Draco menyeringai saat melihat tubuh Hermione menggelinjang karena kesakitan. Mulut gadis itu terbuka, akan tetapi sayangnya tak satu pun suara keluar dari mulutnya karena sang pemuda telah memantrainya dengan mantra penyenyap sebelumnya. Seringai pemuda itu semakin melebar saat Hermione mencakar lantai kelas berharap dengan demikian rasa sakit yang ia alami bisa sedikit berkurang. Beberapa belas menit kemudian tubuh Hermione tak lagi bergerak. Draco membungkukkan tubuhnya, sekedar memastikan bahwa gadis berambut coklat itu tak mati karenanya. Ia tersenyum puas saat desau nafas sang gadis masih bisa ia rasakan, sekalipun terdengar lemah dan terputus-putus.

"Campuri urusanku sekali lagi, dan aku pastikan kau akan mendapatkan lebih dari sekedar satu kutukan crucio, Granger."

The Dark

Harry Potter belong's to JK Rowling

Canon AR, no Voldy, no War

Still For You Niss…

Hermione tak pernah merasakan rasa sakit yang seperti ini. Belasan menit itu terasa bagaikan satu jam untuknya. Ia bahkan sempat berpikir bahwa kematian terdengar jauh lebih ringan dibandingkan rasa sakit yang ia rasakan. Tubuhnya terasa seperti dicabik-cabik dengan paksa, tidak─lebih parah dari itu. Rasa sakit yang ia rasakan tak bisa ia gambarkan, tanpa terasa air mata menetes dari kedua bola mata coklatnya.

"Campuri urusanku sekali lagi, dan aku pastikan kau akan mendapatkan lebih dari sekedar satu kutukan crucio, Granger."

Hermione bisa mendengar suara langkah Draco yang menggema, semakin lama semakin pelan. Dan akhirnya ia tahu, bahwa kini Draco telah pergi dari ruangan itu, meninggalkannya terbujur tak berdaya di lantai kelas yang dingin. Setelah terdiam beberapa saat dan merasakan bahwa rasa sakit yang ia dera sedikit berkurang, ia menggerakkan tubuhnya dengan perlahan, suara erangan kecil keluar dari bibir tipisnya, rupanya mantra silencio telah dilepas dari tubuh gadis brunette itu. Hermione mencoba menahan rasa sakit yang mendera tubuhnya dan berjalan dengan tertatih-tatih menuju ke ruang rekreasi Gryffindor setelah sebelumnya mengambil tongkat miliknya yang tergeletak di lantai. Sepertinya saat ini adalah waktu makan malam, karena dari tadi gadis tahu segala itu tak berpapasan dengan seorang pun. Syukurlah, karena ia tidak ingin satu orang pun melihatnya dengan kondisi yang seperti ini.

Hermione lega saat melihat tangga menuju lukisan nona gemuk kini berada tak jauh darinya, dengan perlahan ia melangkah kakinya dan menyandarkan tubuhnya di pegangan tangga mengingat tubuhnya saat ini sama sekali tak memiliki kekuatan yang cukup untuk sekedar menaiki tangga berputar.

"Oh dear, apa yang terjadi?" Nona gemuk histeris saat melihat kondisi Hermione.

"Darah naga," gumam Hermione lirih.

"Oh, seharusnya kau pergi menemui Madam Pomfrey!"

"Darah naga!"

"Anak-anak jaman sekarang, tak pernah mendengarkan nasihat─" Hermione mengacuhkan ocehan nona gemuk, ia langsung melangkah ke dalam saat lukisan itu menunjukkan jalan masuk menuju ke ruang rekreasi asramanya. Seperti dugaannya, kini ruang rekreasi Gryffindor kosong, nampaknya semua anak pergi ke aula untuk menikmati makan malam mereka. Gadis itu berusaha melangkahkan kakinya dengan cepat dan tak mempedulikan rasa sakit yang mendera tubuhnya. Ia ingin segera membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan berharap bahwa rasa sakit di tubuhnya bisa mengilang di keesokan pagi.

"Ugh…." Rintih gadis itu pelan saat tubuhnya menyentuh ranjang empuk miliknya. Dan sebelum terlelap gadis itu berjanji dalam hati bahwa ia tak akan melepaskan Draco Malfoy begitu saja, tidak setelah apa yang dilakukan pemuda itu padanya. Mata dibalas dengan mata, gigi dibalas dengan gigi.

"─mione… Hermione… Hermione!" Hermione membuka kedua kelopak matanya, ia langsung menutup kembali kelopak matanya karena terkena kilauan cahaya matahari yang masuk melalui jendela kamar mereka. "Hei Hermione, bangunlah! Kau harus sarapan, kemarin aku tidak melihatmu di aula saat makan malam."

"Urgh…" Hermione menggerakkan tubuhnya yang terasa kaku, ia mengernyit menahan rasa sakit saat beberapa bagian tubuhnya digerakkan. Ia menggumamkan sesuatu dengan lirih kepada Parvati yang membangunkannya, sepertinya ucapan terima kasih.

"Demi Merlin! Aku baru sadar, wajahmu pucat sekali! Sebaiknya kau pergi menemui Madam Pomfrey sekarang juga! Pantas saja aku tidak melihatmu saat pertandingan Quidditch kemarin sore." Parvati membelalakkan matanya saat menyadari betapa pucatnya wajah teman sekamarnya itu. Tubuh Hermione membeku saat mendengar perkataan sang gadis berdarah India itu. Pertandingan Quidditch! Ia melupakannya!

"Bagaimana hasilnya?"

"Eh?" Parvati mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan pertanyaan Hermione.

"Pertandingan Quidditch! Ceritakan padaku, jika Harry dan Ron tahu aku tidak melihat pertandingan mereka, mereka pasti akan membunuhku." Parvati memutar kedua bola matanya. Sampai sekarang ia masih heran mengapa Hermione yang notabene seorang kutu buku, si gadis jenius, berteman dengan dua pemuda kelebihan libido yang selalu menjunjung tinggi Quidditch dan mengatas nomer sekiankan pelajaran. Mereka terlalu bersebrangan.

"Tentu saja Gryffindor menang! Skor 340-50! Bayangkan, sudah lama kita tidak mengalahkan Ravenclaw dengan selisih skor sejauh itu. Kita bahkan sengaja merayakannya di aula tadi malam, seharusnya kau melihat wajah Padma yang memberenggut kesal!" Parvati mengingat kejadian semalam saat ia meminta uang kemenangannya─ia dan Padma, saudara kembarnya selalu bertaruh saat Gryffindor bertanding dengan Ravenclaw.

"Syukurlah, setidaknya jika aku ketahuan mood mereka sedang dalam keadaan baik sekarang," gumam Hermione sambil bangkit dari tempat tidurnya dan mengambil seragamnya sebelum melangkah menuju kamar mandi putri.

"Memang kemarin kau kemana sih? Jangan-jangan kemarin kau tidak menonton dan ke aula karena tidak enak badan ya? Wajahmu pucat sekali tahu."

"Uhm begitulah, sebaiknya kau bergegas, pagi ini kau ada pelajaran Ramalan kan?"

"Oh crap kau benar, aku pergi dulu, Lavender sudah pergi dari tadi. Hermione, mampirlah ke Madam Pomfrey dan meminta sedikit ramuan, setidaknya mintalah ramuan perona pipi supaya kau tidak terlalu pucat." Hermione menganggukkan kepalanya─mengiyakan sebelum Parvati meninggalkan kamar mereka dengan setengah berlari.

Gadis itu melirik ke arah jam tangannya, masih ada waktu kira-kira satu jam sebelum pelajaran Arithmacy dimulai. Ia sedang berpikir apakah ia langsung saja sarapan di aula depan atau pergi menemui Madam Pomfrey terlebih dahulu, sesuai anjuran nona gemuk dan Parvati. Hermione sedang merenung di lorong sekolah saat tiba-tiba sebuah sapaan mengagetkannya. Gadis itu menelan ludah gugup saat melihat Cormac berjalan dengan tergesa-gesa ke arahnya.

"Hermione, kau akan ke aula kan? Bagaimana kalau kita berjalan bersama?"

"Ah maaf, tapi aku harus pergi menemui Madam Pomfrey," Hermione melangkahkan kakinya dengan cepat, ia bahkan tak menolehkan kepalanya ke belakang, karena ia yakin jika pemuda itu masih mengamatinya. Ia bukannya membenci Cormac, pemuda itu sebenarnya cukup baik dan juga tampan jika bisa ia tambahkan. Ia hanya tidak suka dengan sifat pemuda ini yang selalu mendekatinya selama satu tahun ajaran terakhir, padahal ia sudah dengan tegas menolak sang pemuda di tahun ke-enam.

Hermione melangkahkan kakinya dengan cepat mengingat lima menit lagi pelajaran Arithmacy segera dimulai. Ini semua terjadi gara-gara ia pergi ke Madam Pomfrey dan mendengarkan omelannya─karena gadis itu bersikeras tidak mau mengatakan apa yang terjadi padanya dan hanya meminta ramuan untuk menyembuhkan rasa sakit yang masih bisa ia rasakan dan sedikit ramuan perona pipi─sesuai anjuran Parvati, untuk wajah pucatnya. Dengan berat hati Madam Pomfrey memberikan ramuan yang dimintanya setelah ia berkata jika ia tidak apa-apa jika Madam Pomfrey tidak memberinya ramuan─sebelumnya Madam Pomfrey mengatakan bahwa ia tak akan memberikan ramuan itu jika ia tidak menceritakan apa yang terjadi. Setelah kejadian itu ia memaksakan diri untuk mampir ke aula dan mengambil sepoong roti, mengingat ia sangat kelaparan karena belum makan sejak kemarin malam.

Gadis itu menghela nafas lega karena ternyata Profesor Vector belum berada di ruangan, yang artinya ia belum telat. Akan tetapi rasa leganya langsung terhapus saat menyadari bahwa semua bangku kosong telah terisi kecuali satu bangku di bagian belakang, tepat di samping Draco Malfoy. Hermione mengumpat dalam hati saat Profesor Vector sudah memasuki ruangan, sehingga mau tak mau ia harus duduk di samping Malfoy. Ia hanya menatap sinis ke arah Draco yang tak menatap ke arahnya. Hermione menarik bangkunya dengan pelan hingga ke sudut meja, mencoba menjauhkan diri sejauh-jauhnya dari pemuda berambut platina itu.

"Sehat, Granger?" Hermione mendelik ke arah Draco, ia bisa melihat sebuah seringai tercetak di wajah pemuda itu. Nampaknya ia benar-benar menikmati kejadian kemarin.

"Jangan kira aku takut dengan ancamanmu kemarin Malfoy," desis Hermione sambil membuka buku Arithmacy miliknya dan kembali menatap ke arah depan.

"Kau masochist rupanya, sayang aku tidak terlalu tertarik dengan hal semacam itu. Tapi tenang saja, jika kau mau aku bisa memberikan beberapa kutukan lagi untukmu," Draco mencelupkan pena bulunya ke botol tinta dan mulai menyalin tulisan Profesor Vektor yang ada di papan tulis. "Tertarik dengan wajahku, Granger?" ucap Draco saat merasakan tatapan Hermione padanya. Wajah Hermione memerah karena emosi saat mendengar perkataan pemuda itu.

"Kau brengsek!"

Hermione tak pernah merasa semarah ini sebelumnya, bahkan tidak saat ia tahu apa makna kata 'mudblood' yang diucapkan Draco padanya saat tahun pertama. Kutukan yang dilakukan pemuda itu padanya serta kejadian di kelas Arithmacy membuat ejekan itu terlihat hanya seperti permainan anak kecil belaka. Setelah pelajaran Arithmacy selesai, Hermione segera membereskan peralatannya dan melangkah keluar ruangan, ia tak ingin melihat Draco saat ini. Tidak saat ia ingin melemparkan kutukan crucio ke arah pemuda berambut platina itu. Ia tahu, kutukan itu adalah salah satu dari tiga kutukan tak termaafkan, ia tidak ingin berada satu level dengan bocah pewaris kekayaan Malfoy itu. Ia akan balas dendam tentu saja, tapi dengan cara yang jauh lebih bermartabat dibandingkan cara si Slytherin pirang itu.

Harry dan Ron sedang memakan makan siang mereka di aula saat tiba-tiba saja Hermione menggeser tubuh kedua pemuda itu dan duduk diantara mereka berdua. Harry dan Ron saling memandang sebelum akhirnya menatap ke arah Hermione yang sedang memenuhi piringnya dengan setumpuk makanan.

"Aku lapar sekali!" ujar Hermione sambil memasukkan sesendok penuh kentang tumbuk ke mulutnya. Harry melirik ke arah Ron, memberi pemuda itu kode untuk memulai pembicaraan yang sebelumnya sudah mereka sepakati bersama.

"Ehm…, Hermione," ucap Ron setelah sebelumnya berdeham, memberanikan diri memulai percakapan. Hermione menggumam menjawab peranyaan Ron, dan meminum jus labu yang ada di pialanya.

"Apa?"

"Kemarin kau kemana?" Hermione mengerutkan keningnya tak mengerti.

"Kau lupa? Kemarin…, saat pertandingan Quidditch antara Gryffindor dan Ravenclaw. Aku dan Harry tidak melihatmu sebelum pertandingan ataupun saat pesta perayaan di aula semalam." Hermione menggigit bibir bagian bawahnya. Ia tak mungkin mengatakan bahwa si ferret sialan itu mengutuknya di sebuah kelas kosong. Hell yeah, ego gadis itu tak mengijinkannya untuk mengatakan bahwa ia dengan bodohnya membiarkan Malfoy merebut tongkatnya dan mengutuknya dengan tongkatnya sendiri.

"Urm... Maaf aku ketiduran di perpustakaan." Gadis itu yakin bahwa itu satu-satunya kebohongan yang tidak akan dicurigai oleh kedua orang sahabatnya, mengingat ia sering ketiduran di perpustakaan karena kelelahan membaca buku. "Tapi aku dengar kalian memenangkan pertandingan dengan telak bukan?" ucapnya berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Iya! Aku berhasil mengahalangi beberapa bola yang berusaha dimasukkan si─" ucapan Ron terhenti saat merasakan tatapan tajam Harry. Hermione menatap kedua orang sahabatnya tidak mengerti.

"Ada apa?"

"Hermione, kemarin aku dan Harry khawatir karena kau tidak muncul setelah pertandingan berakhir, kau bahkan tidak datang ke ruang ganti dan mengucapkan selamat atas kemenangan kami seperti biasanya, oleh sebab itu kami menggunakannya─ah tapi kami saat itu berpikir bahwa jangan-jangan kau berada dalam kesulitan, jadi─"

"Maksud Ron, saat itu kami khawatir, dan memutuskan untuk menggunakan Peta Perampok dan mencari namamu. Dan kami terjut saat melihat namamu dan Malfoy berada dalam satu ruangan kosong untuk waktu yang lumayan lama…," Mata Hermione terbelalak. Kedua orang sahabatnya tahu kejadian kemarin malam!

"Dan saat kau juga tidak muncul saat pesta perayaan kemenangan di aula, kami akhirnya paham…," Hermione meneguk ludahnya gugup. Oh, ia mengutuk para Marauders yang sudah menciptakan peta perampok itu.

"Dengar Harry, aku─"

"Tidak apa, kami tidak akan membencimu untuk hal yang seperti itu, hanya saja kami berharap kau tidak berbohong pada kami, kami tidak keberatan jika kau pacaran dengan Malfoy, lagipula dia sudah berubah menjadi baik akhir-akhir ini," potong Harry.

"Maaf, aku tidak bermaksud bohong─tunggu, kalian tadi bilang apa?"

"Kami tidak keberatan kau menjalin hubungan dengan Malfoy," ucap Ron mengulangi ucapan Harry

"Apa? Sejak kapan aku berpacaran dengan si ferret bodoh itu?" Kedua orang sahabatnya menujukkan senyum 'kami mengerti' ke gadis brunette itu dan kembali melanjutkan acara makan malam mereka yang tertunda karena kehadiran sang gadis. Hermione membuka mulutnya dengan lebar, ia terguncang. Ia dan Malfoy? Pacaran? Demi Merlin!

"Hermione tutup mulutmu. Ah, tapi aku heran apa yang membuatmu menyukai si pirang itu. Sampai sekarang aku tidak pernah menarik perkataanku yang mengatakan mukanya mirip seperti musang."

"Tapi Ginny bilang banyak murid wanita yang tertarik dengan Malfoy," Harry meminum jus labu dari piala miliknya.

"Mereka buta kau tahu─Ah, aku tidak bermaksud mengataimu Hermione, sungguh!" ucap Ron sambil menatap ke arah Hermione, mencoba meyakinkan sang gadis bahwa ia tidak menujukan perkataan itu untuknya.

"Kami duluan Hermione, sesudah ini kami harus latihan Quidditch. Kami akan menghadapi Slytherin dua minggu lagi. Ah, kau tetap membela Gryffindor 'kan?" tanya Harry saat akan pergi meninggalkan meja makan bersama Ron.

"Tentu saja!" sahut Hermione tajam, "Dan itu karena aku tidak menjalin hubungan dengan si pirang itu!" tambahnya saat mendengarkan gumaman Ron yang mengatakan bahwa itu bagus untuk lebih memilih untuk membela asramamu sendiri dibandingkan asrama pacarmu. Hermione menyusul kedua orang sahabatnya saat mereka memberikan senyuman 'kami mengerti' mereka lagi, karena gadis itu yakin seyakin-yakinnya bahwa mereka berdua sama sekali tidak mengerti! Ia segera berlari setelah sebelumnya meminum habis jus labu yang ada di pialanya, dan lega setelah berhasil menyusul Harry dan Ron yang berjalan di lorong. Dengan cepat, gadis itu menarik jubah kedua orang sahabatnya agar berbalik menatapnya. Ia akan menjelaskan hal ini. Lebih baik ia dianggap sebagai idiot daripada dianggap berpacaran dengan si pirang Malfoy oleh kedua orang sahabatnya.

"Harry, Ron! Dengarkan aku, aku benar-benar─"

"Wah, pasanganmu datang tuh," Hermione mengerang saat melihat sosok Draco Malfoy yang sedang berjalan seorang diri. Draco memandang curiga saat Harry dan Ron melangkah ke arahnya. Tubuhnya berjengit saat merasakan kedua tepukan di bahunya.

"Kami tahu hubungan antara kita bertiga tidak begitu baik, tapi mengingat dua tahun ini kelakuanmu membaik mau tak mau kami memberikan restu kami." Pemuda berambut platina itu menatap tajam ke arah Ron.

"Apa maksudmu?" tanyanya dingin.

"Lihat Harry, nampaknya dia dan Hermione bersepakat untuk menyembunyikannya." Draco melirik ke arah Hermione. Pemuda itu menaikkan salah satu alis matanya saat melihat Hermione tengah memandang mereka dengan tatapan putus asa.

"Kami titip sahabat kami, sepertinya ia benar-benar menyukaimu sampai merahasiakan hubungan kalian meskipun sudah tertangkap basah," ucap Harry sambil tersenyum. "Hermione kami pergi dulu, lebih baik kau manfaatkan waktumu sebaik mungkin," tambahnya sambil mengedipkan matanya. Draco mengamati kedua pemuda itu hingga mereka tak nampak lagi. ia menatap ke arah Hermione yang sedang menatapnya tajam.

"Menyukaiku, heh?" ucap pemuda itu sebelum kembali melangkahkan kakinya menuju ke aula. Tapi Hermione sempat melihat sebuah seringai tipis yang muncul di wajah pemuda itu. Hermione mengeratkan genggamannya pada tongkat kayu anggur miliknya.

"ARGHHH!" Ucapkan beberapa alasan pada gadis itu mengenai alasan mengapa ia tidak boleh mengutuk Ron dan Harry saat ini. Karena sungguh, ia benar-benar ingin mengutuk kedua pemuda polos itu saat ini juga.

-TBC-

a.n: Maaf atas keterlambatan updatenya. Dan oh ya, kemarin aku bilang kalo bakalan usahain buat IC para tokoh yang kupakai ya? Sepertinya lagi-lagi gagal ya… Mohon maaf untuk itu, tapi aku akan berusaha lebih baik lagi… (:

Oh ya, ini balasan untuk para reviewer:

WatchFang: Makasih kakaaaak~ ah aku juga niiis, Blaise jadi Mr. Playbooyy~ typoya udah diperbaiki. Darknya ntar kutambahin di chapt2 berikutnya (di chapt ini malah terlalu bright) hehehehe… Ah, aku ga percaya diri…

Gurena Axeleshia: iya rated M reen, tapi belom tentu ada lemon/gorenya kok soalnya ini rated M buat pembahasan aja (meski aku ga memungkiri akan scene lemon disuatu saat nanti). Iya! Draco yang paling OOC disini! Aku mau bikin dia jadi dingin, keren, ganteng, pendiem *dibekep. Yah pokoknya giitu…. Terima kasih buat sarannya ren… udah kubenerin kok typonya

Ms. Loony Lovegood: kalo ditanya bakalan jadi berapa chapter, mungkin paling maksimal 10 chapter ya kalo ngeliat fict2 MCku, aku ga suka terlalu panjang sih…. Iya, typonya sudah kubenerin, maaf kalo di chapt ini masih ada typo, makasih atas pujiannyaa… salam kenal jugaaaa

Shizyldrew: makasih udah penasaran dengan chapter sebelumnyaaa, ini udah diupdate kook

Zecka S. B. Fujioka: Sunny,makasih udah penasaran ama cerita inii, makasih juga udah mau repiewww… *peyuk Sunny

N4na: cieeeeh, tommione gue mana yisss? Abang Malpoy emang mau kubikin mencurigakaaann, ah alo aku bilang si Draco mau ngapain ga surprise dong kakaaak. Makasih iyiiiiisss /

Nyanmaru desu: Hahahhaha, iyaaa… Harry tetep terkenal kok, sebagai kapten Quidditch Gryffindor. Dia juga ganteng kan? Yaah pasti ada penggemarnya koookkk . makasiihhhh

Tsurugi De Lelouch: kan gue DRAMIONE shipper wuuulll! Iya, niatnya sih gitu wul… tapi belom kerasa… hiks… makasiiiihhh

Senjadistria: iya makasiiihhh, ini udah di update koookkk /

Sakura Dancer: aku kaget lo pas baca repiew dari kamu Sakura-san, ternyata suka main di FHPI juga ya? Kyaaa kyaaaaa

Anisa nf: itu nisa yang pennamenya WatchFang, waaah kemaren ulang tahun juga ya? SELAMAT ULANG TAHUUUNNNN! Semga semua keinginan tercapai yaaaa, hihihihihi

Caca: makasih kalo bilang chapt kemaren ga OOC, makasiih bangeet… dan ini udah update…

Minri: makasiihh, maaf kalo updatenya lama yaaa :'(

Last but not least, please gimme your comment, critic or maybe a flame about this chapter and the idea. Really appreciate it.

Sign, Putri.