disclaimer: Bleach always punya Tite Kubo san
Chapter 4: Cemburu
"Kurosaki kun sini.." teriak seorang gadis berambut orange dengan merdu. Dia melambai penuh senyum pada sosok pria yang kelihatan bingung mencarinya.
"Maaf, udah lama nunggu?" tanya Ichigo duduk di hadapan gadis itu.
"Ah, tidak apa-apa…" ucapannya terhenti ketika melihat sang kekasih menguap lebar sampai-sampai air matanya mengalir.
"Hmphh.. pasti kamu masih ngantuk sekali ya Kurosaki kun?" tanya Gadis bertubuh indah ini sambil tertawa geli.
"Hm.. maklum, aku begadang nonton pertandingan bola" jawabnya menebar senyuman walau kedua kelopak matanya sangat sulit diajak kompromi.
"Kamu aneh Kurosaki kun, bukannya kamu ga suka bola? Tapi masih saja bela-belain nonton pertandingan bola sampai kurang tidur.."
"Yah, yang main tim jagoan Rukia sih.." cerocosnya tanpa berpikir panjang. Dia tidak memikirkan bagaimana reaksi gadis yang di hadapannya ini ketika dia mengucapkan itu.
Benar saja, gadis bermata coklat itu terdiam. Bungkam seketika ketika kekasihnya itu melafalkan sebuah nama yang entah kenapa merupakan kata terlarang untuk didengarnya.
"Orihime.. maaf kan aku.. aku.."
"Kamu selalu saja mengaitkan semua kegiatanmu dengan Rukia.." sela Orihime sambil mengepal kuat tangannya. Berharap hal itu bisa meredam emosinya yang ingin meluap. Seakan mengerti, Ichigo langsung menggenggam lembut tangan kekasihnya ini lalu tersenyum lembut.
"Dengarkan aku dan jangan membantah sedikitpun sampai aku selesai berbicara" ujar Ichigo dengan mantap sehingga lebih terdengar sebagai perintah yang tidak bisa diganggu gugat.
Mendapati Orihime yang mulai terlihat tenang, Ichigo pun mulai berbicara.
"Aku akan menikah dengan Rukia besok.."
Terkejut, itulah yang saat ini dirasakan oleh Orihime. Ingin dia menepis genggaman Ichigo, tapi tatapan teduh Ichigo membuatnya mengurungkan diri dan berusaha tegar mendengar kelanjutan cerita Ichigo sesuai dengan perintahnya tadi.
"Rukia sudah mencintai pria lain, begitu juga denganku.. aku mencintaimu. Tapi kami tidak bisa menolak pernikahan ini, pastinya nanti kaulah yang akan disakiti keluargaku.."
Ichigo menghela nafas sejenak memastikan Orihime menangkap setiap kata yang diucapkannya. Merasakan kegalauan yang dirasakannya saat ini.
"Aku dan Rukia sepakat akan pura-pura menjadi suami istri setelah pernikahan ini.. dan jika saatnya sudah tepat, kami akan bercerai. Dia akan hidup dengan pria yang dicintainya, dan aku.. aku akan hidup bersamamu.." ujar Ichigo lalu mengecup lembut punggung tangan Orihime yang dari tadi digenggamnya.
Orihime tidak bisa berkutik. Melihat kesungguhan dari mata Ichigo dan kelembutannya, dia lebih memilih diam. Ichigo membelai lembut pipi gadis yang terlihat ingin menangis didepannya ini. sedangkan Orihime? Dia tidak melewati kesempatan ini, digenggamnya dengan erat tangan yang membelai lembut pipinya dan menahan tangan itu tetap mengantarkan aura hangat di sana.
"Jangan tinggalkan aku Kurosaki kun, aku sangat mencintaimu.. aku akan menunggu saat itu tiba"
Ichigo membelai lembut pipi Orihime yang sebelahnya lagi, ingin menyampaikan pada gadis itu bahwa jawabannya 'Tidak.. aku tidak akan meninggalkanmu'
"Lalu apa kamu yakin setelah perceraianmu dengan Rukia nanti akan membuat hubungan kita tetap mulus?"
"Aku akan usahakan itu. Memangnya apa yang bisa mereka lakukan? Orang yang telah menikah lalu bercerai, berarti memang tidak bisa melanjutkan pernikahan itu, apapun alasannya. Tidak mungkin kan mereka tetap mempertahankan pernikahanku dengan Rukia?"
Jawaban Ichigo yang lumayan masuk akal itu mampu membuat Orihime mulai merasa tenang. Tiba-tiba saja keheningan yang mereka ciptakan tergganggu dengan nada dering hp Ichigo.
"Ada apa Yah?" tanya Ichigo langsung mengangkat sambungan telpon itu setelah mendapati nama penelpon yang tertera di layar hp adalah ayahnya, Isshin Kurosaki.
"Sekarang?" tanyanya lagi sambil melirik Orihime yang masih setia menggenggam tangan kanannya.
"Tapi Yah aku.." ucapannya terpotong, seakan-akan sang ayah tidak memberinya kesempatan untuk memilih pilihan lain selain keinginannya.
"Iya, iya.. Baiklah, aku akan pergi" dengus Ichigo kesal lalu mematikan sambungan telpon.
Ichigo melirik ragu pada Orihime yang saat ini memasang wajah 'Jangan pergi, tetap saja di sini, temani aku'. Dengan ragu dia meminta izin pada kekasihnya itu.
"Maaf Hime, aku harus pergi. Kalau tidak, ayahku yang gila itu bisa-bisa mengulitiku hidup-hidup. Kalau dia saja sih masih bisa kulawan, tapi kalau sudah masuk perintah kakek juga.. aku agak kewalahan untuk melawannya."
Orihime menghela nafas panjang, dia tahu arah pembicaraan Ichigo. Pasti sekarang dia disuruh bertemu Rukia. Ichigo tidak ingin berlama-lama menatap wajah sedih kekasihnya itu, dengan cepat dia mengecup dahi Orihime. Alhasil Orihime yang dari tadi menunduk menjadi terkejut dan langsung memegang sensasi hangat yang menjalar di dahinya.
"Aku pergi dulu ya, nanti kuhubungi lagi" ujar Ichigo beranjak dari duduknya meninggalkan Orihime yang masih setia menyesapi ciuman singkat yang didaratkan Ichigo padanya.
"Hah…"
Orihime menghela nafas panjang. Masihkah ada harapan baginya untuk berada disisi Ichigo selamanya? Dia mencintai Ichigo, sangat. Seharusnya dia menampar Ichigo saat kekasihnya itu mengucapkan bahwa dia akan menikah dengan Rukia. Tapi entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang menahannya untuk melakukan itu. Sebenarnya siapa yang salah? Dia tidak bisa juga menyalahkan Ichigo seutuhnya, karena dialah yang telah berani mendekati Ichigo. Seharusnya dari dulu dia tidak merubah perasaan kagumnya menjadi cinta. Ya, dia kagum dengan sosok Ichigo yang sangat memuji Rukia, cinta pertamanya. Dia kagum melihat cinta yang bisa diberikan Ichigo untuk seorang perempuan.
Akhirnya, dia terjebak dengan perasaan kagum itu. Ingin memiliki rasa cinta pria itu juga. Mencoba mencari celah yang bisa membuatnya menang dari gadis yang bernama Rukia. Ya, dia dapatkan itu. Dia bisa memanfaatkan hubungan jarak jauh Ichigo dengan Rukia. Lalu apa? Ichigo tidak ubahnya dengan pria lain, sangat mudah dimasuki hatinya hanya karena hubungan jarak jauh. Akan tetapi dia merasa belum memiliki hati Ichigo seutuhnya, mungkin hanya sekeping hati yang didapatkannya. Karena pria yang dicintainya itu selalu melafalkan nama Rukia, seakan-akan nama itu adalah mantra kebahagiaan baginya.
Yah, dia harus berani mengambil resiko dari perbuatan yang dilakukannya bukan? Kenapa tidak untuk memperjuangkan cintanya sampai akhir, dengan melakukan segala cara.
#####
Ichigo memasuki kediaman keluarga Kuchiki dengan santai. Para pelayan menunduk memberi hormat padanya dan mengatakan bahwa orang yang dicarinya saat ini ada di halaman belakang. Tak perlu mengucapkan nama orang yang dimaksud, para pelayan di sana sudah hapal dengan kebiasaan pria berambut orange ini, pasti mencari Rukia. Tidak berubah dari 15 tahun yang lalu.
Sampailah dia di tempat yang dimaksud. Ichigo melempar pandangan pada Yuki yang terlihat berlari-lari aktif dikejar oleh Karin dan Yuzu. Apa? Sejak kapan Karin dan Yuzu di sini? Mereka benar-benar terobsesi pada Yuki kecil, ckckck. Ichigo geleng-geleng melihat sikap adik-adiknya yang sangat senang bermain dengan gadis mungil yang sangat mirip dengan Byakuya itu, hanya saja sifat cerianya itu pasti turunan dari Hisana. Lalu dimana gadis mungil satu lagi yang sedang dia cari?
"Ah, itu dia.." ujar Ichigo lalu berjalan mendekati gadis yang sedang duduk bersandar di kayu tiang ruangan yang berhadapan dengan halaman belakang tersebut.
Usut punya usut, akhirnya Ichigo mendapat jawaban. Ternyata benar Rukia sedang tertidur. Terlihat dari matanya yang menutup dan tunggu, dia akan jatuh mendaratkan kepalanya di lantai kayu tempatnya duduk itu. Dengan cekatan Ichigo menangkap kepala Rukia yang nyaris menghantam lantai. Dia tersungkur ketika melakukannya, terlihat seperti keeper yang sedang mati-matian menangkap bola.
"Hufth.. kau ini.. Dasar, selalu saja ceroboh" ujarnya menghela nafas lalu membetulkan posisinya duduk di sebelah Rukia agar tubuh si gadis bisa bersandar padanya.
Ichigo menyesapi wangi Rukia dalam-dalam. Wangi gadis ini selalu menenangkan. Membuat rasa hangat itu menyeruak dengan cepat memenuhi hatinya. Kalau dipikir-pikir sejak 15 tahun berpisah, baru sekarang dia bisa melihat Rukia tidur pulas lagi, seperti anak kecil, imut. Tunggu, berarti Gin juga melihat pemandangan yang sakral ini kan? Sial, dia bukannya ingin serakah atau apa. Tapi sewaktu kecil dia pernah bertekad tidak akan membiarkan pria lain melihat wajah cinta pertamanya ini sewaktu tidur, karena itu adalah hartanya yang paling berharga.
Sibuk dengan lamunannya, akhirnya Ichigo memencet gemas hidung Rukia, alhasil Rukia susah bernafas dan membuatnya tersentak dari alam mimpinya.
"Akh.. Gin, jangan suka memencet hidungku" cerocos Rukia sesaat setelah matanya terbuka sambil memegang tangan orang yang mengganggu tidurnya.
Rukia terkejut melihat tangan yang dipegangnya, sangat berbeda dengan tangan orang yang diucapkannya tadi. Ditelusurinya tangan itu sampai ke pangkal. Lalu apa? Yang dilihatnya bukan pria berambut silver dengan seringaian khas miliknya. Tapi pria berambut orange yang saat ini memasang mata sendu. Bolehkah Rukia mengartikannya begitu? Bahwa Ichigo terlihat seperti terluka?
"Ah kau Ichigo, sejak kapan disini?" tanya Rukia gelagapan mengalihkan pandangannya dari pria yang masih terdiam itu.
"Heh, kukira hanya aku saja yang kau perbolehkan melihatmu tidur" ejek Ichigo berusaha menenangkan hatinya saat ini. rasanya sesak sekali, baru tadi dia kesal memikirkan pria brengsek bernama Gin itu. Lalu apa? Malah ketika bangun Rukia malah mengiranya Gin.
"Tadi malam kalian juga tidur bersama kan?"
"Lalu apa urusanmu?" tanya Rukia balik setelah berpikir sejenak darimana si jeruk ini tahu kejadian tadi malam.
Ichigo mengepal tangannya dengan sangat kuat menahan amarah yang timbul karena pertanyaan enteng Rukia itu.
"Ya, aku tau kita sudah sepakat tidak akan mencampuri urusan masing-masing, tapi bisakah kau menggunakan pikiranmu? Apa nanti kata orang kalau mereka melihatmu sekamar dengan pria lain beberapa hari sebelum pernikahanmu?"
"Tenang Ichigo, apartemen kami memang berdekatan. Jadi tidak masalah kan kalau aku dan Gin saling mengunjungi? Dan tidak masalah juga kalau kami tertidur di satu ruangan.." dia melirik pria yang tetap mengepal kuat tangannya itu. Kedua alisnya menekuk tajam menandakan dia sedang marah.
Seakan tahu apa yang digeramkan sahabat kecilnya ini, Rukia angkat bicara lagi sambil menatap tajam mata musim gugur yang berkilat menahan amarah itu.
"Kau memandangku seperti perempuan murahan saja.. walau tidur di satu ruangan, kami tidak melakukan apa-apa.."
Ichigo mulai berusaha melonggarkan kepalan tangannya, walaupun saat ini hatinya terasa dihimpit batu besar. Perasaan apa ini? dia tidak pernah merasakannya saat dengan Orihime. Kenapa segala yang menyangkut dengan Rukia bisa membuatnya mengalami banyak perasaan? Perasaan senang, nyaman, kesal, dan cemburu. Tunggu , apa? Cemburu? Apakah ini rasanya cemburu itu? Dia cemburu mendengar Rukia bercerita tentang kedekatannya dengan Gin. Rasanya saat ini ingin sekali ia memukul wajah pria yang mampu menggeser tahtanya di pikiran sahabat kecilnya ini, cinta pertamanya.
Tak lama kemudian hp Rukia berdering. Dia pun menjawab penelpon yang tepat sekali membuyarkan atmosfer ketegangan antaranya dan Ichigo.
"Ada apa Gin?"
Ichigo tercekat mendengar bibir gadis didepannya ini melafalkan dengan lembut nama 'Gin'. Otaknya langsung memberi sinyal bahwa ini adalah nama yang harus di black list, sangat berbahaya. Reflek Ichigo merebut hp Rukia dan memutuskan sambungannya.
"Kau apa-apaan sih?" geram Rukia mendapati perbincangannya dengan Gin diputus secara tiba-tiba.
"Biar adil.. Kemarin malam sewaktu aku menelponmu dia juga mematikan seenaknya."
"Hahh.. dasar kau ini" gerutu Rukia menanggapi sikap Ichigo yang egois seperti anak-anak. Rukia menghela nafas panjang lagi seakan pasokan udaranya habis direbut Ichigo.
Tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun, dia beranjak meninggalkan Ichigo dan tentu saja diikuti oleh Ichigo.
"Jangan ikuti aku terus, pergilah ke perusahaanmu" saran Rukia lalu mengambil hp nya dari tangan Ichigo.
"Aku belum boleh menjalankan perusahaan sebelum menikah denganmu.." jawab Ichigo santai menyelaraskan langkah kakinya dengan Rukia.
"Kau mau kemana?"
"Aku ingin ke hotel, ada beberapa dokumen yang harus kutandatangani, makanya tadi Gin menelponku" jawab Rukia panjang lebar sekaligus ingin meluruskan pada calon suaminya ini apa maksud Gin menelpon tadi. Entah kenapa, tapi Rukia merasa harus menjelaskan saja. Dia tidak tega melihat wajah kesal Ichigo, seperti orang yang menahan sakit parah.
"Aku ikut" ujar Ichigo tegas.
"Yah, terserah kau saja" jawab Rukia sambil menggidikkan bahunya menyatakan bahwa dia tidak bisa melawan kekeraskepalaan Ichigo.
mereka berjalan melewati koridor yang menghubungkan halaman belakang dengan ruangan depan. Sebelum mencapai ruangan depan, Rukia dan Ichigo mendapati Byakuya dan Yamamoto sedang berada di dalam ruangan pertemuan yang besar dan megah bersama dengan beberapa orang yang memakai jas, sepertinya mereka sedang membicarakan tentang bisnis Byakuya.
"Ah, itu mereka calon pengantin.." ujar Yamamoto berhasil membuat semua orang di dalam ruangan itu memandang serempak pada sosok yang dimaksud. Ichigo dan Rukia jadi gelagapan karena secara mendadak semua mata tertuju pada mereka yang berdiri di koridor. Mereka saling berpandangan lalu memilih membungkuk sebagai jawaban atas pandangan orang-orang itu.
"Kalian mau kemana?" tanya Byakuya. Dia menatap lembut Rukia dan sekali-kali melirik kesal pada pria yang mulai berkeliaran lagi di dekat Rukia seperti dulu, Ichigo.
"Ada pekerjaan di hotel, jadi aku harus selesaikan. Sekalian saja kuajak Ichigo"
"Hati-hati.."
"Aku akan menjaganya Byakuya.." seloroh Ichigo sambil menepuk dada bidangnya. Byakuya yang tidak mengharapkan jawaban itu keluar dari calon suami adiknya itu mendengus kesal.
"Ya, ya.. pergilah. Ajaklah Ichigo berkeliling Rukia, dia kan baru datang dari Amerika.." saran Yamamoto memecah ketegangan antara Byakuya dan Ichigo.
Orang yang dimaksud menunduk dalam meng-iyakan suruhan kakeknya lalu menarik lengan Ichigo yang masih setia bertatapan tajam dengan Byakuya. Sedangkan orang-orang yang ada di ruangan pertemuan itu tersenyum melihat tingkah keluarga ini.
"Ah, mari kita lanjutkan pembicaraan tadi" ajak Yamamoto santai pada rekan-rekan kerjanya itu.
Jika Rukia bertanggung jawab menjalankan hotel-hotel milik keluarga Kuchiki yang berpusat di Tokyo, Byakuya adalah pewaris onsen-onsen yang tersebar di seantero Jepang. Pria berperawakan tenang ini memang sangat cocok menjalankan bisnis yang berbau Jepang tradisional. Sedangkan Rukia yang lebih santai dipercayakan menjalankan hotel. Akan tetapi walaupun begitu, mereka tetap bekerja sama, saling membantu satu sama lain, tidak ada persaingan yang mengatakan ini hakku, ini lahanku, dan ini uangku. Yang ada hanya ini milik kita mari kita jaga bersama.
Sedangkan keluarga Kurosaki? Mereka memiliki perusahaan kendaraan yang besar. Memegang perekonomian di Jepang dan tersebar di beberapa negara. Ichigo adalah pewaris yang ditunjuk oleh Aizen, karena Isshin lebih memilih jadi dokter sedangkan Yuzu dan Karin masih begitu, mereka tidak pernah sombong. Low profile, itu lah yang selalu mereka terapkan.
####
"Aku ingin lihat penampilanmu di club, apa benar suaramu itu bagus?" dengus Ichigo pada calon istrinya yang sedang memasuki lift menuju ruangan kerjanya.
"Apa orang-orang di club ga heran?"
"Heran kenapa?"
"Yah, anak-anak di bawah umur menyanyi di club, hahaha" jawab Ichigo tertawa geli.
"Sialan kau.." gerutu Rukia merasa pria jeruk itu sedang memancing amarahnya. Sontak dia menepuk kepala Ichigo dengan keras.
"Aduh, sakit Rukia.." rintih Ichigo mengusap-usap kepalanya yang mendapat pukulan telak tadi.
"Rasakan.. otak rusak sepertimu memang pantas diberi pelajaran.."
"Kau ini.." geram Ichigo sambil mencubit gemas bibir Rukia yang mengerucut sebal sewaktu menceramahinya.
Tanpa mereka sadari pintu lift terbuka dan entah apa yang direncanakan Tuhan. Dia mempertemukan mereka dengan Gin yang tepat berdiri di depan pintu lift. Gin terkejut melihat tangan Ichigo yang bertengger di bibir tipis Rukia. Geram sekali rasanya melihat pria berambut seperti jeruk yang entah sengaja atau tidak, sepertinya ia sedang memperlama sentuhannya itu.
"Ah, Gin.. kupikir kamu ada di kantor" ujar Rukia setelah menepis tangan Ichigo dari bibirnya. Dengan gelagapan dia keluar dari lift dan berjalan mendekati pria berambut silver yang mematung itu.
Rukia yang membaca suasana tegang antara Ichigo dan Gin menjadi salah tingkah. Dia berusaha mencairkan suasana itu, apapun caranya.
"Ini dia Ichigo Kurosaki, dan Ichigo.. ini Gin Ichimaru.."
"salam kenal, aku Ichigo Kurosaki.. calon suaminya Rukia" ujar Ichigo sambil menyodorkan tangannya bermaksud untuk menjabat tangan pria yang ingin sekali ditemuinya itu.
Gin mendengus lalu memasang seringaian mendengar penekanan suara Ichigo ketika mengatakan 'Calon suami'. Dia menjabat erat tangan Ichigo.
"Gin Ichimaru, aku asisten sekaligus sahabatnya.."
Apa? Sahabat? Jadi Rukia dan pria ini hanya sahabat? Maksudnya belum jadi sepasang kekasih seperti yang pernah dipikirkannya? Setelah berpikir sejenak, Ichigo melepas jabatan tangan itu lalu mendengus penuh kemenangan.
"Yah, aku tau.."
Gin bukan merupakan pria yang mudah terpancing dengan emosi. Dia cukup lihai menyembunyikan bagaimana perasaannya. Ichigo berharap ada perubahan ekspresi ketika dia mengejek tadi, tapi yang didapatkannya hanyalah seringaian Gin yang bertambah lebar.
Rukia hanya geleng-geleng pasrah dan melangkah duluan ke ruangannya meninggalkan kedua pria itu. Merasa gadis mungil yang menjadi rebutan saat ini pergi duluan, Gin yang diikuti Ichigo berjalan di belakang Rukia.
Ichigo yakin bahwa pria yang bernama Gin ini menyukai Rukia. Terlihat dari caranya berbicara dengan gadis itu. Sangat intens. Dari gerak tubuhnya terlihat dia ingin sekali memonopoli calon istrinya itu. Berdiri sangat dekat, sampai-sampai bahu sebelah kanan Rukia menempel dengan dadanya yang bidang. Dan ketika Rukia bertanya tentang dokumen yang tidak dimengertinya, pria berseringai bak rubah itu akan menunduk membiarkan rambut silvernya yang lembut itu terjatuh diantara geraian rambut raven Rukia. Sekali lagi, rasanya saat ini Ichigo tengah dihimpit batu besar, membuatnya tercekat. Dia mengepalkan tangannya, takut untuk mengakui bahwa warna raven memang sangat cocok dengan silver.
Akhirnya mereka bertiga pergi makan di restoran yang ada di hotel itu. Ichigo duduk di sebelah Rukia dan Gin duduk berhadapan mereka berdua, lebih tepatnya di hadapan Rukia.
"Aku ingin makan es krim" pinta Rukia ketika pelayan menanyakan apa tambahan yang diinginkan ketiga orang ini.
"Itu saja bu direktur?" tanya pelayan wanita yang manis itu dan dijawab anggukan oleh Rukia karena Ichigo dan Gin tidak mengajukan tambahan seperti dirinya. Berarti selain dia, pesanan yang awal tetap sama.
"Kenapa malah pesan es krim? Kalau nanti amandelmu kambuh gimana?" protes Ichigo menatap wajah sahabat kecilnya itu yang terlihat sangat tak sabaran menanti es krimnya datang.
"Biar saja.. aku bukan Rukia yang suka sakit-sakitan lagi Ichigo.." renggut Rukia.
"Tapi nanti kalau kau.."
"Amandelnya sudah dioperasi Kurosaki san.." sela Gin memotong bentakan kecil Ichigo pada Rukia. Sontak membuat dua insan di hadapannya ini memandang Gin yang melipat tangan di depan dada dan tengah memandang kaca di samping kirinya.
Gin mengalihkan pandangannya dari kegiatan yang terjadi di balik kaca pada tatapan heran pria yang menjadi saingannya ini. "Apa kau tidak tahu?" dengus Gin dengan seringaian yang semakin lebar, menghantarkan sinyal pada Ichigo bahwa saat ini dia sedang diejek.
"Yah, tidak mungkin juga semua hal harus diceritakan oleh Rukia kan?" mendapati Ichigo yang hanya terdiam dengan pertanyaan awalnya, Gin berusaha menyimpulkan. Dan hal itu berhasil membuat kerutan di dahi Ichigo semakin bertambah menahan emosi pada pria rubah di hadapannya ini. Rukia merasakan suasana tidak enak dari kedua pria ini. Membuatnya salah tingkah.
"Ah, aku ke toilet dulu" ujar Rukia gelagapan. Setidaknya dia ingin keluar dari suasana tegang ini.
Hening sesaat setelah kepergian Rukia ke toilet. Ichigo masih setia menatap geram sosok pria yang terlihat cuek dan santai di hadapannya ini.
"Sepertinya kau tahu sekali tentang Rukia melebihi aku ya.." tebak Ichigo menekankan setiap kata yang diucapkannya lalu menyandarkan punggungnya.
"Yah, semuanya.. luar dan dalam" jawab Gin tak mau kalah digertak oleh Ichigo. Dia juga melakukan penekanan pada kata-kata terakhirnya.
"Lalu apa yang akan kau lakukan? Besok aku dan Rukia akan menikah.. sayang sekali ya, belum sempat menjalin asmara, Rukia harus menjadi Istriku.."
"Heh, aku tidak mempermasalahkan hal itu. Aku akan menunggu sampai kalian menyudahi permainan ini Ku-ro-sa-ki san" seperti anak kecil yang baru pandai membaca, Gin mengeja nama Ichigo berharap pria itu bisa merasakan rasa tidak sukanya pada nama itu.
"Jangan panggil aku Kurosaki san terus, kau terlalu formal.. panggil saja aku Ichigo sama seperti kau mengeja nama Rukia dengan sangat akrab. Toh aku akan menjadi suami sahabatmu.." balas Ichigo tidak mau kalah dalam perdebatan sengit ini.
"Heh.. aku tidak habis pikir dengan sikapmu. Sudah mengatakan mencintai gadis lain, tanpa rasa malu kau membanggakan diri akan menjadi suami Rukia.."
"Yah, itu sih terserah kau saja.. semakin dalam kau menyakiti Rukia semakin mendatangkan untung bagiku. Dan di saat itu aku akan mengikatnya dengan rasa cintaku. Akan kubuat dia benar-benar membencimu.." ujar Gin bertubi-tubi menyudutkan Ichigo. Tanpa seringai, dia menatap tajam Ichigo dengan mata birunya yang terlihat akan melahap pria yang tidak berkutik di hadapannya ini.
Akhirnya Rukia kembali dari toilet dan duduk di sebelah Ichigo yang terlihat kesal. Persis seperti di rumah tadi, wajahnya seperti orang yang sedang menahan sakit parah. Lalu dipandangnya Gin yang terlihat santai memasang seringainya seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Mereka bergelut dengan perasaan dan pikiran masing-masing. Seolah tidak menyadari bahwa esok adalah hari Ichigo dan Rukia akan mengikat janji. Bukan sebagai awal kebahagiaan yang selalu didambakan pasangan suami istri, tapi awal dari kebohongan berentet yang harus mereka jalani. Membohongi keluarga, orang lain, maupun perasaan sendiri, terombang-ambing dalam takdir Tuhan yang terasa sangat mempermainkan hati mereka.
TBC
arigatou minna san..
tetap dukung author ini ya ;D
mohon maaf atas segala kesalahan..
thanks to reviewers: akari san, wakamiya san, shizu san, seli1 san, fumiko san, kairi san.
and thanks to reader yang belum sempat nge review :)
sekali lagi onegai minna san REVIEW... ;D
