Title:Those Creepy Fangs – Sly Princess
Author:nanaspineapple
Pairing:Yewook
Genre:Supernatural, drama
Rating:T
Disclaimer:Kesamaan nama tokoh memang disengaja
Summary:Didatangi dan dicintai makhluk bertaring pengisap darah bukan salah satu dari cita-cita seorang Kim Ryeowook, tapi itu karena dia tidak tahu takdir macam apa yang sudah disusun untuknya.


CHAPTER 8 – Sly Princess

Bar para vampir, seperti biasa.

Saat ini, bar tersebut cukup ramai karena adanya seorang pengunjung yang cukup menyolok. Rambut cokelatnya yang bergelombang diurai sampai pinggang, lipstik merah dipoles dengan sempurna, mini dress bermerk yang memperlihatkan segala lekuk tubuhnya, satu kaki di atas kaki yang lain, membuat vampir-vampir lain tidak bisa mengalihkan mata dari kaki jenjangnya.

Jika ada Vampir Pangeran, maka yang setara dengan mereka adalah Vampir Puteri. Pada dasarnya mereka sama, yaitu berasal dari jenis kelelawar yang sudah langka. Hanya saja perbedaannya adalah, Vampir Puteri mendapatkan energi penuhnya dari darah Vampir Pangeran.

Kecantikan dan keanggunan mereka, serta kata-kata manis yang merayu dengan manja membuat banyak Vampir Pangeran yang bertekuk lutut dan dengan sukarela memberikan darahnya untuk mereka.

"Itu Hyuna Gongjunim."

"Beneran Kim Hyuna? Yang dari Broisk itu?"

"Kim Hyuna yang katanya model majalah itu bukan?"

"Cantik banget, ya. Seksi lagi. Aku mau deh ngasih semua darahku."

"Dasar murahan. Dia pilih-pilih, tahu."

Pandangan mata dan komentar terus dilempar ke arah seorang gadis cantik yang sedang duduk di sebuah sofa. Tangannya memegang sebuah gelas bening berisi wine, jemarinya yang lentik memegang leher gelas dengan cara yang begitu cantik.

"Berisik sekali orang-orang ini," keluh Hyuna sambil meletakkan gelasnya di meja. "Kupikir karena malam ini agak sepi jadi aku bisa minum dengan tenang. Ternyata sama saja."

"Selamat malam, Gongjunim! Anda sendirian?"

Hyuna menoleh ke sumber suara. Ia melihat Kris yang berjalan ke arahnya, lalu tersenyum. Kris duduk di sofa di seberangnya dan bersandar di sana.

Hyuna tersenyum. "Lama nggak ketemu, Wu Yi Fan."

Mendengar nama Cinanya dipanggil, Kris hanya tersenyum. "Kris saja, Gongjunim."

"Mana rambut pirangmu?" tanya Hyuna sambil bersandar di lengan sofa.

"Ah?" Kris meletakkan telapak tangan kanannya di sisi kepalanya. "Saya sudah jadi pegawai sekarang. Saya hanya berani mengecat warna cokelat saja. Nanti kalau sudah keluar mungkin saya akan mengecatnya dengan warna macam-macam lagi."

"Hipnotis saja bosmu supaya dia membolehkan rambut pegawainya dicat warna-warni."

"Itu akan sedikit merepotkan, jadi saya rasa lebih baik saya saja yang mengikuti peraturan manusia." Kris tersenyum dan Hyuna hanya mengedikkan bahu. "Ngomong-ngomong, apa Anda sudah dengar mengenai Halfwing terakhir?"

Kedua alis Hyuna naik saat mendengarnya. "Aku sudah dengar, tapi nggak tahu detilnya. Kim Jongwoon Wangjanim, kan?"

"Ya. Di luar dugaan, dia sedikit berbahaya. Kupikir anda akan langsung mengambil tindakan begitu mendengar tentangnya."

"Aku agak sibuk belakangan ini, jadi belum sempat merencanakan apapun. Apa sudah ada yang melancarkan serangan padanya?"

"Kim Kibum itu sedikit nekat, tapi tidak akan ada vampir mendapat banyak petunjuk soal Kim Jongwoon Wangjanim kalau dia diam saja."

Hyuna memandang Kris dengan bosan, menunggu informasi lebih banyak lagi. Seolah mengetahui arti tatapan mata gadis itu, Kris tersenyum sambil mengeluarkan sebuah PC tablet dari dalam jaketnya dan meletakkannya di atas meja. Hyuna masih terlihat malas sewaktu Kris mengetuk-ngetuk jarinya di atas layar tablet itu, tapi begitu terlihat gambar peta dengan beberapa catatan di sebelahnya, Hyuna langsung membungkukkan tubuhnya, pandangan matanya lurus ke layarnya. Kris membalik tablet itu supaya Hyuna lebih mudah melihatnya.

"Apa ini?" tanya Hyuna, mengamati peta yang terpampang di layar tablet.

"Alamat rumah manusia Kim Jongwoon Wangjanim dan latar belakangnya."

Hyuna melirik Kris, lalu menegakkan tubuhnya kembali. "Aku tidak butuh soal manusianya. Aku butuh soal Kim Jongwoon."

"Tentu anda butuh, Gongjunim."

Hyuna memangku wajah dengan tangannya, menatap gambar petanya dengan teliti, lalu membaca alamat rumah yang tertulis jelas di sebelahnya. "Ya, sudah. Aku sudah ingat," ujar Hyuna malas. Kris tersenyum, lalu mengambil tabletnya lagi. "Kenapa kau melakukan ini? Nggak mungkin kau melakukan ini sendiri. Siapa yang menyuruhmu?"

"Tidak, Gongjunim." Kris menggeleng, wajahnya yang masih tersenyum membuat Hyuna sedikit risih. "Soal info ini memang saya sendiri yang ingin beritahu."

"Lalu?"

Kris merogoh kantung jaketnya lagi, lalu mengeluarkan sebuah amplop. "Saya mendatangi anda sebenarnya karena ini."

Hyuna menerima amplop itu dengan alis yang terangkat satu. "Amplop? Oh, kartu kreditku yang kemarin patah semua itu, ya. Dari siapa?"

"Direktur Jang yang menyuruh saya. Tadi saya pergi ke kantornya, menemuinya sebentar. Kebetulan saya sedang senggang, jadi dia menyuruh saya memberikan ini pada anda."

"Pantas cepat sekali dibikin ulang. Kadang koneksi Jang Hyunseung yang terlalu luas itu membuatku takut," ujar Hyuna sambil terkekeh dan memasukkan amplop itu ke dalam tasnya. "Terimakasih, ya."

"Tidak masalah." Kris berdiri dari tempat duduknya, lalu membungkuk. "Kalau begitu, saya pergi dulu."

Hyuna mengangguk padanya sambil tersenyum. "Ya. Sampai jumpa."

Begitu Kris menghilang dari pandangan, Hyuna melirik amplop di tasnya, senang karena kartu-kartu kesayangannya sudah kembali. Di kepalanya kembali terbayang peta yang baru dia lihat. Dia memang penasaran dengan Kim Jongwoon ini karena sejak kedatangannya di dunia manusia, hampir semua vampir sibuk membicarakannya. Sayangnya jadwalnya sebagai model yang sibuk membuatnya tak punya waktu untuk menyelidiki itu semua.

Hyuna mengambil tas dan gelas winenya lalu berjalan ke arah counter. Bartender yang sedang bertugas di sana terbelalak karena sejak pertamakalinya Hyuna mulai minum di sana, gadis itu tidak pernah sekalipun duduk di kursi counter. Bartender itu dengan gugup menghampirinya dan bertanya jika ada yang bisa ia bantu. Hyuna dengan santai meminum wine dari gelasnya, lalu menatap bartender itu dengan tajam. Hanya satu nama yang ada di pikirannya sekarang.

Kim Kibum.

oooooooooooooo

Kim Ryeowook, mengernyit.

Ia sedang duduk di balik meja makan sambil membaca novel yang baru dipinjamnya. Jongwoon duduk di atas sofa di sisi kanan ruangan, menatap Ryeowook tanpa henti.

Sejak ia pulang dari kampus, Jongwoon terus menatapnya dengan tajam. Biasanya Ryeowook cukup mampu melihat isi hati orang hanya dengan melihat ekspresi wajah atau tatapan mata, tapi sayangnya Kim Jongwoon ini sangat sulit dibaca, seperti buku yang digembok, kuncinya dipotong menjadi tujuh dan tiap potongannya disebar ke tujuh samudera yang berbeda. Apa yang diinginkan vampir ini? Mau bertanya sesuatu? Ryeowook sudah melakukan hal yang salah? Menyakiti hatinya? Atau Jongwoon menemukan sesuatu mengenai dirinya?

Masih dengan bibir cemberut dan alis menukik ke dalam, Ryeowook berusaha mengabaikan pertanyaan tak terhitung di kepalanya mengenai ekspresi Jongwoon beberapa jam terakhir ini dan kembali fokus ke bukunya. Sebenarnya Ryeowook tipe orang yang mudah berkonsentrasi, tetapi tatapan mata seorang vampir tetap saja beda. Seolah-olah mata Jongwoon terus-menerus menusuk-nusuk kepala Ryeowook dengan tidak menyenangkan. Hal itu membuat Ryeowook risih, jadi ia menutup bukunya dan menghampiri Jongwoon.

"Jongwoon," panggil Ryeowook lelah.

"Ya?" tanya Jongwoon santai.

"Berhenti melihatku seperti itu, dong. Nggak nyaman, tahu. Kalau kau orang biasa sih tak masalah, aku bisa tahan. Tapi entah karena kau vampir atau bukan, tapi tatapan matamu itu menyebalkan sekali," jelas Ryeowook, menuding Jongwoon dengan bukunya.

Tanpa berkata apa-apa, Jongwoon menarik lengan Ryeowook ke depan, membuatnya kehilangan keseimbangan. Ryeowook langsung melepaskan buku yang dipegangnya dari jemarinya, dan kedua tangannya langsung berada di atas paha Jongwoon, menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.

Wajahnya berhenti tepat di depan wajah Jongwoon, dan belum sempat kagetnya hilang, Jongwoon tiba-tiba memejamkan mata dan memajukan wajahnya, dan dari sisi manapun tentu saja Jongwoon terlihat akan menciumnya. Walaupun tidak siap, Ryeowook memejamkan matanya dan menunggu detik-detik bibir mereka bersentuhan.

Sayangnya ia tidak melihat Jongwoon yang tiba-tiba membuka mata, mengernyit dan cemberut, lalu memukul mulutnya dengan jari-jarinya yang kecil.

"Aduh!" jerit Ryeowook. Karena kaget, ia terjatuh ke belakang dengan tangannya menutupi mulut. "Kenapa kau mukul mulut orang, sih?! Sakit, tahu!"

"Harusnya aku yang tanya! Kenapa manusia melakukan itu, sih?" tanya Jongwoon kesal.

"Apanya?!"

"Ciuman! Di TV, di jalan, di gedung—di mana-mana!"

Ryeowook menghela napas. "Jongwoon-ah, kau sudah melakukannya dan kau masih bertanya kenapa manusia melakukannya? Kupikir kau melakukannya karena sudah tahu!"

"Aku juga kurang mengerti. Tiba-tiba saja… aku melakukannya." Jongwoon memijat pelipisnya dengan lelah sambil menghela napas panjang. "Maaf ya."

"Tidak apa-apa. Bukan hal besar," ujar Ryeowook sambil mengedikkan bahu. Mereka terdiam sebenetar. "Eh, eh. Waktu itu, kau bertemu Sungmin Hyung, kan?"

Jongwoon melotot kaget. "Kapan?"

"Di depan gerbang."

"Oh." Jongwoon menatap Ryeowook lega. "Kukira yang di dekat lapangan," bisiknya pada diri sendiri.

Ryeowook mengangkat satu alisnya. "Apa?"

"Nggak. Apa-apa," jawab Jongwoon, sedikit tergagap. "Memangnya kenapa?"

"Apa dia nggak mencurigaimu?"

"Aku selalu berusaha untuk tampil seperti manusia, dan aku cukup berhasil melakukannya. Kau tahu sendiri kan gerak-gerikku sangat alami. Kau tenang saja."

Ryeowook mendecak karena Jongwoon terdengar menyebalkan. "Yah, dari mana kau mendapatkan baju-baju ini?" tanyanya sambil memukul betis Jongwoon. Vampir itu mengenakan kaus distro warna hitam dan celana jins selutut. "Jangan bilang kau mencurinya."

"Itu adalah hal terakhir yang akan kulakukan untuk mendapatkan barang," decih Jongwoon. "Ada petugas yang mengurusi para vampir di Bumi. Selama seorang vampir tidak mempunyai catatan buruk selama di dunia vampir atau minimal enam bulan di dunia manusia, kami bisa mendapatkan segala sesuatu dengan gratis. Uang, pakaian, makanan, minuman, bahkan wine."

"Tapi bukannya kau belum dua minggu di sini?"

Jongwoon mengangkat kedua bahunya dan melebarkan matanya. "Pangkatku tinggi! Sekali-sekali aku harus memanfaatkannya."

"Jadi… kau benar-benar pangeran?" tanya Ryeowook, dan Jongwoon harus terkejut karena nada Ryeowook berubah saat menanyakannya. Nada yang tidak menunjukkan rasa senang, tapi Jongwoon tidak tahu apa.

"Kau tidak perlu menanyakannya seolah itu hal yang spesial, oke? Yang berbeda dari kami hanyalah kelelawar. Pangeran dari kelelawar langka, sisanya dari kelelawar biasa. Di dunia vampir ada lebih dari 3000 vampir pangeran yang sama denganku. Tidak ada hebatnya."

"Tapi orang-orang yang waktu itu kelihatannya sangat ingin bertemu denganmu, ada apa?"

"Vampir pangeran punya kekuatan khusus yang tidak dimiliki vampir biasa. Mereka cuma menginginkan kekuatan itu."

Ryeowook tidak terlalu mengerti, tapi ia tetap mengangguk, lalu berdiri dan kembali ke meja makan untuk melanjutkan acara membacanya yang sempat terhenti.

oooooooooooooo

"Sung! Min! Hyung!"

Sungmin nyaris berteriak sewaktu Donghae memeluknya dari belakang dan membuatnya membungkuk sampai hidungnya nyaris menyentuh lututnya. Ia menoleh dan menemukan Donghae tersenyum begitu lebar dan memperlihatkan gigi-giginya yang bersih. Donghae melompati sandaran kursi dan duduk di sebelah Sungmin.

"Belum masuk kelas?" tanya Sungmin.

"Belum, jam rumahku mati. Ternyata kelas pertama hari ini jam 2 siang," jawab Donghae santai. Ia meletakkan pergelangan kakinya di atas lututnya yang lain dan mengaitkan jari di belakang kepala.

Sungmin menatap Donghae, lalu melihat jam tangannya. "Donghae-ah, apa kau tahu kalau sekarang ini masih sekitar jam delapan?"

Donghae menatap Sungmin, menegakkan posisi duduknya dan memukul bagian atas lututnya. "Tentu saja aku tahu! Bagaimana mungkin aku tidak melihat jam dinding yang kebetulan ada di atas lokerku! Hari ini benar-benar lucu." Donghae menggeleng-geleng.

"Lalu kau mau menunggu enam jam?" tanya Sungmin, heran karena Donghae terlihat cuek.

"Tentu saja karena Hyung akan menemaniku! Ayo ke toko waffle!" Donghae tiba-tiba berdiri dan menarik tangan Sungmin, tetapi Sungmin menahannya. "Kenapa, Hyung? Kau sudah menendang kata waffle dari daftar makanan manis kesukaanmu?"

"Tidak—tentu saja tidak. Aku ada kelas jam setengah sembilan. Aku duduk di sini karena dekat kelasku."

"Juga karena anginnya enak dan cuacanya bagus."

"Ya, itu juga."

"Terus aku sendirian dong? Masa harus pulang lagi? Gaaaaahh!" rengek Donghae sambil menutup wajahnya.

"Rumahmu kan dekat. Pulang sajalah."

Donghae cemberut dan mengacak-acak rambutnya. "Ya sudah. Aku pulang kalau Hyung sudah masuk kelas."

Mendengar itu, Sungmin tak punya pilihan kecuali tersenyum. "Memang Hyukjae tidak bisa menemanimu?"

"Dia sedang sibuk latihan untuk lomba bulan depan. Aku tidak mau mengganggunya."

Sungmin hanya mengangguk-angguk, lalu setelah itu mereka terdiam dan pembicaraan tidak berlanjut. Di kepala Sungmin hanya ada masalah Kim Jongwoon yang ternyata vampir yang ramai dibicarakan para vampir, dan Kim Ryeowook yang tak mengetahui identitas aslinya sebagai vampir. Di satu sisi, Donghae menyiulkan lagu kesukaannya belakangan ini dan tersenyum sewaktu adik kelasnya melambai padanya.

"Donghae-ah," panggil Sungmin.

"Hmm~?"

"Kalau misalnya… aku mempunyai rahasia yang kusembunyikan darimu. Lalu ternyata Hyukjae juga merahasiakan hal yang sama. Kau tahu rahasia milik Hyukjae, tapi tak tahu rahasiaku. Tetapi aku dan Hyukjae tahu mengenai rahasia masing-masing. Bagaimana menurutmu?"

"Engg… aku tidak mengerti," jawab Donghae polos.

"Ugghhh…" Sungmin mengerang tidak sabar. "Begini! Hyukjae kadang suka nonton porno, kan? Katakanlah aku diam-diam juga melakukannya. Lalu pada akhirnya aku sering pergi berdua dengan Hyukjae untuk nonton porno di warnet. Bagaimana perasaanmu?" jelas Sungmin dengan cepat, sebisa mungkin memelankan suaranya.

Mendengar itu, bukannya menjawab, Donghae justru melompat ke atas kursi dan berjongkok. Matanya melotot dengan penuh rasa horor. "Sungmin Hyung… aku rasa aku harus mempertimbangkan untuk menjadi temanmu atau tidak! Maafkan aku tapi kau sendiri yang bilang!" jeritnya histeris.

"Itu hanya permisalan, Lee Donghae! Pikirkan intinya saja, bukan—bukan yang lain!"

"A… ah, begitu. Iya, iya." Donghae perlahan-lahan turun dan duduk seperti semula. "Umm… kalau kalian punya rahasia yang sama sebenarnya tidak masalah… kalau kalian sekali-sekali bertemu untuk berbagi rahasia kalian itu juga tidak apa-apa…"

"Jadi, kau tidak keberatan?"

"Bukannya tidak keberatan, sih… ada sedikit rasa keberatan, tapi tidak tahu kenapa." Donghae menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya. "Kenapa, ya?"

"Kalau kubayangkan sendiri, itu juga agak sulit dijelaskan, sih…"

Sungmin menghela napas lelah dan berpikir bagaimana cara meluruskan hal-hal mengenai vampir kepada Ryeowook. Dia sulit mencari jalan keluar dan merasa terbebani entah karena ia tidak bisa menceritakan hal ini pada semua orang, atau saat ini ia tidak punya kenalan vampir lain, atau ia tidak tahu bagaimana cara bertemu Jongwoon tanpa dicurigai Ryeowook.

"Kalau begitu, aku masuk kelas dulu, ya. Kau pulanglah. Hati-hati." Sungmin mengusap kepala Donghae, lalu berjalan ke arah kelasnya. Mata Donghae terus mengikuti kakak kelasnya itu sampai ia menghilang ke dalam kelas. Donghae tersenyum sedikit, lalu mendecih.

"Bisa-bisanya menyembunyikan masalah seperti itu. Kenapa harus curhat dengan tersirat begitu, sih? Aku kan bisa jaga rahasia. Aku yakin dia sedang mengalami masalah seperti yang baru ditanyakannya itu. Tapi itu rumit juga, yaaa…"

Donghae hanya berdiri, lalu mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya sembari berjalan. Ia membuka daftar kontak dan mengklik nama Kim Ryeowook.

oooooooooooooo

Kim Ryeowook, terdiam dengan cangkir teh di tangannya.

Lee Sungmin di depannya, menatapnya, juga dalam diam.

Keheningan sejak 15 detik yang lalu ini disebabkan oleh pertanyaan kalem Sungmin, "jadi kau punya pacar? Pria yang bertemu denganku di depan waktu itu."

Ryeowook menurunkan cangkirnya dan bagian bawahnya berdenting pelan saat menyentuh permukaan meja yang dilapisi kaca. Ia memangku wajahnya dengan satu tangan, lalu menggeram kesal. Ia bingung bagaimana menjelaskan semuanya. Padahal pertemuan pertamanya dengan Jongwoon saja sudah aneh.

Masa dia mau bilang, "jadi pertama dia mengambil dompetku untuk memastikan bahwa akulah orang yang ditakdirkan untuknya. Setelah itu, pada pagi hari saat aku bangun, dialah orang pertama yang kulihat. Begitu tampan dan bercahaya! Hari-hari berikutnya kami jalani bersama, dia terus menempel padaku seperti perangko di kartu pos! Dunia serasa milik kami berdua saat aku sedang bersamanya. Kau pasti tidak tahu betapa romantisnya kami, Hyung! Huhuhuhu~"

Ryeowook ingin meludahi pikirannya sendiri. Memangnya dia gadis SMA?!

"Jadi…" Ryeowook memulai. "Kami bertemu sekitar dua minggu yang lalu. Karena suatu hal, kami harus terus bersama-sama. Aku kurang bisa menjelaskan padamu karena ini di luar dugaan dan sedikit rahasia, tapi untuk sementara hanya itu yang bisa kuberitahukan padamu."

Ia bahkan hampir tak percaya bisa merangkum drama satu paragraf menjadi tiga kalimat tak meyakinkan.

"Ah," respon Sungmin sambil mengangguk pelan. "Begitu, ya."

Lee Sungmin, yang sudah tahu kenyataannya, diam saja. Dia memang tak tahu bagaimana Ryeowook dan Jongwoon bertemu, atau seperti apa mereka sehari-hari karena sewaktu ia bertemu dengan Jongwoon, ia tidak menanyakannya karena terlalu gugup dan Jongwoon sama sekali tidak membicarakan hal itu.

"Jadi… sebenarnya kau ini pacarnya atau bukan?" tanya Sungmin kalem. Ryeowook membelalak.

"Kenapa kau penasaran sekali, sih, Hyung?! Memangnya kau mau tulis artikel tentang itu?!" bentak Ryeowook tak sabar sambil memukul meja dengan kedua telapak tangannya. Sungmin tersentak sedikit karena kaget. Ryeowook melirik kanan-kiri, sadar kalau seisi café sedang memperhatikannya. Dia langsung menunduk ke orang-orang sekelilingnya sambil meminta maaf. Dia lalu menunduk sambil menatap Sungmin. "Maaf, Hyung."

Sungmin mengedikkan bahu sambil mengangkat cangkir dengan kedua tangannya. "Tak apa. Sudah biasa."

Ryeowook langsung mengangkat kepalanya sambil mengernyit. "Memangnya aku sering memarahimu?"

"Bukan marahnya yang sering. Tapi menjeritnya," jawab Sungmin kalem sambil meminum tehnya.

Jawaban itu cukup untuk membuat Ryeowook menjatuhkan kepalanya ke atas meja.

oooooooooooooo

Kim Ryeowook, berjalan ke arah gerbang.

Ia menguap karena terlalu lama terjebak di ruangan yang sama selama berjam-jam. Sebenarnya mesin penghangat di ruangan itu bekerja dengan baik, tapi terlalu banyak orang yang juga mengerjakan laporan dengannya di sana membuat suasana menjadi sumpek. Berebut oksigen dengan orang-orang yang tidak dia kenal adalah salah satu hal yang dibenci Ryeowook.

Tanpa sadar, ia tersenyum melihat rambut merah menyembul dari balik gerbang. Belakangan ini, vampir dengan rambut merah yang bersandar di gerbang kampusnya setiap ia pulang adalah satu hal yang selalu ia tunggu.

Berusaha berjalan sepelan mungkin, Ryeowook mendekat ke arah gerbang dan dengan kedua tangan di depan, berusaha mencapai bahu pria itu.

"WAA!" jerit Ryeowook sambil mendorong bahu Jongwoon. Melihat pria itu tersentak dan melotot kaget, Ryeowook tertawa. "Wahahaha, kau kaget ya? Kaget ya kaget ya kaget ya?" katanya girang sambil tertawa lagi.

"Aku kaget karena nggak tahu kau mau mendorongku. Tapi aku sudah tahu kau berjalan mendekat begitu," jelas Jongwoon kalem.

Mendengarnya, Ryeowook langsung cemberut. "Kenapa bisa begitu?"

Jongwoon menghela napas. "Aku tahu kau di jurusan seni, tapi apakah kau tidak pernah belajar IPA sebelum kuliah? Kau tahu mengenai ekolokasi kelelawar, kan?"

Tidak ada jawaban. Yang Jongwoon dapat hanya kerutan di dahi Ryeowook karena ia mengernyit bingung. "Apa itu?"

"Apa aku harus menjelaskan dari awal? Kau tahu bagaimana kelelawar bisa terbang dengan mulus di kegelapan malam di antara pepohonan, kan?" Jongwoon menyatukan telapak tangannya dan menggerakkannya ke kanan dan kiri seperti gelombang. "Apa kau tidak penasaran kenapa mereka tidak menabrak sama sekali? Itu karena mereka mempunyai kemampuan ekolokasi. Mereka bersuara. Suara memantul dan terdengar. Barulah terasa mana benda yang jauh, mana benda yang dekat, dan mana orang menyebalkan yang sedang mendekat untuk mengagetkanmu," jelas Jongwoon sambil menuding Ryeowook dengan telunjuknya.

"Bukannya harus memancarkan bunyi berfrekuensi tinggi dulu baru bisa memantul? Kau kan daritadi diam saja. Apa yang kau pancarkan?" tanya Ryeowook.

"Kau mengerti arti frekuensi tinggi, nggak sih? Semakin tinggi frekuensi suatu suara, semakin tidak terdengar oleh manusia. Bukannya semakin tinggi semakin terdengar. Aku cukup menggumam atau bersenandung dan semuanya akan memantul padaku."

"Apa kau tidak lelah kalau terus-terusan bersuara begitu?"

"Di sinilah istimewanya. Karena pada umumnya jarak pertahanan vampir cukup jauh, jadi dalam kondisi diam, tubuh vampir akan mengeluarkan gelombang khusus dan akan memantul lagi. Mirip dengan ekolokasi. Tapi! Semakin sedikit gerakan pada tubuh seorang vampir, semakin kuat gelombang yang dikirim dan diterima. Semakin terasa benda-benda di sekitar. Semakin peka terhadap gerakan. Jadi tidak harus bersuara. Diam saja cukup."

"Aku tidak berharap diceramahi panjang lebar begini, sih."

"Mau aku memutar waktu di mana aku belum menjelaskannya?"

Ryeowook membelalak kaget. "Kau bisa melakukannya?"

"Tidak. Jarang sekali ada vampir yang menguasai sihir ruang dan waktu. Terlalu rumit." Ryeowook makin cemberut mendengarnya. "Sudah yuk, pulang," ajak Jongwoon sambil merangkul Ryeowook.

"Minum kopi dulu, yuk. Ada café baru yang enak lho dekat stasiun," ajak Ryeowook sambil tersenyum.

"Serius? Baiklah, kita minum dulu," sahut Jongwoon dan menarik Ryeowook berjalan ke arah halte.

oooooooooooooo

Tengah malam itu, apartemen yang tadinya sepi dan penuh orang-orang tidur tiba-tiba jadi ramai. Sebuah pasukan yang bukan manusia memasuki area itu tanpa diketahui satpam sama sekali. Kaki-kaki mereka berjalan tanpa menimbulkan suara yang bahkan lebih keras dari suara kertas yang dibalik di ruangan sepi.

Mereka berhenti di depan sebuah pintu bernomor 503 di lantai paling atas, dengan seorang wanita berdiri dengan penuh percaya diri paling depan. Seseorang di belakangnya merusak kenop pintu dan pintu itu berderit terbuka.

Begitu terbuka, terlihat seorang pria yang hanya memakai celana hitam panjang, berdiri 3 meter di depan televisi, tangan kanan memegang cangkir kopi dan tangan kiri memegang remote. Ia mengangkat satu alis melihat banyak orang di depan pintunya. Dalam sekali lihat ia sudah tahu mereka bukan manusia, mereka vampir. Tapi ia diam saja dan menunggu apa yang akan mereka lakukan. Entah mengacak-acak rumahnya, mengambil sesuatu, menyerangnya, meminta uang untuk beli rokok, atau duduk di sofa dengan baik-baik lalu mengajaknya ngobrol semalaman. Yang mana saja ia tidak keberatan, karena ia pasti akan meladeni mereka.

Wanita yang berdiri di ambang pintu mengisyaratkan orang-orang di belakangnya untuk masuk. Di luar dugaan, mereka masuk dengan rapi. Masing-masing empat orang di sisi kanan dan sisi kiri wanita itu secara berjejer memanjang di depan tembok. Pria itu menatap mereka bingung, tapi ia hanya meminum kopinya.

Melihat wanita yang begitu cantik dengan dress berlengan panjang dengan bagian bawah hanya mencapai pertengahan pahanya, make up yang tidak sederhana tapi tidak berlebihan, rambut yang dibuat bergelombang sedemikian rupa, membuat pria ini ingin menariknya ke kasur lalu bercumbu sampai pagi. Tapi ia berusaha menepis pikiran itu karena…

"Jangan berpikir untuk menarikku ke kasur lalu bercumbu sampai pagi, Kim Kibum. Aku tak menyangka kau begitu mesum," ujar wanita itu tajam.

…wanita itu adalah Kim Hyuna dari klan Broisk. Tak ada klan vampir atas manapun yang mampu menandingi kemampuan klan ini dalam membaca pikiran. Kibum, yang sedikit terkejut biarpun sudah tahu pikirannya akan terbaca saat ia sadar siapa wanita di depannya ini, sama sekali tidak terlihat malu karena pikiran kotornya barusan. Wajar bagi seorang pria untuk berpikir seperti itu sesekali. Dengan tenang ia tersenyum, meminum kopinya dan mematikan televisi.

"Aneh sekali vampir seperti anda datang berkunjung seperti ini. Tapi," Kibum berhenti untuk membungkuk pelan, "senang bertemu anda, Kim Hyuna Gongjunim."

Tanpa bicara apa-apa, Hyuna berjalan ke arah sofa dan duduk di sana. Wanita itu meletakkan satu kaki di atas kaki yang lain, bersedekap, dan menunjuk sofa di depannya dengan dagu, mengisyaratkan Kibum untuk duduk di sana.

Kibum terlihat ragu. "Apa saya harus pakai baju dulu—"

"Duduk saja," potongnya.

Ia baru mau melangkah saat ia melirik cangkirnya. "Apa anda butuh teh atau—"

"Aku hanya butuh kau duduk di depanku sekarang, Kim Kibum," potong Hyuna lagi dengan tidak sabar.

Secepat mungkin Kibum meletakkan cangkir kopi dan remote di meja sebelah tv lalu berjalan ke arah sofa dan duduk di depan Hyuna dengan tegang dan gugup. Ia sudah tahu, semakin tenang seorang vampir yang lebih kuat daripada kau, semakin berbahaya dia. Vampir yang tenang adalah vampir yang berbahaya. Saat sedang bertarung dan mereka tenang, pikiran mereka fokus, dan kekuatan mereka terkendali, adalah saatnya kau ucapkan selamat tinggal pada kehidupan dunia.

"Ada yang bisa saya bantu… Gongjunim?" tanya Kibum gugup.

Melihat situasi menjadi kaku, Hyuna mendecak kesal. "Aku ke sini hanya mau tanya-tanya." Kibum meliriknya. "Aku tahu kau bukan vampir informan, aku hanya bertanya hal-hal yang sekiranya kau tahu saja. Jadi duduk biasa saja dan jawab pertanyaanku dengan santai."

Kibum yang tadinya duduk tegak, membungkukkan badannya sedikit, melebarkan kakinya, mengaitkan jari-jarinya dan meletakkan lengannya di atas pahanya. "Silakan, Gongjunim."

"Aku sudah dengar semuanya. Dari orang-orang di bar, dari Wu Yi Fan, dari bartender. Aku ingin tanya soal Kim Jongwoon Wangjanim yang sudah kau temui."

"Saya… memang bertemu dengannya, Gongjunim. Saya sempat mengikutinya saat dia sedang bersama manusianya, lalu saat ia sendiri, saya mengancam akan melakukan sesuatu pada manusianya. Saat itu dia… menghipnotis saya dan saya demam selama 4 hari," jelas Kibum.

"Pertemuan pertama yang fantastis. Lanjutkan."

"Selang beberapa waktu, saya mencari tahu mengenai manusia yang bersama Kim Jongwoon wangjanim. Saya bersama Kim Junsu menghadangnya. Saat itu ternyata dia tidak sedang bersama wangjanim, jadi kami hanya menghajarnya dan bermaksud mengisap darahnya sampai mati. Tapi wangjanim keburu datang dan balik menghajar kami sampai pingsan. Saat sadar, mereka sudah tidak ada di sana."

Hyuna mengangguk-angguk. "Cerita yang bagus," ujarnya, terdengar tidak terkesan sama sekali. "Info apa yang kau punya tentang Kim Jongwoon?"

"Dia… tinggal dengan seorang manusia bernama Kim Ryeowook, mahasiswa di universitas K. Menurut vampir lain, wangjanim sering pergi ke kantor pengurus di siang hari. Kadang ia minta baju atau uang, kadang hanya datang untuk ngobrol."

"Uhhh… aku benar-benar tidak peduli soal manusianya. Aku hanya ingin tahu soal Kim Jongwoon. Seperti apa dia?"

"Ah, sebentar." Kibum mengeluarkan ponsel dari kantung celananya, menyeret-nyeret jemarinya di atas layar sampai menemukan foto Kim Jongwoon fullbody yang sedang berjalan di trotoar dan menyerahkan ponselnya pada Hyuna.

Hyuna mengambil ponsel itu dan menatap fotonya dari kepala sampai kaki, lalu meletakkan dua jari di atas layar dan menyeretnya ke dua arah yang berbeda untuk memperbesar fotonya. "Aku cukup terkejut," ujarnya. "Dia memang setampan yang orang-orang bicarakan. Bagaimana seorang vampir yang terkurung 10 tahun di dunia vampir dengan balutan kemeja dan jubah yang sama bisa mempunyai fashion sense yang sebagus ini," celoteh Hyuna sambil mengembalikan ponsel Kibum. "Tiba-tiba aku tertarik pada manusianya. Seperti apa dia?"

"Ah… hanya… lelaki bertubuh kecil yang kurus dan lemah. Tidak bisa apa-apa dan cengeng. Tapi… justru karena itu, saya yakin Kim Jongwoon wangjanim mau melakukan apapun untuknya."

"Hm… sepertinya aku harus memanfaatkannya juga," ujar Hyuna sambil menyentuh bibir bawahnya dengan kukunya yang dinail art, senyumnya begitu licik sampai Kibum takut melihatnya.


A/n:Halohaaaa :D I'm baack~
Cerita yang ini panjang juga ya, hampir 4000 kata ._.
Tapi untung isinya bisa banyak, dan Yewooknya udah lebih akrab di sini hehehe

Ohiya, ngomong-ngomong buat chap ini saya nambahin beberapa karakter ya :3 waktu itu sih ada reader yang minta tokohnya member suju semua, tapi maaaaaffff banget :( saya gabisa kalo cuman dari member suju, karena saya butuh banyak tokoh yang jahat, sementara ga semua member suju mukanya jahat (?)

Kenapa saya milih 4Minute Hyuna?:33
Menurut saya tampilannya diatu antagonis banget kalo lagi manggung. Kaya cewe ningrat yang arogan. Agak berat bikin dia jadi karakter jahat di sini, soalnya kan dia aslinya aga aga pendiem:( tapi tolong jangan jadi benci sama Hyuna karena saya pribadi sukaaa banget sama dia:D saya juga suka Troublemaker:33 Tell me now now now~ wuu~ /joget/

Kenapa EXO Kris?
Ehehehe gatau /APPPAAAAHH/
Jujur, dari awal EXO debut saya ga ngikutin sama sekali. Saya ga ngerti membernya, lagu-lagunya, albumnya dan lain-lainnya. Tapi waktu mau bikin chapter ini, "GUE BUTUH TOKOH COWOK YANG JAHAAAATTT! TAPI SIAPAAAAHH!"
Karena kebetulan saya fans SMTown jadi saya coba cari orang SM yang saya tau. Tapi kok ga ada yang mukanya licik gitu?
Akhirnya karena EXO itu satu-satunya grup SM yang saya gatau, saya googling daftar member EXO K dan M, terus saya search gambar mereka satu-satu. Ada yang ganteng, ada yang imut… setelah saya search semua, saya putuskan buat memakai Kris sebagai tokoh baru di cerita ini, hehe:3 dia ganteng yah. Ya bukan berarti saya bilang dia jahat juga sih, tapi mukanya kan tajem (?) gitu.
Jadi sekarang juga saya baru mulai nyari-nyari tau tentang EXO, dan yang masuk nominasi (?) bias baru saya itu Kai, Luhan, Kris, DO hehe :3 ada saran member lain? Trus juga saya lagi mempertimbangkan buat ngeship Kaisoo, hehe, ada saran couple lain? xD ada gak couple kayak yewook di EXO?

Terus…
Udah beberapa chapter saya menemukan protes/kritik/saran dari pembaca soal…
Bahasa yang baku dan bahasa yang tidak baku
Emang, sih, kalo diliat-liat agak aneh. Semacam gak konsisten dalam gaya penulisan mungkin?
Kalo di sini yang jelas, kalo ada vampir bawah yang ngomong sama vampir atas, itu harus pakai 'saya' dan 'anda.' Gak boleh ninggiin suara, gak boleh emosi. Secara mereka bangsawan… terus juga kalo manggil nama harus pake akhiran wangjanim (pangeran) atau gongjunim (tuan puteri).
Tapi kalo antar vampir yang statusnya sama, masa engga boleh pake ga baku? Yaa maaf deh kalo ga sesuai harapan kalian. Tapi saya mau karakter-karakter saya ngobrol dengan santai, bukannya saya ga konsisten pake bahasanya. Maaf ya:)
Makanya kalo di chap kemaren percakapan antara Jongwoon dan Sungmin agak aneh karena Sungmin kudu pake bahasa baku ke Jongwoon dan Jongwoon terserah mau ngomong kaya gimana juga

Eh ada juga kata 'kamu' keselip ya:3 itu ada yang gasengaja, males ah ngeditnya biarin aja hahaha

Tambahin lagi! (panjang bener nazz)
Q:Sungmin tahu gak kalo itu Yesung (Jongwoon ajadong LOL) waktu ketemu di gerbang sekolah?
A:Ya gataudoooonxx kan mereka baru pertama ketemu:3 tapi seengganya Sungmin tau kalo dia vampir karena ada bau vampirnya. Dan karena Jongwoon kenal sama Ryeowook, Sungmin jadi curiga sama diaa~

Q:Kok bau vampir di tubuh Jongwoon udah tipis? Kan dia baru sebentar di dunia manusia?
A:Kalo ini sebenernya udah saya pikirin, tapi dapet review kaya gini… kok jadi bingung lagi-,…,-

Jongwoon itu biarpun di dunia vampir diem banget, tapi dia sebenernya sociable. Jadi waktu Ryeong lagi kuliah, Jongwoon gabisa dong diem aja di rumahnya Ryeong.

Di chap ini kan dijelasin kalo dia kadang ke kantor pengurus buat minta duit. Buat beli apa? Kenapa tiba-tiba dia punya banyak baju? Jadi dia beli bajuu! Ini sifat aslinya dia, suka belanja:3
Kalo lagi belanja, pasti harus interaksi sama banyak orang, kan? Bau manusia yang banyak itu nutup bau vampirnya dia. Nah, di chap sebelumnya juga dijelasin, 'pakaian yang dikenakannya sering Sungmin lihat di department store, bukan pakaian dari dunia vampir.' Naah, kalo 'pakaian dari dunia vampir' ini berarti pakaian dari kantor pengurus yang pastinya berbau vampir. Sebenernya model-modelnya sama aja, tapi lebih fleksibel kalo beli sendiri dong:3 pakaian yang gak berbau vampir ini juga nutup baunya dia sendiri~

Trus juga, vampir asli itu biasanya gayanya sederhana. Tapi kalian tau sendiri kan ya Yesung kalo dandan kaya gimana -_- eyeliner tebel, antingan, kalungan, cincin pake langsung 3, gelang banyak banget sampe siku (?).Keroyokan dah kalo dandan. Dia juga pake parfum kebanyakan, jadi bau vampirnya makin ketutup.
Nah karena udah bisa berpenampilan kaya manusia itulah Sungmin ngira Jongwoon udah lama banget di dunia manusia, padahal itu emang sifat asli dari sebelum Jongwoon jadi vampir:3

Q:Itu cerita vampir yang di awal emang beneran atau cuman karangan author?
A:Yaa karangan saya lah -_- kalau cuman mengandalkan cerita vampir asli mungkin akan sangat membosankan-_-

Yaa pokoknya mulai sekarang saya akan berusaha menjawab pertanyaan yang gak bisa terjawab di cerita lewat QA di a/n yaa:3 /lalu chapter depan ga ada yang nanya/ /ditinggalin/
Buset panjang amat ini a/n, udah 800 kata kaliya hahaha
Yaudah gitu aja, ntar a/n sama cerita panjangan a/n lagi wkwk

Makasih buat yang udah nyempetin baca, terutama yang nyempetin review :B