Title:Those Creepy Fangs – Crisis
Author:nanaspineapple
Pairing:Yewook
Genre:Supernatural, drama
Rating:T
Disclaimer:Kesamaan nama tokoh memang disengaja
Summary:Didatangi dan dicintai makhluk bertaring pengisap darah bukan salah satu dari cita-cita seorang Kim Ryeowook, tapi itu karena dia tidak tahu takdir macam apa yang sudah disusun untuknya.


CHAPTER 9 – Crisis

Seoul, pukul 3 pagi.

Kim Ryeowook masih tidur dengan nyaman dan hangat di kasurnya. Sudah masuk pertengahan musim gugur dan cuaca semakin dingin, jadi dia harus menambahkan satu lembar selimut lagi beberapa minggu yang akan datang.

Di atas sofa, ada Kim Jongwoon yang sama sekali tidak tidur. Pada dasarnya, vampir tidak terlalu butuh tidur. Kecuali jika energi mereka benar-benar habis dalam pertarungan atau mengunakan sihir terlalu banyak, barulah mereka butuh tidur karena tidur adalah satu-satunya saat di mana vampir benar-benar tidak bergerak dan mengeluarkan energi apapun. Selain saat tidur, mereka akan terus mengeluarkan energi meskipun diam saja.

Di tangan Kim Jongwoon itu ada sebuah botol kecil, botol yang tadinya penuh berisi cairan ungu kehitaman. Sari anggur. Sekarang botol itu kosong karena ia sudah meminumnya 6 hari yang lalu, dan sampai sekarang ia masih galau. Ia tidak punya pilihan selain mengonsumsi sari anggur itu untuk bertahan hidup. Ia galau karena tidak tahu mau minta lagi ke Petugas Sumber Daya di Kantor Pengurus atau tidak. Biarpun ia Pangeran dengan status tertinggi sejagat Dunia Setan, tapi kalau melanggar aturan tetap saja akan dimarahi. Dari awal ia sudah diperingatkan untuk hanya minum 4 botol selama satu bulan dan tidak boleh minta lagi. Tapi black wine dan darah manusia selain Ryeowook adalah pilihan terakhir Jongwoon di dunia ini.

Jongwoon menggenggam botol itu, lalu mengangguk. Ia akan pergi ke Kantor Pengurus nanti.

oooooooooooooo

"Terimakasih, ya," ujar Ryeowook begitu ia sampai di depan gerbang sekolahnya.

"Iya. Belajar yang serius," kata Jongwoon sambil tersenyum. Ryeowook balas tersenyum padanya.

"Tentu saja!" Ryeowook mengepalkan tangannya. "Eh, oh iya. Nanti nggak usah jemput aku, ya."

"Hm? Kenapa?"

"Aku pulang malam sekali. Tapi nanti aku diantar Sungmin Hyung, kok. Kau di rumah saja. Ya?" pinta Ryeowook.

"Ya, sudah kalau Sungmin memang akan mengantarmu…" ujar Jongwoon sambil mengedikkan bahu. Lalu ia tersenyum lagi. "Kalau begitu, sampai nanti malam," pamitnya sambil melambaikan tangan.

"Sampai nanti malam. Hati-hati, ya."

Jongwoon memberi Ryeowook anggukan terakhir sebelum benar-benar memalingkan wajah dan berjalan lebih cepat ke arah Kantor Pos Kota di mana Kantor Pengurus tersembunyi di sana. Setelah menyeberangi jalan, ia pergi ke sisi gedung tersebut di mana ada sebuah pintu yang sudah tidak terpakai. Di sebelah pintu tua itu ada sebuah eye scanner. Dengan cepat Jongwoon melepas sebelah lensa kontaknya dan memposisikan matanya di depan scanner tersebut. Setelah terkonfirmasi bahwa Jongwoon memang seorang vampir, terdengar suara klek yang berarti pintunya sudah terbuka. Jongwoon memasang lensa kontaknya lagi, tersenyum, lalu masuk ke dalam.

Walaupun dari dalam pintu itu terlihat akan membuka gudang sempit tak terpakai yang penuh barang rongsok berdebu dan jaring laba-laba tak terhitung, maka kali ini sebaliknya. Begitu pintu itu terbuka, maka akan terlihat koridor panjang dengan kursi di sisi temboknya—yang mana dipakai sebagai ruang tunggu para vampir. Interiornya mewah, lukisan-lukisan indah tergantung di temboknya, pencahayaannya diatur sedemikian rupa sehingga begitu romantis, lampu gantungnya begitu cantik dan membuat semua orang ingin membawanya pulang.

Jongwoon menyusuri koridor itu dan beberapa vampir berbisik-bisik melihatnya. Jongwoon sudah terbiasa dengan hal itu. Vampir yang berbisik-bisik berarti vampir yang jarang melihatnya datang kemari. Sisanya, berarti sudah akrab.

"Wangjanim! Apa kabar!" salam seorang vampir dengan ramah.

"Hei, apa kau ke sini untuk meminjam uang lagi?" goda Jongwoon. Vampir itu memerah dan meletakkan telunjuk di depan bibirnya—kaget karena Jongwoon mengatakannya keras-keras. Jongwoon hanya terkekeh dan melambai padanya sambil berjalan, dan vampir itu mengangguk padanya.

4-5 vampir menyapanya selama ia melewati koridor yang panjang itu. Koridor itu berakhir di sebuah hall dengan sebuah meja resepsionis yang besar, dua tangga yang bersebelahan dan menuju ke arah berbeda, serta counter pengambilan dan penerimaan. Jongwoon melenggang santai ke arah meja resepsionis.

"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang resepsionis tanpa tersenyum sambil melihat Jongwoon. Yang satu ini sudah umur 60-an, sudah mulai terlihat tua dan cerewet.

"Aku mau ke Petugas Sumber Daya," jawab Jongwoon.

"Sudah buat janji?"

"Sudah."

"Nama anda? Klan?"

Jongwoon memutar matanya. "Ahjumma, aku kan ke sini hampir tiap hari. Aku juga hampir selalu minta dilayani olehmu. Masa kau tidak ingat namaku, sih?"

"Nama anda? Klan?"

Jongwoon menghela napas. Ia lupa kalau ia sudah memutuskan untuk tidak berdebat dengan wanita ini. "Kim Jongwoon. Halfwing."

Wanita itu menginput nama dan klan Jongwoon di komputer di depannya, lalu mengangguk. "Kim Jongwoon-ssi dari Halfwing… janji dengan Pengurus Sumber Daya jam 12:00… ini jam… 11:55. Karena kosong, anda boleh masuk."

"Terimakasih, Ahjumma!" seru Jongwoon sambil berlari dan menaiki tangga ke lantai atas.

Resepsionis lain yang masih muda dan cantik menatap wanita itu dengan iri. "Kenapa ia selalu minta dilayani olehmu, ya, Sunbaenim? Jarang sekali dia berhenti di depan kami. Bahkan ia tanya-tanya soal toilet juga padamu. Aku iri sekali…"

"Iya, Sunbaenim. Kenapa dia bisa mengabaikan kami, ya? Menurutmu kenapa?"

Merasa kesal, wanita itu memukul meja. "Jangan tanya aku! Tanya saja sama dia!"

Resepsionis yang lain hanya terdiam dengan wajah mencemooh. Bekerja sebagai resepsionis di Kantor Pengurus, tidak boleh pilih-pilih pelanggan. Vampir dari kalangan atas atau bawah, semua harus dipanggil dengan embel-embel –ssi. Tidak boleh galak pada vampir bawah dan tidak boleh mengiyakan segala keinginan vampir atas. Kebanyakan vampir menganggap itu hal yang sulit. Makanya banyak yang mendaftar karena terlihat mudah, tetapi tidak lama mereka langsung keluar karena berkali-kali kelewatan membeda-bedakan vampir sesuai statusnya. Hanya wanita tua itu yang bertahan bekerja di sana selama 25 tahun, sementara sisanya tidak ada yang sampai 5 tahun. Bahkan banyak yang tidak serius mendaftar hanya bertahan 3-6 bulan.

Jongwoon membuka pintu Petugas Sumber Daya dan tersenyum. Di sana ada tiga orang vampir yang sudah tua, duduk di balik meja kayu panjang. Di depan meja itu ada sebuah kursi yang dikhususkan untuk vampir yang datang.

"Apa anda butuh pakaian lagi, Wangjanim?" tanya seorang petugas. Dia laki-laki, tampan, tinggi dan berisi. Ia sudah beristri dan punya empat anak. Jongwoon selalu merasa nyaman setiap petugas yang ini mengajaknya bicara karena dia sangat ramah.

"Tidak, Ahjussi. Aku ke sini mau memberi kejutan pada kalian," ujar Jongwoon sambil tersenyum.

"…dan apakah kejutan itu?"

"Aku kehabisan sari anggur. Mau minta lagi."

Ketiga petugas itu terdiam.

"Surprise! Kalian terkejut! Rencana kejutanku tidak pernah gagal," ujar Jongwoon, terdengar puas.

Petugas lain, laki-laki, berambut hitam panjang dikuncir dan berwajah jahat memijat pelipisnya. "Dengar, Wangjanim. Kami yakin sekali bahwa anda sudah diperingatkan untuk hanya minum empat botol sari anggur yang sudah dibawakan oleh Sesepuh sebelum anda dikirim ke sini. Tidakkah anda tahu bahwa hal itu tidak boleh anda langgar?"

"Hmm, bukannya nggak tahu, sih. Tapi rasanya tak ada pilihan lain selain itu. Beri aku satu botol lagi, dong. Aku ke sini untuk minta itu, bukan untuk dimarahi."

"Kim Jongwoon Wangjanim…" petugas yang lain mulai. Yang ini wanita, masih berumur 50-an dan masih cantik biarpun kulit wajahnya mulai kendur. Rambutnya yang pendek bergelombang mulai putih termakan usia. "Biarpun tubuh anda memiliki genetika terbaik dari seluruh vampir, tapi tubuh seluruh vampir memiliki batas yang sama, termasuk anda. Empat botol sari anggur selama empat minggu berturut-turut adalah batas maksimal. Jika diteruskan maka dampaknya akan berbahaya. Jika anda ingin melanjutkan penggunaannya, maka selingilah pemakaiannya dengan black wine atau darah manusia."

"Aku harus bilang berapa kali sih kalau black wine dan darah manusia selain Kim Ryeowook itu tak akan pernah kusentuh?" keluh Jongwoon kesal.

"Lagipula anda kan hanya bersumpah untuk tidak memaksa minum darahnya, anda harusnya minum darah manusia selain dia," ujar petugas tampan.

"Kau tuli? Aku hanya mau minum darahnya. Kalian tahu angsa? Angsa hanya punya satu pasangan seumur hidupnya. Kalau dia kehilangan pasangannya itu, mereka akan mati. Karena apa? Karena sakit hati. Bukankah itu sangat manis?" jelas Jongwoon dengan penuh kedramatisan.

"Tapi, Wangjanim. Kita ini vampir. Kita ini kelelawar," ujar petugas wanita.

"Bukan berarti kita tidak bisa menyontoh perilaku dari jenis lain. Selama itu bagus dan bisa memberi pelajaran, ditiru itu bukan masalah. Sudahlah, berikan saja aku sari anggurnya lagi. Aku ke sini bukan mau diceramahi, tahu," protes Jongwoon sambil berdiri.

Petugas gondrong mengetik sesuatu di atas layar sentuh di permukaan mejanya. "Sudah kukirim pesannya ke bawah. Ambil ke counter pengambilan."

"Okee! Terimakasih, ya. Aku pergi dulu," pamit Jongwoon sambil berjalan ke pintu keluar.

"Wangjanim, satu hal lagi," ujar petugas tampan tiba-tiba, membuat Jongwoon berhenti, "dengarkan apa yang dikatakan petugas di bawah dengan baik. Jika ada nasihat, dengarkan dan lakukan. Jika ada larangan dan ancaman, mengertilah dan jangan lakukan. Mengerti?"

"Aku mengerti~ ahjussi! Tak perlu khawatir. Sudah, ya. Aku cinta kalian~"

Ruangan itu langsung sepi begitu Jongwoon keluar. Hampir bersamaan, ketiga petugas itu menghela napas lelah. Kalau di bagian resepsionis semuanya diperlakukan dengan sama, maka di petugas-petugas lain tidak. Misalnya di bagian Sumber Daya ini. Mereka melayani semua vampir, mereka juga akan memberikan apa yang vampir minta. Hanya saja, keinginan vampir atas lebih diutamakan. Jika mereka minta sesuatu dan alasan mereka masuk akal, maka akan langsung diberi. Tetapi jika vampir bawah minta sesuatu, maka ada syaratnya—seperti yang pernah dikatakan Jongwoon, tidak boleh ada catatan buruk selama di Dunia Vampir dan minimal enam bulan di Dunia Manusia. Selain itu, alasannya tidak hanya harus masuk akal, tapi juga meyakinkan dan ada dampaknya. Jika tidak, maka tidak akan diberi.

"Aku heran bagaimana sifat anak itu bisa berubah dalam waktu sebulan," ujar petugas gondrong.

"Tidak sopan kau menyebutnya 'anak itu,'" tegur petugas wanita.

"Tapi aku setuju, kok. Waktu pertamakali datang ke sini bertanya soal Dunia Manusia… dia masih cukup polos. Sangat pendiam, tapi juga sangat keren. Gayanya kalem dan sederhana tapi dari sudut pandang tertentu masih sangat stylish. Sekarang dia lebih banyak bicara, lebih murah senyum, lebih suka menyangkal… tapi soal keren dan stylishnya sih sama saja," jelas petugas tampan sambil tersenyum.

"Perkembangannya cukup cepat dan itu bagus," tambah petugas wanita.

"Katanya setiap dia baru keluar ruangan yang ada orang-orangnya, pasti akan langsung dikomentari," ujar petugas gondrong tiba-tiba. Dua petugas lainnya hanya senyum-senyum malu.

Sementara itu, Jongwoon, sedikit berlari menuruni tangga. Ia berjalan menuju kursi yang menempel pada dinding, dan ia memilih kursi yang paling dekat dengan counter. Sambil menunggu namanya dipanggil, ia hanya bersenandung pelan.

"Kim Jongwoon-ss—eh, aduh." Jongwoon menoleh dan tersenyum. "Kim Jongwoon Wangjanim!" Jongwoon segera berdiri dan berjalan menuju counter pengambilan. Petugas di sana menggigit bibirnya dengan gugup. Sekali lihat, Jongwoon tahu dia orang baru. Dia masih sangat muda, rambutnya cokelat lurus dikuncir di belakang kepalanya. "Maafkan saya, Wangjanim," pintanya.

"Mana barang-barangku?" tanya Jongwoon.

"Ini, Wangjanim." Petugas itu menyerahkan sebuah kotak kecil. "Isinya satu botol sari anggur dan sebuah jarum suntik. Kali ini jangan dikonsumsi melalui mulut karena akan bahaya untuk bagian dalam perut anda. Jadi pompa ke dalam tabung suntik dan suntikkan ke tubuh anda. Di tabungnya ada tiga garis, isi sampai garis kedua saja. Jarum suntiknya digunakan berkali-kali tidak apa-apa, yang penting yang memakainya hanya anda sendiri. Tapi sebelum menyuntikkannya anda harus mengoles alkohol di bagian kulit yang akan disuntik. Alkoholnya bisa beli sendiri di apotik. Lalu yang ini cukup lakukan sekali tiap dua minggu karena yang ini kandungannya lebih padat dari yang sebelumnya."

"Hei, kalau kuminum bagaimana?" tanya Jongwoon penasaran.

Petugas itu tersentak kaget. "Jangan, Wangjanim! Yang ini lebih pekat, lebih panas dari yang biasa. Kalau anda paksa minum, organ dalam serta perut anda bisa terbakar… katanya."

"Mengerikan sekalii! Ya, sudah. Kuambil. Terimakasih, ya. Ngomong-ngomong, kalau aku ke sini lagi untuk mengambil sesuatu, pilih satu embel-embel saja. Kalau mau Wangjanim tidak apa-apa. –ssi tidak masalah. –nim juga oke. Yang penting satu saja dan jangan ganti-ganti. Ingat ya! Sudah, aku pergi dulu."

Petugas itu bengong dengan wajah merah, matanya mengikuti ke mana Jongwoon melangkah. Petugas itu diam cukup lama, sampai temannya di sebelahnya menyikutnya untuk memanggil nama selanjutnya.

oooooooooooooo

Jongwoon membuka kotak itu setelah sampai di rumah Ryeowook. Ia duduk di lantai dekat jendela, membelakangi tembok. Di dalamnya—sesuai kata-kata petugas counter pengambilan, ada sebuah botol dan jarum suntik. Untungnya di rumah Ryeowook sudah ada alkohol dan kapas.

Botol itu sedikit lebih gemuk dari botol-botol yang sebelumnya. Ukurannya juga lebih panjang. Tapi yang membuat Jongwoon tidak bisa berkomentar adalah warna cairan di dalamnya. Jika dilihat seksama, ia bisa melihat bahwa itu adalah warna ungu, hanya saja, sangat gelap. Warnanya sangat gelap sampai-sampai kalau dilihat sekilas botol itu seperti botol berisi tinta.

Sesaat, pikiran Jongwoon mengingat kembali sewaktu ia masih mengonsumsi sari anggur. Ia akan pergi ke atap apartemen Ryeowook saat tengah malam setiap seminggu sekali dan meminumnya di sana. Ia memilih tempat itu karena walaupun jeritan kesakitannya sangat histeris seperti mau mati, tidak akan ada penghuni yang bisa mendengarnya.

Sekarang, karena hari kerja dan apartemen sepi, juga Ryeowook akan pulang malam, Jongwoon memutuskan untuk melakukan yang ini siang hari saja. Untuk mencegah teriakan, ia sudah menyiapkan kain tebal untuk digigitnya. Tadinya ia pikir menggigit bibir saja cukup, tapi ia tak yakin kalau bibirnya tidak robek setelah prosesnya selesai.

Setelah meletakkan kain tebal itu di antara gigi-giginya, Jongwoon meneteskan alkohol ke kapas dan mengoleskannya di satu titik di bawah sikunya. Ia mengeluarkan jarum suntik dan memasukkan jarumnya ke dalam botol sari anggur itu, menembus penutup karet di atasnya. Sesuai perintah, ia memompa cairan itu sampai ke garis kedua di tabung itu.

Jongwoon mengarahkan jarum suntik itu ke arah kulitnya, perlahan memasukkannya ke lapisan di bawah kulitnya, lalu menekan pompa suntiknya, sampai cairan di dalamnya masuk ke tubuhnya perlahan.

Begitu seluruh cairannya masuk semua, Jongwoon cepat-cepat menarik jarum suntiknya karena lengannya mulai terasa sakit. Saat itu, rasa sakit yang ia rasakan jauh lebih kuat daripada rasa sakit sewaktu ia mengonsumsi sari anggur sebelumnya. Seluruh tubuhnya tiba-tiba terasa kaku dan dingin, sakitnya begitu menusuk sampai seolah kepala mau pecah, rasa sakitnya tidak tergambarkan dengan ekspresi apapun sampai ia tidak bisa bersuara, dan kain yang digigitnya jatuh ke lantai.

Jongwoon terjatuh ke lantai dan napasnya mulai putus-putus. Matanya terbuka lebar, tapi ia semakin tidak bisa melihat apa yang ada di depannya. Tiba-tiba ia tidak ingat apa-apa, tidak menginginkan apa-apa, tidak merasakan apa-apa. Yang ia tahu hanyalah rasa sakit, tidak ada hal lain di kepalanya saat itu.

Sampai ia kehilangan kesadaran sepenuhnya.

oooooooooooooo

Lee Sungmin dan Kim Ryeowook, sampai di depan apartemen.

"Makasih, ya, Hyung," ujar Ryeowook.

"Lho? Nggak mau diantar sampai ke dalam?" tanya Sungmin. Ryeowook menggeleng.

"Nggak usah. Aku sendiri saja. Malam, Hyung. Hati-hati."

"Malam, Ryeong-ah." Sungmin melambai pada Ryeowook dan Ryeowook balas melambai. Begitu Sungmin sudah cukup jauh, barulah Ryeowook masuk ke dalam gedung apartemennya. Dengan cepat ia memasuki lift, turun dari lift dan menuju kamarnya.

Ia sedikit tersenyum saat memutar kenop yang tidak terkunci, yang artinya, Jongwoon ada di rumah. Ryeowook cepat-cepat masuk dan melepas sepatu, lalu berjalan ke dalam.

"Aku pulang… Jongwoon?"

Tidak ada jawaban.

Ryeowook menoleh-noleh, dan tersentak melihat Jongwoon terkapar di dekat lemari buku. Ryeowook cepat-cepat melepas jaket dan tasnya, lalu berlari ke arah Jongwoon. Ryeowook bersimpuh di sebelahnya dan menggulingkan tubuh vampir itu agar wajahnya terlihat.

"Jongwoon?" Ryeowook menyentuh pipi vampir itu dan makin terkejut karena wajahnya terasa sangat dingin. "Jongwoon, kau kenapa? Hei!"

Ryeowook meletakkan jarinya di depan hidung Jongwoon, dan menggigit bibirnya saat merasakan napas Jongwoon begitu pendek-pendek. Ia lalu meletakkan tangannya di dada Jongwoon, tapi menggantinya dengan telinga karena detak jantungnya tidak terasa di telapak tangannya. Ryeowook bisa mendengarnya, tapi detak jantung Jongwoon sangat lemah.

Ryeowook sangat bingung karena ia tidak tahu apa yang terjadi atau apa yang vampir ini lakukan selama ia tidak di rumah. Haruskah ia menelepon rumah sakit? Tapi bagaimana kalau ternyata tubuh vampir dan tubuh manusia itu berbeda, lalu dokter menemukan hal yang aneh di tubuhnya dan mencurigai hal tersebut?

Ryeowook tidak peduli dan mengambil ponsel di saku celananya, tidak peduli jika nanti setelah Jongwoon diperiksa ia akan dicurigai dokter karena memiliki tubuh yang aneh. Ryeowook menelepon unit ambulan di sebuah rumah sakit yang paling dekat dengan apartemennya. Setelah terdengar dua deringan, Ryeowook melihat sebuah botol dan jarum suntik tergeletak di sebelah Jongwoon. Dengan cepat ia memutus teleponnya.

Napas Ryeowook makin cepat melihat dua benda itu. Dia meletakkan ponselnya di lantai, lalu menggapai botol dan jarum suntik di seberangnya. Ia memegangnya di kedua tangannya, melihatnya dengan takut, lalu menatap Jongwoon yang tidak sadar dan pucat.

Perlahan, Ryeowook meletakkan kedua benda itu di tempat dia mengambilnya tadi.

Mungkinkah… itu narkoba? Ryeowook dengan gelisah dan takut memikirkannya. Ryeowook, biarpun sering minum-minum dan pernah bergaul dengan orang-orang yang sering mengisap rokok ganja sewaktu SMA, ia tidak pernah menyentuh narkoba sama sekali dan tidak pernah melihat seperti apa wujudnya. Yang jelas ia tahu kalau narkoba bisa berbentuk pil, tablet, rokok, atau… jarum suntik.

Saat ini Ryeowook benar-benar takut. Kalau tadi ia tidak melihat jarum itu dan menelepon dokter, lalu setelah Jongwoon diperiksa ternyata dia benar-benar menggunakan narkoba… baik Jongwoon dan Ryeowook bisa mendapat masalah besar walaupun Ryeowook tidak tahu apa-apa.

Setelah berpikir, Ryeowook akhirnya susah payah mengangkat Jongwoon ke kasurnya. Biarpun tubuh Jongwoon lebih besar daripada Ryeowook, tapi Ryeowook sendiri memiliki tangan yang cukup kuat. Setelah membaringkan Jongwoon di kasur, Ryeowook kembali ke depan rak buku, melihat ada kotak kecil di sana dan memasukkan botol serta jarum suntiknya ke dalam sana. Melihat botol alkoholnya ada di sana, ia menoleh ke arah kotak P3K di dinding dekat dapur yang terbuka. Ryeowook meletakkan kotaknya di atas meja dan mengembalikan botol alkohol ke kotak P3K.

Ryeowook berjalan ke arah kamar mandi, dan ia menatap Jongwoon saat ia melewati kasurnya. Ia berpikir di mana ia akan tidur nanti. Meskipun kasurnya cukup untuk dua orang, tapi ia memutuskan untuk nanti tidur di sofa saja.

oooooooooooooo

Saat membuka mata, Ryeowook langsung sadar bahwa ia sudah ada di kasur. Ia segera bangkit dan menoleh-noleh. Ia melihat Jongwoon sedang duduk di sofa dan membaca koran. Ryeowook turun dari kasur, menghampiri Jongwoon dan duduk di sebelahnya.

"Hei," sapa Jongwoon, ia menoleh begitu Ryeowook duduk di sebelahnya. Tangannya membalik halaman koran, lalu kembali fokus pada korannya. "Selamat pagi. Jam berapa kau pulang semalam? Aku kaget karena terbangun di kasur, apa kau yang memindahkanku?"

"Aku juga kaget karena aku juga terbangun di kasur." Ryeowook menghela napas. "Kau… baik-baik saja?"

Jongwoon menatap Ryeowook lagi. "I…ya. Aku baik. Kenapa?"

"Kenapa kau nggak menjelaskannya? Kau pingsan di depan lemari buku sampai malam, ada jarum suntik, botol berisi cairan hitam, botol alkohol… jelaskan padaku. Apa kau menggunakan narkoba?"

Jongwoon akhirnya menutup korannya, melipatnya dan meletakkannya di sebelahnya. Ia lalu menatap Ryeowook. "Aku bahkan tidak tahu apa itu narkoba. Yah, apapun itu, yang kau lihat tidak seperti yang kau pikirkan, oke?"

"Lalu kenapa?"

"Kau ingat bulan lalu, saat kau pulang kuliah, aku duduk lemas di depan lemari buku? Lalu kau bilang tetanggamu mengatakan padamu bahwa aku menjerit-jerit di siang hari?"

Ryeowook memutar mata perlahan, mengingat kejadian itu. Lalu perlahan ia mengangguk. "Iya, aku ingat. Ada apa dengan itu?"

"Yang ini sedikit banyak sama dengan kejadian itu, tapi dalam ukuran yang lebih parah. Jadi aku kehilangan kesadaran lebih lama. Karena ada beberapa masalah, aku juga harus menggunakan metode yang berbeda. Tapi ini tidak berbahaya atau ilegal, jadi kau tenang saja."

Meskipun terlihat sedikit ragu dengan ucapan Jongwoon, Ryeowook tetap mengangguk. "Berarti… cairan yang di botol itu?"

"Iya. Itu yang menjadi sumber energiku. Berhenti menatapku dengan mata dan ekspresi seperti itu. Sudah kubilang aku tidak apa-apa."

Ryeowook hanya mengangguk karena merasa sudah cukup dengan penjelasan Jongwoon. Ia menoleh ke arah jam dinding di atas TV, dan melihat jam sudah menunjuk pukul 07:15, ia segera ke kamar mandi untuk sikat gigi dan cuci muka.

"Oh iya, Jongwoon," panggil Ryeowook. Jongwoon menoleh ke arahnya. "Tadi malam kau belum mandi, kan? Mau mandi sekarang tidak? Kalau iya, akan kusiapkan air panasnya."

Jongwoon terdiam sebentar. "Eng… tidak usah, deh. Nanti malam saja mandinya."

Ryeowook mengedikkan bahu. "Ya… sudah."

Begitu pintu kamar mandi tertutup, Jongwoon menghela napas panjang. Kata baik-baik saja yang diucapkannya tadi hanya cocok untuk mendeskripsikan keadaannya saat ini. Tapi keadaannya di waktu yang akan datang, siapa tahu? Sejujurnya Jongwoon 100% tidak baik-baik saja. Ia tahu peringatan untuk tidak melebihi batas konsumsi sari anggur bukan omong kosong, tapi ia merasa tidak punya pilihan lain. Akal sehatnya merasa masih sanggup untuk mengonsumsi sari anggur itu, tapi ia tidak tahu kapan tubuhnya benar-benar tidak sanggup lagi. Terlebih, ia tidak tahu apa yang akan terjadi kalau ia masih memaksakan hal itu.

Yang jelas, itu akan sangat berbahaya. Kematian juga sangat mungkin, tapi Jongwoon tidak ingin memikirkannya. Apalagi kalau sampai Ryeowook juga tahu. Jongwoon mengusap wajahnya dengan frustrasi, lalu menggeram pelan. Ia membuka koran di sebelahnya di halaman terakhir yang ia baca tadi.

oooooooooooooo

Perjalanan dari apartemen sama sekali tidak menyenangkan. Jongwoon yang biasanya lively dan mengajak Ryeowook mengobrol sana-sini tiba-tiba jadi pendiam. Ia terus menunduk, wajahnya terlihat murung dan sepertinya banyak pikiran. Ryeowook ingin bertanya, tetapi ia merasa tidak enak pada Jongwoon, jadi ia membiarkannya saja. Tapi Jongwoon sepertinya benar-benar tidak fokus sampai-sampai tidak sadar ke mana mereka melangkah.

"Jongwoon," panggil Ryeowook sambil berhenti. Jongwoon mengangkat kepalanya, menatap Ryeowook. "Kau antar aku sampai sini saja, deh. Dari sini aku jalan sendiri saja."

"Eh, jangan. Biar aku antar sampai gerbang."

"Jangan maksa, dong. Dari tadi kau melamun terus, kenapa sih? Lagi nggak sehat? Kau pulang saja deh, aku nggak apa-apa, kok. Sungguh," ujar Ryeowook. Jongwoon menatapnya lesu.

"Yakin?"

"Iya, yakin. Sudah, pulang saja. Aku masih punya teh apel di lemari. Minum itu supaya tenang, kalau perlu setelah itu tidur saja di kasurku. Kalau sampai malam masih nggak enak badan, jangan pergi menjemputku. Aku bisa pulang sendiri. Sekarang jangan khawatir dan pulanglah."

Jongwoon menatap sepatunya, lalu menatap Ryeowook. Ia menepuk kepala Ryeowook sekali. "Kalau begitu, aku pulang duluan. Kau hati-hati, ya," ujar Jongwoon, lalu melepas tangannya.

"Iya, kau juga hati-hati. Makasih, ya sudah mengantar."

"Maaf."

"Tidak apa-apa. Sudah, sana."

Jongwoon mengangguk pada Ryeowook sebelum berjalan ke arah apartemen Ryeowook. Ryeowook hanya menggeleng-geleng sambil menghela napas, lalu berjalan ke arah sebaliknya.

oooooooooooooo

Jongwoon hanya tinggal berjarak 10 menit dari apartemen Ryeowook. Ia berjalan pelan sekali, tidak seperti biasanya. Karena ia masih di daerah sibuk, jalanan masih ramai orang-orang yang berangkat kerja dan sekolah. Sadar bahwa ia tidak cukup fokus kali ini, agar tidak menabrak pejalan kaki lainnya, Jongwoon memilih jalan di pinggir, dekat dengan bangunan di sebelahnya.

Tiba-tiba, dia berhenti. Karena tidak fokus, pertahanannya sedikit berkurang sejak ia masih berjalan dengan Ryeowook tadi. Jongwoon menoleh ke belakang, berusaha memfokuskan kembali pikirannya, dan mencari sosok vampir yang mengikutinya sejak tadi.

Biarpun belum bisa konsentrasi sepenuhnya, ia sudah merasakan ada vampir yang mengikutinya. Tapi karena dari awal tidak fokus, ia tidak begitu meladeninya. Matanya memindai orang-orang yang lewat, melihat wajah mereka, gerak-gerik mereka, serta bau yang menguar dari tubuh mereka.

Sampai ia menemukan seorang wanita yang berdiri tak jauh di belakangnya, menatapnya dengan senyum yang mengembang dengan manisnya. Ia terus menatap wanita itu dengan pandangan yang begitu dingin, tapi wanita itu tidak peduli dan tetap tersenyum. Jongwoon tidak bergerak dari tempatnya ketika wanita itu berjalan ke arahnya dengan langkah seperti seorang model besar di atas catwalk dengan heelsnya yang tinggi.

Wanita itu berambut cokelat panjang, ia mengenakan kaus putih yang dilapisi jaket jeans. Celana hitamnya yang ketat memperlihatkan lekuk kakinya yang jenjang. Wanita itu menggunakan kacamata hitam yang cukup besar sehingga Jongwoon tidak bisa mengenali wajahnya.

Begitu wanita itu berhenti di depan Jongwoon, ia menurunkan kacamatanya sampai ke bawah bibirnya tanpa membuat tangkainya lepas dari belakang telinganya.

"Ah, kau," Jongwoon sedikit tersentak melihat wajah di depannya. "Yang di iklan krim wajah di TV itu…"

Wanita itu tertawa kecil. "Baguslah kalau anda mengenali saya, Kim Jongwoon Wangjanim," ujar wanita itu sambil kembali mengenakan kacamatanya. Senyumnya belum menghilang dari wajahnya.

"Kau… vampir?"

"Benar sekali. Ijinkan saya memperkenalkan diri, Wangjanim."

"Silakan."

"Saya Kim Hyuna dari klan Broisk. Senang bertemu anda."

Biarpun senyum Hyuna begitu ramah dan manis, Jongwoon merasa tidak bisa mempercayai wanita ini.

oooooooooooooo

Kim Jongwoon dan Kim Hyuna, di satu meja di sebuah café.

Mereka belum bicara apa-apa sejak duduk di sana. Jongwoon, biarpun tidak terlalu percaya pada Hyuna, tapi menurut saja saat Hyuna menariknya ke café ini. Sewaktu masuk, beberapa orang yang mengenali wajah Hyuna sangat terkaget-kaget. Mereka menatap Jongwoon dengan kaget dan mengira Jongwoon adalah pacarnya.

Mereka berdua memesan kopi, dan selama menunggu pesanan mereka datang, beberapa lelaki menghampiri meja mereka untuk minta tanda tangan atau foto Hyuna. Setiap ada yang melakukannya, pasti akan bertanya apakah Jongwoon pacarnya. Hyuna dengan ramah menjawab bukan dan meminta mereka untuk tidak membesar-besarkannya di internet.

Begitu pesanannya datang, Hyuna kembali tersenyum pada Jongwoon. Hyuna langsung mengangkat cangkirnya dan meminum kopinya, sedangkan Jongwoon bahkan tidak bergerak sama sekali.

"Oppa, ayo minum kopinya," pinta Hyuna. Sesaat Jongwoon merasa canggung. Karena lebih banyak berinteraksi dengan vampir bawah, ia tidak biasa disikapi dengan santai. Biarpun Hyuna masih bicara formal karena pada dasarnya dia lebih muda, tapi sikap Hyuna yang santai membuat Jongwoon sedikit canggung. Tapi Jongwoon berusaha mengingatkan diri sendiri bahwa Hyuna juga vampir atas, jadi Jongwoon juga harus santai.

"Apa tujuanmu sampai membawaku ke sini?" tanya Jongwoon, masih belum menyentuh kopinya. Hyuna, dengan bibir cangkir di mulutnya, menatap Jongwoon dengan polos. "Yah, dari sejak masih di Dunia Vampir aku tidak banyak tahu soal Vampir Puteri, tapi aku beberapa kali mendengar tentang Klan Broisk. Banyak yang membicarakannya sebagai klan vampir wanita terkuat. Tiba-tiba kau bersikap begini… agak mencurigakan."

Hyuna meletakkan cangkirnya, lalu memangku wajah dengan tangan. "Apakah kau tidak terlalu terburu-buru, Oppa? Kita baru sampai, setidaknya minum kopimu dulu dan kita bisa saling berkenalan agar situasinya tidak kaku seperti ini. Selain itu, Oppa lumayan nekat juga, membicarakan tentang vampir di tempat ramai begini."

"Tidak usah basa-basi segala, aku tahu kau menyembunyikan sesuatu. Tidak mungkin kau mengajakku hanya berdua begini hanya untuk minum kopi dan mengobrol basa-basi. Aku tahu kau mau membicarakan hal yang penting, tetapi kau sengaja memilih tempat yang agak ramai untuk mengurangi kecurigaanku."

Hyuna mendengus sambil tersenyum. "Sudah kuduga aku harus lebih hati-hati di depan orang yang mempunyai semua kemampuan khusus vampir atas. Oppa mempunyai kemampuanku, rasanya sangat curang…" Hyuna cemberut di akhir kalimatnya.

"Memangnya apa kemampuanmu?" tanya Jongwoon setelah terdiam sebentar.

"Membaca pikiran," jawab Hyuna. "Kemampuan yang kau punya sangat banyak, dan aku tahu Oppa tidak bisa menyebutkannya satu-satu. Tapi Oppa bisa menggunakan semuanya, bahkan tanpa sadar karena kau tidak tahu apa saja kekuatan yang kau miliki. Alasan mengapa aku membawamu ke sini juga kau tahu karena sudah membaca pikiranku, tapi kau tidak sadar."

"Begitu, ya," ujar Jongwoon sambil mengangguk. "Kalau begitu, langsung saja. Kau mau apa?"

"Hebat sekali, pembicaraannya jadi cepat begini," ujar Hyuna, senyumnya makin lebar. "Biarpun kau memiliki kemampuanku dalam membaca pikiran, tapi soal itu tetap aku yang lebih hebat darimu. Aku juga sudah membaca pikiranmu, Oppa~"

"Lalu, kau dapat apa dari pikiranku?"

"Aku sudah dengar soal Oppa sebagai satu dari sedikit vampir yang tidak bisa minum alkohol. Sejak aku mengikutimu, yang kau pikirkan hanya soal konsumsi sari anggurmu yang sudah mencapai limitnya. Apa aku salah?" tanya Hyuna. Kali ini senyumnya, matanya, ekspresinya, sangat berbeda dengan Kim Hyuna yang barusan. Kalau tadi Jongwoon memandang Hyuna sebagai model yang ramah, lembut dan murah senyum, tiba-tiba Hyuna berubah menjadi gadis licik yang penuh strategi dan berbahaya. Jongwoon, biarpun lama tinggal di tempat yang penuh laki-laki, ia tetap tahu bahwa laki-laki tidak boleh kasar pada perempuan. Dan saat ini instingnya berkata bahwa Hyuna akan memanfaatkan kondisi itu.

"Hei, berapa umurmu? Tidak termasuk usia pengkristalan," tanya Jongwoon.

"Aku? 17," jawab Hyuna.

"Astaga." Jongwoon mendecak. "Aku kaget bagaimana anak semuda kau bisa mempunyai tatapan mata yang selicik itu. Dan sekarang aku benar-benar harus mempersiapkan pertahananku terhadapmu. Kau tidak sekolah?"

Hyuna mengedikkan bahu. "Aku kelas 2 SMA sekarang. Kalau sudah lulus SMA aku tidak berencana untuk lanjut sekolah lagi. Bekerja lebih menyenangkan. Tadinya aku mau berhenti SMA saja sekalian, tapi banyak public figure yang masih muda pendidikannya sampai SMA, jadi kuteruskan saja."

Jongwoon menghela napas. "Apa yang kau inginkan dariku?"

"Aku akan memberikan penawaran padamu, Oppa."

"Apa itu?"

"Kau tahu apa sumber energi Vampir Puteri seperti aku?"

"Ya. Darah Vampir Pangeran."

"Aku… ingin kau memberikan darahmu untukku."

"Apa? Kenapa kau ingin aku melakukannya?"

Senyum Hyuna makin lebar. "Aku juga akan memberikan darahku padamu, dengan begitu masalahmu soal konsumsi sari anggur yang mencapai limit bisa teratasi, kan. Kalau sudah minum darahku, kau bisa minum sari anggur lagi. Bukankah itu bagus?"

"Kau pikir aku mau melakukannya? Lagipula—"

"Kim Ryeowook," ucap Hyuna pelan. Tapi itu bisa membuat Jongwoon membelalak dan berhenti bicara. "Dia manusiamu, kan? Oppa? Kau tahu aku bisa saja melakukan sesuatu padanya kalau kau tidak menurutiku. Kau tidak bisa menjaganya sepanjang hari karena dia ada di kampus dan kau tidak bisa masuk. Tapi aku bisa saja melakukannya, karena kau tak tahu betapa luas koneksi yang kupunya. Dan… oh, kau ingin merahasiakan soal limit konsumsi itu agar dia tidak khawatir, kan?"

Senyum Hyuna terlihat sangat licik saat itu, membuat Jongwoon kehilangan kata-kata. "Kau juga mengincar kristalku… ya?" Jongwoon terkekeh. "Kau… memang bisa saja, Hyuna-ya."

Hyuna memiringkan kepala dengan manis. "Apa Oppa mau menerima penawaranku?"


A/n:Hei heeeeyyy saya kembali
Hayooo ini Jongwoon sekarang punya masalah internal dan eksternal~ weeeee kudu piye kudu piye

Ngomong-ngomong, lama-lama saya capek bikin ff ini :(
Saya capek soalnya konfliknya banyak banget :((( /SIAPA YANG BIKIN WOY SIAPA/
Hahaha tapi santai ajalah, saya ga akan mati dengan tenang kalau ff ini belum selesai /apa/
Kalo dalam pengerjaannya sendiri saya udah sampe chapter 12, saya belum tahu ini ff selesainya di chapter berapa, tapi mungkin engga sampe 20. Kebanyakan ah, males haha
Setelah chapter ini saya juga masih rencana masukin 2-3 tokoh baru lagi. Siapa? Tunggu aja keles~

Btw…
Saya sedih banget karena rumah saya kehujanan abuuuu huweweeeenggg
Tadi pagi sih bangun biasa aja, pas sholat subuh juga ga ngerti apa-apa. Tau-tau ibu saya teriak dari luar, "nas, hujan abu!" gitu. Kirain boong, taunya beneran TT
Hujan abu deres sampe siang, trus orang rumah pada kepo gara-gara baru pertama kena hujan abu, jadi pintu dibuka mele, masuk-masuk rumah dah -_- rasanya tiap napas tuh abunya ikut kehirup gitu
Kalian yang daerahnya kena, jaga kesehatan ya. Pake masker kalo keluar rumah. Saya ini aja keluar kamar males lho -_-
Semoga saudara-saudara kita yang di daerah Gunung Kelud sehat-sehat aja ya. Amin.

Makasih buat yang udah nyempetin baca, terutama yang nyempeton review :B