:::Yunjae fanfiction:::
Beauty Joongie and The Beast (Remake)
Remake from novel Astrid Zeng
Genre : Romance, Drama
Desclaimer : THE GOD, THEMSELVES, THEY PARENT'S, CASSIE, SM Ent and Story by Astrid Zeng
Warning : GS!Jae, EYD Kurang Baku, Typos, DLDR, OOC
Rate : T
Yunho menyesap teh yang beberapa saat lalu dihidangkan karyawan wanita dengan wajah ketakutan dan tangan yang gemetar. Cairan teh yang meluncur dalam tenggorokannya terasa sama dinginnya dengan suhu ruangan yang sedang ia tempati. Yunho menekuk bibirnya dengan perasaan kesal.
Pagi ini, sebagian besar terbuang percuma hanya untuk menunggu seseorang. Jika saja ini bukan perintah pamannya, dia tidak akan bersabar lebih lama lagi untuk menunggu di ruangan tersebut.
Yunho tidak mengacuhkan berita pagi yang tayang di televise dihadapannya lalu melemparkan pandangan kea rah pintu yang terbuka lebar. Beberapa karyawan yang melewati ruangan yang ia tempati terlihat mencuri-curi pandang. Kali ini, dua karyawan wanita dan seorang karyawan lelaki mencoba mengintip sontak terkejut saat Yunho memergoki perbuatan mereka. Salah tingkah mereka saling mendorong satu sama lain dari pandangan Yunho.
Yunho sebenarnya menyadari apa yang membuat mereka begitu penasaran akan dirinya. Dan saat ini, gambaran akan keseraman wajahnya ditambah dengan tatapan mata yang tajam sudah memenuhi kantor ini. Bekas luka memanjang disebelah kanan mukanya sudah membuatnya terlihat seperti monster Frankeinstein.
Yunho menghela nafas panjang lalu memalingkan wajahnya kembali menatap depan dan mencoba menatapp tayangan televise. Sebisa mungkin ia menjga agar matanya tidak melirik pada cermin yang terletak di sekitar televise. Bukan karena takut akan wajahnya yang menyeramkan, tapi karena malas mengingat kembali kejadian tragis yang membuatnya harus mendapatkan luka parut di sebagian mukanya. Yunho belum melakukan operasi plastic untuk menyamarkan luka pada mukanya karena bekas luka itu adalah kenang-kenangan terakhir yang menghubungkan dirinya dengan keluarganya.
Getar ponsel menyentak Yunho yang memusatkan pikiran pada salah satu berita. Yunho menatap layar ponselnya sekilas, memeriksa siapa yang menghubunginya.
"bagaimana? Kamu sudah menemuinya?" tanpa basa-basi Kangta –Ahjussi dari Yunho yang merupakan keluarga satu-satunya yang ia miliki sekarang, langsung menodongnya dengan pertanyaan. Nada bicara Kangta seperti sedang gelisah.
"belum ahjussi, aku menunggu hamper satu jam." Yunho melirik pada jam yang melingkar di sebelah kanan tangannya.
"dan dia belum juga muncul untuk menemuiku. Sekretarisnya malah memintaku untuk membuat janji terlebih dahulu dan menyarankan agar aku kembali lagi besok. Sekretarisnya sendiri belum tahu pasti kapan teman ahjussi akan kembali dan menemuiku. Sebaiknya biar Yoochun sendiri yang menangani masalah ini ahjussi. Aku juga sebenarnya tidak begitu memahami kontrak kerjasama antara ahjussi dan Mr Kim." Tambah Yunho.
Yunho sengaja menghembuskan nafasnya keras-keras agar ahjussinya mendengar dan merasakan kekesalannya. Yunho sangat mengetahui bahwa yang dilakukannya sangat tidak sopan mengingat selama ini Kangta sangat menyayanginya sama seperti ia menyayangi anak-anaknya. Tapi kali ini ia memang sedikit kesal karena Kangta ahjussi bersikap lain dari biasanya.
"tidak, tidak Yoochun sedang sibuk menjamu calon mertuanya. Bukankah ahjussi sudah mengatakannya padamu? Kami sedang sibuk-sibuknya mengurusi rencana pernikahan Yoochun. Sedangkan Donghae tidak bias diharapkan. Entah di pedalaman benua mana anak itu. Siwon lebih tidak mengerti kontrak kerjasama ini. Anak itu hanya tahu bersenang-senang saja." Kangta ahjussi mendesah pelan setelah menyebutkan satu persatu anak lelakinya.
"aku juga tak bias menyalahkan Mr Kim jika tidak bias menemuiku hari ini.." Yunho menatap kearah ambang pintu saat suara orang jatuh memenuhi ruangan.
Sambil terus melanjutkan pembicaraan di telepon, mata musang Yunho tak pernah luput dari seorang wanita berambut sebahu sedang meringis canggung sambil berusaha cepat-cepat memunguti barang-barang yang ia jatuhkan.
"aku juta sudah memaksakan diri untuk menemuinya hari ini, di tengah-tengah jadwal padatnya." Lanjut Yunho.
Konsentrasi Yunho mulai terpecah saat menyadari bahwa wanita teledor yang tengah sibuk memunguti barang-barangnya terlihat menarik di matanya. Senyum kekanak-kanakan di wajah wanita itu, membuat Yunho memandangnya lekat-lekat. Saat berdiri dan hendak berbalik, tanpa sengaja kepala wanita itu membentur daun pintu dan membuat Yunho meringis seakan-akan dia ikut merasakan sakitnya.
"dengar Yunho, menurut ahjussi Mr Kim saat ini sedang menghindarimu. Dia juga menghindari ahjussi selama beberapa minggu ini. Ahjussi semakin yakin ada yang sedang direncanakannya." Yunho berusaha memahami obrolannya dengan sang ahjussi.
Tapi beberapa saat kemudian, perhatian Yunho kembali pada wanita konyol itu. Kini dia seperti tengah berbicra dengan dirinya sendiri. Sambil tersenyum geli menertawakan kebodohannya. Sesekali tangannya naik untuk mengusap-usap kepalanya yang mungkin masih terasa sakit.
"menurut salah satu sumber terpercaya, perusahaan milik keluarga Kim itu sedang dalam kesulitan." Suara Kangta ahjussi terdengar seperti meyakinkan tidak membuat Yunho mengalihkan perhatian dari wanita yang sibuk memunguti kertas yang bertebaran dan mengusap kepalanya.
Beberapa karyawan laki-laki mulai terlihat menghampiri wanita itu dan berusaha menolongnya. Senyuman wanita iitu ternyata mampu membuat beberapa karyawan rela menghentikan pekerjaan mereka demi menolongnya. Salah seorang karyawan laki-laki terlihat menangkap lengan kanan wanita itu dan membuatnya berhenti memunguti kertas seakan iitu adalah pekerjaan berat yang bias mencelakakan wanita itu.
"Yunho?"
Suara bingung Kangta ahjussi membuat Yunho melepaskan pandangan dari wanita konyol yang bernasib malang itu. Yunho berdehem mengisyaratkan bahwa mendengar suara dari Kangta ahjussi.
"ahjussi tahu, kamu mungkin tidak percaya atau bahkan menganggap remeh apa yang ahjussi katakan. Tapi ahjussi sudah lama mengenal Mr Kim, sudah berpuluh-puluh tahun. Dia pasti sedang menghindarimu. Apakah kamu mengenalkan diri sebagai wakil dari Briar Group?
"iya, tentu saja." Jawab Yunho cepat.
"Nah!" seru Kangta ahjussi, terdengar seperti seseorang yang baru menang lotre.
"pasti dia langsung menghindar setelah tahu kamu mewakili ahjussi. Dulu saat kami masih kecil, dia sering menghindar saat ahjussi menagih janjinya untuk mengganti laying-layang ahjussi yang ddiputuskannya. Belakangan, dia juga suka menghindar kalau kalah bermain golf. Percayalah.. ahjussi mengenalnya seperti saudara sendiri."
Yunho nyaris kehilangan kesabaran saat Kangta ahjussi mengungkit cerita yang tidak jelas dari tahun berapa dan tidak ada kaitan dengan masalahnya sekarang ini. Belum sempat Yunho membuka mullutnya, Kangta ahjussi kembali mencerocos lagi.
"ingat, Yunho! Mr Kim itu suka menghindar kalau ada masalah. Memang perihal perusahaannya itu baru kabar burung, tapi ahjussi minta kamu menemuinya saat ini juga. Sekedar melihat-lihat apa yang sedang dia lakukan saat inipun sudah cukup. Ingat! Kamu masih punya saham di Briar. Masalah kontrak ini masalah kamu juga!" pungkas Kangta ahjussi lalu segera memutus sambungan telepon.
Yunho menggeleng-geleng diliputi perasaan kesal, dalam hati dia memperingatkan diri sendiri untuk melepas kepemilikannya atas secuil saham yang harus membuatnya naik darah pagi ini.
Setelah menghembuskan nafas Yunho mencoba mencari sosok wanita tadi sambil menjulurkan kepala. Tapi entah kemana perginya wanita tadi. Dan saat yang bersamaan, getaran ponselnya kembali mengalihkan konsentrasinya.
Melihat nama yang terpampang di kontak teleponnya, tanpa basa-basi Yunho langsung memulai pembicaraan
"sepertinya kamu harus mengatur ulang pertemuanku dengan Mr S. aku masih terjebak di Seoul."
"tidak perlu diatur ulang, mantan calon mertuamu sudah membuat pertemuan hari ini batal." Suara dari balik telepon terdengar kaku. Seakan takut Yunho akan berteriak marah setelah ia menyampaikan berita buruk tersebut.
"apa yang sudah dia lakukan?" desis Yunho.
Suaranya hamper membuat lawan bicaranya menggigil ngeri, seakan bisikan Yunho adalah bisikan maut yang siap menarik nyawanya.
Yunho bangkit dari sofa lalu dengan perlahan melangkah mendekati jendela. Matanya menyipit penuh amarah. Menunggu orang kepercayaannya itu menyampaikan apa yang sudah dilakukan manusia yang namanya sangat ingin ia hapus dari ingatannya.
"seperti kemarin mereka menghabiskan waktu bersama-sama dann mantan calon tunanganmu itu sepertinya mengatakan tentang 'keganasanmu' terhadap wanita. Mungkin dia berhasil meyakinkan Mr S, karena tiba-tiba Simon Su menghubungiku dan meminta waktu untuk memikirkan lagi kontrak kerjasama kita."
Yunho memejamkan matanya lalu dengan satu tangan menekan pangkal tulang hidungnya dengan keras. Setelah beberapa saat, Yunho melepaskan tangannya lalu membuat gerakan hendak meninju dan merobohkan tembok ruangan yang sudah mengurungnya selama satu jam ini.
Tiba-tiba..
"maaf sudah membuat anda menunggu lama, tapi rasanya anda tidak perlu sampai semarah itu. Karena anda sendiri yang dating kemari tanpa membuat janji terlebih dahulu."
Yunho sedikit memutar kepalanya kea rah kiri dan mendapatkan wanita cantik namun ceroboh tadi tengah berdiri di belakangnya.
Tangan kiri Yunho masih memegang handphone yang menempel di telinganya.
Wanita tadi menatap Yunho dengan ramah dan senyum manis yang terlihat kekanak-kanakan, seakan sudah biasa melihat tamu perusahaan yang mengambil ancang-ancang menjebol tembok perusahaan dengan emosi.
"saya Kim Jaejoong." Sapanya.
"Mr Kim sudah bias menemui anda. Mari silahkan ikuti saya." Lanjut sang wanita sambil menatap Yunho dengan tatapan mata yang lembut.
Yunho berbalik ke posisi semula. Memunggungi wanita yang mengenalkan diri kepadanya sebagai Kim Jaejoong tersebut. Yunho bertanya-tanya dalam hati, mengapa wanita yang satu ini tidak merasa ngeri atau takut berdiri di dekatnya? Tidakkah ia melihat parut mengerikan yang ada di wajahnya atau juga otot tubuh Yunho yang besar itu? Tidakkah ia mendengar reputasinya yang buruk selama beberapa tahun ini?
Sayangnya, Yunho tidak sempat melihat bagaimmana Jaejoong melotot takjub saat dia berdiri membelakangi wanita itu.
"aku akan menghubungimu kembali, Jonghyun-ah. Segera atur jadwal agar aku bias menemui Mr S atau Simon Su dalam waktu dekat ini. Entah bagaimana caranya!" perintah Yunho dengan tegas.
"baiklah aku akan berusaha. Tappi jika melihat apa yang dibeberkan mantan calon mertuamu mengenai reputasimu, aku yakin semua yang mendengar akan percaya. Sepertinya orang-orang sudah mencap dirimu buruk. Semua menganggapmu menakutkan, Yunho. Aku yakin.."
Tapa menjawab apapa-apa atau berbasa-basi, Yunho memutuskan sambungan teleponnya. Bukan karena marah karena apa yang dikatakan oleh Jonghyun, tapi karena menyadari kebenaran dari perkataan Jonghyun tadi.
Melihat tamunya telah memandangi handphone di tangannya, Jaejoong kembali memasang senyum manis setelah tadi memperhatikan betapa ketatnya lengan jas kantor yang dikenakan lelaki itu. Jaejoong sempat bergidik ngeri saat membayangkan terjepit diantara lengan sebesar lobak super dan juga dada bidang itu.
Karena dari tadi Yunho berdiri membelakanginya dan hanya menoleh sekilas, Jaejoong belum sempat melihat apa yang sejak tadi dipergunjingkan karyawan kantornya. Dia menyimpulkan tubuh besar lelaki itu yang sudah membuat para karyawan merinding ngeri setiap kali melintas ruang tunggu.
Jaejoong mengulurkaan tangannya sambil melangkah mendekati sisi kiri tubuh Yunho.
"mari saya tunjukkan ruangan Mr Kim."
Yunho melirik sekilas lalu beranjak mengikuti Jaejoong yang sekarang berbalik menuju pintu sambil sesekali tersenyum manis padanya.
Entah karena terlalu semangat atau karena terlalu takut melihat sosok Yunho, Jaejoong yang sudah begitu dekat dengan pintu malah memutar kepalanya menatap Yunho sambil melayangkan senyum sopan.
Dan
BRUK
Saat berbalik lagi untuk menunjukkan jalan, Jaejoong harus rela menanggung malu karena kepalanya kembali membentur ujung pintu untuk ketiga kalinya pada jam yang sama.
Yunho jelas-jelas mendengar suara tawa tertahan dari balik kubikel.
"hehehe sudah tiga kali hari ini." Ujar Jaejoong santai dengan cengiran lebar dan kembali memimpin di depan Yunho.
Dibelakangnya Yunho melangkah perlahan dengan kening berkerut. Baru kali ini ada seorang wanita yang tidak menunjukkan raut ngeri saat melihatnya.
"mungkin saya memiliki hubungan 'spesial' dengan pintu satu itu. Maksudnya hubungan sial." Gumam Jaejoong sambil menatap sisi kanan tubuh Yunho yang sudah mengimbangi langkahnya dan berjalan menjajarinya.
Jejoong kembali tertawa lebar seakan-akan Yunho sudah menjadi teman dekatnya. Dengan nada bercanda, Jaejoong kembali membuka mulutnya.
"pak, sebaiknya bapak berjalan di belakang saya saja. Otot-otot bapak memboat lorong ini terasa sesak. Ini kan jalan dua arah pak."
Tapi sedetik kemudian Jaejoong tesadar, ucapannya bisa saja memicu kemarahan lelaki ini dan mengakibatkan lehernya berakhir diantara kedua lengan lobak super itu. Buru-buru Jaejoong menutup mulutnya.
Sementara dibelakangnya, Yunho begitu takjub dengan apa yang didengarnya dari mulut Jaejoong. Dia berusaha mengingat-ingat kapan terakhir kali seseorang mengajaknya bercanda begitu ringan dan santai soal tubuhnya yang berotot.
Mereka berdua melewati sebuah bilik yang lebih besar. Seorang wanita berumur duduk di balik meja sambil menatap Yunho dengan mata berkilat terkejut. Yunho tidak mengacuhkannya karena masih sibuk dengan pikirannya tentang ucapan Jaejoong barusan.
Tapi Jejoong sendiri merasa tatapan terkejut dari sekretaris kesayangan ayahnya itu adalah tatapan kagum akan tubuh besar Yunho yang mirip dengan tubuh boneka beruang miliknya yang selalu ia peluk ketika tidur.
Mereka tiba di depan ruang kerja Mr Kim dan saat mendorong daun pintu tiba-tiba Yunho menatap Jaejoong lekat-lekat dan berbisik tajam.
"kamu tidak takut melihatku?"
.
.
"kamu pasti Jung Yunho!" seru Mr Kim sambil melangkah dari balik meja kerjanya.
Dengan kedua tangan membentang dan senyum menghias wajahnya yang masih tamppan di usianya yang tua ini, Mr Kim menyambut tamunya antusias.
Sementara, Jaejoong mermangu sambil memikirkan apakah dia tak salah dengar pertanyaan Yunho beberapa detik yang lalu.
"sepertinya, saya belum memperkenalkan diri." Ujar Yunho sambil melangkah melewati Jaejoong dengan tangan terulur untuk menjabat tangan Mr Kim.
Mr Kim menyambut uluran tangan Yunho dengan ramah. Yang membuat Yunho agak kaget adalah Mr Kim tak hanya sekedar menyalaminya tetapi merangkulnya dengan hangat lalu mengajaknya ke sofa besar di sudut ruangan. Sambutan Mr Kim layaknya orang yang sudah saling kenal dekat atau seperti orang yang memiliki hubungan kekeluargaan.
"Kangta banyak bercerita tentangmu. Begitu sekretarisku mengatakan ada perwakilan Briar yang dating untuk menemuiku, aku langsung menebak itu adalah kamu, Yunho. Karena tidak mungkin anak Kangta yang datang, Donghae pasti sedang asyik berpetualang dengan keluarganya. Yoochun sibuk dengan pekerjaannya dan Siwon pasti sibuk dengan kenakalannya. Lagi pula Kangta pernah menyampaikan niatnya untuk mengenalkanmu padaku." Mr Kim menepuk punggung Yunho sebelum mempersilahkan Yunho duduk.
"memperkenalkan saya?" Tanya Yunho dengan mengerutkan keningnya.
"eh, sebentar. Kamu mau minum apa? Kopi? Teh?" Mr Kim tiba-tiba salah tingkah menyadari ucapannya yang terlalu terus terang.
Matanya melirik Jaejoong yang masih berdiri termangu di dekat pintu.
"ah.. ya, Jaejoong bisa membuatkan sesuatu. Teh buatan Jaejoong sangat enak lho. Kamu sidah berkenalan dengan putri saya kan? Cantik kan?"
Yunho memandang tingkah laku Mr Kim dengan tatapan heran, berusaha memutuskan apakah pria tua dihadapannya adalah pria yang baik tapi terlalu lugu atau pria itu sedang mencoba meraih hatinya karena berusaha menutupi sesuatu tentang kondisi perusahaannya seperti yang dijelaskan oleh Kangta ahjussinya.
"kopi saja pak, terima kasih." Yunho menjawab singkat dengan nada suara yang terdengar sopan.
"Jaejoongie sayang, tolong siapkan dua kopi untuk appa dan Yunho." Pinta Mr Kim terhadap Jaejoong dengan menatap penuh kasih berbalik menatap Yunho dengan tatapan penuh antusias.
"eh, kamu belum menjawab pertanyaan ahjussi. Tidak usah terlalu formal. Jaejoong itu putri bungsu ahjussi, dia masih single lho."
Mr Kim mengenyakkan tubuhnya di sofa panjang yang terletak di hadapan Yunho. Kedua tangannya berusaha memuka kancing jas lalu dengan raut wajah penuh rasa bangga – entah pada Jaejoong atau terhadap dirinya sendiri – mulai mengelus dagunya.
"sangat cantik ahjussi." Puji Yunho cepat yang disambut Mr Kim dengan senyum yang sangat lebar dari pada semua senyum yang telah Yunho lihat seumur hidupnya. Bahkkan dulu, saat dia menyampaikan berita pertunangannya dengan Ahra, dia tidak mendapat senyum selebar ini dari kedua orang tuanya.
"tanggal empat September nanti jaejoongie genap berusia dua puluh enam tahun." Mr Kim mengacung-acungkan telunjuknya kearah Yunho seakan ingin manencapkan informasi berharga ini kedalam kepala Yunho.
"dia anak yang sangat manis. Agak manja memang.. tapi itu semua salah ahjussi. Dari dulu ahjussi terlalu memanjakannya dan overprotective menurut orang-orang. Ahjussi sih tidak merasa begitu. Memanjaka, iya. Tapi overprotective, tidak. Sekarang kedua kakaknya sudah menikah, tinggal Jaejoong sendirian. Dulu ahjussi berniat menjodohkannya dengan Yoochun, sepupumu. Tapi sayang.. sudah terlambat."
Yunho memperhatikan gerak bibir Mr Kim yang hendak membuka lagi. Jika tidak dihentikan, Yunho yakin Mr Kim tidak akan bisa berhenti membangga-banggakan Jaejoong dan kedatangannya kemari akan sia-sia.
"maaf harus memotong pembicaraan ahjussi." Potong Yunho sambil mengangkat telapak tangannya dengan sengaja menunjukkan ketidaksabarannya. Dia tahu bahwa apa yang dilakukannya kurang sopan. Tapi dia sudah terbiasa tidak peduli akan penilaian orang lain.
"kedatangan saya kemari karena ditugaskan oleh Kangta ahjussi. Saya hanya ingin memastikan bagaimana jalannya kontrak bisnis antara Briar dengan Kim Group."
Raut wajah Mr Kim berubah drastic. Yunho memperhatikan setiap detil sikap Mr Kim. Sama seperti yang biasa dia lakukan selama ini jika berhadapan dengan rekan bisnisnya.
Rupanya ucapan dan sikap Yunho membuat Mr Kim sedikit terkejut. Mr Kim gelisah dalam duduknya dan berdehem kikuk sebelum menanggapi ucapan Yunho.
"ehm.. ya.. aku memang agak sibuk dan tidak bisa menemui Kangta dalam waktu dekat ini. Ada beberapa agenda penting yang membuat kami harus menunda pertemuan rutin."
Gerakan Mr Kim yang tidak luput dari perhatian Yunho memang menunjukkan ada sesuatu yang sedang ditutupi. Tanpa basa-basi Yunho menukas penjelasan Mr Kim.
"bukan karena sengaja menghindar kan ahjussi?"
"menghindar?" Mr Kim menatap Yunho dengan tatapan yang menunjukkan kebingungan.
"oh.. tidak.. tentu saja." Bantah Mr Kim.
"untuk apa ahjussi menghindari Kangta. Kami kan teman lama. Ahjussi sudah mengenal Kangta jauh sebelum computer ditemukan." Mr Kim terkekeh dengan jawabannya sendiri.
Tapi saat tak menemukan adanya tanda-tanda Yunho akan menanggapi candaannya, Mr Kim cepat-cepat menghentikan tawanya.
"apa yang bisa membuat saya mempercayai ahjussi? Saya masih memiliki saham di Briar. Apabila terjadi sesuatu yang merugikan perusahaan karena kontrak ini, tentu saja saya juga dirugikan." Meski kepemilikan saham sudah tidak ada artinya bagi Yunho, tapi dia berusaha untuk tidak menunjukkannya.
Mr Kim kembali etrsenyum lebar pada Yunho. Sambil menggaruk kepalanya, Mr Kim mencondongkan tubuhnya dengan susah payah. Tubuh tua Mr Kim membuatnya sulit melakukan gerakan yang agak berat.
"wah.. bagaimana ya?" Mr Kim mengangguk-angguk pelan.
"Bagaimana ahjussi bisa meyakinkan kamu?" lanjut Mr Kim.
Suara ketukan pintu membuat Mr Kim mendongak. Setelah suara keras Mr Kim menyuruh siapapun di baik pintu untuk masuk, muncullah seorang office boy membawa dua cangkir kopi.
"lho? Mana Jaejoong? Seharusnya dia yang mengantarkan kopi, bukan kamu!" hardik Mr Kim pada office boy bertubuh kurus itu.
'Penyakit Mr Kim membanggakan putrinya benar benar sangat parah.' Gumam Yunho dalam hati.
Obsesi terhadap putri bungsunya sudah terlalu besar.
Tangan office boy yang terulur meletakkan cangkir di atas meja terlihat agak gemetar. Dengan suara pelansang office boy menjawab.
"sepertinya masih di ruang fotocopy pak. Anu.. tadi non Jaejoong mau membantu Ki Bum-shi di ruang foto copy tapi ternyata mesinnya malah jadi rusak."
"ya sudah, yasudah!" Mr Kim mengibaskan tangannya. Secepat kilat office boy kurus itu menghilang di balik pintu dan meninggalkan Mr Kim yang menghembuskan nafas panjang.
Mr Kim menyandarkan tubuhnya, menatap Yunho dan kembali memasang senyum lebarnya.
"silahkan Yunho." Tawar Mr Kim sambil menujuk cangkir di depan mereka.
"hmm.. kembali ke pembicaraan kita. Tetang keyakinanmu pada ucapan ahjussi."
Yunho juga mencondongkan tubuhnya dan mengambil satu cangkir kopi miliknya.
Sesaat sebelum Mr Kim menghirup kopinya, Mr Kim kembali melontarkan gurauannya.
"eh, menurutmu Jaejoong cantik kan? Kalau kamu tertarik kamu bisajadi menantu ahjussi. Kalau sudah begitu ahjussi tidak susah-susah lagi mencari cara untuk meyakinkan kamu dan Kangta." Mr Kim terkekeh geli lalu mulai menghirup kopinya.
Yunho menghentikan gerakan tangannya dan memandang Mr Kim sejenak.
"Boleh." Sambuut Yunho sambil mengangguk setuju. Lalu dengan tenang menghirup kopi dari cangkir yang sudah dipegangnya.
Mr Kim terkejuut mendengar jawaban spontan Yunho. Dia nyaris tersedak minuman yang belum sepenuhnya tertelan. Cipratan kopinya mengenai lengan jas Yunho, membuat Yunho meletakkan cangkir kopinya kembali.
Dengan susah patyah Mr Kim bangkit dan berdiri. Raut wajahnya semakin memerah dan terlihat panic, telapak tangannya naik menepuk-nepuk dadanya lalu bergegas menghampiri meja kerjanya untuk menarik kotak tisu.
Yunho hamper ikut berdiri dan berusaha membantu Mr Kim. Tapi Mr Kim mencegahnya. Dengan satu tangan mencengkeran tisu dan tangan yang lain terus menepuk-nepuk dadanya. Mr Kim mulai terbatuk-batuk untuk menjernihkan tenggorokannya. Lalu lelaki yang lebih tua itu kembali menghampiri Yunho yang duduk tegak dan waspada. Yunho bersiap membantu jika terjadi sesuatu pada Mr Kim.
Setelah menarik nafas panjang. Mr Kim mengempaskan tubuhnya di dekat Yunho.
"kamu serius?" tanyanya dengan mata terbelalak senang.
Tangannya yang menggenggam tisu terulur kea rah Yunho. Lalu di luar dugaan, Mr Ki mencoba menghapus noda kopi di lengan jas Yunho. Spontan Yunho bergerak mundur saat Mr Kim semakin mendekat.
"serius ahjussi." Jawab Yunho singkat.
"mungkin ahjussi yang tidak serius." Lanjut Yunho
Mr Kim tertawa terbahak-bahak dengan rasa senang luar biasa. Seakan-akan Yunho barusan menyampaikan kabar gembira yang membuatnay melayang hingga ke langit ke tujuh. Mr Kim mulai menepuk-nepuk lengan Yunho dengan antusias.
"tentu saja serius, bagaimana mungkin ahjussi tidak serius." Mr Kim mullai meyakinkan Yunho di sela-sela tawanya.
Dengan napas yang tersengal-sengal Mr Kim kembali mencoba mencondongkan tubuhnya semakin dekat dengan Yunho dan membuat Yunho justru menarik mundur tubuhnya.
"lelaki sejati tidak akan menarik perkataannya kembali." Mr Kim merendahkan suaranya dengan tangan teracung seperti memperingatkan Yunho.
Yunho tersenyum sinis dengan punggung yang semakin tegak.
"saya tidak bercanda ahjussi. Saya hanya tidak menyangka ahjussi serius dengan tawaran itu. Ahjussi pasti sudah mendengar pemberitaan yang tersebar luas tetang diri saya. Apalagi dengan wajah saya yang menyeramkan ini. Belum pernah ada siapapun yang rela anak gadisnya berada di dekat saya."
Mr Kim berdecak kesal. Lalu mencibirkan bibirnya.
"jangan hiraukan perkataan yang dilebih-lebihkan orang." Ujarnya.
Seakan mencoba menghibur Yunho, kepalan tangan Mr Kim menonjok pelan paha Yunho.
"ahjussi percaya sepenuhnya padamu. Siapa yang tidak iri melihat kesuksesan Jung Corp? Kangta selalu membanggakanmu. Dan ahjussi percaya ucapan Kangta. Orang lain mungkin hanya menilai dirimu dari luar, penampilan saja. Tapi ada sebagianorang yang bisa melihat jauh ke lubuk hatimu."
Yunho terperangah mendengar perkataan Mr Kim. Hari ini benar-benar penuh kejutan.
Pertama, Jaejoong menganggapnya sama sekali tidak menakutkan. Kedua, Mr Kim malah menawarkan putrinya – Jaejoong. Bahkan tanggapan yang sangat spontan juga mengejutkan. Tanpa pikir panjang semuanya mengalir begitu saja. Sebenarnya Yunho juga sama terkejutnya. Karena dia awalnya mengira tawaran menjadi menantu Tuan Kim ini hanya gurauan semata. Tapi bagaimanapun apa yang sudah ia katakana sudah tidak dapat lagi ditarik kembali. Toh belum tentu juga Jaejoong setuju dengan rencana mereka. Dan sepertinya apa yang diinginkan wanita manja itu akan selalu dituruti oleh Mr Kim, piker Yunho.
Meski Jaejoong tidak menganggap parut yang ada di muka Yuho atau perawakan tubuh Yunho yang besar sebagai hal yang menakutkan, bukan berarti wanita itu mau begitu saja dijodohkan dengan dirinya yang sudah dibicarakan media massa sebagai Frankenstein yang mencoba memperkosa dan memukuli mantan tunangannya lima tahun lalu.
-TBC—
Update lagii.. karena ada beberapa yang 'sepertinya' berminat dengan FF ini..
Hayoo Jae Oemma bakal terima gak ya? :D
Udah terjawab kan yang kemaren Tanya "kenapa Yoochun oppa yang dijodohin ke Jae-Oemma. Yahh kelanjutannya harap ditunggu ya" dan maaf gak bisa bales satu-satu. Next time deh kalo aku lagi agak yaa…
Semoga banyak yang merespon ya.
Dan kayaknya bakal sedikit lama.. hahahaha ya lamaa daahh.. untuk kelanjutan FF ini. Karena ada yang harus saya selesaikan terlebih dahulu,,
Terima kasih sudah membaca cerita oemma yeppo dan appa beruang tersayang #eh
Jangan lupa review ya chingu-deul…
