WARNING! Lebih baik baca kembali chapter pertama karena ada sedikit perubahan. Sedikit. Dampak dari niat ingin oneshoot jadi twoshoot. Maaf menganggu. Sekali lagi maaf. Tapi jika tak ingin membaca ulang tidak akan berpengaruh banyak. Karena tidak ada pengubahan alur cerita di chapter pertama

Maaf

Maaf

Maaf


Minato menarik nafasnya dengan tarikan panjang. Seperti halnya daur ulang. Ia menghembuskan nafas yang panjang pula. Hal ini ia lakukan selama pikirannya melayang jauh, menerawang kembali keputusan yang telah diambilnya. Ada rasa tak nyaman di hatinya saat ia memikirkan hal tersebut. Tapi dengan posisinya saat ini ia benar-benar dituntut untuk menjaga nama baik keluarganya.

Nama Namikaze bukan hanya sebuah nama belakang tanda sebuah keluarga besar yang pantas untuk dipertahankan. Nama Namikaze ─terlebih dengan nama Minato yang mengikuti─ akan membuat setiap orang menunduk hormat, jikalau mereka memang mengenal apa-dan-siapa-pemililik-dari Namikaze Company. Serta sepak terjang yang telah di tempuh olehnya.

Namekaze Company memang bukan sebuah perusahaan yang pasti berdiri di setiap provinsi di semua Negara seperti penggambaran cerita-cerita imajinatif lainnya. Karena hal yang tidak mungkin jika sebuah perusahaan yang berpengaruh karena tingginya harga jual saham berdiri di sebuah Negara miskin. Bayangkan saja, jangankan memikirkan untuk membeli saham atau sekedar menanamkan investasi di Namikaze Company, Nigeria, Ethiopia, Zimbabwe Kongo dan beberapa negara termiskin lainnya bahkan menghadapi masalah kelaparan dan kesehatan.

Tapi disitulah Namikaze Company mulai di kenal dunia. Perusahaan yang berjalan di bidang pembuatan mesin dan elektronik ini pada awalnya memang sebuah pabrik makanan. Tidak tanggung-tanggung. Produk yang dulu di bingkis masih dengan nama 'Yummy by Namikaze' ini memproduksi makanan-makanan yang tidak sempat terfikirkan rumah produksi yang bekerja di bidang yang sama. Setelah 'Yummy by Namikaze' sukses dengan mi ramennya ─jika rumah produksi lain menawarkan ramen instan, maka 'Yummy by Namikaze' menawarkan ramen yang telah di masak. Bedanya mereka memproduknya dalam bentuk beku.

'Yummy by Namikaze' mulai memproduksi makanan-makanan lainnya meski dengan konsep yang sama, yakni dibekukan. Seperti halnya Tako no Pizza, yakni pizza dengan bahan utama gurita khas buatan 'Yummy by Namikaze' yang bisa di rasakan siapa saja dan dimanapun.

Ice Sakura Jellyfish. Yakni minuman yang memiliki bahan dasar bunga sakura. Jangan fikirkan namanya yang membawa sebuah mahluk hidup bernama ubur-ubur. Itu hanya kilasan seperti apa minuman yang di tawarkan 'Yummy by Namikaze' yang terbuat dari bunga Sakura yang notabene di Jepang adalah tumbuhan yang amat sangat di jaga dan di lindungi. Jellyfish dalam label minuman ini karena kekenyalan yang terdapat didalamnya. Karena keunikan inilah yang membuat produk-produk 'Yummy by Namikaze' terkenal dan laris dipasaran.

Lambat laun. 'Yummy by Namikaze' memiliki kendala dalam membuat produk-produk baru yang mulai mendapat permintaan dari para konsumen. Karena terkadang beberapa perusahaan mesin tidak menjual atau tidak menerima permintaan mesin seperti yang diinginkan pemilik label 'Yummy by Namikaze'. Pada akhirnya. Setelah lima tahun berlalu dengan berjayanya 'Yummy by Namikaze', Minato selaku pemilik paten label 'Yummy by Namikaze' memutuskan untuk mendirikan perusahan pembuat mesinnya sendiri.

Selain untuk membuat mesin pembuat produk makanannya ─dengan cara merekrut para sarjana dan magister dalam bidang tekhnologi mesin─ perusahaan ini juga menerima pesanan mesin yang diinginkan konsumennya ─diluar daftar mesin yang mereka punya.

Tak berhenti disitu, Minato juga mendirikan perusahaan elektronik yang ia beri label sama dengan perusahaan mesinnya. Rasenggan. Yang secara hokum sah berdiri dua tahun setelah pengesahan perusahaan mesinnya. Karena sepak terjang yang baik dan di terima dengan positif di masyarakat. Akhirnya Minato menyatukan perusahaannya dan mengubahnya menjadi sebuah perusahaan besar yang pada akhirnya di kenal dengan sebutan Namikaze Company.

Bekerja pada bidang makanan yang memiliki CEO Teuchi ─kini mendirikan sebuah restaurant yang kembali menggunakan nama Namikaze meski sepenuhnya dikendalikan oleh Teuchi. Bidang mesin dengan Kakashi sebgai CEO. Dan Iruka yang menjabat CEO di perusahaan electronik. Dengan Namikaze Minato sebagai direktur utamanya.

Yang menjadi fenomenal dari Namikaze Company adalah sifat rendah hati dan peduli terhadap sesama inilah yang semakin membuat segala sesuatu yang berasal dari Namikaze Company di terima oleh mayarakat. Tak tanggung-tanggung. Seperti halnya launching perdana smartphone keluaran terbaru milik Rasenggan. Hasil dari penjualan 10.000 item pertama disumbangkan untuk para penderita kelaparan di Ethiopia. Lain lagi dengan aksi sosial yang di selanggarakan Teuchi atas izin Minato untuk memberikan makanan gratis bagi siapa saja yang berkunjung ke Namikaze restaurant selama satu bulan awal pembukaan.

Tidak berhenti di situ. Bahkan Namikaze Minato memperjualkan sahamnya bukan hanya untuk melipat gandakan kekayaannya. Menurut pencatatan saham nasonal, hasil uang dari penjualan saham Namikaze Company justru tak berputar di perusahaan tersebut. Melainkan di salurkan untuk negara-negara yang masih dalam tatanan ketergantungan.

Tak jarang terkadang, para direktur-direktur membeli saham Namikaze Company sebagian berdalih hanya ingin ikut menyumbangkan hartanya. Lucunya, meski Minato tak pernah memutar uang hasil penjualan saham ke perusahaannya. Harga sahamnya tetaplah tinggi. Meskipun terjebak jatuh dan harus merugi, tidak terlalu membuat Namikaze Company terpuruk. Hal ini di karenakan kuatnya pengaruh Namikaze terhadap bantuan-bantuan yang akan di salalurkan. Sehingga membuat saham-sahamnya tetap stabil.

Dan dari semua hal yang telah ia lakukan dan ia korbankan. Tak mungkin seorang Namikaze Minato mengambil langkah yang salah dan merusak semua kepercayaan yang telah tercipta dan melekat pada dirinya. Pikirannya kembali melayang pada sosok pemuda yang ia yakini usianya tak lebih dari tujuh belas tahun. Mencoba mengingat kembali surai warna pirangnya, mata birunya, tulang wajahnya, dan tanda lahir di setiap pipinya. Dari semua kemungkinan. Ia berharap pemuda tersebut bukannya putra pertamanya.

Maka dari itu, sebelum semua terkuak dan terjawab secara rinci, ia mencoba kembali membuang apa yang memang telah ia buang. Biarlah masa lalu tetaplah menjadi masa lalu. Asalkan keluarga kecilnya tetap bahagia. Tuhan punya jalannya masing-masing. Jika memang benar putra sulungnya masih hidup. Itu pertanda jika Tuhan menyayanginya dan akan tetap menjaganya. Ia hanya tinggal berdoa untuk yang terbaik bagi putra sulungnya. Karena jika ia tidak menjaganya. Maka Tuhan pasti bersamanya.

"Ku mohon nak. Semua ini ayah lakukan demi kebahagian keluargamu. Kebahagian adik-adikmu."


.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

Disclaimer
Naruto
©Mashashi Kisimoto

Adakah aku di hati kalian?
©Kanami Aya

Pairing
Minato. Kushina. Sasuke. Naruto. Sakura.
Pairing akhir bukan SasuNaru.
Saya sudah memperingatkan.
Jika masih ada flame.
Dimohon close saja.

Genre
Hurt/Comfort/Family/Romance/Angst

Rating
Teenager

Warning
Jangan bunuh saya jika endingnya membuat anda marah.
Kesurupan. Merasa sebal hingga ingin membunuh saya.
Bagi yang tidak suka Yaoi. Ini tidak berakhir dengan Yaoi.
Saya lebih menonjolkan family nya.
Tapi yang suka Yaoi. Disini kisah cintanya full cinta sejenis.
Hidup SasuNaru (Meskipun ini bukan full ttg SasuNaru.)

Summary
Penderitaan Naruto yang di buang oleh keluarga saat ia bayi.
Namun saat ia dapat bertemu kembali dengan keluarganya.
Rasa sakitlah yang ia terima.
Terlebih saat cinta pertamanya benar-benar memilih meninggalkannya demi cinta yang lebih rasional.
Menyadarkan bahwa kini sudah benar-benar tak ada yang menyayanginya.

Inspiration
Di Chapter ini saya sedikit terinspirasi dengan kisah
dalam sebuah film berjudul "My Sister Keeper"

Status
Complete

Please choose back or close if you don't like this fict.
Happy reading for everyone!

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.


Naruto memainkan bandul kalung berbentuk kristal memanjang menggunakan telunjuk dan ibu jarinya dalam genggamannya. Mencoba mencari jawaban dari bandul tersebut. Dulu, ketika ia masih berumur tiga tahun, Tsunade selalu mengingatkan agar ia menjaga kalung tersebut. Tsunade juga mengatakan bahwa, jika suatu saat ia merindukan orangtuanya, ia disarankan untuk menggenggam bandul tersebut tepat saat digunakan. Atau lebih tepatnya berada di dada. Tsunade menjelaskan, dengan melakukan hal tersebut ia akan merasakan bahwa orangtunya berada sangat dekat dengannya. Yakni di hatinya.

Tapi sudah berkali-kali ia melakukan hal tersebut. Terhitung sejak kematian Tsunade hingga kini sudah lima hari Sasuke meninggalkannya. Total hari-hari yang ia lalui dengan mencoba lebih dekat dengan dengan sang orangtua ─memalui cara yang Tsunade beritahukan padanya─ adalah tiga puluh lima hari. Dan tak sedikitpun ia merasa dekat dengan mereka. Yang ada hanyalah kesedihan mendalam karena mengingat mendiang sang nenek. Kesepiannya juga makin bertambah setelah berpindahnya Sasuke ke Suna.

Naruto yang sekarang bukanlah lagi Naruto yang dulu. Naruto yang bersemangat kerja tak-kenal-lelah-dan-waktu. Naruto dengan senyuman lima jarinya di setiap kali ia mendapati masalah. Naruto yang selalu berisik demi menyamarkan susahnya kehidupan yang ia jalani.

Kini Naruto berubah menjadi sosok yang keluar jika sudah tak ada ramen instan yang bisa dimakan. Dulu, meski kehidupannya susah, Tsunade selalu memilih memasak dari pada makan barang isntan. Namun kini Naruto tak memperdulikannya.

Naruto kini juga sudah tidak melanjutkan kerja keras tak-kenal-lelah-dan-waktu. Ia benar-benar berhenti bekerja dan hanya mengandalkan uang dari para penziarah kematian sang nenek.

Terkadang Naruto tersenyum pahit. Ketika selintas di pikirannya terbesit sebuah pertanyaan akankah sang orangtua sedikit saja memikirkan tentangnya. Sedikit saja mengetahui bagaimana sulitnya hidup yang ia jalani. Bagaimana pederitaan jika ia belum makan dan sangat menahan lapar menunggu pulang Tsunade kala ia kecil dulu. Bagaimana sedihnya sebuah cita-cita terampas saat ia putus sekolah demi mencoba mempertahankan kasih sayang yang bahkan ia dapatkan bukan dari nenek kandungnya sendiri. Bagaimana terjadinya lapisan tangan kecil yang halus berubah kasar seiringnya waktu karena sering bekerja kasar. Bagaimana lelahnya ia saat memulai kerja jam enam pagi dan pulang saat jam sembilan malam. Dan masih banyak rasa penasarannya akan sang orangtua.

Namun Tsunade selalu menjawab ─saat ia mulai bertanya mengapa orangtuanya membuangnya─ bahwa mungkin orangtunya jauh lebih tidak mampu dari mereka. Jauh tidak bisa merawatnya daripada saat Tsunade yang merawatnya. Dan yang terpenting adalah, karena Tuhan akan membuatnya lebih bahagia karena waktu yang dijalaninya ini adalah yang paling benar.

Bisa saja jika ia tetap tinggal bersama sang orangtua maka mereka tidak akan bahagia. Maka dari itu, Tuhan memang menakdirkan bahwa ia akan hidup bersama Tsunade. Karena jika hal ini bukan takdir, bisa saja saat ia dibuang oleh kedua orangtuanya mengalami kegagalan. Dan meskipun ia menjadi anak yang tidak dihrapkan, di dalam hatinya, ia tetap berdoa agar kedua orangtuanya bahagia.

Yang menjadi pertanyaanya saat ini adalah, mengapa ia tak pernah merasa bahagia dalam arti yang sesungguhnya? Mengapa ia masih merasa sedih? Merasa terbuang? Jika memang ia dibuang oleh kedua orangtuanya, mengapa Tsunade harus diambil dari sisinya secepat ini? Mengapa Sasuke harus ditakdirkan dengan orang lain? Apakah benar dirinyasudah tidak ada di hati mereka?

Naruto mengedarkan pandangannya mengitari ruangan tengah yang terlihat gelap karena penerangan yang memang tak dinyalakannya. Kemudian dengan langkah pelan dan terseok, Naruto menggamit sebuah surat dengan bahan dasar kertas tebal yang tercetak jelas di bagian depan yang menjelaskan jika surat tersebut adalah sebuah undangan pernikahan.


Undangan Pernikahan

Uchiha Sasuke
Putra dari Uchiha Fugaku

Dan

Haruno Sakura
Putri dari Haruno Kizashi

Dilaksanakan pada:
Minggu, 31 November
Kediaman Haruno. Suna.


Tak terasa sebuah air mata berlinang di pipi kirinya. Terasa sesak setiap kali ia mencoba menarik nafas. Meskipun berat, terasa sakit, merasa bahwa ini adalah hal yang tidak adil, Naruto tetap mencoba berdoa yang terbaik untuk Sasuke. Berdoa untuk kebahagiannya. Meskipun kebahagiaan itu tak bisa diperolah darinya.

"Sasuke~" Ucap Naruto lirih. Ya Tuhan. Mengapa aku merasa begitu tak rela melepasnya? Naruto menarik nafas panjang Mengapa Engkau ciptakan rasa ini jika menyampaikannya saja aku tak bisa? Mengapa Engkau ciptakan 'golongan' kami tapi kami tak bisa bersama? Wajarkah perasaan menyimpang kami hanya terikat pada satu orang? Hamba bukanlah golongan yang mencintai semua orang yang sejenis dengan hamba. Tapi mengapa hamba begitu mencintainya? Di akhir pertanyaan dalam pikirannya, Naruto menghela nafas.

Naruto meremas undangan tersebut menjadi kertas lusuh. Dan dengan berat hati ia kembali meletakannya di atas meja lipat di sudut ruangan.

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

Sasuke mengaduk untuk kesekian kalinya sendok kecil tersebut. Berputar tiga ratus enam puluh derajat mengitari pinggiran cangkir kecil berisikan kopi tanpa ada tambahan gula sedikitpun. Pikirannya melayang dan berputar-putar layaknya arus kecil kopi dalam cangkir yang diakibatkan gerakan memutar sendok yang di lakukannya. Melayang pergi dari tempatnya sekarang. Bermil-mil jarak yang harus ditempuh jika ingin mengikuti kemana pikiran Sasuke berada. Karena pikirannya kini berada di Konoha. Tepatnya mengarah pada sosok bersurai pirang bermata biru yang ia kenal bernama Naruto sejak sepuluh tahun yang lalu.

Ia selalu dibuat gamang saat berhadapan dengan seseorang yang telah mengembalikan senyum diwajahnya setelah kematian sang kakak. Ia bingung, tak mengerti, mengapa seorang bocah yang kala itu berumur sepuluh tahun bisa membuatnya amat ketakutan saat ia terbaring tak sadarkan diri bahkan mengalami koma selama dua hari.

Entah karena ia memang terlalu hawatir padanya. Entah karena ia merasa bersalah. Atau entah karena ia masih trauma akan kehilangan seseorang pasca kematian sang kakak, sehingga saat dia terbaring tak sadarkan diri yang penyebabnya tak jauh darinya membuat dirinya sangat terpukul.

Tapi jika memang itu yang menyebabkan ia amat takut kehilangan sang bocah pirang, mengapa setelah berjalannya waktu kehawatiran akan takut merasa kehilangan akibat kematian berubah menjadin kehawatiran akan kebahagiannya. Takut jika sang pirang tak akan bahagia jika tidak dengannya. Atau lebih gilanya lagi, ia merasa hawatir dan takut jika kebahagiaan yang akan dirasakan oleh sang pirang bukanlah berasal darinya.

Mungkin awalnya pula, ia hanya beranggapan bahwa keberadaan si pirang ─setelah mereka akur dari sikap bermusuhannya─ disisinya adalah pengganti sosok sang kakak. Karena pada dasarnya ia sangat dekat dengan sang kakak. Perbedaannya terletak pada, jika ia dengan Itachi ─sang kakak─ ia merasa terlindungi. Namun jika dengan si pirang, ia akan berkembang menjadi sosok yang menjaga, tipe dewasa yang akan dengan senang hati melindungi hal yang amat berharga darinya.

Sebenarnya telah lama ia mempertanyakan orentasi prasaannya ini. Ia masih belum bisa membenarkan jika yang berorientasi adalah prilaku seksualnya, karena ia amat sangat yakin jika ia belum pernah bersentuhan lebih intim dengan perempuan ─terlebih laki-laki. Ia telah mencoba mencari jawaban dari berbagai kemungkinan yang bisa ia dapatkan.

Buku-buku Philosophy yang ada di perpustakaan yang mencobaa menjelaskan bagaimana awal munculnya sebuah perasaan menyimpang 'tersebut'. Buku ketentuan-ketentuan hokum bagaimana hubungan 'tersebut' bisa ditafsirkan dalam sebuah undang-undang demi menjaga dan diakui secara sah di Negara bersangkutan. Bahkan ia juga mencoba mencari jawaban pada setiap al-kitab agama yang ada dan yang pernah ia ketahui. Dan jawabannya ia lah satu. Dilarang dan terlarang.

"Sasuke-kun?" Satu hal telah ia lupakan selama pikirannya berkelana tentang sang pirang. Sakura. Hari ini ia sedang menjalani fitting baju pernikahan mereka untuk yang ketiga kalinya ─yang Sasuke harap adalah yang terakhir.

"Hn."

"Aku bilang, apakah kali ini masih terlihat kebesaran?" Ulang Sakura, sabar.

Sasuke menggeleng. "Sudah terlihat pas di tubuhmu."

"Benarkah? Apakah menurutmu tak perlu ditambah lengkungan di bagian dada? Menurutku ini terlalu terlihat rendah," Sakura menutupi sedikit belahan dadanya menggunakan tangan kanannya, "aku pikir ini terlalu terbuka."

"Bukankah dari awal aku sudah bilang, lebih baik jangan pilih gaun dengan model korset ─Sasuke tidak mengerti apa sebutan bahan kaku yang banyak digunakan dalam gaun pengantin. Lebih baik kau pilih gaun dengan model lengan panjang." Komentarnya. Persis seperti komentar beberapa hari yang lalu.

"Tapi gaun ini sudah terlanjur jadi. Mana mungkin aku bisa membuat yang baru sementara pernikahan kita sepuluh hari lagi?"

"Kalau begitu terima saja seperti apapun gaun yang akan kau gunakan di pernikahan nanti." Jawab Sasuke, namun tak meninggalkan kesan acuh.

Sementara di depan bentangan cermin dengan bentuk setengah lingkaran yang mengelilingi tubuh Sakura, sosok sang surai jambore melengguh pasrah. Sudah terbiasa dengan sikap sang calon suami. Terlalu sering ia sadari bahwa pemuda di depannya seolah mengacuhkannya.

Aku akan tetap melakukannya. Meskipun hal itu menyakitiku.

Selintas terngiang ucapan sang pirang di kepalanya. Sadar akan kelakuannya yang telah melukai calon istrinya. Sasuke berjalan pelan ke arah Sakura.

"Ini tetap bagus. Apapun akan terlihat bagus di tubuhmu Sakura. Karena kau akan jadi mempelai wanita di pernikahan kita nanti. Dan tak aka nada yang lebih cantik kecuali sang mempelai wanita." Sasuke mencoba menyingkirkan anak rambut di kening Sakura.

Ya Naruto. Aku akan tetap melakukannya. Meskipun hal itu menyakitiku. Karena memang akulah yang memilih jalan ini. Memilih keputusan ini. Demi kebahagian keluarggaku. Tak peduli aku tersiksa saat menjalaninya.

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

Seorang bocah laki-laki berumur tak lebih dari dua belas tahun tengah memuntahkan segala isi makan malam yang telah di santapnya setengah jam lalu. Dibarengi dengan mengalirnya darah yang keluar dari kedua lubang hidungnya. Wajahnya yang telah berwarna pucat kini malah berubah menjadi kebiruan. Tanda jika pasokan oksigen telah berkurang. Hal ini menimbulakan terlihatnya urat-urat menegang di sekujur tubuh bocah laki-laki tadi.

"MAMAAAA! KAK KYUUBI HIDUNGNYA BERDARAH LAGIII!" Teriak sang adik yang sedari tadi hanya bisa melihat tanpa bisa berbuat apa-apa.

"Jangan bilang Menma, kakak baik-baik~ saja~." Ucap Kyuubi lemah, kemudian kembali memuntahkan isi makanan organik yang telah dibuat oleh sang ibu dengan sepenuh hati.

"KYUUBI?" Kushina terlonjak kaget saaat ia telah sampai di kamar sang anak. "MINATO! CEPAT PANGGIL AMBULANCE." Teriaknya.

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

"Bagaimana keadaannya dok?" Ucap Kushina. Tergesa ingin segera mengetahui konsisi putranya. Sementara didepannya sang dokter hanya menggeleng pasrah. Wanita bersuai hitam sebahu tersebut telah menjadi dokter pribadi Kyuubi selama tujuh tahun terakhir. Dihitung sejak pertama kali Namikaze Kyuubi dinyatakan mengidap kanker darah putih atau yang lebih kita kenal dengan sebutan leukemia.

Pada saat itu Kyuubi masih berumur lima tahun, ketika ia menemukan banyak bercak-bercak merah keunguan bahkan lebam di sekujur punggungnya. Saat dokter menyatakan Kyuubi mengidap leukemia, Kushina dan Minato sudah siap untuk mendonorkan apa saja yang putranya butuhkan kelak ketika menjalani pengobatan demi memperoleh kesehatan putranya kembali.

Namun naas, setelah pemeriksaan darah dan hal genetik lainnya, baik Minato dan Kushina tidak memiliki kecocokan tersebut. Kepanikan dan kehawatiran meliputi mereka saat itu, bagaimana mereka mengalami ketakutan akan kehilangan putranya. Sempat terlintas di pikiran mereka untuk kembali menemui seseorang yang kala itu sudah sepuluh tahun mereka coba lupakan.

Dan hal itu bisa saja terjadi, andai saja Dr. Shizune tidak menawarkan alternatif lain. Yakni bayi tabung. Dan lahirlah Namikaze Menma. Sebagai anak hasil dari proses bayi tabung yang memiliki kecocokan genetik dengan sang kakak Namikaze Kyuubi secara keseluruhan. Meskipun secara hokum praktek bayi tabung rekayasa genetik adalah dilarang.

Sejak saat itu baik Kyuubi dan Menma sangatlah diutamakan kesehatan dan keselamatannya. Menma ─yang saat ini sudah berumur tujuh tahun─ sejak ia lahir, bagian darinya sudah diperuntukan untuk kesehatan sang kakak.

Tali pusarnya digunakan untuk pemulihan sel yang rusak akibat radiasi demi memperlambat pembelahan sel kanker sang kakak. Bahkan saat berumur tiga tahun, Menma sudah merasakan bagaimana sakitnya saat jarum besar di tancapkan ketubuhnya demi memperoleh apa yang sang kakak butuhkan. Tak cukup disitu, sejak Menma bisa menangkap lebih banyak maksud orang dewasa sudah ditanamkan kenyataan bahwa ia harus siap kapan saja memberikan organnya demi sang kakak sewaktu-waktu sang kakak membutuhkannya.

"Kyuubi sudah memasuki tahap lima pada ginjal kronisnya. Dan ia kini sudah mengalami gagal ginjal." Jelas Dr. Shizune.

Kushina terbelalak. Dengan perasaan gamang dan tak mengerti ia bertanya. "Apa maksudnya? Bukankah setiap kali ia membutuhkan darah ia sudah mendapatkannya dari Menma? Bukankah tali pusar Menma sudah memperbaiki sel dalam tubuhnya?"

"Memang benar Kyuubi sudah mendapatkan sebagian sel perbaikan dari sel Menma. Tapi kenyataannya adalah tubuh Kyuubi sangat lemah dan tak memiliki pertahanan. Leukemianya yang kita rencanakan untuk mendapatkan donor sumsung tulang belakang dari Menma terlalu ganas dan terlalu cepat menyebar. Radiasi dengan dosis tinggi dalam pengobatan kanker jika dilakukan terlalu sering akan berbahaya. Dan Menma masih terlalu kecil untuk terlalu sering menyumbangkan sumsum tulang belakangnya. Terlebih kini Kyuubi sudah mengalami gagal ginjal." Shizune menyerahkan lembaran keterangan keadaan Kyuubi. "(GFR 15 mL/min/1.73 m 2 , atau terapi pengganti ginjal permanen (RRT). Kami menyarankan agar Kyuubi mencari donor ginjal."

Mendengar ucapan Shizune, Minato yang sejak tadi terdiam kini anglat bicara. "Lalu bagaimana nasib Menma? Kami menyetujui bayi tabung tersebut agar anak bungsu kami dapat menyumbangkan organnya demi keselamatan Kyuubi. Kalo pada akhirnya Menma tidak bisa menyumbangkannya. Apa gunanya kami menyetujui bayi tabung itu. Toh pada akhirnya kami harus mencari atau menunggu donor-donor diluar sana. Pada akhirnya Menma hanya bisa merasakan sakit setiap kali jarum menembus tubuhnya namun tetap tidak bisa menyelamatkan kakaknya. Dan kenapa pula Kyuubi sudah mengalami gagal ginjal padahal ia masih berumur dua belas tahun."

Suasana ruang kerja Shizune yang awalnya tenang kini telah berubah layaknya oven. Terasa panas. Menegangkan. "Kushina-san. Namikaze-san. Maaf jika saran saya untuk melakukan bayi tabung pada akgirnya tidak bisa member kesembuhan yang signifikan bagi Kyuubi. Tapi memang, leukemia Kyuubi terlalu ganas. Sel kankernya membelah tanpa bisa di kendalikan. Jika diradiasi akan memperlambat pembelahannya dan bisa menghilangkan sebagian sel kanker. Setelahnya akan dua kali lipat lebih besar. Dan hal ini yang menyebabkan ia sudah mengalami gagal ginjal mesi umurnya baru dua belas tahun."

Mendengar paparan penjelasan dari Shizune semakin membuat Kushina lemas. Ia menjatukan kedua tangannya dari atas meja k eats pahanya. "Lalu apa yang harus kami lakukan? Ginjal kami sudah dinyatakan tidak cocok!"

"Hubungi sanak saudara yang memiliki ikatan darah secara langsung dengannya. Dan berharap saja ada kemungkinan kecocokan dengan mereka." Shizune menggenggam tangan Kushina. "Usahakan cepat. Karena Kyuubi sudah tidak bisa bertahan lagi. Kau juga seorang dokter Kushina-san. Meskipun kau dokter kandungan. Dan aku yakin kamu sangat mengerti keadaan kyuubi."

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

Kata orang-orang.
Segala perbuatan itu pasti ada timbal baliknya.
Jika kita melakukan perbuatan baik,
balasannya jauh lebih menyenangkan dari pada yang kita duga.
Namun saat kita melakukan perbuatan buruk,
niscahya balasannya akan sangat menyakitkan.

Kushina adalah adalah seorang ibu rumah tangga seperti ibu-ibu lainnya, di luar pekerjaannya sebagai seorang dokter kandungan tentu saja. Namun saat ia mengetahui bahwa putranya yang bernama Kyuubi menderita leukemia, segala aktifitas di luar rumah, bahkan cita-cita besarnya yang ingin menjadi dokter ia tinggalkan demi lebih memerhatikan sang anak.

Tapi mengapa hal ini masih tak cukup? Bahkan ia sudah memutuskan untuk memiliki anak lagi dan merelakan hidup anak bungsunya hanya sebagai organ cadangan demi sang kakak. Mungkinkah ini balasan dari Tuhan atas perilakunya yang telah membuang anak diluar pernikahan. Anak yang tak pernah ia harapkan hadir sebelum ia mencapai cita-cita gilanya yakni menjadi dokter? Yang pada akhirnya harus ia lepas juga setelah lima tahun bekerja.

Jika ia menemui sanga anak yang telah dibuangnya, apakah sang anak masih mau menerimanya? Terlebih jika ia menjemput sang anak dan memberitahukan bahwa ia membutuhkan organ sang anak demi menyelamatkan hidup sang adik. Salahkah ia melakukan hal itu? Masih maukah sang anak memaafkannya.

"Aku seperti melihatnya." Ucap Minato toba-tiba saat mereka sedang beristirahat di luar kamar ruang inap Kyuubi.

"Siapa?"

"Anak pertama kita." Minato mengalihkan pandangannya menghadap sang istri. "Anak kita sebelum Kyuubi."

"Bagaimana kau tahu jika dia adalah anak kita?" Kini wajah Kushina yang pada awalnya terlihat sedih mulai memancarkan harapan.

"Aku melihat tanda lahirnya sama seperti anak kita. Tanda lahir tiga garis halus disetiap pipinya. Ciri-cirinya juga sama seperti dia. Mata biru. Rambut pirang."

"Apakah ia memiliki kalung itu?" Tanya Kushina antusias.

Minato menggeleng. "Entahlah. Aku tak pernah melihatnya menggunakan kalung sebelumnya."

"Kita harus coba memastikan. Siapa tahu ginjalnya cocok dengan Kyuubi." Ucap Kushina langsung.

"Aku tak yakin ia mau memberikannya." Satu tarikan nafas. "Pertama, karena jika benar ia anak kita, mana mungkin ada anak yang mau memaafkan sang orangtua yang telah membuangnya meski dengan dalih demi menyelamatkan adiknya. Kedua, aku telah memecatnya dari tempat Teuchi."

"Mengapa kau lakukan hal itu?!" Secara mendadak inotasi suara Kushina meninggi.

"Kau menanyaiku, mengapa aku melakukannya?!" Minato ikut meninggikan suarnya. "Apa yang kau pikirkan dulu saat ingin menggugurkannya? Kau tak mau merasa malu bukan? Kau ingin tetap menjaga nama baikmu bukan? Demi cita-cita gilamu menjadi seorang dokter." Mendengar penuturan suaminya, tak pelak Kushina membugkam mulutnya. Tak kuasa mengingat ia di masa lalu. "Saat itu aku juga masih gelap mata. Aku memecatnya lantaran takut, orang-orang mengetahui aku memiliki anak di luar nikah. Dan mencoreng nama besar Namikaze yang telah aku jaga selama ini." Lanjut Minato.

"Kita memang orangtua yang buruk. Tapi kita tak harus selalu menjadi orangtua yang buruk. Kita harus menyelamatkan anak kita. Kita belum tahu jawabannya sebelum mencobanya." Kushina menggengam tangan sang suami. "Kita harus mencobanya. Demi Kyuubi. Kita datangi anak itu besok. Siapa tahu ia anak itu─"

"Naruto." Potong Minato. "Namanya Naruto." Lanjutnya.

Kushina mengangguk. "Ya. Siapa tahu Naruto mau membantu kita."

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

Setelah puas melamunkan mengapa dalam hidupnya hanya bergulir sebuah kesedihan. Pada akhirnya Naruto memutuskan untuk kembali bangkit. Karena tidak mungkin ia hanya mengandalkan uang dari para peziarah kematian Tsunade yang tak akan bertahan selamanya sementara ia masih harus melanjutkan hidup.

Diambilnya tas selempang lusuh berisikan baju ganti dan air minum yang ia isikan di botol minuman yang selalu dibawaja sewaktu ia bekerja. Mengenakan sepatu karet yang di sarankan kepala proyek bangunan selama bekerja. Kemudian membuka pintu dan berangkat bekerja. Namun belum sempat niatnya terlaksana, ia menangkap wajah seorang pria yang ia dulu ia kenal dengan panggilan bos, pemilik restoran tempat ia bekerja sebagai tukang parkir ketika malam hari.

"Namikaze-san?" Ucap Naruto, tak mengerti hal apa lagi yang akan di katakannya.

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

Minato memutar kepalanya menyisiri pemandangan yang ada di dalam ruangan tak luasnya sebuah kamar. Ia sempat merasa bingung memikirkan dimana pemuda yang ia hampiri rumahnya ini tidur. Rumah tersebut hanya seluas enam kali tujuh meter tak dihitung dari sedikit halaman di depan rumah. Ia bahkan bisa melihat isi dapur dan kamar mandi dari tempat ia terduduk.

Jika ruangan ini adalah ruang tamu, ada kemungkinan ruangan ini juga kamar tidur saat malam. Karena ia tahu tidak ada ruangan lain selain dapur dan kamar mandi kecuali sedikit ruangan di pojokan yang tertutup selambu. Mungkin di balik selambu adalah lemari pakaian atau apa saja yang tak ingin di lihat saat ada tamu berkunjung.

"Maaf menunggu lama." Naruto meletakan segelas teh hangat di depan tekukan lutut Minato. "Silahkan diminum Namikaze-san." Kemudian Naruto ikut terduduk sopan di depan Minato.

"Terimakasih." Minatato sedikit meminum cairan hangat berwarna coklat tersebut.

"Apa anda butuh sesuatu dari saya Namikaze-san?" Tanya Naruto to the point, pasalnya ia benar-benar dikejar waktu untuk bekerja.

Mendengar pertanyaan langsung pemuda di depannya, Minato sempat terdiam. Gamang harus mengatakan maksudnya atau tidak.

"Boleh aku tahu foto keluargamu?"

Permintaan Minato tak pelak membuat Naruto menaikan sebelah alisnya. "Maaf?"

"Maaf jika saya lancang Naruto. Tapi saya hanya ingin tahu. Kedatangan saya kesini sekaligus sebagai bela sungkawa atas kematian nenekmu." Minato kembali menghela nafas panjang. "Maaf jika kapan hari saya dengan sepihak memecatmu. Saya menyesal." Minato menundukan kepalanya. Hal yang jarang dilakukan seorang pengusaha besar kepada orang biasa. Jika memang Naruto orang yang biasa saja baginya.

"Naikan kepala anda Namikaze-san. Tak perlu melakukan hal seperti itu. Entah alasan apa yang anda gunakan ketika memutuskan untuk memecat saya. Tapi kini hal itu bukan masalah. Umur nenek saya memang sudah di takdirkan sampai di saat itu."

Setelahnya suasana kembali sunyi.

"Saya rasa maksud anda kesini bukan hanya karena merasa bersalah bukan? Tolong katakan saja, siapa tahu saya bisa membantu anda." Naruto memcoba memecah suasana.

"Sebelumnya, bolehkah saya lihat foto nenekmu?" Pinta ulang Minato.

Naruto bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju sisian dinding yang terlapisi selambu. Kemudian kembali dengan membawa sebuah figura. Kembali duduk, dan menyerahkan figura tersebut ke arah Minato.

"Ini nenekmu dan kakekmu?" Tanya Minato saat ia menangkap wajah dalam figura. Seorang pria dengan surai putih dan seorang wanita bersurai coklat susu.

Naruto mengangguk.

"Foto orangtuamu?" Tanya Minato hati-hati.

"Hilang. Sudah hancur karena kebakaran yang menimpa rumah kami yang terdahulu. Tepatnya saat saya berumur tiga tahun." Bohong Naruto. Yah, setidaknya mereka memang pindah rumah saat Naruto berumur tiga tahun. Tapi karena tak kuat membayar sewa, bukan karena kebakaran.

Jadi itu alasannya aku tak mengenali rumah ini. Karena rumah ini berbeda dengan rumah dimana aku dan kushina membuangnya dulu. Jika benar pemuda di depannya ini adalah anaknya. Batin Minato

"Kalau boleh tahu~" Minato menggantungkan perkataannya. "Apa benar kau anak kandung dari orangtuamu?" Lanjutnya.

Naruto menaikan sebelah alisnya. "Apa maksud anda?"

"Sekali lagi maaf Naruto. Tapi saya sedang mencari putra pertama saya yang hilang." Minato mencoba menjelaskan maksud kelancangannya.

"Hilang?" Ulang Naruto.

"Benar. Dan dari ciri-cirinya, kau memenuhi kemiripan dengannya."

"Maaf tuan. Tapi saya bukan anak yang anda maksud."

"Benarkah?"

"Anda tidak percaya dengan saya?" Kini urat leher Naruto menengang.

"Saya hanya mencari kemungkinan, bahkan yang terkecil. Jika begitu, kemana orangtua kamu sekarang?" Minato ikut menaikan masa otot di lehernya.

"Meningal. Nenek bilang ayah saya meninggal karena kecelakaan kerja saat saya dalam kandungan. Dan ibu meninggal saat saya di lahirkan." Naruto kembali berbohong.

Minato terdiam. "Baiklah jika seperti itu."

"Apakah anda sudah selesai?"

Minato masih terdiam.

"Saya harus berangkat kerja Namikaze-san. Saya masih membutuhkan uang demi menghidupi diri saya." Kini Ucapan Naruto sudah mulai kasar.

Untuk apa kau mencariku setelah sekian lama? Ayah? Batin Naruto. Maaf. Jika kau memang ayahku, aku tak bisa kembali. Karena keluargaku hanya ada satu orang. Yaitu neneku. Nenek Tsunade.

"Apakah kau punya sebuah kalung yang berbentuk seperti kristal memanjang?" Minato kembali bertanya.

"Tidak!" Jawab Naruto cepat.

"Baiklah." Ucap Minato pada akhirnya. "Saya mohon pamit."

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

Selama bekerja, Naruto tak bisa memfokuskan fikirannya pada pekerjaan yang sedang di lakukannya. Fikirannya terpecah akan kejadian kedatangan Minato ke rumahnya. Banyak pertanyaan yang berkecambuk di otaknya.

Benarkah ia anak Minato? Mengapa Minato mebuangnya? Benarkah ia sebenarnya hilang dan bukan di buang? Tololkah ia memungkiri kenyaan bahwa ia anak dari seorang Namikaze Minato? Bukankah ia bisa hidup nyaman dan mewah?

Naruto menggelengkan kepalanya. Tidak! Dibuang atau hilang tak menjadi masalah baginya kini. Setelah apa yang terjadi pada Tsunade dan bagaimana usaha ia membesarkan dirinya, tidak segampang itu ia bisa berpaling. Apa yang telah dialaminya dengan semua kesusahan yang telah menimpanya. Dia hanya memiliki satu keluarga. Dan itu adalah Tsunade.

"Maaf ayah. Tapi nenek Tsunade bilang padaku bahwa mungkin saja kau lebih bahagia tanpa kehadiranku. Dan aku berharap kau tetap bahagia dengan keputusanku ini." Ucapnya kemudian.

Sasuke. Andai kau disini. Mungkin aku akan meminta pendapatmu. Aku bingung. Aku sangat ingin tahu siapa orangtuaku. Tapi mengapa saat mereka menemuiku aku justru merasa marah pada mereka?

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

Sore hari, ketika ia pulang bekerja. Ia mendapati Minato kembali menemuinya. Namun kali ini dibarengi dengan seorang wanita bersurai merah.

"Apakah kau yang bernama Naruto?" Ucap Kushina langsung saat ia melihat sosok Naruto. Diusapnya belahan pipi kiri Naruto. "Kau memang mirip dengannya. Kau mirip dengan anak pertama kami." Lanjutnya.

"Apakah ini masih persoalan anak kalian yang hilang?" Naruto meminta penjelasan kepada Minato yang berdiri tak jauh di belakang Kushina.

"Kami masih berharap jika kau memang putra kami." Minato ikut melangkah mendekati Naruto.

"Sudah aku bilang, aku bukan anak yang kalian maksud. Aku punya Nenek. Aku juga punya orangtua─"

"Tsunade tidak memiliki keturunan." Potong Minato. "Jadi apa yang kau katakan tadi pagi bisa saja sebuah kebohongan."

Naruto menepis tangan Kushina dari wajahnya. "Anda menyelidikinya?" Naruto mulai emosi.

"Kami benar-benar sedang mencari keberadaan anak pertama kami." Minato mencoba tidak ikut ambil naik darah.

"Dan kenapa kalian baru mencarinya sekarang? Apa yang kalian butuhkan dari aku?" Kini Naruto benar-benar sudah kehilangan sopan-santunnya.

"Ikutlah bersama kami, dan kau akan tahu─"

"Tidak." Naruto memotong ucapan Kushina. "Hilang? Jika benar aku adalah anak dari Namikaze Minato yang hilang tujuh belas tahun yang lalu, mengapa tidak ada seorangpun yang menyinggung perihal tersebut?" Tanya Naruto dengan nada keras. Mendapati Kushina dan Minato terdiam, Naruton melanjutkan perkataannya. "Kenapa kalian terdiam? Bukan karena hilang 'kan? Kalian membuangku 'kan? Karena apa? Aku anak haram? Anak diluar nikah? Anak hasil pemerkosaan?"

"NARUTO!" Tegur Minato.

"Kenapa?" Naruto menaikan dagunya. "Aku yang jadi korban, kenapa kalian yang tersinggung."

Suasana kembali tenang. Namun kemudian Naruto melangkah pergi meninggalkan Minato dan Kushina. "Sudahlah. Anak kalian atau bukan. Tak akan menjadi masalah. Toh yang penting kalian kini sudah bahagian tanpa ada kehadiranku. Dan aku akan tetap berdoa untuk kebahagian kalian. Anggap saja rasa terimakasihku karena sudah melahirkanku. Bukan membunuhku karena tidak menginginkanku." Naruto berkata sambil berlalu.

"Naruto! Dengar dulu." Cegah Kushina. Namun Naruto tidak menggubris dan tetap berlalu.

"Adikmu sakit." Ucap Minato cepat. "Dan kini dia sedang membutuhkan donor ginjal." Minato sedikit menaikan suaranya saat Naruto mulai menjauh. Dan Naruto tetap tidak memberhentikan langkahnya.

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

Hari-hari berlalu setelah kejadian dimana ia bertemu dengan Minato dan Kushina. Ia juga sudah kembali bekerja. Namun kini ia bekerja tak segila dulu yang tak-kenal-lelah-dan-waktu. Disisi lain, ia hanya menafkahi dirinya sendiri. Disisi lainnya, ia sudah tak harus membeli obat-obat mahal yang dulu wajib di konsumsi neneknya.

Karena waktu luangnya kini lebih banyak, Naruto mencoba menghabiskan waktu malamnya di depan teras rumahnya. Mungkin acara santainya ini tidak akan terganggu jika saja tetangganya yang bernama Hinata tak mengganggunya.

"Naruto-kun?"

"Hinata? Ada apa kau malam-malam begini datang kesini?" Naruto mengubah posisinya dari terlentang menjadi terduduk.

"Sasuke menghubungku. Ia bilang jika ia ingin bicara denganmu." Hinata menyerahkan ponsel 'qwerty'nya.

"Sasuke?" Naruto menerima ponsel tersebut.

"Pakailah sepuasmu. Besok pagi baru aku ambil." Hinata meletakan alat pengisi batrai (charge) di samping Naruto. "Cas jika batrainya sudah habis."

Naruto mengangguk.

"Aku pamit pulang dulu." Hinata menunduk.

"Em. Terimakasih." Ucap Naruto. Hinata tersenyum, kemudian berlalu.

"Halo? Sasuke?" Ucap Naruto saat ponsel Hinata sudah menempel di telinganya.

"Naruto?"

"Ada apa kau menghubungiku?"

"Bukankah sudah ku bilang sering-seringlah menelponku?"

"Aku tidak punya ponsel."

"Gunakan telepon umum."

"Mahal!"

"Beli telepon rumah. Aku yang akan membayar tagihannya."

"Aku bukan pengemis yang apa-apa selalu dibiayai."

"Datanglah ke tempat Hinata. Aku akan menghubungimu melalui ponselnya."

"Tidak mau. Aku tidak mau menganggunya setiap malam dengan telepon-teleponmu yang tak penting."

"Sudahlah!"

Hening kembali melanda keduanya.

"Kau menelponku hanya untuk berdebat?"

"Aku merindukanmu."

"Hoi-hoi. Kau sudah akan menikah delapan hari lagi. Tak sepantasnya kau mengatakan hal ini. Aku ini pria! Apakah kau sudah berubah haluan?"

"Jika benar, bagaimana?"

Naruto terdiam.

"Dobe?"

"Hem?"

"Aku mencintaimu."

Naruto kembali terdiam.

"Mencintai dalam arti yang sama ketika mencintai lawan jenis."

Naruto masih terdiam.

"Aku tahu ini salah."

"Kau memang salah mencintaiku."

"Tidak. Tidak ada kata salah dalam sebuah perasaan."

"Tapi aku laki-laki."

"Itu bukan pion utama."

"…"

"Seharusnya aku katakan hal ini sejak dulu. Tapi aku takut mengatakannya. Aku tak tahu apa kau akan menerima orientasiku ini. Terlebih ketika aku dituntut untuk meneruskan garis keturunan Uchiha. Aku semakin tak berani mengatakannya."

"Apakah jika sejak dulu ku katakan aku juga mencintaimu, kau mau berjuang bersamaku demi hubungan tidak normal kita?"

Kini Sasuke yang terdiam.

"Sasuke, tidak seharusnya kau mengatakaan hal ini padaku padahal─"

"Kau mencintaiku?"

"─padahal kau akan menikah sebentar lagi." Lanjut Naruto ketika perkataannya terpotong.

"Jawab aku Dobe! Apa kau mencintaiku?"

"Tidak peduli apa aku mencintaimu atau tidak. Karena aku tetap akan marah jika samapi pernikahanmu gagal."

"Kau mencintaiku!" Sasuke mengambil kesimpulan sepihak.

"Peduli apa dirimu."

"Jawab pertanyaanku, atau aku akan terbang dari Suna ke Konoha dengan jadwal pesawat tercepat!"

"Ya! Aku mencintaimu. Aku mencintaimu Uchiha Sasuke. Tapi hal ini tidak akan merubah apapun. Meskipun kau terbang dari Suna ke Konoha. Aku akan tetap marah jika sampai pernikahanmu gagal."

"Sekarang. Aku tahu satu hal yang membuatku amat menyesal."

"Penyesalan memang selalu ada di belakang."

"Kau tahu apa yang aku sesalkan?"

"Tak penting bagiku."

"Yakni aku terlalu takut untuk mengungkapkan perasaanku. Aku tak bernai mengatakannya di depan kedua orangtuaku."

"Ya. Ini memang sudah terlambat."

"Andai aku mengatakannya lebih awal. Andai kakakku masih hidup. Andai aku tak harus meneruskan garis keturunan Uchiha. Apakah kau mau bersanding di sisiku Debe?"

"Kau tahu dengan pasti apa jawabanku."

"Ucapkan!"

Naruto sempat terdiam sebelum menjawab. "Tentu. Aku mau. Aku mau Teme."

Naruto seolah tahu, bahwa di seberang telepon, Sasuke tengah tertawa. "Terimakasih."

"Tapi itu hanya andai bukan?"

Hanya beberapa detik. Naruto berhasil menghilangkan rasa 'melambung tinggi' milik Sasuke. Disebrang telepon, Sasuke tersenyum miris. "Bukankah 'andaikan' adalah sebuah angan yang bisa menenangkan hati ketika kita merasa amat sakit dengan kenyataan?"

"Ya. Andaikan saja." Naruto menghela nafas. "Andaikan saja aku wanita, mungkin saat ini yang akan berjalan di altar menemuimu adalah aku."

"Ya. Andaikan saja seperti itu. Lalu kemudian kita akan memiliki anak. Anak-anak yang akan meneruskan garis keturunanku."

"Ya. Andaikan saja. Mereka akan memanggilmu papa dan memanggilku mama."

"Ya. Andaikan saja jika kau seorang pria yang bisa hamil. Mungkin mereka akan memanggilku papa dan memanggikmu ayah."

Keduanya tertawa. Menyadari kebodohan mereka. Tapi ada rasa tenang di hati saat perasaanmu benar-benar terbalas secara tulus. Mereka sadar. Posisi perasaan mereka tidaklah sejalan dengan keadaan. Yang pada akhirnya mereka harus bersikap dewasa dan mengalah pada norma dan lingkungan.

"Teme?"

"Hn?"

"Aku berharap. Jika di kehidupan berikutnya kita bisa bersama. Tidak peduli jika aku akan terlahir menjadi perempuan atau terlahir seperti ucapaan gilamu ─sebagai laki-laki yang bisa hamil. Yang penting kita bersama."

"Aku berharap hal yang sama."

"Tapi harapan terbesarku saat ini adalah semoga kau bahagia dengannya Sasuke. Karena aku tahu bahwa Uchiha adalah tipe yang bertanggung jawab. Tak terkecuali denganmu, entah seperti apa Sakura itu, aku mohon berbahagialah dengannya. Janji?"

Sasuke menarik nafas panjang sebelum menjawab dengan suara pelan. "Janji."

Kembali sunyi menyelimuti keduanya.

"Teme?"

"Hn?"

"Aku bertemu dengan orangtua kandungku."

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

Dengan sedikit informasi dari TenTen demi mengetahui keberadaan Minato. Di sinilah Naruto berdiri. Di depan ruang kamar inap milik Namikaze Kyuubi. Kamar yang beberapa menit lalu ia ketahui sebagai kamar milik adiknya. Adik kandungnya. Seorang anak laki-laki berumur dua belas tahun yang tengah berusaha melawan kanker yang menggrogotinya sejak ia berumur belia.

Bukan tanpa alasan ia berdiri disini sekarang. Semalam saat menceritakan perihal bertemunya ia dengan sang ayah pada Sasuke, ─minus cerita bahwa ternyata sang ayah menemuinya karena membutuhkan organnya demi menyelamatkan anaknya yang lain─ Sasuke menyarankan untuk kembali menemuinya. Membicarakan apa yang akan terjadi berikutnya secara baik-baik. Keputusan mutlak berada di tangannya. Apakah ia akan kembali pada sang orangtua atau tidak sama sekali.

Dan Naruto memilih menemui orangtuanya. Setidaknya ia hanya ingin tahu seperti apa adik-adiknya. Dan ia benar-benar tercengang melihat sosok Kyuubi. Mengingatkan ia akan perjuangan sang nenek. Jika ia hidup sengsara karena di buang dan tak bisa merasakan kasih sayang orangtua serta hidup susah. Kyuubi nyatanya, meski memiliki segalanya yang ia tak punya tapi tetap tidak bisa merasakannya dengan sepenuh hati.

Kyuubi memang berlimpah kasih sayang dari kedua orangtuanya dan Naruto tidak. Tapi Kyuubi tak bisa menjadi dirinya sendiri karena sang orangtua selalu mempioritaskan kesehatannya. Sementara Naruto memang hanya bisa bersyukur hanya memiliki sang nenek. Tapi ia selalu merasa senang akan sedikit saja bahagia yang bisa ia peroleh. Terkadang kita merasa paling buruk, tapi sebenarnya di lain sisi kita justru terlihat paling baik. Yang kita perlukan ialah, bersyukur.

"Leukemia." Ucap Kushina yang secara tiba-tiba berdiri di samping Naruto. "Ia sudah mengidapnya sejak berumur lima tahun." Lanjut Kushina.

Naruto memandang wajah terlelap Kyuubi. Wajah yang menunjukkan rasa pantang menyerah meski ia telah terlihat lelah dan lemah. Rambut gundulnya menandakan bagaimana kerasnya penyakit yang di deritanya. Kulitnya putih, namun karena penyakitnya berubah menjadi pucat. Bahkan di beberapa bagian tubuhnya terdapat bercak dan lebam berwarna merah keunguan.

Naruto bahkan nyaris bisa melihat secara nyata tulang belikat Kyuubi yang menonjol keluar karena kurusnya badan milik Kyuubi. Cekungan di kedua pipinya. Bahkan Naruto tidak bisa menemukan apa warna alis yang Kyuubi miliki. Karena memang sudah tidak ada lagi bulu alis akibat rontok penyebab dari radia kanker.

Kushina mengusap dinding kaca tepat di bayangan Kyuubi di matanya. "Aku telah mencoba mendonorkan milikku dan milik Minato. Tapi kami dinyatakan tidak cocok. Mungkin ini adalah balasan buat kami yang telah menelantarkanmu Naruto. Kami yang harus dihukum tapi Kyuubi dan Menma yang harus menerima resikonya." Kushina kembali memandang Naruto.

Naruto menaikan sebelah alisnya. "Menma?"

"Orangtuaku dan Minato telah lama mati tak lama setelah kami menikah akibat kecelakaan. Jadi kami tak bisa berharap donor dari mereka. Satu-satunya harapan kami adalah saudara kandung Kyuubi." Satu tetes air mata meleleh keluar di pipi kanan Kushina. "Tapi saat itu kami tidak tahu dimana keberadaannya. Sebagai alternatif, kami melakukan bayi tabung yang nanti secara genetik cocok dengan Kyuubi. Dan lahirlah Menma, adik Kyuubi."

"Kalian melakuknnya hanya untuk kepentingan Kyuubi?" Naruto kehabisan kata-katanya.

"Kami tetap menyayangi Menma layaknya kami menyayangi Kyuubi." Kushina mencoba berkilah.

"Tetap saja. Tidakkah kalian pernah memikirkan masa depannya? Pernahkah kalian memiliki pemikiran bagaimana jika kelak ia menolak mendonorkan organnya karena ingin mengejar cita-citanya?"

"Kyuubi kakak Menma. Dia pasti mau memberikannya pada Kyuubi."

"Pernahkah kalian bertanya langsung padanya?"

Kushina terdiam. Naruto mendengus.

"Kami tak punya pilihan lain." Kushina merasa terpojok. Ia sesegukan di dikte demikian oleh Naruto. Air mata Kushina hampir menetes. Naruto menghela napas melihatnya. Merasa keterlaluan.

"Anda butuhkan tisu Kushina-san?" Tawar Naruto memberikan tisu saku ke arah Kushina. Kushina miris mendengar cara Naruto memanggilnya.

Tadi pagi, ia merasa terkejut akan kedatangan pemuda tersebut, yang ─ia, yang mendapat giliran menjaga Kyuubi sementara Minato menemani Menma tidur di rumah─ dengan tiba-tiba tanpa mengucapkan sepatah katapun menyodorkan sebuah kalung yang amat di kenalnya. Kalung yang ia jadikan tanda jika suatu saat ia bertemu dengan sang anak yang telah di buangnya. Maka dari itu, ia amat sangat yakin tanpa melakukan tes darah, Naruto adalah anak kandungnya.

"Terimakasih." Kushina menerima tisu tersebut.

"MAMAAA." Teriak salah satu anak yang berlari ke arah Kushina lalu memeluknya sesampainya di depan sang ibu. Sementara sang ayah ─Minato─ hanya mengikutinya dengan santai dari belakang. Sejenak Minato menampilkan wajah terkejut ketika mendapati Naruto di sana.

"Sssttt. Jangan berteriak Menma. Ini rumah sakit." Kushina memeringatkan. Sementara sang bocah kecil hanya menggukan kepalanya. "Sudah pulang sekolah?" Tanya Kushina keibuan.

"Sudah. Hari ini ada pertemuan guru. Mangkanya Menma pulang lebih awal." Menma menjawab dengan gaya senang khas anak umur tujuh tahun. "Mama ini siapa?" Tanya Menma sembari menolehkan wajahnya menghadap Kushina.

"Hei. Aku Naruto." Naruto mengambil alih saat menjawab. Sejenak memandang wajah Kushina mengisyaratkan diam-dan-ikuti-saja sebelum akhirnya memangdang kembali wajah Menma. "Aku teman baru Kyuubi. Salam kenal ya. Menma-kun." Naruto mengusap helaian pirang Menma yang sangat mirip dengannya.

Ya Tuhan. Anak ini terlalu kecil jika tujuan hidupnya telah di tentukan hanya untuk keselamatan Kyuubi.

"Teman baru kak Kyuubi? Kenapa aku tak pernah melihatmu?" Menma bertanya polos.

"Maaf ya baru menjenguk Kyuubi sekarang."

Menma menggeleng. "Terimakasih." Ucap Menma dengan senyuman lima jarinya.

"Untuk apa?" Tanya Naruto heran.

"Karena mau menjadi teman kak Kyuubi. Selama ini Kak Kyuubi tidak punya teman. Ia selalu mengurung diri di rumah. Teman mainnya hanya aku dan Mama." Jelasnya. Naruto tersenyum. Mengacak rambut Menma

"Kalau begitu, maukah Menma menemani Kyuubi sampai ia bangun? Kakak masih ada urusan dengan Mama dan Papa Menma." Naruto memberikan sebuah senyuman agar Menma tak terlalu memepertanyakan maksudnya.

"Tentu saja." Menma menjawab antusias.

"Anak pintar." Setelahnya ia melihat Menma berjalan riang menuju ruang inap Kyuubi.

"Bisa kita bicara secara pribadi?"

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

Naruto merasa canggung ketika harus duduk di depan Kushina dan Minato. Kenyataan bahwa mereka adalah orangtua kandungnya tak semerta-merta merubah keadaan yang selama ini ia alami. Naruto masih tak bisa merasa mereka adalah orangtuanya. Maka dari itu sedari tadi ia berusaha bersikap sopan.

"Sebelumnya, saya minta maaf atas kelancangan perkataan saya sebelumnya. Saya masih gelap hati dan tak bisa menerima begitu saja bahwa ternyata saya masih memiliki orangtua." Naruto memainkan kedua ibu jarinya membentuk lingkaran berputar tanpa menyentuh. "Sebenarnya saya masih tidak percaya bahwa orangtua saya adalah bos saya di tempat saya bekerja.

Bukan saya mengingkari bahwa bisa saja saya merasa senang bahwa ternyata saya adalah anak orang kaya. Tapi jauh sebelum itu, nenek Tsunade ─orang yang merawat saya─ memberikan arti lain dalam sebuah kehidupan. Ia mengajarkan bahwa kita harus selalu bersyukur seperti apapun garis kehidupan yang kita jalani.

Nenek Tsunade juga mengatakan. Bahwa saya harus tetap bersyukur dan tetap berdoa untuk kedua orangtua saya meskipun saya tak pernah melihatnya sedikitpun. Dan saya selalu melakukannya. Terkadang ketika saya rindu akan kehangatan keluarga yang sesungguhnya. Saya selalu menempatkan kalung 'itu' di dada saya. Nenek Tsunade selalu mengatakan bahwa dengan begitu saya akan merasa dekat dengan kedua orangtua saya.

Tapi di saat orang yang sudah saya anggap sebagai keluarga saya. Ibu kandung saya. Meninggal akibat sebuah penyakit yang bahkan saya tidak mampu memberikan pengobatan baginya, saya merasa marah. Saya berfikir mengapa orangtua saya sangat jahat, seharusnya jika mereka tidak menginginkan saya, jangan buang saya. Akan lebih baik jika mereka menitipkan saya pada seseorang dan tetap memberikan nafkah pada saya. Karena nenek Tsunade amat kesusahan membesarkan saya.

Nenek Tsunade amat sayang terhadap saya. Ia banting tulang sendirian hanya untuk menafkahi kami berdua. Maka dari itu setelah nenek divonis menderita kanker, dan saya tidak bisa membawanya berobat sebagai salah satu cara untuk balas budi. Saya amat sedih. Amat terpukul. Bahkan saya harus putus sekolah hanya demi membantunya menyambung hidup. Terlebih saat ia meninggal.

Jadi, bisakah kalian bayangkan jika, andai saja kalian tidak membuang saya? Melainkan menitipkan saja, saya pada nenek Tsunade?" Tanya Naruto di akhir ungkaapan isi hatinya.

"Kami pasti akan membiayai pengobatannya." Jawab Minato mewakili jawabannya dan Kushina. Naruto tersenyum ramah.

"Saya bukan bukan tipe orang muluk yang meminta banyak hal, Minato-san. Tapi setidaknya fikirkanlah bagaimana kedepannya kehidupan orang yang memungut saya." Sebenarnya Naruto tak berniat membuat Minato dan Kushina menundukan kepala karena merasa bersalah. Tapi sesuatu yang bergejolak dalam hati memang sepantasnya di ungkapka bukan?

"Jika milik saya cocok. Saya akan menyumbangkan ginjal saya." Ucap Narut. Membuat Kushina dan Minato mengadah. Terkejut.

"Kau akan memberikan ginjalmu untuk Kyuubi? Untuk adikmu?" Ucap Kushina dengan linangan air mata.

"Maaf. Saya bukan hanya melakukannya untuk Kyuubi, adik saya. Tapi lebih kepada hal, bahwa saya tidak ingin kembali membuat seseorang meninggal tanpa saya berusaha. Terlebih saya tidak tega jika anak sekecil Menma sudah di rampas kebahagiannya, cita-citanya, hanya karena terus harus berada disisi Kyuubi. Kita tidak tahu bukan jika cita-citanya adalah pemain basket? Pilot? Yang mungkin saja membutuhkan kesehatan prima."

"Naruto~" Panggil Kushina dengan nada menyedihkan.

"Tolong jangan panggil saya dengan nada itu Kushina-san."

"Maaf. Maaf karena kami telah menelantarkanmu. Saat itu aku masih berumur sembilan belas tahun saat mengandungmu. Aku masih belum bisa menerima keberadaanmu."

"Kushina-san." Naruto memegang kedua bahu Kushina. "Kini sudah tidak penting apa alasan kalian membuangku. Aku sudah menganggapnya masa lalu. Yang terpenting saat ini adalah keselamatan Kyuubi."

"Terimakasih. Terimakasih. Terimakasih Naruto." Kushina mengucapkan berkali kali ucapan tersebut sembari menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya. Untuk menenangkan sang istri, Minato merangkulnya dari samping.

"Apa yang bisa kami lakukan sebagai balas budi Naruto? Tinggalah bersama kami. Kami akan merawatmu. Kau akan menjadi anak tertua kami." Minato memandang kedua safir Naruto yang amat mirip dengannya.

"Jangan." Naruto menggeleng. "Kasihan Menma. Dia masih terlalu kecil untuk mengetahui siapa saya sebenarnya. Terlebih nama seorang Namikaze Minato bisa tercoreng jika di ketahui memiliki anak di luar nikah. Kasihan adik-adik saya jika menjadi bahan omongan orang lain." Papar Naruto.

"Kami tidak peduli lagi akan hal itu. Kami tak akan memperdulikan lagi masalah nama baik. Kami menginginkanmu. Karena nyatanya kau memanglah anak kami Naruto. Kita tinggal melakukan tes DNA dan mencantumkan namamu dalam kartu keluarga─"

"Minato-san." Potong Naruto. "Ada yang lebih penting daripada keterangan kartu keluarga. Tak masalah jika nama saya tidak berada di kertas tersebut. Karena nyatanya darah lebih kental dari apapun. Meskipun dunia tidak tahu siapa saya. Saya tetap anak kandung kalian."

Kini Minato yang ikut meneteskan air matanya. "Mengapa kami menelantarkanmu padahal kau amat baik Naruto. Kami menyesal."

"Semuanya sudah terjadi Minato-san." Ucap Naruto.

"Bisakah─" Tanya Kushina yang tangisannya sudah mereda. "─bisakah kau memanggilku ayah dan ibu Naruto?" Kushina memandang wajah Naruto lekat-lekat.

Ditatap demikian Naruto mengalihkan pandangannya. "Saya masih belum terbiasa. Maaf."

Dengan berat hati Kushina menerimanya.

"Minato-san. Kushina-san. Jika nanti ginjal saya dan Kyuubi tidak cocok. Masikah kalian mengharapkan saya akan kembali pada kalian?" Tanya Naruto.

"Tentu." Jawab Minato dan Kushina hampir berbarengan.

"Tapi, andai Kyuubi tidak menderita sakit leukemia. Dan tidak membutuhkan ginjal secepat mungkin. Apakah kalian akan tetap mencari saya?" Naruto memandang wajah Minato dan Kushina bergantian. Sementara yang di tanyai hanya mampu terdiam.

Naruto mencoba menghilangkan formalitasnya. "Apakah aku masih punya tempat di hati kalian? Adakah aku di hati kalian?"

Yang terjadi berikutnya adalah, mereka sama-sama menangis.

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

Dengan paksaan Naruto, akhirnya Minato dan Kushina sepakat. Tidak akan pernah membuka jati diri Naruto hingga mereka berdua benar-benar telah dewasa. Dan hanya mengatakan bahwa ia adalah anak teman baik Minato yang bersedia mendonorkan ginjalnya untuk Kyuubi. Sebagai gantinya, Naruto harus mau menerima tawaran Minato untuk pindah ketempat tinggal yang lebih baik.

Naruto dijadwalkan bertemu dengan Dr. Shizune setelah jam makan siang. Lantaran masih jam sepuluh pagi, Naruto memutuskan untuk menemani Menma menunggui Kyuubi terbangun. Minato dan Kushina juga berada di sana.

Tak lama kemudian Kyuubi terbangun. Awalnya mereka bingung ketika Kyuubi menanyakan siapa Naruto. Karena tidak semudah menjelaskan kepada Menma yang bisa diwakilkan dengan kalimat sederhana. Lain hanya jika yang menanyakan adalah Kyuubi. Karena ia lebih peka keadaan. Namun hal ini mudah di lewati oleh Naruto dengan sedikit bersilat lidah.

Sempat pula suasana berubah canggung ketika Kushina mendadak menangis melihat keakraban ketiga anaknya. Ia benar-benar merasa sakit bagaimana melihat Naruto sangan berlapang dada bertemu bahkan bertukar cakap dengan adik-adiknya yang bahkan baru ia lihat hari ini. Tanpa dendam. Tanpa rasa iri. Tanpa ada keinginan untuk merebut posisi yang dulu tak dimiliki Naruto.

Setelah jam pemeriksaan siang. Naruto di antarkan untuk menemui Shizune. Perihal pendonoran ginjalnya. Sampel darah Naruto akan diambil untuk diuji, termasuk golongan darahnya dan informasi genetik lainnya (tipe HLA) untuk melihat seberapa baik kecocokan Naruto dengan Kyuubi. Uji ini akan diulangi lima hingga tujuh hari sebelum operasi pendonoran dilakukan.

Hasilnya adalah cocok. Mungkin karena Naruto memang kakak kandung Kyuubi, maka dari itu hasil pemeriksaan hanya membutuhkan waktu empat hari. Dengan sedikit permintaan. Shizune mau diajak kompromi untuk tidak membocorkan identitas Naruto demi nama baik Namikaze.

Akhirnya, Naruto masuk meja operasi pada hari kelima. Proses penganggkatan ginjal Naruto dan mentransplantasikannya padi Kyuubi berjalan dengan baik. Dua jam pertama, Naruto keluar dari ruang operasi dan menuju ruang kamar inapnya di sebelah ruang kamar inap Kyuubi. Dua jam berikutnya, Kyuubilah yang keluar dari ruang operasi.

Berbeda dengan kasus gagal ginjal lainnya yang masih bisa membiarkan ginjal pasien tetap berada pada tempanya. Ginjal Kyuubi haruslah diangkat karena terkena infeksi dan sudah terlalu besar untuk memungkinkan penempatan ginjal baru.

Namun dua sejam berikutnya Kyuubi kembali mendapatkan penanganan intensif akibat dari adanya penolakan terhadap sistem kekebalan pada organ transplantasi pengaruh dari penolakan ginjal pada tubuh Kyuubi. Sehingga Kyuubi di haruskan runtin mengkonsumsi (imunosupresan) imunosupresif agar organ donornya dapat berfungsi secara normal. Dan setelahnya keadaan Kyuubi kembali stabil.

Yang menjadi masalah kini adalah adalah keadaan Naruto. Setelah keluar dari ruang operasi dua jam sebelum Kyuubi. Naruto masih tak sadarkan diri akibat dari pengaruh obat bius. Sempat sadar empat jam berikutnya, namun Naruto bahkan tidak bisa menggerakan satu jarinya pun. Badannya kejang dan berkeringat dingin. Tekanan darahnya menurun.

Dr. Shizune sampai kelimpungan menangani dan menganalisa sekaligus kondisi Naruto. Bahkan Shizune sampai membutuhkan bantuan Dr. Chiyo yang notabene dokter spesialis penyakit dalam. Dalam ilmu kedokteran, keadaan seperti ini jarang terjadi. Reaksi pasca operasi transplantasi lebih sering terjadi pada penerima organ donor. Sementara reaksi pendonor berkisar pada nyeri, demam, dan pembengkakan pada bekas operasi. Dan hanya memungkinkan kejadia pendonor meninggal antara satu banding seribu (1:1000) kasus pendonor. Dan Shizune takut akan angka satu tersebut menimpa Naruto.

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

"Kejadian serupa akan hal ini masih diteliti di seluruh dunia. Keadaan yang di alami Naruto amat sangat jarang terjadi. Kami masih mendiaknosa bahwa hal ini di karenakan syok pasca operasi. Sistem tubuh Naruto masih belum bisa menerima keadaan dimana segala beban kerja dipindahkan pada satu ginjal saja. Hal ini menyebabkan bengkaknya otot pada sistem tubuh Naruto. Untuk sementara kami akan memberikannya obat sampingan kejang. Kita berdoa saja untuk kebaikan berikutnya." Jelas Shizune ketika ia keluar dari ruang kamar inap Sasuke yang berubah menjadi ruang tindakan cepat.

Mendengar hal tersbut Kushina tak mampu mengeluarkan sepatah kata apapun. Sementara di sampingnya Minato tak kalah syok. Tak sanggup menerima keadaan yang berbalik begitu cepat. Ketika kesehatan Kyuubi di nyatakan semakin membaik, Naruto malah sebaliknya.

"Saya… Naruto…" Minato kehilangan kata-katanya. "Dia… bagaimana mungkin? Akankah dia…" Minato menggantungkan kalimatnya, "…bisa selamat?"

"Kita berdoa saja. Kami masih mengusahakan yang terbaik dalam menanganinya. Kita tunggu saja perkembangan berikutnya." Bahkan Shizune tidak dapat memastikan jawabannya.

"Naruto~" Cukup sudah. Kushina tak bisa menahan tangisnya.

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

Sehari telah berlalu. Keadaan Naruto tak bisa dianggap baik namun terlalu cepat jika di katakan buruk. Naruto kini bisa mengendalikan tubuhnya kembali. Namun di balik itu, ginjalnya mengalami kemunduran secara fungsional.

Naruto yang kini hanya memiliki satu ginjal telah mengalami gagal fungsi mempertahankan keseimbangan kadar asam dan basa. Yakni ginjal Naruto sudah tidak berfungsi untuk mempertahankan keseimbangan kadar asam dan basa dari cairan tubuh dengan cara mengeluarkan kelebihan asam/basa melalui urine. Akibatnya tubuh Naruto tidak stabil akibat dari kelebihan cairan asam/basa kembali terserap dalam tubuh.

Hal tersebut berlangsung menjadi gagalnya ginjal mengekskresikan zat-zat yang merugikan bagi tubuh. Yakni fungsi ginjal akan mengekskresikan (mengeluarkan) zat-zat yang merugikan bagi tubuh seperti urea, asam urat, amoniak, creatinin, garam anorganik, bakteri, dan juga obat-obatan. Jika zat tersebut tidak dikeluarkan maka akan menjadi racun yang dapat membahayakan kesehatan di dalam tubuh.

Dua hari berlalu. Kondisi Naruto menurun drastis. Shizune dan Chiyo hampir akan tangan. Bingung dengan reaksi tubuh Naruto yang amat cepat mengalami penurunan. Pihak rumah sakit bahkan kebingungan faktor apa yang menyebabkan hal tersebut. Kesimpulan masih terharap penolakan sistem tubuh Naruto terhadap pembebanan kerja pada satu ginjal tersisa yang mengakibatkan pada tidak teraturnya keseluruhan sistem tubuh Naruto.

Kini, bahkan Naruto memasuki tahap gagal fungsi ginjal pada kemampuan kontrol ginjal. Yakni mengatur keseimbangan kandungan kimia dalam arah dan pengendalian kadar gula dalam darah.

"Dia sudah diambang batas. Tubuh Naruto sudah tidak dapat bertahan." Suara Shizune terdengar lirih dan putus asa. Kalah akan perjuangannya menyelamatkan nyawa pasien.

"APA-APAAN INI!" Manato yang kini berada di ruang kerja Shizune naik darah. "KAU MEMPERMAIKAN KAMI?" Minato menggebrak meja dengan tenaga penuh. Tidak peduli rasa sakit yang terasa panas mendadak menjalar merambati telapak tangannya.

"Kecilkan sura andan Namikaze-san. Ini masih wilayah rumah sakit." Sergah Shizune mencoba mengingatkan.

"Aku! Tidak! Peduli!" Minato kembali ke suara normal, namun menekan suaranya di sediap perkataannya. "Kau kemanakan hasil pemeriksaan bahwa kedua ginjal Naruto sehat. Kecocokan golongan darah ABO, HLA dan crossmatc. Kemampuan Naruto untuk nefrektomi. Menilai akibat jangka panjang ginjal tunggal. Menilai kemungkinan anastomosis." Minato mendikte perihal persiapan pra-operatif untuk calon donor yang dulu di beritahukan padanya dan Naruto.

"Kami menyesal tidak dapat berbuat banyak." Shizune benar-bear merasa bersalah. Setelah gagalnya menarik Menma sebagai pendonor rekayasa genetik, kini ia tak bisa menyelamatkan pendonor hidup. "Kami menyesal."

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

Naruto tersenyum ketika ia melihat sosok Kushina memasuki ruang kamar inapnya di barengi Menma. Naruto bukannya tidak mengerti bahwa ada sesuatu yang slaah pada dirinya. Pasalnya, semenjak ia sadarkan diri pasca operasi, tubuhnya seakan sudah bukan miliknya sendri. Ia tidak bisa mengendalikannya. Setiap perawat datang menyanyaka keadaannya. Ia bahkan tak bisa mendiskripsikannya. Rasanya sakit di seluruh badannya.

"Menma tid-dak se-ko-lah?" Naruto mencoba berbicara meski ia harus berusaha keras.

Menma menggeleng. "Menma minta Mama izinin Menma tidak masuk. Menma mau nemenin kak Kyuubi dan kak Naruto hari ini. Kata Mama tidak lama lagi kalian bisa pulang. Kita nanti bisa maen bersama." Ucap Menma semangat.

Hal inilah yang sedikit menyemangati Naruto. Ia berharap bisa cepat sembuh dan merasakan kehangatan keluarga yang sesungguhnya secara nyata.

"Menma? Kyuubi ma-na?" Tanya Naruto lemah.

"Papa masih menjemput kak Kyuu. Sebentar lagi juga sampai."

Mendengar jawaban Menma, Naruto tersenyum. Dan dengan gerakan lemah ia menyuruh Menma mendekat. Kemudian mencubit pelan pipi tembem Menma.

"Kak Naru harus rajin minum obat ya? Biar cepet sembuh. Kak Naru pasti jarang minum obat ya? Soalnya kak Naru kelihatan kurusan badannya." Menma menyentuh wajah Naruto.

"Iya. Kakak lupa." Jawab Naruto bohong. Padahal Shizune sudah menjelaskan bahwa ia dilarang minum obat. Karena tubuhnya yang sudah tidak bisa mengekskresikan (mengeluarkan) zat sisa.

"Orangtua kak Naru mana sih? Kok tidak pernah datang menjenguk kak Naru?" Polos. Pertanyaan Menma terkesan murni karena ia tak mengerti keadaan sebenarnya.

"Orangtua yang merawat kak Naru sudah meninggal. Jadi tidak apa-apakan kalo Mama jadi orangtua kak Naru?" Kushina menjawab pertanyaan anak bungsunya menggantikan Naruto yang pasti kesulitan berbicara untuk menjelaskan. Jawaban yang tidak sebenuhnya salah, namun tak semuanya benar.

"Boleh!" Jawab Menma semangat dengan senyuman khas lima jarinya.

"Kushina. Menma." Panggil Minato pelan sembari mendorong kursi roda Kyuubi mendekati ranjang Naruto.

"Kak Naru kok masih belum bisa sehat kayak Kyuubi Ma?" Tanya Kyuubi penasaran melihat Naruto masih tergeletak lemah di ranjang sementara ia sudah boleh bergerak bebas meski masih harus dibantu kursi roda.

"Itu karena kak Naru nakal gak mau rajin minum obat kayak Kak Kyuu." Menmalah yang menjawab pertanyaan Kyuubi. Sementara Kyuubi hanya menaikan sebelah alisnya. Percaya atau tidak.

"Benarkah?" Tanya Kyuubi penasaran. Naruto tersenyum. Membenarkan jawaban Menma.

"Sudah-sudah. Lebih baik kita makan pizza bagaimana? Menemani Naruto hingga nanti sebagai ucapan terima kasih karena mau menolong Kyuubi." Ucap Minato ketika suasana ruangan berubah menjadi sedikit canggung.

"ASYIIIK. PIZZA." Teriak Menma kegirangan.

Shizune dan para kru dokter lainnya sudah menyarankan, bahwa usahakan membuat momen bahagia dengan Naruto. Bukan mendoakan yang tidak mungkin akan Naruto. Tapi terlebih pada lebih-baik–membuatnya-bahagia dari pada menenggelamkan Naruto pada alat penunjang hidup yang kini semakin membuktikan tidak bisa membantunya dedikitpun, kecuali bernafas.

Tidak mudah bagi Minato dan Kushina menerima hal ini. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Terlebih, mengingat bahwa mereka memang tidak memiliki momen bahagia sedikitpun dengan Naruto. Pertemuan kembali mereka dengan Naruto sudah di kejar waktu akan jadwal operasi Kyuubi. Maka saat ini tidak ada yang lebih baik selain membuat Naruto bahagia.

"Naruto? Adakah yang kau inginkan?" Tanya Kushina selagi membereskan sisa makan Pizza. Sementara Minato mengantarkan Kyuubi kembali ke kamarnya.

"Ada." Ucap Naruto pelan.

"Apa?" Tanya Kushina tak kalah pelan.

"Aku ingin menghadiri upacara pernikahan seseorang."

"Pernikahan?" Ulang Kushina. "Siapa?"

Naruto menjawab malu-malu. "Seseorang yang a-ku cin-tai."

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

Dalam rangkulan Kushina di kursi belakang, selama perjalanan Naruto selalu tersenyum di balik selang pembantu nafasnya. Ia merasa senang. Hangat. Bahagia. Bangga menjadi dirinya sendiri. Meskipun tujuan dari hidupnya hanya bisa sebagai pengganti organ saudara kandungnya. Dan faham bahwa ia tak bisa bertahan lama.

Tadi pagi, setelah mendapat izin resmi dari Shizune. Naruto di perbolehkan keluar dari rumah sakit. Jam tujuh pagi ia, Kushina dan Minato berangkat dari Konoha menuju Suna untuk menghadiri pernikahan Sasuke.

Selama di perjalan Kushina tak henti-hentinya menangis sambil merangkul Naruto. Minato ─meskipun menyetir mobil dalam diam─ pikirannya saat ini juga sedang kalut. Sebenarnya mereka sedikit kaget menerima permintaan terakhir anak sulung mereka. Terlebih Naruto menyebutkan seseorang yang ia cintai. Menjadikan permintaan Naruto terdengar tragis.

Tiga setengah jam kemudian mereka sampai di pelataran rumah yang memang terlihat ramai. Rumah tersebut terlihat indah dengan gapura khas pernikahan yang di pasang di pintu gerbang depan. Bunga-bunga rambat tiruan di tata seapik mungkin di dinding halaman yang tingginya sebatas dada.

Disana ─masih tetap dalam mobil─ ia dapat melihat Sasuke. Berdiri di ujung halaman rumah bagian kanan. Berbalutkan celana satin berwarna hitam dan kemeja putih dengan dasi kupu-kupu hitam berbalutkan jas putih. Naruto tersenyum melihat bagaimana tampannya Sasuke saat ini. Entah karena apa. Naruto merasa hangat di bagian wajahnya.

"Kau ingin kita turun?" Tanya Kushina keibuan. Naruto menggeleng.

"Mama?" Panggil Naruto yang untuk pertama kalinya ia memanggil Kushina demikian. "Salahkah a-ku mencintai se-sama je-nis?" Tanya Naruto tersendat sembari memerhatikan wajah Sasuke yang sedang sibuk menyalami tamu yang baru datang. Minato yang berada di belakang kemudi menolehkan kepalanya menghadap Naruto. "Maaf. A-apakah aku mengagetkan ka-lian?" Lanjut Naruto

"Kau… mencintai lelaki itu Naruto?" Tanya Kushina.

"Tidak ada yang salah dalam mencintai seseorang. Tidak peduli ia lawan jenis atau bahkan sejenis denganmu." Minato menjawab pertanyaan awal Naruto. "Sejatinya perasaan cinta adalah hal murni. Jika cinta sejenis dianggap suatu yang negatif dan terkutuk. Sebenarnya mereka yang beranggapan demikian tidaklah mengerti yang sebenarnya. Bukan cinta sesama jenis yang salah. Melainkan perilaku orentasi seksualnya.

Tuhan memang menciptakan manusia berpasangan, wanita dan pria agar dapat membina keluarga dengan baik dan meneruskan garis keturunan. Tapi Tuhan tidak mencitakan manusia tidak dengan perasaan. Itulah mengapa alasan manusia tidak pernah salah dalam mencinta." Minato ikut memandang Sasuke. "Sepertinya kau tak salah pilih Naruto. Ia terlihat lelaki yang baik dan bertanggung jawab. Apakah ia juga mencintaimu?" Tanya Minato.

"Iya. Dia juga mencintaiku. Tapi aku melarangnya bersan-ding disi-siku. Papa tahu ala-sannya?" Tanya Naruto. Minato mengangguk mengerti.

"Pasti sulit bagi kalian." Kushina ikut berkomentar.

"Tidak. Kami men-jalani hal i-ni dengan ikh-las. Kami me-relakan apa yang te-lah Tuhan catatkan pa-da kita." Satu tetes air mata jatuh mengalir di pipi Naruto. "Boleh aku menghubunginya?"

Minato menyerahkan ponsel pintarnya pada Naruto. Dengan tangan gemetar Naruto mengetikan nomor Sasuke yang sudah ia hafal di luar kepala. Beberapa saat kemudian terdengar suara Sasuke.

"Halo?"

Naruto tersenyum melihat Sasuke menerima teleponnya. "Hai Teme. Ini aku."

"Naruto?!" Sasuke sedikit menyingkir dari segerombolan orang yang mengelilinginya. Melangkah keluar. Menyebabkan Naruto semakin bisa melihat wajah Sasuke dengan jelas. "Kau dimana?"

"Aku… sepertinya aku tak bi-sa menghadiri per-nikahan-mu." Naruto berkata dengan suara bergetar. Menahan tangis dan menahan sakit.

"Ada apa dengan suaramu?" Kini Naruto tersenyum melihat raut wajah Sasuke yang khawatir.

"Aku mena-han tangis bo-doh. Kau akan me-nikah!" Ucap Naruto diiringi desisan tawa.

"Dobe aku… aku merindukanmu."

"Aku juga."

"Ini gila. Dimanapun kau berada sekarang. Aku merasa kau berada dekat sekali dengaku."

"Aku memang dekatmu. Di hatimu."

"Aku mencintaimu."

"Aku juga mencin-taimu."

Sesaat mereka kehilangan kata katanya.

"Teme. Berbahagia-lah untuk-ku."

Sasuke terdiam mendengar perkataan Naruto.

"Aku mohon. Hiduplah dengan baha-gia. Karena a-ku juga se-dang men-coba meraih ke-bahagiaan-ku."

"Kau sudah memiliki seoranag kekasih?"

"Ya."

"Dia mencintaimu?"

"Amat mencin-taiku."

"Dia lebih beruntung dari aku."

"Ya. Dan seka-rang aku da-lam perjalanan menjem-putnya."

Sasuke menghembuskan nafas panjang sebelum membalas perkataan Naruto. "Berbahagialah juga untukku Dobe."

"Tentu."

Seseorang menghampiri Sasuke dan membisikan sesuatu. Sasuke menggangguk. "Aku harus kembali ke altar."

"Pergilah."

Naruto dapat mendengar Sasuke mendesah panjang. "Sampai jumpa."

"Em. Sampai jumpa." Naruto menutup panggilan ketika melihat Sasuke kembali masuk ke halaman. Berikutnya ia dapat mendengar alunan klasik pernikahan. Dan munculnya sosok wanita bersurai merah muda berbalutkan gaun berwarna putih berjalan dari halaman sebelah kiri. Berjalan anggun dan menawan menghampiri Sasuke.

Naruto tersenyum dan menangis dalam waktu bersamaan. "Sampai jumpa Sasuke. Semoga kau bahagia." Ucapnya lirih.

Setelahnya Naruto meminta kembali ke Konoha. Namun dalam perjalan pulang. Naruto menghembuskan nafas terkahir. Dengan senyuman terbaik yang pernah ia miliki. Dengan satu nama yang ia pikirkan sebagai pengantar ia menjemput sang kekasih. Kekasih yang tak bisa ia miliki di dunia nyata. Kekasih yang akan mencintainya di dunia lain.


.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

Aku berharap.
Jika di kehidupan berikutnya kita bisa bersama.
Tidak peduli jika aku akan terlahir menjadi perempuan
atau terlahir seperti ucapaan gilamu ─sebagai laki-laki yang bisa hamil.
Yang penting kita bersama."

"Aku berharap hal yang sama."

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.


TAMAT

FINNISH


Balas Review Dulu:

too see baa : Aya juga sedih ff SN berkurang. Mangkaya aya harus semangat demi mencoba meramaikan ffn dengan fict SN. Makasih udah review.

Subaru Abe : Wah wah. Nanyaknya beruntun oey. Jawabannya ada di chapter 2. Salam kenal juga. Aya.

dame dame no ko dame ku chan : Huwaaa. Ikut nangis. Makasih udah review.

gilangfajar: Makasih udah review. Apanya yang jarang di temukan?

alexis : Mas? Saya cewek lo. Masak mas-mas namanya 'kanami aya?' Makasih udah review. Maaf lama updatenya.

SFA30 : Makasih udah review.

Shinkwangyun : Pecinta ff Hurt/Comfort? Makasih udah review.

Harpaairiry : Makasih udah review.

: Makasih udah review.

2nd silent reader : Makasih udah review. balasnya PM aja kayaknya.

.9 : Wahahah. Makasih udah review. Naruto akan selalu jadi milik Sasuke.

Guest : Jawabannya ada di chapter 2. Makasih udah review.

mifta cinya : Makasih udah review.

Arnygs : Aya juga terharu. Makasih doanya. Makasih udah review.

maria : Hahaha. Makasih udah review.

Arum Junnie : Makasih udah review. Maaf ff ini tidak berkenan di hati arum-san

Guest : Naruto anak baik guest-san

EsQuare : Iya. SasuTeme Tega! Makasih udah review.

alta0sapphire : Makasih udah review.


Huwaaaaaa! Akhirnya bisa update juga. Makasih yang mau baca fanficku yang masih banyak kekurangan ini. Malah sampek ada yang PM aku. Tunjuk. Arnygs.

Terlalu membosankam 'kah? Maaf jika iya. Aya hanya ingin menampilkan bagaimana galaunya karakter yang satu dan karakter yang lain. Intinya aya ingin menonjolkon semua karakter utama di fic ini.

Hahaha. Maaf ya saya ngelanggar janji. Aya bilang akan update dua minggu setelah fic ini di publish. Tapi nyatanya enggak! *Tau nih, authornya ingkaran janji* Hahahaha. (senyum iblis)

Hal ini dikarenakan liburan aya direbut ama kedua ponakan kembar aya yang gemesnya gak nguatin. Tapi berhubung umurnya masih satu tahun, repotnya juga gak nguatin. Jadi fic aya gak bisa di lanjutin. Soalnya bakal kelimpungan kalo seumpama ngefanfic sambil jaga ponakan (Mereka tingkahnya dah kayak monster. Banyak barang rusak deket-deket mereka) Jadi aya putusin ngefanfic pas masuk kuliah minggu pertama. Kan masih gak ada tugas. Hehe

Makasih yang udah doain UAS aya. Nilai memuaskan! tapi gak pakek banget. Hehehe.

Cukup sudah cuap cuapnya. Sampai ketemu di fic baru aya. Judulnya 'Psycotropica, Hurt Love'. Gak jauh-jauh ama OTP kita. Hidup SasuNaru.

Sedikit curhat lagi. Emang bener ya author SN banyak yg hiatus? Huwa sedih. Jika begitu aya ingin meramaikan OTP kita. Sapa tau para senpai SN pada semangat lagi bikin fic SN. Senpai-senpai SN. Plisss buat fic SN lagi yang seru-seru. Adik didikmu ini butuh semangat dan inspirasi dari ceritamu. Aya juga sempet cari fic senpai 'I Don't Care About Taz' tapi dia menghilang. Kira kira kenapa ya?

Aya juga lagi nguber-nguber film BL/Boys Love/Gay/Homo/Yaoi/ atau apa saja yg berhubungan cinta sejenis. Ada saran?