Chapter 9

End of Story

"Memangnya kenapa katamu? Ada apa dengan kalian? Sampai-sampai kau tak tahu Ichigo sedang kritis di rumah sakit sekarang karena kecelakaan mobil?"

#####

Derap langkah Rukia dan Gin mengalihkan pandangan kerumunan orang yang sama paniknya seperti mereka setelah mendengar kabar buruk tentang Ichigo. Byakuya yang menelpon pun langsung melangkah mendekati adiknya itu untuk mendapatkan penjelasan apa yang sedang terjadi.

"Aku bilang pada mereka bahwa kau sedang ada urusan hotel di luar kota. Makanya kau tidak ada di dekat Ichigo sewaktu dia kecelakaan,"

"A-Arigatou onii san, gomme"

"Sepertinya banyak yang harus kutanyakan padamu, tapi sebaiknya kau berbaur dengan mereka. Dan tetap bersikap tenang," tambah Byakuya sambil menuntun lembut adiknya itu ke arah keluarganya dan keluarga Ichigo yang sedang menunggu kabar dari para medis yang sedang menanganinya sekarang.

Setelah Rukia terpisah dari Gin, Byakuya pun menatap intens asisten adiknya itu. Seolah ingin diberi penjelasan sedetail-detailnya.

"Sebaiknya kau tanyakan langsung pada Rukia apa yang sebenarnya terjadi. Aku tak punya hak untuk menjelaskannya. Tapi kumohon, jangan salahkan dia atas kejadian ini. Karena yang salah adalah aku," Lirih Gin sambil melirik Rukia yang langsung termenung di dinding depan kamar resusitasi.

Walau kurang senang dengan jawaban Gin, Byakuya berusaha bersikap dewasa dan memilih setuju untuk tak menanyakan lebih lanjut. Saat ini yang dibutuhkan hanyalah ketenangan dan doa agar Ichigo selamat dari masa kritisnya, bukan keributan.

"Karin, Yuzu. Maafkan aku," ujar Rukia bersimpuh diantara kedua adiknya yang sedang bergetar menunggu kabar dari para medis yang menolong Ichigo.

"Aku benar-benar minta maaf," tambahnya lagi sambil terisak lalu membenamkan wajahnya diantara kedua lutut adik iparnya itu.

Yuzu dan Karin saling berpandangan. Memang ada sebersit rasa kesal karena Rukia tak disamping kakaknya ketika ia kecelakaan. Tapi tubuh mungil yang bergetar itu mampu membuat luluh hati mereka. Didekapnya tubuh ringkih Rukia dan mendudukkannya di antara mereka.

"Jangan minta maaf kak, sekarang kita harus berdoa agar onii chan baik-baik saja,"

"Keluarga tuan Ichigo?" seorang dokter keluar dari ruang resusitasi.

Rukia's POV

" Apa yang dokter katakan? Ichigo butuh donor darah 4 kantong, katanya patah tulang paha yang dialaminya mengakibatkan pendarahan berat."

"God – dia juga mengalami trauma kepala? Ada apa ini? Sebegitu beratkah kecelakaan yang dialaminya?"

"Rukia –" Byakuya menggenggam erat tangan adiknya yang gemetaran hebat.

"Tegarlah, dokter akan melakukan yang terbaik untuk keselamatan Ichigo, tegarlah—"

"Oni san –" Rukia menggenggam balik tangan Byakuya.

Rukia's POV

"Kenapa tidak ada kabar juga dari para dokter dibalik kamar operasi sialan ini?"

" Ah – bukannya itu dokter yang menangani Ichigo tadi – apa yang dikatakannya? Kenapa ini? Tiba tiba aku tidak bisa mendengarkan penjelasan panjang lebarnya –"

"Tunggu, setidaknya aku bisa membaca gerak bibirnya. Ichigo dia –"

"Dia –"

"Rukia – rukia—"

######

"Nyonya Rukia, dia hanya mengalami gangguan akibat stress yang dialaminya, boleh dikatakan gangguan konversi. Tubuhnya berubah menjadi tiba tiba tidak bisa mendengar atau melihat sama sekali karena faktor stress—"

"Tapi tenang saja, dengan pengobatan yang diberikan, dia akan kembali seperti normal –" seorang wanita berjas putih berkata dengan ramah pada Byakuya yang duduk disebelah Rukia yang tertidur di kasur pasien.

"Terimakasih dokter, untuk sementara ini saya akan menemaninya –"

Dokter itu mengangguk lalu meninggalkan Byakuya dan Rukia. Byakuya menangkap pergerakan kecil dari mata Rukia yang berusaha untuk bangun dari tidurnya yang cukup lama.

"Rukia?"

"Oni san—"

"Rukia? Syukurlah kamu bisa melihat dan mendengar kembali, aku benar benar khawatir—"

Rukia mengelus lembut helaian rambut kakak lelakinya yang terlihat berantakan. Dia tersenyum kecil lalu menangis. Byakuya yang melihat kejadian itu langsung membekap pipi mungil adiknya dengan kedua tangannya.

"Oni san— aku takut sekali. Saat itu aku benar benar tidak bisa mendengar dan melihat. Seperti mau mati saja—"

"Tenanglah Rukia, itu terjadi karena pikiran kacau yang kamu alami. Jadi tenangkanlah pikiranmu—"

Rukia menangis semakin kuat. Pria yang selalu bisa memecahkan setiap masalah itu hanya terdiam dan menggenggam tangan Rukia dengan kuat. Dia tidak bisa berbasa basi, dia tidak bisa berkata manis, dia hanya bisa meminjamkan tangannya untuk membelai setiap air mata adiknya.

"Rukia—Ichigo dia—"

"Aku tahu—tapi, aku tak tahu harus bagaimana lagi sekarang –"

"Temuilah dia– setidaknya setelah kondisimu stabil, jangan biarkan ini menjadi penyesalanmu seumur hidup."

Rukia memandang hampa luar jendela tempat dia dirawat. Dia tidak menghiraukan segala hiruk pikuk yang terjadi di luar kamarnya. Semua orang mengkhawatirkannya, memang tidak seharusnya dia malah menyita perhatian keluarganya dan keluarga Ichigo karena penyakit yang dia derita. Dia baik-baik saja, tapi hanya tidak bisa atau tidak tahu harus berbuat apa sesampainya di ruang rawat Ichigo.

Ah – ya, ruang rawat Ichigo, setidaknya sebelum ketulian dan kebutaan tiba-tiba menghampirinya kemarin, dia masih sempat mendengar kabar baik bahwa Ichigo baik-baik saja. Tuan Kurosaki yang gagah berani itu ternyata dapat melawan masa kritisnya.

Hmph – syukurlah, Terimakasih kami sama.

#####

Kriet. Derit pintu kamar Ichigo perlahan terbuka, si pemilik mata hazel tersebut membuka mata perlahan. Siapa lagi yang datang melihatnya kali ini? Bukankah dokter telah melarang para tamu agar tidak mengusik waktu istirahatnya?

Ah –, bau lavender. Kemana gadis kecil itu? Disaat semua orang silih berganti melihatnya, hanya sosok Rukia yang belum terlihat. Tapi dia takut untuk menghadapi Rukia, karena seingatnya terakhir kali mereka bertemu istrinya itu meminta – cerai –

"Apa aku mengganggu istirahatmu?" Rukia berdiri di depan tempat tidur Ichigo. Dia masih betah melihat pria dihadapannya yang terlihat berantakan akibat kecelakaan yang ia alami.

Ichigo masih tetap diam menatap luar jendelanya yang sedikit terbuka. Diam merupakan tindakan yang dipilih Rukia maupun Ichigo, tak ada yang berani melanjutkan percakapan. Angin berhembus lembut memasuki jendela kamar Ichigo dan menyambut wangi bunga lavender yang dibawa Rukia lalu memenuhi seisi ruangan tersebut dengannya.

Ichigo menghirup nafas dalam, lalu menutup matanya. Dengan perlahan dia memalingkan matanya menantang mata Rukia. Lama, dia seperti ingin mencari celah apakah Rukia masih bersikeras ingin bercerai dengannya.

"Kau masih ingat denganku kan? Tidak hilang ingatan kan?"

Heh lucu, Ichigo tertawa miring melihat ekspresi Rukia yang terlihat serius mengajukan pertanyaan tersebut.

"Kuharap aku hilang ingatan –"

Rukia tersentak mendengar jawaban Ichigo. Ah iya – bagaimana kalau Ichigo hilang ingatan seperti film 'The Vow' yang pernah ditontonnya. Berarti Ichigo akan melupakannya –

"Jadi aku tak perlu ingat bahwa kau ingin bercerai dariku—"

Ichigo menundukkan kepalanya, lalu mulai memperbaiki posisi duduknya tadi menjadi posisi tidur, dia ingin menyembunyikan wajahnya dibalik selimut rumah sakit ini. Dia yakin wajahnya saat ini terlihat sangat kacau.

"Kuharap juga –"

Rukia mendekat lalu duduk di tepi tempat tidur suaminya yang memilih selimut sebagai penghalang bagi mereka untuk saling memandang.

"Dengan begitu aku bisa memperbaiki segalanya –"

Rukia tetap berbicara, sambil mengelus lembut rambut orange suaminya yang terlihat menyembul dari selimutnya.

"Setidaknya aku mulai sadar, ternyata aku masih kekanakan, belum dewasa. Aku masih saja memikirkan kenapa harus aku yang disakiti? Kenapa kau tidak juga mengerti rasa sakit yang kuderita? Tanpa sadar aku telah melukaimu, melampiaskan semuanya padamu. Aku seakan-akan menutup mata setiap kali kau ingin berubah – aku—"

Rukia terisak dan sontak Ichigo bangkit dari posisi tidurnya lalu memeluk istrinya itu.

"Rukia, aku pusing –"

"Tentu saja baka, kau tiba-tiba bangkit begitu dari tidurmu, kepalamu kan habis terbentur."

Rukia mengelus lembut kepala Ichigo, ketika ia rasakan suaminya menguatkan pelukannya.

"Berbaringlah lagi Ichigo, nanti kau tambah pusing"

Ichigo mematuhi perintah istrinya lalu berbaring dengan nyaman, lalu merentangkan tangan memberikan isyarat agar Rukia tidur disebelahnya. Rukia tersenyum lalu meletakkan bunga lavender yang sedari tadi dipegangnya kedalam vas yang terlihat senang menerima bunga baru mengisinya.

"Aku suka wangimu Rukia –"

"Kau bau, bau rumah sakit Ichigo"

"Jangan pernah lagi ucapkan cerai Rukia – satu kata itu terdengar horror ditelingaku, seakan-akan lebih baik aku mati saja –"

Plak – Rukia memukul lambat pipi Ichigo lalu memaksa suaminya itu menatap matanya yang mulai berkaca-kaca.

"Jangan ucapkan kata mati dengan semudah itu baka"

"Ya – takkan, aku berjanji akan bersamamu saat ini, besok, selamanya dan suatu saat nanti—"

"Hmph – apa itu? Suatu saat nanti?"

"Ya, suatu saat nanti ketika Tuhan memisahkan kita dengan maut. Kehidupan kedua—"

"sejak kapan kau jadi religius begini Ichigo?"

"Aku memang selalu religius Rukia –"

"Ah—berarti masih banyak tentangmu yang tidak kuketahui?"

"Ya banyak—maka bersiap-siaplah untuk mengetahuinya, karena kau akan butuh waktu seumur hidupmu untuk mengetahuinya"

Sudah lama Rukia tidak melihat senyuman lebar Ichigo dan itu benar-benar menenangkan. Cup – Rukia memulai, saat ini dia tidak lagi yang menerima, tapi dia yang menyerang. Saking senang dan gugupnya ia memulai ciuman ini, Rukia malah berposisi mantap di atas Ichigo.

Ring ring – ring ring

Ring ring – ring ring

"Rukia angkat telponmu itu," dengan berat hati ichigo memisahkan bibir Rukia dari bibirnya.

Rukia dengan tenang malah menduduki perut Ichigo lalu mengambil ponsel dari saku celananya.

"Rukia – kau sadar tidak kalau sedang menduduki orang sakit?"

Rukia tercenung sesaat melihat ponselnya lalu dengan cepat mengubah ekspresinya menjadi gadis nakal lalu mencolek dada Ichigo.

"Kau berkata begitu, tapi sebenarnya ingin aku tetap melakukan penyerangan ini kan?"

"Apa?" Wajah Ichigo memerah dengan ucapan dan tindakan Rukia.

"Sampai dimana kita tadi?" Rukia kembali mencondongkan wajahnya pada Ichigo yang terlihat kelabakan.

"Aku tak ingin malam pertama kita harus terjadi di rumah sakit Rukia, dan bisa bahaya jika kita ketahuan—"

"Ah, sayang sekali – padahal aku punya fantasi ingin melakukannya di rumah sakit. Tantangan membuat kita semakin bergairah Ichigo –"

"Kau gila," bentak Ichigo menjauhkan wajah Rukia darinya. Wajahnya saat ini sudah sangat merah seperti kepiting rebus. Sialan Rukia, siapa yang tidak ingin melakukan 'itu' di public place seperti rumah sakit. tentu saja itu fantasi tergila dari setiap laki-laki.

Ring ring – ring ring –

Sekali lagi, ponsel rukia berdering. Ichigo merasa penasaran siapa yang mengganggu kesenangannya itu. Dia merebut ponsel tersebut dari tangan istrinya yang masih sibuk menciumi lehernya.

"Rukia, angkat telponnya –"

"Aku tidak mau"

"Rukia – aku bilang angkat telponnya!" Ichigo memaksa rukia menjauhi lehernya dan menatap matanya.

"Rukia, jangan seperti ini – kau akan lebih menyakiti Gin – Bicaralah padanya"

Rukia terkesima dengan tatapan mata Ichigo yang menatapnya lurus seolah berkata, selesaikanlah masalah ini. Rukia takut, apa yang harus dikatakannya pada Gin? Karena sikap kekanakannya, dia menjadikan Gin pelarian. Walaupun Gin sendiri yang memasuki jebakannya yang penuh racun tapi pria itu meminta penawarnya bukan? Kenapa Rukia tidak juga memberikannya?

"Gin bilang semoga kau cepat sembuh – dan dia meminta untuk bertemu denganku sekarang,"

"Ya – pergilah, katakan padanya untuk datang dan ucapkan langsung doanya itu padaku," Ichigo melepas Rukia untuk menemui laki-laki saingannya itu. Namun saat ini tidak dengan berat hati atau penuh curiga, tetapi penuh dengan kepercayaan pada istrinya.

Ya, mereka mulai menanjaki kedewasaan, salah satunya kepercayaan terhadap pasangan bukan?

#####

"Bagaimana kabar Ichigo?"

"Dia baik-baik saja, walau tampangnya yang kusut jadi tambah kusut karena kecelakaan itu," Rukia tertawa kecil sambil mencicipi kopi didepannya.

"Sudah lama aku tak melihat wajah lega mu" Gin tersenyum ramah lalu menyeruput cappucinonya.

Rukia diam lalu meletakkan cangkir kopinya lalu menggenggam lembut tangan Gin yang terasa dingin. Pria di hadapannya itu terlihat sedikit tersentak. Apakah wajah letihnya terlihat jelas sehingga Rukia memberikan senyuman iba padanya?

Ah—bukan, itu bukan senyuman iba. Itu senyuman yang sangat ingin dia lihat selama ini, penawarnya –

"Kau tersenyum seperti ingin berkata 'menikahlah denganku'," Pria dingin ini masih juga berusaha bercanda untuk menutupi kegugupannya. Walaupun di dalam hati dia berharap Rukia akan mengatakannya.

"Gin, kau adalah orang yang paling berarti dalam hidupku. Mungkin kau akan tertawa geli karena aku menempatkanmu sebagai orang paling berarti dihidupku dan bukannya Ichigo, karena itu memang benar. Saat aku senang, sedih, bahagia dan bermasalah, kaulah orang yang selalu ada di sana. Aku sangat bersyukur pada kami sama telah bertemu dengan pria sepertimu. Aku selalu berpikir, kenapa bukan kau saja yang kucintai? Kenapa aku malah memilih cinta yang rumit dengan Ichigo? Aku tetap saja tak menemukan jawabannya,"

"Karena cinta itu buta—"

Gin membalas pertanyaan Rukia sambil mengeratkan genggaman tangannya pada wanita di depannya itu.

"Ya—cinta itu buta. Saking butanya aku malah menyakiti orang yang paling tidak ingin aku sakiti, yaitu kau Gin. Bebaslah gin, bebaslah dari semua kesakitan ini, karena orang yang paling ingin melihatmu bahagia adalah aku –"

Rukia menambahkan satu tangannya lagi untuk memberikan kehangatan pada tangan yang digenggamnya tadi. Dia menciumi tangan tersebut dengan lembut dan berharap temannya ini merasakan kehangatan yang disampaikannya.

"Hmph – apa yang kau lakukan?"

"Aku sedang memberikan mantra penawar—"

"Kurasa mantra penawarnya akan lebih ampuh jika diberikan lewat pelukan,"

Gin hanya bercanda dengan ucapannya, tapi gadis yang dicintainya tersebut menanggapinya dengan senyuman itu lagi. Rukia mendekatinya, duduk disebelahnya lalu memeluk dengan hati-hati tubuh kekar tapi rapuh milik pria yang selalu ada disebelahnya disetiap suasana itu.

Gin cukup terkejut tak menyangka Rukia akan melakukan permintaannya. Gadis itu memeluk lehernya lalu membisikkan kata yang sangat ingin didengarnya.

"Aku menyayangimu Gin – bebaslah –"

Suara Rukia terdengar sangat merdu ditelinganya. Gadis itu mengucapkannya terus menerus seperti sebuah melodi yang menghapus semua racun dalam tubuhnya.

Rukia terkejut mendapati pundak bajunya basah. Ah—apakah Gin menangis? Rukia hanya memilih untuk tetap mengelus lembut rambut pria tersebut sambil mengucapkan kata 'bebaslah'.

#####

Rukia's POV

"Kamu yakin tidak ingin melihat Ichigo?"

"Tidak, kalau saat ini aku melihatnya, aku pasti sangat ingin membully wajah menyedihkannya itu,"

"Hahahaha, ya – baiklah kalau begitu, kamu bisa pulang sendiri?"

"Apa tidak terbalik? Seharusnya pria yang berkata begitu pada wanita. Tenang saja, Matsumoto Rangiku akan menjemputku, wanita itu tidak berhentinya menanyai kabarku –"

"Wah, sexy couple heh?"

"Yeah, Hope so"

Ya, kuharap mereka dapat menjadi pasangan serasi, jadi suatu saat kami dapat melakukan group date.

Ah – itu kan? wanita berambut panjang yang berusan keluar dari kamar rawat Ichigo. Orihime Inoue –

Rukia's POV end

"Rukia san –"

"Hai – apakah kau sudah bertemu dengan Ichigo?"

"Ya, aku sudah melihatnya, syukurlah dia tidak apa-apa,"

"Maafkan aku, maaf karena kami menyakiti hatimu," Rukia membungkuk dalam pada gadis dihadapannya itu.

"Rukia san, seharusnya akulah yang harus mengucapkan maaf. Maaf telah merebut Ichigo darimu, dari awal aku sudah siap untuk disakiti saat mendekati Ichigo. Tapi aku tidak menyesalinya, setidaknya aku pernah merasa bahagia dengan Ichigo. Maafkan aku Rukia san, tolong jaga Ichigo dengan baik-baik. Permisi –"

Rukia terkejut lalu memeluk erat Orihime. Ada apa ini? Hatinya seakan ingin meledak karena setiap orang mendoakaan kebahagiannya dengan Ichigo, ternyata benar kata pepatah. Jangan harapkan pelangi untuk datang jika tidak ada hujan yang mengawalinya.

Rukia memasuki kamar rawat suaminya, terlihat Ichigo sedang duduk sambil menghadap jendela dan membelakangi pintu masuk. Rukia masuk dengan hati-hati, dilihatnya Ichigo tetap menatap luar jendela tanpa terganggu dengan suara kecil yang dibuat Rukia.

Rukia duduk disebelah suaminya itu lalu memeluk badan kekarnya sebisa mungkin dengan tangan kirinya.

"Apa yang kau pikirkan Ichigo?"

"Tadi Inoue kesini—"

"Ya, aku tahu – aku bertemu dengannya tadi"

"Dia mendoakan kebahagiaan untuk kita,"

"Ya—"

"Ternyata kita telah menyakiti orang disekitar bukan?"

Ichigo menatap mata istrinya dalam. Rukia dia tersenyum.

"Seperti granat?" Rukia memulai.

"Granat?"

"Ya, Granat dan pelatuknya, ketika mereka dipisahkan maka akan menyerang orang disekitarnya,"

"Hahaha, perumpamaan yang bagus. Yah seperti granat –"

"Jadi kita tidak boleh berpisah agar tidak menyakiti orang disekitar bukan?"

"Ya – kau benar, tadi sebelum Inoue kesini aku tertidur dan bermimpi,"

Ichigo membalas pelukan Rukia lalu membelai lembut punggung istrinya tersebut.

"Aku bermimpi kita membuat rumah di dekat pantai, lalu aku sedang bersantai sambil melihatmu bermain gitar dan bernyanyi. Lalu tak lama setelah itu sepasang anak datang menghampiri kita. Laki-laki wajahnya sepertiku tapi memiliki matamu, sedangkan yang perempuan wajahnya sepertimu tapi memiliki mataku. Dan tebak dia menyebut kita apa?"

"Oka san – Otou san?" Rukia menatap mata Ichigo yang terlihat berkaca-kaca.

"Aku senang sekali, sampai – sampai aku menangis ditidurku baka,"

"Ya—ya—" Rukia mengusap lembut air mata yang jatuh perlahan di pipi kanan Ichigo.

"Bisakah kita mewujudkannya?" Ichigo bertanya dengan sungguh-sungguh sambil menggenggam tangan Rukia.

"Maka bantu aku untuk mewujudkannya—" Rukia membalas dengan senyuman lalu menghujani ciuman pada setiap sudut wajah Ichigo dan berakhir di bibirnya – bibir suaminya.

Yah—inilah hidup, banyak masalah dan kebahagiaan yang datang silih berganti. Tapi semuanya mempunyai arti dan tidak ada yang terjadi tanpa mempunyai arti.

Karena hidup akan baik-baik saja.

Biarkan sakit mengingatkanmu bahwa hati dapat disembuhkan. Sakit itu ada obatnya bukan?

Everything will be okay in the end, if it's not okay, it's not the end.

The end


Regards Yuna Taiyou –

Thank you for all of the readers, I hope you will find the okay ending.

Im so sorry to make you wait for this stupid fic, and I'm verry happy to have someone who wait for me to finish this work.

For the last, Thank you again standing so strong for me minna san.

At last Thank you Tite Kubo san for borrowing me your chara. Hontou ni arigatou U_U