Title:Those Creepy Fangs – Kyuhyun's Intention
Author:nanaspineapple
Pairing:Yewook
Genre:Supernatural, drama
Rating:T
Disclaimer:Kesamaan nama tokoh memang disengaja
Word Count:5,762
Summary:Didatangi dan dicintai makhluk bertaring pengisap darah bukan salah satu dari cita-cita seorang Kim Ryeowook, tapi itu karena dia tidak tahu takdir macam apa yang sudah disusun untuknya.
A/n:HAHAHA sekitar 1,700 kata lebih panjang HAHAHA enjoy!
CHAPTER 12 – Kyuhyun's Intention
Jongwoon berdiri di depan gerbang kampus Ryeowook seperti biasa, lalu ia melongok ke dalam saat merasakan Sungmin mendekat. Ternyata benar, Sungmin sedang sedikit berlari ke arahnya. Jongwoon memutar badan menghadap Sungmin, dan Sungmin berhenti di depannya dengan napas yang sedikit terengah.
"Wangjanim," panggil Sungmin sambil menunduk sopan. Jongwoon balas menunduk sedikit, lalu ketika mereka saling menatap lagi, Jongwoon mengangkat alisnya, tahu Sungmin ingin mengatakan sesuatu. "Saya ingin bicara sesuatu. Bisa bicara berdua saja?"
Tuh kan.
Begitu Jongwoon mengangguk, Sungmin berjalan ke dalam dan Jongwoon mengikutinya. Sekali lagi ia dihujani tatapan penuh cinta dari mahasiswi di sana. Beberapa dari mereka bahkan mengeluarkan ponsel untuk memotretnya. Padahal Jongwoon sengaja datang dengan sederhana saat itu. Topi hitam, jumper biru tua, jeans hitam dan sneakers merah. Ia bahkan tidak memakai eyeliner dan antingnya. Tidak akan ada yang menyangka kalau pria setampan Jongwoon sedang berjalan mengikuti Sungmin yang secara kasar (dalam artian kalau dilihat sekilas) selalu dinilai culun oleh anak kampus.
Sungmin melangkah menuju kantin menunjuk meja yang menurutnya nyaman. Jongwoon menarik kursi untuknya dan duduk di sana.
"Apa ada yang ingin anda makan?" tanya Sungmin sambil menggaruk tengkuknya.
"Tidak ada. Mungkin… kopi?"
"Tolong tunggu sebentar." Sungmin berjalan ke arah counter dan memesan dua gelas kopi. Gelas-gelas itu sampai secepat cahaya dan Sungmin segera membayarnya, lalu membawanya pada Jongwoon. Ia meletakkan segelas kopi di depan Jongwoon.
"Terimakasih," ujar Jongwoon sambil mengangkat gelas itu ke hidungnya dan mengendus baunya. Baunya enak, tapi kopinya masih terlalu panas, jadi ia meletakkannya lagi. Sementara itu, Sungmin sudah mulai menyeruput kopinya. Karena memang masih terlalu panas, ia menyeruputnya sedikit-sedikit. Jongwoon mulai merasakan keraguan dalam diri Sungmin untuk bicara. "Jadi?" tanya Jongwoon, membuat Sungmin menatapnya. "Kau mau bicara apa?"
Sungmin sedikit membelalakkan matanya, lalu menatap gelas kopinya. "Eh, begini… kemarin Ryeowook cerita pada saya bahwa…" Sungmin berhenti dan kembali menatap Jongwoon, sekali lagi tersandung keraguan. "Um… anda… selingkuh?"
Jongwoon tidak menjawab kali ini. Ia menghela napas. "Kau tahu Kim Hyuna?"
Sungmin berpikir sebentar, lalu mengangguk. "Tahu. Broisk?"
"Iya." Jongwoon mengangguk, lalu mengambil gelas kopinya, menyeruputnya dan menyesalinya karena suhunya tidak ada bedanya dengan yang tadi. "Dia menemuiku secara pribadi sekitar dua minggu yang lalu. Kami membuat semacam… perjanjian."
"Perjanjian? Perjanjian yang seperti apa, Wangjanim?"
Jongwoon menghela napas sambil melepas topinya, lalu mengacak rambutnya. "Ini akan jadi cerita yang panjang, tapi aku akan mulai dari awal.
"Toleransi alkoholku rendah. Aku tidak bisa minum black wine. Aku tidak mau minum darah manusia selain Ryeowook. Dia belum mengijinkanku melakukannya. Pilihan terakhir hanya sari anggur hitam. Aku sudah sampai batas tapi masih kupaksa. Masalah ini terbaca oleh Hyuna dari pikiranku.
"Awalnya dia hanya menawarkan darahnya agar aku tetap bisa hidup dengan baik-baik saja, dan tentu saja langsung kutolak. Tapi pada akhirnya, aku sudah menduganya, dia menggunakan Ryeowook untuk mengancamku. Dia mengatakan akan melakukan sesuatu yang buruk pada Ryeowook jika aku tidak menurutinya, dan aku tidak akan meletakkan Ryeowook dalam keadaan yang terpaksa seperti itu, jadi…
"Inilah perjanjian kami. Aku menuruti keinginannya dan dia akan menjaga jarak dengan Ryeowook.
"Pokoknya, aku mulai menurutinya. Menemaninya jalan-jalan dan belanja dan macam-macam. Aku tidak tahu kenapa aku bisa semudah itu menurutinya walaupun sebenarnya aku tidak mau… aku sedikit menduga dia menggunakan sihir manipulasi, tapi entahlah. Aku bahkan tidak menolak sewaktu dia menciumku dan dia membuatku tidak tahu Ryeowook telah melihatnya. Aku jadi berpikir kalau aku ini bodoh sekali, aku membiarkan diriku lengah. Kim Hyuna adalah gadis yang cerdas, sampai aku tidak tahu harus bagaimana."
Sungmin menatap Jongwoon dengan iba begitu vampir itu menyelesaikan ceritanya. Kopi di tangannya sudah tidak sepanas tadi, tapi Sungmin masih belum bicara walaupun Jongwoon menghabiskan setengah gelas kopinya.
"Wangjanim…" ujar Sungmin, suaranya bergetar. "Anda harus menceritakan yang barusan pada Ryeowook. Dia… dia benar-benar sudah salah paham pada anda. Saya yakin dia akan percaya kalau anda menceritakan yang sebenarnya. Anda harus meluruskan masalah ini."
"Tidak," geleng Jongwoon. "Dia tidak akan percaya. Dan lagi, aku masih belum ingin dia mengetahui yang sebenarnya sekarang. Aku sudah banyak memikirkan ini… dan sepertinya aku akan membiarkannya dulu. Aku yakin suatu saat semua akan terbongkar dengan sendirinya, aku yakin Ryeowook akan percaya pada kata-kataku lagi."
Sungmin menggigit bibirnya, tidak setuju dengan Jongwoon. "Tapi, Wangjanim—"
"Kumohon, Lee Sungmin," potong Jongwoon, tatapan matanya yang begitu pedih membuat Sungmin kembali diam. "Kumohon rahasiakan ini dari Ryeowook. Aku janji, janji, aku akan menyelesaikan masalah ini. Sampai saat itu, setidaknya sampai aku memintamu, tolong rahasiakan hal ini dari Ryeowook."
"Baik, Wangjanim," ujar Sungmin akhirnya. "Saya… akan membantu anda. Ijinkan saya melakukan sesuatu untuk anda, Wangjanim."
"Aku hanya ingin kau menjaga Ryeowook selama aku tidak bisa menjaganya," pinta Jongwoon. "Sebagai teman, aku tahu kau selalu menjaganya sebagai adik sendiri, tapi kali ini berbeda. Kau tidak usah ikut campur urusanku dengan Hyuna, kau cukup menjaga Ryeowook untukku saja. Tolong."
Sungmin mengangguk mantap. "Dengan senang hati, Wangjanim. Saya akan lakukan yang saya bisa."
Jongwoon tersenyum, senyumannya begitu ramah dan hangat sampai Sungmin langsung merasa sangat akrab dengannya. "Terimakasih, ya."
oooooooooooooo
Kim Ryeowook, menatap Cho Kyuhyun.
"Boleh duduk di sebelahmu?" tanya Kyuhyun, ia memegang sebuah buku kecil berisi teori fisika.
"Iya, duduk saja," ujar Ryeowook sambil menepuk kursi di sebelahnya.
"Terimakasih~" Kyuhyun menarik kursi itu dan duduk, lalu menatap Ryeowook sambil tersenyum. Ryeowook balas tersenyum padanya. Sungmin di depannya menatap mereka heran. Kyuhyun menyadari tatapan heran Sungmin, jadi Kyuhyun juga tersenyum. "Lee… Sungmin? Hyung?"
"Eh?" Ryeowook melihat Sungmin, lalu Kyuhyun, lalu Sungmin lagi, lalu Kyuhyun lagi, lalu menunjuk Sungmin. "Kalian kenal?"
"Pernah kenalan waktu… SMP? Waktu itu ada lomba musik dan semacamnya. Waktu itu kupikir Sungmin Hyung keren sekali main gitarnya, jadi kuajak kenalan. Tapi setelah itu kita nggak saling berhubungan lagi, ya Hyung. Ternyata malah satu kampus. Aku heran kenapa kau nggak ambil jurusan seni," celoteh Kyuhyun. Sungmin menatapnya dengan tidak tertarik.
"Kau ngapain ke sini?" tanya Sungmin, tidak terlihat ingin melanjutkan pembicaraan soal bagaimana ia dan Kyuhyun saling kenal. Kyuhyun cemberut.
"Tidak boleh? Aku kan juga mau baca buku. Ya? Ryeowook Hyung?" Kyuhyun memiringkan kepalanya dengan imut ke arah Ryeowook. Ryeowook hanya tertawa kecil.
"Kupikir si jenius Cho Kyuhyun tidak perlu baca buku."
"Tentu saja aku perlu."
Kyuhyun memang berkata bahwa ia ingin membaca buku, tapi setengah jam selanjutnya ia habiskan dengan bertanya-tanya pada Ryeowook. Pertanyaan-pertanyaan sepele seperti Hyung kalau bangun jam berapa atau mengerjakan tugas jam berapa atau siapa yang masak di rumah atau sejak kapan tinggal sendiri atau bisa main lagu Beethoven yang mana bahkan seperti apa ciuman pertamamu itu membuat Sungmin ingin muntah dan dia beralasan mencari buku lain untuk dibaca padahal dia mau pindah meja.
Tetapi yang membuat Sungmin terkejut adalah, bagaimana Ryeowook dan Kyuhyun bisa begitu akrab padahal mereka kelihatannya baru kenal. Kyuhyun membawa buku yang baru diambilnya dari rak, tapi entah kenapa ia membiarkan buku itu tertutup dan justru ikut membaca buku yang sedang dibaca Ryeowook. Ryeowook sedang membaca novel roman saat itu, dan mereka tertawa bersama pada kalimat lucu di buku itu.
Dari balik rak-rak, dengan matanya yang tajam, Sungmin ingin terus mengawasi Ryeowook yang sepertinya, entah bagaimana, entah kenapa, terlihat begitu akrab dengan Kyuhyun, seolah mereka saling kenal lebih lama dari Ryeowook mengenal Donghae. Tapi buku yang sedang dibaca Sungmin sedang di bagian yang seru, jadi untuk sementara ia akan membiarkan dua orang yang sedang bercanda itu demi menyelesaikan bukunya.
oooooooooooooo
"Hyung, ternyata Kyuhyun bisa main banyak alat musik, loh. Kemarin aku lihat dia main keyboard di ruang musik. Tadi dia bawa harmonika dan main di depanku."
"Sungmin Hyung, lihat buku yang dibawakan Kyuhyun untukku! Isinya lagu-lagu klasik yang jarang didengar orang sih, tapi enak-enak, kok! Mau main?"
"Maaf ya Hyung, aku barusan diajak makan sama Kyuhyun jadi tidak bisa pergi denganmu."
"Lihat deh kamus besar Bahasa Cina ini! Tebal, ya? Katanya ini edisi asli. Siapa sangka Cho Kyuhyun belajar Bahasa Cina juga, pakai kamus setebal ini pula."
"Aku lihat catatan prestasinya Kyuhyun, lho, Hyung. Ternyata gosipnya tentang ikut olimpiade matematika sejak SD dan sering menang itu bukan omong kosong, hebat, ya?"
"Sungmin, Hyung? Maaf, aku—"
"Hyung aku pergi dengan Kyuhyun dulu, ya. Kami mau ke—"
"Hyung?"
"Sungmin Hyung! Aku—"
"Maaaf Hyung aku sudah janji dengan Kyuhyun!"
"Oke ini keterlaluan," geram Sungmin.
Lagi-lagi, untuk ke sekian kalinya dalam hampir dua minggu, Sungmin ditinggal oleh Ryeowook. Kenalan masa kecilnya, Si Cho Kyuhyun yang dianggap Mr. Perfect oleh banyak gadis di kampus itu tiba-tiba membuat jurang di antara Ryeowook dan Sungmin. Entah kenapa Ryeowook begitu menempel padanya. Sungmin cukup yakin Kyuhyun itu bukan tipe orang yang menyenangkan. Ia tidak tahu itu perasaannya saja atau memang Ryeowooknya yang sedang sinting.
"Jadi," mulai Donghae, lalu mematahkan wafer dengan giginya, "Wowuk thedang…"
"Telan dulu baru bicara."
Donghae cepat-cepat mengunyah dan menelan wafer itu. "Jadi Ryeowook sedang didekati oleh Si Cho Kyulala itu?"
"Cho Kyuhyun. Iya. Sepertinya mereka baru kenal, tapi mereka menempel seperti debu pada artefak di museum, tahu?" keluh Sungmin.
Sambil mengunyah potongan wafer terakhirnya, Donghae mendecak. "Aku nggak suka sejarah," ujarnya, terlalu keras, sebenarnya, dan seharusnya tidak diucapkan di depan Sungmin yang anak sejarah. Sungmin mengerutkan alis dan tatapan matanya berubah.
"Maaf?"
"Wafernya sudah habis." Donghae melempar bungkus wafernya ke tempat sampah dan Sungmin hanya menghela napas. Donghae menyikut Sungmin sambil tersenyum menggoda. "Cemburu, ya? Hyung?"
"Nggak juga, sih," aku Sungmin. "Ini lebih ke… khawatir? Sebenarnya biarpun aku tidak suka pada Kyuhyun tapi dia anak baik-baik. Tapi kok, tetap saja, biarpun mereka berdua sepertinya cocok, malah aku yang merasa mereka harus segera dipisahkan."
"Sudah waktunya Ryeowook cari pacar."
"Lalu?"
"Lalu kau juga cari pacar dan kita bertiga bisa triple date."
Sungmin menghela napas, sadar tak ada gunanya cerita hal begini ke Donghae. Selamanya tak akan ditanggapi serius. (Ia ingat Hyukjae bilang padanya saat Hyukjae kelupaan sepatu tapnya di rumah padahal ia harus latihan tap dance di studio, Donghae malah memberinya sandal kayu dengan alasan, "suaranya sama saja kan? Ini bahkan bukan tap dance, ini toplak toplak dance. Fantastis.") Sungmin akhirnya tidak melanjutkan pembicaraan, tiba-tiba teringat Jongwoon yang entah selama dua minggu ini hubungannya dengan Ryeowook membaik atau tidak.
oooooooooooooo
Kim Jongwoon, berhenti berjalan.
Ryeowook memutar badannya menghadap Jongwoon, dan Jongwoon sedikit tersentak pada gerakan Ryeowook itu. Sesuatu yang belum Ryeowook lakukan padanya selama dua minggu: menatapnya. Ryeowook tidak menatap lama mata Jongwoon, ia segera menunduk sambil menggigit bibirnya. Jongwoon menunggu. Ia menunggu karena tahu Ryeowook ingin mengatakan sesuatu. Yang ingin Ryeowook katakan padanya setelah dua minggu mereka tidak saling bicara adalah—
"Nanti malam… kau di rumah saja. Jangan jemput aku."
—untuk tidak menjemputnya?
"A-apa? Kenapa?" tanya Jongwoon bingung. "Kau tahu bahaya kalau jalan sendirian. Masih ada kemungkinan kau diserang vampir-vampir lain dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi, tahu?"
"Sudah ada yang akan mengantarku. Tidak perlu bingung begitu," ujar Ryeowook kalem.
Hanya ada satu orang yang wajahnya langsung muncul seperti gelembung sabun di kepala Jongwoon. Satu-satunya orang yang ia percaya untuk menjaga Ryeowook. "Lee Sungmin?"
"Kenapa ingin tahu soal itu, sih?! Sudah, tidak usah tanya-tanya! Pokoknya nanti malam nggak usah jemput," gerutu Ryeowook, lalu berjalan ke dalam kampus, tiap langkahnya terasa menghentak bumi dengan tidak menyenangkan.
Baiklah, bukan Sungmin. Lalu siapa?
Sebenarnya respon Ryeowook yang tiba-tiba marah-marah tidak jelas itu membuatnya kesal juga. Karena kalau memang ada yang mau berbaik hati mengantarnya—biarpun Jongwoon tidak terlalu setuju juga—kenapa harus rahasia? Kenapa harus marah saat ditanya? Ada yang aneh, begitu yang Jongwoon putuskan dalam hati, dia merahasiakan sesuatu.
Benar saja, waktu Ryeowook sampai di rumah jam 11 malam saat Jongwoon baru saja menyelesaikan sebuah buku berisi kumpulan pantun (ia juga tidak tahu kenapa ia membaca buku seperti itu) dan Jongwoon menghampirinya, Jongwoon hanya sempat melihat sosok lelaki yang mengantarkannya karena Ryeowook sudah keburu berterimakasih, menyuruhnya pulang, dan menutup pintu.
Ryeowook bersandar di pintu setelah menutupnya, menatap Jongwoon seolah tak ada apapun yang terjadi, sementara dahi Jongwoon penuh kerutan kebingungan.
"Apa?"
"Apa?"
"Kenapa kau tidak membiarkanku—setidaknya, melihatnya dari dekat?"
"Aku tidak mau kau menemuinya."
"Memang itu siapa?"
"Itu adik kelasku! Kau tidak harus penasaran begitu, kan. Dia hanya mengantarku pulang. Aku sudah bilang padamu jangan tanya-tanya."
"Ada yang kau sembunyikan."
"Tidak."
Jongwoon memutuskan ini sesi selanjutnya dari rentetan masalah dalam hubungan mereka.
oooooooooooooo
Lee Sungmin, menghela napas.
Ia segera memasukkan buku-bukunya ke dalam tas, menyampirkan tali tas di satu pundaknya, mengangkat laptopnya dengan satu tangan dan gelas kopinya dengan tangan yang lain, lalu berdiri dari kursinya.
Padahal ia baru saja merasa nyaman di tempat duduknya ketika Kyuhyun datang dan duduk di sebelahnya. Tentu saja karena di depan Sungmin ada Ryeowook dan satu-satunya tempat yang kosong di dekat Ryeowook hanya di sebelah Sungmin. Ada 0% kemungkinan Sungmin tidak merasa risih jadi dia langsung pergi. Ryeowook tidak terlihat peduli dan langsung menyapa Kyuhyun dengan riang.
Tidak hanya di perpustakaan. Di kantin, di lab komputer, di koridor menuju kelas, di dekat lapangan menuju gerbang, tiap Sungmin sedang bersama Ryeowook, Kyuhyun selalu muncul—seolah anak itu mengetahui jadwal Ryeowook, kapan dia ke perpus, ke kantin, pulang—dia memang stalker. Karena risih, Sungmin selalu pergi. Pada awalnya Ryeowook merasa tidak enak pada Sungmin, tapi karena Kyuhyun mendatanginya setiap hari, rasa tidak enak itu lama-lama luntur dan membiarkan Sungmin pergi tiap Kyuhyun datang seolah sudah jadi rutinitas.
Di satu sisi, Kim Jongwoon, hampir tidak pernah mengantar-jemput Ryeowook lagi. Ia sudah tahu nama Cho Kyuhyun. Ia tahu wajahnya. Tapi Ryeowook tidak pernah membiarkan mereka bertemu. Bahkan Kyuhyun belum tahu kalau Jongwoon tinggal dengannya. Karena Ryeowook tidak pernah membiarkan Jongwoon menemui Kyuhyun, lama-lama Jongwoon cuek saja tiap Kyuhyun datang ke rumah pagi-pagi untuk mengantar Ryeowook ke sekolah dan kembali malam hari berdua setelah mengantarnya ke rumah lagi.
Setidaknya, sampai hari Minggu pagi di akhir Agustus itu.
Malam sebelumnya Ryeowook nyaris tidak tidur karena mengerjakan tugas yang menumpuk dari dosennya. Biasanya Ryeowook lebih suka menyicil apabila waktunya cukup panjang, dan tugas kali ini deadlinenya dua minggu, tapi Ryeowook memutuskan untuk mengerjakan semuanya langsung. Ia pulang jam 3 sore, lalu terus duduk di depan laptop sampai jam 4 pagi. Tanpa bergerak. Tubuhnya yang terkapar di kasur dan dengkuran halusnya menandakan bahwa ia sangat lelah dan tidak akan bangun sampai siang.
Jongwoon sedang tidur-tiduran di sofa sambil membaca sebuah buku biografi Raja-Raja Korea terdahulu ketika ada yang membunyikan bel. Dengan malas-malasan Jongwoon berdiri dan membuka pintu tanpa bertanya siapa yang datang pagi-pagi.
Cho Kyuhyun.
Mereka berdua sama-sama kaget, tapi Kyuhyun tidak bisa lebih kaget lagi. Ada laki-laki di rumah Ryeowook? Siapa dia? Kyuhyun terus membelalak sampai seolah matanya mau keluar, sementara Jongwoon hanya butuh beberapa detik untuk kembali berwajah kalem.
"Ada yang bisa kubantu?" tanya Jongwoon datar.
"Aku yakin di depan tulisannya Kim Ryeowook," ujar Kyuhyun sambil menunjuk asal ke arah dinding di sebelah pintu dengan ragu.
Jongwoon mengedikkan bahu. "Memang."
"Kau kan bukan Kim Ryeowook."
"Memang."
"Lalu Ryeowook di mana?"
"Di dalam, masih tidur. Dia tidak akan bangun sampai, mungkin, siang." Kyuhyun tidak menjawab. Masih bingung kenapa ada lelaki ini di rumah Ryeowook. "Um, kalau kau tidak tahu, sekadar informasi saja, aku tinggal dengan Ryeowook di sini."
"Ha?"
oooooooooooooo
"Astaga. Bukan, dia bukan pacarku," sanggah Ryeowook. Jongwoon menatapnya bingung.
"Dia memang begitu. Sudah kubilang dia pacarku, jadi jangan dekati dia lagi, paham?" ulang Jongwoon pada Kyuhyun, nada bicaranya penuh ancaman. Ryeowook mendecak padanya.
"Apa maksudmu aku pacarmu? Aku tidak ingat pernah bilang begitu! Itu kan hanya perasaan sepihak saja, jangan sok memutuskan begitu, dong!" bentak Ryeowook. Kalimatnya yang ini membuat Jongwoon terdiam. "Ayo, Kyuhyun-ah. Kita pergi saja," ajak Ryeowook sambil mengambil mantelnya dan menarik lengan Kyuhyun keluar apartemen.
Begitu Kyuhyun dan Ryeowook pergi, Jongwoon menghabiskan 2 jam selanjutnya untuk berjalan ke sana ke sini tanpa henti dan memikirkan Cho Kyuhyun. Dia sudah tahu namanya, sekarang sudah tahu orangnya. Hubungannya dengan Ryeowook ada di tepi jurang. Masing-masing dari mereka memiliki orang yang harus ditangani. Di sisi Jongwoon ada Hyuna, dan di sisi Ryeowook ada Kyuhyun.
Tiba-tiba, Jongwoon berhenti melangkah.
Jangan-jangan, Kyuhyun ada hubungan dengan vampir?
Kalau dari kejadian-kejadian belakangan ini memang mungkin ada hubungannya, sih. Karena sebenarnya selain Hyuna, masih banyak vampir lain yang mengincar kekuatannya. Jongwoon juga tahu kalau vampir selicik Hyuna tidak hanya satu di dunia ini. Mungkin… Kyuhyun juga bermaksud mengambil kristal Jongwoon dengan mendekati Ryeowook? Setelah mereka dekat dan Ryeowook percaya padanya, barulah Kyuhyun akan meminta Ryeowook untuk melakukan sesuatu demi mendapat kekuatan Jongwoon.
Sesaat setelah berpikir begitu, Jongwoon menggeleng. Tidak, Kyuhyun 100% manusia. Dia bukan vampir. Memang di tubuhnya ada sedikit bau vampir, tapi bau itu berasal dari vampir lain, yang dengan kata lain Kyuhyun sudah pernah berinteraksi dengan vampir lain dan bau dari vampir itulah yang menempel di tubuhnya. Jongwoon juga tidak yakin jika Kyuhyun memang punya niat jahat pada Ryeowook.
Karena tidak tenang, Jongwoon memutuskan untuk pergi dan mencari Sungmin.
Ia percaya akan penciuman dan nalurinya, juga kemampuan navigasinya. Dengan cepat ia bisa menemukan Sungmin sedang mengerjakan tugasnya di perpustakaan kota. Gerakan Jongwoon yang terlalu cepat dan luwes membuat beberapa orang bahkan tidak sadar kalau ia masuk ke dalam. Jongwoon berhenti tepat di depan Sungmin dan membuatnya kaget karena Jongwoon muncul terlalu tiba-tiba.
"Astaga." Sungmin tersentak, tapi lalu segera berdiri dan membungkuk. "Selamat siang, Wangjanim."
Jongwoon mengangguk padanya. "Hei, kau tahu soal Cho Kyuhyun?"
"I…ya? Ada apa?"
"Kenapa dia tiba-tiba muncul seperti bom, sih? Memangnya dia pikir dia siapa, main mendekati Ryeowook begitu?" gerutu Jongwoon sambil menarik satu kursi dan duduk, membuat Sungmin kembali duduk juga.
"Dia di kampus juga begitu, Wangjanim. Saat saya sedang bersama Ryeowook, dia selalu muncul. Ini juga bukan hal baru, sih. Kelihatannya Kyuhyun suka sekali pada Ryeowook."
Jongwoon mengusap-usap lehernya dengan gelisah. "Menurutmu dia ada hubungannya dengan vampir, enggak?"
"Eh?" Sungmin membelalak, lalu menaikkan kacamatanya. "Saya kurang tahu, tapi… setahu saya dia manusia. Memang ada bau vampir sih, tapi itu bau vampir lain. Lagipula hampir tidak ada vampir yang bisa menyembunyikan bau tubuhnya sendiri."
"Kupikir juga begitu. Tapi baiknya bagaimana, ya?"
"Minta tolong Klan Broisk saja, Wangjanim? Mereka kan bisa baca pikiran, anda sewa saja salah satu dari mereka untuk baca pikiran Kyuhyun saat sedang bersama Ryeowook. Mungkin dengan begitu anda jadi bisa tahu tujuan asli Kyuhyun mendekati Ryeowook," usul Sungmin.
Jongwoon mengangguk-angguk. "Benar juga, ya. Kau bawa ponsel? Pinjam ponselmu," pinta Jongwoon dan tanpa ragu Sungmin memberikan ponselnya. Jongwoon, yang biarpun jarang menggunakan ponsel atau telepon, tapi bisa dengan lancar mengetik nomor telepon dan meneleponnya.
Sungmin mengalihkan perhatian pada tugasnya lagi selama Jongwoon menelepon. Pembicaraan Jongwoon dengan entah siapa itu menghabiskan waktu hampir lima belas menit dan begitu Jongwoon meletakkan ponsel Sungmin di meja, pemilik ponsel itu mengangkat kepalanya lagi.
"Siapa yang anda hubungi, Wangjanim?" tanya Sungmin sambil mengambil ponselnya.
"Informan di Kantor Pengurus."
"Apa yang anda tanyakan?"
"Soal vampir Broisk yang kira-kira bisa kumintai tolong. Untungnya dapat satu. Dia satu universitas denganmu, namanya Hwang Miyoung. Kayaknya dua atau tiga angkatan di bawahmu, dia di fakultas seni." Mata Sungmin melebar. Ternyata di kampus mereka ada vampir selain dia. "Bisa kau temui dia untukku, Lee Sungmin?"
"Siap, Wangjanim. Dengan senang hati," ujar Sungmin sambil tersenyum.
oooooooooooooo
Lee Sungmin, berjalan sendirian.
Siang itu, setelah kelasnya selesai, Sungmin langsung menuju ke jurusan seni suara yang gedungnya berseberangan dengan gedung fakultasnya. Hanya berada di depan gedung itu saja, Sungmin langsung tahu kalau memang ada vampir lain di sana. Ia mengikuti bau itu, berjalan mengikuti kemanapun kakinya melangkah. Ia sampai di taman utama fakultas seni, dan merasakan bau vampir yang diciumnya memusat pada seorang gadis dengan cardigan pink, kaus putih dan celana hitam yang sedang duduk dengan teman-temannya.
Sebenarnya Sungmin tidak canggung jika harus berinteraksi dengan perempuan, tapi ini pertama kalinya ia harus bicara pada vampir lain mengenai hal sepenting ini. Sungmin akhirnya memutuskan untuk mendekatinya dari belakang, tapi ketika ia hanya berjarak tujuh langkah dari gadis itu—
"Haaatchiii!"
Ketika gadis-gadis itu menengok ke belakang, Sungmin memutar arah ke kanan, bersikap seolah sedang berjalan biasa lalu tiba-tiba bersin. Gadis-gadis itu kembali fokus ke pembicaraan mereka sementara Sungmin makin jauh. Ia sesekali menengok ke belakang, tapi tidak berhenti berjalan.
Sedikit ragu, Sungmin berjalan ke gerbang. Dia menghela napas saat melihat Jongwoon baru sampai di sana. Sungmin langsung mempercepat langkahnya ke arah vampir berambut merah itu. Jongwoon berkedip beberapa kali dengan bingung.
"Annyeong haseyo, Wangjanim," salam Sungmin sambil menunduk dalam. Jongwoon ikut menunduk sedikit, lalu melihat suatu ketergesa-gesaan di tatapan Sungmin. "Wangjanim, saya—saya sudah menemukan Hwang Miyoung. Saya sudah ingat wajahnya juga."
Alis Jongwoon terangkat satu. "Kalau sudah ketemu, kenapa nggak diajak ngomong sekalian?"
"Anu…" Sungmin menggaruk lehernya gugup. "Saya kurang yakin dia atau temannya, tapi tercium bau parfum yang kuat sekali, jadi saya tidak bisa mendekat."
"Kalau aku yang dekati duluan terus tiba-tiba tanya begitu… bukannya aneh, ya?" Sungmin mendesis sambil menelengkan kepala, tiba-tiba merasa tidak berguna. Tapi ia lega karena Jongwoon memaklumi kelemahannya dan tidak menyalahkannya. Mereka berdua tidak berbicara selama satu menit, dan keheningan yang mengurung mereka terasa sangat tidak nyaman. "Apa kau punya kenalan yang seangkatan dengan Hwang Miyoung?"
"Eh?" Sungmin mengangkat kepalanya, lalu terdiam sebentar. "Ah, iya. Ada. Kalau begitu, saya akan coba hubungi dia, nanti kalau sudah beres saya akan hubungi anda lagi."
"Baiklah kalau begitu." Jongwoon mengangguk-angguk. "Tapi bagaimana kau menghubungiku?"
"Ah, anda… tidak punya ponsel, ya."
"Kalau begitu aku akan segera beli ponsel supaya kita lebih mudah berhubungan, oke? Terimakasih, ya. Tolong bantuannya lagi. Aku duluan, Lee Sungmin," pamit Jongwoon sambil melambai sedikit.
"Ah, iya, Wangjanim. Hati-hati di jalan…" Sungmin membungkuk sedikit dan menunggu di sana sampai Jongwoon benar-benar pergi. Begitu ia yakin vampir berambut merah itu sudah menghilang dari pandangan, ia masuk lagi ke dalam dan berjalan ke arah fakultas seni lagi. Untungnya orang yang ia cari bisa langsung ia temukan.
oooooooooooooo
Kim Hyoyeon, siswi di jurusan tari. Biasanya anak seni mudah terkenal dan Hyoyeon bukan pengecualian. Kemampuan dancenya bisa membuat penonton megap-megap dan kepribadiannya yang sederhana juga hangat membuatnya sangat disukai banyak orang. Hampir tidak ada yang tahu kalau Kim Hyoyeon dan Lee Sungmin saling kenal. Hyoyeon adalah adik kelas Sungmin saat SMA, bahkan sudah bertetangga sejak SMP. Saking akrabnya, Hyoyeon bisa dibilang adalah satu-satunya teman perempuan Sungmin yang tahu kalau dia gay. Sayangnya setelah kuliah, hubungan mereka sedikit merenggang karena jadwal yang berbeda.
"Hyoyeon-ah," panggil Sungmin saat mendekati Hyoyeon. Gadis itu sedang mengobrol dengan teman-temannya di dekat kantin, dan ia langsung pamit pada teman-temannya dan menyuruh mereka ke kantin duluan. Dengan senyum lebar, ia juga mendekati Sungmin.
"Sungmin Oppa, lama tidak ketemu! Apa kabar?" tanya Hyoyeon riang. Sungmin balas tersenyum padanya. Dia masih ramah dan mudah membuat orang lain merasa nyaman seperti biasa.
"Aku… mau tanya. Anak seni biar beda jurusan kan biasanya saling kenal, jadi, um, apa kau kebetulan kenal dengan Hwang Miyoung?" tanya Sungmin. Hyoyeon membelalak biarpun Sungmin sudah sedikit menduganya, karena selama kenal dengan Hyoyeon, Sungmin sama sekali tidak pernah membicarakan soal perempuan. Jelas saja Hyoyeon kaget.
"Hwang… Miyoung? Stephanie Hwang?" Hyoyeon balik tanya. Kali ini Sungmin yang mengerut heran.
"Stephanie?"
"Ah, kalau kau tidak tahu, dia kelahiran Amerika. Hwang Miyoung itu nama Koreanya tapi dia lebih suka dipanggil Stephanie. Iya, aku kenal. Malahan aku teman kosannya. Kami sangat akrab, kok. Kenapa? Mau kenalan?"
"Oh, Tuhan memberkatimu, Hyoyeon-ah," ujar Sungmin, biarpun sebenarnya ia tidak terlalu percaya pada Tuhan. "Iya, tolong tanya apa dia senggang besok sore. Minta dia temui aku di depan perpustakaan, ya. Kabari aku lewat SMS atau telepon."
Hyoyeon menatap Sungmin dengan sedikit tidak percaya. "Oppa," panggilnya. "Apa… kau masih… gay? Um, maksudku, selama ini itu yang selalu kau katakan padaku dan aku tidak pernah keberatan tapi…"
Sungmin tersenyum. "Aku ada urusan lain dengan Hwang Miyoung. Bahkan sebenarnya bukan aku yang ingin bertemu dengannya. Ada orang lain yang butuh bantuannya. Tapi kalau-kalau kau khawatir, ini bukan urusan cinta, jadi tenang saja. Aku nggak akan merebut sahabatmu."
"Aku nggak seprotektif itu padanya, kok," decih Hyoyeon, tapi tentu saja bercanda. Tapi ia mengakui kalau itu benar, kalau ia kadang terlalu menjaga Miyoung karena terlalu banyak laki-laki yang suka dan menembaknya. "Ya, sudah. Nanti malam aku telepon."
"Terima kasih, ya. Kalau begitu, aku pergi dulu. Kapan-kapan kita pergi bareng lagi, ya, Hyoyeon-ah. Daah!" pamit Sungmin sambil melambai dan Hyoyeon menangkap tangan itu lalu menggenggam dan menggoyang-goyangkannya sambil tersenyum, lalu melepasnya dan Sungmin melangkah pergi.
oooooooooooooo
Tiga vampir. Tiga klan. Satu meja.
Suasana yang menyelimuti mereka begitu canggung dan tidak nyaman. Pada saat mereka bertemu di depan perpustakaan, baik Sungmin dan Jongwoon sama-sama terkejut karena Miyoung sangat cantik (Sungmin tidak begitu memperhatikannya saat pertama kali melihatnya). Make up simpel, rambut cokelat yang dibuat ikal di salon, baju berwarna pastel, semuanya terlihat cocok di tubuh gadis itu. Jongwoon yang tidak pernah suka perempuan saja sudah menghabiskan 15 menit terakhir untuk memperhatikan wajah gadis itu, mencari tahu kalau ada cacat di sana. Sungmin sibuk menutupi hidungnya dengan sapu tangan untuk mengurangi bau parfum Miyoung yang tercium ke hidungnya ("Bau parfumnya enak, kok?" "Tapi saya tidak tahan bau parfum apapun, Wangjanim…"). Sementara Miyoung tidak berani mengatakan apapun karena ia sadar bahwa Sungmin dan Jongwoon adalah vampir, dan astaga, Kim Jongwoon. Kim Jongwoon dari Halfwing datang mencarinya!
Mereka memutuskan untuk mengobrol di sebuah café di dekat kampus, dan Miyoung belum berkata apa-apa kecuali "teh hijau" saat pelayan menanyakan pesanan mereka.
Jongwoon berdehem. "Oke, jadi, Hwang Miyoung. Sebelumnya maaf atas ketiba-tibaan ini, karena memang terlalu banyak yang terjadi tanpa terduga. Tapi aku mau minta bantuanmu, jadi sekarang bahumu jangan tegang begitu dan santai saya, ya?" ujar Jongwoon lembut, berusaha agar Miyoung merasa nyaman. Ia tidak suka saat vampir lain terlalu kaku padanya, biarpun mereka sama-sama vampir atas.
"I-iya… Wangjanim…" sahut Miyoung gugup sambil mengangguk. Jongwoon ingin menegurnya karena harusnya Miyoung bisa memanggilnya 'oppa' tapi ia akan mengatakannya nanti saja.
"Kalau aku kau sudah tahu, kan? Kim Jongwoon. Halfwing. Ini Lee Sungmin, Triclaws. Umm, aku mau minta tolong padamu karena belakangan aku terlalu banyak direpotkan vampir dari klan lain, kau tahu maksudku kan?"
"Iya." Miyoung mengangguk. "Saya sudah dengar, sejak anda berada di Dunia Manusia… banyak vampir yang mengejar dan berusaha mendapatkan kekuatan anda… t-tapi saya sama sekali tidak terpikir untuk melakukan itu, Wangjanim, sungguh."
Jongwoon tersenyum. Miyoung langsung menunjukkan ekspresi kaget karena senyum Jongwoon sangat ramah, seolah mereka sahabat lama. Sungmin ikut tersenyum pada ekspresi Miyoung karena ia mengerti akan perasaan itu. "Aku tidak menuduhmu, Miyoung-ah. Karena aku mengharapkan kerja sama darimu mulai dari sekarang, aku ingin kita santai saja, ya? Bahumu masih tegang, lho. Apa kau keberatan?"
Miyoung berusaha merilekskan bahunya, lalu melipat bibirnya ke dalam. "Um… saya… saya tidak keberatan untuk bekerja sama dengan anda… tapi… maaf, saya kurang suka dipanggil dengan nama Korea saya, Wangjanim."
"Apa? Kenapa?"
"Anu… saya lebih suka nama Stephanie Hwang, jadi kebanyakan teman-teman saya memanggil saya Stephanie atau Fany… menurut saya nama Korea saya terlalu… seperti ibu-ibu…" ujar Miyoung ragu, dan Sungmin nyaris tertawa pada wajah Miyoung yang memerah.
"Menurutku Hwang Miyoung itu sangat manis, cocok untukmu," ujar Jongwoon, alisnya mengerut. Ia heran kenapa ada yang tidak suka namanya sendiri. Menurutnya, nama bagi para vampir itu sangat berharga karena satu-satunya identitas asli yang mereka tidak akan lupa setelah jadi vampir hanyalah nama pemberian orang tua mereka. Biarpun Miyoung punya dua nama karena ia tidak lahir di Korea, tapi ia harusnya lebih bangga pada nama Koreanya.
"Iya, menurut saya juga itu nama yang bagus. Terdengar cantik," tambah Sungmin. Ia biasanya jarang sekali memuji perempuan, tapi kali ini ia melakukannya karena 1)ia mengakui Miyoung memang sangat cantik dan 2)agar gadis itu segera merasa nyaman dengan mereka.
"B-benarkah?" tanya Miyoung malu, wajahnya makin merah. "Kalau begitu tidak apa-apa…"
Senyum Jongwoon melembut dan Sungmin tidak tahu apakah vampir berambut merah itu sedang menertawakan Miyoung dalam hati karena berhasil membuatnya malu. Sayangnya ekspresi Jongwoon memang sangat sulit dibaca. "Kalau begitu, langsung saja. Kau kan juga dari Broisk jadi tidak mungkin kalau kau tidak kenal Kim Hyuna. Belakangan ia sangat menggangguku dengan mengancam ini-itu, dan ia melibatkan manusiaku segala dan sayangnya itu kelemahan terbesarku jadi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Dia sangat mati-matian untuk mendapatkan kekuatanku… dan hatiku juga mungkin, siapa yang tahu? Pokoknya dia sangat menyebalkan."
"Iya… saya tahu Kim Hyuna. Klan Broisk sesekali melakukan pertemuan jadi kami biasanya saling kenal. Hyuna memang arogan dan selalu ingin berkuasa atas segala hal, tapi sifatnya itu punya alasan. Ya, saya yakin itu karena dia sangat cerdas dan kuat, tetapi di saat yang sama juga menyebalkan…"
Jongwoon mengangguk-angguk. Penjelasan macam ini sudah ia duga. "Nah, langsung intinya saja. Baru-baru ini manusiaku, Kim Ryeowook, didekati manusia lain yang bernama Cho Kyuhyun. Aku kurang tahu apa dia ada hubungannya dengan Hyuna karena kedekatannya dengan Ryeowook sangat mencurigakan. Aku mau kau menyelidiki apakah Cho Kyuhyun punya hubungan dengan Kim Hyuna, atau mungkin vampir lain."
"A-anda ingin saya melakukan itu?" tanya Miyoung tidak percaya.
"Ah." Wajah Jongwoon berubah kecewa. "Kau keberatan?"
"Tidak, Wangjanim! Saya justru tersanjung diberi kepercayaan macam itu. Dengan senang hati akan saya bantu. Saya akan lakukan yang saya bisa," ujar Miyoung sambil tersenyum.
"Oh, ngomong-ngomong kau terlalu kaku padaku. Kau tahu kan kita sama-sama vampir atas, kau tidak perlu pakai 'saya' dan 'anda' atau 'Wangjanim.' Aku sudah bilang agar kau santai saja," ujar Jongwoon. Miyoung mengangguk pelan sambil menunduk sedikit. Jongwoon menoleh ke arah Sungmin. "Maaf, Sungmin-ah, bukannya aku mau mengesampingkan keberadaanmu atau bermaksud menyinggung soal… kasta."
"Eh?" Sungmin dan Miyoung membelalak pada Jongwoon pada saat yang hampir bersamaan. Apa Kim Jongwoon baru saja minta maaf? Semua vampir tahu kalau mereka terbagi jadi dua kasta yang berbeda dan tidak pernah mempermasalahkannya. Lalu kenapa Kim Jongwoon, seorang Halfwing justru mempermasalahkannya, bahkan meminta maaf soal itu? Ia tidak enak pada Sungmin karena Miyoung bisa bicara santai padanya sementara Sungmin harus bicara dengan tingkat bahasa terformal? Padahal itu wajar, kan? Kim Jongwoon memang vampir yang aneh. "Tidak apa-apa, Wangjanim. Tidak masalah…" sanggah Sungmin sambil tersenyum.
Jongwoon balas tersenyum padanya, lalu balik menatap Miyoung lagi. "Miyoung-ah, setelah ini, mungkin beberapa hari dari sekarang kita harus bertemu lagi…" ujar Jongwoon sambil mengeluarkan sebuah ponsel dari kantungnya. Sungmin kaget melihatnya.
"Anda sudah beli, Wangjanim?" tanya Sungmin, kagum pada kecepatan Jongwoon dalam bertindak.
"Kenapa? Aku butuh ponsel, kan? Kata orang toko ini model terbaru, aku asal pilih, sih," jawab Jongwoon seadanya. Sungmin berjanji dalam hati akan membantu pangeran tampan ini belajar menggunakannya.
"Apa ada Kakao? Atau akun Weibo?" tanya Miyoung, gadis itu sudah memegang ponsel di tangannya. Jongwoon menatap Sungmin bingung, dan Sungmin tersenyum.
"Maaf, Gongjunim, Jongwoon Wangjanim baru saja membeli ponsel ini, jadi sebaiknya anda beri saja nomor ponsel anda," saran Sungmin.
"Ah, begitu…" Miyoung mengangguk-angguk. Padahal belakangan ini orang-orang lebih banyak berkomunikasi lewat internet daripada lewat SMS. Jongwoon menyerahkan ponselnya pada Miyoung dan gadis itu menelepon ponselnya sendiri. Begitu ponselnya menyala, ia langsung menghentikan panggilan dan mengembalikan ponsel Jongwoon. "Kita sudah punya nomor masing-masing. Nanti kalau aku sudah selesai, aku akan telepon… Oppa…" ujar Miyoung malu, tidak nyaman dengan bahasanya sendiri.
"Oke, terima kasih, ya."
"Kalau begitu, aku permisi dulu. Aku ada janji setengah jam lagi. Annyeong haseyo." Miyoung membungkuk sebelum benar-benar keluar dari café itu, dibalas anggukan dari Jongwoon dan bungkukan dari Sungmin.
("Saya merasa tidak berguna, Wangjanim…"
"Jangan bercanda. Kalau bukan karena kau, mana bisa aku bertemu Hwang Miyoung. Terima kasih, ya.")
oooooooooooooo
Hanya butuh tiga hari sampai Miyoung menemui Sungmin.
Vampir berkacamata itu mengernyit heran, kenapa dia tidak menghubungi Jongwoon saja? Padahal kan mereka sudah bertukar nomor? Tapi saat Hyoyeon mengiriminya SMS bahwa Miyoung ingin bertemu dengannya di kantin, Sungmin hanya mengedikkan bahu dan menurut. Sungmin menghampiri Miyoung yang sibuk dengan tabletnya sendirian dengan jus yang tinggal setengah. Gadis itu mengangkat kepala saat Sungmin sudah di depannya.
"Selamat siang, Gongjunim," salam Sungmin sambil membungkuk sedikit, lalu duduk setelah Miyoung mengangguk. "Ada apa? Apa ini soal Cho Kyuhyun?" Miyoung mengangguk-angguk ragu. "Gongjunim, anda bisa langsung menghubungi Jongwoon wangjanim, kan."
"Ti-tidak, Sungmin Oppa. Aku… aku agak segan, kalau aku telepon duluan rasanya sok akrab…"
"Jongwoon wangjanim bukan orang seperti itu, anda santai saja. Lagipula wangjanim sendiri yang menawarkan nomor ponselnya, dan kalian berdua sama-sama vampir atas jadi harusnya tidak usah segan. Iya kan? Gongjunim?" ujar Sungmin lembut sambil tersenyum.
"Tapi… rasanya kalau ingat dia dari Halfwing dan juga sangat terhormat, aku jadi segan padanya…" Miyoung menunduk sedikit. "Ah, po-pokoknya aku memanggilmu ke sini karena ingin memberitahu soal Cho Kyuhyun… aku sudah menyelidikinya, membaca pikirannya dan aku ingin segera memberitahu soal ini, jadi intinya… uhh…"
Sungmin terkekeh. "Miyoung Gongjunim, saya minta maaf atas interupsi saya, tapi sebaiknya hal itu anda sampaikan langsung pada Jongwoon wangjanim. Saya akan menghubunginya dan meminta wangjanim ke sini, setelah itu anda bicara padanya. Ya?"
Miyoung terlihat ragu, lalu mengangguk sedikit. "Terima kasih, Oppa…"
Senyum yang Sungmin sunggingkan di wajahnya semakin melembut dan tiba-tiba Miyoung bertanya-tanya dalam hati kalau Sungmin punya pacar. Gadis itu membiarkan Sungmin menelepon Jongwoon dan tidak kaget saat Sungmin bilang Jongwoon akan ada di sana 10 menit lagi. Mereka menghabiskan 10 menit itu dalam diam. Miyoung sibuk dengan tablet dan jusnya, sementara Sungmin membaca buku dan memesan kopi. Vampir berkacamata itu juga sudah memesan kopi untuk Jongwoon.
Jongwoon datang dalam sekejap mata dan membuat Miyoung terkejut. Sungmin dan Miyoung sama-sama berdiri untuk membungkuk pada Jongwoon, dan setelah vampir berambut merah itu mengangguk, mereka bertiga sama-sama duduk.
"Anda tidak… mengantar Ryeowook, ya. Wangjanim?" tanya Sungmin.
Helaan napas dari Jongwoon rasanya sudah menjelaskan semuanya. "Yah, setidaknya kukira aku akan tahu sedikit soal Cho Kyuhyun karena sekarang ada Miyoungie di sini. Jadi, bagaimana? Oh, terima kasih," ujar Jongwoon saat Sungmin mendekatkan gelas kopi padanya.
"Aku sudah menyelidikinya, Oppa… jadi, Cho Kyuhyun ini tidak ada hubungan sama sekali dengan vampir manapun. Dia… mendekati Kim Ryeowook dengan tulus karena ia benar-benar mencintainya. Tapi soal mereka sudah saling mencintai atau belum, aku belum tahu…" jelas Miyoung.
Jongwoon bersumpah ia mendengar suara retakan dari hatinya. Ini di luar skenarionya. Kalau saja Kyuhyun memang ada hubungan dengan vampir, Jongwoon bisa saja menyerangnya dan menyuruhnya berhenti mendekati Ryeowook. Tapi karena bocah gamers tengil itu benar-benar tulus akan perasaannya pada Ryeowook, Jongwoon tidak bisa sembarangan memarahi Kyuhyun karena ia tidak mungkin membocorkan identitasnya sebagai vampir.
Ia sendiri sangat sedih mengakuinya, tapi kali ini mungkin hubungannya dengan Ryeowook memang hanya sepihak.
"Jadi tiga hari kemarin apa saja yang kau lakukan, Miyoung-ah?" tanya Jongwoon, berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Eh? Aku mengikuti Cho Kyuhyun ke mana-mana, sampai ke rumahnya segala," jawab Miyoung polos.
"Hah?! Astaga Hwang Miyoung, itu bahaya! Kalau kau ketahuan bagaimana?" tegur Jongwoon.
"Tidak apa-apa, Oppa… baik Cho Kyuhyun maupun Kim Ryeowook tidak ada yang sadar jika aku ikuti selama tiga hari kemarin. Aku mengakalinya dengan mengganti baju dan gaya rambut, jadi semuanya aman. Oppa tidak perlu khawatir," ujar Miyoung lembut.
Senyum merekah di wajah Jongwoon mendengar jawaban Miyoung. "Pokoknya terima kasih, ya, sudah mau repot-repot membantuku. Untuk membalasnya, kapan-kapan kutraktir, deh. Ya?"
"Tapi keadaan Oppa sekarang sepertinya tidak memungkinkan…"
Jongwoon mengedikkan bahu. "Mungkin aku akan mentraktirmu dua tahun lagi," ujarnya bercanda.
Miyoung tertawa. "Kalau begitu, sampai saat itu aku akan terus mengingat janji itu, lho, Oppa." Miyoung memasukkan tabletnya ke dalam tas lalu berdiri. "Aku permisi dulu, ya. Ada kelas setelah ini. Sampai jumpa, Jongwoon Oppa, Sungmin Oppa."
Jongwoon mengangguk sementara Sungmin berdiri dan membungkuk pada Miyoung.
("Lee Sungmin yang selalu membantuku kayaknya malah belum pernah kutraktir, nih."
"Eh? Tidak usah, Wangjanim. Tidak apa-apa, kok."
"Di dekat stasiun ada warung pasta yang enak, lho. Nggak boleh nolak. Ayo.")
A/n2:Haloo! Saya ngebut banget lho ngerjain ini. Karena suatu hal saya jadi terkurung di lab komputer selama sekitar tiga minggu, saya sampe nyempetin selesein ini di sekolah HAHAHA fuck yeah computer laboratory! /apaan sih/
Huhuhu ga ada Yewooknya ya? Abis di sini fokus sama penelitiannya (?) si Miyoung sih… TT
Oh iya tokoh kunci yang saya janjiin kemaren itu si Hwang Miyoung alias Tiffany!
Kenapa Tiffany? Soalnya saya sukaaa banget sama dia. Dia cantik banget sih :D
Di sini Miyoung sama Hyuna saya buat dari klan yang sama, Broisk, dengan kemampuan yang sama yaitu bisa membaca pikiran. Tapi tentu saja Hyuna lebih jago dan dia berada di sisi yang gelap haha dan Miyoung adalah kebalikan dari Hyuna~
Di chapter ini alurnya kerasa buru-buru gak sih?
Saya garap ini cerita sesuai plot yang udah saya atur, dan rasanya tuh 'haaah udah deh ditumplek jadi satu aja biar cepet selesai' dan jadilah chapter ini…
Rencananya sebisa mungkin udah tamat di chapter 15. Tapi gatau juga hehe. Tunggu aja deh ya. Cedih chapter 13 belum digarap sama sekali. Mungkin apdetnya lebih lama :( maaf ya
HAH saya juga kaget baca review readerdeul sekalian, abis isinya hampir semua maki-maki Hyuna sih. Chapter depan menurut plot sih kayaknya Yewook belum balikan, tapi ada beberapa hal di antara Jongwoon dan Ryeowook yang bakal terjawab di chapter 13. Mohon ditunggu karena saya lagi sibuk, tapi karena saya dikurung di lab komputer sampe bulan April /hiks/ jadi saya usahakan garap secepat mungkin karena saya capek ini ff ga selesai-selesai tapi udah kebanyakan bikin plot cerita baru… huft merasa mempehape diri sendiri
Oke, Q&A dulu!
Q:hancurkan Hyuna! Jangan buat dia menghancurkan hubungan yewook lagi! Jangan buat Yesung terikat dengan Hyuna lagi! (loh emangnya ini pertanyaan?)
A:Oke, reader-nim! Ayo kita hancurin Hyuna bareng-bareng! HAHAHA
Q:Apanya yang seri?
A:Seri tuh maksudnya kan Jongwoon punya Hyuna, sementara Ryeowook punya Kyuhyun. Jadi sama-sama punya 'orang ketiga'
Q:Nanti Kyuhyun sama Sungmin kan?
A:Enggg… gatau… perlu dipertimbangin kah? Abis ini kan ff Yewook bukan Kyumin. Sequel?
Makasih buat yang udah nyempetin baca, terutama yang nyempetin review :B
