CHAPTER 2 – Tale of Vampire

Title:Those Creepy Fangs – Tale of Vampire
Author:nanaspineapple
Pairing:Yewook
Genre:Supernatural, drama
Rating:T
Disclaimer:Kesamaan nama tokoh memang disengaja
Summary:Didatangi dan dicintai makhluk bertaring pengisap darah bukan salah satu dari cita-cita seorang Kim Ryeowook, tapi itu karena dia tidak tahu takdir macam apa yang sudah disusun untuknya.

A/n:Ini telat tapi whtvr TT


"Oh! Selamat datang!"

Ryeowook membatu di ambang pintu. Lelaki berkepala merah yang baru diusirnya tadi pagi itu sudah ada di rumahnya lagi. Kali ini ia bahkan tidak memakai baju, menampakkan dadanya yang bidang. Saat itu Ryeowook baru sadar kalau Jongwoon mengenakan kalung rantai perak yang ia kira bandulnya salib, tapi ternyata bandulnya pedang yang bentuknya hampir seperti salib.

"Kau… apa yang kau lakukan di rumahku lagi?!" geram Ryeowook, ia melempar tasnya ke lantai dengan marah, membuat Jongwoon tersentak kaget

"Aku bingung kalau di luar. Aku 'kan sudah bilang kalau aku baru sampai di sini jadi aku tidak tahu apa-apa. Aku tidak ada kerjaan, jadi balik ke sini lagi saja," jelas Jongwoon, mengangkat kedua bahunya. "Lagipula, bukannya aku juga sudah bilang kalau aku ke sini untukmu, untuk mengabdi padamu, untuk melindungimu."

"Apaan, sih. Aku sengaja tinggal sendiri supaya bisa jaga diri sendiri, tahu. Aku tak perlu dijaga lelaki seperti kau," decih Ryeowook.

"Banyak hal buruk yang bisa terjadi padamu, lho."

"Memang. Dari dulu, dan akan tetap seperti itu."

"Vampir itu kuat, lho."

Ryeowook menggeram. "Kenapa kau ngotot kalau kau ini vampir, sih?"

"Ho…" Jongwoon mengangkat kedua alisnya. "Sepertinya kau butuh bukti kali ini."

Ryeowook menghela napas lelah. "Ya, sudah. Aku memang butuh bukti otentik. Cepat tunjukkan padaku," katanya, menyerah.

Wajah Jongwoon yang tadinya santai berubah menjadi sangat tajam. Ia membuka mulutnya sedikit dan Ryeowook memperhatikan saat dua gigi taring di deretan gigi atas lelaki itu memanjang dan sisinya menjadi bergerigi. Gigi itu berhenti tumbuh setelah panjangnya mencapai dua kali panjang sebelumnya, dan Ryeowook tidak bisa mengalihkan matanya. Jongwoon mengangkat tangannya secara horizontal di depan mulutnya, lalu menyipitkan mata saat kuku-kukunya memanjang dan menajam. Ryeowook bergetar ketakutan di tempatnya, kaku.

"Mataku," ujar Jongwoon sambil menunjuk mata kanannya dengan telunjuknya yang runcing. "Sebenarnya aku ingin menunjukkannya padamu juga, tapi terlalu berbahaya. Jadi tak akan kulakukan. Aku cuman bisa bilang kalau mataku sebenarnya merah—hampir samalah dengan rambutku. Aku pakai lensa kontak hitam."

"Kau…" ujar Ryeowook ketika ia menemukan lagi suaranya, dan terdengar ketakutan. "Kau bukan manusia!" Ryeowook menunjuk Jongwoon, dan entah kenapa menangis.

"Memang." Jongwoon mengedikkan kedua bahunya. Gigi dan kukunya sudah kembali seperti semula.

"Aku tidak bisa membiarkanmu begini! Aku harus menelepon polisi!" Ryeowook mengeluarkan ponselnya dan mengetik sesuatu dengan jari gemetaran.

"Hei, kenapa kau ketakutan begitu, sih?"

"Tentu saja aku takut! Kau akan menggunakan semua itu untuk menyakitiku, atau bahkan membunuhku, kan?" jerit Ryeowook, air matanya makin deras. Jongwoon mendesis kesal, lalu menampar tangan Ryeowook, membuat ponselnya melayang ke kasur. Jongwoon mendekatkan wajahnya, dan memegang kedua bahu Ryeowook.

"Kau tidak dengar aku?" tanya Jongwoon, suaranya rendah dan penuh kekesalan. "Aku ke sini untuk melindungimu."

Jongwoon melepas tangannya karena Ryeowook terlihat sangat ketakutan. Jongwoon mundur dua langkah, lalu berlutut seperti yang ia lakukan saat pertama kali bertemu Ryeowook. "Aku akan mengulanginya," ujar Jongwoon. "Kim Ryeowook… aku ke sini atas petunjuk takdir, aku melakukan seperti yang telah diperintahkan padaku. Tak ada kesalahan yang terjadi sejak aku melangkah di dunia ini. Jadi mulai saat ini, terimalah aku dan biarkan aku berada di sisimu."

Ryeowook menggigit bibirnya dengan ragu. "Bagaimana aku bisa percaya padamu? Kalaupun aku bisa, aku tak tahu harus mulai dari mana…"

Jongwoon mengangkat kepalanya, lalu berdiri. Ia mendekati Ryeowook lagi, kali ini dengan perlahan dan sebuah senyum di wajahnya. Ryeowook tidak bergerak, menunggu. "Mulailah dengan memanggil namaku, Ryeowook-ah," ujar Jongwoon. "Kim Jongwoon. Coba panggil aku."

Ryeowook masih menatap Jongwoon ragu. "E… embel-embel apa yang harus kupakai?" Jongwoon tertawa kecil.

"Secara umur aku memang jauh lebih tua, sih… tapi tidak usahlah. Panggil biasa saja."

Untuk alasan yang tidak terlalu jelas, wajah Ryeowook memerah. "Jong… woon…"

Senyum Jongwoon melebar, lalu ia menepuk kepala Ryeowook.

oooooooooooooo

Kim Jongwoon, Si Vampir.

Ia masih bertelanjang dada dan sedang melihat-lihat buku di lemari Ryeowook. Sudah lebih dari 30 menit ia berdiri di sana dan tidak menemukan satu bukupun yang memakai Bahasa Inggris. Semuanya hangul. Jongwoon sama sekali tidak mengerti huruf, cara baca dan peletakannya. Ia menemukan banyak sekali kombinasi dari beberapa bentuk yang tetap, tapi tetap saja tidak mengerti.

Ryeowook, yang saat itu sedang memasak, berkali-kali menengok ke belakang untuk melihat apa yang Jongwoon lakukan. Sebenarnya Ryeowook khawatir kalau Jongwoon akan mengacak-acak rumahnya atau semacamnya, tapi melihat Jongwoon yang begitu tenang dan hanya melihat-lihat buku, ia tidak terlalu khawatir.

Saat Ryeowook selesai memasak dan mematikan kompor, ia tidak sengaja melihat sebuah tanda seperti tato di sudut bawah punggung Jongwoon, tepatnya di pinggang kanannya. Ryeowook cepat-cepat menghampiri vampir itu dan berjongkok di belakangnya, tidak peduli walaupun bokong Jongwoon tepat di depan wajahnya. Ia menusuk tanda itu dengan jarinya.

"Ey, apa yang kau lakukan?!" seru Jongwoon, kaget. Bukan kaget karena tiba-tiba Ryeowook tiba-tiba ada di belakangnya, tapi karena tiba-tiba Ryeowook menusuk pinggangnya. Ia cepat-cepat berbalik badan dan melihat Ryeowook berjongkok sambil menatapnya. Ryeowook berdiri, lalu menyentuh lengan Jongwoon, memaksanya untuk berbalik. "Apa, sih?"

"Tato apa itu di pinggang belakangmu?" tanya Ryeowook. Jongwoon menatapnya, lalu memutar bahu kanannya ke dalam dan menyentuh tatonya itu.

"Oh, ini? Ini bukan tato, ini tanda klan."

"Klan?"

"Iya, di Dunia Vampir, semuanya punya klan masing-masing, jadi semuanya punya tanda begini juga. Letaknya tidak pasti, karena tanda ini dilempar begitu saja dengan sihir, jadi bisa kena bagian mana saja," jelas Jongwoon.

Ryeowook membungkukkan badan agar bisa melihat tanda itu lebih jelas, dan kali ini Jongwoon membiarkannya. Tanda itu hitam, dan berupa sayap kelelawar, tetapi hanya satu. Bentuknya seperti sayap yang dipotong dari badan kelelawar. "Ini gambar sayap?" tanya Ryeowook. "Kenapa hanya satu?"

"Begini," ujar Jongwoon, memulai. Ia membalik tubuhnya dan menghadap Ryeowook, membuatnya menegakkan tubuhnya lagi. Jongwoon bersedekap dan bersandar di lemari buku Ryeowook. "Vampir itu berasal dari manusia yang digigit kelelawar. Tetua dari Klan Vampir akan menyuntikkan kristal sihir ke tubuh kelelawar, lalu membiarkan kelelawar itu terbang mencari mangsanya. Setelah menggigit manusia, manusianya akan mati, dan kelelawarnya menghilang. Jasad manusia ini akan diamankan oleh Para Tetua, dibekukan di lachryma selama 100 tahun agar menjadi vampir sungguhan.

Aku, berasal dari kelelawar merah. Ini kelelawar yang sudah punah lama sekali dari bumi ini. Kelelawar merah ini, sayap kanannya tidak benar-benar menyatu dengan tubuhnya. Hanya tersambung dengan sedikit otot yang tertutup selaput tipis. Kalau kelelawar ini mati, sayap kanannya akan lepas dari tubuhnya. Makanya lambang klanku hanya sayap kiri saja. Sesuai lambang, nama klanku adalah Halfwing."

"Setiap klan… apa vampirnya beda-beda juga?"

"Tentu saja. Ada yang yang elegan, misalnya aku." Ryeowook mendecih, matanya langsung menscan tubuh Jongwoon dari atas ke bawah. "Ada yang biasa saja," lanjut Jongwoon, tidak peduli. "Ada juga yang liar. Ada yang menggoda. Ada yang menyeramkan. Banyak."

"Perbedaannya dalam hal apa?"

"Hmm, kebiasaan. Secara fisik, bentuk vampir sama saja seperti manusia. Ada yang pendek, tinggi, kurus, gemuk. Tapi secara sikap dan kebiasaan, pasti tiap klan berbeda-beda. Kalau aku misalnya, aku sudah bilang aku ini elegan. Jadi kalau aku mengisap darah, aku akan membuat dua lubang yang rapi dengan taringku, mengisapnya dengan perlahan dan menutupnya dengan apik. Ada tipe yang liar, biasanya taringnya bisa sampai lima kali panjang aslinya—aku saja sampai takut. Tipe yang liar ini akan merobek leher mangsanya dengan kejam dan bahkan menggerogoti dagingnya. Itu mengerikan."

Ryeowook menatap Jongwoon dengan mata membelalak, dan vampir itu langsung tahu kalau ia baru saja menjelaskan sesuatu yang harusnya tidak ia jelaskan.

"Dengar, dengar, aku tahu kau takut jadi aku tidak akan memaksamu memberikan darahmu padaku. Aku bukan tipe pemaksa, oke? Jangan takut."

"Bagaimana aku bisa percaya padamu? Kau bisa saja menggigit leherku saat aku tidur."

"Aku tidak akan melakukan perbuatan pengecut seperti itu."

"Oh ya? Buktikan padaku!" tantang Ryeowook.

Jongwoon mengangkat tangan kirinya sejajar dengan wajah, jari-jarinya lurus ke atas dan jempolnya menekuk di samping telapaknya. Tangan kanannya diletakkan di dada kirinya, jempolnya berada di tengah tulang selangkanya. Sinar berkelebat dari cincin yang ia pakai di telunjuk kirinya. Ryeowook mengernyit, menatap Jongwoon dengan bingung.

"Pose macam apa itu?"

"Ini pose sumpah vampir," jawab Jongwoon tanpa bergerak sedikitpun. "Aku bersumpah atas nama Klan Halfwing dan semua vampir di dunia ini, aku tidak akan menggigit leher dan mengisap darah Kim Ryeowook tanpa seizinnya. Jika hal itu terjadi, maka jantungku akan terbelah menjadi dua di dalam tubuhku." Jongwoon menurunkan tangannya. Ryeowook masih mengernyit bingung. Tidak ada satupun dari mereka yang berbicara setelah itu.

"Apaan, tuh? Jantung terbelah?"

"Tidak masalah kalau kau tidak percaya, tapi barusan aku serius lho."

"Apa cuman karena kau benar-benar vampir, aku harus percaya apapun yang kau katakan?"

Jongwoon mengedikkan bahu. "Terserah. Semua akan terbukti satu-persatu, kok."

Ryeowook mendecih, lalu berbalik badan dan kembali ke dapur. Ia menuang masakannya dari wajan ke mangkuk, menyendok nasi ke mangkuk yang lain, meletakkan keduanya di meja dan mulai makan, sama sekali tidak berniat untuk membaginya dengan Jongwoon. Jongwoon sendiri tidak sempat melihat semua itu karena sudah sibuk duluan dengan rak buku Ryeowook lagi.

oooooooooooooo

Ryeowook mengenakan kaus kakinya dan berdiri sambil celingukan, mencari ponselnya. Ia menuju tempat tidur, meraba-raba permukannya dan mengangkat bantal, sedikit tersenyum saat menemukannya di sana. Ia melihat Jongwoon sedang duduk di lantai, punggungnya bersandar di lemari bukunya. Ia memegang sebuah novel sejarah dan wajahnya serius mengamati setiap kata di dalamnya.

"Jongwoon," panggil Ryeowook, "aku mau berangkat kuliah."

Jongwoon menengok ke arah Ryeowook, langsung berdiri dan meletakkan bukunya dengan asal di lemari. Ia mengambil mantelnya. "Biarkan aku mengantarmu."

"Apa? Kenapa?" tanya Ryeowook, kaget.

"Kita harus saling membiasakan diri dengan keberadaan masing-masing," jawab Jongwoon, mengedikkan kedua bahunya dengan cuek.

"Aku tidak mau," tolak Ryeowook cepat.

Jongwoon menghela napas. "Aku sudah menduganya jadi biarkan aku ikut."

"Memang kau tahu apa soal dunia manusia?"

"Tidak banyak, tapi setidaknya aku tahu kalau aku harus mengunci pintu kalau mau pergi."

"Itu terlalu dasar, Jongwoon. Kalau kau tidak tahu apa-apa sebaiknya jangan ikut atau semuanya akan kacau. Kalau kau celingukan seperti orang kampung di jalan, atau temanku melihatmu, itu buruk."

"Hei, aku ini orang yang berkelas, tahu. Kau jangan mengira kalau aku sedangkal itu, dong. Kau cukup jelaskan padaku apa yang aku tidak tahu dengan tenang. Aku tidak akan minta dijelaskan dua kali, deh."

"Dan bukan cuman itu masalahnya. Aku juga belum bisa mempercayakanmu untuk menjaga rumahku sementara aku tidak ada."

"Kenapa, sih? Aku tidak akan menggores rumahmu yang kecil dan indah ini, janji."

"Bisa kau lakukan sumpahmu lagi untuk yang itu?"

"Aku tidak melakukannya untuk hal kecil begitu."

"Cih. Alasan."

"Kalau kau tidak berangkat sekarang nanti terlambat, lho."

Ryeowook melihat ke arah jam dinding dan menghela napas frustrasi. Ia terlihat menyerah. "Ya, sudah. Ayo ikut. Jangan berbuat yang aneh-aneh. Jangan kacaukan aku. Kalau kau membuat masalah, aku tidak mau melihatmu lagi," ancam Ryeowook, jari telunjuknya mengarah pada Jongwoon dengan cara yang tidak menyenangkan dan tatapan matanya terlihat menusuk-nusuk.

"Tenang saja," ujar Jongwoon sambil tersenyum, lalu mengikuti Ryeowook yang berjalan ke luar.

oooooooooooooo

Jongwoon mengikuti Ryeowook berjalan di trotoar yang mulai ramai. Ryeowook mengelus-elus poni cokelatnya, melihat warnanya mulai memudar karena rambutnya bertambah panjang dan berpikir untuk mengecatnya lagi. Ia menengok ke belakang sambil tetap berjalan, melihat Jongwoon yang mengekorinya dengan tenang, memperhatikan saat ada mobil lewat, saat ada vending machine di tepi trotoar, saat ada orang masuk toko, semua tak luput dari pandangannya.

Ryeowook kembali fokus pada jalanan di depannya, berpikir betapa menyebalkannya hidupnya sekarang. Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba ada vampir jatuh dari langit seperti ini? Ia sendiri tidak mengerti bagaimana bisa ada makhluk seperti itu di dunia ini. Ya, memang sih Jongwoon tidak melakukan apapun yang berbahaya. Tapi bagi Ryeowook, itu hanya belum. Bisa saja vampir itu melakukannya suatu hari. Mungkin dia hanya pura-pura baik, pura-pura polos, pura-pura bersumpah, pura-pura menyerahkan diri.

Trotoar semakin ramai orang-orang berangkat sekolah dan kerja. Kedua bahu Jongwoon berkali-kali terhantam orang lain yang berjalan dari arah yang sama dan berlawanan. Ia berpikir kalau orang-orang ini sangat tidak sopan karena tidak memperhatikan jalan. Itu jalan pikiran yang wajar untuk seorang Pangeran yang terbiasa dibukakan jalan oleh semua orang. Hanya saja Jongwoon adalah pria yang tenang dan cerdas, ia menganalisis keadaan bagaimana semua orang juga dihantam dari berbagai arah dan tak ada yang protes. Ryeowook yang bertubuh kecil dan terhantam sana-sini oleh orang yang lebih besar saja diam dan bahkan tidak mengaduh. Jongwoon mengangguk-angguk mengerti.

Ryeowook berhenti di sisi jalan, melihat jam tangannya lalu mendongak, melihat lampu tanda penyeberangan yang masih berwarna merah. Jongwoon ikut melihatnya, berpikir apa maksud lampu itu. Saat lampu itu berubah jadi hijau, mobil-mobil di jalanan berhenti dan orang-orang yang menunggu di sisi trotoar berjalan di atas garis-garis putih, menyeberangi jalan. Jongwoon, sekali lagi mengangguk-angguk mengerti. Mudah saja untuknya menganalisis semua hal di sini, tapi sebenarnya ia akan lebih senang kalau Ryeowook dengan senang hati mau menjelaskan semua itu untuknya.

Meninggalkan kompleks pertokoan dan memasuki jalan yang lebih sepi, Jongwoon melihat gedung putih yang ia lihat pertama kali saat baru sampai di dunia manusia. Ryeowook berhenti lalu berbalik menghadap Jongwoon dan menatapnya dengan sebal.

"Dengar, Jongwoon," ujar Ryeowook, "ini kampusku. Aku sudah sampai. Aku akan masuk, dan tidak akan membiarkanmu melakukannya juga," jelasnya dengan nada yang kesal.

Jongwoon mengedikkan kedua bahunya. "Ya, aku sudah menduganya. Lalu?"

"Maksudku, setelah ini, kau punya kebebasan untuk pergi ke maaaaana saja yang kau mau. Mau pergi sampai nanti sore, nanti malam, besok, minggu depan atau tahun depan juga boleh. Akan lebih baik juga kalau kau tidak kembali," lanjut Ryeowook, kali ini mulai ada amarah dalam suaranya. Jongwoon mengangkat satu alisnya pada kalimat terakhir Ryeowook.

"Tapi aku membawa kunci rumahmu," ujar Jongwoon sambil mengeluarkan kunci rumah Ryeowook yang diberikan padanya dari saku celananya.

"Aku tidak sebodoh itu. Aku bawa kunci cadangan. Sekarang pergilah. Aku tidak peduli lagi." Ryeowook berbalik ke arah kampusnya dan berjalan dengan kesal. Setiap langkahnya terkesan seperti sentakan-sentakan jengkel yang seolah akan membuat retak aspal yang dipijaknya. Jongwoon mengangkat bahunya lagi, lalu berjalan ke arah yang berlawanan dengan Ryeowook.

oooooooooooooo

Anggur hitam.

Biarpun bentuk fisik Dunia Manusia dan Dunia Setan pada dasarnya sama, tapi karena pengaruh sihir ruang dan waktu, ada beberapa perbedaan yang menyolok. Misalnya di Dunia Vampir, struktur dan komposisi tanahnya berbeda dengan tanah di Dunia Manusia. Perbedaan tanah ini membuat tumbuhan yang tumbuh di tanah Dunia Vampir juga berbeda.

Salah satunya, adalah anggur hitam. Anggur ini sepintas sama saja dengan anggur di dunia manusia. Bulat, ada beberapa buah yang bergerombol, tanamannya merambat. Tetapi, yang tumbuh di Dunia Vampir berwarna ungu kehitaman. Selain itu, jika yang di Dunia Manusia rasanya manis dengan secubit rasa asam, maka yang tumbuh di Dunia Vampir adalah kebalikannya. Jika dimakan, anggur itu akan meninggalkan rasa panas yang mengerikan dan membakar setiap bagian tubuh yang dilewatinya.

Sudah banyak vampir yang terbunuh karena tidak kuat menahan rasa panas yang diterima setiap mengonsumsi anggur ini. Tapi hanya karena rasa yang begitu meneror, bukan berarti anggur ini dibiarkan dan tidak ada yang menginginkannya. Sebaliknya, anggur ini adalah tanaman yang paling banyak diproduksi dan didistribusikan kepada para vampir.

Vampir yang masih tertahan di Dunia Vampir biasanya tidak banyak makan. Mereka makan hanya sebagai rutinitas saja, bukan karena lapar. Ini karena Dunia Vampir difasilitasi oleh sihir yang memungkinkan vampir-vampir di dalamnya tidak membutuhkan darah manusia sebagai sumber energi mereka. Jadi pada dasarnya, para vampir di sana tidak tahu kalau mereka butuh darah manusia untuk hidup.

Anggur hitam adalah bekal terpenting yang selalu dibawa oleh semua vampir yang sudah dikirim ke Dunia Manusia. Mengapa begitu? Karena anggur hitam menyuplai energi yang sama dengan energi dalam darah manusia. Anggur ini sangat diperlukan apabila seorang vampir belum mampu mendapatkan darah manusia.

Uniknya, cara menetralisir rasa panas dalam anggur ini adalah dengan memfermentasikannya. Jadi, anggur ini diolah menjadi wine, sehingga para vampir bisa menikmatinya sekaligus mendapatkan energi mereka tanpa perlu tersiksa rasa panas.

Sayangnya, karena pada dasarnya vampir berasal dari manusia, mereka punya sifat manusia yang mereka miliki sebelum jadi vampir, dan terkadang punya kelemahan-kelemahan umum yang dimiliki manusia. Salah satunya, tidak kuat minum alkohol.

Sedikit sekali vampir yang tidak bisa mengonsumsi alkohol. Di Dunia Vampir, wine selalu disediakan dalam segala macam perjamuan. Entah kalangan atas ataupun kalangan bawah. Tapi, tetap saja ada vampir yang toleransi alkoholnya rendah.

Yang lebih disayangkan lagi, di antara sedikit vampir yang toleransi alkoholnya rendah, salah satunya adalah keturunan terakhir Klan Halfwing yang dipuja-puja, Yang Mulia Kim Jongwoon.

oooooooooooooo

Kim Jongwoon,vampir yang belum seminggu tinggal di Dunia Manusia, sudah kembali ke rumah Kim Ryeowook. Ia duduk bersandar ke lemari buku yang satu sisinya menempel ke dinding balkon. Cahaya matahari yang terhalang tirai pintu balkon membuat keadaan rumah tidak terlalu terang.

Di tangan vampir itu ada sebuah botol kecil dengan leher pendek, ukurannya hanya sebesar botol minyak roll on, hanya lebih gemuk sedikit. Tutupnya berwarna ruby dan mengkilat, di dalamnya ada cairan berwarna ungu kehitaman. Jongwoon menggoyangkannya sedikit di depan wajahnya, cairan di dalamnya berkecipak pelan.

Saat berangkat ke dunia manusia, Jongwoon dibekali empat botol sari anggur yang dikemas dalam sebuah kotak kecil. Tujuan dibuat menjadi sari anggur dalam bentuk cair adalah agar lebih mudah ditelan. Juga dikemas dalam ukuran kecil agar rasa panasnya tidak terasa terlalu lama. Tapi karena kecil, efeknya juga sebentar. Satu botol hanya menyuplai energi selama seminggu. Selain itu, batas konsumsi berturut-turut hanya satu bulan. Sesepuh yang membekali Jongwoon sari anggur itu sudah memperingatkannya untuk segera mengonsumsi darah manusia agar tak membahayakan tubuhnya. Padahal jika Jongwoon tahan alkohol, dia bisa minum wine anggur hitam seumur hidupnya.

Sebenarnya bisa saja Jongwoon mencari darah manusia lain. Darah manusia manapun dapat memberikan energi ke dalam tubuhnya, tapi tetap saja energi paling banyak bisa didapat dari darah Kim Ryeowook yang sudah ditetapkan sebagai pasangannya. Hanya saja Jongwoon sudah berniat untuk hanya mengisap darah Ryeowook saja.

Jongwoon menghela napas sebelum tangannya bergerak untuk membuka tutup botol itu. Ia mengendusnya sedikit dan menggeram karena baunya sangat menyengat. Ia menghela napas lagi, menyiapkan diri, lalu mengangkat botol itu ke bibirnya, membiarkan cairan di dalamnya tumpah ke dalam mulutnya.

Botolnya jatuh begitu ia berhasil meneguk semuanya, rasa panas yang membakar itu mulai terasa, mulai dari lidah, turun ke tenggorokan dan terus ke perutnya, dan vampir itu mulai menjerit-jerit.

oooooooooooooo

"Nih, buku-buku mitos. Mitos lokal ada, mitos luar negeri juga banyak," ujar Sungmin sambil menunjuk salah satu rak buku di ujung perpustakaan. Ryeowook menscan deretan buku di sana yang bertuliskan 'vampir' di atasnya. Sungmin menatap Ryeowook yang begitu serius, melirik tangan Ryeowook saat adik kelasnya itu meraih buku yang berjudul 'Sejarah Vampir.' Ryeowook membuka buku itu dan membaca beberapa halamannya dengan cepat. "Kalau kau butuh aku, aku akan ada di rak bahasa," ujar Sungmin sambil mengambil satu langkah.

Ryeowook tersentak dan menutup bukunya. "Oh, iya, Hyung! Terimakasih, ya."

"Tak masalah." Sungmin melambai sedikit dan berjalan pergi. Begitu Sungmin sudah berjalan agak jauh, Ryeowook segera mengambil semua buku yang ia kira berisi informasi tentang mitos-mitos vampir. Ia mengambil sekitar 8 buku dan membawanya ke meja terdekat.

"Baiklah… ayo mulai mencari," katanya pada diri sendiri sambil mengambil buku yang ada di tumpukan teratas dan membukanya.


A/n2:Hai, balik lagi TT lama ya? Ada yang nunggu nggak sih? TT_TT /plak/
Belakangan ini banyak kesibukan yang tiba-tiba muncul /halah/ jadi gasempet ngepost. Mood buat nulis juga ilang kalo lagi capek jadi ya gimana ;;;

Sampe sini emang belum ada masalah apa-apa, belum ada komplikasi sama sekali. Chapter 3, deh, chapter 3...

Makasih buat yang udah nyempetin baca, terutama yang nyempetin review :B