Title:Those Creepy Fangs – Alley Disaster
Author:nanaspineapple
Pairing:Yewook
Genre:Supernatural, drama
Rating:T
Disclaimer:Kesamaan nama tokoh memang disengaja
Summary:Didatangi dan dicintai makhluk bertaring pengisap darah bukan salah satu dari cita-cita seorang Kim Ryeowook, tapi itu karena dia tidak tahu takdir macam apa yang sudah disusun untuknya.


CHAPTER 6 – Alley Disaster

Lee Sungmin, menatap Ryeowook tajam.

Sudah 3 hari ini Sungmin merasa ada yang aneh dari Ryeowook. Anak itu lebih tenang, tidak segelisah belakangan, tidak pernah cari tahu tentang vampir lagi… bau vampir sudah menghilang dari tubuhnya. Dan itu mencurigakan. Sangat mencurigakan. Apa yang sudah terjadi?

Ryeowook, yang biarpun tidak terlalu peka, tapi akhirnya sadar juga kalau Sungmin memperhatikannya dengan aneh. "Ada apa, Hyung?" tanya Ryeowook, mengangkat kepala dari buku catatannya. "Ada mayones di mukaku?" Ryeowook menyentuh daerah sekitar mulutnya dengan jari.

"Ah, tidak… tidak apa-apa. Hanya saja… kenapa belakangan ini, kau tidak cari-cari tahu tentang vampir lagi? Seingatku beberapa hari yang lalu, kau selalu baca buku tentang vampir, seperti mau mati saja. Tiba-tiba berhenti begini… entahlah, aneh saja menurutku."

Wajah Ryeowook tiba-tiba menggambarkan bahwa ia sedang mencari 1000 jawaban dan alasan untuk pertanyaan Sungmin itu. Karena sudah berteman cukup lama, Sungmin jadi sangat peka terhadap Ryeowook. "Ah, aku… tiba-tiba sudah tidak tertarik lagi. Lagipula aku ada partitur yang harus kukerjakan, jadi tidak ada waktu."

Sungmin tidak perlu berpikir dua kali, karena kebohongan tergambar jelas di mata Ryeowook. Ia merasa bodoh karena berpikir hubungan Ryeowook dengan vampir yang entah siapa itu berjalan dengan baik. Manusia memang sulit disuruh kerja sama. Mungkin hubungannya hanya hubungan sepihak saja.

Memikirkannya saja sudah membuat Sungmin sakit hati.

Sungmin berusaha mengecilkan suara umpatan kesalnya, dan ia beruntung karena Ryeowook memang tidak mendengarnya. Matanya fokus pada bukunya lagi, tapi pikirannya melayang kemana-mana. Ia tidak peduli siapapun, tapi kalau ada yang bersikap buruk pada vampir, ia akan merasa kesal juga. Sekarang keadaan jadi begini, Sungmin sampai tidak tahu mau berpihak pada siapa.

oooooooooooooo

Pintu bar terbuka malam itu. Para pengunjung bar itu tetap sibuk dengan minuman-minumannya masing-masing. Sementara Sungmin menutup pintu di belakangnya, seorang bartender yang membawa nampan tersenyum padanya. Sungmin hanya mengangguk padanya, lalu bergegas menuju counter.

"Lee Sungmin!" seru bartender yang berjaga di counter. "Kau satu-satunya Triclaws yang tidak kulihat belakangan ini! Ke mana saja?"

"Aku sedang menyiapkan skripsi," jawab Sungmin sambil tersenyum dan menarik sebuah kursi untuknya sendiri.

"Wah, dasar mahasiswa sibuk. Masih aktif di klub musik dan senat?" tanya bartender itu lagi. Ia meletakkan sebuah gelas bening kecil berleher panjang di depan Sungmin.

"Kalau senat aku sudah berhenti. Digantikan junior," jawab Sungmin, jarinya menelusur di atas bibir gelas.

"Tapi aku selalu melihatmu memakai jas keanggotaan senat itu. Warna hitamnya masih bagus. Bordiran namamu juga masih terang dan jelas," goda bartender itu, senyumnya sedikit mengejek dan jarinya menunjuk tiga kata yang tertulis dalam hangul, 'Lee Sung Min'dan, 'Ketua 1' di bawahnya yang dibordir rapi menyamping dengan benang kuning terang di bagian dada kiri. Sungmin menatap bordiran itu lalu tertawa kecil.

"Anggap saja aku kebetulan sedang pakai jas ini tiap akan ke sini," ujarnya sambil menarik kerah jas kanannya dengan tangan kirinya. "Sudah, berikan aku minum! Masa cuman gelas kosong," protes Sungmin, berusaha mengalihkan pembicaraan.

Bartender itu hanya tertawa. "Mau yang seperti apa malam ini?"

"Aku ingin sedikit mabuk. Berikan yang keras."

"Memang orangtuamu tidak mencarimu?"

"Aku sudah bilang tidak akan pulang malam ini. Nanti aku balik ke kampus, kok."

Bartender itu terdiam sebentar, berpikir. Sungmin, sejak mulai langganan di sana, adalah peminum yang baik. Ia bisa dengan mudah menilai mana yang enak atau tidak enak. Dan bir yang Sungmin bilang tidak enak pasti tidak terlalu laku, karena itu semua bartender di sana selalu memberikan Sungmin bir terbaik mereka, seolah Sungmin adalah tester dan quality control di bar mereka. "Kalau aku bilang sekarang aku punya Samuel Adam's Utopia, kau percaya, tidak?"

Sungmin terkekeh. "Tentu saja aku percaya. Stok setahun sekali, ya. Tapi tidak, ah. Aku tidak mau menghabiskan duitku untuk yang begituan. Sudah, berikan aku Urquell dulu, botol yang kecil saja."

"Nggak ada gunanya minum begituan kalau nanti minum yang keras, Ming," ujar bartender itu, mengambilkan botol kecil Urquell dari rak, membuka tutupnya, lalu dengan gemulai menuang isinya ke gelas Sungmin. Setelah bartender itu meletakkan botolnya di counter, Sungmin baru mengangkat gelasnya dan meminumnya dalam sekali teguk. "Jangan buru-buru, pelan-pelan saja."

"Berisik, ah. Aku sedang pusing, tahu." Sungmin mengangkat botol itu ke udara dan menuang isinya dengan cepat ke dalam gelasnya, beberapa tetes menyiprat ke counter tapi ia tidak peduli. Bartender yang sedang mengelap gelas itu hanya terkekeh melihatnya. Sungmin sudah jadi pelanggan tetap sejak SMP, dan tentu saja karena ia vampir. Sejak itu Sungmin selalu menekan batas minumnya dengan banyak minum, sampai akhirnya toleransi alkoholnya benar-benar tinggi. Di antara vampir seumurnya, hanya dia yang suka minum-minum sampai separah itu. Banyak yang salut padanya karena ia sudah jadi pemabuk di usia yang begitu muda.

Bartender itu baru melayani dua orang lain yang baru datang dan duduk di counter seperti Sungmin saat ia melihat botol Urquell Sungmin sudah kosong, jadi ia menghampiri anak itu. Urquell memang bir yang ringan, jadi Sungmin masih baik-baik saja. Ia meminum itu untuk 'memoles' lidahnya dengan sedikit alkohol. Bartender itu mengangkat kedua alisnya saat Sungmin mengangkat kepalanya.

"Starkbierzeit. Dua botol."

Vampir lain yang duduk dua kursi dari Sungmin membelalakkan matanya karena kaget. Starkbierzeit, apalagi dua botol, terlalu ekstrim untuk anak 23 tahun seperti Sungmin. Di bar itu memang disediakan banyak jenis bir Jerman karena kualitasnya tinggi, dan Starkbierzeit termasuk yang paling jarang dipesan karena terlalu keras. Biasanya bir ini hanya dibeli oleh vampir-vampir putus asa atau frustasi. Mereka yang meminum bir ini akan pulang dengan keadaan teler, dan begitu bangun, hangovernya bisa berjam-jam.

Dalam hal ini, Lee Sungmin termasuk pengecualian. Biarpun ia juga hanya minum Starkbierzeit saat sedang pusing dengan kerjaannya di kampus seperti ini, tapi Sungmin adalah satu-satunya vampir yang tetap tenang semabuk apapun dia. Hangover bukan masalah baginya, karena ia memang jarang sekali hangover.

Hanya perlu dua jam sampai kedua botol Starkbierzeit Sungmin kosong. Kalau orang normal, dalam keadaan yang sama pasti sudah jalan kesana-kemari dengan mulut yang tidak berhenti mengoceh. Tapi Sungmin tidak bergerak dari tempat duduknya, melipat tangan di atas meja dan meletakkan wajah di antara lengannya.

"Ming, sudah selesai minum?" tanya bartender sambil mengambil botol di atas counter dan mengelap cipratan di sekitarnya. "Gelasnya akan kuambil."

Sungmin mengerang karena kepalanya mulai sakit. "Tiga jam lagi, tolong ya," pintanya tanpa mengangkat kepala. Bartender itu hanya mengusap-usap kepala Sungmin lalu meninggalkannya.

Beginilah Sungmin kalau sudah mabuk. Ia akan tidur dan meminta bartender membangunkannya beberapa jam lagi. Bisa 2-4 jam. Di saat itu ia akan benar-benar tidur dan tidak akan bangun apapun yang terjadi, kecuali bartender yang membangunkannya. Ia bahkan pernah tetap tertidur padahal ada beberapa vampir berkelahi di belakangnya dan sebuah botol pecah di punggungnya. Semua orang di bar sudah menandainya, jadi tidak ada yang pernah mengganggunya lagi sejak saat itu.

Saat itu, Kim Kibum masuk ke dalam bar dengan wajah marah dan pergi ke counter. Bartender yang masih menyusun botol di rak itu menghampirinya sambil tersenyum.

"Kibum!" serunya sambil menepuk bahu vampir itu. "Ke mana saja kau? Beberapa hari ini kau tidak datang."

"Kalau kau suruh aku cerita, beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan Kim Jongwoon wangjanim," ujar Kibum, membuat vampir-vampir yang duduk di depan counter dan di sekitarnya menoleh ke arahnya dengan penasaran. "Gara-gara dia, aku nggak enak badan beberapa hari. Sial."

"Memang apa yang kau lakukan?" tanya bartender, ia mengambilkan sebotol Amstel dan sebuah gelas di depan Kibum. Bartender itu membuka botolnya dan menuangnya ke dalam gelas.

"Yah, lima hari yang lalu, aku mengikuti wangjanim saat di jalan. Kulihat dia juga sedang mengikuti seorang manusia. Kukira itu manusianya. Saat mereka sudah berpisah aku berusaha memprovokasi wangjanim bahwa sekumpulan vampir akan mengepungnya dan berusaha mengambil kristalnya dan semacamnya. Aku juga mengungkit-ungkit soal manusianya, tapi dia menghipnotisku dengan matanya. Aku pingsan sampai malam, lalu begitu bangun, aku demam tinggi selama 4 hari."

Tidak ada yang bicara saat Kibum meminum isi gelasnya pelan-pelan. "Kamu terlalu ceroboh, Kibum-ah. Harusnya kau tahu kekuatan Halfwing itu seperti apa," ujar bartender.

"Yah, aku memang harusnya lebih menyadari hal itu. Tadinya aku pikir dia sudah sangat hebat jadi dia akan menghadapiku dengan tenang, tapi dia baru sangat sebentar di Dunia Manusia ini bahkan dia belum bisa mengontrol hipnotisnya sendiri. Pada dasarnya semua vampir itu sama saja, ya."

"Lalu, soal manusianya itu, apa kau sudah tahu sesuatu?" tanya vampir lain yang duduk di sebelah Kibum.

"Yah, dunia ini memang luas. Tapi vampir informan selalu mengerjakan tugasnya dengan baik," jawab Kibum, ia mengeluarkan sesuatu dari tas laptopnya. Sebuah amplop cokelat besar. Para vampir dan bartender mengunci pandangan mereka di amplop itu. Mereka tidak berkedip ketika Kibum mengeluarkan selembar kertas dan sebuah foto dari dalam amplopnya.

Bartender mengambil kertas yang berisi identitas. "Kim Ryeowook, mahasiswa tahun terakhir universitas K? Astaga, dia masih muda sekali," katanya sambil tetap membaca. "Oh, Sungmin!" bartender menoleh ke arah Sungmin yang masih tertidur. "Sungmin juga di universitas K. Siapa tahu mereka saling kenal?"

"Lee Sungmin itu?" tanya Kibum. "Jurusan apa dia?"

Bartender itu terdiam sebentar. "Jurusan budaya, fakultas sejarah. Dan hampir lulus."

Kibum mendecih. "Kalau begitu kecil kemungkinan mereka kenal. Anak ini di jurusan seni. Dan baru masuk tahun terakhir." Kibum mengangkat foto Ryeowook sampai ke depan wajahnya, menatapnya lekat-lekat dan berpikir bahwa anak itu cukup manis walaupun hanya di foto.

"Lalu rencanamu setelah ini apa?" tanya bartender sambil mengembalikan kertas identitas pada Kibum. Vampir itu hendak memasukkan kertas itu ke dalam amplop tapi vampir lain sudah mengambilnya lebih dulu untuk membacanya. Kibum menyeringai karena pertanyaan bartender, lagi-lagi wajahnya terlihat jahat.

"Mungkin aku akan mengajak beberapa vampir untuk menangkap dan menyakitinya untuk mengancam Kim Jongwoon wangjanim. Anak ini kecil dan kurus, pasti gampang ditangani. Aku yakin wangjanim akan melakukan apa saja untuknya," jelas Kibum, ia lalu terkekeh licik.

Para vampir di sekitarnya langsung ber-ooh kagum karena tindakan Kibum yang begitu cepat. Di sisi lain, Sungmin yang berjarak beberapa bangku di sebelahnya masih tetap tertidur. Jika saja ia masih bangun dan mendengar semuanya saat itu, mungkin keadaan di sana akan berbeda…

Waktu sampai Lee Sungmin bangun. 2 jam 51 menit.

oooooooooooooo

Kim Ryeowook, di rumahnya.

Ia berbaring di atas kasur dengan seluruh tubuh menghadap ke atas. Tangannya lurus ke atas, jemarinya memegang selembar kertas yang panjang. Ia menatap kertas itu, berpikir untuk pergi atau tidak. Sekitar 10 hari yang lalu, saat belum ada insiden vampir dan semacamnya, Sungmin datang ke rumahnya, lalu saat hendak pulang, kakak kelasnya yang berkacamata itu memberinya sebuah tiket bioskop dan mengajak Ryeowook untuk nonton bersamanya. Sebuah drama action yang biasa, yang selalu bisa dinikmati banyak orang. Tapi sampai hari ini, hari pemutaran film itu, Sungmin masih belum menghubunginya. Ryeowook sudah berusaha sms dan telepon, tetapi tidak satupun direspon oleh Sungmin sejak kemarin malam.

Sebenarnya Ryeowook sadar belakangan ini Sungmin sangat sibuk karena hampir lulus, tapi Ryeowook tetap ingin pergi.

Ryeowook menjatuhkan kedua lengannya ke kiri, lalu badannya ikut berguling ke kiri. Ia menatap tiketnya lagi. Ia benar-benar ingin pergi, tapi tak yakin kalau Ia ingin pergi sendiri. Biarpun sudah 5 hari berpisah dengan Jongwoon, ia masih pusing dan terbayang-bayang vampir itu terus. Ia butuh refreshing dan nonton bioskop dengan Sungmin itu sudah cukup. Tapi kalau pergi sendiri…

"Padahal aku suka film ini…" ujar Ryeowook.

Ryeowook melemaskan tubuhnya dan memejamkan mata, masih berpikir. Sekarang hari Minggu, jam 17:00 sore… filmnya mulai jam 20:00… dari rumah, naik bis sampai mall di kota lalu jalan kaki ke bioskop makan waktu sekitar 30 menit… kalau mau berangkat, ia punya banyak waktu untuk bersiap-siap. Kalau bisa siap dalam 15-30 menit, ia bisa jalan-jalan selama 2 jam. Mungkin toko buku? Toko baju? Atau malah makan dulu?

Mata Ryeowook terbuka lagi, berpikir tak ada gunanya berpikir seperti itu kalau ia tidak berangkat.

Ia langsung bangkit dari posisinya dan mencari-cari ponselnya. Ryeowook mencari nama Sungmin dan meneleponnya. Deringan-deringan terdengar dengan teratur, dan Ryeowook masih menunggu sambil menatap tiket di tangannya.

"Halo?"

"Halo, Sungmin Hyung? Ini aku."

"Oh, iya. Ada apa, Ryeowook-ah?"

"Anu… soal tiket bioskop yang pernah kau berikan padaku…"

"Eh? Yang mana?" tanya Sungmin. Ryeowook tidak menjawab dan membiarkan Sungmin berpikir. "Oh, oooh yang itu! Iya iya aku ingat. Ah, maaf ya. Aku sedang menuju ke rumah dosenku untuk konsultasi soal tulisanku. Maafkan aku."

Ryeowook mendesah kecewa. "Ya sudah, deh… rencananya aku mau pergi sendiri, sih, kalau Hyung tidak bisa."

"Maaf, ya. Aku benar-benar tidak bisa. Nanti, deh. Kalau urusanku sudah selesai pasti aku akan nonton denganmu, oke?"

"Baiklah, Hyung…"

"Jangan sedih gitu, dong. Janji, deh, soal nontonnya. Sudah, ya. Aku sayang kamu, kok."

"Yaa, aku juga. Daaah."

Tangan kanan Ryeowook yang memegang ponsel jatuh ke kasur begitu suara Sungmin tak terdengar lagi. Ia menatap tiket di tangan kirinya, lalu menajamkan mata. Ia sudah memutuskan. Ia akan pergi sendiri.

oooooooooooooo

Setelah bersiap-siap sekitar 20 menit, Ryeowook siap untuk berangkat. Dengan kemeja merah berpola kotak-kotak yang lengannya ditarik sampai siku, celana jeans, sneakers, beberapa gelang di tangan kanan, jam tangan di tangan kiri, dan rambut cokelat yang diatur sedemikian rupa, ia terlihat sempurna untuk pergi. Hanya saja, ia tidak tersenyum karena ia tidak suka pergi sendirian.

Menepis pikiran itu, ia berjalan keluar dan mengunci pintu. Setelah meraba saku belakangnya dan yakin bahwa dompetnya ada di sana, ia berjalan lagi menyusuri koridor menuju lift.

oooooooooooooo

Ryeowook tidak pernah suka jalan-jalan sendiri.

Selama beberapa tahun terakhir, setiap ada waktu banyak, Ryeowook selalu pergi dengan Sungmin atau Donghae. Tapi karena Donghae lebih sering pergi dengan Hyukjae, pacarnya, Sungmin jadi pilihan terakhir Ryeowook. Mereka sering menghabiskan waktu berdua. Ryeowook sangat menyukai Sungmin, dan Sungmin juga begitu. Makanya sekali saja ia pergi sendiri seperti ini, ia bisa saja badmood seharian. Tapi Ryeowook sadar ia tak bisa selamanya bersama Sungmin. Mereka punya jalan hidup yang berbeda. Ia merasa harus lebih terbiasa sendiri. Dan ketika Sungmin sedang sibuk sehingga tidak bisa sering menemaninya seperti ini adalah saat yang tepat untuk mulai membiasakan diri.

Jam tangan Ryeowook menunjukkan pukul 17:53 saat ia sampai di kota. Hari sudah hampir gelap. Begitu sampai di halte, Ryeowook cepat-cepat berjalan ke arah mall. Jalan ke arah mall adalah kawasan pertokoan yang sepi, karena hanya buka di pagi hari. Sebenarnya ada jalan lain yang lebih ramai, tapi bis yang jalan dari daerah tempat Ryeowook tinggal jalurnya hanya sampai di jalan sepi itu.

Belum sempat sampai, tiba-tiba ia dihadang dua orang berkemeja dan berdasi.

"Maaf, bisa minta waktunya sebentar?" tanya yang berambut cokelat. Ia mengeluarkan selembar kertas dan sebuah pulpen dari tasnya. "Kami sedang mengadakan riset. Tolong isi angket ini."

Ryeowook mengangkat jam tangannya. Melihat masih banyak waktu, ia pikir tak ada salahnya mengisi angket sebentar. Ia mengambil kertas dan pulpennya, berterimakasih saat disodorkan sebuah papan jalan, lalu mulai menulis.

"Lho, pulpenku kok nggak ada, ya?" tanya pria berambut hitam sambil membuka-buka tasnya.

"Pakai yang lain. Aku cuma bawa satu," ujar yang berambut cokelat.

"Aduh, aku juga cuman bawa satu. Apa jatuh di gang waktu aku keluarin saputangan, ya?" tanyanya sambil berjalan ke arah gang yang berada 2 meter dari tempatnya berdiri. Pria berambut cokelat mengikutinya dari belakang. Ryeowook melihat ketika mereka menghilang masuk ke dalam gang dan mendengar suara pria yang berambut hitam mencari-cari pulpennya, tapi ia membiarkan mereka.

Saat membaca pertanyaan ketujuh, Ryeowook mengernyit karena tidak mengerti maksud kalimatnya. Iapun berjalan menyusul kedua orang itu ke arah gang. Ryeowook ikut masuk ke sana.

Tapi sebelum ia sempat ingat apa yang ia lihat, kegelapan menyelimutinya dan ia hilang kesadaran.

oooooooooooooo

Ryeowook menggeram saat ia mulai merasakan badannya lagi. Yang pertama ia lihat adalah langit. Begitu gelap dan tidak banyak bintang. Yang pertama ia rasakan adalah permukaan keras di bawah tubuhnya. Yang pertama membuatnya sadar sepenuhnya adalah rasa sakit di kepalanya.

"Oh, sudah bangun?"

Ryeowook berusaha berdiri saat ia mendengar suara itu. Ia mengenal suara itu. Ia pernah mendengarnya di suatu tempat, tapi tidak ingat itu suara siapa.

Ketika akhirnya ia berhasil duduk, ia melihat sekelilingnya. Sepertinya ini masih gang tempat ia pingsan tadi. Ia membelalak saat melihat dua pria berdiri di depannya. Ia mengenali mereka. Mereka orang yang memberika mereka kertas angket.

"Uhh…Hyungnim?" tanya Ryeowook sambil berdiri. Kertas angket dan pulpen serta papan jalan masih tergeletak di sebelahnya. "Ada apa, ya?"

"Kurasa pertanyaan 'ada apa' itu bukan pertanyaan yang kuinginkan, deh," ujar yang berambut hitam. Yang berambut cokelat tertawa. "Jangan tertawakan aku, Kibum-ah. Kau yang bikin rencana ini, kau yang ngomong ke anaknya, dong."

"Sorry, Junsu-ah," ujar Kibum. Kibum lalu menatap Ryeowook yang kebingungan di depannya. "Sesuai dugaanku, memang kecil dan manis."

Ryeowook makin mengernyit dan bergidik mendengarnya. Siapa sih mereka? Orang mesum? Ryeowook tiba-tiba ingat sesuatu dan mengangkat jam tangannya. Jam 19:37. Berarti ia pingsan lebih dari satu jam? Sebenarnya apa yang terjadi, sih? "Uhh, anu, Hyungnim, aku ada urusan. Aku akan pergi dulu. Annyeong." Ryeowook membungkuk lalu bergegas pergi, tetapi pundaknya dicengkeram dengan tidak menyenangkan oleh Kibum.

"Persetan dengan urusanmu itu. Sekarang urusanmu adalah denganku, mengerti?" ujarnya dengan suara yang mengerikan. Ryeowook membelalak, tidak menyangka pria itu akan mengatakan hal seperti itu. Ia terdiam, melirik Kibum dan Junsu bergantian dengan agak takut.

"A-apa aku mengenal Hyungnim?" tanya Ryeowook ragu. Ia bisa mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk ini. Ia yakin bahkan tidak pernah melihat wajah mereka sebelumnya.

"Kami tidak perlu mengenalmu untuk punya urusan denganmu, tahu," ujar Kibum sambil bersedekap.

"Dan kami juga bukannya ada perlu denganmu. Kalau soal kau, kami tidak peduli. Kami lebih ingin tahu tentang pangeran yang bersamamu," tambah Junsu.

"Pangeran…?" Ryeowook memutar mata perlahan, berpikir. "Aku tidak kenal pangeran siapapun."

"Astaga, Kim Jongwoon wangjanim! Masa kau lupa!" bentak Kibum. Ryeowook tersentak.

"Wa-wangjanim? Jongwoon itu pangeran?" tanya Ryeowook kaget. "Tapi, dia tidak bicara sedikitpun tentang itu?"

"Wah, aku terkesan. Dia memang pintar sekali menyembunyikan identitasnya," ujar Junsu. Tak ada yang bicara selama beberapa detik, dan suara pertama yang terdengar setelah itu adalah suara pekikan Ryeowook karena tiba-tiba Junsu berada di belakangnya dan mengunci tangannya.

Kibum, dengan wajahnya yang menyeramkan, mendekati Ryeowook perlahan-lahan. Jarinya mengangkat dagu Ryeowook sampai mereka benar-benar saling menatap mata. "Sekarang, katakan pada kami. Di mana dia?"

"Jongwoon? Aku tidak tahu!" geleng Ryeowook. Ia benar-benar ketakutan sekarang.

"Tak ada gunanya membelanya seperti itu, katakan saja di mana dia!" bentak Kibum, tangannya mencengkeram rahang Ryeowook.

"Aku benar-benar tidak tahu! Hampir seminggu kami sudah tidak berhubungan lagi, sumpah!" balas Ryeowook, ikut berteriak dengan nada suara yang ketakutan. Kibum masih menatapnya dengan tajam, tidak peduli dengan rengekannya. "Kumohon, aku tidak bohong, aku—aak!"

Junsu memelintir tangan Ryeowook yang ditahannya di punggungnya, Ryeowook menggigit bibirnya dengan keras untuk menahan teriakan, tapi tidak bisa dan akhirnya ia mengerang-ngerang kesakitan. "Tidak ada untungnya melindunginya, tak ada untungnya berbohong pada kami, kau tahu? Ini yang kau dapat kalau tidak berperilaku dengan baik," desis Junsu di telinganya.

"Aku… aku benar-benar tidak berbohong, aku lost contact… d-dengan Jongwoon… sumpah, Hyungnim!"

Ryeowook menarik napas cepat dengan lega waktu tiba-tiba Junsu melepas tangannya. Tapi ia tidak siap waktu Kibum mendorongnya ke tembok di belakangnya.

"Kalau begitu, sekarang Plan B."

oooooooooooooo

Terdengar suara hentakan yang kuat saat badan Ryeowook menghantam tanah. Kibum dan Junsu berdiri di sisi-sisi tubuhnya, menatapnya tanpa belas kasihan. Seluruh tubuh Ryeowook berdenyut karena hantaman di semua sisi, darah keluar dari hidung dan sudut mulutnya, lehernya memar karena dicekik berkali-kali, tangan dan kakinya lemas karena dipukuli, perutnya sakit karena ditendangi, rambutnya yang ia tata dengan hati-hati kini berantakan karena dijambak dengan kasar.

Merasakan semua sakit itu membuat Ryeowook menangis. Ia terisak-isak tak berdaya, tak mampu melawan, tak bisa minta tolong. Dua orang itu memang tidak mengambilnya untuk mereka sendiri, tapi dompet dan ponsel Ryeowook dilempar ke sisi yang lain. Ia mengutuk jalanan sepi itu, ia mengutuk para vampir, ia mengutuk Jongwoon.

Jongwoonlah penyebab semua rasa sakit ini. Kalau saja vampir sialan itu tak pernah datang, ia tak akan dipukuli seperti ini. Ryeowook terus menyalahkan Jongwoon dalam hatinya, berpikir betapa jahatnya vampir itu dan betapa bodohnya dirinya sendiri. Memikirkan itu membuatnya menangis makin keras. Untuk pertama kalinya ia menyerah akan rasa takut, marah dan sedih yang datang bersamaan ini.

"Anak ini," ujar Junsu, "sepertinya benar-benar tidak tahu."

"Tidak berguna!" bentak Kibum, ia menginjak perut Ryeowook dengan sol sepatunya yang keras. Ryeowook mengerang, lalu terbatuk-batuk. "Kalau begitu, ia tak ada gunanya. Bunuh saja?"

Ryeowook membelalak mendengarnya. Bunuh? Mereka akan membunuhnya? "Hisap saja darahnya sampai mati. Kau duluan saja, aku mau merokok dulu," ujar Junsu sambil mengeluarkan sebungkus rokok dari kantungnya dan bersandar di dinding terdekat.

"Yah, apa boleh buat, deh. Sudah beberapa hari aku tidak mengonsumsi darah. Yang satu ini pasti rasanya mantap sekali." Kibum berjongkok di sebelah Ryeowook, jarinya menelusur sisi leher anak itu. Ryeowook gemetaran, ia tidak mau mati sekarang. Hanya tinggal satu tahun lagi dan ia akan lulus. Setelah lulus ia akan bekerja dan punya uang sendiri. Ia akan mencapai semua itu jadi ia tidak boleh mati sekarang. Tidak. Tidak!

"Hyungnim…" ujar Ryeowook, gemetar. "Kumohon… jangan lakukan itu…" pintanya, air mata membendung di matanya.

"Sisakan untukku, Bung," ujar Junsu, mengabaikan Ryeowook.

"Ah, aku tak tahu kalau terlalu banyak minum dan hanya menyisakan sedikit untukmu," canda Kibum.

"Dasar keparat." Junsu terkekeh. "Sudah, cepat lakukan. Aku mau pulang cepat hari ini, besok mau lembur," suruhnya, lalu mengisap rokoknya lagi.

"Iya, bawel." Kibum merendahkan tubuhnya sampai mulutnya ada di sisi leher Ryeowook, lalu menjilatnya, dan Ryeowook berani bersumpah ia mendengar suara sobekan gusi yang berarti Kibum sedang memanjangkan taringnya.

Terdengar suara teriakan dan hantaman dalam hitungan detik. Dalam waktu itu, Ryeowook tak merasakan gesekan gigi di lehernya. Ke mana Kibum? Bukankah ia baru saja berkata bahwa ia akan membunuh Ryeowook?

Saat Ryeowook membuka mata, yang ia lihat adalah warna putih. Bukan hanya sekedar warna, itu mantel. Dan ia mengenali mantel putih itu. Matanya bergerak ke atas, melihat kepala berambut merah yang juga sangat familiar di matanya. Tiba-tiba kepala itu bergerak, menoleh ke belakang. Dan Ryeowook ingin menangis melihat wajah di depannya.

"Aku tidak perlu bertanya bagaimana keadaanmu, kan?" tanya suara itu. Suara yang padahal tidak Ryeowook ingin dengar lagi. Tapi suara itu terdengar seperti suara malaikat yang muncul dari cahaya surga. Suara yang entah kenapa jadi terdengar begitu indah. "Aku sudah cukup melihatnya."

Jongwoon. Kim Jongwoon ada di depannya.

Kibum yang baru saja dilempar oleh Jongwoon berusaha bangkit sambil menggeram karena tubuhnya sakit. Junsu menatap Jongwoon sambil tersenyum miring, lalu membungkuk. "Suatu kehormatan bisa berada sedekat ini dengan anda, Wangjanim," salamnya sopan.

"Persetan dengan semua salam itu." Jongwoon mendecih. "Apa yang kalian lakukan pada Ryeowook, bedebah? Dia bukan tandingan kalian. Itu tidak adil, kalian tahu?"

"Wangjanim, tolong jangan salah paham. Sejujurnya kami tidak ada urusan dengannya. Kami ada perlu dengan Anda dan kami pikir bisa mempercepat urusan kami melalui anak itu," jelas Kibum.

"Aku tak peduli. Tapi aku tak akan memaafkan kalian karena sudah menyakitinya." Jongwoon melangkah maju dan itu membuat Junsu juga Kibum memposisikan diri untuk pertarungan. "Padahal aku sendiri selalu berusaha agar dia tidak terluka, tapi kutinggal sebentar saja, seluruh tubuhnya sudah memar seperti itu gara-gara perbuatan kalian yang rendah itu?!"

Jongwoon maju ke kiri, meninju perut Junsu dengan sikunya, membuatnya terlempar ke tembok. Lalu secepat kilat berpindah ke kanan, menendang Kibum dengan seluruh sol bootnya, membuatnya juga terlempar ke tembok. Saat mereka masih mengerang kesakitan, Jongwoon menghampiri Junsu dan menjambak rambutnya, lalu menariknya ke arah Kibum dan melakukan hal yang sama pada Kibum, lalu menekan kepala mereka ke tembok.

"Ini masih awal jadi aku tidak mau buang waktu untuk menghukum kalian. Tapi sekali lagi kalian berbuat seperti ini, selangkangan kalian akan kuhancurkan, mengerti?!"

Ryeowook tidak berbuat apa-apa saat Jongwoon memukuli mereka. Ia berusaha mengabaikan denyut kesakitan di seluruh tubuhnya, berusaha merasakan tangan-tangannya lagi agar bisa bangkit, tapi sia-sia. Seolah-olah tenaganya yang tersisa hanya cukup untuk terengah-engah dan menangis.

Ia menatap Jongwoon saat vampir itu mendekatinya dengan dompet dan ponselnya di kedua tangannya. Jongwoon mengantongi kedua benda itu dan bersimpuh di sebelah Ryeowook, lalu membantunya duduk. Jemari Jongwoon mengusap darah di bibir dan hidung Ryeowook dengan lembut, dan Ryeowook tidak bisa menahan diri untuk kagum, karena, sumpah deh, Jongwoon itu vampir kan? Seharusnya ia bisa saja menjilat darah itu dengan mudah, tapi Ryeowook lalu ingat Jongwoon pernah bersumpah untuk tidak mengisap darahnya kecuali Ryeowook mengijinkan. Jongwoon benar-benar melakukannya…

Jemari Ryeowook mencengkeram mantel Jongwoon di bagian belakang bahu kanannya melalui bagian bawah lengannya. Jongwoon menatap tangan itu, lalu menatap Ryeowook dengan cepat.

"Ada apa?" tanya Jongwoon. Tangannya menangkup pipi Ryeowook. Ia terkejut saat Ryeowook mulai menangis lagi. "Ryeowook-ah? Ada apa? Aku… aku tahu kau kesakitan, tapi apa ada satu bagian tubuhmu yang terasa sangat sakit? Katakan padaku! Yah, Kim Ryeowook!" desak Jongwoon khawatir.

Ryeowook tidak bisa menahan diri lagi. Kedua tangannya meluncur di bawah lengan Jongwoon menuju punggungnya, menarik tubuh Jongwoon mendekat padanya, menempelkan kepalanya di dada Jongwoon, terisak di sana. Jongwoon hanya balik memeluknya, mengerti betapa ketakutannya Ryeowook saat itu. Jongwoon mengusap kepala Ryeowook dan mengelus punggungnya, berharap itu bisa menenangkannya.

"Maafkan aku," bisik Jongwoon lembut. Persetan dengan siapa yang salah sekarang. Ryeowook, biarpun tidak berkata apa-apa, sebenarnya dalam hati ia sangat berterimakasih karena vampir itu sudah datang dan menyelamatkannya tadi.

Jam 20:10. Film sudah mulai dan Ryeowook tidak peduli.


A/n:Hai =)) telat lagi ya? Hehehe sori lhoo, sebenernya dari awal Desember ini udah selalu berusaha buat ngepost, tapi pas buka ffn pasti lola bingiiits. Karena kelamaan nunggu akhirnya malah ditinggal, terus, ya… lupa ._. /terus harus curhat/ /dengarkan curhatkoeh/

Cuman butuh satu chapter dan Yewook udah kembali lagiiii yeay! /syukuran/ /potong tumpeng/

Ngomong-ngomong soal chapter kemaren, kayaknya banyak yang penasaran soal adegan terakhir waktu Jongwoon nengok karena ada yang ngikutin, malah ada yang ngira kalo itu Sungmin segala.

Tapi kenapa awal chapter ini ganyambung sama yang kemaren?

Yaa emang sengaja sih, hehe. Gampangnya gini, Jongwoon kan vampir ningrat (?) yang kekuatannya diburu segala macem vampir di dunia manusia. Jadi pasti dia selalu ada yang ngikutin, dong. Sementara dari yang kita lihat sampai sekarang, Sungmin itu enggak termasuk vampir yang tertarik buat kekuatan vampir lain. Dia bener-bener ngejalanin hidup seolah seorang manusia, jadi dia nggak perlu ngikutin Jongwoon segala kayak gitu biarpun dia kepo abis sama Jongwoon.

Sekedar fyi, waktu lagi ngedit chapter yang ini, kok aku tersentuh sendiri sama kalimat terakhir, ya? Jam 20:10. Film sudah mulai dan Ryeowook tidak peduli. Gatau itu padahal aku sendiri yang nulis, tapi kata tidak pedulinya itu menyiratkan banyak hal dan aku gasadar. Duh pengen nangis :") /ini penting/ /ini harus jadi quote of the year/ /apaansih/

Teruuusss, ada apa dengan Yewook? Kemaren kapan gitu sih Kyuhyun ngepost foto KRY, tapi kooook, dia selalu menjadi tembok setan di antara dua orang yang kucintai itu -_- harusnya Wook juga ngepost di twitternya, Yesung juga. Atau gak Yesung post di instagramnya. Cieee si om mainan instagram cieeee /woy/ /digebuk/

Buset ini a/n nya panjang amat. Yaudeh segini dulu aja. Tengkyu yak!

Makasih buat yang udah nyempetin baca, terutama yang nyempetin review :B