DISCLAIMER: Masashi Kishimoto. I do not own naruto.
.
.
Chap 3
There is never a time or place for true love
It happens accidentally, in a heartbeat, in a single flashing, throbbing moment.
-Sarah Dessen
.
.
.
.
Wajah sakura memanas. Ia masih bisa mengingat hembusan napas naruto yg beberapa menit yg lalu menerpa pipinya. Beberapa menit sebelum kedua tangan gadis itu mendorong keras sosok kekar yg menindih tubuhnya.
Blush
Pipi gadis itu kembali memerah.
"Astaga sakura. Apa yg kau pikirkan. ." Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dgn cepat. Membenamkan wajahnya ke bantal putih yg sedari tadi ia pegang.
"Bodoh. Bodoh!" Suara sakura terdengar dari cela-cela bantal. Bukanya ia tidak suka dicium naruto, hanya saja.. well, terlalu cepat? Ia masih belum bisa mengontrol debaran jantungnya ketika berada didekat lelaki itu. Apa lagi diciumnya. Sakura ragu apa jantungnya bisa bertahan.
Masih jelas dari ingatannya ekspresi bersalah naruto ketika ia berjalan mundur kearah pintu dengan gaya kikuk salah tingkah.
Membuat pipi gadis itu semakin merona.
tok tok tok
Dengan sigap sakura menggangkat wajahnya.
"Si. Siapa?" Tanya sakura gugup.
"Na. Naruto. Aku membawakanmu makanan dan pakaian." Suara naruto terdengar sama gugupnya.
"Masuk."
ciiitt
Pintu terbuka. Mengelurkan suara yg sedikit tidak menyenangkan.
Naruto mengintip dari balik pintu. Malu-malu.
"Well, sebenarnya aku mau minta maaf soal yg tadi." Kata naruto menolak menatap sakura. Semburat merah sedikit terlihat dipipi tan nya. Sesuatu yg membuat sakura ingin tersenyum. Lucunya..
Sakura ingin tersenyum namun segera ia samarkan dengan wajah kesal yg dibuat-buat. Oh betapa inginnya ia mengerjai lelaki dibalik pintu itu.
"Jika kau ingin meminta maaf lalu kenapa kau bersembunyi disitu. Jika kau tidak bersungguh-sungguh sebaiknya keluar saja. Letakkan makanan dan bajunya di depan pintu." Ketus sakura.
Sakura bisa melihat mata lelaki itu menegang. Astaga, ia tidak sanggup lagi. Ingin rasanya ia tertawa terbahak-bahak melihat sikap polos naruto.
Hampir saja tawa gadis berambut pink itu pecah namun untungnya bisa ia cegah. Sakura kembali memasang wajah masamnya.
Naruto mendengus. Dengan ragu-ragu ia melangkah masuk.
Hening
Kedua tangan naruto memegang nampan dgn sepiring spagetty dan susu yg masih beruap. Namun bukan itu yg membuat suasana jadi hening. Melainkan ia, naruto, seorang pewaris uzumaki corp, masuk memakai piyama.. pink dgn motif hati.
AHAHAHAHAHA
Tawa sakura pecah. Kedua tangannya memegang perutnya.
Menghiraukan naruto dgn ekspresi penuh tanda tanya.
Puas tertawa, jemari lentik sakura menyeka setitik cairan benin dari matanya.
"Seriously. Pink? Heart shape? AHAHAHAHA." Canda sakura tak dapat menahan tawanya.
Naruto memanyunkan bibirnya. "Setidaknya ini jauh lebih baik dari pada piyama dengan topi telinga kelinci pink dilemariku. Atau tikus. Dan kucing."
AHAHAHA
Tawa sakura kembali pecah.
" itu perbuatan ibumu?"
Naruto berjalan mendekat. Meletakkan nampan tadi dimeja. Duduk tepat didepan sakura. "Bukan. Itu ulah ayahku."
Dalam sekejap raut wajah sakura berubah datar. "Apa?"
Naruto memutar bola matanya. "Well, dia memang sering usil."
"Wow." Kedua alis sakura terangkat. Speechless.
"Jadi?"
Shappire naruto menatap emerald sakura. Tatapan yg tajam, namun lembut.
Dug.
Untuk sepersekian detik sakura merasakan sesuatu yg hangat menjalar dalam dadanya. Kemudian naik kepipinya. Membuat gadis itu salah tingkah.
"Hei. Wajahmu memerah. Apa kau sakit?" Ada sedikit nada cemas dalam suara lembut naruto.
"Hanya sedikit kepanasan." Sakura menolak menatap manik biru tua didepannya.
Naruto meraih kedua tangan sakura. Matanya masih tertuju kearah gadis bersurai merah muda di depannya. Namun kali ini dengan lebih lembut.
Dug.
Sakura merasa ada yg salah dalam dirinya.
"Maaf jika aku terlalu terburu-buru. Aku akan menunggu kapanpun kau bisa menerimaku."
Dug dug dug dug dug dug
Tatapan dan suara lembut naruto seakan menghipnotis sakura. Membawanya ketitik dimana sulit baginya untuk bernapas. Terlalu manis. Sangat manis.
" . Aku sudah mengantuk. Bisakah kau keluar dulu? Aku ingin segera makan lalu segara istirahat." Pinta sakura. Ia masih menolak menatap shappire blue didepannya, takut jantungnya meloncat keluar disaat yg sama.
"Oke. Maaf mengganggumu." Naruto tersenyum. "Aku pergi dulu." Berjalan mundur ragu-ragu kearah pintu. Seakan masih berharap diinjinkan tinggal.
Sesekali emerald sakura mengintip sosok naruto yg mulai menjauh.
"Good night and have a nice dream."
"U too." Balas sakura.
fiiuuhhhh
Lega. Sebelah tangan sakura memegang dadanya. Seperti ada beban berat yg baru lepas dari situ.
Ia tak pernah menyangka seorang naruto bisa sangat berbahaya bagi kesehatan jantungnya.
.
.
.
seorang wanita tengah manangis. Tidak jelas rupanya. Menggeliat kesakitan ketika sesosok pria kekar menindih tubuh mungilnya.Kedua tangannya dikancing hanya oleh sebelah tangan si pria di atas kepala wanita malang itu. Membuat si wanita tak berdaya.
Salah satu bibir pria itu terangkat. Tersenyum angkuh.
Wanita itu terus menangis dengan pilu, memohon agar sosok diatasnya melepaskannya. Namun apa daya, kekuatan lelaki itu jauh lebih kuat dari dirinya.
Sebelah tangan yg bebas dari pria itu dgn kasarnya merobek helaian kain yg melekat ditubuh si wanita. Membuat tangisan si wanita semakin menjadi.
Tampak sepasang mata menatap tajam wanita yg terus meronta dibawahnya.Tatapan yg sulit diartikan. Penuh dengan berjuta makna.
Benci. Ingin. . Namun yg paling jelas adalah...
Kesedihan.
Sepasang manik biru menatap wanita itu dgn penuh kesedihan.
AAAAAAA!
Kelopak mata sakura terbuka seketika. Nafasnya memburu. Keringat sebesar biji jagung menetes dari pelipisnya. Wajahnya memucat.
Dada sakura terasa sangat sakit. Seperti ditusuk pisau tajam. Tubuh mungil wanita itu menegang. Bergetar hebat.
Tangan tremor sakura yg meremas dadanya. Benar-benar tidak menyenang menyeruak dari dalam dirinya.
Takut.
Ia sangat ketakutan.
"Sakura! Ada apa?!"
Tiba-tiba naruto muncul dari balik pintu. Air wajahnya penuh dengan kekhawatiran.
Sakura mengatur frekuensi napasnya. Mengangkat tubuhnya. Berusaha agar tak terlihat kacaw. Ia tak ingin membuat lelaki itu khawatir.
"Apa yg terjadi sakura?" Tanya naruto seraya berjalan kearah sakura. Mengambil posisi tepat disamping gadis itu. Telapak tangan naruto menyentuh pipi sakura dgn lembut. Sedikit membelainya. Berharap gadis itu bisa lebih tenang.
Benar saja, sentuhan naruto membuat sakura sedikit lebih tenang. Setidaknya tubuhnya tidak semenegang sebelumnya. Naruto uzumaki. Seorang pria yg bisa membuat sakura gelisah namun disaat yg lain bisa membuatnya tenang. Aneh.
Sakura menarik bibirnya. Berusuha untuk tersenyum. "Tidak apa-apa, hanya mimpi buruk."
"Apa yg kau mimpikan?" Manik naruto menatap sakura iba. Seakan lelaki itu dapat merasakan apa yg dialami wanita didepannya.
"Tidak terlalu penting."
"Kau tunggu sebentar disini. Akan kuambilkan air mineral." Tangan naruto berpindah memegang tangan sakura. Berusaha meyakinkan gadis itu kalau kalau ia takut ditinggal.
"Tidak apa-apa. Ayo pergi sama-sama. Sepertinya aku ingin ke WC." Bohong sakura. Ia memang tidak ingin ditinggal sendiri - seolah bisa membaca pikiran naruto -. Setidaknya untuk beberapa saat ini.
"Oke kalau begitu." Naruto berdiri. Tangannya masih mengengam jemari lentik sakura. Membantu gadis itu berdiri.
Sakura menyibakkan selimutnya. Mengangkat tubuhnya.
Berat. Entah kenapa tubuhnya sangat berat.
"Sa. Sakura." Suara naruto bergetar. Sakura dapat merasakan tubuh lelaki itu menegang dari genggamannya.
Sakura mengangkat wajahnya. Mendapatkan wajah naruto yg tengah pucat pasi. Matanya terbelalak melihat kearah samping sakura, tempat ia berbaring sebelumnya.
Gadis itu memalingkan pandangannya. Mencari tau penyebab keterkejutan luar biasa naruto. Dan...
Darah.
Darah yg sangat banyak.
Terlalu banyak hingga membuat sakura ingin muntah. Tiba-tiba semuanya terasa mengelap. Hal terakhir yg ia ingat adalah suara parau naruto yg terus memanggil namanya.
.
.
.
Naruto duduk berpangku tangan di sebuah kursi rumah sakit. Wajahnya pucat. Datar.
Tepat didepan naruto pintu besar berwarna biru muda, dgn papan segiempat diatasnya yg bertuliskan 'On Operation'. Papan tersebut mengeluarkan cahaya hijau. Menandakan ada kegiatan operasi yg tengah berlangsung.
Kekawatiran terpampang jelas di mata lelaki itu. Sesekali pandangannya mengarah ke arah papan didepannya. Sudah lebih dari 2 jam namun belum ada yg kabar apapun dari ino.
Masih segar dalam ingatan naruto saat tangannya merangkul tubuh tak berdaya gadis itu beberapa hari yg lalu. Dan ia tak menyangka situasi yg similiar akan terulang kembali. Shappire naruto menerawang.
Apa situasi seperti ini akan terulang kembali?
Dan lebih parahnya lagi...
Apa ia akan kehilangan gadis itu?
Tenggorokan naruto tercekat.
Apa ia akan kehilangan gadis itu? Pertanyaan yg membawa seorang uzumaki naruto pada titik dimana sulit baginya untuk bernapas.
Ia tak mengerti. Belum berapa lama ia mengenal gadis itu, namun dalam waktu singkat sakura membuat naruto terus memikirkannya. Ingin menjaganya. Salah. Sejak pertama kali bertemu sakura sudah bisa membuat naruto ingin slalu berada disampingnya. Bahkan kadang terasa jauh sebelum itu.
Seakan naruto uzumaki terlahir didunia ini hanya untuk membahagiakan gadis yg saat ini ia panggil sakura. Melindunginya. Terus bersamanya.
Dug.
Alis naruto mengerut. Ia memegang dadanya.
Bodohnya. Kenapa baru saat ini ia menyadari betapa berartinya gadis itu untuknya.
Yah, tentu saja..
Ia mencintai gadis itu.
ting!
Suara kecil membuyarkan lamunan naruto. Lampu hijau yg selalu ia perhatikan sedari tadi padam. Hanya papan bertuliskan operation room biasa.
Sontak naruto berdiri.
Pintu terbuka. Ino keluar dari sana. Berpakaian serba hijau dan masker yg masih menempel di mulut dan hidungnnya. Mata gadis blonde itu menyiratkan kekhawatiran namun tetap fokus.
"Jadi? Bagaimana keadaannya?" Tanya naruto to the point.
Ino melepas simpul di blakang kepalanya hingga masker hijau terlepas. Mengambil napas panjang kemudian menghembuskannya. "Kondisinya sudah stabil. Tidak ada yg perlu dikawatirkan."
Seakan beban berat yg bersarang di dada naruto terlepas. Lega. "Syukurlah."
Ino mendengus. "Abortus inkomplit."
"Apa?"
"Diagnosis sakura abortus inkomplit."
Pandangan naruto menajam. "Apa maksudmu?"
Ino memutar bola matanya. "Maksudku sakura pernah mengalami aborsi namun masih ada hasil jaringan konsepsi yg tertinggal di rahimnya. Tubuhnya bereaksi untuk mengeluarkan massa yg dianggap asing itu, itulah yg menyebabkan pendarahan."
Petir seakan menyambar tubuh naruto. Matanya membelalak tidak percaya. Tidak mungkin. Ia pasti salah dengar. Tidak mungkin sakura melakukan hal seburuk itu.
Apa sebenarnya yg terjadi pada gadis itu?
Tubuh naruto bergetar. Untuk pertamakalinya dalam hidup pria blonde itu ia rela memberikan apapun agar pertanyaannya terjawab.
Apa sebenarnya yg terjadi pada gadis yg ia cintai?
.
.
.
.
"I want the deepest, darkest, sickest, parts of you
That you are afraid to share with anyone
Because i love you that much"
-lady gaga
To be continue
.
.
.
.
.
A/N
Trimakasih untuk pembaca yg sudah dengan senang hati membaca atau mereview atau mefollow atau mefavoritkan fic saya yang tidak terlalu bagus ini. jujur saja, sebenarnya dalam hati saya sudah menyerah untuk meneruskan fic ini. Banyak hal yg terjadi, terlebih kekecewaan saya yg amat sangat mendalam dengan kenyataan bahwa narusaku yg saya idam idamkan dari dulu tidak bisa menjadi kenyataan. Butuh waktu yg lama untuk saya bisa menerima. Walaupun jujur saja saat inipun saya belum bisa move on. Maaf untuk kealayan saya. Tapi apapun itu, apa yg saya mulai sebisa mungkin tetap akan saya teruskan.
Trimakasih untuk yg mereview, mefollow, atau memfavoritkan fic ini yg sudah memberi saya semangat untuk meneruskan fic ini. Saat saya membaca lagi fic ini dari chap 1 –agar tidak terjadi ketidaknyambungan-, saya sangat kecewa, terutama di chapter 2. Well, terlalu banyak kesalahan. Mungkin chap ini terlalu singkat. Tapi saya harap kalian dapat menikmatinya. Chap berikutnya sedang diproses. Sedikit spoiler, the story is not start yet. Haha
Thanks to
Riela nacan : ada sesuatu. Haha
Kyumey: nih udah di lanjutin.
Cindy elhy : makasih byk yah
Arata aurora: kehadiran hinata kayaknya mau dipending dulu untuk chapter depan. Tapi hinata tetap bakalan ada. Anw, tq untuk nasehatnya.
Cherryfoxy13: haha, saya juga ngerasa gitu. Terlalu cepat. Jadi gak jadi. Sesuatu yg punya proses memang selalu indah. Haha
Nagasaki: makasih udah review.
Meguharu yuka: makasih untuk nasihatnya. Mudah-mudahan kedepan saya bisa lebih baik lagi. Haha
Akatzuki24: hahaha. lucu lucu lucu XD
Den'dara: nih udah lanjut
Al Blue Blossom: hmmm. Sepertinya ciumannya dipending dulu deh. Hehe.
Meika NaruSaku: haha. Maaf, adegan ciumannya mau dipending dulu.
Namikaze Sholkhan: benar skali! :D
Leontujuhempat: nih udah lanjut.
Dan trimakasih untuk sahabat baikku Anselita yg sudah mau mengecek fic ke 3 ku ini. Walaupun saya yakin dia sendiri belum bisa moveon. haha
