special thanks to: , Haruno Ai, Chappyberry lover, Wakamiya Hikaru, Hirumaakarikurosakikuchizaki, lola chan, Yutha chan, kokota, Shizuku Kamae, Flavia, Nyia, Kairi chan, can-can, shetlastraruki, Cim Jee, AkiHisa Pyon, MeoNg, Chlie Hanariunnse, dan para reviewers serta readers lainnya yang tak tersebutkan dalam kolom ini ^_^
Disclaimer: I don't own Bleach but Tite Kubo sama does it.
so, enjoy reading _
Chapter 8
Pengujian Tuhan
Pagi yang indah untuk mulai melalui hari bagi pengantin baru yang benar-benar mulai merasakan indahnya cinta. Setelah Yuki dijemput oleh Byakuya sendiri, suasana hati kedua orang itu terlihat agak kikuk karena teringat dengan apa yang telah terjadi tadi malam.
"Hari ini kamu ada acara apa Rukia?" Ichigo memulai percakapan sambil melihat istrinya itu membuatkan sarapan untuknya.
"Aku harus ke kantor, akhir-akhir ini banyak sekali pekerjaan yang harus kuselesaikan." Jawabnya sambil meletakkan secangkir kopi di depan meja suaminya itu.
"Owh begitu, ya sudahlah. Sepertinya aku harus ke kantor kakek juga, sudah lama kakek tua itu menyuruhku untuk datang ke perusahaan," Ichigo meniup lalu menyeruput kopi susunya.
"Padahal banyak yang ingin aku lakukan denganmu," tambahnya lagi.
"Apa itu?" Tanya Rukia antusias lalu menggigit rotinya.
"Mewujudkan malam pertama kita yang sempat tertunda, misalnya," kerlingan nakal Ichigo yang sedang menggigit rotinya juga mampu membuat Rukia tersedak.
Semburat merah menjalar cepat di wajah sampai ke telinga Rukia. Dia memukul Ichigo dengan garang untuk menutupi rasa malunya.
"Baka"
"Loh kenapa? Bukannya kita memang suami istri dan sekarang kita saling mencintai,"
"Siapa yang mencintaimu bodoh," Rukia beranjak meninggalkan Ichigo lalu mengambil blazer ungunya dan menyorongkannya.
"Lalu kenapa kau diam saja dan membalas ciumanku?"
"Itu karena…"
"Karena kamu mencintaikukan?"
"Berisik!"
######
"Arigatou sudah mengantarku Ichigo," ucap Rukia seraya melepaskan seat belt.
"Nanti kujemput ya."
"O ya, Rukia ada yang kelupaan" tambah Ichigo lagi melambai pada Rukia agar mendekat padanya.
"Apa?" Rukia yang sudah berdiri di depan pintu masuk hotelnya terpaksa balik lagi mendekati suaminya.
"Sini, lebih dekat lagi,"
"Ada apa sih? Apanya yang tinggal? Sebutkan saja, tak usah berbisik pula"
"Tidak bisa. Kalau ada orang yang dengar pasti memalukan bagimu,"
Rukia pun akhirnya mengalah karena lumayan takut juga setelah melihat ekspresi Ichigo yang terlihat serius. Dia mendekatkan wajahnya kearah jendela mobil dimana Ichigo duduk. Sesaat sebelum Rukia memutar wajahnya kearah kiri agar ichigo dapat berbisik pada telinga kanannya, dengan cepat pula Ichigo memutar kembali wajah itu.
Cup. Dengan kecepatan kilat Ichigo mengecup lembut bibir istrinya.
"Nah benarkan? Kamu pasti malu nantinya," sambung Ichigo sambil mengelus pipi Rukia.
"Baiklah, aku pergi dulu sayang~" tambah Ichigo sambil menggas mobilnya meninggalkan Rukia yang masih cengo dengan apa yang barusan terjadi.
"Dasar singa sialaaaaaaaaaaaan"
"Wah, wah. Mesra sekali," celetuk Gin yang baru datang sambil merapikan dasinya.
"Gin?"
"Iya, kamu kira siapa lagi? Jangan bilang kamu lupa padaku karena ciuman menjijikkan pria jabrik tadi," cemooh Gin yang masih berusaha merapikan dasinya.
Awalnya Rukia agak terdiam dengan ucapan Gin yang terdengar kesal. Rukia tidak ingin memperpanjang masalah dan dia hanya tersenyum.
"Sini" Rukia menggapai pundak Gin untuk mensejajarkan posisi tubuh pria jangkung ini dengannya.
"Sampai kapan kamu harus kutolong untuk merapikan dasi sih? Seharusnya kamu mulai mencari gadis yang akan selalu merapikannya untukmu," ejek Rukia.
"Gadisnya kan sudah ada di sini," tantang Gin tak mau kalah. Gin sadar bahwa wanita mungil ini terkejut dengan perkataanya. Terasa dari gerakan Rukia yang terhenti ketika merapikan dasinya.
"Aku tak mau gadis lain selain dirimu," tambah Gin lagi, perasaannya benar-benar sedang labil dan tak terkendali.
"Hentikan semua ini Gin. Kumohon, jangan berharap lagi," Rukia menjawabnya dengan sangat sendu. Dengan segenap kekuatannya, Rukia menatap mata Gin. Seringaian itu hilang dari wajahnya, mimiknya terluka, permata hijau itu seperti tenggelam dalam lautan merah. Entah dia sedang menahan marah atau menahan tangis?
Cukup lama keheningan yang tercipta antara mereka berdua. Rukia hanya dapat menunduk karena tak sanggup melihat kesedihan pria itu.
"Apa kau sudah dapat penawarnya untukku?" Tanya Gin sambil mendengus kecil.
"Akan kucarikan penawarnya. Akan kucarikan wanita yang lebih pantas untukmu. Tapi kau harus membuka hatimu dulu dan lupakan aku. Karena aku dan Ichigo.."
"Temani aku," potong Gin tak mengizinkan Rukia meneruskan ucapannya.
"Temani aku seharian ini setelah itu akan kupulangkan kau pada si brengsek itu," tambahnya lagi memasang seringaian andalannya.
Dahi Rukia berkedut pertanda tak mengerti dengan rencananya. Seolah mengerti dengan kegundahan Rukia, pria silver itu melanjutkan lagi tawarannya.
"Cuma itu penawarnya, Rukia."
"Baiklah"
######
"Yo, Orihime." Sapa Ichigo pada gadis yang sedang duduk di taman kota.
"Apa kabar kurosaki kun?" Tanya Orihime pada pria yang sedang duduk di sampingnya sekarang.
"Aku baik-baik saja. Kamu?"
"Aku? Tak ada yang lebih membuatku sehat selain bertemu denganmu Kurosaki kun," balas Orihime tersenyum manis. Tapi itu membuat hati Ichigo berdenyut sakit.
"Aku minta maaf," ucap Ichigo sambil menunduk dalam.
"Aku tak pernah berniat untuk menyakitimu. Maafkan aku yang belum dewasa waktu itu. Sampai-sampai melibatkan perempuan sebaik dirimu,"
"Aku benar-benar minta maaf," imbuhnya lagi yang terdengar lirih.
"Aku takkan pernah memaafkanmu," jawab Orihime tegas tapi tetap lembut.
Ichigo terperangah lalu menatap tak percaya pada Orihime.
"Kalau aku memaafkanmu, maka kau akan bebas dari rasa bersalah itu dan takkan pernah mengingatku lagi," ucapannya terdengar putus asa.
"Aku takkan pernah melupakanmu. Kamu yang pernah mengisi kekosonganku, kamu yang tabah menantiku, kamu yang setia mencintaiku,"
"Dengan bekal memori tentangmu lah, akan ku jalani hidup ini lebih bijak dan dewasa. Dan jalan itu ingin kulalui dengan Rukia. Aku harap kau mengerti,"
"Mengerti apa?" Tanya Orihime sambil menatap Ichigo dengan mata berkaca-kaca. "Cinta membuatku terlalu bodoh untuk berpikir"
Ichigo tak sanggup melihat ekspresi ini lagi. Dia memang terlalu keji telah melukai hati gadis ini. Di dekapnya Orihime yang bergetar menahan tangisnya.
"Aku melepaskanmu Hime. Carilah pria yang lebih baik untukmu, karena aku terlalu rendah untuk memilki hatimu,"
Wanita itu hanya terisak tak bisa menahan tangisannya. Yang saat ini dirasakannya hanya belaian lembut tangan Ichigo di kepalanya. Bagaimana bisa dia melupakan sentuhan yang hangat ini?
######
"Kenapa kau tak angkat? Bukankah itu Ichigo?" Tanya Gin sambil melirik Rukia yang duduk di sebelah kirinya.
Hanya deru mobil dan dering hp yang terdengar saat ini karena Rukia lebih memilih diam dan menghadap kearah luar jendela.
"Kau bersikap seakan ingin ku aniaya saja," tebak Gin kurang senang dengan sikap dingin Rukia.
"Apa perlu aku yang mengangkatnya?" tambah Gin lagi hendak merebut Hp itu dari tangan pemiliknya.
"Jangan, biarkan aku saja," ucap Rukia agak takut.
"Halo Ichigo?"
"sedang dimana? Kenapa tak mengangkat telponku?"
"Aku sedang dalam perjalanan. Ada pekerjaan hotel yang harus kulakukan di luar kota."
"Apa kau pergi bersama Gin?"
"Ya, malamnya aku baru pulang. Jadi jangan jemput aku ya,"
Ichigo hanya diam mendengar pernyataan istrinya itu. Rukia yang merasa tak nyaman dengan suasana yang tercipta ini, melanjutkan ucapannya. "Maafkan aku,"
"Hati-hati di jalan, aku mencintaimu"
"Ya, aku juga"
"Juga apa? Katakan yang jelas Rukia,"
"Jangan kekanankan Ichigo!"
"Aku tidak kekanakan. Kamu yang kekanakan. Bilang hal itu saja tidak mau,"
"Aku juga mencintaimu, baka"
Pengakuan itu nyaris terdengar seperti sebuah bisikan. Entah karena gadis ini takut Gin akan terluka, atau karena malu untuk mengakuinya. Secepat mungkin ditutupnya sambungan telpon Ichigo lalu menghadap kembali ke arah depan. Dilihatnya Gin tak menoleh sedikitpun padanya setelah pernyataan itu. Suasana semakin terasa hening dan itu mengharuskan Rukia untuk berinisiatif menghidupkan radio mobil.
"Aku sangat menyayangimu Rukia," Ichigo tersenyum penuh kemenangan akan pengakuan cinta Rukia. Andai saja saat ini dia tak bersama Orihime, mungkin dia sudah berjingkrak kegirangan.
"Arigatou sudah mau menemaniku Kurosaki kun,"
"Tidak apa-apa. Toh ini jalan-jalan pertama kita di Jepang kan?"
"dan akan menjadi jalan-jalan terakhir," lirih Orihime menggenggam erat tali seat belt nya.
"Jadi apa yang ingin kamu lihat di Kyoto?" Tanya pria orange itu sambil mengemudi kendaraannya.
"Ada festival musim panas di sana. Aku tak pernah ke festival semacam itu selama kita di Amerika,"
"Begitu ya. Baiklah, kita buat jalan-jalan ini menjadi kenangan yang terindah," imbuh Ichigo tersenyum tulus pada gadis yang terlihat rapuh di sebelahnya.
#####
"Tak kusangka perjalanan jauh ini tujuan akhirnya Kyoto,"
"Kenapa kesini?" Tanya Rukia sambil merapikan bajunya yang agak lecek karena terlalu lama duduk dalam mobil.
"Hari ini ada festival. Pasti gadis-gadis cantik sedang berkeliaran disini. Jadi carikan aku yang bisa menetralisir racunmu," jawab Gin sambil memiringkan wajahnya, menyeringai.
"Baiklah tuan rubah. Hamba akan mencarikan bagian tulang rusukmu yang hilang itu," tambah Rukia menjawab tantangan Gin. Pria jangkung itu tersenyum tambah lebar melihat wanita lavender itu membungkukkan badan padanya. Dia pun mengelus puncak kepala Rukia dan sedikit menekannya. Alhasil mereka saling tertawa, seolah tak ada masalah.
Malam pun menjelang, festival pun semakin ramai di malam ini. Detik-detik pelepasan kembang api yang dinantikan oleh orang-orang yang datang ke sana akan terlaksana. Gin dan Rukia berjalan mengitari setiap stand di festival itu. Begitu juga dengan sepasang mahluk Tuhan lagi. Semakin dekat dan semakin dekat.
"Hei Gin, lihat! Sepertinya topeng itu cocok sekali untukmu,"
Gin mendengus malas mengikuti tarikan tangan Rukia ke arah stand penjualan aksesoris-aksesoris anime.
"Lihat, benar kan mirip sekali!" serunya lagi tambah bersemangat sambil meraih sebuah topeng dan mendekatkannya pada wajah pria itu.
"Ya, ya. Sangat mirip denganku. Jangan-jangan aku sebenarnya pasukan anbu di film naruto kesukaanmu itu kali ya?" tanggap Gin mengambil topeng itu lalu menggosok-gosok dagu dengan telunjuknya, seperti berpikir.
"Bedanya, mereka harus pakai topeng sebelum beraksi. Sedangkan kamu ga usah pakai topeng udah kaya' rubah kok. Hahaha"
"Sialan kau." Gin mengacak gemas rambut Rukia yang sedang terkikiki geli mengejeknya.
"Wah sebentar lagi kembang apinya akan dinyalakan. Ayo kita mendekat ke sana," Ucapan seorang pejalan kaki pada pasangannya membuat kegiatan kekanakan Rukia dan Gin terhenti. Mereka pun beranjak mendekati tempat yang dimaksud.
Suasana yang gelap mendadak gemerlap dengan cahaya kembang api. Langkah Rukia semakin mendekat ke arah kolam besar. Rasanya dia kenal dengan sosok belakang yang dilihatnya sekarang itu. Satu-satunya pria berambut menyolok yang pernah dikenalnya. Bukankah itu Ichigo? Sedang apa dia di sana? Duduk dengan seorang gadis. Gadis yang tak asing lagi baginya. Itu Orihime kan?
Rukia semakin mendekat berharap penglihatannya salah. Dia benar-benar berdoa pria dan wanita yang sedang berciuman di depannya ini bukan Ichigo dan Orihime. Rukia membeku tak dapat berkata ataupun bergerak sampai kembang api berhenti mengudara.
"Rukia.." seru Gin agak kuat sambil berlari kecil menemui wanita mungilnya yang termangu, shock.
Sontak pria dan wanita yang tengah berciuman itu menoleh kearah sumber suara, di belakang mereka. Seketika itu juga mata Ichigo membulat terbelalak tak percaya siapa yang ada di depannya. Dilihatnya Rukia bergetar menatap garang padanya.
"Rukia, ini tak seperti yang kamu lihat." Ujar Ichigo mencoba membela diri dan berusaha menyentuh wanitanya itu.
Secepat kilat pula Rukia menepis tangan yang menurutnya hina itu. Ichigo termangu, begitu pula Gin dan Orihime.
"Apa kau senang mempermainkanku?" tanyanya berusaha tegar, berharap bulir-bulir air mata tidak jatuh dari pelupuk matanya.
"Dengarkan aku dulu Rukia!" bentak Ichigo sambil menarik paksa istrinya itu menjauhi Gin dan Orihime.
"Lepaskan aku, brengsek!" cerca Rukia mencoba meronta dari paksaan Ichigo.
"Itu Cuma ciuman perpisahan. Tidak ada maksud apa-apa. Hime bilang padaku ciuman itu hanya untuk kenangan karena kami resmi putus. Kumohon percayalah padaku, Rukia"
Rukia mengelus pergelangan tangannya yang terasa sakit karena ditarik oleh Ichigo.
"Kenangan katamu? Jadi kalau dia minta kau untuk menidurinya dengan alasan kenangan, kau juga akan melakukannya?"
"Apa maksudmu? Kau pikir aku serendah itu mau menidurinya hanya untuk alasan kenangan?"
"Ya, bukannya kau memang rendah? Kau tidak bisa menjaga dirimu sendiri. Terjatuh hanya karena bujukan seorang wanita. Seharusnya aku tak usah merasa heran mengapa kau bisa melupakanku selama di Amerika."
"Aku bukan pria seperti itu. Apa kau tak mengerti juga?" bentak Ichigo semakin menjadi-jadi sehingga Rukia terdiam sesaat.
"Ya, aku tak mengerti dengan pikiranmu. Sebentar kau suka pada dia, lalu hanya karena dekat denganku beberapa saat kau bilang jatuh cinta lagi padaku. Bagaimana kalau aku menghilang? Apa kau akan mencintai gadis lain lagi dengan secepat itu?"
Pecah sudah air mata itu. Rukia terisak sambil mengusap setiap bulir air mata yang membasahi pipinya. Ichigo merasa terpukul telak dengan ucapan dan tangisan wanita yang benar-benar dicintainya ini. Sesaat sebelum tangannya menggapai pundak ringkih Rukia, sesosok pria jangkung memakai topeng rubah melarikan Rukia dari hadapannya. Ditopangnya tubuh mungil wanita itu di atas bahu kirinya. Semakin menjauhi Ichigo.
"Maafkan aku, seharusnya aku tak membawamu kesini" ucap Gin berdiri tegak tetap menggendong Rukia.
Rukia hanya diam dan tak sanggup menahan tangisnya yang sempat terhenti karena kaget dilarikan oleh Gin dengan cara seperti ini.
"Seharusnya aku mencintaimu saja. Setiap aku sedih pasti Cuma kamu yang ada disampingku," ujar Rukia terisak memeluk Gin dengan erat, lalu membenamkan wajahnya di leher Gin.
"Kumohon lupakan dia Rukia. Hiduplah bersamaku, aku takkan pernah membuatmu menangis seperti ini," jawab Gin mendekap erat tubuh Rukia yang masih dalam gendongannya.
Si pria jangkung ini pun tak sanggup menahan harunya. sadar ataupun tidak, saat ini dia sedang meneteskan air mata. Hal itu dapat dirasakan oleh Rukia, lehernya basah oleh sesuatu. Untuk memastikannya, Rukia menarik kepalanya dari leher Gin lalu berusaha menatap pria itu.
Benarkan, dia memang meneteskan sebulir air mata. Rukia tersenyum geli juga karena baru pertama kali melihat Gin berwajah seperti ini. Dihapusnya tetesan air mata itu dengan tangan mungilnya. Anggap saja saat ini tarikan kuat antara mata mereka membuat hal ini terjadi. Ya, mereka berciuman.
Ichigo terperangah tak percaya melihat pemandangan di depannya. Susah payah dia berlari mengejar Gin dan inilah yang harus dilihatnya. Rukia dengan senang menyambut ciuman Gin yang masih setia menggendongnya.
Ternyata memang sakit melihat orang yang dicintai berciuman dengan orang lain di depan mata kepala sendiri. Inikah yang dirasakan Rukia?
Ichigo berusaha bersikap dewasa dan tak memperkeruh suasana. Dipanggilnya Rukia dengan tenang. Kedua insan itu menoleh padanya. Tatapan Gin semakin mengintimidasinya, membara dan menyampaikan pesan bahwa dia siap mati untuk mempertahankan Rukia tetap di sisinya.
Dengan cepat Ichigo menggenggam tangan Rukia untuk menjauhkannya dari Gin yang telah menurunkan wanita mungil itu dari gendongannya. Tak rela, Gin pun mempertahankan genggaman tangannya pada Rukia.
"Kumohon padamu, lepaskan dia!" perintah Ichigo tenang.
"Bagaimana kalau kau saja yang melepaskannya?" tantang Gin.
Gin memang telah menyulut api dalam diri Ichigo. Tak terima diperlakukan seperti ini, si suami memukul telak rahang kanan pria rubah itu. Perkelahian pun tak bisa terhentikan. Orihime yang baru datang berusaha menolong Rukia memisahkan mereka. Orihime memegang Ichigo dan Rukia memegang Gin.
Melihat ichigo yang masih juga nyolot ingin memukul Gin, sebuah tamparan kesal dari Rukia mendarat di pipi kanan Ichigo.
"Hentikan!" ucapnya terengah-engah memisahkan Ichigo yang masih membabi buta ingin memukul Gin yang sudah terduduk di tanah.
"Kau tahu? Seharusnya aku memang tak menerima pernikahan ini dari awal. Tak seharusnya ku sia-siakan pria ini hanya karena menunggumu," tambahnya lagi setengah berteriak sambil menunjuk Gin yang masih duduk di tanah.
Sebuah kilatan merah terpancar di mata Ichigo. Merah karena menahan tangis dan kesal.
"Akhiri semua ini Ichigo," Rukia menghela nafas sebelum melanjutkan ucapannya. "Kita harus bercerai," tambahnya lagi sambil melepaskan cincin pernikahan dari jari manis lalu memberikannya ke tangan Ichigo yang masih terlihat berpikir dengan setiap ucapan Rukia.
Orihime terdiam di samping Ichigo. Tak tahu harus senangkah semua rencananya berhasil atau sedih melihat pria yang dicintainya kini terlihat seperti tubuh kehilangan roh. Terdiam.
"Akhiri, apa maksudmu?" lirih Ichigo berucap sambil menggenggam erat cincin Rukia ditangannya. Istrinya itu semakin menjauh memapah Gin meninggalkannya.
Ichigo bertekuk lutut menjatuhkan setiap tangisannya. Orihime benar-benar tidak tega dengan apa yang terjadi padanya, tapi bukankah memang ini yang diharapkannya? Didekatinya tubuh ringkih Ichigo berusaha berbagi kehangatan. Tapi dengan cepat pria itu menepis kasar tangannya. Dengan mata berkilat merah dipandangnya Orihime dengan sangat marah.
"Kumohon, tinggalkan aku sendiri!" bentak Ichigo. Pria itu terhuyung melangkah meninggalkan Orihime.
#####
Saat ini jam 4 dini hari. Tapi sepertinya hal itu tak mengurungkan niat seseorang untuk menelpon Gin. Ya saat ini Hp Gin sedang berdering, mengganggu nyenyaknya tidur sepasang insan.
Rukia sedikit menggoncang tubuh Gin yang baru tertidur sambil memeluknya dari belakang.
"Gin, Hp mu berbunyi terus dari tadi." Ucap Rukia lembut lalu menggapai Hp itu dan memberikannya pada Gin yang terlihat malas untuk melepaskan pelukan hangatnya itu.
"Halo.."
"Byakuya? Ada apa?" Tanya Gin mulai sadar setelah mengetahui pria yang menelponnya adalah Byakuya.
"Apa Rukia ada di dekatmu? Hp nya tidak aktif. Kutanyakan pada orang di hotel, katanya kalian pergi berdua. Dimana dia?"
"Ada apa kak?" Sela Rukia mengambil paksa Hp dari tangan Gin karena pria itu melirik minta alasan darinya.
"Dimana kamu sekarang? Kenapa tak bersama Ichigo?"
"Memangnya kenapa?"
"Memangnya kenapa katamu? Ada apa dengan kalian? Sampai-sampai kau tak tahu Ichigo sedang kritis di rumah sakit sekarang karena kecelakaan mobil?"
TBC
Hi minna san.. Yuna terharu sekali membaca ucapan semangat dari teman-teman, hehe..
Emang ya, review dari teman-teman itu luar biasa
Gimana dengan chap sekarang? Agak memaksa? Agak mengharu birukah? Hehe..
Mari membalas review, hehe :P
Wakamiya Hikaru: ga jadi ku hapus kok Hikaru san . Iya nih udh di update, tapi maaf ga kilat ya
Chlie Hanariunnse: salam kenal juga :D, beneran ga bosenin y? hehe. Waduh jangan panggil aku senpai, jadi malu :". Panggil Yuna chan ajah, hehe
Shizuku Kamae: jangan meleleh Shizu chan, nanti ga ada lagi yg baca ceritanya Yuna O.o. makasih udah menunggu dengan sabar ya Shizu chan
MeoNg: makasih udah ngerti prasaanku yah , hehe sempat berpikir untuk ga dilanjutin juga sih. Mudah-mudahan yah tapi Rukia ma Gin juga oke tuh *evil smirk *ditimpuk pisang ma reader. Oya, aku suka fic nya MeoNg san yg judulnya 'Sorry'. Hehe
Akihisa Pyon: salam kenal juga Pyon san . Aduh jadi malu dibilang bagus. Makasih udah mau membaca fic abal ini ya :'). Tunggulah aku selalu sayang, hehe *digampar Pyon san karena masang tampang mesum.
Cim jee: yei.. Jee san ngereview kembali makasih atas sarannya jee san. You are the best author lah, hehe. Hohoho.. keinginan Yuki untuk nikah ma gajah itu terinspirasi ma reality shownya MBLAQ-hello baby. Hehe
Shetlastraruki: iya ga jadi dihapus kok makasih udah dibilang bagus bgt ya say . wah jadi terharu tahu kalau fic abal ini mpe di bookmark. Nanti Hp nya bisa error loh, ati-ati yah, hehe ;)
Can-can: hi, lam kenal juga say . Wah baru baca yah? Huhu.. makasih udah jatuh cinta pada Yuna ini *bukan loe kali, tapi fic nya. Hehe, jatuh cinta ma fic mesti jatuh cinta ma author juga kan? ;). Maaf ya aku g bisa update asap, baca fic ku yang lain juga ya.. mana tahu suka juga, hehe
Yosh, segitu aja dulu yah. Makasih buat yang udah baca.
Bagi teman-teman yang baik hati, tolong disempatkan untuk mengklik tombol biru alias REVIEW yah ;D
Arigatou, jaa nee
