Disclaimer

Hajima Isayame

Pairing

Levi X Eren Jaeger

Kushisake Onna

Levi memang awalnya tidak percaya hantu. Baginya, makhluk astral itu hanya lelucon kuno yang diceritakan dari mulut ke mulut untuk menakuti anak-anak bandel yang sering pulang larut karena keasyikan bermain di luar rumah.

Dia pun diam saja saat Mike kini sedang berkumpul dengan teman-temannya yang lain, di sebuah kedai kopi menceritakan pengalaman menakutkan yang pernah dirinya lewati beberapa hari sebelumnya.

Membuat tubuhnya panas dingin, sampai tidak berani keluar rumah selama satu minggu saking traumanya.

Malam ini, mereka memang sengaja berkumpul, Levi diseret paksa oleh Hanji Zoe atas nama persahabatan yang sama sekali tidak mau diakuinya. Tetapi karena hal itu sudah berhubungan dengan perintah Erwin Smith, atasannya yang juga merupakan sahabat baiknya, mau tidak mau dia ikut bergabung juga daripada gajinya dipotong setengahnya.

Malam semakin larut, kelompok yang terdiri dari Mike, Erwin, Hanji, dan dirinya masih betah berada di kedai dengan meja yang paling sudut. Di sisi kaca besar yang memamerkan pemandangan malam di luar sana, gerimis berubah menjadi deras, namun tidak ada satu pun di antara mereka kecuali Levi yang merasa ingin pulang dengan segera.

"Saat dia membuka maskernya dan bertanya 'Apa aku tampan?', aku langsung berteriak 'YA!'. Aku bersyukur karena otakku masih sedikit berfungsi karena refleks. Kudengar, yang menjawab 'tidak' pasti akan dibunuh Kushisake Onna." Mike merentangkan tangannya lebar-lebar mendramatisir. Sorot matanya kian horror. Erwin hanya terkekeh pelan, sementara Hanji, memeluk dirinya sendiri ketakutan.

"Hei!" panggil Erwin pada Levi, pria itu tetap tidak menoleh maupun merespon. "Bukan kah Kushisake Onna itu perempuan? Kenapa yang ditemui Mike laki-laki?"

"Mungkin setan tidak berguna itu baru saja berganti gender." Levi menjawab acuh tak acuh. "Atau dia baru menyadari bahwa di selangkangannya menggantung penis, bukan vagina. Makanya dia menjadi laki-laki."

"Astaga!" Hanji tertawa terbahak. Suasana mencekam akibat cerita Mike rasanya langsung berubah humor karena Levi dan kata-kata vulgarnya. "Kenapa kau tidak mensensor kalimat kotormu itu?"

"Tidak masalah selama tidak sekotor wajahmu."

"Brengsek kau Levi!"

Lagi-lagi Erwin tertawa karena pertengkaran dua sahabatnya. Dia menatap Levi geli, pria itu masih saja menatap ke arah jendela. Matanya menyipit tajam.

"Hei, Mike." Levi memanggil datar.

"Hn?"

"Apa hantu yang kau lihat itu lelaki dengan jubah cokelat, rambut cokelat dan mata hijau kebiruan menyala?"

"Bagaimana kau tahu?" Mike bertanya terkejut. Mendadak dirinya merinding saat Levi tersenyum miring dan berdiri tergesa.

"Aku mendapatkannya."

QueenNotDevil

Levi sama sekali tidak peduli pada pakaiannya yang mendadak basah kuyup. Dia juga sama sekali tidak ambil pusing pada panggilan tiga sahabatnya yang berusaha menghentikan dia saat berjalan buru-buru meninggalkan kedai.

Mata kelamnya terfokus melihat seseorang yang berdiri di antara gang-gang gelap. Mata hijau kebiruannya memancar terang, membuat siapa saja yang melihatnya akan merinding takut terkecuali hanya dirinya.

Semakin dekat jarak mereka, semakin jelas juga sorot mata bengis yang diberikan lawannya. Levi sama sekali tidak takut karena sosok yang berjarak tujuh meter darinya itu menggenggam gunting rumput, dia tersenyum mencemooh, melihat wajah pemuda di hadapannya ditutupi sebuah masker putih sampai hidung.

Sret!

Sosok itu mendadak menghilang. Satu detik kemudian dia muncul di depan Levi, membuka maskernya, memperlihatkan wajah mengerikannya yang mulutnya sobek sampai telinga dengan darah mengucur berbaur dengan air hujan.

"Aku tampan atau tidak?" pemuda itu bertanya menggeram.

Dengan cueknya, Levi justru menjawab, "Apa di rumahmu tidak ada kaca Bocah?"

"Hah?" Kushisake Onna yang hendak melayangkan gunting ke arah leher Levi memasang wajah bingung. Seperti Kushisake Onna pada umumnya, jawaban yang mereka terima hanya 'Iya' dan 'Tidak'. Mereka tidak mengerti jika diberi jawaban lain oleh para calon korban mereka.

"Setan miskin yang sama sekali tidak punya cermin, heh? Kasihan sekali kau Bocah. Ayo ikut aku, aku akan memberitahumu dan sekalian memberimu pelajaran agar tidak membunuh orang sembarangan. Siapa namamu?"

"E-Eren Jaeger." Eren tergagap. Pria pendek di depannya bahkan lebih mengerikan daripada setan-setan senior yang selama ini berada di sekelilingnya. Eren juga hanya diam saja saat tangan dingin Levi mencengkeram lengannya, menariknya, kemudian dengan kurang ajarnya melemparkan tangannya yang lain ke bokong Eren kemudian meremasnya keras.

"Lumayan padat juga."

"APA YANG KAU LAKUKAN?!" teriak Eren histeris, dia berusaha menghempaskan tangannya tapi tidak bisa, dia menghunuskan gunting rumputnya ke leher Levi tapi dengan cepat pria itu melumpuhkannya. Membalikkan tubuhnya, kemudian mendekap punggungnya dan meletakkan bibir dingin itu di dekat telinganya yang masih utuh.

Dan untuk pertama kalinya, hantu yang sudah membunuh ratusan nyawa itu merinding akibat bisikkan mengancam seorang manusia, bisikkan yang mengatakan, "Wajahmu pasti akan lebih baik jika kujahit kemudian mendapat sedikit sentuhan operasi plastik. Coba hitung sudah berapa banyak nyawa yang sudah kau ambil bocah? Sebanyak itu juga aku akan menusuk bokongmu dan memberikan banyak bonusan untukmu!"

"TIDAK!"

The end

Oke, ini masih HumanLevi ma DevilEren. Chapter selanjutnya justru sebaliknya.

Makasih buat semua dukungannya.