Title:Those Creepy Fangs – Incoherent Reasons of Sungmin's Sneezes
Author:nanaspineapple
Pairing:Yewook
Genre:Supernatural, drama
Rating:T
Disclaimer:Kesamaan nama tokoh memang disengaja
Summary:Didatangi dan dicintai makhluk bertaring pengisap darah bukan salah satu dari cita-cita seorang Kim Ryeowook, tapi itu karena dia tidak tahu takdir macam apa yang sudah disusun untuknya.
CHAPTER 7 – Incoherent Reasons of Sungmin's Sneezes
Dibanding dengan makhluk setan yang lain, vampir adalah satu-satunya jenis setan yang menetapkan sistem kasta dengan keras.
Sistem kasta di Dunia Vampir tidak serumit Agama Hindu di Dunia Manusia yang membagi umatnya menjadi 4 kasta. Di Dunia Vampir hanya ada 2 kasta, yaitu Bangsawan dan Rakyat biasa. Kasta ini dibagi berdasarkan jenis kelelawar seorang vampir berasal. Kelelawar yang langka atau sudah punah masuk ke kasta Bangsawan. Sementara kelelawar yang sering ditemui dan banyak jumlahnya masuk ke kasta Rakyat biasa.
Seperti yang sudah dijelaskan, kelelawar yang telah disuntik kristal sihir akan menggigit manusia untuk jadi vampir, lalu manusia itu akan mati. Jasad akan diamankan oleh Para Sesepuh—9 vampir Pangeran yang sudah tua dan dipilih untuk memimpin dan mengurusi Para Vampir di Dunia Vampir dan Dunia Manusia—lalu dibekukan di dalam lachryma selama 100 tahun. Selama 100 itu, lachryma akan terserap ke tubuh jasad manusia, lalu setelah benar-benar habis, manusia itu akan bangkit lagi sebagai vampir.
Jika vampir rakyat biasa langsung dilepas ke Dunia Manusia, maka vampir Pangeran harus menunggu lebih dulu. Waktu penungguan sejak menjadi vampir sampai dilepas ke Dunia Manusia rata-rata 6-24 bulan. Jika beruntung, hanya cukup menunggu 2-3 bulan saja.
Hal ini juga sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa Vampir Pangeran punya manusia khusus sebagai sumber energi penuh. Alasan adanya 'manusia khusus' ini adalah karena vampir berasal dari manusia, jadi vampir Pangeran, yang kastanya lebih tinggi ini, harus mengabdi pada manusia. Sebagai imbalan karena mendapatkan energi penuh yang didapat dari darah, vampir Pangeran harus melindungi manusia khusus mereka.
Lama masa penungguan yang bervariasi direspon bervariasi pula oleh para Vampir Pangeran. Ada yang tidak sabar bahkan sampai protes ke Sesepuh, ada yang cuek, ada yang diam mengunci diri di kamar, ada yang kebosanan. Lama tidaknya menunggu tergantung pada sihir yang ditembak ke hati manusia. Sihir ini tersegel, dan ketika segelnya terbuka, sihir akan mengirim sinyal ke kristal sihir, memberitahu bahwa salah satu vampir telah mendapatkan 'Tuannya.'
Dalam hal ini, salah satu anggota klan Halfwing, yang kastanya paling tinggi di atas segala kasta Dunia Vampir, yaitu Kim Jongwoon, adalah yang paling lama menunggu dalam sejarah Dunia Vampir.
Ia digigit kelelawar saat berumur 18 tahun, dengan kata lain, ia menjadi vampir di usia 118 tahun. Tapi sampai umurnya 127 tahun, ia tidak juga dilepas ke Dunia Manusia. Terlalu lama di Dunia Vampir membuatnya menikmati kehidupan di sana, berbeda dengan yang lain.
Awalnya, ia tidak keberatan sama sekali karena sampai umurnya 120 tahun, ada lagi seorang Halfwing bernama Hangeng yang sedikit lebih tua dari Jongwoon. Mereka berteman akrab, sampai akhirnya Hangeng dikirim ke Dunia Manusia. Dari awal Jongwoon tahu ia dan Hangeng berasal dari negara yang berbeda. Jongwoon dari Korea dan Hangeng dari Cina, dan mereka akan berada di sana lagi begitu ada di Dunia Manusia. Jadi sekalipun Jongwoon sudah dilepas, mereka belum tentu bertemu lagi.
Setelah Hangeng pergi, tanpa terasa, 4 tahun berlalu dengan biasa-biasa saja. Jongwoon saat itu 124 tahun, ia termasuk senior karena umur rata-rata vampir Pangeran 17-24 tahun. Tapi ketika itu hal aneh terjadi. Kristal tak menyala sama sekali. Hal ini membuat Para Sesepuh dan Vampir Pangeran bingung bukan kepalang. Selama lebih dari 3 tahun, kristal itu hampa samasekali.
Di umur 127, di mana ia yang paling tua di antara seluruh Vampir Pangeran, akhirnya waktu bagi Kim Jongwoon tiba. Ia, akhirnya dikirim ke dunia manusia. Tepat di Korea, negara kelahirannya 109 tahun yang lalu.
oooooooooooooo
Ryeowook tidak berkata apa-apa sampai Jongwoon menyelesaikan ceritanya. Mereka duduk di atas kasur Ryeowook sejak setengah jam yang lalu. Begitu Jongwoon menarik Ryeowook agar mereka bersandar di kepala kasur, Jongwoon tidak berkata apa-apa selama 15 menit. Vampir itu hanya memegangi tangan Ryeowook dan mengusapnya dengan jempolnya. Tapi setelah itu tiba-tiba ia mengoceh soal dua orang di jalan tadi. Ia menyalahkan dirinya sendiri dan terus minta maaf. Ryeowook, yang biarpun sudah memaafkan vampir itu, tetap mendengarkan. Entah karena suara Jongwoon yang lembut dan menenangkan, bibirnya yang bergerak-gerak dengan apik, matanya yang terus menatap Ryeowook, atau jemarinya yang mengelus luka-luka di lengan Ryeowook dengan lembut.
"Aku… benar-benar minta maaf karena melibatkanmu dalam semua ini," ujar Jongwoon. "Aku tidak pernah mau meninggalkanmu atau membuatmu berada dalam bahaya, sungguh. Aku ingin berada di sisimu dan melindungimu apapun yang terjadi."
Ryeowook masih tidak menjawab, bahkan ketika Jongwoon membawa tangannya ke depan mulutnya lalu menciumi jari-jarinya. Ryeowook benar-benar tidak tahu harus berkata apa dalam keadaan seperti ini.
Tiba-tiba Jongwoon memposisikan dirinya untuk berbaring di atas kasur. Ia menepuk tempat di sebelahnya, mengisyaratkan Ryeowook agar ikut berbaring. Entah apa yang ada di pikiran Ryeowook, tapi ia ikut berbaring di sebelah Jongwoon. Lalu tanpa diduga, Jongwoon berguling dan memposisikan tubuhnya di atas Ryeowook. Kedua sikunya di sisi tubuh Ryeowook menahan tubuhnya.
"Jong… Woon?" tanya Ryeowook pelan.
"Biarkan aku kali ini. Kumohon."
Tak ada yang Ryeowook lakukan saat Jongwoon membawa bibirnya ke hadapan bibir Ryeowook yang kecil dan manis. Ryeowook pikir itu hanya kecupan seperti yang terakhir kali Jongwoon lakukan padanya, tapi ternyata itu sebuah ciuman yang, benar-benar ciuman. Bagaimana Jongwoon membuka mulutnya, menyapu lidah Ryeowook, mengecup tiap sudut bibirnya, tak ada yang bisa Ryeowook lakukan mengenai hal itu.
Ciuman Jongwoon turun ke leher Ryeowook, mengecup memar-memar di sana. Gerakan itu membuat Ryeowook menengadah, membiarkan Jongwoon membalut seluruh bekas biru menyakitkan di sana dengan kecupannya. Ryeowook mengepalkan tangan di depan mulutnya, berusaha untuk tidak membuat suara apapun.
Ryeowook menarik napas cepat sewaktu merasakan jemari Jongwoon membuka-buka kancing kemejanya. Ia mengangkat kepalanya dan menatap badannya dengan agak khawatir, tapi melihat Jongwoon yang terkejut melihat tubuhnya yang luka-luka dan memar sana-sini, rasa khawatirnya entah kenapa berkurang.
"Ini… apa yang telah mereka lakukan padamu, astaga…" ucap Jongwoon sedih. Ia mengelus memar di tulang rusuk Ryeowook, membuatnya mendesis karena terasa sakit.
Jongwoon menurunkan kepalanya, lagi, ia menciumi luka di tubuh Ryeowook. Ryeowook, dengan bibir bawah digigit dan tangan di depan mulutnya, menutup matanya.
Sensasi sapuan lidah dan bibir Jongwoon di kulitnya mengirim rasa tarikan yang begitu aneh di perutnya, dan itu tanpa sadar membuat air mata menggenang lagi di pelupuk matanya. Rasa hangat dari mulut basah Jongwoon, gerakan lidah dan bibir Jongwoon di kulitnya membawa rasa nikmat yang begitu berkabut di pikiran Ryeowook.
Entah kemana rasa sakit di tubuhnya itu. Entah hanya sugestinya sendiri atau memang terjadi, tapi Ryeowook tidak lagi merasakan rasa sakit itu. Mungkinkah kecupan Jongwoon di setiap cm tubuhnya memberikan suatu efek sendiri, atau karena rasa nyaman yang dibawanya?
Tidak terasa, air mata tidak berhenti keluar dan akhirnya jatuh, dibarengi isakan yang terbungkam tangannya sendiri. Begitu suara isakan tersebut terdengar oleh Jongwoon, vampir itu mengangkat kepalanya, melihat wajah Ryeowook. Alisnya menukik ke dalam, mata menutup dengan air mata yang terus mengalir, telapak tangan membungkam mulutnya. Jongwoon segera menjatuhkan diri di sisi Ryeowook, lalu menariknya ke dalam sebuah pelukan. Jongwoon menarik tangan Ryeowook dari mulutnya dan menggantinya dengan bibirnya. Kali ini Ryeowook membalasnya dengan baik, menikmati rasa nyaman yang diberikan Jongwoon melalui mulutnya.
oooooooooooooo
"Hatsyuuuhhh!"
Ryeowook tersentak, seperti rak buku di depannya. Ia menoleh ke arah Sungmin di sebelahnya, kakak kelasnya itu sedang mencengkeram pinggiran rak buku, kepalanya menunduk dalam—mencengkeram benda terdekat dan menunduk, Lee Sungmin selalu melakukan itu tiap kali bersin.
"Hyung? Kau baik-baik saja?" tanya Ryeowook.
Sungmin menoleh ke arah Ryeowook sambil mengusap bagian bawah hidungnya dengan telunjuk. Sungmin mengendus pelan, mencium bau vampir yang sangat kuat dari tubuh Ryeowook. Demi Tuhan, apa sih yang sudah terjadi? Minggu kemarin bau vampir hampir hilang dari tubuhnya, dan sekarang muncul tiba-tiba seolah itu yang digunakannya untuk mandi. Karena terlalu kuat dan terlalu tiba-tiba, Sungmin sampai bersin. Saat sedang berpikir seperti itu, Sungmin bersin lagi.
"Kamu pakai parfum apa?" tanya Sungmin, menyipitkan mata.
"Eh? Parfum yang kubeli di mall itu. Yang botolnya warna biru," jawab Ryeowook, agak bingung.
Ah, tepat sasaran, batin Sungmin. Ia menggeram, lalu menutup mulutnya dengan tangan. "Sudah kuduga… yang itu kan baunya kuat banget…" keluh Sungmin, lalu tepat setelah itu bersin lagi.
Ryeowook membelalak, ingat kalau Sungmin selalu bersin tiap mencium parfum. Biarpun Sungmin sendiri selalu memakai parfum, tetapi ia memilih dengan hati-hati parfum yang baunya ringan, juga menyemprotnya dari jarak tertentu agar tidak tercium olehnya sendiri. "Ma-maafkan aku, Hyungie!" seru Ryeowook.
"Ah, ti—" Sungmin bersin lagi. Ryeowookmembuka tasnya dan mencari tisu. "Aku tidak apa-a—" Sungmin bersin lagi. Ryeowook menarik sebungkus tisu dan memberikannya pada Sungmin. Sungmin mengambilnya sambil tersenyum. "Terimaka—" Sungmin bersin lagi. "Maaf, aku keluar dulu." Sungmin cepat-cepat berjalan dan saat ia melewati rak, ia bersin lagi.
Sungmin berjalan dengan cepat keluar perpustakaan sambil berusaha mengeluarkan selembar tisu. Ia berhasil mengeluarkannya tepat saat sudah di luar, dan begitu ia menempelkan lembaran tisu itu di depan mulutnya, ia langsung bersin tiga kali berturut-turut.
Sungmin menekan sisi hidungnya dengan tisu. Hidungnya terasa sangat gatal karena terlalu banyak bersin. Parfum dan bau vampir, kombinasi yang mengerikan untuk hidungnya.
Sungmin menghela napas, kesal karena hidungnya masih gatal. Ia menggenggam tisu yang baru dipakainya di tangan, lalu bersandar di dinding sambil mendengus. Ia tidak mempermasalahkan kesensitifannya terhadap parfum sekarang, tapi bau vampir yang menguar dengan kuat dari tubuh Ryeowook. Kenapa tiba-tiba ada lagi? Ini bau yang sama dengan bau yang sebelumnya, apa yang terjadi? Mungkinkah Ryeowook bertemu lagi dengan vampirnya? Sungmin tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum memikirkannya.
Sungmin masuk lagi ke dalam perpustakaan dan melihat Ryeowook sudah mengambil tempat duduk di belakang salah satu meja. Ryeowook mendongak dari bukunya saat melihat Sungmin berjalan ke arahnya. Sungmin menarik kursi di depan Ryeowook, lalu duduk di sana.
"Kau baik-baik saja, Hyung?" tanya Ryeowook khawatir.
"Iya, aku baik. Thanks tisunya," ujar Sungmin sambil meletakkan bungkus tisu milik Ryeowook di atas meja. Ryeowook mengambilnya dan mengantonginya. "Maaf, ya. Hidungku sepertinya sedang terlalu sensitif hari ini."
"Aku juga minta maaf, aku lupa Hyung gak suka bau parfum." Ryeowook meringis. Sungmin hanya tersenyum.
"Sudahlah, tak apa-apa." Sungmin mengusap ujung hidungnya dengan jari. "Oh, iya. Kemarin kau jadi nonton? Maaf ya tidak bisa menemanimu."
Ryeowook kehilangan senyumnya mendengar pertanyaan itu. Ia menggigit bibir, ragu untuk menjawab. "Tidak apa-apa, kok."
"Gimana filmnya? Bagus?" tanya Sungmin, masih tersenyum.
"Eh?" Ryeowook memutar otak, mencari jawaban. "Keren! Bagus banget, ceritanya seru! Harusnya Hyung ikut nonton kemarin."
Senyum Sungmin makin lebar karena ia tahu Ryeowook berbohong. Sungmin merasa ada sesuatu yang buruk terjadi pada Ryeowook, tapi anak itu terlihat bersih dan sehat, jadi kemungkinan paling besar adalah Ryeowook tidak berangkat sama sekali dari rumahnya kemarin. Biarpun begitu, Sungmin tetap melihat sesuatu dari mata Ryeowook, sesuatu yang mengatakan bahwa ia menyembunyikan sesuatu yang lain, menyembunyikan sesuatu yang ada hubungannya dengan janji mereka yang batal kemarin. Ada sesuatu yang terjadi, tapi Ryeowook tidak mengatakannya.
Sungmin sendiri sebenarnya tidak terlalu ingin tahu kalau Ryeowook tidak mau cerita, tapi apapun yang terjadi pada Ryeowook, jika itu ada hubungannya dengan bau vampir yang mendadak muncul itu, Sungmin jadi sangat khawatir.
"Ryeowook-ah," panggil Sungmin. Ryeowook mengangkat wajahnya. "Sebenarnya apa yang terjadi kemarin?"
"Eh?" Ryeowook membelalak. "Ng… nggak ada apa-apa, kok. Memang kenapa?"
"Kamu lesu hari ini. Aku jadi khawatir."
Sungmin sudah agak menduganya, tapi tetap saja kaget waktu Ryeowook langsung tersenyum manis. "Aku nggak apa-apa, kok. Sungguh. Aku baik."
"Ryeowook-ah…" Sungmin memajukan tubuhnya sedikit, menumpu berat badannya dengan kedua siku. "Aku sangat suka padamu yang banyak bercerita. Tapi belakangan ini kamu sepertinya banyak menyembunyikan hal dariku. Aku khawatir. Kalau ada masalah, cerita saja. Kamu tahu 'kan rahasia apapun selalu aman padaku. Kalau mau curhat, curhat saja. Aku dengar, kok."
Ryeowook, benar-benar kehilangan senyumnya. Ia merasa bersalah karena membuat Sungmin khawatir. Biarpun Jongwoon tidak pernah menyuruhnya untuk mengatakan kepada siapapun mengenai vampir, tapi Ryeowook tetap merasa tidak bisa mengatakan itu pada siapapun. Biarpun ia tidak suka pada Jongwoon, tapi ia tidak sejahat itu untuk membiarkan Jongwoon berada dalam masalah.
"Maaf, Hyung… untuk yang kali ini…aku mungkin tidak akan menceritakan apapun padamu…" ucap Ryeowook sedih. Ia menatap Sungmin yang mengangguk kecewa. Mendadak ia kehilangan keinginan untuk melanjutkan membaca buku yang dibacanya. Sungmin lalu berdiri dan menghilang di antara rak buku, sementara orang-orang yang baru selesai kuliah berhamburan masuk perpustakaan.
oooooooooooooo
Lee Sungmin, berjalan pulang.
Setelah selesai dengan kelas terakhirnya, ia langsung berniat untuk pulang karena harus menyelesaikan laporannya. Tadinya ia ingin menemani Ryeowook makan dulu di kantin, tapi begitu melihat Donghae sedang senggang dan bisa menemani Ryeowook, Sungmin memutuskan untuk langsung pulang.
Sambil mengetik pesan pada ibunya yang bertanya apa dia akan pulang cepat atau tidak karena ibunya akan ke dokter gigi, Sungmin terus berjalan ke arah gerbang. Tapi sebelum pesannya selesai diketik, begitu kaki kanannya melangkah di antara gerbang kampus yang lebar, ia berhenti, lalu menunduk dan sadar tak ada apapun yang bisa dicengkeram, jadi tangannya menggapai celananya tepat saat ia bersin.
Ia mendengus, terdiam. Sungmin adalah orang yang selalu bersin setiap ia mencium beberapa hal, jadi tak mungkin ia bersin kalau tak ada bau tertentu (kecuali saat sakit, dan sayangnya ia tak pernah sakit). Makanya, sambil mengantongi ponselnya, ia langsung menoleh-noleh mencari sumber bau yang membuatnya bersin.
Ketika menengok ke kiri, ia melihat seorang pria yang cukup tinggi, berkemeja abu-abu, bercelana jeans hitam, bersepatu sneakers hitam, bersandar di dinding gerbang sambil bersedekap. Tapi yang membuatnya kaget adalah rambut merahnya yang begitu menyolok. Dari pria itu, ia mencium bau parfum dan… bau vampir.
Dengan cepat mata Sungmin memindai tubuh pria itu, mencari tanda-tanda vampir dari pria itu. Secara fisik, biasa-biasa saja. Rambutnya terlihat seperti dicat. Mata hitamnya standar. Pakaian yang dikenakannya sering Sungmin lihat di department store, bukan pakaian dari dunia vampir. Anting, kalung, gelang, cincin bahkan eyeliner—astaga, tak ada vampir yang mengenakan aksesoris sebanyak itu. Bau vampir memang ada, tapi baunya samar-samar, dan bau parfum jauh lebih tercium darinya.
Sungmin agak tersentak sewaktu pria itu menoleh ke arahnya. Seolah menemukan harta karun, mata pria itu membelalak dan langsung menghampiri Sungmin secepat kereta.
"Kamu Lee Sungmin?" tanya pria itu. Mata Sungmin membelalak di balik kacamatanya. Kenapa pria ini tahu namanya? Kalau dia bukan vampir, mana mungkin bisa tahu secepat itu, lagipula—ah! Sungmin baru ingat kalau ia sedang mengenakan jas senat. Bordiran namanya bisa dibaca dari jarak 2-3 meter. Jelas saja pria ini tahu namanya.
"Iya, aku Lee Sungmin. Ada apa?"
"Kamu temannya Ryeowook, kan? Di mana dia sekarang?"
"Dia… di kantin. Masih makan mungkin." Sungmin menatap pria itu curiga. "Kamu siapanya?"
"Ah, anggap saja teman barunya," ujar pria itu sambil mengedikkan bahu. "Bisa beritahu dia kalau aku menunggunya di sini?"
Dengan ragu, Sungmin mengeluarkan ponselnya dari kantung. "Baiklah, aku akan mengiriminya pesan."
Pria itu tersenyum ramah. "Terimakasih, ya. Bilang pacarnya nunggu di depan," ujar pria itu sambil terkekeh sedikit.
"Iya. Aku… duluan, Hyungnim," salam Sungmin sambil mengangguk sedikit. Pria itu balas mengangguk, lalu Sungmin berjalan meninggalkan area kampus ke arah halte. Sungmin berjalan sambil menyelesaikan mengetik pesan untuk ibunya yang belum selesai, lalu menulis pesan lain untuk Ryeowook. Ia sangat mencurigai pria barusan. Kepalanya dengan cepat mengumpulkan kepingan-kepingan petunjuk yang ada, menyusun mereka dengan berharap mendapatkan suatu kesimpulan yang bisa ia percaya.
Sungmin cukup yakin pria barusan adalah vampir, tapi berbeda dengan keadaan Ryeowook. Kalau baru minggu lalu Ryeowook tersiram bau vampir, berarti kemungkinan besar Ryeowook didatangi vampir baru. Vampir yang masih baru di Dunia Manusia biasanya baunya sangat-sangat kuat karena belum bercampur dengan bau manusia. Tapi pria tadi bau vampirnya sangat sedikit, gayanya juga sudah menunjukkan bahwa ia sudah cukup lama berada di Dunia Manusia. Lalu kenapa pria itu mengenal Ryeowook? Apa benar pria itu pacar Ryeowook, seperti yang baru saja dia katakan? Sungmin menggelengkan kepala dengan frustrasi, lalu berhenti di halte.
Sementara itu, pria yang berdiri di depan gerbang kampus, yang tak lain adalah Kim Jongwoon, masih menatap ke arah Sungmin berjalan biarpun lelaki berkacamata itu sudah tak terlihat lagi di pandangannya. Ia tersenyum miring, lalu mendengus.
Ia sadar saat Sungmin kaget karena Jongwoon tahu namanya—Jongwoon bersyukur ia bertanya pada Ryeowook. Ia juga sadar bahwa Sungmin mengira ia membaca bordiran nama di jasnya dan ia tidak bisa lebih bersyukur lagi. Biarpun Jongwoon tidak bisa membacanya, tapi setidaknya Jongwoon tahu kalau yang dibordir di jas Sungmin itu adalah namanya.
"Triclaws, ya?" ujar Jongwoon pada dirinya sendiri, sudah sadar dari awal kalau Sungmin itu vampir, lalu terkekeh sedikit. "Tak kusangka Ryeowook berteman dengan seorang vampir. Aku berani bertaruh anak kecil itu buta tentang ini. Lee Sungmin itu pura-pura nggak tahu apa-apa. Dasar pengecut."
Hanya perlu 10 menit sampai Ryeowook berjalan menghampiri gerbang dengan marah, lalu meninju lengan Jongwoon. Mata Jongwoon melihat dengan bosan ke arah Ryeowook, sementara alis Ryeowook menyatu dan rasa marah jelas-jelas tergambar di matanya.
"Apa, sih?" tanya Jongwoon datar.
"Apa maksudmu 'pacarmu'? Siapa yang sudi, hah?" desis Ryeowook.
"Jangan marah gara-gara itu, dong. Dasar anak kecil," cemooh Jongwoon. Ryeowook mendecih sambil memalingkan wajah. "Lukamu sudah nggak apa-apa?" tanya Jongwoon.
Rasa marah Ryeowook hilang seketika mendengar pertanyaan itu. Ia mengelus lehernya pelan dengan telapak tangan, merasakan bagaimana kulitnya sudah bersih lagi, memarnya sudah lenyap dan rasa sakitnya tak ada lagi di sana.
Tadi pagi saat terbangun, ia sangat kaget karena seluruh memar dan rasa sakit juga nyeri di tubuhnya hilang. Ia sempat panik karena bingung, tapi Jongwoon menenangkannya dengan mengatakan bahwa itu efek dari sihir di tubuhnya.
Mendadak, ia merasa bersalah. Jongwoon sudah menolongnya bahkan menyembuhkannya, tapi ia marah-marah padanya seperti orang tak tahu diri. Ia sadar Jongwoon tidak mengharapkan apa-apa darinya saat memperlakukannya dengan baik, mungkin karena itu Ryeowook sendiri tidak terlalu memperhatikan kebaikan Jongwoon padanya.
"I-iya. Sudah… nggak apa-apa," jawab Ryeowook. "Terimakasih, ya."
Jongwoon mendengus sambil tersenyum. "Kamu nggak perlu ngucapin makasih padaku. Aku nggak pantas menerimanya. Sudah, yuk pulang."
oooooooooooooo
Hari itu, tak seperti biasanya, Jongwoon masuk ke dalam kampus Ryeowook.
Tak ada masalah selama dia masih berada di halaman kampusnya, tetapi ia tidak bisa masuk ke dalam gedung karena tidak punya kartu pelajar. Tidak ada yang mencurigainya walaupun dia bukan mahasiswa di sana, tetapi banyak gadis yang terkaget-kaget dan melempar tatapan terpesona padanya—tentu saja karena wajahnya yang kelewat tampan jika dibandingkan dengan kebanyakan orang di sana.
Ia melihat lapangan basket, lalu berjalan ke arah kursi-kursi yang disediakan di sekitarnya. Setelah duduk di salah satu kursi, ia terdiam, menunggu.
Setelah menunggu sekitar 7 menit, seorang pria berkacamata menghampirinya. Lengan kemeja birunya digulung sampai siku dan kancing yang paling atas tidak dipasang. Sneakers biru tuanya terlihat agak kotor, jelas bahwa sudah cukup lama belum dicuci. Rambut hitamnya yang licin sudah agak berantakan karena seharian mengikuti kelas. Jongwoon menoleh ke arahnya, membuat pria itu membelalak sedikit.
"Lee Sungmin… dari Triclaws, hah?" ujar Jongwoon.
Mendengar hal itu, Sungmin menarik napasnya, lalu menghembusnya perlahan. Ia membungkuk dan langsung berlutut di atas satu lututnya.
"Suatu kehormatan bisa bertemu dengan anda, Wangjanim," salam Sungmin sambil menunduk dalam-dalam. Beberapa mahasiswa di dekat situ melirik ke arahnya dengan bingung tapi ia tidak peduli. Jongwoon hanya terkekeh, lalu memalingkan wajah.
"Hentikan semua penghormatan itu, aku tidak menyukainya," ujar Jongwoon. Begitu Sungmin berdiri, ia ikut berdiri. "Lebih baik kita berkenalan sebagai 'manusia' saja, itu akan lebih normal. Kim Jongwoon."
Sungmin terpaku melihat tangan Jongwoon yang diulurkan ke arahnya. Ia melihat tangan itu dan wajah Jongwoon bergantian, ragu untuk menjabatnya atau tidak. Setahunya, banyak vampir dari kasta Pangeran yang sangat angkuh. Untuk bicara dengan vampir kasta bawah saja malas, apalagi kontak fisik. Biasanya, bisa kontak fisik seperti jabat tangan saja dianggap suatu kebanggaan tersendiri bagi beberapa vampir. Tapi Kim Jongwoon ini melakukannya seolah itu bukan apa-apa?
Tidak mau membiarkan Jongwoon menunggu lama, Sungmin segera mengangkat tangannya dan menjabat tangan Jongwoon. Ia terkejut karena tangan Jongwoon begitu kecil, tapi lalu tambah terkejut lagi karena jabatan tangan Jongwoon begitu hangat dan bersahabat, seolah sudah terbiasa bersalaman dengan orang lain.
Sebelum Jongwoon sempat melepaskan tangannya, Sungmin tiba-tiba menunduk, kedua tangannya mencengkeram tangan kanan Jongwoon dan bersin. Sadar kalau Jongwoon kaget, Sungmin cepat-cepat melepas tangannya.
"M-maaf, Yang Mulia!" serunya sambil menutup mulut. "A-Anda pakai parfum, ya? Saya selalu bersin kalau cium bau parfum… maaf…" Sungmin meringis sedikit di balik tangannya.
"Oh, maaf, aku tidak tahu soal itu. Mungkin aku memang sedikit terlalu banyak pakai parfum."
"I-iya, tidak masala—" begitu rasa gatal menyeruak di hidungnya, Sungmin cepat-cepat menutup bagian bawah wajahnya dengan tangan dan menunduk dalam, kepala dan bahunya tersentak saat ia bersin lagi. "Maafkan saya…" katanya pelan.
"Tidak apa-apa. Duduk sini, banyak yang mau kutanyakan padamu," ujar Jongwoon sambil duduk di kursinya barusan, lalu menepuk tempat di sebelahnya. Melihat Sungmin ragu untuk duduk di sebelahnya, ia hanya terkekeh. "Nggak usah sungkan, ayo duduk saja."
"P-permisi…" ujar Sungmin sambil perlahan-lahan menjatuhkan tubuh di atas kursi. Ia tidak mengerti kenapa tiba-tiba ia jadi gagap dan canggung begini.
Jongwoon duduk dengan satu kaki di atas kaki yang lain, kedua telapak tangan datar di atas kursi dan lengannya lurus, badan agak membungkuk dan pandangan mata lurus ke depan. Sungmin sedikit membungkuk dan tidak berani mengangkat wajahnya. Kedua tangannya ada di lutut, berusaha mendiamkan kakinya yang tidak bisa berhenti naik-turun karena gugup.
Ia benar-benar ingin berlutut di depan Jongwoon dan mendengarkan apapun yang dikatakan vampir itu dengan kedua lututnya ditekan ke tanah. Biarpun Jongwoon yang menyuruhnya duduk di sebelahnya dan tidak keberatan dengan hal itu, tapi Sungmin tetap merasa ia seperti sedang menghina Halfwing di sebelahnya ini.
"Dengar, Lee Sungmin, aku tahu kamu canggung karena kita nggak berlaku formal di sini, tapi, kumohon tahan dulu. Aku mau bicara biasa saja," tegur Jongwoon, mulai terdengar kesal.
"Maaf… Wangjanim…" ujar Sungmin sambil tertunduk.
Jongwoon terdiam. "Langsung saja," ujar Jongwoon, "apa yang kau tahu mengenai para vampir di Dunia Manusia? Ceritakan padaku, semuanya."
Mendengar pertanyaan itu, Sungmin langsung bersin, bahkan sebelum ia sempat menyanggupi permintaan Jongwoon.
A/n:Alo alo :D ini chapter tujyuuh~ /muncrat/
Bagian awal agak memalukan ya kyaa kyaaa
Ngomong-ngomong, bagian vampir yang di awal itu bukan yang Jongwoon ceritain ke Ryeowook, itu fyi buat pembaca aja hehe
Yaudah gitu aja hehe
Makasih buat yang udah nyempetin baca, terutama yang nyempetin review :B
