CHAPTER 4 – The Hidden Lucky Boy Lee Sungmin

Title:Those Creepy Fangs – The Hidden Lucky Boy Lee Sungmin
Author:nanaspineapple
Pairing:Yewook
Genre:Supernatural, drama
Rating:T
Disclaimer:Kesamaan nama tokoh memang disengaja
Summary:Didatangi dan dicintai makhluk bertaring pengisap darah bukan salah satu dari cita-cita seorang Kim Ryeowook, tapi itu karena dia tidak tahu takdir macam apa yang sudah disusun untuknya.


Seorang anak muncul tiba-tiba dari ketiadaan di jalanan yang masih sepi pagi itu. Seolah dirinya sendiri tidak sadar dan tidak paham kenapa tiba-tiba ia ada di sini, ia menoleh-noleh dengan bingung. Pagi itu adalah tanggal 1 Januari, di mana malam sebelumnya seluruh warga Korea baru saja merayakan tahun baru di rumah masing-masing. Yang terlihat di jalanan hanyalah beberapa tukang pos yang masih mengantarkan kartu tahun baru dan tidak melihat ada seorang anak lelaki berumur enam tahun yang tidak tahu apa-apa, kedinginan dalam kesendiriannya.

Anak itu berdiri, lalu tanpa mengatakan apa-apa ia mulai berjalan. Ia bingung karena tidak tahu apa-apa. Ia tahu apa yang diketahui anak enam tahun biasanya, ia bisa melakukan hal-hal yang bisa dilakukan anak enam tahun biasanya, tapi ia tidak ingat apapun selain itu kecuali namanya. Di mana dia sekarang, bagaimana ia bisa ada di sana, ke mana ia harus pergi, atau apa yang harus dia lakukan. Ia sama sekali buta tentang hal-hal itu.

Ia terus berjalan di atas trotoar seorang diri. Berjalan dengan kaus merah berlengan pendek dan celana selutut serta sepatu sebenarnya sangat tidak cocok di pagi tahun baru yang masih dingin itu. Ia tidak tahu ke mana harus pergi, tapi ia tahu bahwa ia harus terus berjalan sampai ia menemukan suatu tempat untuk berlindung dari udara dingin ini.

Seorang wanita tua keluar dari sebuah bangunan yang cukup besar, cukup tiba-tiba sampai membuat anak itu kaget. Wanita itu tidak bisa lebih kaget lagi melihat anak sekecil itu, dengan baju setipis itu, dan anehnya, sendirian, berjalan di trotoar sepagi ini. Di tahun baru, lagi. Harusnya anak itu sedang di rumah dengan keluarganya, makan makanan tahun baru, mengenakan baju baru, dan mendapatkan uang tahun baru dari orangtuanya dengan wajah berseri-seri.

"Apa yang kau lakukan di sini, Nak? Mana orangtuamu?" tanya wanita itu ramah.

"Aku nggak tahu… nggak ingat apa-apa…" ujar anak itu polos dengan suara yang bergetar karena kedinginan.

Wanita itu melihat anak itu dengan iba. Mungkinkah anak ini terlibat kecelakaan atau suatu kejadian mengerikan, kepalanya terbentur sesuatu sampai ia hilang ingatan, dan terbangun tanpa tahu ia ada di mana? Saat itu, hanya itu yang bisa dipikirkan wanita tua baik itu.

Senyuman hangat terbentuk di wajah wanita tua itu, membuat anak itu makin bingung. Dan mungkin makin kedinginan juga.

"Siapa namamu, Nak?" tanya wanita itu.

"Lee Sungmin," jawab anak itu tanpa ragu. Ia yakin hanya nama itu yang tersisa di kepalanya. Biarpun bingung karena tidak tahu apa-apa saat itu, ia sebenarnya cukup beruntung karena wanita itu keluar dari bangunan yang di depannya ditulis 'Panti Asuhan' dengan huruf berwarna-warni.

oooooooooooooo

Lee Sungmin tumbuh menjadi pemuda kuat dan cerdas. Saat disuruh bersih-bersih, ia bisa mengangkat banyak kursi dan meja dengan mudah. Saat ia belajar membaca, ia malah sudah bisa menulis kalimat di hari yang sama. Saat main bola dengan teman-temannya, ia sendirian menyumbangkan 5 gol untuk timnya tanpa susah payah. Biarpun hanya di panti asuhan kecil, ia berkembang dengan baik.

Tidak heran jika dengan semua kelebihannya itu, ia langsung dilirik sepasang suami-istri yang ingin mengadopsi anak. Sebenarnya pasangan itu belum pernah ke sana sebelumnya, dan wanita tua yang mengelola panti asuhan itu menemani mereka berjalan-jalan melihat-lihat ruangan-ruangan tempat anak-anak menjalani kegiatan mereka. Saat itu Sungmin tidak seperti anak-anak lainnya yang sedang bermain bola di taman, membuat kerajinan tangan dengan kertas dan lem, atau bernyanyi bersama-sama. Anak itu dengan seriusnya membaca buku biologi tentang tubuh hewan yang biasanya baru dibaca anak yang lebih tua 4-5 tahun darinya.

Wanita tua itu mendekati Sungmin sambil tersenyum. Dengan cepat Sungmin menyadari kehadirannya dan tersenyum sambil menutup bukunya. "Sungmin-ah, kenapa tidak main di luar?"

"Aku baru saja main, Halmeonim," jawab Sungmin sopan. "Kami main bola di taman, setelah selesai dua set, kami ganti pemain. Aku sedang istirahat."

"Begitu, ya." Wanita tua itu mengangguk-angguk. "Buku apa yang sedang kau baca itu?"

"Ah, ini?" Sungmin mengangkat buku itu sambil tersenyum saat melihat covernya. "Aku menemukannya di rak ruang baca. Sampulnya menarik jadi kubaca saja."

Lima menit kemudian, wanita tua itu ada di ruang penerimaan tamu dengan pasangan itu. Ia menghabiskan limabelas menit hanya untuk menjelaskan semua kelebihan Sungmin begitu Si Suami mengatakan ia tertarik dengan anak itu dan Si Istri mengiyakan. Setelah semua penjelasan yang tidak dibuat-buat, pasangan itu memastikan pada wanita itu bahwa mereka akan mengadopsi Sungmin sebagai anak mereka.

Wanita itu sampai terkaget-kaget sendiri karena Sungmin adalah anak yang sangat beruntung. Dari awal, ia tersesat ke panti asuhan yang tidak akan menyesatkannya. Ia juga dikaruniai tubuh yang sehat dan otak yang cerdas. Ditambah lagi, satu tahun setelah ia tinggal di sana, di umur yang tepat untuk masuk SD, datang pasangan yang akan mengadopsinya.

Tidak sampai seminggu saat Sungmin sudah masuk SD. Senyumnya sangat manis saat foto dengan ibu barunya di upacara penerimaan murid baru. Ia memutuskan untuk jadi anak yang rajin, baik hati dan hormat pada kedua orangtuanya.

oooooooooooooo

Lee Sungmin, 11 tahun.

Sebagai anak kelas 5 SD, ia sebenarnya terlalu pintar. Selalu jadi nomor satu di seluruh angkatannya tiap tahun, dikirim untuk berbagai lomba tingkat SD, menyumbangkan berbagai penghargaan pada sekolahnya, itu terlalu serius untuk anak seusianya.

Tidak hanya di bidang akademis, ia juga pandai bermain gitar. Memang ayahnya yang mengajarkannya, tapi bisa menghapal 5 lagu dan mampu memainkannya dalam sehari jauh di luar harapan ayahnya. Di pelajaran olahraga juga ia jago. Lari selalu paling depan, lompat selalu paling tinggi, berenang selalu paling cepat, dalam permainan tim selalu jadi andalan.

Untuk pertama kali seumur hidupnya, seorang Lee Sungmin yang periang memilih jadi pendiam. Ia tidak suka dengan semua perhatian berlebihan yang ditujukan padanya. Orang-orang yang selalu memanggilnya saat mereka berpapasan, guru-guru yang selalu menyuruhnya maju ke depan kelas untuk mengerjakan soal lalu memujinya habis-habisan, siswi-siswi yang berteriak histeris setiap dia lewat dan memenuhi kolong mejanya dengan hadiah dan cokelat, kepala sekolah yang selalu memanggilnya ke depan sebagai contoh siswa teladan atau apalah, ia tidak suka semua itu.

Biarpun pintar, tapi ia sama sekali tidak pernah berusaha berteman dengan siapapun. Ia ingat semua teman-teman yang pernah sekelas dengannya, tapi tidak pernah membaur dengan mereka. Memang kadang-kadang Sungmin masih berangkat sekolah dengan temannya (jika tidak sengaja bertemu di jalan), mengobrol dengan temannya di sekolah biarpun ia lebih banyak mendengarkan, makan siang dengan teman sekelasnya, dan pulang sekolah beramai-ramai. Tapi selain itu, Sungmin terlihat seperti tidak punya teman. Ia tidak dijauhi, tapi juga tidak berusaha mendekatkan diri. Bahkan di klub musik yang ia ikuti pun, ia tidak banyak bicara biarpun sebenarnya dekat dengan teman-teman di klubnya.

Suatu hari saat pelajaran olahraga, kelas Sungmin sedang praktek estafet secara bergantian. Sungmin yang cepat selalu diletakkan di belakang oleh gurunya jadi ia belum dapat giliran. Ia menunggu dengan murid-murid lain yang larinya juga cepat. Saat itu, ia duduk di sebelah Junsu yang rekor larinya paling mendekati rekor lari Sungmin.

"Panas baangeeet…" keluh Junsu sambil mengibaskan tangan di depan lehernya. Sungmin tidak mengiyakan, tapi sejak tadi ia sudah mengibas-ngibas kerah bajunya karena merasa badannya sudah sangat berkeringat. "Ming, hari ini mau target berapa detik?" tanya Junsu.

"Aku… nggak pernah buat target. Aku cuman berusaha sekeras mungkin," jawab Sungmin sambil mengangkat kedua bahunya. Junsu tertawa karena merasa Sungmin terlalu pede. Tiba-tiba matahari muncul dari balik awan, membuat suasana di lapangan jadi terlalu terang. Semua orang di sana langsung menyipitkan mata mereka. Sungmin yang masih konsentrasi melihat teman-temannya yang sedang berlari langsung memayungi matanya dengan telapak tangannya. Saat itu, Junsu melihat sesuatu di tangan Sungmin.

"Eh, hei, Sungmin-ah. Lihat tanganmu," pinta Junsu sambil mengulurkan tangannya dan menarik tangan kiri Sungmin. Di dekat pergelangan bagian dalam di tangan kirinya, ada sebuah tanda. Tanda itu terlihat seperti bekas tiga buah sayatan yang cukup tebal. Panjangnya hanya sekitar 3.5 cm. Anehnya, di setiap ujung garis itu ada tanduk kecil. Wanita pengelola panti asuhan pernah bilang kalau itu mungkin bekas luka, tapi apapun yang semua orang lakukan pada kulit tangannya dengan obat ataupun krim kulit, bekas itu tidak mau hilang. Bentuknya, lekuknya, panjangnya tetap sama meskipun Sungmin bertambah tua dan tangannya semakin panjang. "Ini kenapa?" tanya Junsu.

"Itu… kata pengelola panti asuhanku dulu, mungkin bekas luka. Tapi nggak bisa hilang," jawab Sungmin.

"Kamu nggak tahu kenapa?"

"Enggak. Aku nggak ingat apapun sebelum umur 6 tahun," jawab Sungmin.

"Dulu, berapa lama tinggal di panti asuhan?" tanya Junsu.

Sungmin lalu menjawab pertanyaan-pertanyaan Junsu sambil sekalian menceritakan masa kecilnya. Ia biasanya kesal jika harus menceritakan masa kecilnya yang kehilangan ingatan dan harus tinggal di panti asuhan selama setahun jika ujung-ujungnya hanya dikasihani oleh yang mendengarkan. Tapi kali ini ia bersyukur karena itu bisa mengalihkan perhatian Junsu dari bekas luka di tangannya. Jika ia harus memilih bagian tubuh yang ia tidak suka, mungkin itu adalah tangan dengan bekas luka ini. Ia paling tidak suka jika bekas luka itu terlihat dan ia harus menjelaskannya.

Sejujurnya, Sungmin tahu itu bukan bekas luka. Kalau Sungmin disuruh jujur menceritakan tentang dirinya sendiri, sebenarnya ia bisa menceritakan banyak sekali. Ia tidak bohong waktu ia bilang ia kehilangan ingatan saat sebelum umur 6 tahun, tapi bukan berarti ia tidak tahu apa-apa sama sekali.

Lee Sungmin, yang dikenal sebagai anak cerdas sejak kecil, sebenarnya adalah vampir.

Ia berasal dari klan Triclaws dan bekas luka di pergelangan tangan kirinya sebenarnya adalah tanda klannya. Ia tahu semua tentang vampir. Bagaimana manusia bisa berubah jadi vampir, berapa lama waktu yang dibutuhkan, Dunia Vampir itu apa, susunan kasta dalam Dunia Vampir, bagaimana vampir bertahan hidup, apa saja kelamahan dan kelebihan vampir, ia tahu semuanya. Ia hanya tidak tahu seperti apa dia sebelum jadi vampir. Berbeda dengan Vampir Pangeran, ia yang berasal dari klan di kasta bawah langsung dilepas ke dunia manusia begitu proses pengubahan 100 tahun selesai tanpa perlu menunggu apapun.

Sejak masih ada di panti asuhan, ia sudah sering mengisap darah manusia, setidaknya seminggu sekali. Terkadang ia menyelinap keluar malam-malam dan mencari pejalan kaki tidak beruntung secara acak di jalan-jalan dekat panti asuhan, atau diam-diam mengisap darah temannya di panti asuhan. Untuk mengisap darah teman-temannya, ia sengaja memilih yang memiliki penyakit anemia supaya tidak ketahuan. Biasanya saat sebelum tidur, ia akan membantu pengelola memberikan obat anemia pada temannya, dan diam-diam memasukkan bius ke dalamnya. Setelah tidur dan memastikan temannya tidak akan bangun apapun yang terjadi, ia akan mengisap darah temannya, untuk menemukan temannya itu kena anemia esok harinya. Ia harus bersyukur karena tidak pernah ketahuan. Setelah masuk SD, kadang-kadangpun ia suka menyelinap keluar untuk mencari mangsa.

Sebenarnya ia tahu kalau energi bisa didapat dari anggur hitam, tapi ia memilih untuk tidak segera mencarinya, karena ia tidak tahu bagaimana cara mendapatkannya dan menurut cerita, anggur itu sangat menyiksa jika dikonsumsi.

Setidaknya, itulah yang ada di pikirannya sampai ia didekati seorang pria saat sedang duduk-duduk di taman.

"Nak," panggil pria itu. Sungmin yang masih berusaha menghabiskan cone es krimnya yang tinggal setengah langsung mendongak. Ia tidak kenal pria ini. Tapi ia bisa merasakan sesuatu dari pria ini. Sesuatu yang sama dengan dirinya, tapi ia tidak tahu apa. "Apa kau vampir?"

Sungmin nyaris menelan cone es krim yang belum dikunyahnya di dalam mulutnya saat mendengar pertanyaan itu. Ia terbatuk-batuk sedikit, lalu memperhatikan pria yang duduk di sebelahnya. Pria itu menarik tangan kiri Sungmin dan melihat tanda di sana.

"Ada apa, Ahjussi?" tanya Sungmin sambil menarik tangannya kembali.

"Triclaws," ujar pria itu sambil terkekeh. "Pasti sulit ya jadi vampir di umur segini."

Merasa pria di depannya memang benar-benar vampir yang bisa ia ajak bicara dengan santai dan yakin obrolan mereka akan nyambung, Sungmin cepat-cepat melahap cone es krim yang tersisa agar lebih nyaman saat mengobrol. "Ahjussi… juga vampir?"

"Kalau bukan, mana aku tahu kau ini vampir atau bukan. Sesama vampir bisa saling mendeteksi, tahu."

Paman ini tahu kelihatannya banyak, batin Sungmin biarpun ia sudah tahu soal vampir bisa mendeteksi vampir lain. Tapi Sungmin melihat sesuatu di mata pria itu, sesuatu yang mengatakan bahwa pria ini telah mengalami banyak hal, dan tahu banyak hal juga. "Apa vampir di Seoul banyak?"

"Cukup banyak. Dan akan terus bertambah." Pria itu mengeluarkan sebungkus rokok dari kantung kemejanya, lalu menunjukkannya pada Sungmin. "Boleh?"

"Silakan, tapi tolong jauhkan asapnya dariku." Sungmin menggeser duduknya menjauhi pria itu. Pria itu hanya tertawa, pertanda setuju. Ia mengeluarkan sebuah pemantik dari kantung, menyalakannya dan membakar rokoknya. Untunglah angin sedang berhembus ke arah kanan pria itu, jadi asapnya yang keluar dari mulutnya tidak mengenai Sungmin yang duduk di sebelah kirinya. Ia merentangkan tangannya di atas sandaran kursi, menjauhkan rokoknya sejauh mungkin dari Sungmin.

"Kau minum darah?" tanya pria itu. Jarinya menggoyang-goyangkan rokoknya.

"Iya. Tentu saja."

"Kau tahu 'kan kalau energi bisa didapat dari anggur hitam juga?" Sungmin mengangguk dengan agak kecewa karena ia belum pernah mencobanya. Pria itu tahu cukup dengan melihat ekspresi wajahnya. "Dan kau pasti nggak tahu kalau anggur hitam itu diolah jadi wine supaya rasa panasnya hilang," lanjut pria itu. Sungmin menoleh ke arahnya dengan cepat. "Nggak coba minum?"

Wajah Sungmin berubah kecewa lagi. "Aku… masih umur 12. Kelas 5 SD."

"Itu 'kan secara visual. Secara fisik, kau 112 tahun."

"Tapi yang dilihat manusia, aku anak 12 tahun. Kalau mau minum-minum, harus tunggu 7 tahun lagi."

"Nak, kau bahkan bukan manusia."

Sungmin merasa tertampar kata-kata itu. Benar, ia bukan manusia. Ia hanya pura-pura jadi manusia. Tidak ada yang tahu, bahkan orangtua angkatnya yang mendidiknya agar menjadi anak yang selalu jujur. Sungmin tidak pernah menceritakannya pada siapapun. Anak sekecil itu menyimpan rahasia yang jauh lebih besar dari tubuhnya sendiri. Sejak kecil ia merasa kenyataan bahwa ia adalah vampir harus disimpan sendiri, dan semakin ia besar ia tahu tidak akan ada yang percaya kalaupun ia mengaku. Maksudnya, ayolah, memangnya ini jaman Eropa Kuno?

"Di mana aku bisa mendapatkannya, Ahjussi?" tanya Sungmin akhirnya.

Pria itu terkekeh. "Di Kantor Pengurus di kantor pos kota. Kau pergilah ke sana. Nggak perlu masuk ke dalam, pergi saja ke sisi timur gedungnya. Di ujungnya ada pintu tak terpakai, tapi di sebelahnya ada scanner pendeteksi mata. Kau buka matamu lebar-lebar di depannya, scannernya bisa mendeteksi kau vampir atau bukan. Nanti kalau pintunya terbuka, masuk saja dan bilang pada resepsionis kalau kau mau ke bagian Sumber Daya. Untuk yang pertama kali, datang langsung saja. Tapi besok-besok kalau mau datang lagi harus janjian dulu dengan orang di Sumber Dayanya."

Sore itu, Sungmin berpisah begitu saja dengan pria itu tanpa pernah bertemu dengannya lagi. Akhirnya sejak saat itu setiap bulan ia meminta sebotol black wine dari Kantor Pengurus dari bagian Sumber Daya. Ia selalu bisa menyembunyikannya dari orangtuanya dan tidak perlu mengisap darah manusia selama bertahun-tahun. Lagi-lagi ia beruntung karena ternyata toleransi alkoholnya tinggi.

oooooooooooooo

Lee Sungmin, 20 tahun.

Ia sudah dua tahun menjadi mahasiswa, dan yang ia ingat hanyalah ia selalu berada di perpustakaan.

Vampir memiliki eidetic memory—kemampuan untuk mengingat hanya dengan sekali lihat. Mungkin orang lebih mengenal kemampuan ini sebagai memori fotografi? Sungmin sudah mengingat seluruh isi buku teksnya dalam sekali baca, dan dia membawanya ke sekolah hanya sebagai pemberat tas saja. Tanpa membawanyapun ia bisa saja menceritakan semua isinya tanpa tertinggal satu kata. Tapi bukan itu yang dilakukan manusia, jadi ia juga selalu pura-pura membacanya.

Ia berada di perpustakaan untuk mengisi waktu. Kebiasaannya sejak SD untuk tidak mencari teman masih terbawa sampai kuliah. Ia masih jadi yang pintar dan masuk klub musik, tapi juga masih pendiam. Ia sadar bahwa saat kecil ia terlalu memaksimalkan kerja otaknya sampai-sampai kelihatan mencurigakan, makanya saat SMA dan kuliah ia mulai berusaha tidak kelihatan sangat-sangat pintar dengan cara sengaja menjawab soal dengan salah atau mengosonginya. Ia tidak lagi selalu nomor satu, tapi sebisa mungkin ia tetap mempertahankan posisi lima atau tiga besar.

Terlalu sering berada di perpustakaan membuatnya hapal letak-letak rak di sana. Rak sejarah, rak bahasa, rak novel, rak agama, tak ada yang lewat dari ingatannya. Buku-buku di sana disusun berdasarkan apa, setiap hari apa buku-buku yang baru dipinjam dikembalikan ke rak buku, buku yang tidak atau sedang dipinjam, tanpa bertanya kepada petugas perpustakaanpun ia sudah tahu.

Di perpustakaan itu jugalah ia kenal Kim Ryeowook. Anak itu lebih muda setahun lebih darinya, dan berada satu angkatan di bawahnya. Biarpun Sungmin dari jurusan sejarah dan selalu berkutat dengan cerita perang masa lalu, kerajaan dan raja-rajanya, sedangkan Ryeowook dari jurusan seni lebih fokus pada piano dan partitur, tetapi untuk beberapa hal mereka cocok. Mereka sering bertemu terutama di rak bahasa dan rak seni. Karena sering bertemu itulah Ryeowook jadi mengajak Sungmin mengobrol. Mereka sama-sama belajar Bahasa Cina, dan juga sama-sama main musik. Pada awalnya mereka hanya bertemu di perpustakaan saja, tapi akhirnya Ryeowook mulai mengajak Sungmin pergi ke kantin bersama-sama atau main ke rumahnya. Sungmin yang mulai jadi terbuka juga mengajak Ryeowook ke toko buku atau mentraktirnya es krim di pusat pertokoan.

Ryeowook tidak sependiam Sungmin, dan ia punya teman. Satu teman yang sangat dekat dengannya adalah Lee Donghae. Karena berteman dengan Ryeowook, Sungmin juga jadi berteman dengan Donghae. Anak itu dulu satu SMA dengan Ryeowook dan karena suka ikan dia masuk jurusan biologi. Sayangnya sejak Donghae punya pacar dari sebuah institut seni, dia jadi jarang bermain dengan Ryeowook lagi. Pada akhirnya, Ryeowook lebih sering bersama Sungmin.

oooooooooooooo

Sungmin berjalan menyusuri koridor dengan Ryeowook. Mereka tidak sengaja bertemu di gerbang masuk dan berjalan bersama ke kelas mereka. Hanya saja, kali ini, Ryeowook terlihat sedang dalam keadaan tidak baik. Wajahnya tidak manis seperti biasanya. Ia cemberut dan terlihat kesal. Dari Sungmin menyalaminya dengan selamat pagi! yang ceria tadi, Ryeowook membalasnya dengan salam yang lesu, membuat Sungmin lelah duluan.

"Ryeowook-ah… kamu kenapa, sih?" Sungmin bertanya dengan bingung. "Wajahmu nggak enak dilihat, tahu. Senyum, dong. Senyum." Sungmin mengangkat kedua telunjuknya ke kedua ujung bibirnya, lalu menarik telunjuk dan bibirnya ke atas bersamaan, membentuk sebuah senyuman.

"Berisik, ah. Moodku lagi jelek, nih," gerutu Ryeowook.

Mendengar respon Ryeowook, Sungmin menurunkan tangannya dan wajahnya kembali datar. Ryeowook memang anak yang baik. Dalam keadaan seperti ini masih ingat untuk menggunakan bahasa formal. "Ada masalah apa, sih?"

"Aku malas curhat."

"Tumben."

"Biarkan aku."

Cara Ryeowook bersikap tidak seperti biasanya. Sungmin ingin mengetahui penyebabnya tapi ia sudah sampai di depan kelasnya jadi ia berhenti. Adik kelasnya itu ikut berhenti di sebelahnya, entah kenapa menolak menatap Sungmin. Sungmin menghela napas, lalu menepuk bahu Ryeowook pelan.

"Kalau kelasku sudah selesai aku akan ada di kantin untuk segelas jus jeruk. Aku akan menyiapkan satu kursi untukmu, jadi kalau mau datang, datang saja, ya?"

Sebenarnya Sungmin tidak terlalu berharap Ryeowook akan menyetujuinya melihat moodnya seperti ini. Kacamatanya sedikit melorot di atas hidungnya dan ia menaikkannya sedikit, masih menunggu. Saat Ryeowook akhirnya mengangguk, Sungmin tak punya pilihan selain tersenyum. Ia menepuk bahu Ryeowook dua kali.

"Sampai nanti."

Sungmin tidak menunggu Ryeowook menjawab dan langsung masuk ke dalam kelasnya. Ia berjalan ke arah kursinya di baris ketiga paling belakang. Ia tidak suka duduk di depan, terlalu dekat dengan papan tulis, suara dosen terlalu keras, suara orang-orang di belakangnya terlalu banyak.

Setelah meletakkan tasnya di atas meja, ia duduk bersandar di kursinya. Matanya bergerak ke kiri, berpikir. Di kepalanya hanya ada Kim Ryeowook. Sebenarnya sebagai teman ia mengkhawatirkan keadaan Ryeowook karena tiba-tiba ia badmood begitu. Mungkin saja sesuatu yang buruk terjadi. Tapi saat bersama Ryeowook tadi, ia mencium sesuatu yang tidak asing. Sesuatu yang baunya seperti… vampir. Mungkinkah Ryeowook bertemu dengan vampir? Sayangnya Sungmin tidak bisa membedakan apakah bau itu dari vampir kasta mana, tapi ia memperkirakan bahwa Ryeowook adalah manusia khusus bagi seorang Vampir Pangeran. Hanya itu hal yang paling mungkin terjadi, karena baunya sangat kuat.

Sungmin menyelonjorkan kakinya dan memelorotkan tubuhnya di kursi. Ia bersedekap, kakinya ada di atas kaki yang lain. Ia menatap langit-langit kelas.

Benarkah Ryeowook bertemu dengan seorang vampir?

Pertanyaan itu benar-benar memukul kepalanya. Tidak ada satupun kenalannya di dunia ini yang tahu kalau Sungmin adalah vampir. Dan dari semua kenalannya yang clueless mengenai identitas aslinya itu, mengapa salah satunya malah bertemu vampir? Setidaknya Sungmin harus tahu siapa vampir yang ditemui Ryeowook.

Mata Sungmin kali ini mengarah ke mejanya. Matanya bergerak ke kanan. Ia berpikir lagi.

"Ryeowook… dia benar-benar terasa aneh hari ini…"

Bau vampir yang menempel pada Ryeowook tercium sangat asing, tidak seperti vampir kebanyakan. Mungkinkah vampir langka? Tapi sepengetahuan Sungmin ada beberapa klan vampir yang langka. Sungmin langsung mengulang semua nama klan vampir yang langka yang ia tahu di dalam kepalanya. Elyder, Piragon, Neglebter, Cretcessant, Fohksont, Ranclery… kemungkinan paling parah itu Halfwing atau Synthnal… tapi keturunan terakhir Synthnal sudah masuk Dunia Manusia 17 tahun yang lalu, jadi hampir tidak mungkin.

Sungmin mendecih, lalu menggigit bibirnya dengan kesal. Ia benar-benar harus tahu situasi Ryeowook.

oooooooooooooo

Sungmin benar-benar pergi di kantin setelah kelasnya selesai seperti yang ia katakan pada Ryeowook tadi pagi. Setelah memesan segelas jus jeruk dan sebungkus kentang goreng, ia memilih meja dengan dua kursi yang menurutnya paling nyaman. Tangannya menurunkan tasnya begitu saja di dekat kaki kursi, lalu mengangkat gelas jusnya dan meneguknya sedikit. Tangannya berpindah untuk mengambil sebatang kentang goreng dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Ia melipat tangannya di atas meja, mulutnya masih mengunyah.

Sebenarnya meskipun Ryeowook setuju untuk menghampirinya ke sini, ia belum yakin apakah Ryeowook benar-benar akan ke kantin atau tidak. Tapi ia tidak keberatan harus menunggu meskipun Ryeowook tidak datang. Ia menurunkan tangannya dan mengambil sebuah novel tebal dari dalam tasnya, lalu mulai membaca.

Kim Sooyeon, meskipun tidak mengakuinya, tapi tetap saja ia adalah pendekar wanita paling kuat di kerajaan itu. Kaisar selalu mengirimnya ke setiap peperangan dengan satu batalion prajurit—

Sungmin berhenti membaca dan alisnya tiba-tiba naik saat merasakan Ryeowook mendekat. Ia mengangkat kepalanya, melihat sekeliling dengan seksama. Begitu menemukannya di balik pohon, Sungmin langsung tersenyum. Tangannya melambai dan mengisyaratkan Ryeowook agar mendekat, lalu menunjuk kursi kosong di depannya. Sungmin bersyukur karena Ryeowook mau menghampirinya.

Senyum tidak meninggalkan wajah Lee Sungmin saat Ryeowook menarik kursi untuknya sendiri dan duduk. "Sudah kuduga kau akan datang," ujarnya, sedikit banyak berbohong. Sebenarnya ia nyaris tidak menduganya sama sekali. "Kau lapar? Mau pesan sesuatu?"

"Tidak usah." Ryeowook menggeleng pelan. "Aku tidak lapar."

"Ey, ini sudah jam makan siang. Biarkan aku membelikan sesuatu untukmu, ayolah."

Ryeowook tersenyum malu-malu. "Sebenarnya, sandwhich hari ini terlihat enak." Senyuman Sungmin menjadi lebih lebar saat mendengarnya. Ia meletakkan pembatas buku di dalam novelnya, lalu berdiri.

"Aku akan mengambilkannya untukmu, tunggu ya."

Setelah memesan jus jeruk dan sebungkus sandwhich, Sungmin kembali dan meletakkan keduanya di atas meja. Ia mendorong kedua makanan itu sampai cukup dekat dengan Ryeowook dan mengisyaratkannya untuk memakannya.

"Terimakasih, Hyung." Kali ini Ryeowook mengatakannya sambil tersenyum. Ia mengambil jusnya dan menyeruputnya perlahan.

"Nah, kalau kamu tersenyum seperti itu 'kan lebih enak dilihat. Punya wajah manis nggak ada gunanya kalau nggak tersenyum, tahu," ujar Sungmin diikuti tawa kecil kecil Ryeowook. Sungmin kembali mencoba mengendus bau dari Ryeowook. Memang benar, ini bau vampir yang asing.

"Maafkan aku, Hyung. Kalau bukan karena Hyung, mungkin aku masih cemberut sampai besok."

"Tak perlu dipikirkan. Makannya pelan-pelan saja."

Ryeowook mengangguk dan mulai memakan sandwhichnya. Sungmin mengambil dua batang kentang goreng dan memasukkannya ke dalam mulut, lalu mengunyahnya sambil membuka novelnya di bagian ia meletakkan pembatasnya tadi.

Ia benar-benar tidak tahu apa yang mengikutinya dari belakang itu sejak…

"Hyung," panggil Ryeowook tiba-tiba. Sungmin yang masih tersenyum mengangkat kepala dari bukunya. Menjadi pendengar yang baik adalah prinsip yang selalu dipegang Lee Sungmin seumur hidupnya. "Hyung… tahu vampir, kan?"

Bagaikan lampu yang mati, senyum yang bertahan di wajah Sungmin itu menghilang tiba-tiba. Senyumnya hilang karena ia kaget. Sebenarnya ia ingin tersenyum lebih lebar karena pertanyaan Ryeowook ini membenarkan dugaan sementaranya mengenai bau vampir yang menguar dari tubuh Ryeowook. Tanpa dicari pun petunjuk datang dengan sendirinya. Sungmin bersyukur jadi satu-satunya orang yang ada di sana saat Ryeowook perlu bertanya tentang ini.

"Tentu saja aku tahu. Memangnya kenapa?" Sungmin menutup novelnya meskipun ia tahu novel itu tak akan mengalihkan perhatiannya dari Ryeowook sekalipun halaman-halamannya menari di depannya.

"Apa yang Hyung tahu soal vampir?"

Pertanyaan dasar. Mencari informasi. Meskipun mungkin Ryeowook sudah tahu seperti apa vampir dari cerita-cerita klasik, seperti gaya klimis, takut sinar matahari dan bawang putih, tapi tetap saja ia menanyakannya. Sungmin tahu itu, karena ciri-ciri vampir yang diketahui manusia sangat berbeda dengan vampir yang sebenarnya. Hal itu membuat Ryeowook ragu dan menanyakannya lagi pada Sungmin.

Sungmin yang sudah suka membaca dari kecil itupun pernah membaca buku tentang vampir dan kebingungan setengah mati karena yang tertulis di buku sangat berbeda dengan kenyataannya. Untungnya ingatan vampir yang terlalu bagus itu membuat Sungmin masih ingat dengan apa yang dibacanya bertahun-tahun lalu itu.

"Hmm… vampir makhluk mitologi, iya. Istilah vampirnya sendiri baru populer di abad ke-18, di daerah Eropa. Versinya berubah-ubah dari masa ke masa, dan bahkan tiap daerah punya vampirnya sendiri. Orang-orang jaman dahulu percaya sekali akan adanya vampir, lalu sekarang, entahlah. Soal ada tidaknya vampir itu masih dipertanyakan banyak orang, tapi yang jelas, sampai sekarangpun masih ada orang yang percaya tentang keberadaan vampir.

Vampir versi modern ini… yah, kau tahu sendirilah. Tampan, klimis, rapi, elegan, pakai setelan lengkap, jubah panjang, bisa berubah jadi kelelawar, mati kalau kena sinar matahari… tapi itu hanya imajinasi orang-orang saja. Versi aslinya, yah, siapa yang tahu? Bahkan ada atau tidaknya saja tidak jelas."

Sungmin hanya memperhatikan saat Ryeowook mengangguk-angguk. "Wahh… bagaimana Hyung bisa tahu begitu banyak?" Sungmin tersenyum, ia tidak ingin membicarakan bagaimana ia tahu atau tidak tahu, tapi merasa tidak punya pilihan lain, ia mengetuk-ngetuk bukunya dengan telunjuknya.

"Aku banyak membaca. Mungkin, terlalu banyak. Tapi membaca itu bagus. Lebih dari 50% informasi bisa didapat dari membaca. Kau juga harus lebih banyak membaca."

"Aku sudah banyak baca, kok."

"Aku tahu, tapi cobalah koran, ensiklopedi, sejarah dan biografi." Sungmin berkata seperti itu karena tahu Ryeowook hanya membaca novel. Ia tidak berkata apapun saat Ryeowook terkekeh malu, dan mulai makan lagi. Sungmin meneguk jusnya dengan cepat, walaupun ia tidak haus hanya karena bercerita sedikit tadi. Ia menatap Ryeowook dan mengambil saat yang tepat untuk bertanya, "tapi, kenapa tiba-tiba kau tanya tentang vampir?"

"Um…" Ryeowook tidak langsung menjawab dan Sungmin mengangkat alisnya pada hal itu. Petunjuk lain. Kalau Ryeowook memang hanya ingin tahu, ia tidak perlu ragu menjawab seperti itu. Kalau memang ia bingung menjawab apa, terlalu jelas bahwa Ryeowook sedang berusaha menyembunyikan sesuatu. Biarpun mengetahuinya, Sungmin bukan orang yang suka ikut campur. "Tiba-tiba aku ingin belajar tentang mitos-mitos," jawab Ryeowook. Yah, pada akhirnya 'ingin tahu' adalah jawaban yang dipilih Ryeowook, karena memang itu yang paling bisa diterima akal.

Sungmin terdiam. Ryeowook ada di jurusan seni. Untuk apa ingin tahu tentang mitos Eropa seperti itu? "Apa hubungannya dengan jurusan senimu?"

"Memangnya salah?" mendengar jawaban Ryeowook yang sepertinya agak kesal karena tiba-tiba ia kepo seperti itu, Sungmin hanya tertawa.

"Tidak, sih. Di perpustakaan banyak buku tentang mitos lokal dan internasional. Dekat rak buku-buku sejarah. Carilah di sana. Bukunya sudah lama, kertasnya sudah menguning dan baunya tidak enak, tapi isinya bagus."

oooooooooooooo

Ryeowook pulang duluan hari itu, meninggalkan bungkus sandwhich dan gelas jusnya yang kosong di atas meja. Sebenarnya Ryeowook sudah mengajaknya pulang bersama, tapi Sungmin menolak dengan alasan ada hal lain yang harus ia kerjakan. Dan tentu saja itu bohong. Tapi siapa yang tahu kalau tiba-tiba ia punya sesuatu untuk dikerjakan?

Sungmin hanya sibuk SMSan dengan dosen yang mengajarnya. Ia hanya basa-basi menanyakan tugas laporan yang diberikan dosennya itu, tapi pembicaraannya berbelok jadi mengobrol soal cuaca belakangan ini.

Mengobrol dengan orang yang jauh lebih tua, apalagi dosen, sebenarnya bukan keahlian Sungmin. Ia mencapai titik bosan saat mengirim pesan ke-12. Ia mengunci layar ponselnya dan menempelkannya ke bibirnya. Ia masih memikirkan Ryeowook. Masih memikirkan siapa vampir yang bersamanya. Dan bagaimana Ryeowook bersikap kepadanya. Meskipun makhluk seperti vampir itu dianggap mustahil adanya oleh manusia dan tetap sulit diterima walaupun sudah melihat sendiri, Sungmin tetap tidak terima kalau ada vampir diperlakukan tidak baik.

"Vampir, ya…" Sungmin berujar pelan. Ia masih merasa Ryeowook akan mendatanginya lagi untuk bertanya-tanya tentang vampir. Mungkin informasi tentang vampir dari sudut pandang manusia yang ia tahu belum cukup banyak. Sambil berdiri, ia mengambil novelnya di atas meja. "Sepertinya aku harus baca buku mitos lagi," ujarnya pada diri sendiri, sudah memutuskan untuk pergi ke perpustakaan.

oooooooooooooo

Pada akhirnya suatu hari, Ryeowook meminta Sungmin menemaninya ke perpustakaan untuk menunjukkannya rak yang berisi buku-buku mitos. Lee Sungmin, tentu saja, dengan senang hati menuntun Ryeowook ke sana.

"Nih, buku-buku mitos. Mitos lokal ada, mitos luar negeri juga banyak," ujar Sungmin saat sampai di rak buku di ujung perpustakaan itu.

Melihat Ryeowook memindai judul-judul buku itu dengan serius dan tangannya yang meraih buku berjudul 'Sejarah Vampir,' Sungmin sangat yakin bahwa Ryeowook memang bertemu seorang vampir. Sungmin bahkan nyaris membuat kesimpulannya sendiri. Tapi ia belum dapat bukti otentik apapun, jadi ia akan menyimpan kesimpulannya untuk nanti. Menahan rasa ingin tahunya saat Ryeowook membuka buku yang diambilnya dan membacanya dengan cepat, Sungmin memutuskan untuk membiarkan Ryeowook mengeksplorasi buku-buku di sana sendirian.

"Kalau kau butuh aku, aku akan ada di rak bahasa," ujar Sungmin, ia sudah mulai melangkah. Ryeowook kaget mendengarnya dan menutup buku di tangannya.

"Oh, iya, Hyung! Terimakasih, ya."

"Tak masalah," ujar Sungmin sambil melambai sedikit.

Ia langsung berjalan pergi dan berusaha untuk tidak menengok ke belakang sampai jaraknya agak jauh. Begitu yakin Ryeowook tidak melihatnya lagi, ia menengok ke belakang dan menemukan adik kelasnya itu mengambil beberapa buku dari rak yang menarik perhatiannya dengan rakus.

Sungmin pergi ke rak bahasa dan mengambil sebuah kamus Bahasa Cina, menarik sebuah kursi dan duduk di atasnya. Setelah merasa nyaman, ia mengeluarkan sebuah buku teks full bahasa Cina yang isinya hanya huruf kanji dan kanji dan kanji dari tasnya. Jarinya dengan lihai membuka halaman 114 yang ditandainya, telunjuknya dengan cepat mengarah pada paragraf yang digarisinya dengan pensil. Ia sedang membaca buku itu dan masih butuh bantuan kamus. Kanji Cina terlalu banyak sampai-sampai memorinya saja malas menghapalnya.

Sungmin baru mengartikan kanji ke-duabelas dan tidak tahu arti dari kanji ke tigabelas di baris pertama, jadi tangannya bergerak ke arah kamus dan membukanya. Ia memperhatikan bentuk kanji itu dan membuka langsung ke halaman tengah. Jemarinya dengan lembut menarik satu persatu halaman kamus itu, memperhatikan isi di dalamnya. Tapi belum sempat ia menemukannya, Sungmin sudah menghempaskan kamus itu ke meja sambil mengerang pelan.

Seberapa keraspun ia mencoba konsentrasi, pikiran soal Ryeowook dan vampir terus saja menggerayangi otaknya. Untuk beberapa alasan yang kurang jelas ia jadi sering panik dan khawatir sendiri gara-gara itu. Sebagai senior dan teman dekat, tentu saja ia menyayangi Ryeowook. Tapi ia berani bersumpah seumur-umur ia tak pernah memikirkan Ryeowook sampai seperti ini.

Sungmin menunduk dan mengacak-acak rambutnya dengan kesal.

"Aku harus tahu siapa vampir yang bersama dengan Ryeowook…" ujarnya pelan.


A/n:Hai hai ^^
Saya telat ya updatenya TT maaaaafff belakangan lagi sibuk (ga ada alesan lain nas?) dan ada beberapa masalah pribadi yang bikin saya gak mood ngapdet cerita ini. (curcol deeeehh curcooooll)

Lho kok tiba-tiba cerita soal Sungmin? Apa hubungannya sama chapter sebelumnya?
Emang ganyambung sih ya heeeeee
Waktu mulai nulis chapter ini sih sayanya biasa-biasa aja, tapi seiring berjalannya waktu /ceileh/ kok sedikit banyak saya jadi ngerasa terlalu terburu-buru ngasih tau kalo Sungmin itu… JENGJENG vampir!

Sungmin juga vampir coooyyy pada kaget gak? Kaget lah ya, harus kaget dong

Oke, untuk di sini gamasalah kalau identitas Sungmin terbongkar terlalu cepat, tapi sedikit spoiler nih…
Sungmin dapet peran yang penting di sini, karena dia punya hubungan dengan tokoh utama tapi juga punya sisi lain yang kebetulan tokoh utamanya juga punya! Intinya, dialah penengah antara Jongwoon dan Ryeowook ^^
Bukan nengahin karena mereka berantem, lho! Trus nengahin gimana? Ih kepo deh. Makan tuh kepo! /apaan sih nas/

Yaa pokoknya, saya udah ngebocorin identitas Sungmin ini di sini supaya hubungan Ryeowook dan Jongwoon bisa lebih lancar ke depannya.

Selamat menunggu lagi yaa~ :p

Makasih buat yang udah nyempetin baca, terutama yang nyempetin review :B