Title:Those Creepy Fangs – Tied
Author:nanaspineapple
Pairing:Yewook
Genre:Supernatural, drama
Rating:T
Disclaimer:Kesamaan nama tokoh memang disengaja
Word Count:3,961
Summary:Didatangi dan dicintai makhluk bertaring pengisap darah bukan salah satu dari cita-cita seorang Kim Ryeowook, tapi itu karena dia tidak tahu takdir macam apa yang sudah disusun untuknya.
A/n:Di chapter ini, 'tied' itu maksudnya bukan 'terikat,' ya. Tapi 'seri' :)
Kok seri? Emangnya main bola? o.o
Hehehe selamat membaca~
CHAPTER 11 – Tied
Seminggu.
Sudah seminggu sialan Jongwoon lewati.
Selama seminggu itu, Jongwoon, entah kenapa tidak bisa menolak Hyuna tiap kali gadis itu mengajaknya keluar. Tidak, Jongwoon yakin dia biseks. Dia tidak suka wanita. Bukan wajah cantik, rambut halus, body bagus atau kaki jenjang Hyuna yang membuat Jongwoon menurutinya. Astaga, Jongwoon bahkan tidak ingat pernah melihat semua itu. Ia tidak tertarik sama sekali. Ia berada di titik di mana Hyuna tak ada bedanya dengan sebongkah batu bata. Lalu ia berciuman dengan batu bata? Menjijikkan.
Selama seminggu itu pula, Ryeowook tidak pernah bertegur sapa dengannya lagi. Anak itu jauh lebih pendiam sekarang, ia bahkan hampir tidak bersuara di rumah. Ryeowook biasanya sering bicara sendiri saat memasak saat belajar, nonton tv atau memasak. Suara-suara kecilnya seperti, 'ah, kulit telurnya masuk!' atau, 'filmnya mulai 5 menit lagi…' atau, 'duh, pulpenku mau habis' itu membuat Jongwoon senang. Tetapi sekarang, bicara sendiri saja tidak pernah, apalagi bicara dengan Jongwoon?
Belakangan ini Jongwoon selalu pulang saat Ryeowook sudah tertidur. Parahnya lagi, ia bahkan pulang saat Ryeowook sudah berangkat. Makin hari, paksaan Hyuna padanya semakin keras. Gadis itu bahkan sudah bisa memaksanya untuk tidak pulang semalaman. Jongwoon yakin ada 1-2 hari dalam seminggu di mana Ryeowook bisa berangkat setelah makan siang, tetapi tiap kali Jongwoon pulang saat matahari sudah tinggi, Ryeowook sudah tidak di manapun di sudut rumahnya, dan Jongwoon tidak perlu berpikir dua kali kalau Ryeowook menghindarinya.
Jongwoon beruntung karena Ryeowook masih meninggalkan sarapan untuknya. Kadang segulung bibimbap, selembar roti panggang dengan sosis, atau sandwhich, dan Jongwoon harus tersenyum pada kebaikan hati Ryeowook padanya. Kadang Jongwoon berpikir mungkin Hyuna sudah menggunakan suatu sihir untuk memanipulasi pikiran seseorang, dan Jongwoon tahu Hyuna cukup pintar untuk melakukannya tanpa Jongwoon menyadarinya. Jongwoon, biarpun memegang pangkat vampir tertinggi, tapi ia tetap saja masih baru di Dunia Manusia, jadi ia belum peka terhadap hal-hal seperti itu.
Ancaman Hyuna mengenai bagaimana ia akan melukai Ryeowook jika Jongwoon tidak menurutinya terus terngiang-ngiang di kepala Jongwoon, sampai ia tidak tahu gadis itu hanya menggertaknya atau benar-benar akan menyerang. Jongwoon melakukan segala permintaan gadis itu demi melindungi Ryeowook, tapi ia sampai di titik jenuh. Sebuah titik di mana ia merasa berada di pinggir jurang tak berdasar.
Ia memang ingin melindungi Ryeowook, tapi apakah dengan cara menuruti Hyuna adalah sesuatu yang salah? Bagaimanapun, Hyuna menginginkan kekuatannya, dan tak ada gunanya kalau suatu hari ialah yang akan diserang Hyuna.
"Apa?" tanya Hyuna dengan alis menukik ke dalam.
"Aku tidak akan mengulangnya lagi," ujar Jongwoon tegas.
"Kenapa Oppa tidak mau bekerja sama denganku lagi? Apa kau mau membatalkan perjanjian kita begitu saja? Tidak! Aku tidak akan membiarkannya!" rengek Hyuna sambil menghentak-hentakkan kakinya. Biasanya hal itu dibenci Jongwoon, tapi kali ini Jongwoon sedang dalam mode super serius sehingga apapun yang dilakukan atau dikatakan gadis itu tak akan mempengaruhinya.
"Aku tidak ingat kita pernah membuat janji, dan aku juga tidak mau mulai sekarang. Lagipula tak ada untungnya aku menurutimu terus. Terserah kau mau apa, aku tidak peduli. Aku tidak mau mengorbankan hubunganku dengan Ryeowook yang susah payah kudapat demi keinginan bodohmu. Aku bisa melindunginya. Kau saja yang terlalu menganggap remeh kemampuanku. Sudah, aku pergi dulu. Kuharap ini pertemuan terakhir kita. Dah."
Jongwoon melangkah pergi dan keluar dari ruangan itu. Ia sedikit terkejut karena Hyuna sama sekali tidak mengejarnya. Tetapi karena itu ia jadi tidak menyadari betapa licik wajah dan betapa angkuh senyuman Hyuna ketika Jongwoon tidak melihat. Biarpun Jongwoon sudah tidak di sana, tapi Hyuna tetap menatap ke arah pintu.
"Aku tidak akan membuat yang barusan jadi yang terakhir, Oppa. Kau tunggu saja dengan manis sambil menjaga anak anjingmu yang tidak bisa apa-apa itu," ujar Hyuna.
oooooooooooooo
Lee Sungmin, meregangkan badannya.
Ia terdiam saat melihat tiga tumpuk buku di depannya. 6… 8… 7… astaga, 21 buku? Ia melihat jam tangannya, jam 7 malam. Sudah empat jam dia di sana dan menghabiskan 21 buku? Ia tidak tahu buku-bukunya yang terlalu tipis atau matanya yang terlalu cepat, yang jelas ini berlebihan. Ia mengambil setumpuk buku untuk dikembalikan ke raknya, tapi berhenti saat melihat Ryeowook mendekatinya dan ikut mengambil setumpuk buku.
"Haai, Ryeowook-ah," sapa Sungmin sambil tersenyum. Ryeowook hanya meliriknya sebentar, lalu menusuk pantat Sungmin dengan lututnya. "Aduh!" jerit Sungmin pelan. "Apaan, sih?"
"Sudah, cepat balikin bukunya. Aku bantu," suruh Ryeowook.
"Duduk saja di sana. Aku bisa sendiri kok," tolak Sungmin. Tapi Ryeowook terus mendorong-dorongnya dan akhirnya Sungmin membiarkan Ryeowook membantunya. Selagi mengembalikan buku, Sungmin tidak bisa berhenti menatap Ryeowook. Ekspresi Ryeowook belakangan ini jelek. Moodnya juga berubah-ubah terus. Tapi mood jelek terus, sih. Sungmin yakin ada sesuatu yang terjadi. Ada hubungannya dengan vampir kah? Sudah beberapa minggu terakhir ini bau vampir yang ada di tubuh Ryeowook tercium sama saja, tidak bertambah atau berkurang. Lalu apa? "Ryeowook-ah, ada apa?"
Ryeowook menoleh pada Sungmin dan terdiam. "Apanya?"
"Kau pendiam banget belakangan ini. Ada apa? Cerita, dong. Mukamu jelek kalau nggak senyum, tahu," ujar Sungmin sambil menaikkan kacamatanya, memasukkan buku ke rak bawah dan berdiri.
"Aku… belum bisa cerita, Hyung." Ryeowook menghela napas sambil memasukkan buku-buku ke rak.
"Tuh, kan. Rahasia-rahasiaan. Aku sudah kenal kau hampir empat tahun dan—ya ampun buku itu bukan di situ tempatnya." Sungmin menarik buku terakhir yang Ryeowook pegang dan meletakkannya di rak yang lain. "Empat tahun, Ryeowook. Baru kali ini kau banyak menyembunyikan hal padaku sampai begini. Kau sudah tidak percaya padaku?"
Ryeowook di saat bersamaan terlihat ragu dan bersalah. Ragu karena ia tidak tahu bagaimana harus menyikapi Jongwoon atau bercerita tentangnya pada orang yang tak mengerti masalahnya, dan bersalah karena ia membuat Sungmin merasa tidak ia percaya lagi.
Sungmin sendiri ingin menertawai kemampuan aktingnya sendiri saat itu. Dari semua orang di dunia ini, sejauh ini ia satu-satunya yang mengetahui masalah Ryeowook bahkan lebih dari Ryeowook sendiri. Tapi kali ini ia yakin ada masalah lain yang dihadapi anak ini dan satu-satunya cara mengetahuinya adalah menemui Jongwoon, dan sayangnya ia tidak tahu bagaimana cara menghubungi Jongwoon.
"Aku… bukannya tidak percaya padamu Hyung. Aku tidak percaya pada diriku sendiri. Aku takut semuanya akan hancur kalau aku cerita pada orang lain. Aku tahu suatu hari aku akan mampu menceritakan segala-galanya padaku, tapi hari ini bukan hari itu. Maaf, Hyung. Aku selalu percaya padamu, dan kali ini aku tidak mau cerita bukan karena tidak percaya…"
Sungmin tersenyum tipis, senang karena Ryeowook tanpa sadar mengerti bahwa soal vampir tidak bisa disebarluaskan begitu saja. Ia senang karena vampir sehormat Jongwoon mendapat orang yang baik seperti Ryeowook. Anak ini baik, bisa diandalkan, terpercaya, dan Jongwoon sangat beruntung karena bisa bersamanya. Sungmin ingin minta maaf, ingin mengatakan bahwa ialah yang suatu hari akan mengatakan semuanya pada Ryeowook, ingin mengatakan bahwa—astaga Ryeowook menangis.
"Wook-ah…" Sungmin mendadak gelagapan. Terakhir kali Ryeowook menangis di depannya adalah saat ia masih semester 2, saat mendapat tugas untuk membuat 7 laporan dalam waktu enam hari. Ryeowook tidak tidur selama 48 jam penuh saat itu, Sungmin bahkan sampai harus menginap di rumahnya untuk memastikan dia baik-baik saja setelahnya. Sungmin tahu frekuensi Ryeowook menangis jauh lebih banyak daripada yang dia tunjukkan padanya karena dia memang cengeng, tapi ia juga tahu semakin Ryeowook dewasa, semakin sedikit dia menangis. Karena lama tidak melihat Ryeowook menangis, dia jadi canggung. "Ada apa, Wook-ah?"
"Aku… aku tidak tahu harus bagaimana, Hyung…" isak Ryeowook. Ia menutupi mulutnya dengan tangan, suara isakannya terdengar jelas karena perpustakaan sangat sepi. Sungmin menggigit bibirnya, ia tidak pernah tega melihat adiknya yang rapuh ini menangis seperti itu. Sungmin melangkah maju dan memeluk Ryeowook, menepuk-nepuk punggungnya dengan sayang, dan tidak peduli kalau ada mahasiswa lain yang melihat mereka. Ryeowook butuh kenyamanan saat ini. Sungmin tidak perlu tahu masalahnya, ia hanya perlu membuat Ryeowook nyaman.
"Ryeowook-ah…" panggil Sungmin. Ryeowook masih terisak-isak. Sungmin menepuk punggung Ryeowook sekali. "Ryeowook-ah, dengar aku," ulang Sungmin. Ryeowook berusaha menghentikan isaknya dan mengangkat wajahnya dari bahu Sungmin. Sungmin mendorong Ryeowook supaya mereka bisa melihat wajah satu sama lain lebih jelas. "Aku akan menunggu… sampai kau mau cerita masalahmu sekarang ini. Aku tidak tahu kapan, tapi aku ingin kau bercerita padaku. Ya?"
Ryeowook menggigit bibirnya dan merasakan air mata makin menggenang di matanya. Kebaikan Sungmin sangat menyentuh hatinya yang sakit. Ia mengangguk, lalu memeluk Sungmin lagi.
Mereka terus berpelukan sampai melupakan setumpuk buku yang masih belum dikembalikan ke rak.
oooooooooooooo
Ryeowook berjalan keluar kampus jam 11 malam. Ia baru selesai mencari data untuk penelitiannya di perpustakaan. Sungmin minta maaf berkali-kali saat ia harus pulang duluan jam 8, tapi Ryeowook tidak keberatan karena ia terbiasa sendiri di perpustakaan sampai malam.
Di gerbang, tanpa sadar ia menahan napas sewaktu melihat rambut merah menyembul di balik dinding. Demi Tuhan, sudah berapa hari dia tidak melihatnya? Apa Jongwoon melakukan ini untuk membuat Ryeowook merasa lebih baik? Ryeowook tahu alasan Jongwoon selalu pulang telat belakangan ini adalah karena wanita sialan yang diciuminya di jalan waktu itu. Ryeowook cemberut, lalu menghela napas sambil berjalan melewati gerbang.
Jongwoon yang memakai sebuah hoodie hitam dan jeans biru saat itu langsung berdiri tegak saat Ryeowook mendekat. Kepalanya mengikuti Ryeowook yang terus berjalan melewatinya tanpa melihat atau mengatakan sesuatu. Kaki Jongwoon, seperti biasa, mengikuti kemana Ryeowook melangkah. Seperti biasa, Jongwoon membiarkan kekosongan selebar 2 meter di antara mereka. Entah kenapa Jongwoon tidak pernah berjalan di sisi Ryeowook. Ia selalu berada di belakangnya. Saat jalanan sepi, ia akan membuat jaraknya tetap, tetapi saat jalanan ramai, Jongwoon akan berjalan lebih dekat dengan Ryeowook. Hari ini, melihat ekspresi Ryeowook yang tidak terlalu bagus, Jongwoon tanpa sadar membuat jarak di antara mereka lebih jauh.
Ketika mereka berbelok memasuki jalanan yang sepi menuju apartemen Ryeowook, saat jarak antara Ryeowook dan Jongwoon cukup jauh, Ryeowook tiba-tiba terjatuh dan wajahnya menghantam trotoar. Melihat itu, Jongwoon langsung berlari ke arahnya, tapi belum sempat ia melangkah, sekelompok orang menghadangnya. Tanpa perlu menghitung, ia tahu ia dikepung 20 orang. Orang-orang itu sengaja memberi celah bagi Jongwoon untuk melihat Ryeowook yang terkapar tak sadarkan diri dan Hyuna yang menghampirinya dengan wajah licik.
Dan Jongwoon sadar membuat jarak terlalu jauh dengan Ryeowook adalah suatu kesalahan.
"Hyuna?! Yah, Kim Hyuna! Apalagi rencanamu kali ini?!" bentak Jongwoon. Ia menoleh-noleh pada orang-orang di sekitarnya. Mata-mata mereka menatap Jongwoon dengan tatapan bergerak-sedikit-saja-kubunuh-kau.
"Apalagi rencanaku? Rencanaku hanya satu, Jongwoon Oppa. Yaitu membuatmu menurutiku. Haruskah cara terkotor kulakukan? Kalau iya, kenapa tidak?" Hyuna menendang kepala Ryeowook dengan ujung sneakers hijaunya. Jongwoon tersentak.
"Jangan sentuh dia! Kuperingatkan kau! Jangan sentuh bahkan hembusan napasnya!" teriak Jongwoon. Hyuna hanya mengangkat kedua bahunya. Ada apa dengan penampilan Hyuna malam ini? Topi hijau, kaus abu-abu yang didobel kemeja hijau kebesaran, legging hijau tua, dan sneakers hijau? Apa dia mau jadi rumput malam ini? Rasanya ingin sekali Jongwoon melempar Hyuna ke kandang kambing agar mereka memakan Hyuna. Tapi seingat Jongwoon kambing bukan karnivora—baiklah Jongwoon bahkan belum pernah melihat kambing.
"Kalau aku menyentuhnya? Kau mau apa?" Hyuna meletakkan kakinya di atas leher Ryeowook, lalu menyeringai saat Jongwoon membelalakkan mata sipitnya semakin lebar. "Kau tahu kan… apa yang akan terjadi kalau apa yang ada di bawah sepatuku ini kuinjak-injak? Bagaimana menurutmu… O… ppa?" tanya Hyuna dengan nada yang dibuat sok imut.
"Kim Hyuna! Yah, Kim Hyuna!" teriak Jongwooon. Orang-orang di sekitar Jongwoon merapatkan diri mereka dan Jongwoon mengeraskan rahangnya, urat di lehernya mulai muncul karena marah.
"Oppa, kau tahu apa rencanaku malam ini? Aku akan membuat orang-orang di sekitarmu menyerangmu."
Jongwoon tersenyum meremehkan. "Lalu? Kau pikir aku tidak akan menang?"
Hyuna tersenyum manis. "Tidak, tentu saja Oppa yang menang. Hanya saja saat kau sibuk dengan mereka, aku akan menyiksa anak anjing kecilmu ini dan mengisap darahnya sampai mati. Jadi saat kau selesai dengan mereka, kau akan menemukan mayat di sini. Tidakkah itu luar biasa?"
Dan senyum Jongwoon menghilang.
"…dasar gadis jalang," geram Jongwoon. Senyum Hyuna makin bertambah lebar, dan tatapannya begitu penuh arti. Arti yang jahat sih.
"Tidak perlu mengataiku seperti itu, aku memang jalang, aku memang liar. Dan kau tahu, Oppa? Ancamanku selama ini bukan omong kosong belaka. Apa kau pikir hanya karena aku perempuan jadi yang bisa kulakukan hanya menggertak? Aku sudah 15 tahun di Dunia Manusia, aku belajar, aku punya pengikut, aku punya koneksi. Apa yang bisa dilakukan seorang Halfwing yang belum dua bulan di sini?"
"Lalu apa penawaran yang kau tawarkan?"
"Karena Oppa berbuat jahat padaku, membatalkan perjanjian seenaknya… aku jadi harus begini segala. Tapi aku akan memberimu kesempatan kedua. Aku akan menghitung sampai tiga!" Hyuna mengangkat tiga jarinya, dan Jongwoon mengangkat satu alisnya. Dan tiba-tiba dia juga ingin mengangkat kursi. Dan meja. Dan kulkas. Dan bulan. Dan melemparnya pada Hyuna. "Sampai hitungan ketiga, Oppa harus memutuskan untuk kembali menerima kesepakatan awal kita atau tidak. Kalau tidak, orang-orang di sekitarmu dan aku akan bergerak dalam waktu yang bersamaan."
Entah saat itu sudah keberapa kalinya Jongwoon harus mendecih pada rencana Hyuna yang begitu licik, kurang ajar, tidak tahu diri, tapi juga cerdas, terorganisir, dan tingkat keberhasilannya cukup tinggi.
"Satu…"
Jongwoon tersadar dari pikirannya. Hyuna menggoyang-goyangkan pergelangan kakinya. Orang-orang di sekitar Jongwoon semakin merapat.
"Dua…"
Jongwoon heran dengan bagaimana hal-hal kecil yang dilakukan Hyuna bisa membuat suasana jadi begitu tegang. Suasana sangat tidak enak saat ini, dan itu hanya karena Hyuna sedang berhitung. Setiap hitungan menambah beban di kepala Jongwoon. Dan semakin ia memikirkannya, ia malah semakin tidak bisa memutuskan.
"Ti?"
Jongwoon terdiam dan berusaha menenangkan pikirannya. Ingat-ingat bagaimana dulu sebelum dia dikirim ke Dunia Manusia. Ia diperintahkan untuk mengabdi pada manusia yang ditakdirkan padanya—dalam kasus ini adalah Kim Ryeowook. Sebagai ganti si manusia memberikan darahnya, Jongwoon harus melindunginya. Tetapi Jongwoon tidak perlu setetespun darah Ryeowook untuk melindunginya. Badannya yang kecil dan rapuh itu membuatnya ingin selalu memeluknya. Ia sudah melakukan semua yang bisa dilakukannya selama sebulan terakhir ini. Ia tidak peduli Ryeowook pernah mengusirnya dua kali, yang ia pikirkan hanyalah bagaimana ia bisa selalu berada di sisi Ryeowook.
Melihat Jongwoon tidak segera menjawab, Hyuna mengayunkan kakinya ke leher Ryeowook. "Ga—!"
oooooooooooooo
Kim Ryeowook, terbangun.
Ia menoleh-noleh. Ia berada di kasurnya. Gorden sudah dibuka dan di luar sudah terang. Ia melihat jam di atas meja lampu di sebelah kasur, masih jam 7. Ia melihat Jongwoon duduk di atas sofa di seberang kasur, menunduk dalam dengan tangan memegangi kepala.
Apa yang terjadi? Semalam ia ingat keluar dari perpustakaan jam 23:14 di ponselnya. Lalu ia pulang dengan Jongwoon, lalu saat sudah dekat rumah… apa? Ia tidak ingat apa-apa. Apakah karena ia terlalu lelah, lalu jadi tidak ingat sudah masuk rumah dan tidur? Ryeowook menunduk, melihat bajunya. Masih baju yang tadi malam. Saking lelahnya ia bahkan tidak mandi—setidaknya, ganti baju? Karena Kim Ryeowook adalah tipe orang yang tetap akan mandi walaupun sampai rumah jam 2 pagi, itu juga kalau belum tepar di kasur.
Pokoknya, tadi malam pasti ada sesuatu yang terjadi. Lalu kenapa ia tidak ingat apa-apa, ya?
"Jongwoon?" panggil Ryeowook. Jongwoon tidak menjawab. Ryeowook menyibak selimut yang menutupi kakinya dan mengayun kakinya sampai telapaknya menyentuh permukaan lantai yang dingin. "Jongwoon?"
Jongwoon menurunkan tangannya dari kepalanya perlahan, lalu mengangkat wajahnya, menatap Ryeowook yang berdiri di depannya. Baru seminggu. Baru seminggu yang lalu Ryeowook mulai diam pada Jongwoon. Hanya seminggu. Tapi entah kenapa rasanya sangat lama sampai Jongwoon lupa kapan terakhir kali Ryeowook memanggil namanya dengan lembut seperti itu.
Ia tidak perlu bertanya kenapa Ryeowook melihatnya seperti itu. Ryeowook menunggunya bicara. Jongwoon tahu Ryeowook bertanya-tanya soal kejadian tadi malam. Apa yang terjadi saat mereka pulang, dan kenapa ia terbangun di kasur tanpa ingatan apa-apa. Rasa bersalah perlahan menutupi mata Jongwoon, ia menggigit bibirnya.
"Ga—!"
"Aku menerimanya! Aku… ayo ulang perjanjiannya."
"Katakan sesuatu, Jongwoon," suruh Ryeowook, ia mengernyitkan dahi karena ekspresi Jongwoon sangat aneh. Entah tatapan minta dikasihani atau ingin menangis, dan Ryeowook tidak tahu kenapa Jongwoon tidak bicara apa-apa saat ia ingin Jongwoon cerita soal tadi malam.
"Selama kau konsisten dengan kalimatmu itu, aku tidak akan menyentuh Kim Ryeowook ini, Jongwoon Oppa. Seperti yang kau bilang, aku bahkan tidak akan menyentuh hembusan napasnya."
"Lebih baik kau yang pegang kata-katamu itu, Kim Hyuna."
"Aku tidak akan repot-repot berbuat begini kalau ujung-ujungnya hanya kebohongan."
Jongwoon merasa matanya mulai basah, jadi ia menunduk lagi. Ryeowook semakin bingung. Ini orang kenapa sih? Ryeowook tersentak saat Jongwoon tiba-tiba berdiri. Ia berdiri dengan sangat cepat sampai-sampai Ryeowook tidak sempat melihat wajahnya. Ia membelalak bingung saat Jongwoon berjalan ke arah pintu, memakai sepatu dan keluar.
Ryeowook hanya tidak pernah menyangka, kalau keputusan Jongwoon untuk melangkah pergi dari rumahnya sekali lagi itu, menuju ke satu lagi seminggu yang menyedihkan. Jongwoon tetap mengantarnya dan menjemputnya, lalu ia akan pergi lagi sampai malam. Jika kebetulan Ryeowook masih bangun karena mengerjakan tugas saat Jongwoon baru pulang, ia akan menatap Jongwoon seolah dia adalah laki-laki paling brengsek di dunia ini. Ryeowook selalu teliti sejak ia kecil, dan tidak mungkin ia melewatkan bekas lipstik yang Jongwoon coba hapus di sekitar wajah dan lehernya.
Rasa amarah yang tertimbun dalam diri Ryeowook, tanpa ia sadari, menumpuk semakin tinggi melewati batas emosionalnya sendiri. Ryeowook terbiasa menahan perasaannya karena ia tidak suka kalau harus terus marah-marah. Tapi di satu sisi ia juga tetap harus curhat pada seseorang. Ia tidak pernah menulis di diary, karena ujung-ujungnya dia hanya akan merobek-robek kertasnya dan melemparnya ke tempat sampah.
Karena itu Ryeowook memutuskan untuk langsung bercerita pada Sungmin kalau mereka bertemu.
oooooooooooooo
"Apa? Selingkuh?"
Ryeowook mengangguk lemah. Ia dan Sungmin sedang duduk bersama di bangku dekat lapangan. Seperti yang diniatkan Ryeowook sebelumnya, begitu bertemu Sungmin yang baru saja menemui Donghae di lapangan sepak bola, Ryeowook langsung menariknya ke bangku, bertanya jika Sungmin sedang terburu-buru atau tidak, dan begitu melihat Sungmin sedang senggang ia langsung bercerita mengenai Jongwoon—biarpun ia tidak menyebut Jongwoon.
"Iya. Apakah dia tidak serius dari awal? Tapi semuanya tidak terlihat seperti bohongan… saat ia tersenyum padaku atau mengatakan suka padaku… semuanya jujur, terlihat dari matanya… tapi sekarang…"
"Kalau begitu… apa ini berarti kau sudah benar-benar menyukainya?" tanya Sungmin. Ryeowook menoleh ke arahnya pelan, lalu menghela napas.
"Entahlah, ya." Ryeowook mengedikkan bahunya.
"Dari awal kau gengsi, sih. Jadinya waktu kau sudah suka padanya, tetap saja tidak mau mengaku." Ryeowook tidak menjawab kali ini. Seperti biasa, Sungmin mengartikan tatapan ragu-ragunya itu sebagai iya-juga-sih yang tidak mau diucapkan. "Tapi, kalau memang dia selalu jujur padamu sebelumnya, mungkin saja dia sedang menyembunyikan sesuatu?"
"Perempuan?"
"Bukan, maksudku, di balik 'selingkuh'nya dia ini mungkin ada sesuatu yang lain yang dia sembunyikan."
Ryeowook mengedikkan bahu untuk ke sekian kalinya. "Dia tidak menyangkal waktu kutanya soal itu. 'Bukan seperti itu,' dan, 'semuanya tidak seperti yang kau pikirkan.' Bukannya itu kalimat yang biasa untuk menghindari kesalahpahaman? Entah aku sedih atau cemburu… aku tidak tahu…"
"Tapi kurasa perasaanmu saat ini lebih condong ke arah kecewa karena dibohongi seperti itu. Ini hanya permisalan saja, ya. Selingkuh saja sudah buruk, tapi jika dia juga sampai berbohong soal biseks… itu sudah agak keterlaluan. Ini permisalan, lho. Aku bukannya mau memperburuk keadaan."
"Karena kami selalu berdua, kupikir hubungan kami sejauh ini akan baik-baik saja… tapi ternyata tidak. Orang ketiga bisa masuk kapan saja dan salah satu dari kami memiliki kemungkinan untuk menerima orang ketiga yang tidak diharapkan itu."
oooooooooooooo
Kim Ryeowook di kantin, sendirian.
Ia sedang meminum jus jeruk yang dibelinya 15 menit yang lalu. Di tangan kanannya terdapat sebuah novel sastra yang ia beli waktu SMA. Belakangan ini ia membaca ulang novel-novel di lemari bukunya karena terlalu malas pergi ke toko buku untuk beli yang baru. Semua kejadian mengenai vampir dan segala embel-embelnya itu membuatnya pusing. Lagipula banyak novel lamanya yang bagus-bagus jadi tidak terbaca, jadi ia memutuskan untuk membaca ulang.
Tiba-tiba, seorang pria tinggi menghampirinya sambil membawa segelas kopi dan sandwhich.
"Permisi," ucap pria itu, "apa di sini kosong?"
Ryeowook mengangkat wajahnya dan menatap pria itu. Pria itu tersenyum padanya, menunggu Ryeowook menjawabnya. Sadar karena ditunggu, Ryeowook segera mengangguk. "Iya. Kosong. Pakai saja," jawab Ryeowook sambil menunjuk kursi di depannya. Lelaki itu berterimakasih sambil meletakkan makanannya di meja dan menarik kursi, lalu duduk.
Pandangan Ryeowook memutari kantin. Saat itu jam 14:09, jam makan siang sudah lewat. Kantin sepi, dan dari sekitar 25 meja, hanya 7 yang terisi. Lalu kenapa laki-laki ini memilih duduk bersama Ryeowook? Mereka bahkan tidak saling kenal.
Yah, bukannya Ryeowook tidak tahu juga, sih. Ia tahu laki-laki di depannya ini adalah Cho Kyuhyun, mahasiswa MIPA yang angkatannya di bawah Ryeowook. Tiba-tiba pikirannya mengingat-ngingat semua gosip yang pernah ia dengar tentang Cho Kyuhyun ini dari teman-temannya.
Kalau yang cewek…
"Tahu Cho Kyuhyun, kan? Yang anak MIPA itu! Ganteng bangeeet!"
"Iya, badannya tinggi! Senyumnya manis!"
"Kalian tahu, nggak? Walaupun dia anak MIPA, tapi suaranya bagus loh. Aku dengar dari temanku yang satu angkatan dengannya di SMA, dia pernah menyanyikan On the Street-nya Sung Sikyung! Aku sudah lihat videonya. Kalian harus nonton!"
"Dia juga berprestasi, kan?"
"Kudengar sejak SD dia sudah menjuarai olimpiade matematika."
"Temanku bilang di rumahnya ia punya satu lemari yang isinya khusus medali emas hasil olimpiade matematikanya sejak SD!"
"Katanya dia tidur dengan menyelipkan kertas berisi rumus matematika di bawah bantalnya!"
"Dia orang kaya, kan? Dia bahkan punya 3 kartu kredit dan tidak pernah bawa dompet kalau belanja!"
Kalau yang cowok…
"Liburan musim panas kemarin aku pergi ke sale game di toko mainan di mall. Dan kalian tahu siapa yang kulihat di sana? Cho Kyuhyun! Anak MIPA yang tinggi itu!"
"Hah? Anak seperti itu main game?"
"Dia malah mendapatkan barang salenya paling pertama. Kudengar dia punya banyak rare game."
"Ah, temanku pernah bertemu dengannya di warnet. Katanya Cho Kyuhyun ini tinggal di warnet selama 5 hari untuk menyelesaikan game."
"Kudengar itu rekor, lho. Belum ada yang menyelesaikan game itu secepat dia."
"Ada yang bilang dia punya satu ruangan di rumahnya yang isinya hanya mesin dan konsol game."
"Dia penggila Starcraft, kan? Katanya dia punya semua seri dari yang pertama dan saat ada yang rilis dia akan langsung membelinya, baik langsung ataupun online."
"Bahkan kudengar dia pergi ke Jepang hanya untuk beli game! Benar-benar beli game lalu langsung pulang!"
Biarpun beda topik, semuanya sama saja: berlebihan. Ryeowook tidak pernah tertarik atau penasaran ketika mendengar tentang Cho Kyuhyun ini. Lalu ngomong-ngomong kenapa dia harus duduk dengan Ryeowook? Apakah karena meja yang dipilih Ryeowook ada di titik nyaman?
"Maaf…" ujar Ryeowook, dan Kyuhyun mengangkat wajahnya. "Anu… ada yang bisa kubantu?"
Kyuhyun mendengus menahan tawanya. Ia mengunyah sandwhich di mulutnya dan menelan, lalu tersenyum. "Yah, bagaimana ya mengatakan ini. Ah, ngomong-ngomong aku Cho Kyuhyun."
"Aku tahu. Kim Ryeowook."
"Aku tahu."
"Jadi?"
"Emm… begini, Ryeowook Hyung." Kyuhyun berdehem, lalu menegakkan tubuhnya. "Aku… sudah cukup lama memperhatikanmu. Cukup lama… maksudku, sejak aku baru masuk sini. Aku sering melihatmu di perpustakaan dan lab komputer."
Ryeowook mengernyit. "Jadi… seberapa jauh kau memperhatikanku?" tanya Ryeowook, merasa kalau anak ini…
"Yah, bukannya aku berlebihan, tapi karena sudah terlalu lama memperhatikanmu aku jadi hapal. Kalau di perpustakaan, pasti tempat pertama yang kau tuju itu rak seni, karena kau di fakultas seni, kan? Kau akan membaca 2-3 buku tentang piano, lalu kalau bosan kau akan pergi ke rak novel dan membaca beberapa novel yang tipis. Kadang kau juga ke rak bahasa, mengambil kamus Bahasa Cina dan mengeluarkan novel berbahasa Cina dari tasmu. Lalu kau akan membaca novel itu dengan bantuan kamus. Kalau di lab komputer… kau pasti buka web kampus, kau juga hanya membuka web dan blog yang isinya partitur. Ya kan?"
…stalker.
"Wow… semuanya… benar. Lalu… kenapa kau melakukannya?" tanya Ryeowook, sedikit takut.
"Kau sangat manis, Hyung. Aku sudah terlalu lama memperhatikanmu, awalnya hanya penasaran, sih. Tapi lama-lama aku jadi benar-benar suka padamu. Aku sudah tahu, kau gay kan? Karena aku juga, kurasa ke depannya akan lancar karena kita sama. Kau mau jadi pacarku? Bagaimana?"
Ya, stalker yang mengerikan.
"Anu… aku bukannya tidak menghargai perasaanmu, aku senang karena kau menyukaiku… tapi tidakkah ini terlalu tiba-tiba? Aku tidak mengenalmu—aku tidak bisa pacaran denganmu," tolak Ryeowook dengan ekspresi yang entah kenapa begitu lelah.
"Wah, maaf. Sepertinya aku terlalu terburu-buru, ya? Tapi jangan langsung menolakku begitu, dong, Hyung. Kau hanya akan menyakiti hatiku. Kau menolakku karena belum tahu orang seperti apa aku ini. Untuk sekarang, kita berteman dulu tidak apa-apa, kan?"
Pada akhirnya Ryeowook tersenyum pada Kyuhyun dan mengangguk. "Tidak apa-apa. Tapi kalau kau menembakku tiba-tiba seperti tadi aku akan selalu menolakmu, ingat itu."
Kyuhyun tertawa. "Aku akan lebih hati-hati."
Orang ketiga bisa masuk kapan saja dan salah satu dari kami memiliki kemungkinan untuk menerima orang ketiga yang tidak diharapkan itu.
A/n:Halohaaa :D
Hehehe, kalian lagi pada UTS, ya? Saya juga bentar lagi nih, duuh malesnyaa TT
Di chapter ini lebih Ryeowook!centric, ya. Soalnya emang masalah kan gabisa dari sisi Jongwoon aja, ntar kurang seru muahahaha /dikeplakin/
Tapi tenaaang, di chapter selanjutnya saya akan keluarin tokoh kunci (?) yang bisa membuka gembok masalah baik di pihak Jongwoon dan Ryeowook :3
Tapi yaa bukan berarti masalah berhenti sampai di sini
Saya sampe capek gara-gara kebanyakan masalah TT siapa sih yang nulis cerita ini
Yaudah deh gitu aja, selamat menunggu lagi buat kalian, dan selamat menulis lagi buat saya :|
Makasih buat yang udah nyempetin baca, terutama yang nyempetin review :B
