Disclaimer: Bleach always belong to Tite Kubo sama ^_^
Chapter 5: Hanya Kau yang Mengerti Aku
Hari yang dinantikan pun tiba. Hari dimana Ichigo dan Rukia mengikat janji setia sebagai pasangan suami istri. Saat ini Ichigo berdiri mantap di depan altar menunggu pengantin wanita yang entah mengapa kembali menimbulkan gejolak aneh di dadanya. Rukia berjalan anggun sambil digandeng oleh Ukitake. Dia terlihat sangat indah dalam balutan gaun putihnya, sanggup membuat jantung Ichigo berdebar kencang. Debaran apa ini? dia benar-benar gugup mendapati langkah Rukia yang semakin mendekatinya.
Ichigo memantapkan hati lalu dengan senyuman lembut dia menggapai jemari Rukia mendekatinya.
DEG.. DEG.. DEG
'Ya ampun, mudah-mudahan tidak ada yang mendengar detak jantungku.'
Tanpa mengulur waktu, pendeta memulai upacara sakral ini. Meski agak gugup menjawab, tapi Ichigo telah terikat tali pernikahan seiring mereka mengucapkan 'Ya, aku bersedia'
"Dengan begini kalian sah menjadi pasangan suami istri. Tuan Kurosaki, anda boleh mencium pengantin wanitanya.." Ucapan pendeta yang sukses membuat Ichigo bergetar hebat. Dipandanginya Rukia yang terlihat pasrah menatap mata coklatnya. Bolehkah dia mengartikan tatapan istrinya ini mengatakan 'Lakukan saja..'
Dengan segenap keberanian dia mendekatkan wajahnya mendekati wajah Rukia dan seketika wangi lavender kesukaannya itu menyeruak masuk memenuhi indra penciumannya. Tangan kanannya membelai lembut pipi Rukia sedangkan tangan kirinya memegang erat tangan si istri, seolah takut dia akan melarikan diri.
CUP..
Bibir dan bibir pun saling bertemu. Walau keduanya sama-sama gugup, tapi kenikmatan ciuman ini membuyarkan sejenak kegugupan itu. Ichigo sangat menikmatinya. Bibir Rukia manis, seperti rasa cherry. Ciuman yang awalnya hanya berupa tempelan bibir saja mulai membangunkan insting Ichigo secara mendadak. Terpikat dengan rasa manis dari bibir Rukia, dia menjilati bibir itu dengan lidahnya. Sontak Rukia membuka mulutnya ingin protes.
Bingo, tindakan Rukia itu sukses membuat Ichigo melesakkan lidahnya masuk ke dalam mulut istrinya itu. Dengan lembut Ichigo membelai lidah Rukia dan setiap sudut di dalam mulut yang memberikan sensasi manis itu. Manis apa ini? Apa Rukia makan permen sebelumnya? Terserah sih, yang penting sekarang rasa manis, wangi lavender, dan desahan Rukia berhasil membuatnya semakin menikmati ciuman ini. Tangan yang bertengger di pipi tadi bergerak gerilya menekan lembut kepala Rukia agar semakin dalam menciumnya. Sedangkan tangan kirinya bergelayut manja melingkari pinggang Rukia, menarik si istri semakin mendekat padanya. Benar-benar memabukkan, seakan dia sedang melakukan ciuman pertama. Tapi yah, mau dikata apa lagi, memang ini adalah ciuman pertama bagi Ichigo dan Rukia.
Kesal dengan Ichigo yang tidak mengerti dengan desahan yang dikeluarkannya, Rukia menggeliat dari pelukan Ichigo untuk menyadarkan pria yang terbawa nafsu di hadapannya ini bahwa desahannya tadi mengatakan 'Hentikan Ichigo..'.
Akan tetapi Ichigo seperti tidak mau tahu dengan penolakan Rukia, dia masih menutup matanya menyesapi kenikmatan yang sedang dirasakannya. Geram dengan tindakan Ichigo yang semakin intens menciumnya, Rukia menggigit lidah Ichigo yang dari tadi menjelajahi rongga mulutnya. Sontak Ichigo meringis kesakitan dan melepaskan pelukannya sambil menutupi mulutnya yang menjalarkan rasa sakit, perih..
"Rasakan kau, dasar hidung belang.." Bentak Rukia dengan nada suara pelan sambil mengusap bibirnya sekalian menutupi semburat merah di pipinya karena ciuman tadi.
"Anda agresif sekali tuan Kurosaki.." sela pendeta berkacamata itu sesaat sebelum Ichigo ingin membalas ejekan Rukia. Hal itu sontak membuat Ichigo terkesiap, mendadak wajahnya langsung memerah seperti kepiting rebus.
"Sebaiknya anda lanjutkan di rumah saja, jangan disini. Lihatlah para undangan, anda membuat mereka semua terpana melihat ciuman hot dari pasangan Kurosaki yang baru.." tambah pendeta itu lagi dengan kerlingan jahil pada pasangan suami istri dihadapannya ini.
Ichigo dan Rukia memandang secara bersamaan para undangan tertawa secara serempak, seperti paduan suara saja. Mereka tertawa menanggapi ucapan pendeta yang menggoda pasangan muda di hadapannya itu.
Tanpa mereka sadari, ada sebagian orang yang bergelut dengan pikiran masing-masing. Sakit, perih, dan cemburu melihat orang yang dicintai berciuman sangat mesra. Seakan-akan pernikahan itu akan bertahan selamanya, tidak seperti yang mereka sepakati.
Ya, siapa lagi kalau bukan Gin Ichimaru yang duduk menahan amarah di sebelah Matsumoto Rangiku. Tidak ada lagi seringai yang biasanya menutupi apa yang dirasakannya, yang ada hanyalah tatapan sendu. Lalu Orihime menatap Ichigo dengan mata berkaca-kaca. Rasanya perih sekali melihat pria yang dicintainya itu berwajah kikuk sambil sekali-kali melirik Rukia. Harus diakuinya, mereka tidak pernah ciuman selama pacaran. Apakah karena hubungan mereka yang baru berumur 1 tahun atau memang Ichigo tidak ingin melakukan 'itu' dengannya?
Akhirnya Ichigo dan Rukia bisa lepas dari cengkraman para bapak-bapak dan ibu-ibu rekan kerja sekaligus sahabat keluarga besar mereka. Capek sekali menanggapi pertanyaan iseng orang-orang tua itu. Pertanyaan yang sama selalu dilontarkan, walau dari orang yang berbeda.
"Kapan mau punya anak?"
"Yah, secepatnya.." Jawab Ichigo dan Rukia tersenyum semanis mungkin.
"Selamat ya Rukia." Ucapan Rangiku mendekati pasangan suami istri yang terlihat lelah keluar dari sarang bapak-bapak dan ibu-ibu tadi.
Sontak Rukia memalingkan wajah ke sumber suara. Dia mendapati Rangiku yang diiringi Gin di belakangnya.
"Ah, iya. Trims Ran chan."
Sesekali dia melirik Gin yang menyeringai lebar menatapnya. Membuat Rukia tidak bisa membaca apa yang sedang dirasakan pria itu.
"Bolehkah aku mengajak istrimu berdansa Ichigo?" tanya Gin agak menekan, sehingga lebih terdengar sebagai paksaan dari pada permintaan.
"Hm.. boleh.." Jawab Ichigo agak ragu sesekali melihat Rukia. Dia ingin menolak dan mengajak Rukia hanya berdansa dengannya, tapi sosok Orihime yang berdiri sendirian di antara para tamu mampu membuatnya menahan diri untuk tidak melakukannya saat ini.
Dengan cekatan Gin mengulurkan tangannya ke hadapan Rukia "Shall we dance?"
Tak perlu menjawab, genggaman tangan Rukia sudah mengisyaratkan bahwa dia ingin juga berdansa dengan Gin. Sesaat Rukia menyambut uluran tangannya, Gin menghentakkan tubuh Rukia membentur tubuhnya. Mereka pun bergerak seiring dengan irama lagu yang sedang mengalun.
"Orihime.." Sapa Ichigo pada gadis di hadapannya itu.
Orihime menatap sendu Ichigo yang berdiri beberapa senti dihadapannya ini. Sekuat tenaga dia berusaha meredam gejolak perasaan yang sedang dirasakannya saat ini.
"Selamat ya Kurosaki Kun"
"Jangan memaksakan diri.. aku benar-benar minta maaf" Ichigo tidak sanggup menatap mata berkaca-kaca di hadapannya ini. Dia menundukkan kepalanya berharap gadis ini mengerti untuk tidak berwajah seperti itu.
"Bagaimana kalau kita berdansa Kurosaki Kun?"
Ichigo menangkap senyuman lembut dari bibir Orihime. Dia tersenyum lega melihat kekuatan hati Orihime yang masih bisa bersabar terhadap hal yang dilakukannya.
"Aku sakit hati.." Ujar Gin tiba-tiba di dekat telinga Rukia memecah keheningan antara mereka berdua.
Rukia menatap pria yang masih memasang seringai di wajahnya itu. Seakan tidak mengerti apa yang harus disimpulkannya. Seriuskah ia atau Cuma ingin menggoda Rukia seperti biasanya?
"Narkoba itu racun kan? Tapi setiap kali kita memakainya pasti akan ketagihan dan tak ingin lepas. Padahal resikonya sangat mematikan.." Ujar Gin memandang Rukia yang tidak mau memulai angkat bicara dari tadi. Gadis itu mengernyitkan dahinya menandakan ketidakpahaman akan maksud ucapan Gin
"Wangimu.. seperti racun itu. Sangat menyesakkan dada. Tapi membuatku ingin memilikinya lebih dan lebih lagi, tidak ingin membaginya dengan yang lain.." Lirih Gin sambil mendekatkan hidungnya pada tengkuk Rukia yang terbuka, seakan tidak peduli dengan apa tanggapan orang.
"Tolong beri aku penawar racunnya Rukia.." bibir Gin bergetar di kulit Rukia, menjalarkan sensasi geli padanya. Suara itu terdengar sangat lirih mampu menyayat hati orang yang mendengarnya.
"… Maafkan aku Gin" Hanya itu yang sanggup diucapkan Rukia pada sahabatnya ini. Dia membenamkan kepalanya di dada bidang Gin. Berusaha mendengar lantunan jantung pasangan dansanya yang bergetar hebat setelah ucapannya tadi.
Mereka terdiam dan tetap mendekap satu sama lain. Melangkah teratur mengikuti lantunan lagu. Tidak peduli dengan tatapan heran orang yang mendapati aura tak ingin melepas dari pria jangkung yang sedang menguasai Rukia ini. Tanpa mereka sadari, sepasang mata musim gugur menatap kesal pada mereka.
"Kurosaki kun.. ada apa?" Tanya Orihime membelai lembut pipi Ichigo lalu mengarahkan tatapan mata pria yang dicintainya itu untuk memandangnya.
"Ah, tidak apa-apa.."
Orihime menghela nafas mendapati Ichigo yang gelagapan menjawab pertanyaannya. Diliriknya pasangan yang dari tadi jadi pusat perhatiannya, Gin dan Rukia yang masih tetap saling menyandarkan kepalanya masing-masing di tubuh pasangannya.
"Jangan terlalu lama melanjutkan pernikahan ini Kurosaki kun. Kau tahu kan betapa perihnya hatiku melihatmu menikah tadi? Aku benar-benar hancur.." Lirih Orihime menyandarkan kepalanya di dada Ichigo yang sedari tadi terlihat dingin untuknya.
"Maafkan aku Hime, maaf aku telah menyakitimu.." Balas Ichigo setelah berpikir sejenak tindakan apa yang sebaiknya dia berikan pada gadis di pelukannya ini. Dia menopangkan dagunya di atas kepala Orihime.
Perasaan apa ini? Ichigo tahu kalau pernikahan ini hanya sementara dan dia akan menjemput gadis dalam pelukannya ini untuk hidup bersamanya. Tapi memikirkan Rukia yang akan diceraikannya dan hidup dengan lelaki lain, sanggup membuat rencana awal tergoyahkan. Benar-benar dilema yang sangat besar, sanggup menyesakkan dadanya untuk mengakui bahwa hatinya yang telah lama tertutup akan kenangan tentang Rukia, seakan saat ini sedang dirangsang untuk hidup lagi. Mampu mengalahkan cahaya cintanya pada Orihime. Apakah dia memang pria brengsek yang suka melupakan cinta seenaknya dan jatuh cinta juga semaunya? Dia benar-benar tidak tahu. Apakah ini kutukan Tuhan karena dia telah mengkhianati cinta pertamanya?
Memang terlihat aneh. Saat ini pasangan dansa yang menjadi pusat perhatian adalah si istri yang tetap tenang dalam dekapan intens pria tampan berambut silver dan si suami yang terlihat sangat lembut berdansa dengan seorang gadis bak model dalam dekapannya. Entah sihir apa yang mereka pancarkan sehingga orang-orang dalam ruangan seakan mengerti dan tak mau mengganggu.
'Mungkin teman dekat, biasa saja kan? Melepas sahabat yang selalu bersama dan sekarang harus menjalani hidup dengan pasangan masing-masing dengan berdansa seperti itu..'
Matsumoto Rangiku menatap sosok Gin dan Rukia dengan sudut matanya. Rasanya saat ini dadanya bergemuruh melihat pemandangan itu. Perasaan apa ini? Apakah ini yang namanya kasihan? Dia kasihan pada sosok Gin yang terlihat sangat rapuh saat ini, sangat jarang menjadi tontonanya. Ingin sekai dia menarik Gin menjauh dari Rukia dan melakukan sesuatu yang bisa membuatnya melupakan istri orang itu. Tapi apa yang harus dilakukannya? Kalau ternyata Gin malah memilih penenang dengan cara seperti 'itu' sebagai obat pilu hatinya. Rangiku meneguk kasar minuman di tangannya lalu beranjak meninggalkan ruangan yang baginya berubah menjadi sempit sekali. Membuatnya susah bernapas. Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, dia menuju pintu ruangan yang akan menuntunnya keluar dari pesta menyebalkan ini.
####
"Ah, segarnya.." ujar Rukia keluar dari kamar mandi hanya menggunakan pakaian handuk berwarna biru bergambarkan kelinci di salah satu sisinya.
Ichigo yang duduk di sofa sambil memandang TV melirik dengan sudut matanya sosok gadis, si cinta pertama yang sudah menjadi istrinya sekarang itu. Si gadis terlihat sangat santai berjalan-jalan dengan baju handuknya mendekati lemari es di rumah baru mereka.
Ya, mereka meminta pada keluarganya agar diperbolehkan tinggal diluar kediaman Kurosaki ataupun Kuchiki dengan alasan agar mereka bisa menjalani awal-awal pernikahan ini hanya berdua saja. Bak gayung bersambut, Aizen dan Yamamoto langsung menyetujui permintaan itu tanpa mendengarkan keluhan Byakuya dan Ukitake, si Rukia complex. Asalkan Rukia dan Ichigo merasa tenang 'membuat anak' dan memberikan cicit untuk mereka, apapun akan mereka kabulkan.. ckckck dasar kakek-kakek hidung belang.
Lalu bagi Rukia dan Ichigo? Tentu saja itu merupakan kesempatan yang bagus agar tidak ada seorangpun yang merasa aneh dengan sandiwara pernikahan mereka.
Rukia mendekati Ichigo dengan santai sambil meneguk minuman kalengnya. Suaminya itu sudah mandi dan sekarang dia mengenakan kaus yang menampakkan tubuh sixpacknya dipadupadankan dengan celana jeans pendek sampai lutut.
Ichigo yang mendapati wangi Rukia semakin tajam memaksa masuk ke rongga hidungnya menjadi berdebar-debar aneh. Entah wangi apa itu, shampo atau sabunkah? Dengan sekuat tenaga Ichigo berusaha menatap Rukia yang sedang berkacak pinggang sambil sesekali meneguk minumannya. Istrinya itu terlihat santai sekali memandang tayangan di TV tanpa mengacuhkan tatapan intens Ichigo yang mulai bergerilya menyusuri lekuk tubuh Rukia dari baju mandi itu.
'Apa dia tidak menganggapku pria ya? Kok santai sekali sih?' Ichigo membatin.
Rukia menuang paksa sisa-sisa minuman itu dan beranjak meninggalkan Ichigo dan tatapannya. Sontak Ichigo menggenggam tangan Rukia, menahan untuk pergi dari pandangannya.
"Kau mau kemana?"
Rukia mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan Ichigo.
"Tentu saja ingin ke kamar.. aku mau tidur, capek.."
Ichigo memegang poni basah Rukia yang terlihat sedang berperan mempercantik pemandangan wajah istrinya itu.
"Kau ingin tidur dengan rambut basah?"
"Kalau nanti sakit gimana?"
Rasa perhatian Ichigo saat ini sanggup membungkam Rukia dan terpana akan tindakannya itu. Tanpa sepatah kata, Ichigo beranjak meninggalkan Rukia yang terbengong. Tak lama kemudian pria itu datang lagi membawa sebuah handuk kecil. Dia menarik tangan Rukia untuk duduk dengannya di sofa.
"Kau selalu saja seperti ini, paling malas mengeringkan rambutmu.." Oceh Ichigo seperti seorang ibu-ibu yang menceramahi anaknya. Dia mengelap rambut basah Rukia dengan sangat lembut.
"Yah, mengeringkan rambut itu melelahkan tangan Ichigo.." rengek Rukia dengan kepala tertunduk membiarkan suaminya itu mengelap setiap sudut rambutnya.
"Tak juga berubah.. dulu kau juga sering begitu sampai demam,"
"Hehe, aku ingat sejak saat itu kau selalu datang mengelap rambutku.."
"Ck, setelah kupikir-pikir bodoh juga aku berubah jadi pahlwan pengelap rambutmu. Makanya sekalian saja gunduli kepalamu ini biar ga susah di elap sekalian." Ejek Ichigo sambil menekan kepala Rukia semakin menunduk.
"Botak saja kau kepala jeruk" Bentak Rukia menepuk kuat belakang kepala Ichigo.
Mereka tertawa sejenak mengenang masa lalu yang indah itu. Seperti sebuah cerita pengantar tidur yang indah dan menenangkan.
"Eh, Ichigo, kita nonton film yuk.." Ajak Rukia tiba-tiba mendongakkan kepalanya bermaskud menatap wajah Ichigo.
"Aduh!" rintih Ichigo memegang dagunya yang sukses dihantam keras puncak kepala Rukia. Keduanya sama-sama meringis kesakitan.
"Hati-hati dong Rukia, jangan mendongak secara mendadak begitu."
"Kau sih, siapa suruh kepalamu dekat sekali dengan kepalaku.." Bentak Rukia tidak mau kalah dengan bentakan Ichigo yang masih meringis kesakitan.
Ichigo tidak sanggup menjawab karena tiba-tiba saja wajahnya memerah mengingat apa yang dilakukannya tadi. Menghirup wangi shampo Rukia yang lembut. Maka tanpa sadar kepalanya bergerak sangat dekat dengan kepala Rukia.
"Ayo.. memangnya mau nonton apa?" tanya Ichigo mengalihkan arah pembicaraan.
"Kita beli saja kaset. Ada toko kaset di sekitar daerah ini,"
"Baiklah"
Pernyataan setuju Ichigo itu disambut baik oleh Rukia, dia beranjak dengan riang ke kamarnya. Ralat, bukan kamar'nya' tapi kamar 'mereka'. Di rumah yang bisa disebut bergaya minimalis ini hanya memiliki satu kamar. Mana mungkin Aizen dan Yamamoto membelikan rumah yang banyak kamarnya? Bisa sajakan mereka malah tidak akan tidur bersama dan rencana mendapat cicit dengan cepat tidak akan tercapai. Ichigo dan Rukia tidak bisa menolak, malah akan membuat mereka semakin dicurigai kalau minta yang macam-macam.
####
"Aku ingin nonton film ini.."
"Aku tidak mau, yang ini saja!" bentak Ichigo pada istrinya yang tidak mau mengalah mempertahankan kaset bergenre horor yang dilihat dari sampulnya saja bisa dipastikan kaset itu mengerikan sekali.
"Oh ayo lah Ichigo.. jangan bilang selama 15 tahun ini kau masih takut nonton film horor.." Goda Rukia menyikut-nyikut lambat perut Ichigo yang berhasil menimbulkan semburat merah di pipinya.
"Tidak, aku tidak takut.." Ujarnya mempertahankan harga diri sebagai lelaki yang mana mungkin ketakutan menonton film horor.
"Ya, kau takut."
"Tidak."
"Iya."
"Sebaiknya anda membeli kedua kaset itu atau silakan pergi saja dari sini." Ucap seorang penjaga toko kaset itu memberikan deathglare terbaiknya untuk melerai percekcokan pasangan yang menarik perhatian semua pengunjung disana. Terlalu ribut!
"Ah ya.. maaf" Sahut Rukia dan Ichigo bersamaan dan langsung terdiam karena bentakan tadi.
Mereka manggut-manggut berjalan ke kasir memegang kaset yang ingin dibeli, kaset horor dan action.
Kasir itu tersenyum melihat pasangan di depannya.
"Ternyata pasangan Kurosaki itu lucu ya" ucapnya tersenyum sambil menyerahkan bungkusan berisi kaset-kaset tadi.
Ichigo dan Rukia saling berpandangan. Mereka saling memberikan tatapan darimana gadis kasir itu tahu tentang mereka? Yah, terserah saja lah. Ichigo dan Rukia malah tersenyum geli mendengar komentar itu.
"Terima kasih" ucap Ichigo sangat manis dan berhasil membuat gadis kasir itu terpana dengan senyuman bak pangeran dari seorang Ichigo Kurosaki.
####
Terkutuklah semua sutradara dan pecinta film horor.
Mengapa masih ada orang yang sanggup melihat film semengerikan ini? Tidakkah mereka merasa takut? Setidaknya beri Ichigo alasan mengapa saat ini dia terlihat seperti orang yang sekarat menahan sakit parah. Kedua matanya melotot, tangan dan kaki yang tegang, serta peluh yang bercucuran. Ingin rasanya dia berteriak, tapi malu dong. Masa dia berteriak sedangkan Rukia hanya manyun-manyun menontonnya. Apa sih yang ada dipikirannya? Apa dia sudah sering melihat makhluk yang bernama hantu atau sejenisnya sampai-sampai kemunculannya yang mendadak tidak mengejutkan gadis mungil di sampingnya ini?
"Hoahm.. aku mau tidur," Ucap Rukia sambil menutup mulutnya yang menguap lebar dan sesekali melirik jam yang sudah menunjukkan pukul tiga dini hari.
"Tunggu.." Ucap Ichigo yang terdengar seperti teriakan kecil sambil menahan kedua bahu Rukia dan mendudukkannya kembali.
"Heh, takut ya?" Dengus Rukia mendorong-dorong dada bidang pria yang bergetar itu dengan telunjuk mungilnya.
"Tidak.. aku hanya.."
"Takut"
"Tidak"
"Dasar penakut.." Balas Rukia seakan tidak mau mendengar pembelaan diri Ichigo. Kegeraman Ichigo pada kejahilan istrinya itu membuatnya mendorong tubuh Rukia sehingga terhempas ke sofa.
"Jangan menggodaku Rukia!" bentak Ichigo menahan kedua tangan Rukia dan memenjarakan kaki gadis yang tak berkutik di bawahnya itu di antara kakinya.
"Dasar pe-na-kut" Goda Rukia tak gentar menghadapi tatapan memaksa Ichigo.
"Jangan memancingku Rukia, atau aku akan membungkammu?"
"Bungkam saja, aku tidak takut.." Ucap Rukia memalingkan wajahnya ke arah kiri, lalu menatap Ichigo lagi dengan tatapan mengejek. "Tuan Penakut.."
Ctes.. seketika urat kesabaran Ichigo putus. Dia menatap Rukia sejenak lalu mendekatkan wajahnya pada Rukia yang entah mengapa terlihat tak gentar.
Cup..
Inilah bungkaman yang dimaksud Ichigo, dia mendaratkan kecupan lembutnya pada bibir Rukia. Sukses membuat Rukia terbelalak. Ciuman itu tidak terlalu lama dan tidak terlalu singkat. Ichigo melepas ciumannya yang berani itu lalu menatap wajah Rukia yang memerah.
"Sepertinya sekarang aku tahu cara membungkammu.." Dengus Ichigo menjauhi wajah Rukia yang terlihat kikuk dan masih dalam shock mode on. Dia duduk lagi secepatnya agar Rukia tidak melihat semburat merah yang juga bertengger indah di wajahnya.
"Sialan kau.." Ucap Rukia mengepal tangannya sekuat tenaga.
"Hentai.." Teriak Rukia lalu menendangkan kaki mungilnya sekuat mungkin ke paha Ichigo.
"Sakit.." Ringis Ichigo mengelus pahanya itu.
"Rasakan saja, kau memang gila.."
Satu bantal sukses melayang ke arah Ichigo yang menjauhi Rukia. Seakan tak mau kalah, Ichigo mengambil bantal sofa yang terlihat menganggur di hadapannya. Dengan balasan lembut, dia memukulkan bantal itu ke arah Rukia. Alhasil acara malam pertama mereka dihabiskan dengan perang bantal, sampai-sampai keadaan ruang keluarga sekaligus tempat menonton TV itu berantakan luar biasa.
Lelah dengan kegiatan perang-perangan yang menguras tenaga itu, Rukia berinisiatif menghentikannya dan diikuti oleh Ichigo. Dia melenggang acuh meninggalkan Ichigo yang masih memasang kuda-kuda pertahanan kalau gadis mungil itu melemparkan barang lain ke arahnya.
"Jangan ikuti aku!" Bentak Rukia pada pria jeruk yang membuatnya naik darah seharian ini.
"Lho, kenapa? Aku juga mau tidur."
"Tidur lah di sofa, masa' kau mau tidur denganku"
"Tidak mau! Kalau kau ga mau tidur denganku, sana. Tidur saja di sofa!" bentak Ichigo tidak merendahkan nada bicaranya.
Rukia terdiam sesaat melihat Ichigo yang tidak juga melemah mempertahankan keinginannya.
"Baiklah" ucap Rukia lalu mengambil bantal dan selimut lalu menghentak-hentakkan kakinya meninggalkan Ichigo yang masih setia berdiri di sampingnya.
Dengan cekatan Ichigo menahan Rukia agar tidak keluar dari kamar. Dia ingin bicara tapi terlihat ragu.
"Kenapa? Kau takut tidur sendirian ya?" Goda Rukia pada suaminya itu.
Tanpa sepatah kata apapun, Ichigo mengambil bantal dan selimut dari tangan Rukia dan meletakannya kembali ke atas kasur. Dengan cekatan dia melingkarkan sebelah tangannya yang kekar pada tubuh mungil Rukia. Menarik gadis itu untuk tidur disebelahnya.
"Temani aku Rukia, kau harus bertanggung jawab!"
"Kalau bukan karena film horor terkutukmu itu, aku takkan seperti ini." Ucap Ichigo sambil menyentil dahi Rukia yang berhadapan dengan wajahnya.
Rukia terpana, tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini hatinya berdentum dengan kuat dan keras. Dengan cepat dia memunggungi Ichigo lalu tersenyum.
"Hehe, kau tidak juga berubah ya"
Ichigo hanya diam lalu membenamkan kepalanya di punggung Rukia. Dia menyesap dalam wangi menghangatkan dari tubuh istrinya itu. Sama seperti 15 tahun yang lalu. Aroma terapi yang sangat menenangkan.
Ingin Rukia memberontak dan melepaskan pelukan Ichigo saat ini. Tapi bolehkah saat ini perasaannya mendominasi pikiran yang selalu merajai setiap tindakannya? Yah, Cuma saat ini saja.
Mereka terlelap. Seakan tidak memikirkan mungkin hal ini malah menambah beban bagi mereka untuk berpisah dikemudian harinya. Menghancurkan hati orang yang sangat mencintai mereka. Dan menghancurkan hati mereka juga.
TBC
hufth.. udah 5 chapter.. *jingkrak-jingkrak kegirangan.
mudah-mudahan minna san semakin suka ea ;D
love u full buat para reviewers dan readers ;-*
dadahhh.. see you in the next chap! XD
