Title:Those Creepy Fangs - Surprised
Author:nanaspineapple
Pairing:Yewook
Genre:Supernatural, drama
Rating:T
Disclaimer:Kesamaan nama tokoh memang disengaja
Word Count:4,608
Summary: Didatangi dan dicintai makhluk bertaring pengisap darah bukan salah satu dari cita-cita seorang Kim Ryeowook, tapi itu karena dia tidak tahu takdir macam apa yang sudah disusun untuknya.
A/n:Mulai chapter ini, identitas cerita kutambahin word count yaa, hehe. Kata yang dihitung cuman ceritanya, gak termasuk identitas dan a/n
Oh iya, buat persiapan aja. Aku mau minta maaf. Mungkin kalian bakal kecewa sama Jongwoon di chapter ini.
CHAPTER 10 – Surprised
"Lho? Kau nggak dijemput pacarmu?"
Ryeowook meninju lengan Sungmin sambil mendesis kesal. Sungmin mengelus lengannya yang baru dipukul, biarpun sebenarnya tidak sakit karena pukulan Ryeowook selalu pelan, itu hanya menunjukkan kalau ia tidak menyangka akan dipukul dan ia tidak menyukainya.
"Berhenti bilang dia pacarku, dong. Kami nggak pacaran kok," gerutu Ryeowook.
Sungmin mengangkat kedua alisnya, menatap Ryeowook dengan ragu. "Masa? Tiap hari dia mengantar dan menjemputmu… kadang kau menolak makan denganku karena mau makan dengannya… lalu kalian ngapain kalau bukan pacaran? Dia lagi PDKT padamu?"
Ryeowook mendecak karena tidak tahu mau bilang apa. "Ya… kalau PDKT… bisa dibilang begitu."
"Serius? Terus kalau dia menembakmu, kau mau terima?"
"Nembak… sudah deh…"
"Oh! Kalau nggak salah, kau sudah dicium segala, ya? Waah, Kim Ryeowook! Kau… daebak!"
"Sudah, dong, Hyung. Berhenti ngomong itu…"
Sungmin mendengus menahan tawanya. "Donghae punya pacar… lalu kalau kau juga punya pacar… haaah, apa aku harus cari teman baru?"
"Hyung itu kan bukan urusanmu, jangan begitu dong!"
Sungmin tertawa. "Makin kau panik, makin kau tidak mau diurusi, semuanya makin jelas, tahu! Kalau suka, terima saja dia!"
Kali ini, tidak ada jawaban dari Ryeowook. Dia hanya cemberut. Perlahan-lahan tawa Sungmin terhenti. Dia sangat senang kalau hubungan Jongwoon dengan Ryeowook berjalan baik. Sewaktu ia bertemu dengan Jongwoon berdua saja, Jongwoon sempat bercerita tentang Ryeowook. Sungmin, biarpun diam saja dan tidak menunjukkannya, ia senang karena Jongwoon terlihat sangat menyukai Ryeowook. Jongwoon juga mengatakan bahwa Ryeowook mulai menerimanya untuk berada di sisinya biarpun belum mau menerima hatinya. Tetapi buatnya itu tidak masalah karena itu berarti Ryeowook sudah terbiasa dengan keberadaannya dan untuk menerima cintanya itu hanya masalah waktu.
Sungmin tidak terlalu sadar juga kalau sebenarnya ia sudah jadi penghubung di antara mereka berdua, biarpun Ryeowook tidak tahu kalau ia dan Jongwoon sudah lebih akrab meskipun Sungmin masih sedikit canggung padanya. Sungmin ingin sekali memberitahu Jongwoon ini-itu soal Ryeowook, tetapi ia tidak tahu bagaimana cara menghubungi Jongwoon dan terlalu mencurigakan bila tiba-tiba ingin berhubungan dengan Jongwoon. Salah-salah, Ryeowook bisa menebak kalau Sungmin juga vampir. Sebenarnya tak masalah jika rahasia itu terbongkar, tetapi untuk sementara Sungmin masih ingin merahasiakannya, terutama dari Ryeowook.
"Kau mau aku mengantarmu?" ujar Sungmin. Ryeowook menoleh ke arahnya dengan datar, lalu menggeleng.
"Tidak usah, deh. Katanya Hyung disuruh belanja dulu? Nanti supermarketnya keburu tutup, lho. Aku pulang sendiri saja. Lagian arah rumah kita kan berlawanan. Aku nggak enak kalau harus diantar Hyung terus," Ryeowook meringis, sedikit banyak merasa bersalah karena dulu saat mereka baru kenal dan sedang akrab-akrabnya, ia sering minta diantar Sungmin kalau sudah malam.
"Padahal tidak apa-apa, lho. Aku kan melakukannya karena khawatir pada adikku yang tinggal sendiri ini," ujar Sungmin sambil menusuk pelan pipi Ryeowook dengan jari telunjuknya. "Yakin nih?"
"Iya, sudah sana Hyung pulang duluan."
Sungmin tersenyum, lalu menepuk punggung Ryeowook pelan. "Ya, sudah. Aku duluan, ya. Hati-hati."
"Iya, Hyung. Daah~"
Ryeowook menghela napas ketika melihat Sungmin sudah sampai gerbang dan berbelok ke arah yang berlawanan dengan rumahnya. Apartemen Ryeowook bisa ditempuh dengan 15-20 menit jalan kaki dari kampus, sementara rumah Sungmin butuh 5 menit jalan ke halte,10 menit naik bus ke stasiun, dan 20 menit dengan kereta dari kampus. Waktu Ryeowook mengetahui tentang itu, ia mulai berhenti minta diantar Sungmin. Karena jika Sungmin mengantarnya, dari apartemennya Sungmin bisa menghabiskan satu jam untuk sampai rumah, padahal ia minta diantar kalau sudah sekitar jam 10-11 malam.
Sejak itu, barulah Ryeowook berani pulang sendiri biarpun sudah malam. Tetapi kadang Sungmin masih suka mengantarnya jika kebetulan mereka berdua harus berada di kampus sampai lewat tengah malam demi mengerjakan tugas yang terlalu berat untuk dikerjakan di rumah.
Ryeowook berdiri dari kursinya, lalu berjalan ke arah gerbang.
oooooooooooooo
Jam tangan Ryeowook sudah menunjukkan pukul 21:10 dan Ryeowook baru setengah jalan sampai ke rumahnya. Karena malas berjalan jauh, ia memilih jalan pintas. Jalan ini memotong bangunan di kompleks pertokoan panjang yang harus ia lalui menuju apartemennya. Meskipun sempit, berliku, agak pengap, dan sedikit menakutkan, ia kadang menempuh jalan ini karena bisa memotong perjalanan 12 menit menjadi 2 menit.
Ia baru beberapa meter memasuki jalan itu, ia mendengar suara desahan wanita. Suara itu berasal dari belokan di depan. Ia mendecak, dan mengutuk pasangan gila yang bercumbu di gang seperti ini jam segini. Ia akhirnya memutuskan untuk mengambil jalan memutar yang biasa saja.
"Jongwoon Oppa…"
Langkah Ryeowook terhenti. Ia menoleh dengan cepat. Jongwoon?
Sebenarnya, dari Ryeowook SD sampai sekarang, ia pernah kenal dengan 6 orang yang namanya Jongwoon dan pernah tahu lebih dari 10 orang yang punya nama yang sama. Nama itu sederhana dan pasaran. Tapi bagaimanapun Ryeowook tetap penasaran, jadi ia melangkah mendekati belokan itu dan melongokkan kepalanya sedikit.
Dari matanya, ia menangkap seorang lelaki yang bersandar di tembok dengan seorang wanita menempel di depannya. Lelaki itu memeluk pinggang si wanita sementara wanita itu memeluk leher si pria. Mereka sedang berciuman dengan begitu intens sampai Ryeowook sendiri malas melihatnya, walaupun sedikit mirip dengan yang ia lihat di drama-drama TV. Ia segera memindai tubuh lelaki itu, lalu berbalik dan sedikit berlari keluar dari gang itu.
Rambut merah. Mantel putih. Postur tubuh. Itu Kim Jongwoon. Kim Jongwoon yang ia kenal. Kim Jongwoon yang tinggal dengannya.
oooooooooooooo
Café itu tidak terlalu ramai karena masih siang. Kim Jongwoon yang tiba-tiba masuk ke sana langsung menarik perhatian semua orang, baik pengunjung yang laki-laki atau perempuan, pelayan yang mengantar minuman, atau petugas yang sedang menyapu lantai. Semua berbisik-bisik membicarakan wajahnya yang begitu cantik dan bertanya-tanya kalau dia seorang aktor atau member sebuah idol group.
Kepala Jongwoon tidak berhenti menoleh dan matanya tidak berhenti melirik ke kanan-kiri selama ia berjalan memasuki café tersebut. Kepalanya akhirnya berhenti bergerak sewaktu ia menangkap sosok seorang wanita yang duduk sendiri di sebuah meja, memakai kemeja kotak-kotak dengan kaus hijau di dalamnya, celana pendek, kacamata hitam dan topi, dengan rambutnya tergerai di bawah topinya. Jongwoon berjalan ke arahnya dan duduk di kursi lain di belakang meja yang sama dengan wanita itu.
"Jadi kenapa kau mengundangku ke tempat begini? Aku tidak terlalu suka makanan café," protes Jongwoon sambil melepas mantel putihnya. Ia memasang wajah tidak suka sambil meletakkan mantelnya di pangkuannya dan memajukan kursinya. Wanita itu menatapnya sambil tersenyum.
"Aku senang sekali Oppa mau datang. Itu artinya Oppa menerima penawaranku, kan?" tanya wanita itu, yang tidak lain adalah Kim Hyuna, sambil tersenyum lebar.
Jongwoon mendecak sebal. "Jangan aneh-aneh, ah. Sudah, langsung saja ke inti pembicaraannya."
Hyuna cemberut. "Kenapa kau suka buru-buru, sih. Kan jadi tidak seru. Pesan kopi dulu gimana? Aku yang bayar, deh."
"Aku baru minum kopi sebelum pergi ke sini tadi."
"Apa salahnya minum kopi lagi?"
"Aku masih kenyang, perutku nanti tidak enak kalau minum kopi lagi."
"Kenapa Oppa sewot, sih?"
"Siapa yang nggak sewot pada cewek cerewet seperti kau?!"
Hyuna makin cemberut dan menendang-nendang dengan kesal. Beberapa hari yang lalu karena Jongwoon terlihat ragu untuk menerima penawaran Hyuna, akhirnya Hyuna berusaha mempermudah kondisi dengan datang ke café ini. Kalau Jongwoon datang, itu artinya Jongwoon menerima penawaran Hyuna, tapi jika sampai Hyuna menunggu 3 jam Jongwoon tidak datang juga, artinya penawaran batal. Tapi ancaman Hyuna di akhir bahwa dia akan melakukan sesuatu pada Ryeowook kalau Jongwoon tidak datang tentu membuatnya datang dengan terpaksa. Saat itu ia baru saja mengantar Ryeowook kuliah dan langsung pergi ke café itu. Ia tidak tahu apa yang mau Hyuna lakukan pada Ryeowook sementara ia tidak bisa mengawasinya.
"Penawarannya hanya soal give and take, kan? Kau cuman mau darahku juga, kalau begitu lebih baik kita cepat selesaikan lalu aku pulang." Jongwoon memijat pelipisnya dengan lelah.
"Oppa… kalau give and take, itu bukan cuma soal darah, lho. Karena Oppa sudah jauh-jauh ke sini, sampai malam nggak akan kubiarkan pulang, lho!"
Lalu, Jongwoon berpikir datang ke sini adalah keputusan yang paling salah dalam hidupnya.
oooooooooooooo
Hyuna mendorong Jongwoon ke tembok dan memeluk lehernya. Hyuna menggigit bibir bawahnya sambil menatap Jongwoon. Sementara sebaliknya, Jongwoon merasa sangat risih dengan kelakuan Hyuna dan berusaha menyingkirkan tangannya.
"Oppaaa~" rengek Hyuna sambil berusaha mempertahankan posisi lengannya di sekitar leher Jongwoon.
"Kau tahu, seharian jalan-jalan di kompleks belanja yang penuh hanya untuk window shopping itu sudah melelahkan. Aku memang berterimakasih karena tidak perlu keluar uang sama sekali hari ini karena kau yang mentraktir makanku, tapi aku merasa sudah cukup dan ini sudah malam jadi aku mau pulang," celoteh Jongwoon.
"Aku juga tadinya mau benar-benar belanja karena baju di sana bagus dan murah, tapi aku datang naik kereta dan tidak bawa mobil hari ini, jadi akan merepotkan karena aku pasti akan bawa banyak kantung belanja kalau tadi tidak window shopping."
Jongwoon menghela napas. Sementara Hyuna menyandarkan bagian depan tubuhnya padanya dan memeluk lehernya, ia hanya bersandar malas di tembok dan sedikit menekuk lutut agar pelukan Hyuna tidak membuatnya tertarik ke bawah, dan tangannya menggantung begitu saja di kedua sisi tubuhnya. "Itu nggak menyelesaikan apa-apa. Cepat lepaskan aku."
"Aku akan melepaskan Oppa kalau permintaanku yang terakhir ini dikabulkan. Setelah ini aku akan membiarkan Oppa pulang, janji."
Jongwoon kembali menghela napas, yang ini lebih berat, lebih lelah, lebih malas, dan sedikit terdengar seperti geraman. Ia menatap Hyuna dengan tidak tertarik, tapi ia ingin segera pulang dan bertemu Ryeowook, jadi ia menyerah pada kekeraskepalaan Hyuna.
"Ya, sudah. Kau mau apa?" tanya Jongwoon pasrah.
"Cium aku, Oppa~" pinta Hyuna. Jongwoon tersentak dan langsung mendorong bahu Hyuna sampai badan mereka menjauh.
"Apaan, sih? Kok kau mintanya jadi aneh-aneh gitu? Kalau menemani belanja atau makan, sampai seminggu juga aku tahan. Tidak mau!" tolak Jongwoon. Ia berusaha memasang wajah tidak suka, tapi melihat Hyuna yang tidak cemberut atau ngambek seperti setiap ia menolaknya, dan justru memasang wajah serius seolah siap menyerang kapan saja, Jongwoon entah kenapa jadi kehilangan kata-kata.
"Oppa, aku benar-benar akan membiarkanmu pulang setelah ini," ujar Hyuna dengan serius.
"Kau tahu kan kalau Halfwing itu termasuk vampir yang biseks?" tanya Jongwoon sambil menyipitkan matanya. Tatapan dan ekspresi Hyuna tidak berubah walaupun Jongwoon menanyakan itu. "Aku sudah pernah mencium lelaki, dan kau memintaku menciummu?"
"Aku sudah tahu, dan justru karena itu aku memintamu melakukannya."
Kali ini, Jongwoon tidak bisa bergerak ketika Hyuna mendekatinya, memegang kedua tangannya dan melingkarkan mereka dengan sengaja di pinggangnya sendiri. Entah kenapa sewaktu Hyuna melepas pegangannya, Jongwoon tetap membiarkan tangannya melingkari pinggang Hyuna. Hyuna kembali memeluk leher Jongwoon, dan napas Jongwoon terasa tertahan sewaktu Hyuna mulai mendekatkan wajahnya.
Jongwoon menutup matanya sambil menghela napas. Jika sekarang ia membiarkan Hyuna menciumnya, apakah selanjutnya ia justru keterusan menuruti keinginan Hyuna? Jika ia keterusan menurutinya, apakah hubungannya dengan Ryeowook selanjutnya akan baik-baik saja?
Bibir Hyuna sudah menyentuh bibirnya, dan Jongwoon menahan napas begitu Hyuna mulai menggerakkan dan melumat bibir Jongwoon.
Jika sekarang ia menolak Hyuna menciuminya seperti ini, apakah Ryeowook benar-benar akan ada dalam masalah? Apakah dia akan melakukan sesuatu yang buruk pada Ryeowook seperti yang selalu dikatakannya? Dan apakah Jongwoon akan membiarkan itu terjadi?
Tanpa sadar, perlahan-lahan Jongwoon terbawa dalam ciuman Hyuna. Ia mengeratkan pelukannya di pinggang Hyuna, mencium Hyuna balik dengan begitu intens. Ia sendiri tidak tahu kenapa ia jadi membuka mulutnya dan memasukkan lidahnya ke mulut gadis di hadapannya. Sayangnya, karena terlalu fokus pada mulutnya, ia tidak sadar bahwa Hyuna telah menutup sense vampirnya sehingga kepekaan Jongwoon berkurang. Sebagai seorang vampir wanita, Hyuna adalah salah satu yang berpengetahuan luas. Ia menguasai banyak teknik tingkat tinggi dan juga sangat cerdas.
Jongwoon juga tidak tahu kalau ini jalan yang kadang dilalui Ryeowook untuk pulang. Hyuna, yang memiliki koneksi luas serta tingkat keberuntungan yang lumayan, tidak menyia-nyiakan fakta ini. Ia meminta salah seorang vampir yang memiliki kemampuan melihat masa depan dan bertanya jika ada yang lewat gang itu malam itu. Begitu yakin Ryeowook akan lewat sini, ia sengaja membawa Jongwoon ke sana dan menciumnya. Ia tahu biarpun Jongwoon tidak mau, tapi pada akhirnya akan meleleh pada bibir dan pesonanya. Dan karena ia sudah menutup sense vampir Jongwoon, biarpun tidak sepenuhnya, Jongwoon tidak akan tahu kalau Ryeowook akan lewat sana.
Hyuna tersenyum di antara ciumannya waktu menyadari bahwa Ryeowook mendekat dan bahkan mengintip mereka sewaktu ia sengaja memanggil nama Jongwoon. Senyumannya berubah licik saat Ryeowook melangkah pergi dengan agak terburu-buru. Hyuna berani bertaruh anak kecil itu sangat kaget dengan apa yang dilihatnya barusan.
oooooooooooooo
Jongwoon membuka pintu apartemen Ryeowook dengan wajah lelah. Ia menarik turun ritsleting sepatu kulitnya yang setinggi 7cm di atas mata kakinya itu, lalu menggunakan ujung kaki untuk menarik lepas tumit sepatu yang lain dari kakinya. Setelah melepas sepatu, ia berjalan masuk dan menemukan Ryeowook sudah tertidur di atas kasurnya. Tapi dengan cepat ia menemukan sesuatu yang berbeda dari Ryeowook. Biasanya Ryeowook akan tidur dalam posisi terlentang atau miring, ia akan menggunakan satu bantal di bawah kepalanya dan ada satu bantal lain di sebelah bantal yang ia pakai, biasanya yang tidak terpakai itu akan digunakan Jongwoon untuk tidur di sofa. Posisi selimutnya juga biasanya terbentang dengan rapi di atas tubuh dan kasurnya.
Tapi kali ini, selimut yang biasanya rapi itu tergulung dan terpilin dengan brutal di atas kasur. Posisi tubuh Ryeowook juga tidak menunjukkan kalau ia terlelap dengan tenang. Tubuhnya miring, tapi tubuh bagian atasnya sedikit tengkurap memeluk bantal. Bantal yang lain jatuh di lantai, dan dari posisi bantal itu, menunjukkan bahwa bantal itu sengaja dilempar, bukan terdorong atau tertendang dengan tidak sengaja oleh Ryeowook.
Alis Jongwoon menjadi satu di atas matanya dan ia menatap Ryeowook dengan bingung. Ada apa dengan Ryeowook? Apa dia punya masalah di kampusnya? Apa dia bertengkar dengan temannya?
Jongwoon mendekati kasur Ryeowook, berhasil menangkap wajah Ryeowook yang setengah terlihat karena setengahnya terkubur di bantalnya. Jongwoon harus terkejut karena menemukan bagian bantal di sekitar wajah Ryeowook masih terlihat basah, yang mana berarti Ryeowook baru saja menangis lama dan belum lama sejak ia benar-benar tertidur.
Jemari Jongwoon menyibak pelan poni yang sedikit menutupi mata Ryeowook. Ia bisa melihat mata Ryeowook mulai terlihat bengkak, dan ia tidak perlu berpikir lagi karena sudah pasti Ryeowook menangis barusan. Ia duduk di pinggir kasur dan mengusap kepala Ryeowook dengan wajah khawatir. Biarpun ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi bagaimanapun ia ingin membuat Ryeowook merasa lebih baik, walaupun dalam tidurnya. Jongwoon menurunkan kepalanya untuk mengecup dahi Ryeowook sekilas.
Jongwoon berdiri dan mengambil bantal di lantai dan melemparnya ke sofa. Ia melepas mantel, kaus, kaus kaki, dan mengganti celananya dengan celana pendek. Jongwoon terbiasa tidur hanya dengan celana karena ia merasa tidak nyaman kalau tidur dengan menggunakan baju. Tapi begitu bertelanjang dada, ia baru sadar kalau Ryeowook menyalakan pemanas di suhu rendah, sehingga kamarnya terasa begitu dingin. Jongwoon mengambil remote di rak sebelah sofa dan menaikkan suhu pemanasnya, lalu melompat ke sofa.
Sekarang, begitu sudah terbiasa hidup di Dunia Manusia, Jongwoon tanpa sadar juga melakukan kebiasaan manusia, setidaknya manusia di Korea. Bahkan tidur yang jarang sekali ia lakukan saat masih di Dunia Vampir jadi ia lakukan hampir tiap hari. Ia tidur bukan karena ngantuk atau lelah—tak ada alasan bagi kedua hal itu untuk terjadi padanya. Ia tidur karena kebiasaan, dan jam biologis perlahan terbentuk dalam tubuhnya. Tetapi kadang saat ia merasa tidak ingin tidur, maka ia tidak akan tidur.
Jongwoon sadar bahwa ia tipe yang dapat terlelap dengan cepat, jadi karena sekarang sudah hampir jam dua pagi, ia segera menutup mata, mengatur napas dan membiarkan pikirannya beristirahat, dan membawanya ke dunia mimpi.
oooooooooooooo
Jongwoon tersentak terbangun mendengar suara piring terjatuh. Biarpun ia baru bangun tidur, tapi ia bisa dengan cepat menyimpulkan bahwa yang terjatuh adalah piring melamin yang tidak pecah walaupun barusan jatuh. Ia meregangkan badan sedikit, lalu menyambar kaus putih di dekat kaki sofa. Setelah memakainya, ia berjalan ke arah dapur dan menemukan Ryeowook sedang menyiapkan sarapan di sana. Jongwoon tersenyum karena Ryeowook terlihat baik-baik saja meskipun tadi malam terlihat kacau.
"Pagi, Ryeowook-ah," salam Ryeowook sambil berdiri di belakang Ryeowook. Tangan Ryeowook terlihat sibuk menyiapkan bibimbap. Biarpun bibimbap hanya makanan yang simpel, tapi dengan sentuhan tangan Ryeowook yang begitu ahli menambahkan bumbu-bumbu pada nasi serta isinya yang variatif membuat nasi gulung itu terasa sangat enak. Jongwoon tidak terlalu kaget karena Ryeowook sama sekali tidak menjawab salamnya, karena memang begitulah biasanya kalau Ryeowook sedang sibuk memasak.
Ryeowook menepuk kedua tangannya sekali, yang berarti masakannya sudah selesai. Senyum Jongwoon bertambah lebar, tetapi senyum itu menghilang ketika Ryeowook berbalik dan membawa piringnya ke meja makan tanpa menyapa Jongwoon sama sekali.
Ini dia. Sudah Jongwoon duga ada yang salah dengan Ryeowook. Tapi ada masalah antara ia dengan Ryeowook tidak masuk dalam salah satu kasus yang ia perkirakan. Ia menatap Ryeowook yang mulai memotong bibimbapnya dan memakannya. Jongwoon, biarpun seharusnya minum darah, tapi ia banyak makan sayur dan buah. Makanya waktu Ryeowook pertama kali menawarkan bibimbap buatannya, Jongwoon sangat menyukainya karena Ryeowook banyak mengisinya dengan timun, wortel, kol dan sayur-sayur lainnya. Tapi Ryeowook tahu kalau perut tidak akan terisi hanya dengan sayur, jadi perlahan-lahan Ryeowook menambahkan daging ikan atau daging sapi, telur rebus atau sosis. Jongwoon tidak pernah mempermasalahkan sedikit daging yang terselip di antara nasi itu, karena senyum Ryeowook yang terpampang manis di wajahnya setiap Jongwoon memuji masakannya itu sudah lebih dari cukup baginya.
Dan entah kenapa kali ini Ryeowook bahkan tidak menatap Jongwoon, dan Jongwoon bahkan tidak perlu bertanya dua kali bahwa Ryeowook sedang bermasalah dengannya. Ia tidak tahu apa, tapi yang jelas itu buruk dan ia tidak pernah mengharapkan itu terjadi.
"Ryeowook-ah, ada apa?" tanya Jongwoon akhirnya. Soal senyuman atau sapaan atau obrolan pagi atau sarapan bersama yang biasa mereka lakukan akan dikesampingkan sementara waktu. Jongwoon heran karena Ryeowook terlihat begitu dingin padanya. "Kau marah padaku? Apa aku melakukan sesuatu yang salah?"
Ryeowook melahap sepotong bibimbapnya dengan kalem, lalu setelah menelannya, ia terdiam sebentar. "Itu… harusnya pertanyaan yang kau ajukan pada dirimu sendiri."
Jongwoon mengernyit. Kali ini ia benar-benar clueless. Kenapa Ryeowook marah padanya? Apa yang sudah terjadi? "Ryeowook-ah, kalau kau diam begini aku tidak akan tahu, katakan padaku."
Kali ini Ryeowook tidak menjawab. Meskipun 15 menit selanjutnya Jongwoon berkali-kali menanyakan pertanyaan yang sama, Ryeowook sama sekali tidak menjawab. Ia menepis tangan Jongwoon di pundaknya, ia mendorong bahu Jongwoon saat vampir itu mendekatkan wajahnya, ia bahkan tidak menatap Jongwoon.
Jongwoon akhirnya menyerah untuk mendapat perhatian Ryeowook. Ia memilih duduk di sofa sambil menunggu Ryeowook bersiap-siap untuk berangkat kuliah. Ryeowook mondar-mandir ke mejanya untuk mengambil alat tulis, ke meja lampu dekat kasurnya untuk mengambil saputangan, ke rak buku untuk mengambil buku musiknya. Dan selama itu tak ada sedetikpun ia melirik Jongwoon yang terus memperhatikannya.
Ketika Ryeowook akhirnya berdiri beberapa meter dari pintu, memakai tasnya dan mengancing jaketnya, Jongwoon menghampirinya dan berdiri di belakangnya. Ryeowook masih tidak peduli dan berjalan keluar apartemen, dan Jongwoon masih mengikutinya.
Perjalanan mereka begitu dingin, sedingin angin musim gugur yang mengibas rambut Jongwoon yang belum sempat ia rapikan. Ryeowook terlihat hangat dengan jaket dan syalnya yang panjang, sementara Jongwoon tidak sempat peduli bahwa ia hanya mengenakan kaus rumah dengan mantelnya yang tidak dikancing, celana kain yang tipis—dia bahkan tidak memakai sepatu, hanya sepasang sandal karet.
Ketika sampai di gerbang kampus, Ryeowook berhenti dan memutar badan untuk melihat Jongwoon di belakangnya. Ia terkejut melihat vampir itu. Biarpun udara tidak terlalu dingin, tapi pakaian yang dikenakan Jongwoon terlalu tipis untuk musim seperti ini. Kulitnya yang putih terlihat pucat sekarang, bibirnya sedikit membiru, hidung, telinga dan jari-jarinya memerah karena dingin. Jongwoon menatap Ryeowook dengan sendu, berharap dia mengatakan sesuatu, tapi yang Ryeowook lakukan hanya mengangguk dan berjalan masuk ke kampusnya.
Kaki-kaki Jongwoon menolak untuk pergi. Ia terus menatap Ryeowook yang tidak pernah menoleh ke belakang sedikitpun itu, dan meskipun Ryeowook sudah masuk ke dalam gedung, ia tetap berdiri di sana sampai 30 menit.
oooooooooooooo
Ryeowook keluar kampus sekitar jam 3 sore, dan meskipun teman-teman sekelasnya mengajaknya untuk mengerjakan laporan bersama-sama, tapi ia menolak dengan alasan ada perlu, padahal sebenarnya ia malas untuk berada bersama mereka. Ryeowook tidak menyukai mereka, itulah sebabnya ia terus-terusan bergaul dengan Sungmin atau Donghae. Ryeowook juga tidak ingin pulang kemalaman karena setiap ia bertahan di kelas untuk mengerjakan laporan, semuanya baru akan selesai lewat jam 10. Tapi kalau ia mengerjakannya di rumah, ia cukup berkonsentrasi dan duduk selama 3-4 jam dan semuanya akan selesai sebelum makan malam.
Ryeowook semakin dekat dengan gerbang kampus, dan seperti biasa menemukan rambut merah yang menyembul sedikit dari balik dindingnya. Rambut merah yang sama, mantel putih yang sama, celana abu-abu dan sandal—apa?
Tanpa sadar Ryeowook sedikit berlari menghampiri Jongwoon dan berhenti di sisinya. Ryeowook menatap Jongwoon dengan tidak percaya. Mantel putih yang tidak dikancing, kaus putih, celana abu-abu, sandal. Semuanya masih sama dengan ketika ia mengantar Ryeowook tadi pagi. Kulitnya makin pucat, bibirnya makin biru dan menggigil.
"Kau… menungguku?" tanya Ryeowook.
"Aku selalu menunggumu," jawab Jongwoon, suaranya bergetar karena kedinginan.
"Bukan, maksudku… kau tidak pulang dulu?"
"Aku takut… kau tak akan kembali kalau aku pulang…"
"Apa maksudmu? Tentu saja aku akan kembali, itu kan rumahku. Sudah, ah, ayo pulang. Kau pikir mukamu nggak jelek apa? Ayo, berdiri!" Ryeowook menarik lengan Jongwoon ke atas, dan begitu vampir itu berdiri di sebelahnya, Ryeowook berdecak sebal, lalu berjalan duluan. Ia tidak perlu menengok ke belakang karena tahu Jongwoon ada di sana dan akan selalu mengikutinya.
Saat itu, teringat sekali lagi ketika ia pulang sendiri malam itu.
Biarpun hanya melihat sebentar, ia yakin yang ia lihat di gang itu adalah Jongwoon. Memang mereka baru kenal selama sebulan, tapi bentuk tubuh, tinggi badan, warna rambut, warna kulit, semuanya terekam baik oleh Ryeowook di kepalanya.
Tapi… kenapa?
Dari perilaku Jongwoon selama ini, bagaimana dia bersikap pada Ryeowook bahkan menyatakan cintanya segala… tidak sulit untuk menyimpulkan bahwa dia biseks. Dia gay. Tapi malam itu, dari cara Jongwoon memeluk, mencium dan menyentuh gadis di depannya, entah kenapa rasa ragu langsung menghantui Ryeowook. Apakah Jongwoon sebenarnya berbohong padanya? Tapi untuk apa? Kalau memang begitu, kenapa dari awal dia harus repot-repot mencari Ryeowook, berusaha untuk selalu bersamanya dan lainnya itu?
Memang dari awal Ryeowook sudah curiga pada Jongwoon—ada yang ia sembunyikan. Tapi semakin lama ia bersama vampir itu, rasa curiganya perlahan hilang. Biarpun setiap kuliah tidak bisa bertemu Jongwoon, dan Jongwoon selalu punya kegiatan sendiri selama itu, tapi Ryeowook selalu percaya bahwa kau hanya bisa jadi diri sendiri saat di rumah. Dari awal Jongwoon sudah terlalu menganggap kamar Ryeowook sebagai rumahnya sendiri, bagaimana dia langsung melepas baju saat mau tidur, berjongkok di depan dispenser saat mengisi gelas, membuka kulkas agak lama dan melihat-lihat isinya jika ada yang bisa dimakan, mengambil buku dari lemari, menyalakan tv, semuanya terlihat alami, tidak dibuat-buat. Setiap mereka mengobrol, Jongwoon akan banyak bicara, bercerita tentang apa yang dilakukannya saat Ryeowook kuliah, entah belanja, ke Kantor Pengurus, berjalan-jalan di kota, kedua mata vampir itu selalu mengatakan kejujuran, makanya Ryeowook tidak pernah curiga lagi.
Dan semua rasa percaya Ryeowook yang ia bangun sedikit-sedikit selama sebulan Jongwoon tinggal dengannya itu hancur hanya dengan beberapa detik saja.
Sampai Ryeowook tidak tahu mau percaya lagi padanya atau tidak.
oooooooooooooo
Ryeowook melempar handuk yang baru ia panaskan pada Jongwoon yang sedang duduk di sofa. Vampir itu meremas handuknya, mulai merasakan hangat di ujung-ujung jarinya lagi. Ia menempelkannya ke wajahnya, lehernya, lengannya, dan semua titik di tubuhnya yang terasa dingin selama sepuluh menit sampai handuk itu bukan apa-apa tapi handuk basah yang sudah dingin.
Melihat Jongwoon sudah selesai dengan handuknya, Ryeowook menghampirinya dan berdiri di depannya, lalu mengulurkan tangannya dan Jongwoon mengembalikan handuknya. Ryeowook terus menatap Jongwoon, menunggu vampir itu mengatakan sesuatu. Sadar karena diperhatikan, Jongwoon juga balik menatap Ryeowook, yang mana hanya beberapa detik, lalu ia memalingkan wajah lagi. Ryeowook masih menunggu.
"Kenapa… kau marah padaku?" tanya Jongwoon serak.
Ryeowook mendengus. "Masih mau tanya itu?"
"Kumohon, Ryeowook-ah," Jongwoon menggapai tangan Ryeowook yang masih memegang handuk. Biarpun tangan mereka terpisah selembar handuk tebal yang basah dan berat, Ryeowook masih bisa merasakan gemetar di tangan Jongwoon, rasa gemetar yang seolah memiliki emosi, yang seolah bicara pada Ryeowook. Itu membuat Ryeowook menggigit bibirnya dan menghela napas berat, membuat Ryeowook ingin mengatakan segalanya pada Jongwoon. "Kumohon jawab aku."
Tangan Jongwoon meluncur pelan dari tangan Ryeowook, dan saat itu juga Ryeowook menjatuhkan handuknya dari tangannya.
"Kau pikir aku tidak melihatnya?" tanya Ryeowook dengan amarah yang mulai terdengar di suaranya. "Aku tidak heran sewaktu kau tidak datang menjemputku, kupikir kadang kau harus pergi sampai malam, kupikir kadang kau akan membiarkanku pulang sendiri, kupikir kau punya sesuatu yang penting untuk dilakukan, dan lagi aku memang bisa pulang sendiri, tapi… padahal aku sudah berusaha berpikiran baik tentangmu…"
Jongwoon terdiam. Ia tidak membalas. Ia tahu Ryeowook belum selesai bicara.
"Aku tidak tahu kenapa kau berbohong padaku… menurutku sesekali bohong tidak apa-apa kalau memang hanya itu pilihan yang kau punya, tapi aku tidak percaya kau berbohong tentang hal sepenting ini, Jongwoon…" Ryeowook berhenti sebentar, suaranya mulai bergetar dan air matanya menggenang. "Aku melihatmu… berciuman di gang dengan seorang gadis…"
Mendengar itu, Jongwoon membelalak, ia menghantam lantai dengan kakinya saat ia berdiri. Tubuhnya menjulang di depan Ryeowook dan ia memegang kedua lengan Ryeowook, napasnya entah kenapa terengah-engah. Ryeowook mendongak untuk menatapnya.
"Kenapa? Kalau kau mau menyesalinya sekarang, sudah terlambat," ujar Ryeowook sedih.
"Ryeowook… kumohon dengar aku dulu. Tidak begitu, tidak seperti itu. Semuanya tidak seperti yang kau pikirkan, percayalah padaku!" Jongwoon mengguncang tubuh Ryeowook dengan tangannya.
"Tapi semuanya terlihat seperti yang aku pikirkan, Jongwoon! Aku membiarkanmu berada di sini karena aku mulai percaya padamu! Lalu sekarang kau mau bilang apa, hah? Caramu bersikap padaku bahkan sampai bilang kau menyukaiku segala… kau ini sebenarnya normal, kan?! Kau suka wanita, kan?! Aku tidak tahu siapa yang kau ciumi kemarin, tapi itu cukup menunjukkan bahwa selama ini kau tertutup selimut kebohongan yang tidak terlihat," jelas Ryeowook, air mata mengalir ke pipinya.
Selama beberapa saat, tak ada yang mengatakan apapun. Sementara Ryeowook menunduk dan air matanya menetes-netes dari dagunya, rasa kecewa yang luar biasa menghancurkan hatinya, Jongwoon masih memegangi lengan Ryeowook, berusaha memperbaiki situasi dengan berkata sesuatu, apapun, tapi ia bahkan tidak menemukan satu hurufpun. Ia tidak mau membuat Ryeowook takut dengan kenyataan. Tapi apa dia harus membiarkan semua kesalahpahaman ini berlanjut?
Apa yang telah kulakukan, batin Jongwoon, apa yang telah kulakukan sewaktu dia mulai percaya padaku. Aku malah berbuat begini di saat dia mulai menerimaku di hatinya. Aku lengah. Aku bodoh. Aku payah. Harusnya aku tidak terbawa perintah Hyuna sampai seperti itu.
Ryeowook mendorong tangan Jongwoon pelan dari lengannya. Ia mengelap air matanya dengan jari, lalu mendengus. Sebenarnya Jongwoon ingin jadi orang yang selalu menyeka air matanya di saat begini, tapi ia yakin Ryeowook akan menolaknya. "Bisa… tinggalkan aku dulu? Aku butuh waktu sendiri."
Sambil menyipitkan matanya, Jongwoon yakin hal itulah yang bisa ia lakukan untuk Ryeowook sekarang. Meninggalkannya sendiri sebentar. Ia tahu Ryeowook akan memikirkan semuanya… dan saat ia kembali, ia tidak tahu apakah Ryeowook akan menyambutnya dengan makan malam dan secangkir teh atau barang-barangnya di depan pintu lalu Ryeowook mengusirnya lagi.
Jongwoon mengambil dan memakai mantelnya, lalu berjalan ke depan dan memakai sepatunya, melangkah dengan ragu ke luar, meninggalkan Ryeowook yang masih berdiri di tengah-tengah ruangannya.
Saat itu Jongwoon tidak pergi kemana-mana, sebenarnya. Ia hanya duduk-duduk di kursi yang disediakan di atap apartemen selama berjam-jam, merasakan bagaimana angin dingin membuat rambutnya miring ke satu arah dan kulitnya beku. Beberapa penghuni menggunakan sedikit tempat di atap tersebut untuk menjemur baju, dan mereka menegur Jongwoon saat mereka melihat pria tampan itu duduk sendirian dengan wajah dingin dan tatapan kosong. Mereka sempat takut dan berpikir Jongwoon berubah jadi batu. Ia tidak berkedip, tidak bergerak, tidak melirik, dadanya tidak naik turun karena bernapas—yaampun, hidungnya bahkan tidak mengeluarkan uap panas yang seharusnya ada setiap bernapas di udara dingin. Tetapi karena mereka tidak bisa memindahkan Jongwoon yang seolah menumbuhkan akar dari pantatnya ke kursi yang didudukinya, mereka membiarkan Jongwoon.
Jongwoon baru berdiri dari kursi itu setelah duduk di sana selama 6 jam. Ia bisa merasakan tubuhnya kaku dan pegal, tapi ia segera masuk ke dalam dan berjalan ke kamar Ryeowook.
Menemukan Ryeowook sudah tertidur di kasurnya dengan rumah masih rapi tidak membuat Jongwoon lega, sebenarnya. Ia tidak yakin apa yang terjadi besok pagi saat mereka terbangun di pagi yang baru—baru kali ini Jongwoon berharap pagi tidak pernah datang. Tanpa sadar ia mengutuk Para Penyihir sebagai satu-satunya makhluk Dunia Setan yang bisa mengendalikan waktu.
Aku harus melakukan sesuatu pada Hyuna apapun yang terjadi, niat Jongwoon dalam hati sebelum melepas pakaiannya dan tidur di sofa dengan tubuh yang sebenarnya masih dingin.
A/n2:SAYA MINTA MAAF BANGEET YAAAA TT
Jujur aja saya kaget waktu post chapter sebelumnya, karena kalian pengen Jongwoon enggak terima tawaran Hyuna, tapi di sini malah… DEMI TUHAN SAYA MINTA MAAF ASTAGAH ASDFGHKAXMNJAERAEAMXCHJ;;;;;;;;;;;;;;;;
Emang dari awal saya udat set kayak begini… tapi jawaban, solusi, masalah lagi dan solusi lagi (?) akan muncul satu per satu, janji, suwer TT
Oh iya, ngomong-ngomong belakangan ini saya keingetan Kris yang saya selipin di cerita ini. Waktu saya ngepost chapter debutnya dia, seorang pembaca (halo Phylindan!) bilang, "semoga gak nyesel milih Kris." Waktu itu saya bingung, kenapa emangnya? Kenapa harus nyesel? Dan OHMAIGAT SAYA NYESEL BENERAN SEKARANG. Karena dalam proses mengenal EXO, saya harus nonton Exo's Showtime dan di situ… saya baru tahu kalo Kris ternyata blo'on banget orangnya -_- /digampar/ maafin saya karena tidak mengindahkan peringatanmu… terimakasih /bow/
Oke, Q/A time!
Q:Kenapa Yesung gak minta Ryeowook ngasih darahnya dan jelasin alasannya?
A:Setelah dipikir-pikir lagi… kenapa, ya? Mungkin karena dari awal, Jongwoon udah tahu kalo Ryeowook tuh takut pas dia pertama kali nunjukkin taringnya, dan dia udah sumpah segala supaya gak maksa Ryeowook soal itu (ada di chapter 2). Juga Ryeowook lebih terbiasa ngeliat Jongwoon sebagai 'manusia,' jadi kalo tiba-tiba dia minta darah pasti kan aneh rasanya. Intinya Jongwoon udah ada mindset bahwa dia gak mau maksa, tapi gara-gara itu dia juga jadi gak nyoba -_-v
Q:Kok pemerannya cuman Yesung Ryeowook Sungmin? Member suju yang lain mana?
A:Duh, dari awal emang udah saya tetapin itu-itu aja, soalnya kan saya mempertimbangkan peran mereka di cerita, juga dari aslinya (maksudnya, misalnya di dunia nyata kan Ryeowook deket sama Sungmin dan Donghae, makanya di sini saya bikin mereka sahabatnya Ryeowook). Trus juga kan enggak semua tokoh saya ambil dari Super Junior, ada artis dari group lain (dominasi SM). Maaf yaa;)
Q:Kalo pengerjaan udah sampe chapter 12 kenapa gak langsung dipost sekalian aja?
A:Ntar kan gak greget hahahahaha… haha. ha. (sebenernya gara-gara ga ada waktu sih lol)
Q:Tinggal di mana? Kok kena abu? (loh kok pribadi?)
A:Di daerah yang diapit gunung dan laut, hahaha.
Oke, sampai ketemu di chapter selanjutnya!
Terimakasih buat yang udah nyempetin baca, terutama yang nyempetin :B
