khas miliknya pada wanita yang duduk di sebelahnya itu.

"Ah, aku sudah siap" ucap Rukia setengah berteriak. Dia tidak sadar teriakan kecilnya itu telah membuyarkan pikiran masing-masing kedua insan yang tengah duduk di sofa berwarna maroon itu.

"Ah, ya.. ayo kita pergi.."

Ajakan Rangiku diikuti Rukia dengan berlari-lari kecil mendekatinya. Gadis mungil itu dengan cekatan menarik Gin yang masih duduk santai. Mau tak mau Gin langsung berdiri. Seakan mengerti maksud genggaman Rukia, dia langsung mengambil jasnya di sofa itu.

"Dasar kau ini, keringkan dulu rambutmu, baru pergi. Dan lihat, kau juga tidak berdandan?" tanya Gin sambil memegang rambut basah Rukia dengan tangan kanannya karna tangan kirinya sedang dikuasai oleh Rukia.

"Hanya ujungnya saja yang basah Gin, lagian aku bisa berdandan di rumah kok"

"Nah, tidurlah yang nyaman di kamarmu.. kuberi kompensasi untuk terlambat bekerja di hotel. Tapi ingat hanya sampai jam 11, setelah itu tolong gantikan tugasku yah.. " ujar Rukia mendorong punggung Gin agar berhadapan ke pintu apartemen milik pria itu sendiri.

"O iya Gin.. trimakasih untuk tadi malam, dadahh.." ujar Rukia sambil melambai meninggalkan Gin.

"Hei, aku tidak mau menyelesaikan pekerjaanmu ibu direktur" teriak Gin pada sosok yang sudah mulai jauh meninggalkannya itu.

"Harus.. kan kau kalah taruhan, jadi itu hukumannya. Setiap keinginan pemenang harus diikuti kan?" teriak Rukia tidak mau kalah. Dia melambai manja sambil memasang tampang penuh kemenangan pada pria yang sedang mengacak kasar rambutnya itu.

Rangiku hanya memilih untuk diam melihat tingkah sahabatnya ini. sesampainya mereka di dalam mobil, barulah dia berani berbicara.

"Memangnya tidak apa-apa kalian tidur bersama?"

"Ralat Ran.. bukan tidur bersama, tapi tidur di satu ruangan.."

"Yah, apa bedanya?"

"Tentu saja beda, aku tidur dikasurku, sedangkan Gin tidur di sofa"

"Kau tahu? Dia terlihat seperti seekor anjing yang tidak mau ditinggalkan majikannya? Dia benar-benar terobsesi padamu Rukia.."

"…" Rukia hanya memilih diam sebagai jawaban terbaik atas pertanyaan Rangiku ini, dia berpura-pura serius mengendarai mobil.

"Kenapa diam saja? Kau tau kan betapa besarnya cinta Gin padamu?"

Rangiku menghela nafas panjang setelah mengucapkan itu lalu beralih ke pemandangan yang ada di kaca sebelah kirinya. Sedangkan Rukia, dia sesak merasa tercekat dengan pertanyaan Rangiku tadi. Pertanyaan itu telah memukul telak hatinya.

Ya, dia bukannya tidak tahu bagaimana perasaan Gin padanya. Hanya saja dia lebih suka bersikap seperti ini. Dia tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan kalau sudah menyangkut masalah hatilah, cintalah. Dari dulu sampai sekarang dia ingin menjadi orang yang buta akan hal itu, karna masalah cinta dan hati itu benar-benar menyesakkan.

Rangiku melirik Rukia yang tidak angkat bicara juga dari tadi. Dia bisa melihat wajah bersalah gadis bermata violet itu. Yah, setidaknya sekarang dia tahu kalau Rukia juga memikirkan ucapannya, memikirkan perasaan Gin. Itu sudah cukup, dia tidak ingin menambah beban sahabat yang sangat disayanginya ini. lagipula bukan salahnya juga membuat Gin menjadi tergila-gila padanya. Bukankah dari dulu Rukia juga sudah mengatakan pada setiap lelaki yang mendekatinya bahwa dia memiliki tunangan, yaitu Ichigo? Tapi pria keras kepala yang bernama Ichimaru Gin ini tetap tidak patah arang mendekati Rukia, dia sangat percaya akan keajaiban. Keajaiban bahwa suatu saat nanti Rukia bisa menjadi miliknya yang utuh.

Akhirnya Rukia sampai di depan gedung apartemen Rangiku.

"Hmphh… jangan terlalu banyak berpikir, nanti pertumbuhan dadamu benar-benar terhambat, hahaha" Dia mengusap penuh semangat kepala Rukia dan berlari kecil menuju gedung tersebut meninggalkan Rukia.

"Dasar gila, mesum.." teriak Rukia berharap wanita yang mengejeknya tadi mendengar.

Rangiku membalikkan badannya lalu mencibir, menandakan bahwa dia mendengar teriakan sahabatnya itu. Dengan semangat dia melambaikan tangan pada Rukia yang mulai melajukan mobilnya menuju kediaman keluarga besar Kuchiki.

TBC

Hufth.. huaaah, ternyata menjadi author itu tidak semudah kelihatannya yah.. *author mengelap peluh yang bercucuran sambil menghela nafas kasar (kaya' ga bernafas selama 1 hari, yah. mati dong?) *~*

Arigatou buat yang udah review shizu san, wakamiya san, fumiko san, nhay san, akari san, nenk san, dan jee san

Makasih atas masukannya.. sangat membantu..*membungkuk sedalam-dalamnya sampai ga bisa lagi berdiri tegak, haha lebay mode on ;P

perasaan saya pas baca review benar-benar ga bisa dibayangin. jingkrak-jingkrak ga tau diri.. hahaha

kayak jadi ibu-ibu yang menanti anaknya bicara untuk pertama kali, cobalah minna san bayangkan perasaan ibu itu ketika ucapan pertama anaknya adalah 'ibu'.. huhuhu.. pasti terharu, nah seperti itu lah perasaan saya, sekali lagi makasih minna san.

doaakan saya tetap semangat melanjutkan cerita ini yah :D

harus semangat, gunakan waktu libur ini untuk menyalurkan hobi..*menatap langit dengan mata berapi-api dan semangat yang berkobar.

mohon maaf jika banyak yg salah, aneh ato sejenisnyalah.. jangan sungkan-sungkan ingatkan.. *author yang baik hati, hahaha, langsung digeplak readers karna narsis.

nah minna, sekali lagi.. onegai.. REVIEW.. *jadi sesak nafas pas ngucapinnya karna readers tadi baru aja menggeplak author..

:-*