special thanks to: , Haruno Ai, Chappyberry lover, Wakamiya Hikaru, Hirumaakarikurosakikuchizaki, lola chan, Yutha chan, kokota, Shizuku Kamae, Flavia, Nyia, Kairi chan, dan para reviewers serta readers lainnya yang tak tersebutkan dalam kolom ini ^_^

Disclaimer: I don't own Bleach but Tite Kubo sama does it.

jangan berhenti sampai TBC nya ya, ada beberapa kata yang mesti Yuna sampaikan di kolom rubrik nantinya, hehe :-P

so, enjoy reading _


Chapter 7

Pertolongan Tuhan

"Tadaima," sambil melepaskan sepatunya, Rukia memasuki rumah dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkan seseorang yang tidak ingin ditemuinya di pagi jam 5 ini.

"Kenapa jalanmu seperti penyusup begitu sih?" Tanya Ichigo polos yang ternyata baru keluar dari kamar mandi sambil mengusap rambut basahnya.

"Kami sama, Ichigo, kau mengejutkanku"

"Justru kau yang mengejutkanku, pulang pagi-pagi begini sambil mengendap-endap. Untung kau tak kusangka pencuri"

Rukia ingin menjawab ucapan pria yang terlihat santai di depannya itu. Berbeda sekali dengan bayangannya tadi malam, tidak ada rasa cemas atau kesal karena dia tidak pulang malam tadi.

"Pagi-pagi sudah mandi? Mau kemana?"

"Tidak mau kemana-mana kok, Cuma ingin menyegarkan kepala saja," balas Ichigo sambil mengambil sebotol air mineral dari lemari es. Dirasakannya suasana yang hening karena Rukia tidak merespon, pria yang sedang berusaha bersikap dewasa itu angkat bicara lagi.

"Semalam aku tidak tidur, jadi biar lebih segarnya aku mandi saja pagi-pagi begini. Kukira kau takkan balik lagi ke sini," ejeknya sambil melirik Rukia yang terpaku di tempatnya lalu meneguk air mineral itu dengan rakus.

"Kenapa kau berpikir begitu? Ini kan juga rumahku, jadi terserah aku mau balik atau tidak"

Walaupun bersikeras, Rukia dapat menangkap ekspresi tidak peduli dari Ichigo. Terlihat dari sikap pria itu yang mengabaikannya dengan langsung duduk di depan TV.

"Kenapa kau mengabaikanku? Jangan bersikap seolah hanya aku yang salah, bukankah kau juga yang pertama kali meninggalkanku kemarin malam?" Rukia berusaha membela diri, tapi Ichigo tetap diam sambil menukar saluran TV. Ia sudah tidak tahan, kalau saja tangannya tak dikepal kuat-kuat, mungkin saja saat itu air matanya akan menetes.

"Aku lapar," ucap Ichigo tiba-tiba memecah keheningan. "Apa kau lapar juga?" tanyanya sambil menoleh ke arah Rukia dengan tatapan sendu, seolah dia berharap untuk tidak lagi membahas apa yang terjadi tadi malam.

"Aku akan masakkan sarapan, kau mandi saja dulu" lanjut Ichigo beranjak dari duduknya lalu mengelus lembut puncak kepala Rukia sambil mensejajarkan wajahnya dengan wajah gadis yang terlihat bergetar itu.

Pagi ini mereka jalani dengan perasaan yang berkecamuk. Banyak sekali yang ingin ditanyakan Ichigo pada Rukia, tapi hatinya berkata untuk pelan-pelan saja, jangan terlalu menginterogasi Rukia. Bisa-bisa gadis itu akan benci padanya. Dia hanya berharap ada pertolongan Tuhan yang akan menjawab doanya semalam.

'Tuhan, jika memang Rukia jodohku, berilah pertolonganmu agar kami bisa bersatu lagi dan menyelesaikan segala masalah ini. Tapi jika memang ada pria lain yang pantas untuknya, berilah aku kekuatan untuk melepaskannya'

Ting,tong. Bunyi bel membuyarkan lamunan Ichigo yang sedang berkecimpung dengan masakannya. Setelah merapikan masakan terakhir di meja makan, Ichigo bergegas membuka pintu.

"Paman Jeluk," seru Yuki berusaha menggapai Ichigo. Gadis kecil itu terlihat sedikit memberontak dari gendongan Byakuya.

"Byakuya? Kak Hisana?" ujar Ichigo agak terkejut sambil reflek menggendong Yuki. Gadis kecil itu terlihat senang sekali sambil mengelus-elus rambut Ichigo.

"Pagi Ichigo, maaf ya kami mengganggu pagi-pagi begini," ujar Hisana sambil merangkul mesra tangan Byakuya yang terlihat cemburu melihat Yuki lebih memilih digendong adik iparnya itu.

"Tidak apa kak, ayo silakan masuk"

"Tante.." seru Yuki melihat Rukia yang baru keluar dari kamarnya.

"Yuki, kakak?"

"Hai Rukia, kamu kelihatannya sehat-sehat saja ya," ucap Hisana dengan senyuman sumringah melihat adik iparnya itu yang heran dengan kedatangan keluarga kecilnya.

…..

"Hah, kalian mau menitipkan Yuki?" Rukia dan Ichigo terkejut setelah mendengar alasan sebenarnya keluarga kecil Byakuya ke rumah mereka.

"Cuma sampai tengah malam nanti kok, kami benar-benar tidak bisa membawa Yuki ikut acara ini," jawab Hisana memasang tampang memelas andalannya.

"Sebenarnya kami tidak ingin mengganggu kalian, tapi Yuki bersikeras ke sini daripada harus ditinggalkan dengan babysitter di rumah," Tambah Byakuya.

Rukia dan Ichigo saling berpandangan lalu menatap gadis kecil berambut panjang yang sedang asik mengutak-atik mainannya sendiri.

"Anggap saja ini pelajaran awal sebelum punya anak nantinya," Hisana mengerling nakal pada Ichigo dan Rukia. Alhasil kedua adik iparnya itu berwajah merah dan salah tingkah.

Byakuya menatap kesal pada Hisana karena membuatnya melihat pemandangan yang masih dibencinya sampai sekarang. Si Ichigo dan Rukia malu-malu tidak jelas begitu. Akan tetapi Hisana yang sudah kebal dengan tatapan tajam suaminya itu, tidak gentar dan malah mengacuhkannya.

"Baiklah,kalau begitu kami permisi dulu ya," Hisana mengajak Byakuya berdiri dari duduknya bermaksud akan pergi.

"Yuki, dengar pesan ayah. Jangan nakal dan jangan menyusahkan paman Ichigo dan tante Rukia ya," Byakuya mengelus lembut rambut dan pipi chubby anaknya lalu mengecupnya.

"O iya, susu dan barang-barang Yuki lainnya sudah ada dalam koper itu. Jadi kalian tidak usah cemas," ujar Hisana pada pasangan pengantin baru yang masih terlihat kikuk memikirkan apa yang akan terjadi nantinya dengan penitipan Yuki ini.

Karena belum juga mendapat giliran untuk mendekap putrinya itu, Hisana melepas paksa pelukan erat Byakuya dari Yuki lalu memeluknya.

"Sayang, kita Cuma mau pergi sebentar, Cuma sehari saja dan itu pun Cuma sampai tengah malam nanti. Bukannya mau menitipkan Yuki untuk selama-lamanya kan?" ujar Hisana sambil menarik Byakuya menjauhi Yuki.

"Dadah Yuki, ayah dan ibu pergi dulu ya, jadi anak yang baik ya,"

Hisana dan Byakuya pergi meninggalkan apartemen itu sambil melambai-lambaikan tangannya.

Sesaat setelah pintu ditutup, Rukia dan Ichigo langsung merosot berbarengan. Mereka duduk terkulai di lantai lalu saling berpandangan. Entah apa yang mereka pikirkan, tapi saat itu juga gelak tawa pecah membahana di rumah itu. Yuki yang tidak tahu apa-apa terheran dan lebih memilih untuk ikut tertawa melihat tingkah tante dan pamannya.

"Ayo sini Yuki, tante buatkan susu untukmu,"

Duplikat Byakuya ini tersenyum sumringah melangkah mengikuti Rukia ke arah dapur. Karena meja kitchen set nya agak tinggi, Yuki yang masih berumur 4 tahun harus mendongak melihat tantenya membuatkan susu untuknya. Ichigo tersenyum geli melihat pemandangan itu. Diangkatnya Yuki lalu mendudukkan gadis itu di atas kitchen set.

"Yuki suka tinggal dengan paman dan tante?" Tanya Ichigo sambil mensejajarkan wajahnya dengan wajah si mungil Kuchiki itu sambil berdiri di samping Rukia.

"M.." balasnya antusias sambil mengangguk dalam.

"Bagaimana kalau hari ini kita ke kebun binatang?"

"Aku mau, aku mau. Yuki janji akan jadi anak yang baik," ajakan Ichigo disambut dengan penuh semangat. Gadis itu melonjak-lonjakkan tubuhnya tanda tidak sabaran ingin pergi ke tempat yang pernah didatanginya dengan Byakuya dan Hisana.

"Bagaimana menurutmu?" Ichigo menoleh pada Rukia yang sedang merapikan botol susu Yuki.

"Yah, tidak apa sih. Lagian ada binatang yang sangat ingin kulihat," balasnya sambil memberikan botol susu itu pada Yuki.

"Apa itu?"

"Singa," Rukia melihat kearah Ichigo ketika menjawab lalu dia mendengus kecil. "Binatang itu mengingatkanku padamu"

"Rukiaaaa.." geram Ichigo lalu mencengkram kepala mungil Rukia dengan tangannya.

"Yuki mau lihat gajah, Yuki suka sekali gajah. Gajah itu besal, suatu saat Yuki akan menikahi gajah," sela Yuki antusias sehingga ada sebagian susu yang tumpah dari sela-sela mulutnya.

Ichigo dan Rukia tertawa geli melihat kepolosan gadis mungil itu.

"Kenapa Yuki ingin menikahi gajah?" Tanya Ichigo sambil mengusap tetesan susu di bibir mungilnya.

"Karena Yuki sangat suka gajah, kata ibu kita halus menikahi apa yang kita suka. Paman menikah dengan tante Lukia kalena sangat menyukainya kan?"

Pertanyaan polos Yuki tersebut dapat membuat Ichigo dan Rukia terdiam untuk sesaat. Rukia tidak sanggup memandang Ichigo secara langsung, jadi dia hanya melirik dari ekor matanya.

"Ya, paman sangat menyukainya. Atau lebih tepatnya mencintainya," Ujar Ichigo tersenyum lembut pada Yuki yang meneruskan minum susunya.

"Sangat mencintainya," tambahnya lagi lalu menatap Rukia. Sontak Rukia terpaku lalu tanpa sadar pipi putihnya memerah.

"Hahaha, pergilah bersiap-siap Rukia, kau harus berdandan yang cantik ya," saran Ichigo membelai lembut pipi Rukia yang terasa panas karena malu.

Rukia pun tahu pergi ke kamar untuk bersiap-siap adalah hal yang tepat untuk dilakukannya saat ini daripada harus berlama-lama didekat Ichigo dan Yuki. Bisa-bisa jantungnya tak kuat lagi karena berdegup terlalu kencang. Entah ini karena ucapan Ichigo atau karena pria itu mengucapkannya dengan wajah yang sangat teduh. Seolah hal itu benar, bukan sebagai jawaban asalan untuk menipu anak kecil.

Tak berapa lama kemudian mereka beranjak ke kebun binatang yang dimaksud. Sampailah mereka di sana jam 10.00 pagi. Yuki yang awalnya tertidur di mobil karena perjalanan 1 jam mereka, langsung terbangun dengan senyuman sumringah melihat gerbang kebun binatang tersebut.

Awalnya mereka pergi ke toko aksesoris di kebun binatang itu. Mereka sibuk memilih bando yang bagus untuk Yuki, akhirnya pilihan jatuh pada bando bertelinga kucing berwarna pink. Karena warna itu memang kesukaan Yuki. Lalu Rukia memakai bando bertelinga singa dan memamerkannya pada si 'singa' yang sedang sibuk memilih juga. Sedangkan Ichigo lebih memilih topi rajut yang bertahtakan boneka penguin kecil.

Mereka berjalan dengan perasaan sangat senang. Ichigo menggandeng tangan kanan Yuki dan Rukia menggandeng tangan kirinya. Berbagai macam cerita dan lelucon mereka lantunkan sehingga tidak ada waktu tanpa tawa. Kadang Yuki pun tidak mau kalah untuk bercerita.

Bagi Rukia mungkin ini hanya salah satu kewajiban sebagai adik untuk menjaga kemenakannya selagi Hisana dan Byakuya tidak bisa. Tapi bagi ichigo ini adalah pertolongan tuhan yang dimintanya. Seakan-akan mendapat kekuatan dengan adanya Yuki di tengah-tengah mereka yang membawa suasana baik, Ichigo memandang lama Rukia yang terlihat sangat senang melihat binatang-binatang dengan Yuki.

"Maaf, boleh aku ke toilet sebentar?"

"Ya, pergilah." Ujar Rukia sambil menyuapkan makanan ke mulut Yuki. Karena mereka sudah berkeliling melihat binatang sampai jam 12 siang dan itu waktunya makan siang.

Sesampainya di toilet café tersebut, Ichigo dengan mantap mendial sebuah nomor.

"Orihime.. ini aku Ichigo,"

"Ya, Kurosaki kun, ada apa?"

"Aku.. aku mencintai Rukia, aku benar-benar tidak bisa meninggalkannya. Aku minta maaf,"

Hening, itulah suasana yang tercipta karena pengakuan Ichigo tersebut.

"kamu kenapa Kurosaki kun? Sudah ya, sepertinya kamu sedang sakit. Mau kubuatkan bubur?" ucap Orihime berusaha menepis apa yang didengarnya tadi.

"Orihime, aku mohon. Jangan siksa dirimu lagi dengan menungguku. Sudah waktunya kita berpisah, kita.."

"Maaf, Aku tidak mengerti dengan maksudmu Kurosaki kun." Tambahnya lagi lalu menyudahi sambungan telpon mereka.

Ichigo hanya bisa menghela napas dengan reaksi Orihime. Dia menatap cermin lalu membasuh wajahnya agar mimik kecewa yang terpampang sekarang tidak dilihat oleh 2 malaikat kecil yang sedang menunggunya saat ini.

"Lama sekali, lihat nih si Yuki, dia tidak mau aku suapi. Katanya mau kamu saja yang menyuapi,"

"Benarkah Yuki?" Tanya Ichigo antusias sambil duduk di depan mereka. "Kalo begitu ayo duduk disebelah paman"

Rukia tersenyum melihat cara Ichigo menyuapi Yuki. Si gadis mungil itu tertawa geli melihat atraksi lucu Ichigo untuk membujuk Yuki makan.

Akhirnya mereka sampai di wahana permainan setelah puas berwisata safari. Ichigo terlihat sangat antusias mengajak Rukia dan Yuki yang tertidur pulas digendongannya untuk menaiki bianglala. Dengan semangat digenggamnya tangan Rukia. Sedangkan gadis itu hanya tertegun tak sanggup menepis genggaman tangan Ichigo.

"Hari ini kamu aneh sekali," Rukia mulai menginterogasi.

"Aneh kenapa?"

"Pokoknya aneh, jangan bilang ini Cuma sandiwara agar Yuki simpati padamu," tambah Rukia lagi melipat kedua tangannya di depan dada.

Ichigo mengelus lembut rambut Yuki yang masih setia tidur dipelukannya.

"Sandiwara? Yang mana?"

"Semuanya, kau pasti Cuma berbohong"

"Yang mana?" Tanya Ichigo berbalik menginterogasi Rukia dengan nada menggoda

"Semuanya," jawab Rukia gelagapan karena sepertinya Ichigo mulai membaca apa maksud pertanyaannya.

"Ah ya, ada sih. Dalam sehari ini ada satu kebohongan yang aku lakukan padamu," Ichigo melirik sekilas lalu tertawa kecil melihat Rukia yang menatapnya dengan garang.

"Sewaktu di kafe tadi siang, aku ke toilet bukan karna harus kok, tapi aku menelpon Orihime,"

Deg. Degupan jantung Rukia sontak menjadi cepat mendengar nama yang sudah di blacklist di kepalanya.

"Aku bilang padanya bahwa aku tidak bisa lagi membuatnya menungguku, karena aku sudah menyukai orang lain," ujar Ichigo memecah keheningan.

"Aku minta untuk berpisah, jadi antara aku dan dia sudah tidak ada hubungan lagi, Cuma sebagai teman," tambah pria itu berharap Rukia mengerti maksud ucapannya.

"Mudah sekali kau memutuskan sebuah hubungan dengan via telpon?"

"Aku ini pria baik-baik, akan kubicarakan langsung padanya tentang masalah ini. Tapi hal itu adalah langkah awalku untuk dapat hidup bahagia denganmu."

"Kita batalkan perjanjian akan bercerai itu, karena aku tak mau lagi berpisah darimu," tambah Ichigo lagi memandang Rukia yang tak dapat berkata apa-apa karena ucapan pria itu agak sulit untuk dianalisanya.

"Kebohongan apa lagi ini?" Tanya Rukia mengepalkan tangannya, tapi hal itu tidak membantu menyembunyikan getaran suaranya.

"Bukankah sudah aku katakan bahwa kebohongan yang aku lakukan hari ini Cuma masalah menelpon itu, berarti selebihnya tidak ada kebohongan."

Ichigo beranjak pelan dari tempat duduknya mendekati Rukia. Gadis itu mengambil posisi siaga untuk menjauhinya.

"Aku telah berpikir dan sadar bahwa aku memang salah, pada Orihime, keluarga kita dan padamu. Memang tidak seharusnya aku mencoba menggantikanmu dengan gadis lain, hanya karena kita berpisah untuk waktu yang lama. Dan sekarang, aku sendiri yang tersiksa."

Wajah sendu Ichigo dapat mengurungkan niat Rukia untuk menjauhinya.

"Apakah aku sudah terlambat untuk mengatakan bahwa aku sangat mencintaimu?"

Dengan mantap Ichigo mengenggam tangan Rukia selagi sebelah tangannya yang lain masih setia memeluk Yuki. Sontak air mata yang awalnya tergenang dipelupuk mata itu jatuh, Rukia sudah tidak sanggup lagi menaan air mata harunya. Ichigo menyapu lembut airmata yang mengalir itu dan dia pun mulai mengecup lembut bibir ranum milik wanita yang sudah mengisi secara penuh hatinya sekarang.

Cukup kaget untuk awalnya, tapi Rukia membalas ciuman itu.

Tanpa sadar ada sesosok mata yang memperhatikan mereka.

"Yuki juga mau dicium," Ucapnya dengan polos dan berhasil membuat sepasang kekasih yang sedang bermesraan itu kelabakan karena malu.

"Ahahahaha" Gelak tawa Ichigo dan Rukia membahana seiring berhentinya putaran bianglala itu. Yuki hanya bisa memasang tampang bingung. Ichigo memindahkan Yuki ke gendongan di sebelah kirinya. Tepatnya di antara dia dan Rukia.

Cup. Ichigo dan Rukia berbarengan memberikan kecupan gemas ke pipi Yuki. Mereka tertawa bersama, ternyata menghabiskan waktu bersama seperti ini tidak buruk juga.

….

"Yo Orihime," sesosok pria jangkung dengan stelan kelas atas menghampiri seorang gadis yang telah lama menunggu kedatangannya di sebuah bar.

"Maaf, apa kau lama menunggu?" tanyanya lagi sambil menggeser kursi disebelah gadis tersebut.

"Tidak apa-apa Gin san, malah aku harus minta maaf karena memintamu untuk datang ke sini,"

"Mau minum apa? Aku yang traktir," tambahnya lagi berusaha seramah mungkin.

"Sama dengan apa yang kau minum saja. Sepertinya cita rasa kita sama," balas Gin memasang seringai andalannya.

"Baguslah kalau begitu, sepertinya bukan itu saja kesamaan kita. Kita juga sama-sama bertepuk sebelah tangan dengan sepasang suami istri,"

"Ahaa.. sepertinya aku sudah bisa membaca apa maksudmu bertemu denganku di bar ini." Ia meneguk segelas wine yang baru saja disajikan di depannya.

"Tapi sayangnya aku tak pernah ingin bekerja sama denganmu untuk memisahkan mereka."

"Kau harus bekerja sama denganku Gin san. Ichigo sudah mengatakan padaku kalau dia sudah mencintai Rukia lagi dan kau tahu bahwa Rukia juga sangat mencintainya dari dulu sampai sekarang, jadi takkan ada harapan lagi bagimu dan bagiku untuk mengharapkan cinta mereka."

Gin mendengus, "Darimana kau tahu Rukia sangat mencintai si rambut jabrik itu?"

"Gin san, kau adalah pria yang baik dan sangat perhatian. Kau adalah sesosok pria yang sangat sayang untuk diabaikan, tapi Rukia melakukannya. Kau sendiri pasti tau juga apa jawabannya kenapa Rukia tak pernah memilihmu dari dulu."

Perkataan Orihime itu mampu membuat Gin tercenung lalu meletakkan gelas wine yang semula masih dipegangnya.

"Tak kusangka kau gadis yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan cinta, nona Orihime,"

"Cinta itu buta. Bagiku itu bukan sekedar kata-kata, tapi memang begitulah keadaanya kalau kita sudah sangat mencintai seseorang kan?"

Gin hanya mampu diam memikirkan setiap perkataan Orihime. Gadis itu terlihat dan terdengar berbeda sekali dengan gadis yang pernah ditemuinya untuk pertama kali. Terdengar tegas dan penuh cara persuasif.

"Baiklah, aku bisa menolongmu"

"Bukan hanya menolongku Gin san, tapi juga menyelamatkan cintamu." Sela Orihime sambil tersenyum manis menanggapi pernyataan Gin.

"Bagaimana kalau kita bersulang untuk kelancaran rencana kita?"

Sekali lagi sosok gadis itu mampu membuat Gin tak berkutik karena tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bukan seperti gadis lugu yang dia pikirkan selama ini. Ternyata pepatah don't judge the book from its cover itu memang benar. Gin tersenyum lebar, kedua sudut bibirnya terlihat nyaris menggapai telinga kiri dan kanan.

Sementara itu, keluarga kecil Ichigo, Rukia, dan Yuki telihat tidur dengan nyenyak setelah mereka memohon pada Byakuya untuk menjemput Yuki di pagi saja. Karena bagi mereka berdua, Yuki benar-benar sebuah pertolongan Tuhan. Tidak ada yang berpikir apa yang akan terjadi di esok harinya. Bagi mereka sekarang, cinta dapat melalui semuanya. Tapi benarkah begitu?

TBC


Kolom Rubrik:

mungkin di sini Yuna akan sedikit banyak curhat dan menjelaskan mengapa cerita ini sangat tersendat update nya setelah update tornado yang pernah Yuna lakukan sebelumnya.

nah ada beberapa alasan nih teman-teman *sok akrab, hehe

1. Yuna sudah memasuki masa-masa membosankan di perkuliahan nih. coba tebak..

yah, apa lagi kalau bukan menyusun skripsi, bagi teman-teman yang sudah atau sedang mengalaminya pastilah mengerti dengan perasaan Yuna. sering sih cerita ini Yuna pantau terus tapi karena keinginan untuk melanjutkannya dikalahkan oleh amarah dosen pembimbing, membuat diriku menciut dan lebih memilih akademis. Bahkan Yuna sempat terpikir untuk menghapus saja cerita ini. tapi ketika Yuna membaca review teman-teman, niat terlarang itu bisa diurungkan. *Dilempar pisang oleh reader dan Yuna menangkap dengan senang hati, hahaha XD

sekali lagi terima kasih teman-teman.

2. Yuna sempat minder dengan cerita ini. serius loh, apakah ini juga dirasakan oleh author baru atau tidak? who knows..

apakah ceritanya bagus? apakah ceritanya ga membosankan? secara cerita ini kan udah pasaran idenya.

bukannya Yuna mengandalkana banyak kuota review baru mengupdate cerita lalu mengabaikan teman-teman yang benar-benar ingin tahu lanjutan cerita ini, tapi sebagai pemula Yuna harus menginteropeksi diri dari Review yang didapat. karena Review nya sedikit, jadi Yuna berpikir 'cerita ini ga bagus' *maafkan aku senpai dan readers lainnya, maaf kalau Yuna ini kurang ikhlas, huhu T_T

akan tetapi, sekali lagi terimakasih teman-teman, khususnya untuk D. suji , i don't know who You are, but thanks to your review that say "hi . . . Saya Setia Menunggu Kelanjutan Dari Kisah Cerita Ini. SEMANGAT."

ketika Yuna membaca review itu, serius loh saat itu juga jantung Yuna berdegup kencang. seandainya kamu laki-laki akan kujadikan suamiku o.O

forget about my oddness OK? hehe, *toh Yuna juga g tau D. suji co ato ce..

oleh karena itu teman-teman, mari mereview cerita ini. bagi silent reader, apa salahnya mereview sebentar, tidak akan butuh waktu lama kok, hehe. dengan satu review teman-teman telah menyelamatkan satu nyawa o.O *halah iklan..

3. Mudah-mudahan teman-teman hanya perlu menunggu sekitar 3 chapter lagi untuk menamatkan cerita ini, jangan bosan untuk menunggu yah ;)

o iya, untuk lebih memudahkan untuk mengingatkan si Author tak tahu diri ini, teman-teman boleh add saia sbg teman FB: Yuna taiyou. FB ini khusus aku buat untuk teman-teman FF, hehe :)

jika ada yang mau kenalan dan ngasih saran bermanfaat, dipersilahkan saja, hehe :D

akhir kata, adiooss..

see ya in the next time..