Title:Those Creepy Fangs – Prolog
Author:nanaspineapple
Pairing:Yewook
Genre:Supernatural, drama
Rating:T
Disclaimer:Kesamaan nama tokoh memang disengaja
Summary:Didatangi dan dicintai makhluk bertaring pengisap darah bukan salah satu dari cita-cita seorang Kim Ryeowook, tapi itu karena dia tidak tahu takdir macam apa yang sudah disusun untuknya.


CHAPTER 1 – A Vampire and A Human's Wallet

Secara umum, telah diketahui bahwa manusia tinggal di seluruh belahan bumi. Manusia hidup berdampingan dengan ciptaan Tuhan yang lain, seperti hewan dan tumbuhan.

Tentu manusia berpikir bahwa merekalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna, karena diberkati akal yang melebihi semua makhluk di bumi ini. Hanya saja mengenai hidup berdampingan dengan makhluk lain yang berbeda dunia, manusia tidak pernah tahu mengenai itu.

Makhluk-makhluk dalam mitos seperti vampir, penyihir, werewolf, cyclops, elf dan lain-lain itu sebenarnya nyata. Di masa lalu, duluuu sekali, mereka hidup berdampingan bersama manusia. Hanya saja, karena cara hidup mereka dengan manusia sangat berbeda, manusia membenci mereka.

Akhirnya, untuk menghindari konflik berkepanjangan yang bisa menyebabkan perang tak diinginkan, makhluk-makhluk tersebut membuat replika bumi yang dibatasi oleh ruang dan waktu dan tinggal di sana. Karena mereka jumlahnya tidak banyak dan hanya hidup di beberapa bagian bumi, tidak semua orang tahu mengenai mereka. Saat manusia melapor bahwa makhluk-makhluk itu menghilang, kebanyakan tidak percaya. Manusia di daerah lain menganggap itu dongeng daerah setempat, dan cerita terus berlangsung secara turun- temurun.

Bahkan sampai sekarangpun, masih tidak ada manusia yang percaya dengan keberadan makhluk-makhluk lain itu. Mereka sebenarnya tidak sadar, bahwa ada keajaiban di depan mata mereka...

oooooooooooooo

Kim Jongwoon, di Kota Seoul.

Dengan mantel tiga perempatnya yang putih bersih dan ditutup dari kancing paling atas sampai kancing di depan sabuknya, celana hitam longgar yang bagian bawahnya dimasukkan ke dalam sepatu boots, ia menoleh-noleh ke sekitarnya. Saat itu malam di dunia manusia, dan sangat sepi. Ia berbalik dan melihat sebuah bangunan besar dan luas. Sebenarnya di depan gedung itu jelas-jelas tertulis bahwa itu adalah universitas, yang sayangnya ditulis dalam huruf Hangul.

Dalam hati, ia menyalahkan Sesepuh yang tidak memberitahunya soal tulisan ini. Para vampir hanya menggunakan huruf latin untuk baca-tulis dan Bahasa Inggris sebagai sarana komunikasi. Sesepuh sudah membekalinya sihir agar bisa bicara Bahasa Korea dan itu justru membuatnya semakin menyalahkan mereka karena tidak sekalian memberi sihir agar bisa baca-tulisnya juga.

Ia lalu melihat seorang lelaki kecil berjalan cepar meninggalkan gedung besar yang sedang ditatapnya. Setelah sekian lama, setelah beberapa tahun, Kim Jongwoon menyeringai.

"Itu dia."

oooooooooooooo

Lelaki bertubuh kecil itu berjalan dengan cepat karena sadar ini sudah terlalu malam. Ia pulang telat lagi. Sebenarnya ia sudah sering sekali pulang malam—dan selalu berjalan dengan cepat juga.

Langkah kaki Jongwoon yang terlalu lembut dan anggun tidak menimbulkan suara sedikitpun, membuat lelaki yang sedang ia ikuti tidak menyadari keberadaannya sama sekali. Jongwoon dapat menyusul anak itu dengan mudah karena langkah vampir memang selalu cepat. Ia berada sekitar tujuh langkah di belakang anak itu, tapi tak ada tanda-tanda bahwa anak itu sadar sedang diikuti.

Begitu ada lampu yang bersinar di belakang Jongwoon dan bayangannya memanjang dan mencapai tempat anak itu, keduanya berhenti. Jongwoon menatap manusia di depannya dalam diam. Ia sudah ketahuan.

Sedetik kemudian, manusia itu lari, dan Jongwoon mengejarnya. Jongwoon dapat merasakan ketakutan manusia itu, padahal saat itu Jongwoon sengaja menahan diri agar tidak berlari terlalu cepat, jadi jarak mereka tidak terlalu dekat. Manusia itu tidak terlihat akan menghentikan larinya, padahal jarak yang ditempuh sudah cukup jauh, dan itu membuat Jongwoon lelah. Bukan lelah secara fisik, tetapi lelah menghadapi manusia yang dinilainya agak kepala batu ini.

oooooooooooooo

Lelaki bertubuh kecil yang baru pulang dari kampusnya itu bernama Kim Ryeowook. Tidak seperti malam-malam sebelumnya, ia berlari. Satu-satunya alasan ia berlari adalah sebuah sosok yang mengikutinya dari belakang. Ia tidak tahu siapa itu atau apa tujuannya, tetapi Ryeowook tidak mau tahu dan ingin segera sampai di rumah.

Sambil berlari, Ryeowook memikirkan kehidupannya belakangan ini. Apa ia berbuat jahat pada seseorang? Apa ia melakukan sesuatu yang salah? Ia memikirkan semua hal buruk yang mungkin baru-baru ini ia lakukan, yang mungkin ia lupa. Ingatannya selalu bagus, dan ia tidak ingat sudah melakukan sesuatu yang buruk. Lalu apa motivasi orang di belakang itu mengikutinya? Ryeowook benar-benar membuat skenario terburuk di kepalanya; perampokan, penculikan, perbudakan, pelecehan, sampai pembunuhan. Sebenarnya sesaat ia pikir agak berlebihan, tetapi normal-normal saja untuk membuat asumsi pesimis dalam keadaan menakutkan seperti ini.

Ryeowook yakin sudah berlari secepatnya, makanya ia tidak siap saat orang yang mengikutinya itu berhasil menyusulnya. Tubuhnya kaku saat melihat rambut merah berkibas pelan di depan wajahnya. Sepasang mata yang sehitam malam itu justru membuatnya semakin takut. Tapi satu hal yang jelas, sejak tadi ia tidak berharap untuk diikuti pria yang… setampan ini. Dari tadi yang ia pikirkan adalah pria botak kekar dengan tato naga di lengannya. Tapi yang ini bukan hanya tampan, tapi juga rapi, terawat dan bahkan elegan, membuatnya makin kaku.

Ryeowook jatuh terduduk saat ia melihat benda familiar di tangan pria itu, jadi tangannya bergerak untuk meraba kantung belakangnya. Itu dompetnya. Ia membelalak saat pria itu tidak mengatakan apapun dan melangkah pergi. Rasanya ia ingin menangis saat melihat pria itu menghilang dalam belokan yang gelap, dan saat ingat di dalam dompet itu ada uang tunai dan banyak kartu-kartu yang penting. Salah satu skenario terburuknya jadi nyata. Ia kecopetan.

oooooooooooooo

Sinar matahari pagi menembus selembar gorden yang digantung di bagian dalam kusen jendela sebuah kamar. Gorden putih itu tidak bergerak sama sekali karena semua ventilasi dan jendela di kamar itu ditutup, dengan alasan ACnya sedang menyala.

Saat Ryeowook membuka matanya, ia sama sekali tidak ada semangat untuk bangkit dari kasur. Setelah kejadian semalam, ia merasa kehidupannya akan menjadi agak suram. Ia tidak yakin punya waktu dan keinginan sebanyak itu untuk membuat ulang semua kartu di dalam dompetnya. Ia merengut, sadar semakin ia memikirkannya, semuanya akan jadi makin sulit.

Semalas apapun Ryeowook untuk bangun, ia tetap bukan tipe orang yang suka berlama-lama di kasur setelah bangun. Jadi detik berikutnya ia sudah duduk dan menghela napas lelah. Ryeowook hanya tinggal di sebuah apartemen kecil, jadi begitu ia mengedarkan pandangan, ia bisa saja melihat seluruh isi rumahnya. Namun belum sempat seluruh rumahnya terlihat, matanya berhenti di sofa dekat jendela, lalu membelalak.

Laki-laki berambut merah tadi malam sedang duduk di sana. Ia tidak memakai mantel dan bootnya, hanya memakai kaus biru gelap berlengan panjang berkerah tinggi menutupi leher dan celana jeans hitam. Ia duduk dengan tangan kanan di balik sandaran sofa, kaki kiri naik ke atas sofa, pahanya hampir menyentuh dadanya, dan tangan kirinya ada di tengah pahanya yang naik. Matanya yang begitu gelap menatap Ryeowook dalam-dalam.

"Kau!" jerit Ryeowook sambil menunjuk Si Kepala Merah itu dengan telunjuknya. "Kau yang tadi malam! Ngapain ke sini! Ini rumahku!"

"Berisik, aku cuman mau balikin ini," keluh Si Kepala Merah itu sambil melempar dompet Ryeowook ke arah kasur. Sesaat Ryeowook merasa lengan pria itu pasti kuat, karena bisa melempar dompetnya sejauh itu. Sadar tidak ada gunanya berpikir seperti itu, ia menyambar dompetnya dan memeriksa isinya. Si Kepala Merah itu mendecih. "Aku nggak ngambil apa-apa."

Isi dompetnya memang tidak berkurang dan itu membuat Ryeowook menghela napas lega, lalu mengamankan dompetnya di belakangnya. Ia menatap pria di seberangnya dengan curiga. "Apa yang kau inginkan?" tanya Ryeowook.

"Kau," jawab pria itu sambil tersenyum miring.

"A-apa?" tanpa alasan yang jelas, wajah Ryeowook memerah. "Kenapa kau mengambil dompetku?"

"Karena aku mau memastikan kalau aku tidak salah orang." Jongwoon menunjuk Ryeowook. "Kau Kim Ryeowook, 'kan?"

"Kenapa kau mengembalikan dompetku?"

Jongwoon merengut saat mendengar Ryeowook mengalihkan pembicaraan, tapi ia sadar mungkin ini belum waktunya ia yang bertanya. "Aku nggak butuh."

Ryeowook mengernyit heran. Ini pertama kalinya ia melihat seseorang mengambil dompet orang lain dengan sengaja, hanya untuk melihat tanda pengenalnya, lalu sengaja mengikuti ke rumahnya untuk mengembalikannya. Sampai bilang tidak butuh segala? Sebenarnya Ryeowook agak tersinggung mendengarnya. Di dalam dompet itu ada uang yang tidak sedikit, ada kartu ATM, kartu kredit, kupon restoran, dan voucher diskon di supermarket. Bahkan ada tiket bioskop yang filmnya bisa ditonton akhir minggu ini! Lalu apanya yang tidak butuh? Entah Ryeowook harus bilang orang ini baik hati atau aneh.

"Kenapa kau mengikutiku ke sini?" tanya Ryeowook, berharap mendapat jawaban, 'aku hanya mau mengembalikan dompetmu,' lagi, lalu pria itu pulang dan ia bisa hidup seperti biasa. Tapi apa yang dilakukan lelaki Kepala Merah itu benar-benar di luar dugaan.

Lelaki itu berdiri dari sofa, lalu berlutut di atas lutut kanannya, telapak tangan kirinya datar di atas lantai, dan telapak tangan kanannya di atas dada kirinya. "Kim Ryeowook… aku ke sini atas petunjuk takdir, aku melakukan seperti yang telah diperintahkan padaku. Tak ada kesalahan yang terjadi sejak aku melangkah di dunia ini. Jadi mulai saat ini, terimalah aku dan biarkan aku berada di sisimu."

Hening.

Ryeowook kaku di tempat, rahangnya jatuh, matanya membelalak. Cowok ini apa-apaan, sih? pikir Ryeowook panik. Ia tidak mau mempercayai apa yang baru ia lihat dan dengar. Ia berharap ini semua hanya mimpi. Ia berharap tidak ada pria yang mengikutinya malam-malam lalu mengambil dompetnya, masuk ke rumahnya untuk mengembalikan dompetnya esok harinya, dan sekarang berlutut dan bahkan… entahlah, menyerakan diri?

"Bicara apa kau?! Ka-kalau tak ada urusan, cepat pergi!" seru Ryeowook, jelas-jelas panik. Si Kepala Merah itu masih berlutut, tetapi ia mengangkat kepalanya. Ryeowook semakin merasa terintimidasi oleh mata gelap pria itu. "Berdiri, kau tak perlu berlutut seperti itu."

Pria itu berdiri perlahan. "Apa maksudmu aku tak ada urusan?" tanyanya, matanya menatap manusia di depannya dengan dalam sampai Ryeowook merasa akan menangis kapan saja. "Ini urusan hidup atau mati. Makan atau dimakan. Mana bisa aku pergi?"

"Tentu saja kau harus pergi! Aku bahkan tidak mengenalmu!"

"Benar juga. Aku belum memperkenalkan diri dengan pantas. Astaga, di mana sopan santunku?" katanya, bicara sendiri. "Aku Kim Jongwoon, aku baru dikirim ke sini tadi malam untuk mencarimu. Aku…" Jongwoon berhenti sebentar. "…kalau aku bilang aku ini vampir, kau percaya, tidak?"

Ryeowook mengernyit. "Apa? Tentu saja tidak. Dan apa maksudmu mencariku?"

"Aku 'kan sudah bilang, itu takdir. Kim Ryeowook, 22 tahun. 21 Juni. Masih sekolah, tinggal sendiri, asli orang Incheon. Betul tidak? Mereka cuman bilang itu, sih."

Ryeowook membelalak kaget. "Apa? Siapa 'mereka'? Kenapa 'mereka' itu ingin kau mencariku?"

"Kalau kau membiarkanku menjelaskan, kau akan tahu."

Ryeowook menatap Jongwoon dengan kernyitan di wajahnya. Tapi tiba-tiba ia merasa tidak punya pilihan lain selain mendengarkan. "Ya, sudah. Tolong jelaskan."

oooooooooooooo

Vampir adalah salah satu jenis makhluk dalam keluarga Setan. Dunia Setan dipimpin oleh Para Tetua, yang merupakan perwakilan dari tiap jenis setan. Setiap jenis setan dipimpin oleh Para Sesepuh, yang dianggap dituakan dan lebih berpengalaman serta lebih berilmu.

Vampir sendiri berasal dari manusia. Manusia yang digigit kelelawar yang telah disuntik kristal sihir akan mati, lalu dibekukan dalam lachryma selama 100 tahun agar menjadi vampir sempurna. Lachryma, sesuai namanya, adalah air mata manusia yang dikumpulkan selama ratusan tahun oleh Para Sesepuh. Air mata yang digunakan adalah air mata emosional, bukan air mata karena terkena debu atau memotong bawang. Air mata emosional ini dipilih agar sifat manusia yang dibawa tidak akan hilang meskipun telah menjadi vampir.

Seperti yang telah diketahui kebanyakan orang, vampir memakan darah. Untuk vampir yang dianggap 'level'-nya lebih rendah, setelah proses pembekuan selesai akan langsung dilepas ke dunia manusia. Padahal vampir di 'level' ini terpilih secara acak, ada yang masih kecil, sudah remaja atau sudah dewasa. Yang sulit adalah apabila masih bayi atau balita. Vampir-vampir ini biasanya setelah tinggal di dunia manusia akan hidup selayaknya manusia biasa, memiliki keluarga angkat, sekolah dan bekerja. Tapi tentu saja mereka tetap minum darah.

Untuk vampir yang dianggap memiliki 'level' yang lebih tinggi, setelah jadi vampir tidak akan langsung dilepas, tapi ditahan dulu di Dunia Vampir. Vampir di tingkatan ini juga minum darah manusia, dan tentu saja bisa manusia yang mana saja. Tetapi vampir ini memiliki satu orang manusia khusus yang darahnya bisa memberikan energi penuh pada mereka. Sampai manusia khusus ini siap, vampir di tingkatan ini akan tetap ditahan di Dunia Vampir. Karena itu, vampir yang 'level'-nya tinggi ini biasanya sudah dewasa.

oooooooooooooo

Jongwoon berdiri di antara kasur dan sofa. Kedua tangannya ada di saku celananya dan dia sudah memakai mantelnya, tetapi ia tetap bertelanjang kaki. Ia terus berjalan ke sana ke mari selama bercerita, tidak bisa diam sama sekali. Sementara Ryeowook duduk di lantai di sisi kiri kasur sambil memeluk kakinya, bahu kanannya disenderkan ke tepian kasur. Sudah beberapa kali Jongwoon menyuruhnya naik karena di lantai dingin, tetapi Ryeowook bersikeras untuk duduk di sana.

"Kenapa, sih?" tanya Ryeowook, suaranya terdengar lesu. "Kenapa aku tidak bisa percaya pada apapun yang kau katakan barusan?"

Jongwoon menatapnya lalu menghela napas. "Apa kau perlu bukti?"

"Enggak!" jerit Ryeowook, ada keputusasaan dalam suaranya. "Aku enggak perlu bukti apapun! Harusnya tadi aku nggak minta dijelaskan… ceritamu itu sangat aneh! Kenapa juga aku harus percaya pada orang yang tidak kukenal sama sekali…" lanjutnya. Ia lalu menatap Jongwoon sedih. "Apa kau amnesia? Kepalamu terbentur sesuatu?"

"Apa? Tidak."

"Sepertinya aku harus menyuruhmu pergi."

"Kau tidak bisa."

"Tentu saja aku bisa. Ini rumahku."

"Tapi aku—"

"Pergi."

"Kau harus mendengarkanku—"

"Aku tidak mau dengar apa-apa lagi jadi keluarlah!" seru Ryeowook, tidak tahan lagi. "Kumohon."

Jongwoon menghela napas, lalu bergerak ke sisi sofa dan mengambil sepatunya yang ia letakkan di sana. Ia menatap Ryeowook dan menghela napas lagi, yang ini terdengar lelah. "Kau tahu, melihatmu seperti ini, aku jadi berpikir kalau manusia itu tidak punya fantasi. Apa salahnya percaya pada hal aneh yang menakjubkan seperti yang baru kuceritakan? Apakah daya khayalmu kurang atau kau berusaha jadi manusia normal, yang tidak percaya bahwa di depan matamu ada pria—yah, vampir yang dipenuhi keajaiban?"

"Fantasi itu bukan sesuatu yang vital dan manusia akan baik-baik saja tanpa itu. Aku memang berusaha jadi normal karena normal itu sehat. Keluarlah."

"Dari tadi aku tidak bohong lho."

"Aku tidak peduli. Kok kau tidak pergi-pergi sih?"

"Maaf. Aku pergi dulu."

"Tidak usah pamit. Jangan kembali lagi."

Jongwoon mengangkat kedua bahunya, lalu mulai berjalan. Ryeowook tidak memperhatikan saat Jongwoon melangkah keluar, tetapi ia tidak bisa mendengar suara langkah kakinya. Pria itu berjalan dengan terlalu lembut sampai-sampai seolah telapak kakinya membelai lantai. Setelah Jongwoon sampai di depan, ada jeda sesaat dan Ryeowook yakin Jongwoon sedang memakai sepatunya. Begitu terdengar suara pintu ditutup, Ryeowook langsung menggeram dengan kesal dan menjatuhkan diri ke belakang, di atas lantai rumahnya yang dingin.

oooooooooooooo

Ryeowook berjalan menyusuri koridor kampusnya dengan wajah ditekuk. Bibirnya melengkung ke bawah, pandangan matanya menyiratkan bahwa apapun yang ada di depannya menyebalkan, alisnya menukik ke dalam. Lee Sungmin, kakak kelas sekaligus teman akrabnya, memasang wajah lelah terhadap Ryeowook.

"Ryeowook-ah… kamu kenapa, sih?" tanyanya bingung. "Wajahmu nggak enak dilihat, tahu. Senyum, dong. Senyum." Sungmin mengangkat kedua telunjuknya ke kedua ujung bibirnya, lalu menarik telunjuk dan bibirnya ke atas bersamaan, membentuk sebuah senyuman.

"Berisik, ah. Moodku lagi jelek, nih," gerutu Ryeowook.

Sungmin menurunkan tangannya dan wajahnya kembali datar. "Ada masalah apa, sih?"

"Aku malas curhat."

"Tumben."

"Biarkan aku."

Sungmin berhenti melangkah karena ia sudah ada di depan kelasnya. Ryeowook ikut berhenti, tapi tetap tidak menatap Sungmin. Ia masih cemberut dan memandang ke arah lain. Sungmin menghela napas, lalu menepuk bahu Ryeowook pelan.

"Kalau kelasku sudah selesai aku akan ada di kantin untuk segelas jus jeruk. Aku akan menyiapkan satu kursi untukmu, jadi kalau mau datang, datang saja, ya?"

Ryeowook tidak menjawab. Sungmin menunggu dan ia menaikkan kacamatanya yang sedikit melorot. Ketika Ryeowook mengangguk, Sungmin tersenyum dan menepuk bahunya dua kali.

"Sampai nanti."

Mata Ryeowook mengikuti Sungmin saat kakak kelasnya itu masuk kelas, lalu menghela napas, memutar tubuh, dan berjalan ke kelasnya.

Sungmin sudah duduk di kursinya. Tasnya di atas meja, punggungnya menempel di sandaran kursi dan badannya agak melorot. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, kakinya diselonjorkan di bawah meja, satu kaki di atas kaki yang lain dan matanya mengarah ke atas, menatap langit-langit kelas melalui lensa kacamatanya.

Ia lalu memandang mejanya selama beberapa saat. Setelah itu, tanpa melihat siapapun atau apapun, bola matanya bergerak ke kanan.

"Ryeowook… dia benar-benar terasa aneh hari ini…" ujarnya pelan.

oooooooooooooo

Sesuai kata-katanya, Lee Sungmin benar-benar ada di kantin sewaktu Ryeowook ke sana untuk memastikan. Lelaki berkacamata itu sedang membaca sebuah novel, kelihatannya 100 halaman lagi ia selesai membacanya. Di atas mejanya benar-benar ada segelas jus jeruk yang kelihatannya baru diteguk tiga kali. Ada sebungkus kentang goreng di sana, kentangnya masih banyak.

Ryeowook ragu untuk menyusulnya ke sana atau tidak, karena ia benar-benar dalam mood yang tidak baik dan tidak terlalu ingin mengobrol dengan siapapun. Dalam hati ia benar-benar menyalahkan vampir (dia sebenarnya tidak yakin mau menyebutnya begitu) yang aneh itu tadi pagi. Tapi saat ia mengangkat kepala lagi, Sungmin sedang tersenyum ke arahnya, melambai, memberi isyarat untuk mendekatinya, dan menunjuk kursi kosong di depannya. Mau tak mau Ryeowook menghampirinya juga.

Sungmin masih tersenyum saat Ryeowook menarik kursinya dan duduk di atasnya. "Sudah kuduga kau akan datang," ujarnya. "Kau lapar? Mau pesan sesuatu?"

"Tidak usah," jawab Ryeowook sambil menggeleng pelan. "Aku tidak lapar."

"Ey, ini sudah jam makan siang. Biarkan aku membelikan sesuatu untukmu, ayolah."

Ryeowook tersenyum. "Sebenarnya, sandwhich hari ini terlihat enak." Sungmin tersenyum lebih lebar, meletakkan pembatas buku di dalam novelnya, lalu berdiri.

"Aku akan mengambilkannya untukmu, tunggu ya."

Sungmin pergi ke counter dan menunjuk sandwhich yang selalu jadi menu andalan kantin dan makanan paling laris yang jadi favorit semua mahasiswa di sana. Juru masak di kantin selalu membuatnya dalam skala besar, dan biasanya tiap hari isinya selalu berbeda. Sungmin kembali dengan sebungkus sandwhich di tangannya dan jus jeruk di tangan yang lain. Begitu sampai di mejanya, ia meletakkan kedua makanan itu di depan Ryeowook dan mengisyaratkan Ryeowook untuk segera menyantapnya.

"Terimakasih, Hyung," ujar Ryeowook sambil tersenyum. Ia mengambil jusnya dan menyeruputnya perlahan.

"Nah, kalau kamu tersenyum seperti itu 'kan lebih enak dilihat. Punya wajah manis nggak ada gunanya kalau nggak tersenyum, tahu," ujar Sungmin sambil menggigit kentang gorengnya. Ryeowook tertawa kecil.

"Maafkan aku, Hyung. Kalau bukan karena Hyung, mungkin aku masih cemberut sampai besok."

"Tak perlu dipikirkan. Makannya pelan-pelan saja."

Ryeowook mengangguk, lalu menggigit sandwhichnya dan mengunyahnya perlahan. Sungmin mengambil dua batang kentang goreng dan memasukkannya ke dalam mulut, lalu mengunyahnya sambil membuka novelnya di bagian ia meletakkan pembatasnya tadi.

"Hyung," panggil Ryeowook tiba-tiba. Mata Sungmin naik dari novelnya ke wajah Ryeowook, lalu wajahnya ikut naik, ia masih tersenyum. "Hyung… tahu vampir, kan?" mendengar pertanyaan Ryeowook, senyum Sungmin menghilang.

"Tentu saja aku tahu. Memangnya kenapa?" tanya Sungmin, ia memiringkan kepalanya dan menutup novelnya lagi. Ia tidak peduli walaupun barusan ia bahkan belum membaca satu kalimat.

"Apa yang Hyung tahu soal vampir?"

"Hmm… vampir makhluk mitologi, iya. Istilah vampirnya sendiri baru populer di abad ke-18, di daerah Eropa. Versinya berubah-ubah dari masa ke masa, dan bahkan tiap daerah punya vampirnya sendiri. Orang-orang jaman dahulu percaya sekali akan adanya vampir, lalu sekarang, entahlah. Soal ada tidaknya vampir itu masih dipertanyakan banyak orang, tapi yang jelas, sampai sekarangpun masih ada orang yang percaya tentang keberadaan vampir.

Vampir versi modern ini… yah, kau tahu sendirilah. Tampan, klimis, rapi, elegan, pakai setelan lengkap, jubah panjang, bisa berubah jadi kelelawar, mati kalau kena sinar matahari… tapi itu hanya imajinasi orang-orang saja. Versi aslinya, yah, siapa yang tahu? Bahkan ada atau tidaknya saja tidak jelas."

Ryeowook mengangguk-angguk dengan kagum. "Wahh… bagaimana Hyung bisa tahu begitu banyak?" Sungmin tersenyum, lalu mengetuk-ngetuk bukunya dengan telunjuknya.

"Aku banyak membaca. Mungkin, terlalu banyak. Tapi membaca itu bagus. Lebih dari 50% informasi bisa didapat dari membaca. Kau juga harus lebih banyak membaca."

"Aku sudah banyak baca, kok."

"Aku tahu, tapi cobalah koran, ensiklopedi, sejarah dan biografi." Ryeowook terkekeh malu, lalu menggigit sandwhichnya lagi. Sungmin menyeruput jus jeruknya, kali ini agak cepat, sampai isinya tinggal setengah. "Tapi, kenapa tiba-tiba kau tanya tentang vampir?"

"Um…" Ryeowook menggigit bibirnya, agak ragu untuk menjawab, dan itu membuat Sungmin mengangkat satu alisnya. "Tiba-tiba aku ingin belajar tentang mitos-mitos," katanya.

"Apa hubungannya dengan jurusan senimu?"

"Memangnya salah?"

Sungmin tertawa. "Tidak, sih. Di perpustakaan banyak buku tentang mitos lokal dan internasional. Dekat rak buku-buku sejarah. Carilah di sana. Bukunya sudah lama, kertasnya sudah menguning dan baunya tidak enak, tapi isinya bagus."

oooooooooooooo

Ryeowook sudah pulang 47 menit yang lalu. Sandwhichnya sudah habis dan gelas jus jeruknya sudah kosong. Lee Sungmin, entah kenapa masih duduk di sana. Ia tidak menyentuh novelnya sejak Ryeowook pulang dan hanya sibuk SMSan dengan dosennya. Setelah ia mengirim pesan ke-12, ia mengunci layar ponsel touchscreennya dan menempelkan bagian atasnya ke bibirnya.

"Vampir, ya…" katanya pelan. Ia mengambil novelnya dan berdiri. "Sepertinya aku harus baca buku mitos lagi." Sungmin berjalan meninggalkan kantin, menuju perpustakaan.


A/n:Oke, ini… kayak gak ada ceritanya :" tapi ini adalah awal jadi segalanya (?) jadi mohon bersabar dengan sayaaa

Makasih buat yang udah nyempetin baca, terutama yang nyempetin review :B