Disclaimer: aku hanya penggemar yg meminjam tokoh buatan Tite Kubo sama

CHAPTER 6: Sepertinya Rasa Ini Semakin Mencekatku

"Ukh.. siapa sih yang ganggu pagi-pagi begini?" Keluh si suami mengucek kasar matanya dan melepaskan pelukan erat dari pinggang si istri yang juga terlihat terganggu karena bunyi bel yang berdendang tak ada jeda.

Dengan langkah gontai, Ichigo beranjak dari kamar untuk membukakan pintu. Dilihatnya Aizen, si kakek sedang berdiri santai membelakangi pintu. Dari belakang saja Ichigo sudah tahu pasti ini adalah kakeknya yang berjiwa muda itu. Bisa dilihat dari postur tubuhnya yang masih bagus dan rambut gelombang coklatnya yang diselingi beberapa uban. Dia membalikkan badan lalu menatap si cucu dengan senyuman sumringah.

Tanpa menunggu Ichigo menyilakannya masuk, Aizen langung saja menorobos masuk ke dalam rumah.

"Dimana Rukia?" tanya Aizen setelah tercenung melihat keadaan ruang nonton TV yang berantakan. Lalu tebak apa yang ada dipikiran si tua yang lumayan mesum itu.

'Wow, permainan apa yang mereka lakukan? Sampai-sampai ruangan ini berantakan?'

"Lho, kakek? Ada apa pagi-pagi ke sini?" Tanya Rukia datang dari kamar sesaat setelah pertanyaannya tadi.

Aizen langsung mengalihkan pandangan pada sosok mungil yang dibalut baju tidur besar dan hanya memakai celana pendek selutut. Ditatapnya sosok itu dari ujung kaki sampai ujung kepala. Bingo, dia mendapat sisi dari tubuh Rukia yang sanggup membuatnya tersenyum mesum. Apa lagi kalau bukan tanda merah yang terpampang menantang di leher putih gadis itu.

"Pagi? Lihatlah jam, sekarang pukul 11, bukan pagi lagi tapi sudah menjelang siang.. ckckck, memangnya jam berapa kalian tidur tadi malam?" Tanya Aizen sambil melirik nakal pada kedua cucunya itu.

"Entahlah, ini gara-gara Rukia yang meminta hal aneh, makanya kami tidur kemalaman.."

"Aneh apanya? Bukannya kau juga setuju?"

Melihat pertengkaran kecil cucunya itu, si kakek tersenyum tambah mesum menganalisa hal yang terjadi tadi malam. Lalu dia menepukkan tangan dan diiringi oleh kedatangan dua orang berjas serta berkacamata hitam membawa bungkusan yang terlihat sangat besar. Mereka menyandarkan bungkusan itu di belakang sofa. Ichigo dan Rukia hanya terbengong-bengon melihat apa yang dibawakan kakeknya ini.

"Ini hadiah untuk pengantin baru.." ujar Aizen seolah menjawab tatapan bingung pasangan suami istri itu.

"Kau memang hebat Ichigo," Tambahnya lagi menepuk pundak Ichigo dengan bangga.

Ichigo yang tidak mengerti malah memandang Rukia berharap istrinya itu mengerti maksud si kakek. Akan tetapi Rukia hanya menggidikkan bahu tanda dia tak mengerti juga. Lalu Aizen dengan lambaian tangannya pergi meninggalkan rumah minimalis yang berantakan itu.

"Ck, gatal.." Keluh Rukia menggaruk-garuk tanda merah di lehernya.

"Ini gara-gara kau, setidaknya hidupkan dulu AC sebelum tidur biar nyamuknya ga masuk kekamar dan menggigitku." Bentak Rukia masih setia menggaruk kesal tanda merah yang ternyata bekas gigitan nyamuk itu.

"Tapi aneh juga ya.. kenapa hanya kau yang digigit? Sedangkan aku mulus-mulus aja tuh" Tanya Ichigo sambil meneliti kira-kira apa isi bungkusan besar itu.

"Mana ku tahu, mungkin karna kau induknya kali! Mana mau nyamuk gigit nyamuk." Celoteh Rukia juga ikut meneliti barang petak besar itu.

"Bodoh, aku bukan induk nyamuk,"

"Eh benar juga ya.. kau kan induk singa.. Auumm" Ejek Rukia sambil melangkah meninggalkan Ichigo.

"Apa?" Ichigo sontak memutar badannya kebelakang untuk menangkap si istri yang mengejeknya itu. Akan tetapi Rukia yang sudah mengambil ancang-ancang ingin lari dari tadi, sudah berlari secepat mungkin menuju kamar mandi lalu menutupnya.

"Midget. Awas kau, pengecut.. malah mengurung diri di kamar mandi" Bentak Ichigo sambil menggedor pintu dengan tangan kirinya dan tangan kanan mencoba memutar kenop pintu berharap bisa terbuka.

"Kau yang pengecut. Nonton film horor aja takut.. dasar ayam, pok pok pok.."

"Midget, kau.."

"Pergi sana! Aku mau mandi" Bentak Rukia yang berhasil membungkam Ichigo. Pria itu terdiam lalu meninggalkan pintu kamar mandi yang sedari tadi ditempelinya. Dia beranjak ke ruangan nonton TV.

"Akh….." Teriakan Rukia berhasil membuat jantung Ichigo hampir pergi meninggalkannya.

"Ada apa?" Tanya Ichigo was-was mendekati kamar mandi.

"Ichigo.. ilermu nempel di punggung bajuku" masih menggunakan nada histerisnya.

Ichigo malah sweetdrop mendengar jawaban Rukia. Dikiranya teriakan histeris itu karena Rukia melihat hantu yang nongol tiba-tiba di kloset, misalnya. Maklumlah, Ichigo butuh waktu yang lama untuk menetralkan pikiran dari film horor yang baru ditontonnya tadi malam dengan Rukia. Dia mendengus beranjak lagi ke ruangan nonton TV. Dengan cekatan dia membersihkannya, si tuan Kurosaki ini adalah pria yang cinta kebersihan.

Mau tahu kenapa si tuan muda ini suka bersih-bersih? Dulu sewaktu kecil, Aizen selalu bilang padanya kalau ingin menjadi suami Rukia dan disetujui oleh keluarga Kuchiki, dia harus menjadi pria yang mandiri dan suka bersih-bersih, karena keluarga Kuchiki terkenal dengan kerapian, kesopanan, dan kebersihannya. Oleh karena mimpinya yang menggebu ingin menjadi suami Rukia itu, dia bertekad akan menjadi pria yang suka kebersihan dan bersih-bersih. Malahan tekad aneh sewaktu kecil itu menjadi kebiasaan sampai saat ini.

Ichigo tersenyum mengenang masa lalu yang bisa dibilang lucu dan aneh itu. Saat ini keinginan si Ichigo kecil sudah terkabul, yaitu menikahi Rukia. Tapi kenapa rasanya tak sama seperti yang pernah dibayangkannya dulu? Rasanya benang merah pernikahan itu belum mengikat erat dia dan Rukia. Seperti masih menggantung di awang-awang. Masih meragukan.

Ichigo menghela nafas panjang jika memikirkan pernikahan ini hanya sekedar main rumah-rumahan. Seandainya dia tidak tergoda ingin mengkhianati Rukia, pastilah tidak akan ada Orihime dan lainnya yang akan tersakiti karena kesalahannya. Yah, seandainya dia bisa lebih tahan godaan untuk tidak melirik wanita lain selain Rukia. Sekarang, dia seakan berdiri di antara dua jurang yang sama-sama kuat menariknya.

Akhirnya ruangan itu kembali bersih seperti sedia kala. Ichigo menatap bungkusan besar tadi lalu membukanya. Setelah terbuka semua, wajahnya malah memerah memandangi apa hadiah yang diberikan si kakek nyentrik.

"Minum.. minum.." Ujar Rukia berlari-lari kecil dari kamar mandi dengan baju handuk kesukaannya ke arah lemari es yang terletak tidak jauh dari sana.

Brushh..

Minuman yang ingin diteguk itu malah menyembur keluar sesaat dia memandangi dinding di atas TV yang sekarang tidak berwarna biru bersih lagi. Di sana terpampang dengan sangat menantangnya foto Ichigo dan Rukia yang sedang berciuman. Foto ciuman hot yang sempat membuat Rukia naik pitam dan menggigit lidah pria berambut jeruk itu.

"Kau kenapa?" Tanya Ichigo santai melirik Rukia yang berpose seperti melihat hantu di siang hari.

Ichigo berjalan santai dari kamar. Ternyata dia sedang membersihkan kamar selagi menunggu Rukia yang lama sekali mandi.

"Oh itu.. itu dia hadiah yang dimaksud kakek.." Seolah mengerti dengan apa yang dipelototi oleh Rukia.

"Kenapa kau letakkan disana?"

"Trus mau diletakkan dimana?"

"Dikamar?"

"Ahaa.. kau ingin memandangnya terus sebelum tidur ya? Ih, dasar mesum," Ucapan Ichigo terhenti seketika karena Rukia menepuk kuat belakang kepalanya.

"Baka.. di ruangan tamu misalnya?"

"Ahaa.. kau mau pamer ya?" Goda Ichigo lagi tidak jera dan berhasil mendapat pukulan telak dari Rukia lagi. Tapi sekarang bukan di kepala tapi satu tendangan di tulang kering, OUCH!

"Sakit tau.. midget, kau ini kasar sekali" Ringis Ichigo mengelus kakinya. Rukia yang emosi menahan amarah berubah melemah dan memikirkan kata-kata Ichigo. Benar juga ya, kalau bukan di sini, dimana lagi? Karena merasa bersalah, Rukia menempelkan botol minuman dinginnya tadi ke kaki Ichigo. Berharap rasa sakit itu bisa membeku karna aura dingin yang menjalar dari botolnya.

"Maafkan aku.. Mandilah sana.. aku mau nyuci baju," saran Rukia berusaha menyembunyikan semburat merah di pipinya.

Ichigo tersenyum lembut. Dia mengerti dengan kekikukkan Rukia melihat foto ciuman mereka, karena tadi dia juga merasakannya.

Hari ini mereka habiskan dengan menata rumah baru itu dan pergi berbelanja barang-barang yang dirasa belum ada. Tanpa terasa langit sudah mulai gelap.

####

"Kau baik-baik saja?" Rangiku yang sudah siap bekerja dengan seragam bartendernya itu melirik Gin yang sedang meneguk minumannya.

"Hm.."

Hanya jawaban singkat itu yang mampu diberikannya. Alhasil, Rangiku menghela nafas. Dia menatap iba pada sosok pria yang seperti anjing kehilangan kasih sayang majikannya itu. Sama dengan perumpamaan yang pernah diucapkannya pada Rukia sebelumnya. Refleks tangannya membelai lembut pipi tirus yang dingin itu. Apakah Cuma dia yang sadar kalau pria ini sekarang semakin kurus?

Gin terkejut mendapat sentuhan lembut nan hangat yang mengalir dari telapak tangan Rangiku. Dia melebarkan matanya, memperlihatkan ketidakmengertiannya. Sedangkan Rangiku? Jangan tanya, dia juga tidak mengerti dengan tindakannya saat ini. apa yang harus dilakukannya? Saat ini mata biru yang sangat jarang dilihatnya itu memancarkan cahaya yang mampu memikatnya. Tapi jangan sebut dia Rangiku kalau situasi ini saja tidak bisa dikendalikannya. Dengan cepat dia memindahkan tangan itu lalu berubah menjadi sentilan kuat pada dahi Gin.

"Kau seperti orang mau mati saja.. mana seringaianmu itu?" Cibir Rangiku pada pria yang sedang meringis kesakitan sambil mengelus dahinya itu.

"Kau tidak pantas berwajah seperti itu.." Lirih Rangiku membelakangi Gin. Bersikap seolah dia sedang disibukkan pekerjaan untuk menutupi raut wajahnya yang sangat sedih saat ini.

"Boleh aku minta segelas wine?" Seorang gadis berambut panjang hampir sewarna dengan Rangiku duduk dengan mantap di sebelah Gin.

Sontak Gin dan Rangiku menatap sumber suara itu secara bersamaan.

"Ah, kalian temannya Rukia Kuchiki kan?" Tebaknya sambil menepukkan tangan.

"Ups salah.. bukan Rukia Kuchiki lagi, tapi Rukia Kurosaki," Tambahnya lagi berusaha kuat melafalkan nama itu.

"Ano, kita pernah bertemu di pesta pernikahan Ichigo dan Rukia kan?" Tetap bersikukuh agar kedua orang itu bisa ingat siapa dia.

"Tentu saja ingat, kau pacarnya si tuan Kurosaki itu kan?" Tebak Gin diselingi dengusan mengejeknya lalu mengalihkan pandangannya ke arah counter.

"Apa? Kau pacarnya?" Tanya Rangiku setengah berteriak karena tidak percaya. Brengsek juga si Ichigo mau mengkhianati Rukia.

"Masa kau tidak tahu Ran? Si Ichigo dengan Rukia itu kan sekarang hanya main rumah-rumahan. Karena pria jeruk itu sudah mencintai nona ini.." Sela Gin karena tidak mendapati jawaban dari gadis yang duduk disampingnya itu.

"Lalu, apakah keluarga mereka tahu juga dengan hal ini?"

"Tidak. Hanya aku, kau dan nona ini," Jawab Gin santai lalu meneguk minumannya.

Saat ini tidak ada yang sanggup berbicara lagi. Semuanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Sampailah saat dimana kedua orang yang sedang jadi bahan pembicaraan datang membuka pintu club yang terbuat dari kaca itu. Gin, Rangiku, dan Orihime secara serempak menatap kedatangan pasangan suami istri itu.

"Ran chan, Gin.." Teriak Rukia sambil melambai kegirangan dari kejauhan mendapati sosok sahabatnya itu.

Mau tak mau Ichigo juga melihat kearah Rukia menatap dan melambai. Lalu apa yang didapatnya? Dia seperti sedang tersambar petir mendapati seorang gadis yang entah mengapa sanggup membuatnya tercekat. Untuk melafalkan namanya saja dia tidak sanggup.

Rukia dan Ichigo beranjak mendekati meja counter yang berubah menjadi tempat paling menegangkan baginya. Apa yang harus dilakukannya? Hancur sudah rencana awal yang bermaksud ingin memanas-manasi pria berambut perak dengan seringai kebencian Ichigo itu.

"Yo, Orihime," Sapa Ichigo berusaha terdengar biasa.

Rukia yang masih setia berdiri disebelah Ichigo sontak menolehkan wajahnya menatap suaminya. Lalu ditatapnya sosok gadis yang bernama Orihime itu. Tubuhnya yang langsing berisi, posturnya yang tinggi, wajah yang cantik, dan rambut panjang yang tergerai indah itu mampu membuat Rukia merasa minder. Sangat berbeda dengannya. Tak ayal Ichigo bisa tergoda dengan gadis secantik model ini. Toh dia juga pria normal yang akan lebih memilih gadis cantik itu daripada dia, gadis yang hanya beruntung lahir sebagai keluarga Kuchiki.

"Kenapa kau bisa ada disini?" Tanya Ichigo mengambil tempat duduk di sebelah kiri Orihime karena sebelah kanan sudah dikuasai oleh Gin.

Rukia tidak tahu harus bagaimana. Dia masih sibuk dengan pikirannya sampai sebuah genggaman lembut membuyarkan lamunannya. Ya, itu adalah genggaman Gin yang selalu menjalarkan ketenangan pada hati gundahnya. Dia menuruti ajakan Gin untuk duduk di sebelah kananya, terpisah jauh dari Ichigo.

"Cuma ingin minum-minum di club Rukia san saja. Tak kusangka bisa bertemu denganmu di sini Kurosaki kun," Jawab Orihime memasang senyuman manisnya.

"Wah, kalian seperti ada ikatan batin yang kuat saja. Bisa saling bertemu dimana saja tanpa harus saling memberi informasi," Ujar Gin meletakkan gelas minuman yang ada di tangan kirinya. Lalu memasang seringai andalannya.

"Sungguh pasangan yang sangat cocok," Tambahnya lagi. Tangan kanannya yang sedari tadi tidak melepas tangang Rukia, sekarang mendapat balasan. Rukia menggenggam erat secara reflek tangan Gin seakan ingin menyampaikan bahwa dia takut mendengar tanggapan Ichigo terhadap perkataan Gin.

Ichigo hanya diam dan geram dengan sikap Gin. Dia mencari-cari celah untuk melihat ekspresi Rukia saat ini. Tapi sangat disayangkan. Tubuh Gin sanggup menutupi istrinya yang mungil itu dari jangkauannya. Sedangkan Rangiku, dia hanya geleng-geleng pasrah melihat pertunjukan drama di hadapannya ini. Menjadi penonton yang baik dan tidak terlibat dengan atmosfer ini adalah tindakan terbaik.

"Ayo kita tampil Gin," Ajak Rukia ingin menarik Gin keluar dari ketegangan ini.

"Tapi aku capek Rukia.." Rengek Gin mempertahankan posisinya dan Rukia tetap duduk di depan counter.

"Ini gara-gara pernikahanmu. Menyita waktu istirahatku karena menggantikan pekerjaanmu ibu direktur," tambahnya lagi bergelayut manja pada Rukia. Gin melingkarkan tangan kanannya tadi dileher Rukia dan menggesek lembut pipinya diatas puncak kepala Rukia.

Tindakan Gin berhasil membuat Ichigo geram. Berani sekali pria rubah itu di depan matanya bergelayut manja pada istrinya. Ingin sekali dia menonjok kuat pria jangkung itu dan melepaskan tangannya dari si istri lalu berkata, 'Lepaskan tanganmu brengsek, dia istriku'. Tapi apa yang harus dilakukannya kalau nanti Orihime cemburu dan sedih karena tindakannya itu?

"Trims Gin.. kau memang selalu bisa diandalkan," Balas Rukia yang tidak risih dengan sikap manja Gin itu. Dibelainya dengan lembut rambut keperakan Gin. Rukia mulai mengerti arah permainan Gin dan mengikutinya. Seakan saat ini Gin berpesan lewat sikapnya pada Rukia untuk mengabaikan Ichigo dan kekasih sempurnanya itu dan bersikap seolah dia tidak peduli dengan rasa perih yang menjalari hatinya.

Tak lama kemudian Rukia menarik tangan Gin dengan paksaan ke arah panggung, bermaksud menggantikan penyanyi yang sedari tadi mengalunkan lagu-lagu indah. Ichigo semakin geram mendapati Gin melirik dengan penuh ejekan kearahnya. Dari sorotan matanya tergambar rasa kemenangan yang besar sekali.

Tanpa sadar, Ichigo mengepalkan tangannya dengan kuat. Rasanya seperti kerampokan di depan mata sendiri. Dia seakan menjadi orang yang kalah sebelum bertanding. Rasanya memalukan, menyedihkan, dan menyesakkan sekali. Orihime yang melihat sosok pria yang dicintainya itu seolah tak mengabaikannya, menggenggam erat gelas di tangannya. Seolah mengerti dengan perasaan gadis itu, Rangiku menuangkan tambahan wine kedalam gelasnya.

"Aku suka minum ini kalau sedang patah hati," Kedip Rangiku seolah memberi kekuatan pada gadis yang ingin menangis di hadapannya itu.

Orihime yang merasa mendapati seseorang yang peduli padanya, tersenyum miris lalu menghabiskan wine itu dengan satu kali tegukan. Dia takut mengakui bahwa Ichigo mulai sadar kembali pada perasaan cintanya untuk Rukia. Dia takut mengakui itu.

"Mau nyanyi lagu apa?" Tanya Gin bersiap-siap di depan piano untuk mengiringi nyanyian Rukia.

"You, lagunya Yui.. aku ingin menyanyikannya"

(A/N: coba deh para readers cari lagu YUI dengan judul YOU. Menyentuh :,(. Yuna buatin arti dalam bahasa Indonesianya aja ya ;D)

Aku selalu menunggumu

Meskipun aku tidak mengatakannya

Aku tertawa untuk menutupi secara perlahan hari-hari tak berharga yang kulalui

Dengan mengalaminya saja pun aku hancur

Berawal dari ujung jari, kita berpisah dan menghilang

Selamat tinggal..

Dititik aku bisa melupakanmu

Aku ingin melihat mimpi yang indah

Jika kunyalakan cahaya yang indah seperti ini pun

Kamu tidak bisa menundukkan kepalamu kan?

Banyak sekali hal-hal yang lebih ingin aku ketahui

Ini bukanlah alasan aku menghilang

Aku hanya kembali ketempatku berasal

Aku telah mencintai orang yang berbeda

Karena aku merasa, aku mengerti, aku pun menangis

Selamat tinggal.. di titik aku bisa melupakanmu

Mimpi dan hal indah lainnya tidak ada

Meskipun kunyalakan cahaya indah seperti apapun itu

Aku selalu terhenti di depan cermin

Aku tidak memiliki kepercayaan diri

Setiap orang pun pasti merasakan hal yang sama

Tiba-tiba aku teringat bayangan samping wajahmu

Sampai kapanpun tanpa melupakan dirimu

Aku mencari kelanjutan mimpi ini

Hal yang menakutkan tak akan menghilang

Aku pun telah mengerti..

Kamu tidak bisa menundukkan kepalamu kan?

Sibuk dengan pikiran masing-masing. Menghayati lagu yang dinyanyikan Rukia dengan merdu, mampu membuat tertegun setiap orang. Sangat menghayati. Memukul telak hati setiap orang yang merasa kisahnya sama dengan lagu itu. Sungguh nyanyian yang sangat menyentuh.

Sesaat Rukia menghentikan nyanyiannya pertanda berakhirnya satu buah lagu, tepukan tangan hangat memecah keheningan yang tercipta dari tadi. Rukia tersenyum lalu menatap Gin yang juga membalas senyuman lembut itu. Lau dia menatap pria yang menjadi inspirasinya untuk menyanyikan lagu ini. Rukia belum rabun untuk melihat kesenduan yang terpancar dari wajah Ichigo. Ingin dia bertanya, lirik mana yang bisa membuatnya berwajah seperti itu?

"Hei tuan Kurosaki.. sepertinya wanitamu sudah mabuk berat," Ujar Rangiku memutuskan tatapan Ichigo dengan Rukia sambil menunjuk Orihime yang terkulai lemas di sampingnya.

"Sebaiknya kau bawa dia pergi sebelum dia meracau yang tidak-tidak.. malah akan merepotkanmu,"

Sejenak mencerna perkataan bartender di depannya itu, Ichigo berusaha mengangkat orihime yang tertidur lemas diatas pangkuan tangannya. Orihime mengangkat wajahnya yang memerah karena mabuk dan hal yang mereka takuti sepertinya akan terjadi. Gadis itu memukul-mukul dada Ichigo.

"Kau kejam Kurosaki kun, hik.. apa lagi kekuranganku? Hik.. aku kan lebih sempurna dari gadis pend.." Racauan Orihime dengan cepat dihentikan Ichigo dengan mendekapkan kepala gadis itu di dada bidangnya.

"Ayo kita pulang Orihime," Ujar Ichigo menyandarkan tubuh sintal Orihime padanya.

Ichigo menatap Rukia sekali sebelum pergi meninggalkan club itu. Dia hanya bisa melihat tatapan dingin Rukia melihatnya memeluk erat Orihime. Tidak ada perubahan raut wajah, setidaknya bisakah Rukia berwajah kesal? Atau jangan-jangan benar Rukia telah mencintai pria lain sesuai dengan nyanyiannya tadi? Tak ingin berlama-lama di dalam club yang menyesakkan dadanya ini, Ichigo dengan cekatan menggendong Orihime di belakang punggungnya karena gadis itu terlihat tidak sanggup berdiri.

Sedangkan Rukia? Dia memang pintar menutupi apa yang dirasakannya saat ini. Sangat pintar, sampai-sampai tidak ada yang tahu betapa sakitnya dia melihat Ichigo pergi meninggalkan dia demi gadis lain.

####

"Hmh.. Kurosaki Kun, jangan tinggalkan aku," Orihime mengigaukan kata-kata yang selalu ingin diucapkannya pada pria bernama Ichigo Kurosaki itu.

Mendapati gadis mabuk yang tengah mengigau di sela-sela tidurnya itu, Ichigo hanya menghela nafas panjang lalu beranjak dari tepian tempat tidur memandang kota Tokyo yang gemerlapan di malam hari lewat jendela kaca sebuah hotel.

Jangan salahkan Ichigo yang tidak tahu dimana rumah Orihime dan memilih hotel yang jauh dari hotel Rukia sebagi tempat mengistirahatkan gadis itu. Dia benar-benar tidak tahu tentang Orihime, dimana keluarganya tinggal, apa kesukaannya, dan apa yang dibencinya. Dia benar-benar kekasih yang egois, setelah menyadari betapa dia telah memperlakukan Orihime dengan buruk. Tapi salahkah dia kalau memang tak ada ketertarikannya untuk mengetahui kesukaan dan kebencian dari gadis yang terlelap ini? Kalau dia juga ragu, apa yang dirasakannya pada gadis itu memang benar cinta?

Saat ini pikirannya sibuk menebak-nebak apa yang dilakukan Rukia dengan keberadaan Gin di sampingnya? Pasti rubah itu saat ini bergelayut manja atau malah tidur bersama dengan Rukia lagi?

Tidak tahan dengan tebak-tebakan yang selalu berujung dengan kekesalan, Ichigo memencet nomor Rukia untuk dihubungi, menyuruh istrinya pulang karena dia juga akan pulang ke rumah minimalis mereka.

"Ada apa?" Tanya Rukia dengan nada tidak suka diganggu sesaat setelah telpon diangkat.

"Kau sekarang ada dimana?"

"memangnya kenapa? Bukan urusanmu kan aku sekarang ada dimana?"

Mendapati jawaban Rukia yang ketus, Ichigo menghela nafas. Tetap dengan nada suara lembutnya, dia berkata lagi.

"Kumohon Rukia, jangan memancing pertengkaran.."

"Apa? Aku tidak pernah memancing pertengkaran, kau saja yang selalu memperuncing masalah.." Bentak Rukia dengan nada kesal.

"Kumohon.. pulanglah,"

Lirih, suara Ichigo saat ini sangat lirih. Membuat Rukia tercekat dan tidak jadi melanjutkan omelannya. Lalu dia menghela nafas panjang untuk meredakan emosinya, karena saat ini bayangan Ichigo yang sendu tadi memenuhi benaknya.

"Gomme ne, aku tidak bisa pulang hari ini Ichigo.. besok Gin ulang tahun, jadi aku akan menghabiskan malam ini untuk merayakannya.."

"Berdua saja?"

"Ya, hanya berdua.. Ran chan tidak bisa ikut, katanya dia ingin tidur lebih awal karena ada urusan keluarga besok pagi, jadi harus bangun lebih awal"

"Bolehkah aku ikut?"

"jangan.. nanti.."

"Apakah aku sebegitu merepotkannya bagi hubungan kalian berdua?"

Rukia menangkap nada sedih dari pertanyaan Ichigo ini. Dia bingung untuk menjawab apa. Kenapa ichigo malah bersikap seperti ini? Lebih baik dia bersikap seperti biasanya, mengejeknya, bertengkar, dan berbaikan lagi.

"Apa kau mencintainya?" Tanya Ichigo bergetar karena dia berusaha tegar mempertanyakan hal yang ditakutkannya itu.

Mendapati Rukia yang hanya terdiam dengan ucapannya, Ichigo menjadi kikuk lalu menggaruk-garuk rambutnya.

"Ah, maaf. Aku malah mencampuri urusanmu lagi.. maafkan aku Rukia,"

Masih mendapati lawan bicaranya terdiam, Ichigo tetap berinisiatif memulai pembicaraan agar sambungan telpon ini tidak terputus.

"Aku akan pulang dan menunggumu di rumah, jadi pulanglah.."

"jangan menungguku Ichigo, malam ini aku tak akan pulang.." sesaat setelah itu Rukia memutuskan sambungan telpon. Menutupi suaranya yang bergetar hebat menahan haru karena Ichigo berkata akan menunggunya. Akan tetapi siapa yang akan termakan rayuan Ichigo lagi? Yah, walau itu memang bukan sekedar rayuan, tapi pengharapan.

Ichigo menggenggam erat hp nya lalu menatap Orihime yang mulai tenang dalam tidurnya. Diambilnya selimut lalu dengan tenang tanpa bermaksud membangunkan gadis itu, dia menyelimuti tubuhnya sampai batas dagu. Berharap gadis itu bisa tidur nyenyak dan hanya terbangun keesokan harinya saja.

Dia melangkah gontai meninggalkan kamar itu menuju rumah yang mulai memekarkan bunga-bunga cintanya pada Rukia. Yah, cinta. Rasa cinta yang timbul lagi dihatinya setelah bertemu lagi dengan Rukia. Rasa nyaman, ingin memiliki, cemburu, memang itu kan rasa cinta itu? Penuh rasa asam dan manis.

"Ternyata suami mu itu posesif juga ya?" Ejek Gin masih serius mengendarai mobil sambil sesekali melirik Rukia yang duduk disebelahnya.

"Bukan.. Cuma dia takut orang-orang tahu kalau pernikahan kami hanya main-main, nanti bisa-bisa rencananya ingin hidup bersama dengan Orihime terhambat,"

"Ah, Gin.. kita berhenti disana yuk.." Ajak Rukia girang sambil menunjuk halte bis yang terlihat sepi, karena saat ini sudah pukul 12 an.

Gin tersenyum lalu menghentikan mobilnya di dekat halte bis itu.

"Ah, senangnya.." Ujar Rukia berputar-putar girang sebelum duduk di bangku halte itu.

"Wah, aku dapat gambar bagus lagi nih," Ujar Gin memperlihatkan hasil jepretannya memakai kamera hp ke Rukia. Kebiasaan pria ini satu lagi adalah memoto wajah ceria Rukia, menjadikannya wallpaper hpnya dan memandangnya sebelum tidur. Benar-benar obat yang menentramkan hari-harinya.

"Memang dasarnya aku yang cantik,"

"Dasar kau ini, narsis," Gin tertawa geli lalu mengacak-acak rambut lembut Rukia sambil sesekali menekannya. Rukia juga ikut tertawa dengan tanggapan Gin.

"Gimana kalau kita beli makanan dan minuman di supermarket dulu baru ke sini lagi? Malam ini dingin, masa mau diam-diam saja duduk disini," Usulan Gin itu mendapat anggukan setuju dari Rukia.

"Tapi kamu saja, aku masih mau disini.. nanti kamu balik lagi kesini ya, bawa makanan dan minuman yang banyak, hehe.."

"Baiklah, awas kalau kau pulang dan meninggalkanku. Aku pasti akan menyeretmu ke sini lagi," Ujar Gin mendekatkan wajah tampannya pada Rukia.

"Aku tidak akan berani tuan," Rukia mengedip manja.

Gin mengendarai mobilnya menuju supermarket terdekat dan meninggalkan Rukia yang melambai-lambai sumringah padanya. Rukia sangat pandai memanfaatkan suasana sepi seperti saat ini. Dirogohnya headset dan mp3 player dari tas sampingnya. Sepasang penenang yang tak kan pernah ditinggalkannya ketika berpergian.

Akhirnya pilihan lagu jatuh ke nyanyian yang dibawakannya tadi. Dengan volume keras dia mendengarkan lagu Yui itu. Tak lama kemudian rintik hujan pun berpacu meninggalkan langit dan terhempas di bumi.

Flashback Ichigo dan Rukia ketika berumur 6 tahun.

"Rukia, mana payungmu?" tanya seorang gadis imut menghampiri seorang gadis mungil berambut raven dan bermata violet besar.

"Aku lupa membawanya," jawab Rukia tersenyum lembut, khas keluarga Kuchiki yang selalu tenang disetiap keadaan mendesak sekalipun.

Hari ini adalah hari yang sangat menyebalkan. Kelas Rukia berakhir dengan cepat karena wali kelasnya harus menghadiri rapat guru. Jadi dia harus menunggu sopir yang selalu menjemputnya setiap pulang sekolah. Masalahnya sopir itu tidak tahu kalau nona kecilnya pulang lebih awal dari biasanya. Alhasil Rukia harus menunggu 2 jam lagi agar sopir itu menjemput.

Ayah dan ibunya saat ini sedang menghadiri pertemuan dengan keluarga di smp Byakuya. Kakaknya yang selalu menjadi teladan itu, selalu menimbulkan keinginan Rukia untuk tidak terlalu tergantung dengan orang lain dan terkesan manja. Dia harus bisa mandiri dan hebat seperti kakaknya.

Lalu Ichigo? Sahabat kecil yang selalu dipanggilnya jeruk itu tidak satu sekolah dengannya. Walau begitu, mereka tetap bermain bersama setelah pulang sekolah.

Merasa bosan harus menunggu selama 2 jam, Rukia kecil berinisiatif berlari saja ke telpon umum dekat halte bis sekitar sekolahnya untuk menghubungi rumah agar si sopir menjemputnya. Dia menerobos hujan lebat itu berharap kaki kecilnya bisa mengantarkan lebih cepat ke telpon umum itu.

Akan tetapi di tengah perjalanan, sebuah petir hebat beserta kilatannya seakan ingin menjilati Rukia kecil yang berdiri rapuh di dekat pohon rindang.

"Kyaa.. aku takut,"

Seakan tidak memberi ampun, petir tetap sahut menyahut tidak memberikan jeda sedikitpun. Rukia berlari sekuat tenaga ke halte bis yang menjadi tujuan awalnya itu. Secepat mungkin dia memegang gagang telpon dan memencet nomor rumahnya. Tapi seakan tidak mengerti, telpon itu tetap berbunyi Tut,Tut. Bolehkah sekarang dia berasumsi bahwa sambungan telpon terganggu karena petir tadi?

Rukia memeluk lututnya sekuat tenaga agar kehangatan tetap menghampirinya. Dia tidak tahu sudah berapa jam dia duduk sendirian di halte ini. Kedinginan diantara hujan yang tidak juga berhenti dan langit yang mulai semakin gelap.

Takut, itulah yang dirasakannya. Saat ini dia terbayang dengan ucapan Ichigo yang selalu mengingatkannya untuk membawa payung. Ternyata benar juga kata si jeruk itu. Bukannya tambah tenang dengan mengingat sosok Ichigo, dia malah menangis ingin sekali Ichigo menemukannya.

"Kia.."

Rukia tersentak dari lamunannya merasa ada suara yang memanggil namanya. Dia berdiri dari duduknya mencari sosok yang memanggil namanya. Apakah ini hanya ilusi? Atau benar apa yang dilihatnya saat ini? Ichigo dengan sekuat tenaga tengah berlari ditengah hujan lebat sambil menyerukan namanya.

"Rukia!" Berlari kencang kearah halte yang memperlihatkan sosok gadis mungil yang sedang dicarinya.

"Ichigo!" Sontak Rukia berlari mengejar sosok anak kecil berambut orange itu dengan sekuat tenaga.

"Rukia!"

"Ichigo!"

Bersahut-sahutan sambil menahan isak tangis yang tak bisa dibendung karena saking leganya telah ditemukan dan menemukan orang yang sangat berarti bagi mereka. Mereka berpelukan haru di tengah hujan lebat.

"Maafkan aku Rukia.. seharusnya aku selalu didekatmu.. dan tak membiarkan kamu sendirian seperti ini,"

"Iya, huhuhu.. makasih Ichigo"

"Nona Rukia, maafkan saya yang tidak tahu kalau nona sudah menunggu dari tadi.. ayo pulang, semuanya mengkhawatirkan anda," Ujar si sopir yang sedari tadi ditunggu Rukia. Dia memayungi dua anak kecil yang masih setia berpelukan itu. Lalu dengan cekatan dia memberi informasi bahwa Rukia telah ditemukan.

End of flash back

Yah, itu lah kisah mengharukan sekaligus menggelikan yang akan terus diingat Rukia. Dia takkan pernah lupa bagaimana ekspresi Ichigo ketika berlari kencang menghampirinya. Ekspresi yang menggambarkan betapa takutnya Ichigo kehilangan dirinya dan kembali lega setelah menemukannya. Si jeruk itu malah tidak bisa menutupi kelegaannya dengan menangis di dalam pelukan Rukia. Dan siapa sangka sejak saat itu Ichigo pindah sekolah dan selalu membawa payung setiap hari untuk mengantisipasi kalau-kalau hari hujan. Karena si pemalas Rukia, takkan pernah membawa payung kalau bukan saatnya musim penghujan.

Hangat sekali mengingat kisahnya dengan kisah Ichigo sewaktu kecil, dan siapa sangka kalau saat ini perasaan hangat itu berubah menjadi perasaan yang mencekat? Sangat perih mengiris hati.

Tiba-tiba Rukia menoleh kearah tepukan yang mendarat di bahu kanannya. Di sana dia melihat Gin melafalkan namanya yang tidak terdengar karena alunan musik yang kuat memenuhi pendengaran dari headset yang dikenakannya. Dia tercenung sesaat, merasa terharu dan sedih karena sesaat dia berharap yang menepuk bahunya bukanlah pria jangkung berambut silver ini, tapi Ichigo.

Tanpa sadar, Rukia meneteskan air mata yang sejak tadi dipertahankannya dipelupuk mata. Tatapan teduh Gin selalu bisa menggoyahkan pertahanan kuatnya. Gin membelai lembut pipi Rukia dan menghapus jejak airmata yang berjatuhan semakin deras. Dilepaskannya headset itu untuk mengurangi rasa sedih Rukia, pasti lagu yang didengarkannya saat ini adalah lagu sedih, makanya dia berubah jadi rapuh begini. Didekapnya tubuh ringkih Rukia dengan hangat. Menyandarkan kepala si gadis di dadanya dan sesekali menciumi puncak kepalanya.

Tuhan.. Mengapa rasa cinta itu menyakitkan sekali?

TBC

hufth.. akhirnya udah nyampe chapter 6.

kaya'nya bentar lagi bakal tamat deh

hahaha..

doakan dan tetap beri semangat Yuna ya minna san..

biar cerita ini berakhir dengan happy ending bagi setiap tokohnya, hehe ;P

sekali lagi, onegai REVIEW!

see u in the next chap :D