3. Slender Man
Disclaimer
Hajime Isayama
Manik zamrud kebiruan itu menatap teman di depannya dengan sorot serius, membuat gadis berwajah oriental itu sedikit salah tingkah akibat intensitas yang meningkat setiap detiknya. Mereka masih duduk berhadapan dengan si gadis yang memalingkan wajahnya ke samping, tidak berani lagi membalas tatapan pemuda yang sudah ditaksirnya sejak lama lebih dalam.
Dia tahu, dirinya tidak mungkin bisa.
Dia tidak akan sanggup menolak kalau pemuda dengan tampang cari mati itu sudah memaksa melakukan hal yang sangat berbahaya untuknya.
"Slender man itu tidak ada." Eren, pemuda yang masih berusia lima belas tahun itu bersikukuh. Dia mendengus saat gadis di depannya terus saja mengabaikannya. Menolak keinginannya yang ingin membuktikan tentang keberadaan makhluk astral yang menjadi urband paling menakutkan di Negaranya.
Mereka duduk di kelas, jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Tapi Eren sama sekali tidak mau beranjak dari kursinya, dia memaksa Mikasa –gadis yang masih membungkam mulut di depannya agar tidak terus menjadi ekornya. Kini di kelas itu, mereka hanya tinggal berdua saja.
"Ada atau tidak itu tetap saja berbahaya Eren." Mikasa berkata parau- khawatir. "Kau tidak perlu membuktikannya, lagipula memangnya apa yang akan kau dapatkan setelah membuktikan Slender man hanya cerita omong kosong para orangtua untuk menakuti anak-anaknya?"
Sebuah gelengan Mikasa berikan, syall merah melingkar apik di lehernya sekali pun cuaca sudah memasukki musim panas. Syall itu adalah milik Eren yang diberikan padanya disaat pertama kali mereka bersua. Menciptakan gelenyar aneh namun nyaman yang sampai saat ini selalu bergemuruh di balik dada.
"Nonsense."
"Aku hanya ingin membuktikan pada si muka kuda itu kalau aku bukan pengecut." Eren berdecih, mengingat tantangan seorang Jean Kirsctein yang selalu saja menganggapnya bayi karena selalu dilindungi Mikasa. "ini menyangkut harga diri."
"Eren, Slender man mengincar anak yang belum berusia enam belas tahun."
"Aku tahu itu, makanya aku akan melakukannya."
"Kau tahu?" Mikasa berkata sendu, dia benar-benar berharap Eren mengurungkan niatnya itu, "Slender man itu, adalah arwah yang mati penasaran akibat dibunuh tanpa alasan. Bukan hanya mendapat pukulan di kepala juga tusukkan, dia setelah mati pun digantung tanpa tangan dan kakinya. Dia arwah yang dipenuhi dendam diliputi kejahatan.
"Eren, a-aku takut kalau sampai dia benar-benar nyata. Dia akan memberimu pertanyaan, jika kau benar menjawab, kaki dan tanganmu akan dihancurkan, dan jika kau salah dia akan menancapkan kuku-kukunya ke lehermu lalu mengambil jantungmu."
"Ayolah Mikasa..." Eren berdecak tidak sabaran. Kalau Mikasa terus saja bersikeras mengikutinya, rencananya bisa gagal total. "Itu hanya omong kosong. Begini saja, kalau sampai nanti aku bertemu dengan makhluk setinggi 6 kaki dan berwajah rata, aku akan segera lari."
"Tapi-"
"Mikasa, jika kau benar-benar menyayangiku, kau tidak akan lagi menghalangiku. Oke?"
Diakhiri kalimat itu, Mikasa dengan tidak rela pun menganggukkan keinginan pemuda yang tersenyum lebar kepadanya.
QueenNotDevil
Hari menunjukkan pukul delapan malam. Eren, sudah menyiapkan diri baik mental maupun fisiknya untuk uji nyali malam ini. Dia keluar dari mobilnya yang dia parkir di sisi jalan. Kini, dirinya berada di kawasan perbatasan Maria dan Shiganshina yang dipisahkan oleh terowongan yang terbuat dari pohon-pohon besar nan rimbun.
Langit kian gelap, tidak ada bintang namun rembulan menggantung dengan apiknya. Eren tersenyum tipis sebelum akhirnya menghembuskan napas panjang. Walau pun dia bersikeras mengatakan hantu itu tidak ada, tetap saja ada di tempat seperti ini di malam hari seorang diri membuat jantungnya harus berdetak dengan ekstra.
Abaikan!
Kau akan mengalahkan Jean Kirsctein, Eren Jaeger. Sumpah Eren dalam hati, menyemangati dirinya sendiri.
Berbekal penerangan seadanya, juga lampu-lampu jalan yang sudah dinyalakan namun letaknya saling berjauhan. Eren mulai memantapkan kakinya untuk melangkah. Dia bersiul-siul pelan sambil menoleh ke sana-kemari berusaha menepis hawa sepinya. Tengkuknya sedikit meremang, dan dia terus saja mengabaikannya.
Berjalan semakin jauh, sekitar lima belas menit kemudian. Eren melihat sosok bayangan yang berjalan berlawanan arah dengannya. Sosok itu terlihat kecil dari jarak sekitar lima belas meter darinya. Jantung Eren kian memompa ekstra, keringat dingin mengucur dari pelipis dan punggungnya. Kakinya gemetaran.
Nyaris saja Eren berbalik dan lari, dia mengurungkan niatnya saat sosok itu kini sudah semakin dekat. Eren mengerutkan alisnya saat orang yang diperkirakannya seorang pria itu kini mulai terlihat jelas.
Hei! Tingginya tidak sampai enam kaki. Bahkan cenderung lebih pendek darinya. Dan saat Eren menyipitkan matanya, dia langsung tahu bahwa lelaki yang kini berdiri di depannya itu memang berekspresi datar, tapi tidak dengan wajahnya.
Matanya menyorot tajam, hidungnya amat mancung, bibirnya terkatup rapat dengan kulitnya yang putih pucat.
Ah, ternyata bukan Slender man. Eren nyaris memukul kepalanya sendiri karena sudah tergesa menyimpulkan dan nyaris saja mempermalukan dirinya sendiri dengan melarikan diri.
"Bocah, untuk apa malam-malam kau ada di tempat ini?" suara baritone itu sedikit membuat bulu kuduknya merinding. Eren Jaeger berusaha tersenyum ramah sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Tidak, Sir, hanya sedang jalan-jalan saja." Eren menjawab kikuk. Dia semakin salah tingkah saat sosok di depannya menatapnya kian tajam. "Kalau boleh tahu anda siapa, Sir? Kenapa anda juga keluyuran sendiri malam-malam begini di tempat sepi?"
"Panggil saja aku Levi." Sosok di depannya memperkenalkan diri. Eren tidak melihat salah satu sudut bibir pria pendek itu terangkat mengukir seringaian jahat.
"Namaku Eren Jaeger." Eren memperkenalkan dirinya sendiri tanpa diminta. "Di sini sebenarnya saya sedang uji nyali. Untuk membuktikan pada teman saya kalau saya tidak sepengecut apa yang dia bilang."
Tiba-tiba Eren merasa kesal. Mengingat Jean, memang selalu membuatnya marah.
"Memangnya apa yang ingin kau buktikan?"
"Slender Man itu tidak ada." Eren meringis, tersenyum malu saat sosok rupawan di depannya kian memperpendek jarak mereka. "dan sepertinya aku memang benar."
"Begitu, kah?" Levi tersenyum tipis. Dia mencengkeram dua lengan Eren, membuat pemudah itu merintih kesakitan berusaha menghempaskan tangannya.
"Le-lepas."
"Naa... Eren." Bisik Levi seduktif, lelaki itu kian memperpendek jarak mereka menempelkan bibirnya di telinga Eren dengan sedikit berjinjit. "Bagaimana kalau perkiraanmu itu salah?"
"Hah?"
"Itu bukan jawaban." Bibir itu menggesek telinga Eren sensual. "yang kau cari ada di depanmu."
Eren melotot horor. Dia kian bersikeras melepaskan cengkeramannya, tapi jangankan melonggar, cengkeraman itu justru terasa semakin kuat nyaris meremukkan kedua tangannya. Eren berteriak kesakitan, dia meminta tolong pada siapa pun tetapi tidak ada yang mendengarnya.
Matanya memanas. Dia tidak menyangka pada akhirnya dia akan mati karena sebuah tantangan konyol yang tidak seharusnya dia tanggapi.
"Ja-jadi." Eren berbisik parau. Mulai pasrah pada nasibnya. "Apa yang akan kau lakukan untuk membunuhku? Menancapkan kukumu di leherku?" Eren menunduk, menatap ngeri kedua tangannya yang tertancap kuku-kuku panjang dan kini meneteskan banyak darah. "atau meremukkan kedua tangan dan kakiku?"
"Hn?" Levi tersenyum tipis. Eren kian merinding. Entah kenapa dia mendapat firasat akan mendapat siksaan yang lebih menyakitkan daripada kaki dan tangan diremukkan atau leher ditusuk kuku lalu diambil jantungnya.
"Sepertinya... aku lebit tertarik untuk menusuk bokongmu setiap hari." Levi menjawab cuek.
"TIDAAAAK!"
QueenNotDevil
Eren terbangun dari tidurnya, dia menghembuskan napas lega saat melihat langit-langit kamarnya. Jadi, yang tadi malam itu hanya mimpi, kan?
Tapi saat berusaha beringsut dari kasurnya, Eren langsung merintih kesakitan. Bokongnya terasa perih, tubuhnya pegal-pegal tidak karuan. Dan saat dia berbalik menatap cermin yang ada di kamarnya, Eren melotot horror melihat pantulan bayangannya. Dia kini ada dalam kondisi telanjang dengan tubuh dipenuhi banyak bercak merah.
"A-apa ini?" Eren lebih histeris lagi, saat dia berjalan tertatih menghampiri cermin untuk mengambil kertas yang menempel di cerminnya, dia membaca tulisan yang sama sekali tidak diharapkannya.
Sekali lagi Eren berteriak histeris membangunkan semua orang seisi rumah.
.
.
Kau cukup layak pakai juga. Aku akan mengunjungimu setiap malam mulai sekarang.
Levi
QueenNotDevil
Ini request dari orang yang minta saya pake urband Negara Jerman. Maaf kalo bikin urband Slender Man ini jadi konyol malahan ngawur. Hehehe.
Peringatan, jangan dicoba ngelakuin hal nekad kayak Eren demi menemui Slender Man versi Levi. Itu Cuma khayalan saya saja.
Oke, terima kasih untuk yang bersedia baca juga review. Sampai jumpa di chap selanjutnya.
