Title:Those Creepy Fangs – Vampire's First Love, Second Expel
Author:nanaspineapple
Pairing:Yewook
Genre:Supernatural, drama
Rating:T
Disclaimer:Kesamaan nama tokoh memang disengaja
Summary:Didatangi dan dicintai makhluk bertaring pengisap darah bukan salah satu dari cita-cita seorang Kim Ryeowook, tapi itu karena dia tidak tahu takdir macam apa yang sudah disusun untuknya.
CHAPTER 5 – Vampire's First Love, Second Expel
"Siapa nama temanmu di kampus?"
Ryeowook mengeraskan rahangnya saat mendengar vampir di depannya mengajukan pertanyaan yang sama untuk yang kesekianpuluh kalinya. Berusaha cuek, ia menyendok nasi dari mangkuk dan mengunyahnya dengan agak buru-buru. Jongwoon menghela napas, ia terlihat lelah tapi tidak tampak kesal.
Sejak sore, Kim Jongwoon itu sudah membuat mood Ryeowook jelek. Sebenarnya Ryeowook tidak begitu peduli waktu Jongwoon bilang ia akan menunggu di depan gerbang kampus jam 3 sore, tapi tetap saja ia pergi ke sana untuk mengeceknya. Begitu Jongwoon melihatnya, ia langsung memaksa Ryeowook pulang. Tapi Ryeowook bukan mahasiswa yang langsung pulang begitu kelas selesai. Ia selalu punya kegiatan lain. Entah meminjam piano di ruang musik, makan di kantin, atau menghabiskan 2-3 buku di perpustakaan. Tentu saja Ryeowook menolak saat Jongwoon mengajaknya pulang. Ia sudah sedikit menduganya, tapi tetap saja ia kaget saat menemukan vampir itu masih berdiri di tempat yang sama waktu ia memutuskan untuk pulang jam 8 malam.
Selama perjalanan pulang sampai ke rumah, Jongwoon tak henti-hentinya bertanya. Tapi yang berkali-kali ia tanyakan adalah siapa nama teman Ryeowook di kampus. Apa urusannya? Kenapa tiba-tiba Jongwoon begitu ingin tahu soal itu?
Sampai Ryeowook memasak, duduk di balik meja makan dan makan malam, Jongwoon berdiri di hadapannya, kedua telapak tangannya menekan permukaan meja dan menatap Ryeowook sambil terus-menerus bertanya.
"Ryeowook-ah."
Sosis yang sedang dijepit Ryeowook dengan sumpit jatuh ke piringnya lagi, membuat Jongwoon mengangkat kedua alisnya karena agak kaget. Kali ini Ryeowook balas menatap Jongwoon dengan kesal, tatapan matanya tajam.
"Jongwoon! Sumpah ya, aku bener-bener pengen nusuk matamu dengan kedua sumpitku ini, tahu!" bentaknya marah.
Jongwoon menatap Ryeowook dengan tidak tertarik, lalu mengedikkan bahu sambil memutar matanya. "Yah, aku nggak bisa nyalahin kamu kalau kamu marah. Tapi aku masih belum dijawab, nih."
"Kenapa kamu tiba-tiba mau tahu, sih?"
"Aku nggak mungkin nanya kalau nggak punya alasan. Bisa beritahu aku sekarang?"
Ryeowook menyipitkan matanya dengan curiga sambil menempelkan ujung sumpitnya di depan bibirnya. Jongwoon masih menunggu. Ryeowook mengendus kesal. "Lee Sungmin. Rambut hitam rapi, pakai kacamata, lebih tinggi dari aku. Puas sekarang?"
Senyum lebar perlahan muncul di wajah Jongwoon seperti matahari pagi. "Nah, gitu, dong."
"Kau tak akan melakukan apapun pada temanku, kan?"
"Tahu namanya sudah cukup. Makasih, ya."
Melihat Jongwoon berjalan ke arah rak buku, mengambil novel sejarah yang selalu ia baca lalu duduk di lantai seolah tidak ada yang terjadi barusan membuat Ryeowook makin sebal. Ia menjepit sosisnya lagi lalu melahapnya. Melihat semua makanannya sudah habis, ia menumpuk piring-piring dan mangkuk, lalu membawanya ke bak cuci piring.
Jongwoon mengangkat kepala saat mendengar keran dinyalakan. Ia memperhatikan saat Ryeowook mencuci piringnya. Tangan kirinya tidak bergerak—memegang piring. Tangan kanannya bergerak-gerak—membersihkan piring. Jongwoon sendiri sampai heran kenapa anak itu bisa terlihat mengagumkan apapun yang dilakukannya.
Sejujurnya, ia sudah dinasehati oleh Sesepuh sebelum dikirim ke dunia manusia…
oooooooooooooo
"Yang Mulia Kim Jongwoon…"
Jongwoon, yang sedang berdiri sendiri beberapa meter dari lingkaran sihir menengok ke belakang, melihat Sesepuh Utama berjalan ke arahnya. Jongwoon sama sekali tidak bergerak dan menunggunya berdiri di sebelahnya. Melihatnya tidak bicara apa-apa, Jongwoon kembali fokus pada lingkaran sihir yang masih disiapkan itu.
"Persiapannya makan waktu, ya," ujar Jongwoon.
"Ya, memang. Mungkin 30 menit lagi baru selesai," timpal Sesepuh Utama. Setelah itu, mereka tidak berbicara. Mata mereka sama-sama fokus pada lingkaran sihir yang semakin lama semakin terang. Jongwoon yang merasa tidak nyaman akhirnya angkat bicara.
"Kehidupan di Dunia Manusia itu… seperti apa, Sesepuh?" tanya Jongwoon.
Sesepuh itu tertawa kecil. "Saya bersyukur anda bertanya. Sebenarnya sama saja dengan di sini. Hanya saja di sana penuh dengan manusia yang tidak tahu kalau vampir seperti anda nyata di dunia. Selain itu di sana lebih padat, lebih banyak hal yang anda tidak tahu selama anda di sini. Cara mereka hidup, bersikap, sangat berbeda dengan kita para vampir. Saya harap anda bisa menyesuaikan diri."
Jongwoon mengangguk pelan. "Akan aku usahakan."
"Oh iya," ucap Sesepuh Utama tiba-tiba, "saya lupa memberikan sesuatu pada anda." Jongwoon mengangkat satu alisnya saat Sesepuh Utama berusaha mengambil sesuatu dari kantung celananya. Alis vampir itu mengerut ketika sebuah kotak kecil disodorkan padanya.
"Apa itu?" tanya Jongwoon.
"Menunduklah, akan saya pakaikan."
Karena memang Sesepuh Utama ini tubuhnya pendek, Jongwoon pun berlutut di depannya. Ia membuka kotak kecil itu dan Jongwoon melihat dua lensa kecil sebesar retina mata yang berwarna hitam. Sesepuh Utama mengambil lensa itu dengan jarinya. Tangannya yang lain memegangi pelipis Jongwoon dan mengarahkan lensa itu ke matanya. Jongwoon berusaha tidak berkedip saat lensa itu ditempelkan ke mata kanannya. Merasa kaget, Jongwoon berkedip beberapa kali sampai lensa itu terpasang sempurna di matanya.
"Itu kontak lensa," ujar Sesepuh Utama. "Anda tahu, anda memiliki banyak kekuatan dalam diri anda. Tapi, kekuatan-kekuatan itu tak berguna di sini. Semua itu bisa digunakan ketika anda sudah berada di Dunia Manusia. Hanya saja, justru karena anda tak pernah menggunakannya itulah, kalau sembarangan digunakan atau dibiarkan 'telanjang' begitu, saat anda di Dunia Manusia nanti akan berbahaya. Salah satunya adalah mata ini. Kalau tidak terlatih, anda bisa saja menghipnotis orang lain tanpa sadar. Lensa ini bisa untuk menahan kekuatan itu, juga menyembunyikan mata merah anda."
"Memangnya… mata merah itu aneh?"
"Hitam, coklat, biru, dan sedikit hijau. Hanya itu warna mata manusia."
Jongwoon kembali diam saat Sesepuh Utama memasangkan lensa kontak yang lain di mata kirinya. Setelah merasa nyaman lagi, ia berdiri. "Terimakasih," ujar Jongwoon.
"Tak masalah." Sesepuh Utama memasukkan kotak itu lagi ke dalam kantungnya. "Sebenarnya bisa saja saya memakaikan anda kacamata."
Jongwoon mengangkat satu alisnya. "Lalu kenapa kontak lensa?"
"Menurutk saya kacamata kurang cocok untuk anda. Cocok, sih. Tapi tanpa aksesoris juga sudah tampan. Akhirnya pakai kontak lensa saja. Itu dilengkapi sihir jadi tidak perlu bolak-balik dicopot. Tidak akan menempel permanen di mata anda. Kalaupun anda sudah bisa mengendalikan kekuatan hipnotis anda, tetap gunakan saja."
"Aku mengerti."
Mereka terdiam lagi. Lingkaran sihir itu semakin terang, tanda sebentar lagi akan siap digunakan untuk membawa Jongwoon ke Dunia Manusia. Jongwoon menunduk, melihat tubuhnya sendiri. Terbalut dalam kaus biru gelap yang dilapisi mantel putih yang mencapai pertengahan pahanya, celana hitam dan boot bertali. Ini memang bukan pakaian yang biasanya ia gunakan. Kemeja putih, vest marun tanpa lengan, sarung tangan putih, celana hitam, sepatu pantofel hitam mengkilat dan jubah hitam panjang menjuntai menutupi punggungnya. Sekarang ia tidak menggunakan semua itu dan ia merasa aneh.
"Satu hal lagi, Yang Mulia," ujar Sesepuh Utama tiba-tiba. Jongwoon menatapnya lagi. "Saat anda sudah bertemu dengan manusia yang sudah ditakdirkan untuk anda… berusahalah untuk mencintainya."
Saat itu, Jongwoon tidak menjawab. Ia bukannya tidak tahu maksudnya kata 'cinta,' tentu saja dia tahu. Rasa kasih sayang, peduli, atau bahagia di tingkat tertentu, itu bisa disebut cinta. Hanya saja ia tidak mengerti bagaimana rasanya. Di kerajaan, ia memang diasuh oleh pengurus, dihormati Sesepuh dan disegani vampir lain, tetapi rasa cinta itu tak bisa ia temukan di manapun.
"Bagaimana kalau itu tidak terjadi?" tanya Jongwoon. Sedikit berpikir negatif dengan memikirkan kemungkinan terburuk memang kebiasaannya.
"Mungkin tidak mudah dan makan waktu, tapi pasti akan terjadi."
"Selain itu… bagaimana aku tahu kalau memang aku merasakannya?"
Saat itu, Sesepuh Utama tersenyum lembut. Senyum yang benar-benar jarang dilihat Jongwoon. "Anda akan tahu, sungguh."
oooooooooooooo
Mengingat hal itu, dan menyadari keadaannya sekarang, Jongwoon sedikit banyak mulai mengerti. Manusia maupun cinta. Memang baru sedikit dan perlahan-lahan, tapi setidaknya Jongwoon sudah tidak buta mengenai hal itu. Biarpun baru beberapa hari, Kim Ryeowook ini sudah menarik perhatiannya. Cara dia bicara dengan suaranya yang lembut itu, cara dia mengibaskan poni saat rambutnya turun ke matanya, caranya marah ketika Jongwoon bersikap menyebalkan, semuanya, semua itu menarik perhatian Jongwoon. Memang belum seberapa, tapi Jongwoon yakin ini akar-akar dari cinta yang akan tumbuh di hatinya.
Nyaris tanpa sadar, Jongwoon berdiri dari duduknya, menjatuhkan buku yang dibacanya lalu berjalan ke arah Ryeowook. Dia sudah selesai mencuci piring dan sedang mengeringkan tangannya dengan selembar kain lap. Ryeowook tidak siap waktu lengan Jongwoon memeluk tubuhnya dari belakang, suara memekik tertahan keluar dari tenggorokannya.
Ryeowook terdiam saat merasakan dagu Jongwoon di bahu kirinya. Lap yang ia gunakan untuk mengeringkan tangannya jatuh ke bak cuci, meninggalkan tangannya yang masih sedikit basah. Matanya mengerjap dalam kebingungan, otaknya dengan lambat memproses apapun yang baru saja terjadi. Lidahnya kelu, tangannya gemetaran, melayang di udara.
Ketika kedua tangan Jongwoon mengeratkan pelukannya di tubuh Ryeowook, Ryeowook menarik napas cepat karena kaget. Punggungnya menempel erat dengan dada Jongwoon. Ia bisa merasakan detak jantung Jongwoon, begitu tenang dan teratur, kebalikan dengan detak jantungnya, cepat dan kacau dan panik, seolah akan menerobos tulang rusuknya kapan saja lalu mengejek dan menggodanya habis-habisan. Memikirkannya saja sudah membuat wajahnya merah.
"Ryeowook-ah," panggil Jongwoon, membuat Ryeowook tersentak kaget. Entah kenapa tiba-tiba suara vampir itu terdengar lebih berat, lebih keren, lebih… seksi. Astaga, Ryeowook ingin sekali menampar dirinya sendiri karena berpikiran seperti itu.
"Jo-Jongwoon… lepaskan aku," pinta Ryeowook, tangannya mulai mendorong lengan Jongwoon dari badannya.
Ryeowook benar-benar lega saat ia berhasil mendorong lengan Jongwoon, tapi kelegaannya tak berlangsung lama karena tiba-tiba Jongwoon memegang kedua pundaknya dan memutar tubuhnya sampai mereka saling berhadapan. Saat itu Ryeowook seolah dipaksa melihat kedua mata Jongwoon yang begitu gelap. Ia sudah tahu kalau mata Jongwoon tertutup selembar lensa, tapi tetap saja, kegelapan, ketajaman, keteduhan mata itu tak tertutup apapun. Ryeowook tenggelam di dalamnya, tak mampu pergi.
"Ryeowook-ah, dengar aku," ujar Jongwoon serius.
Dengar? Tak ada yang bisa Ryeowook dengar saat itu kecuali suara Jongwoon.
"Ryeowook-ah… aku… aku mungkin… mencintaimu…"
Bukannya kembali sadar ke alam nyata, kalimat itu justru membawa Ryeowook melayang lebih jauh dalam pikirannya. Wajah Jongwoon tiba-tiba seratus kali lebih tampan, dan Ryeowook tidak tahu sebabnya. Kenapa tiba-tiba di sekeliling mereka bercahaya? Kenapa di dunia ini seolah hanya ada mereka berdua?
Kesadaran Ryeowook mendadak kembali saat rasa panas telapak tangan Jongwoon di bahunya mulai terasa. Tangannya langsung bergerak ke bagian lengan di atas siku Jongwoon, berusaha mendorongnya.
"Apaan sih yang tiba-tiba kamu bicarakan? Lepasin aku." Ryeowook meronta, berusaha melepaskan diri. Tetapi meskipun pegangan Jongwoon di bahu Ryeowook tidak kencang, Ryeowook tetap tidak bisa berkutik dari sana.
"Apa menurutmu kau bisa mencintaiku juga?" tanya Jongwoon, nada bicaranya sedikit mendesak.
"Hah? Tentu saja nggak! Mana mungkin aku bisa jatuh cinta padamu? Aku manusia! Manusia akan jatuh cinta pada manusia!"
Mendengar hal itu, bukannya kaget, wajah Jongwoon justru mendadak bergerak maju secepat kereta, bibirnya menghantam bibir Ryeowook di depannya. Rengekan Ryeowook teredam bibir Jongwoon, tangannya terkepal di depan kedua bahu Jongwoon.
Biarpun tiba-tiba, tapi itu hanya sekedar kecupan singkat. Secepat datangnya, Jongwoonpun langsung melepas bibirnya perlahan-lahan, dan mereka sama-sama menghela napas ketika jarak kembali terbangun di antara wajah mereka. Ryeowook mengangkat kepala, tak percaya dengan apa yang baru saja Jongwoon lakukan. Sementara Jongwoon, tenang seperti biasa seolah tak ada apapun yang baru saja terjadi. Ia hanya tersenyum lembut, lalu melepas tangannya dari bahu Ryeowook dan berjalan lagi ke arah rak buku dan mulai membaca lagi.
Sendi di lutut Ryeowook seolah kehilangan kekuatan untuk menahan tulang di atas dan di bawahnya, jadi ia langsung jatuh terduduk.
oooooooooooooo
Lee Sungmin terdiam.
Ia sedang membaca biografi presiden-presiden Amerika saat Ryeowook tiba-tiba duduk di depannya. Di meja panjang perpustakaan itu baru ada mereka berdua karena perpustakaan memang masih sepi. Sungmin sama sekali tidak tahu harus berbuat apa melihat Ryeowook tiba-tiba datang membawa buku tentang arkeologi (kenapa seorang anak yang main piano untuk ujian tiba-tiba baca buku itu?), wajahnya terlihat seperti sedang bengong, lalu duduk dan membuka bukunya dengan asal, melihat isi bukunya yang mungkin berisi benda peninggalan kerajaan atau semacamnya, padahal bukunya terbalik.
"Ryeowook-ah?" panggil Sungmin, ia menutup bukunya. "Yah, Kim Ryeowook."
Sungmin pikir Ryeowook akan mengangkat wajahnya pelan-pelan dengan wajah bengongnya itu, tapi yang terjadi malah Ryeowook menutup bukunya dengan keras dan menghantamkan kovernya ke permukaan meja, membuat Sungmin tersentak.
"Hyuuung~" rengek Ryeowook.
"Kamu kenapa, sih?" tanya Sungmin heran. "Biasanya kamu kayak gitu kalau abis ujian."
"Hyung… Hyung pernah ditembak, gak?" tanya Ryeowook dengan wajah yang agak merah, matanya tidak berani menatap Sungmin.
Sebenarnya memang kamu baru ditembak siapa? adalah pertanyaan pertama yang ingin Sungmin ajukan, tapi menjawab pertanyaan dengan pertanyaan bukanlah etika yang baik. "Pernah, sih. kenapa?"
Kali ini Ryeowook akhirnya menatap Sungmin. "Berapa kali?"
"Hm… dari SMP sampai SMA mungkin lebih dari 30 kali. Dari awal kuliah sampai sekarang… 15 kali mungkin? Ada apa, sih?"
Ryeowook mengangguk-angguk. Wajah manis dan otak encer Sungmin memang bukan tidak ada artinya. Dia selalu sangat populer. "Tapi… Hyung pernah pacaran tidak?"
Sebenarnya Sungmin agak kesal karena pertanyaannya tidak juga dijawab, tapi kesabaran seorang Lee Sungmin selalu setinggi langit. "Belum pernah. Yang nembak aku seringnya cewek, sih. Yah, kamu tahu aku, kan."
"Ya, nggak straight," cibir Ryeowook. "Harusnya cewek-cewek itu tahu, ya."
"Cara ngomongmu jangan begitu, dong. Kamu juga lihat cermin, sana," ujar Sungmin sambil sedikit tertawa. "Kamu habis ditembak siapa, sih?"
Wajah Ryeowook langsung semerah tomat. "Engg… begitu, deh."
Alis Sungmin naik satu. "Siapa, sih? Anak sini? Jurusan apa?"
"Bu-bukan anak sini, kok…"
Sungmin tidak lanjut bertanya. Ia menatap Ryeowook yang mungkin pura-pura fokus dengan bukunya lagi. Bau vampir yang menguar dari tubuh Ryeowook tercium sangat kuat kali ini. Apa yang sudah terjadi? Mungkinkah…
"Kamu dicium, ya?"
Seperti ledakan, tingkat warna merah di wajah Ryeowook sepertinya langsung mencapai tingkat maksimal. Ia melongo, tidak menyangka Sungmin akan menanyakannya.
"Ke-kenapa pertanyaan Hyung seperti itu?!" tanya Ryeowook, kaget.
"Ah. Berarti benar, ya?"
Ryeowook menutup wajahnya dengan buku yang dipegangnya. Untuk alasan yang lain, Sungmin tersenyum senang. Kalau Ryeowook melihatnya mungkin mengira Sungmin senang karena ada yang menyukainya sampai menciumnya, padahal bukan itu. Kalau seorang vampir sampai menciumnya, itu berarti hubungan mereka lancar dan kemungkinan Ryeowook melakukan sesuatu yang buruk pada vampirnya semakin kecil dan itu bagus.
Tapi tetap saja ketidaktahuan Sungmin mengenai siapa vampir yang sedang bersama Ryeowook meninggalkan jejak-jejak kecurigaan di pikirannya.
Pembicaraan tidak berlanjut. Sungmin kembali serius pada biografi Theodore Roosevelt sementara Ryeowook sepertinya malah benar-benar membaca buku yang mungkin ia asal ambil di rak tadi. Alisnya bolak-balik mengerut, jelas sekali banyak istilah yang tidak ia mengerti di sana. Mungkin sedikit banyak anak itu menyesal karena mengambil buku yang tidak nyambung dengan pengetahuan yang ia miliki.
"Oh, iya, Hyung," panggil Ryeowook tiba-tiba. Sungmin mengangkat wajahnya dari buku, lalu mengangkat kedua alis dan menelengkan kepala sedikit. "Nanti mau makan bareng di kantin, nggak?"
"Wah, maaf," ujar Sungmin. Mendengar kata itu saja cukup untuk membuat Ryeowook kehilangan harapan di matanya. "Ada tugas yang harus kukerjakan di rumah. Aku benar-benar tidak bisa menundanya lagi."
"Ya, sudah. Apa boleh buat kalau begitu…"
oooooooooooooo
Jadi di kantinlah akhirnya, Kim Ryeowook, sendirian.
Sebenarnya alasan dia ingin ke kantin sebelum pulang adalah supaya bisa menghindar dari Jongwoon. Mungkin Sungmin tidak sadar akan alasan itu karena Ryeowook memang akan ke kantin dulu setiap selesai kelas atau sebelum pulang, meskipun hanya untuk duduk-duduk. Tapi hari ini beda. Setelah dicium Jongwoon kemarin, Ryeowook jadi tidak tahu harus pasang wajah apa di depan Jongwoon kalau bertemu nanti.
Dengan bibir cemberut, Ryeowook menggambar garis di gelas jusnya yang berembun karena jusnya yang dingin. Ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana setelah ini. Kenapa tiba-tiba kemarin Jongwoon berkata seperti itu? Padahal biasanya Jongwoon tidak pernah memperlihatkan tanda-tanda kalau ia menyukainya. Bukankah itu aneh? Ryeowook merasa ini seperti kecelakaan, tidak tahu kapan datangnya.
Ryeowook terus bertanya-tanya dalam pikirannya, dan setiap pertanyaan selalu diikuti pertanyaan lain. Setelah terdiam 5 menit, Ryeowook sampai pada pertanyaan yang paling ujung.
Kenapa Ryeowook membiarkan Jongwoon tinggal dengannya?
Di awal bertemu, biarpun Jongwoon sudah menjelaskan semuanya, Ryeowook bisa langsung mengusirnya karena tidak percaya. Waktu Jongwoon datang lagi, tanpa diduga ia malah membuktikan dengan fisiknya bahwa ia memang vampir. Ketakutan setengah mati, akhirnya Ryeowook dengan terpaksa membiarkan Jongwoon tetap tinggal. Pada awalnya ia khawatir Jongwoon akan merusak rumahnya atau menyakitinya, tapi sampai beberapa haripun Jongwoon tenang-tenang saja, dan yang dilakukannya hanya membaca buku. Biarpun begitu, Ryeowook kadang masih was-was dan masih curiga bahwa Jongwoon bisa menyerangnya kapan saja. Ia takut Jongwoon melakukannya kalau ia mengusirnya atau melakukan sesuatu yang vampir itu tidak suka.
Ryeowook menjilat bibirnya, berpikir betapa pengecutnya ia saat ini. Ia sudah dewasa, dan tidak peduli biarpun vampir itu nyata atau tidak, Jongwoon tidak punya hak apapun untuk tinggal dengannya atau mengganggu hidupnya. Ia mengangguk pada dirinya sendiri, berniat untuk meminta vampir itu untuk pergi dari rumahnya.
oooooooooooooo
Sampai di gerbang sekolah, Ryeowook sudah menduga akan menemukan Jongwoon di sana. Sejak kemarin, Jongwoon selalu ngotot untuk mengantar dan menjemput Ryeowook. Sebenarnya Ryeowook tidak pernah keberatan untuk diantar atau dijemput, hanya saja dia sudah terlanjur tidak suka dengan Jongwoon sehingga apapun yang dilakukan vampir itu selalu menyebalkan di matanya.
Begitu melihat Ryeowook, Jongwoon yang tadinya bersedekap dengan punggung menempel di dinding gerbang langsung berdiri dan menghampiri Ryeowook dengan senyuman. Kali ini, tidak seperti biasa, Ryeowook ikut menghampiri Jongwoon—lebih dari itu, langkahnya bahkan lebih cepat dari Jongwoon.
Senyum Jongwoon semakin lebar saat ia makin dekat dengan Ryeowook. "Kukira kau akan pulang malam lagi seperti—"
"Jongwoon," panggil Ryeowook. Kata itu sudah cukup membuat Jongwoon menghentikan langkahnya dan kehilangan senyumnya. Jongwoon selalu percaya intuisinya. Tatapan mata dan nada bicara Ryeowook menyiratkan sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak tersampaikan. Ada yang salah. Biarpun begitu, Jongwoon diam saja, tidak bertanya dan menunggu Ryeowook mengatakan sesuatu yang lain itu. "Aku… aku sudah memutuskan sesuatu."
"Keputusan apa itu?" tanya Jongwoon.
"Aku… aku tidak mau kau tinggal bersamaku lagi," ujar Ryeowook. Mata Jongwoon terbelalak lebar dalam sekejap. "Memang baru 3 hari, tapi kalau kubiarkan terus, kurasa kau nggak akan pergi… jadi, sebelum terlanjur, aku ingin… kau pergi dari rumahku."
"Kau benar-benar tidak bisa melakukan itu."
"Tentu saja aku bisa!" ujar Ryeowook, tiba-tiba nada suaranya naik. Sekali lagi Jongwoon terdiam. "Aku takut kau akan melakukan sesuatu padaku jadi kubiarkan saja… tapi aku sudah nggak tahan lagi. Aku mau hidupku yang dulu. Sendiri, tenang dan tanpa rasa was-was."
"Kenapa tiba-tiba kau membuat keputusan seperti itu? Apa alasanmu?" desak Jongwoon.
"Karena aku nggak mau melihatmu lagi!" jerit Ryeowook. Beberapa orang yang lewat situ langsung menengok ke arahnya. Sadar kalau diperhatikan, Ryeowook mengingatkan diri sendiri agar tidak berbicara terlalu keras. "Tidak bisakah kau melakukan itu untukku?" pinta Ryeowook.
"Aku berada di sisimu untuk kepentinganmu juga, jadi—"
"Aku… nggak mau dengar apapun lagi."
Sadar Ryeowook memang sedang keras kepala dan apapun yang Jongwoon katakan akan disangkal olehnya, vampir itu memilih diam. Mungkin dalam keadaan seperti ini walaupun matahari jatuh di kepalanya dia tidak akan minta bantuan Jongwoon.
Setelah menghela napas, Jongwoon berkata, "kalau begitu… setidaknya biarkan aku mengantarmu pulang."
Wajah Ryeowook mendadak melukiskan kelegaan. "Baiklah. Tapi, ingat, Jongwoon. Ini yang terakhir."
Jongwoon tidak menjawabnya. Tidak mau. Ia hanya diam ketika Ryeowook mulai berjalan dan ia hanya mengikutinya dari belakang, menatap punggung kecilnya. Baru kali ini Jongwoon benar-benar merasa khawatir pada seseorang sampai seperti ini. Sebenarnya kalau vampir lain tidak tahu mengenai Ryeowook, ia bisa saja tidak terlalu mengkhawatirkannya. Tapi koneksi dengan Dunia Vampir yang erat membuat berita apapun tersebar dengan mudah. Jongwoon tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada Ryeowook kalau ia tidak bersamanya.
Karena terlalu banyak berpikir, Jongwoon tidak sadar kalau ia sudah ada di depan pintu rumah Ryeowook. Pemiliknya mengeluarkan kunci dari saku jaketnya lalu membuka pintu. Jongwoon memperhatikan saat Ryeowook membuka pintu perlahan dan masuk ke dalam. Ryeowook memutar tubuh untuk menarik pintu dari dalam dan matanya menatap Jongwoon sekilas. Ia mengalihkan matanya pada satu titik di lantai sebelum tersenyum, lalu menutup pintu dengan hati-hati.
Rasanya suara pintu yang ditutup di depan wajahnya itu adalah suara paling menyedihkan yang pernah ia dengar di muka bumi ini.
Vampir berambut merah itu menunduk dengan sedih, lalu melangkah pergi.
oooooooooooooo
Napas Ryeowook memburu setelah ia menutup pintu. Ia setengah tidak menyangka kalau Jongwoon benar-benar membiarkan ia menyuruhnya pergi seperti ini. Ini berarti ia berhasil. Berarti setelah ini tak akan ada apapun yang terjadi. Tak ada vampir di rumah. Semua akan kembali normal. Ryeowook nyaris bersorak gembira, tapi ia menahannya menjadi sebuah senyuman.
Setelah melepas sepatu, Ryeowook masuk ke dalam dan meletakkan tasnya di atas sofa. Ia meregangkan badan, lalu melepas jaket dan melemparnya asal ke sofa. Ia berjalan lagi ke arah rak buku, tersenyum mengingat sudah berapa lama ia tidak membaca buku di sana. Sejak Jongwoon ada di rumahnya, vampir itu selalu di sana untuk membaca buku, membuatnya tidak berani mendekat walaupun hanya untuk mengambil buku.
Matanya memindai judul-judul novel di sana, ia ingin membaca satu yang tipis malam ini. Tapi matanya terhenti di novel sejarah yang biasanya Jongwoon baca. Itu novel sejarah fiksi yang ia beli beberapa bulan yang lalu. Ia tidak terlalu suka sejarah, jadi begitu ia selesai membacanya langsung ia pajang tanpa ada niat untuk membacanya lagi. Tapi justru buku itu yang pertama diambil Jongwoon.
Tangan Ryeowook membuka novel itu, menemukan tak ada halaman yang ditandai Jongwoon. Entah menyelipkan sesuatu atau menekuk ujung halamannya, tak ada sama sekali. Ryeowook menatap buku itu dengan tatapan sendu. Melihat buku itu membuatnya teringat pada Jongwoon. Sebenarnya, kalau Ryeowook disuruh mengaku, ia tidak keberatan dengan keberadaan Jongwoon di rumahnya. Toh vampir itu nggak melakukan apapun. Seharian duduk di lantai dan membaca buku seharusnya tidak masalah, kan? Tapi tetap saja dia vampir. Biarpun hati Ryeowook tidak keberatan, akal sehatnya selalu menentang hal itu. Ia ingin akalnya sehat, akalnya normal. Dan seorang vampir dengan bukti otentik yang kuat sekalipun masih belum bisa diterima akal sehatnya.
Dengan cepat Ryeowook melempar buku itu ke tempatnya mengambilnya tadi, tapi gagal dan buku itu jatuh ke lantai.
Ia mengingatkan diri sendiri agar tidak terbawa perasaan atau kenangan apapun. Ia harusnya senang karena Jongwoon akhirnya pergi, bukan seperti ini. Bolak-balik ia mengingatkan diri sendiri agar tidak merasa bersalah hanya karena membentak dan mengusir Jongwoon tadi. Apapun yang terjadi pada Jongwoon setelah ini bukan urusannya sama sekali.
Ryeowook menarik napas, lalu berjalan ke dapur untuk segelas air.
oooooooooooooo
Kim Jongwoon, di Kota Seoul, sendirian.
Sejak tadi ia hanya berjalan mengikuti trotoar yang entah menuju ke mana. Ia tidak punya tujuan lagi. Diusir sekali oleh Ryeowook saja sudah membuatnya sedih, tapi waktu itu ia nekat kembali lagi dan anak itu menerimanya lagi karena takut. Sekarang Ryeowook sudah tahu kebenarannya dan tahu kalau Jongwoon benar-benar tidak akan melakukan apapun yang berbahaya padanya, jadi ia tidak ragu untuk mengusirnya lagi, dengan cara yang lebih tidak menyenangkan.
Sampai-sampai Jongwoon tidak tahu harus kembali lagi atau tidak.
Sebenarnya bisa saja Jongwoon tidak kembali sama sekali. Kalau vampir-vampir lain tahu Jongwoon tidak berhubungan dengan Ryeowook lagi, mereka akan berpikir kalau tidak ada gunanya mengancam Jongwoon dengan menangkap atau melukainya. Jongwoon sendiri, di satu sisi juga berpikir kalau yang seperti itu akan lebih aman, jadi ia tidak membahayakan Ryeowook. Tapi di sisi yang lain, Jongwoon tidak mau melakukannya. Ia benar-benar selalu ingin berada di sisi Ryeowook.
Jongwoon menggigit bibirnya, merasa kesal karena tak bisa memutuskan apapun.
Sambil terus berjalan, vampir itu terus berpikir dan berpikir tentang Ryeowook. Tapi tak lama kemudian ia berhenti dan menghela napas dengan frustrasi. Ia menengok ke belakang, mencari sosok yang mengikutinya sejak tadi.
A/n:Halooo telat lagi yah, hehe /watados/ /digeplakin/
Yooo sori lhooo, saya kan orang sibuk -_-v
Padahal di sini mulai ada roman-romannya...
tapi kok Jongwoon diusir lagi huhu ;;; siapa sih yang bikin cerita ini /lho/
Mungkin konfliknya belum berasa ya, iya saya emang kurang pinter bikin konflik :3
Yaudah sih gausah protes, biasa aja kali jangan marah-marah gitu : /apaan sih/
Makasih buat yang udah nyempetin baca, terutama yang nyempetin review :B
