CHAPTER 3 – Half Worried about the Halfwing
Title:Those Creepy Fangs – Half Worried about the Halfwing
Author:nanaspineapple
Pairing:Yewook
Genre:Supernatural, drama
Rating:T
Disclaimer:Kesamaan nama tokoh memang disengaja
Summary: Didatangi dan dicintai makhluk bertaring pengisap darah bukan salah satu dari cita-cita seorang Kim Ryeowook, tapi itu karena dia tidak tahu takdir macam apa yang sudah disusun untuknya
"Eh? Suara jeritan?"
Ryeowook baru pulang jam 8 malam, dan saat ia sudah berhenti di depan pintu rumahnya, tetangga sebelah rumah keluar sambil membawa baju kotor untuk dicuci di ruang laundry di lantai bawah apartemen mereka. Ryeowook menyalami ibu setengah baya itu, tapi lalu ibu itu memberitahu Ryeowook kalau tadi siang ia mendengar suara jeritan dari dalam rumah Ryeowook.
"Sebenarnya awalnya aku juga tidak dengar, anakku yang beritahu. Kukira itu suara laki-laki. Tapi bukannya kamu tinggal sendiri, ya?" tanya ibu itu.
"Kapan Ahjumma dengar suara itu?" tanya Ryeowook, mulai panik.
"Sekitar 1 jam setelah kamu berangkat kuliah. Jeritannya hanya sebentar, sih. Hanya sekitar dua menit. Setelah itu tidak ada suara apa-apa lagi sampai malam. Aku juga heran. Itu suara apa, sih?"
"Saya juga tidak tahu, sih…" Ryeowook menatap khawatir ke dalam rumah. "Maaf, ya, Ahjumma. Saya akan mengeceknya."
"Ya, sudah. Aku pergi dulu."
Ryeowook memegang kenop pintu dan memutarnya, mendengar suara klek kecil, yang berarti pintunya tidak dikunci dan Jongwoon memang ada di dalam. Ia membuka pintu dan cepat-cepat melepas sepatunya, dan berjalan cepat ke dalam. Apa yang vampir sialan itu lakukan di rumahku, sih? pikir Ryeowook panik.
Saat Ryeowook sudah masuk ke dalam, yang ia lihat adalah Jongwoon sedang duduk bersandar di lemari bukunya. Kaki kanannya ditekuk dan lengan kanannya ditahan di atas lutut. Ia menunduk dalam, tidak bergerak. Napasnya pelan dan berat. Ryeowook menoleh-noleh, dan sedikit heran karena semua barang dalam keadaan baik.
"Hei, Jongwoon," panggil Ryeowook sambil menghampiri Jongwoon dan berjongkok di sebelahnya. Vampir itu mengangkat kepalanya pelan. Wajahnya tidak terlihat seperti baru bangun tidur, tapi vampir itu kelihatan tidak bertenaga sama sekali. Ryeowook bahkan tidak tahu vampir butuh tidur atau tidak.
"Ah," adalah kata pertama yang diucapkan Jongwoon begitu melihat Ryeowook. "Kau sudah pulang."
"Apa yang kau lakukan di rumahku saat aku tidak ada?"
"Apanya?"
"Tetangga sebelah bilang kau menjerit-jerit tadi siang. Apa yang kau lakukan? Menjatuhkan lemari? Tertimpa kulkas? Apapun itu, tolong katakan kalau kau tidak merusak apapun."
Jongwoon terdiam. Ia tidak terlihat ragu untuk menjawab, tapi juga tidak segera membuka mulut. Sebaliknya, ia berdiri dan melepas mantelnya, lalu mendekapnya di lengannya. Ryeowook ikut berdiri, masih menunggu jawabannya. "Tadi aku… sedang pengisian energi."
"Pengisian energi?"
"Gampangnya, tadi aku makan."
"Makan? Kau makan dan menjerit-jerit? Astaga, seriusan deh, apa yang kau makan, sih? Landak? Bulu babi?"
"Itu… sesuatu yang kubawa dari Dunia Vampir. Kau tidak akan mengerti."
Ryeowook menghela napas lelah. "Terserah, deh. Yang penting kalau kau melakukannya lagi, jangan lakukan di tempat yang ada banyak orang. Mengganggu tetangga, tahu. Semua orang di sini tahu aku tinggal sendiri. Aneh 'kan kalau kedengaran suara aneh dari rumahku, apalagi saat aku tidak di rumah."
"Kau tinggal sendiri… apa itu artinya kau nggak akan membiarkanku tinggal bersamamu?" tanya Jongwoon, ia mengernyit heran.
"Ha? Kenapa aku harus melakukannya? Kau saja yang keras kepala, menempel-nempel padaku terus. Kalau bisa, sih, aku juga nggak mau peduli padamu."
Jongwoon menatap Ryeowook dengan serius, dan begitu Ryeowook menyadarinya, ia langsung terlihat kaget dan mengambil langkah mundur. Jongwoon menjatuhkan mantelnya dan mendekati Ryeowook. Ryeowook juga langsung menjatuhkan tasnya dan melangkah mundur lebih cepat. Sayangnya, Jongwoon akan selalu lebih cepat. Vampir itu menerjang ke arah Ryeowook dan mencengkeram kedua lengannya. Ryeowook terjatuh di atas sofa yang ada di depan tv di sebelah lemari buku dengan Jongwoon di atasnya, masih memegangi lengannya. Jongwoon menurunkan kepalanya, mulut semakin dekat ke ceruk leher Ryeowook. Napas Ryeowook semakin cepat, ia menutup matanya karena takut. Ia menggigit bibir saat merasakan napas Jongwoon di lehernya, lalu tersentak saat Jongwoon menyentil satu titik di lehernya dengan jarinya.
Jongwoon melepas lengan Ryeowook dan berdiri, lalu berjalan ke depan lemari buku untuk mengambil mantelnya yang ia jatuhkan di lantai, lalu memukul-mukulnya untuk menghilangkan debu (yang sekiranya menurutnya ada) di sana.
Ryeowook masih terengah-engah di atas sofa, tapi lalu ia perlahan-lahan berdiri dan melotot ke arah Jongwoon. "Apa yang kau lakukan?! Apa kau mengambil sesuatu dariku?" tanya Ryeowook sambil memegangi lehernya.
"Jangan bodoh. Aku tidak melakukan apa-apa," jawab Jongwoon, ia menyampirkan mantelnya di atas bahu kirinya.
Ryeowook memandang Jongwoon penuh curiga. "Aku tidak percaya padamu."
Jongwoon mengedikkan bahu. "Terserah."
Ryeowook cepat-cepat berjalan menuju kamar mandi dan membanting pintunya. Ia bersandar di pintu sambil mengatur napasnya. Ia memegangi kepalanya dan menjernihkan pikirannya sendiri. Ini adalah situasi yang tidak menguntungkan baginya. Ia harus menyingkirkan vampir itu dari sini bagaimanapun caranya.
oooooooooooooo
Ryeowook menyendok cincangan bawang putih dari tempatnya*, lalu menoleh ke arah Jongwoon yang sedang duduk di lantai dan membaca sebuah novel sejarah yang ia baca sejak kemarin. Ia bahkan tidak sempat peduli kenapa Jongwoon selalu memilih untuk duduk di lantai daripada di sofa. Ryeowook berjalan mendekati Jongwoon dan berjongkok di sebelahnya. Jongwoon menoleh ke arahnya, dan Ryeowook langsung mengacungkan sendoknya ke depan hidung Jongwoon, membuat vampir itu menyentak kepalanya ke belakang karena kaget.
"Apaan, sih? Bau, tahu," keluh Jongwoon sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahnya dan mendorong tangan Ryeowook agar tidak mendekatkan bawangnya ke depan wajahnya.
"Kau nggak takut ini?" tanya Ryeowook.
"Takut apa, bawang? Tidak, sih. Tapi aku lebih suka bawang bombay. Onion ring itu rasanya, kau tahu, enak," jawab Jongwoon. Ryeowook cemberut karena ternyata bawang putih bukan kelemahan Jongwoon dan jawaban Jongwoon tidak nyambung. Ryeowook lalu menarik rantai kalung yang baru ia pakai dan dimasukkan ke dalam bajunya. Jongwoon mengernyit ke arahnya saat melihatnya, dan alisnya naik lagi saat bandulnya yang berupa salib terlihat.
"Ini?" Ryeowook mengacungkan salib itu ke depan wajah Jongwoon.
"Apa, sih? Salib? Di kamarku dulu juga banyak, tahu."
Ryeowook membelalak. "Kamu kristen?"
"Dunia Vampir menjalankan sistem kehidupan di sana berdasarkan Agama Kristen. Gereja dan kebaktian ada di sana. Tapi tidak ada paksaan untuk memeluknya, dan dari awal aku tidak tertarik dengan agama. Makanya yang memasang salib di kamarku juga bukan aku."
Ryeowook mendecih, berpikir kalau mengumpulkan data mengenai kelemahan vampir berdasarkan mitos-mitos yang ada di perpustakaan selama hampir 2 jam tadi tidak ada gunanya. Sebenarnya ia tahu senjata-senjata yang lain, tapi terlalu sulit untuk mendapatkannya.
"Jongwoon-ah," panggil Ryeowook. Jongwoon, yang entah kenapa tetap tenang, menengok ke arah Ryeowook. "Apa kau punya kelemahan?"
"Kenapa kau ingin tahu itu?"
"Tidak apa-apa. Ingin tahu saja."
"Kalau kau berencana untuk menakut-nakutiku atau berusaha mengusirku, tidak ada gunanya," ujar Jongwoon sambil kembali fokus pada bukunya. Ryeowook mulai tidak tahan dengan sifat vampir ini.
"Beritahu saja, kau punya kelemahan atau tidak?" tanya Ryeowook kesal.
Jongwoon menutup bukunya dan menatap Ryeowook bosan. Manusia ini benar-benar keras kepala dan tidak tahu caranya menyerah. Padahal akan lebih mudah kalau dia menerima kenyataan saja bahwa yang di depannya benar-benar ada vampir yang akan selalu ada di sisinya sampai kapanpun. Kalau memang begitu, Ryeowook tidak akan repot-repot cari tahu kelemahannya begini. Tapi, Jongwoon tidak menyesal karena sudah bersumpah untuk tidak berbohong.
"Kelemahanku terlalu sederhana, mungkin kau akan mati saking kagetnya."
Ryeowook membelalak kaget. "Apa? Apa?"
Jongwoon terdiam sebentar, untuk beberapa alasan agak ragu untuk menjawabnya. "Alkohol."
"Alkohol? Maksudmu… alkohol untuk mensterilkan benda itu?" tanya Ryeowook.
"Itu kurang tepat, sih. Tapi aku juga tidak suka alkohol yang itu. Cium baunya sedikit saja sudah bikin aku pusing banget."
"Vampir juga bisa pusing?"
"Anggap saja aku kurang beruntung karena toleransi alkoholku rendah."
Ryeowook tersentak kaget. "Kamu nggak bisa minum alkohol? Kalau—kalau kau minum wine, apa yang akan terjadi? Apa kau akan mati?"
"Tentu saja mabuk, bodoh. Aku sama sekali tidak tahan minum yang begitu. Padahal itu menu tetap di tiap pertemuan. Aku sudah ikut puluhan pertemuan dan meja yang disiapkan untuk menyediakan wine selalu bertebaran di seluruh ruangan. Baunya menguar dan menusuk-nusuk hidungku, aku tidak suka."
Ryeowook terdiam, lalu pergi ke dapur. Jongwoon tidak bergerak, mengamati manusia yang sedang membongkar isi lemari dapur itu. Di Korea, batas umur untuk minum adalah 19 tahun, dan Ryeowook bahkan sudah dicekoki soju oleh temannya sejak umur 17 tahun. Sebenarnya saat pertama kali mencoba itu dia sudah suka rasanya, tapi Ryeowook adalah anak baik-baik yang mengikuti peraturan negara. Begitu ia berumur 19, tiap makan malam dengan keluarganya ia mulai dibagi bir yang disimpan ibunya. Setelah tinggal sendiri, ia punya uang simpanan khusus yang digunakannya untuk beli bir. Sekarang ia sudah 22 tahun, dan setidaknya selalu ada 3 botol bir yang penuh di lemari. Jika habis satu, ia beli satu. Habis satu, ia beli satu, begitu seterusnya.
Jongwoon diam saja saat melihat Ryeowook mengeluarkan sebotol bir yang masih baru dari lemari dan sebuah gelas dari rak piring. Ryeowook dengan lihai membuka tutupnya—terlihat kalau ia sering minum, dan menuangnya sedikit ke gelas. Dengan cepat ia membawa gelas dan botol birnya ke arah Jongwoon.
"Jongwoon-ah~" Ryeowook mendekatkan gelasnya ke wajah Jongwoon, dan vampir itu langsung memalingkan wajah.
"Singkirkan, baunya tidak enak," keluh Jongwoon sambil menahan tangan Ryeowook sejauh mungkin.
"Ayolah, sedikit saja," pinta Ryeowook.
Wajah Jongwoon yang mengerut tidak suka menunjukkan ia sama sekali tidak menginginkan bir itu walaupun hanya baunya. Tapi lalu tanpa diduga, Jongwoon melepas tangannya yang sedang memegangi tangan Ryeowook, jari telunjuknya lurus ke depan. Ryeowook sama sekali tidak siap waktu jari itu masuk ke mulutnya, dan ia nyaris mengerang kaget saat Jongwoon menyolek lidahnya, lalu menarik jarinya keluar. Ia lebih kaget lagi saat Jongwoon memasukkan jari yang sama ke mulutnya, mengisapnya pelan, lalu mengeluarkannya sambil mendecak kesal.
"A-apa yang kau lakukan?" tanya Ryeowook, agak takut. Jarinya memegangi bibirnya, mulutnya masih terasa aneh. Jongwoon menjilat bibirnya, tidak menjawab. "Kenapa kau menjilat liur orang?"
"93%."
"Hah?" Ryeowook membelalak bingung. "Apanya?"
"Toleransi alkoholmu. 93%."
Ryeowook terdiam. Apa-apaan itu? "Kau melakukan itu hanya untuk mengecek itu?"
"Banyak yang bisa dicek dari liur," jawab Jongwoon cuek. Ryeowook tidak menjawab, dia masih kaget.
"Kalau kau? Berapa toleransi alkoholmu?" tanya Ryeowook. Ia nyaris terlonjak ke belakang melihat kuping vampir itu memerah. Kalau tadi Jongwoon bilang ia bahkan tidak kuat baunya, bukankah pastinya angka toleransi alkoholnya jauh lebih rendah daripada Ryeowook?
"Tu… tujuh persen," jawab Jongwoon pelan, kali ini pipinya yang memerah.
"Apa?! Separah apa itu?"
"Kalau digambarkan, cium baunya aku pusing, minum seteguk mukaku merah, dan minum secangkir aku sudah mabuk," jelas Jongwoon.
"Tapi… tidak ada orang minum bir pakai cangkir."
"Mana aku tahu! Aku nggak pernah minum."
Saat itu, untuk pertama kalinya, Ryeowook merasa vampir itu agak lucu. Perasaan itu membuatnya merasa sedikit canggung, dan ia langsung meneguk bir di gelasnya, menutup botolnya dan meletakkannya ke dalam kulkas, lalu meninggalkan Jongwoon sendirian di depan lemari.
oooooooooooooo
Pukul 23.30, adalah waktu yang tepat untuk tidur. Mengistirahatkan diri dari kegiatan sehari-hari yang melelahkan, berbaring di atas ranjang dengan nyaman dan tidur sampai pagi untuk kembali beraktivitas. Tapi hanya karena sudah selarut itu, bukan berarti semua orang yang ada di Seoul saat itu sudah tidur.
Sebuah bar yang terletak di salah satu pusat pertokoan Seoul itu masih ramai. Pengunjung di sana selalu berlama-lama sampai pagi, entah pulang dalam keadaan mabuk atau sadar. Hanya ada tiga bartender yang bekerja tetap di sana, tujuh bartender lainnya bekerja part-time dengan shift yang berbeda-beda mulai dari jam 3 sore. Ada dua orang petugas kebersihan yang bekerja tetap, dan, anehnya, tidak ada wanita penghibur di sana.
Tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam bar itu. Atau lebih tepatnya, manusia tidak bisa masuk. Bar itu adalah bar khusus para vampir yang disediakan oleh Para Sesepuh Dunia Vampir bagi para vampirnya di Dunia Manusia. Dan tentu saja tujuh bartender yang bekerja baik yang paruh waktu atau tetap di sana adalah vampir. Di bar itu, banyak sekali vampir yang menjadi pengunjung tetap dan selalu bertambah. Entah yang lelaki, wanita, dari kalangan atas maupun bawah, baru saja sampai di Dunia Manusia atau sudah lama menetap di sana, masih muda atau sudah tua, semuanya bisa berkumpul di sana. Sepengetahuan masyarakat, bar itu hanyalah ruangan tua yang terkunci di atas sebuah toko bir. Kuncinya dilengkapi sihir yang bisa mendeteksi apakah yang mendekat itu vampir atau bukan. Jika manusia, maka tidak akan pernah terbuka. Jika vampir, maka pintu bisa dibuka dengan mudah.
"Halfwing sudah habis di Dunia Vampir?"
Begitu kalimat itu selesai diucapkan seorang vampir yang baru duduk di depan counter, seluruh vampir di ruangan itu terdiam dan mata mereka tertuju pada vampir itu. Vampir itu adalah Park Yoochun, vampir dari kalangan bawah yang sudah 11 tahun tinggal di dunia manusia. Sehari-harinya, Yoochun bekerja di sebuah perusahaan penyedia jasa. Saat ia baru sampai di bar itu dan duduk di depan counter, bertanya pada bartender jika ada berita yang menarik, bartender itu langsung memberitahunya bahwa tidak ada lagi Klan Halfwing yang tersisa di Dunia Vampir.
"Penerus Halfwing terakhir sudah dikirimkan ke dunia manusia kemarin," lanjut bartender itu sambil meletakkan botol bir yang baru dipesan Yoochun di atas counter.
"Halfwing terakhir… berarti Kim Jongwoon Wangjanim yang katanya rambut dan matanya merah itu, kan?" tanya vampir lain yang juga duduk di counter. "Dia baru sampai? Kukira dia akan di sana selamanya."
"Hanya karena dia sudah di sana 10 tahun, bukan berarti tidak akan dikirim, tahu," ujar Yoochun. "Tapi, ada di mana dia sekarang? Kudengar dulu saat belum jadi vampir, dia dari Cheonan. Apa sekarang dia di Cheonan juga?"
Bartender itu menggeleng. "Tidak. Dia ada di Seoul sekarang."
Mendengar hal itu, vampir-vampir di sana langsung berisik. Beberapa dari mereka meragukan kebenaran cerita itu, beberapa mengiyakan, dan beberapa merencanakan sesuatu yang licik.
Vampir berasal dari manusia yang digigit kelelawar khusus yang disuntik kristal sihir. Saat proses penggigitan, kristal ini berpindah ke tubuh manusia yang digigit. Kristal yang terletak di tengah-tengah jantung ini adalah sumber kekuatan semua vampir. Jika diambil, seorang vampir otomatis akan kehilangan kekuatannya dan mati.
Vampir dari kalangan yang lebih tinggi biasanya kekuatannya lebih besar juga. Selain kekuatan fisik dan supernatural yang lebih besar, vampir yang kastanya tinggi kebanyakan memiliki kemampuan khusus yang tidak dimiliki vampir dari kasta bawah. Setiap klan memiliki satu kemampuan khusus yang hanya dimiliki keturunan klan. Misal klan A dapat mengendalikan gravitasi, maka klan B tidak bisa melakukannya tetapi klan B dapat mengendalikan cahaya, dan klan A tidak bisa melakukannya.
Seperti yang sudah diketahui, klan dengan kasta tertinggi di seluruh Dunia Vampir adalah Klan Halfwing. Kemampuan Klan Halfwing tidak bisa dibilang khusus, karena klan ini memiliki banyak kemampuan khusus yang dimiliki beberapa klan yang kastanya di bawahnya. Karena itu, Klan Halfwing yang jumlahnya sedikit ini, setiap ada yang dikirimkan ke Dunia Manusia, selalu diburu oleh vampir lainnya. Tapi sampai sekarang belum pernah ada satupun Halfwing yang berhasil dibunuh oleh vampir lain, karena secara mendasar, genetika vampir Halfwing lebih baik daripada vampir manapun.
Para vampir Halfwing, karena berasal dari kalangan Pangeran, selalu memiliki satu manusia khusus yang menjadi sumber energi penuh mereka. Tapi kebanyakan memilih untuk tidak tinggal atau berada dekat dengan mereka, dan memilih untuk mengonsumsi black wine untuk mendapatkan energi, beda dengan Jongwoon.
Dengan kata lain, Kim Ryeowook, manusia Jongwoon, adalah kelemahan terbesarnya saat ini, lebih dari alkohol.
oooooooooooooo
Kim Ryeowook, berangkat ke kampusnya.
Sambil berjalan, ia menggerutu sendiri. Alasannya tak lain adalah vampir yang berjalan di belakangnya. Pria itu lagi-lagi minta untuk mengantarnya ke kampus. Padahal Ryeowook sudah melakukannya sendirian selama 3 tahun sejak ia pertama kali masuk kuliah, ia sudah berkali-kali pulang terlalu malam, hampir kecopetan, jatuh di jalan, nyaris tertabrak mobil, menyenggol dan disenggol pejalan kaki, tersandung, dan ia sama sekali tidak perlu merasa dijaga. Ia pikir di tahun terakhirnya di universitas bisa dijalani dengan santai, tapi yang terjadi justru kebalikannya.
Ryeowook menengok ke belakang, alisnya masih mengerut sebal. Jongwoon berjalan dengan santai dan tenang di belakangnya, menoleh ke sana ke sini dalam diam, tidak terlihat tertarik, tidak bertanya-tanya, tidak terlihat heran atau kaget, tapi matanya sama sekali tidak bisa diam—terlalu jelas bahwa ia tidak mengerti apa-apa tentang Dunia Manusia. Sebenarnya celingukan seperti itu seperti orang desa norak yang tidak pernah pergi ke kota, tapi entah sengaja atau tidak, Jongwoon mengakali ketidaktahuannya itu dengan wajah yang super anteng seolah ia sudah terbiasa dengan semuanya, seolah ia manusia.
Di tengah-tengah kerumunan manusia di trotoar itu, Jongwoon tiba-tiba berhenti. Ia perlahan menengok ke belakang, memutar tubuh sedikit tapi tetap menahan kakinya di tempat. Ia bisa merasakan aura tidak enak dari belakang. Ia tahu ada yang mengikutinya dari tadi, tapi kali ini terasa sangat dekat jadi dia berhenti. Jongwoon melihat ke depan, Ryeowook masih berjalan dan jarak mereka semakin jauh. Anak itu berjalan agak cepat sambil menunduk, Jongwoon tahu Ryeowook tidak aware sama sekali dan kalau ia tidak berada di dekatnya, bisa saja terjadi sesuatu pada Ryeowook.
Jongwoon menengok ke belakang sekali lagi, melihat seorang lelaki berkemeja biru yang terlihat sedang berangkat kerja menatapnya dengan tajam. Tidak perlu berpikir dua kali, ia sudah tahu itu pria yang mengikutinya. Jongwoon cepat-cepat berjalan melintasi celah-celah di antara manusia-manusia di sana tanpa perlu menyenggol lengan siapapun, dan dalam hitungan detik, ia sudah berada di belakang Ryeowook. Tapi karena terlalu cepat, ia malah menabrak punggungnya.
"Aduh!" jerit Ryeowook pelan. Ia menengok ke belakang dengan cepat dan wajah marah. "Apa yang kau lakukan, sih? Jalannya biasa saja, dong!" bentaknya.
"Maaf," ujar Jongwoon cepat. "Apa kau keberatan kalau aku jalan tepat di belakangmu?"
"Ya dan kau sudah melakukannya."
"Bukan, maksudku, lebih dekat."
"Memangnya kenapa? Kau takut nyasar? Kemarin kau bisa pulang sendiri, kan?"
"Bukan itu." Jongwoon mulai terlihat tidak sabar. "Setidaknya biarkan aku melakukannya."
Ryeowook mengedikkan bahu, masih terlihat heran, tapi lalu lanjut berjalan lagi. Jongwoon mengartikannya sebagai, 'sesukamu saja,' dan mengikutinya lagi. Sesekali Jongwoon melihat ke belakang karena masih merasa diikuti, tapi ia sudah tidak melihat pria berkemeja biru itu di manapun.
Saat sampai di kampus Ryeowook, tanpa berkata apa-apa Ryeowook langsung berjalan untuk melewati gerbang, tapi sebelum ia sempat melakukannya, Jongwoon menahan tangannya, membuat anak itu lagi-lagi menggeram ke arahnya.
"Kenapa lagi?!" bentak Ryeowook kesal. Ia makin tidak tahan dengan sikap Jongwoon ini.
"Jam berapa kau pulang?" tanya Jongwooon, terdengar buru-buru.
Ryeowook mengangkat satu alisnya, lalu memutar badannya sampai ia menghadap Jongwoon. "Kenapa kau ingin tahu?"
"Sudah, jawab saja."
"Aku selesai kelas mungkin jam 3 sore, tapi aku biasanya pulang malam. Memang kenapa, sih?"
"Aku akan menjemputmu. Aku akan ada di sini jam 3 sore."
"Aku tidak butuh dijemput. Aku akan pulang sendiri. Sudah, sana," usir Ryeowook sambil berjalan lagi ke arah kampusnya. Jongwoon menatapnya dengan khawatir.
"Aku benar-benar akan ada di sini jam 3 sore apapun yang terjadi!" teriaknya pada Ryeowook. Ryeowook hanya menoleh ke belakang sekilas, lalu lanjut berjalan lagi dengan cuek. "Ya, aku akan ada di sini… apapun yang terjadi."
oooooooooooooo
Suara debuman yang agak besar terdengar di tengah sebuah gang sempit sewaktu pria berkemeja biru itu memukul tembok apartemen di sebelahnya. Untuk ukuran manusia, itu terlalu kuat sampai membuatnya retak, tapi masih belum cukup kuat untuk membuatnya hancur. Dan sebenarnya, pria berkemeja biru itu bukan manusia, pria itu adalah vampir.
Di gang sempit itu tidak hanya ada satu vampir, tapi dua. Vampir yang satu lagi bermantel putih dan berambut merah, menatap pria berkemeja biru di depannya dengan bosan dan tidak tertarik.
"Sungguh sebuah kehormatan bisa bertemu dengan Anda, Wangjanim," ujar pria itu sambil membungkuk sedikit. "Kalau anda izinkan saya memperkenalkan diri, saya adalah Kim Kibum*. Saya sudah tinggal di sini selama 13 tahun, sejak umur saya 11 tahun."
"Kalau memang caramu menyambutku adalah dengan memukul tembok, bolehlah," ujar Jongwoon sambil mengedikkan bahu. "Dan bagaimana bisa kau tinggal di sini lebih lama daripada aku dan aku masih lebih tua darimu," lanjutnya, sadar ia memang terlalu lama tinggal di Dunia Vampir.
"Karena sejak awal, sejak kita masih manusia, memang anda sudah lebih tua, Wangjanim," jawab Kibum sambil tersenyum miring. "Sudahkah anda tahu bahwa kabar mengenai anda yang sudah sampai di sini telah menyebar ke banyak sekali vampir di Dunia Manusia?" tanya Kibum, ia tersenyum sampai giginya kelihatan.
"Aku tidak tahu. Kenapa aku harus tahu itu?" tanya Jongwoon cuek.
Senyuman Kibum makin terlihat licik. Ia mengacungkan telunjuknya ke arah jantung Jongwoon, membuat vampir itu kaget. "Kristal anda, Wangjanim," ujarnya, suaranya tiba-tiba terdengar berbeda, lebih serak, lebih berat, lebih jahat. Ia lalu menekan satu titik di dada Jongwoon di mana kristal Jongwoon berada. "Apa anda tak tahu semua vampir yang telah mendengar kabar itu menginginkan kristal anda?"
Jongwoon mengernyit. Ia tahu Kibum ini serius, jadi ia mempersiapkan diri kalau-kalau akan ada pertarungan dalam hitungan menit setelah ini. "Memangnya kenapa?" tanya Jongwoon, pura-pura cuek.
"Waah, sudah saya duga, kepercayaan diri anda akan sebesar itu," ujar Kibum sambil tertawa kecil. "Biarpun kemampuan Halfwing seperti anda memang tidak boleh diremehkan walaupun oleh Para Tetua yang memimpin seluruh Dunia Setan sekalipun. Tapi tidakkah anda pikir segerombolan vampir dari klan-klan yang berbeda, dengan kemampuan yang beragam agak sedikit… berbahaya?"
"Aku pernah dengar kalau belum pernah ada vampir dari Halfwing yang terbunuh, apalagi sampai dicuri kristalnya. Aku membawa harga diri seperti itu di punggungku, jadi kurasa aku akan mencoba agar tidak terbebani oleh musuh."
Kali ini senyuman Kibum begitu menakutkan sampai-sampai Jongwoon kesal dan tidak ada yang ingin ia lakukan di dunia ini selain merobek kulit wajah vampir itu agar tidak bisa melihat senyumnya lagi. "Manusia yang tadi anda ikuti… apa dia itu manusia anda?" tanya Kibum. Jongwoon membelalak. Sebenarnya ia sudah tahu kalau Kibum akan membicarakan ini, tapi tetap saja ia kaget. "Anda tahu kalau manusia itu jauh lebih lemah daripada kita… apa menurut anda kami tidak bisa memanfaatkannya?"
Emosi Jongwoon mencapai puncak, tangannya mengepal erat dengan kesal. Ia begitu marah sampai-sampai ia melepaskan lensa kontak di mata kanannya, lalu mengaktifkan hipnotisnya pada Kibum yang sedang melihat matanya. Kepala vampir itu tersentak ke belakang dan langsung terjatuh. Jongwoon terengah-engah dan mata merahnya terlihat menyala karena marah, lalu memasang lensa kontaknya lagi perlahan-lahan. Ia berkedip beberapa kali sampai lensa kontaknya terasa nyaman di matanya, menatap Kibum yang terkapar di tanah, lalu meninggalkannya di sana.
"Aku benar-benar tidak bisa membiarkan Kim Ryeowook berkeliaran sendirian di luar sana. Para Setan memang terlalu berbahaya bagi manusia," ujar Jongwoon para diri sendiri, suaranya menakutkan saat marah. Langkahnya cepat dan kuat, ia berjalan menuju rumah Kim Ryeowook dengan kunci pintu di saku celananya.
A/n:Halooo, post malam minggu~~ hehehe. Ada yang baru UTS? Gimana ujiannya? Pada belajar kan yaaa harusnya gak susah dumz
Kali ini gak terlalu lama kan ya? Saya selalu berusaha cari waktu nih buat ngepost. Biasa orang sibuk~ /plak/
Trus di sini udah mulai ada komplikasi kaaaannn hwhwhw ini baru hal kecil, tunggu saja sampai menjadi besar (?) :D
Oiya btw kalo kalian nyadar, di atas ada dua tanda bintang, itu bukan typo itu sengaja heeee. Sengaja saya kasih tanda, kali aja ada yang belum tau gitu hehe.
1.Ryeowook menyendok cincangan bawang putih dari tempatnya*
Kenapa ini saya kasih tanda? Kalo soal bawang putihnya siiih, saya juga ngerti kalo pembaca udah tahuu. Cuman masalahnyaaa, Korea sama Indonesia itu beda ya. Kalo orang Indonesia masak itu bawang putihnya beli siung-siungan, kadang beli kupasan, dan kalo mau dimasak biasanya dihalusin. Entah digeprak(digepengin pake pisau lol), diulek atau diblender.
Naaa kalo di Korea, mereka beli bawang putih yang udah pabrikan. Jadi bawang putihnya udah dincincang gitu dan dikemas di kemasan plastik. Kemasannya tuu kayak bungkus mentega pabrikan yang bulet trus ada tutupnya tulho, jadi mereka kalo masak pake bawang putih ya gitu,disendok :) ini sekedar fyi aja ya
2.Kalau anda izinkan saya memperkenalkan diri, saya adalah Kim Kibum*
Ini juga saya kasih tanda soalnya takut ketuker :p heheee di SM ada dua Kim Kibum soalnya. Punya Super Junior sama punya SHINee. Yang saya pake di sini Kim Kibumnya SHINee soalnya kalo pake Kim Kibumnya SJ mukanya kurang jahat (?) /digeplakin/
