Hermione sedang membaca buku-buku yang dipinjamnya tadi pagi sambil berbaring tengkurap di ranjangnya, ia berusaha menjernihkan pikirannya dari tuduhan kedua orang sahabatnya yang dengan seenaknya mengira ia berpacaran dengan sang pewaris harta kekayaan Malfoy itu. Tak hanya itu, mereka bahkan memberi mereka restu! Bloody hell, seharusnya mereka tidak memberi restu padanya! Ah bukan itu masalahnya, toh ia tak berpacaran dengan Draco. Hermione membalik halaman bukunya dengan kasar. Gadis itu akan melanjutkan bacaannya saat sebuah bayangan menerpa bukunya. Saat ia menoleh ke atas ia mendapati Padma tengah menatapnya dengan sebuah seringai terpatri di wajahnya.
"Apa?" Hermione mengernyitkan dahinya, gadis itu merinding saat melihat seringai Padma bertambah lebar.
"Apa gosip itu benar?" Hermione menatap sang gadis keturunan India itu dengan tatapan bertanya. "Apa benar kau berpacaran dengan Malfoy? Lavender mendengar percakapan Ron dan Harry setelah mereka selesai berlatih Quidditch! Ah, seharusnya kau bercerita padaku terlebih dahulu sebelum Lavender tahu. Aku sangat benci saat dia bercerita dengan wajah sok tahunya itu, aku 'kan teman sekamarmu Hermione! Kini kau berhutang penjelasan padaku, ceritakan! Bagaimana kalian bisa berpacaran?" Mulut Hermione terbuka dengan lebar. Semua siswa Hogwarts kini mengira ia berpacaran dengan Draco Malfoy, Oh tuhan. Tidak adakah hal yang lebih buruk daripada ini?
The Dark
Harry Potter belong's to JK Rowling
Canon AR, no Voldy, no War
Still For You Niss…
Draco mengernyitkan dahinya saat untuk kesekian kalinya ia mendapati murid-murid Slytherin berbisik sambil menatap ke arahnya yang tengah bersantai sambil membaca di atas sofa kesayangannya di ruang rekreasi Slytherin. Pemuda itu mencoba memberikan tatapan dinginnya pada mereka sehingga mereka bisa diam dan tak lagi memandangnya, akan tetapi itu semua percuma karena di saat pemuda itu melanjutkan kembali kegiatannya tatapan dan bisikan itu kembali berlanjut.
"Draco!" Draco melirik ke arah Pansy yang tengah berjalan ke arahnya dengan kesal. Pemuda itu hanya menaikkan sebelah alisnya saat gadis itu duduk tepat disampingnya dan menatapnya sebal.
"Gosip itu tidak benar kan? Kau tidak mungkin berpacaran dengan mudblood berambut semak Gryffindor itu kan?!"
"Apa maksudmu?"
"Jangan berpura-pura Draco, semua anak Slytherin kini sedang membicarakan hal itu!" Draco memandang sekitarnya dan mendapati beberapa anak Slytherin yang tadinya menatapnya membuang muka dan mencari benda lain untuk ditatap selain dirinya. Sebuah seringai tercetak di bibir pemuda itu, ternyata itu alasan mengapa hari ini banyak orang berbisik dan menatapnya. Bukan karena mereka tahu rencana yang sudah disimpannya selama satu tahun ini.
"Jangan bercanda Pans, sekarang menyingkirlah. Aku ingin membaca dengan tenang," Pansy memberenggut kesal saat mendengar ucapan Draco. Ia tahu bahwa Draco tak suka jika seseorang menganggunya saat ia sedang berada di sofa kesayangannya itu, beberapa orang bahkan menghindar dan berusaha untuk tidak mendekati sang pemuda berambut platina itu. Tapi kan tetap saja gosip itu lebih penting dari sekedar buku bacaan konyol yang akhir-akhir ini pemuda itu sering baca. Hermione Granger, sejak dulu ia membenci gadis itu, diluar kenyataan bahwa gadis jenius itu merupakan seorang mudblood, dan seorang Gryffindor. Ia sangat membenci sikap sok tahu dan sikap pongah yang ditunjukkan sang gadis brunette itu.
"Baik aku tak akan mengganggumu," Draco bernafas lega setelah Pansy kembali meninggalkan dirinya, akhirnya ia bisa membaca bukunya dengan tenang. Draco mengernyitkan dahinya tak senang saat merasakan beberapa tatapan kembali diarahkan padanya, pemuda itu menutup buku yang sedang dibacanya dan menatap kerumunan siswa Slytherin dengan tatapan dingin. Pemuda itu menyeringai saat kerumunan itu berpencar, dan akhirnya meninggalkan dia sendiri di ruang Slythrin. Ia kembali membaca buku miliknya saat tiba-tiba teringat dengan perkataan Pansy mengenai dirinya dan Hermione.
Granger…
…
Hermione menuruni tangga menuju ke ruang rekreasi Gryffindor dengan amarah yang memuncak. Bisa-bisanya, dari semua orang yang ia percaya, justru ke dua orang sahabatnya itulah yang menjadi biang kerok gosip yang kini menyebar di seantero Hogwarts. Oke ia sedikit berlebihan tentang ini, hanya beberapa orang termasuk Lavender yang mengetahui tentang kebohongan ini. Oh─Hermione mengacak-acak rambutnya dengan kesal, jika Lavender tahu tinggal menunggu berapa menit sampai berita itu menyebar. Bahkan ia yakin Dumbledore pun kini sudah tau akan berita itu. Kepala sekolah itu pasti tersenyum senang, mengingat ia sangat menantikan penyatuan dua asrama yang selalu bermusuhan itu. Pft… penyatuan? Dia pasti bercanda!
Mata gadis brunette itu nyalang mengitari ruang rekreasi, mencari rambut berwarna merah disamping rambut hitam acak-acakan. Ia memicingkan matanya saat tak menjumpai dua orang yang sedang ia cari di ruang rekreasi.
"Hermione, ada apa?" tanya Ginny dari balik bahu Hermione. Ginny mengernyitkan dahinya saat melihat Hermione yang sudah menggunakan piyamanya tengah berada di ruang rekreasi dengan raut wajah yang bahkan akan membuat Myrtle si merana berhenti menangis. "Apa?" tanya gadis berambut merah itu saat menyadari tatapan sengit yang dilontarkan Hermione padanya.
"Harry, dan Ron… kau melihat mereka?"
"Aku rasa mereka sudah naik ke kamar─" ucapan Ginny terhenti saat melihat Hermione kini melangkah ke arah tangga yang menuju kamar para siswa. "Mione, kau tidak boleh─" ucapan gadis berambut merah itu lagi-lagi terhenti saat mendengar suara teriakan saudara laki-lakinya dan orang yang ia sukai dari arah kamar. Hermione bisa berubah menjadi sangat kejam jika ia mau.
…
Harry dan Ron melirik takut-takut ke arah Hermione yang kini berdiri beberapa meja di depan mereka bersama Padma dan Parvati. Ron mengedik seram saat melihat Hermione memotong-motong kaki kodok dengan sedikit terlalu bersemangat. Kemarin malam Hermione mengamuk ke mereka berdua karena berkat bantuan mereka kini mungkin seantero sekolah mengira ia berpacaran dengan Draco.
"Harry," panggil Ron saat Profesor Snape melihat kuali ramuan anak Ravenclaw. "Apa menurutmu Hermione masih marah?" tanya pemuda itu sambil berusaha mengalihkan perhatiannya pada kumbang busuk yang tak mau dipotong dan kini berjuang untuk mempertahankan hidupnya.
"Potong lima puluh poin dari Gryffindor karena sudah mengobrol ditengah pelajaran," ujar Profesor Snape sambil memukul kepala dua orang sahabat ini menggunakan buku tebal yang dibawanya. Harry mengerling ke arah Hermione yang menatap mereka dengan tatapan dingin.
"Yang jelas ia pasti marah karena kita mengurangi poin asrama kita," erang Harry.
Setelah pelajaran ramuan berakhir, Ron dan Harry segera bergegas mengejar Hermione yang terlebih dahulu meninggalkan ruang kelas. Kedua pemuda ini memanggil-manggil nama sahabat wanita mereka berulang kali, namun gadis itu dengan sengaja mengacuhkannya. Harry mengambil tongkat dari saku jubahnya dan melemparkan mantra, membuat langkah Hermione terhenti. Ron memandang Harry dengan tatapan tak percaya, pemuda itu barus aja menggunakan mantra ikat tubuh untuk sahabat mereka.
"Hermione, maafkan aku. tapi aku harus melakukan ini agar kau mau mendengarkan kami. Kami sama sekali tidak berniat untuk menyebarkan hal itu, kami hanya berbicara di lorong, dan aku rasa ada seseorang yang mendengarnya saat itu. Kami benar-benar minta maaf, kami akan memberi tahu yang lain bahwa berita itu tidak benar. Bagaimana? Kau mau memaafkan kami kan?" Ron dan Harry menatap Hermione dengan tatapan anak anjing yang kehilangan induknya, akan tetapi Hermione tetap terdiam, tak bergerak. "Hermione?" Harry menatap Hermione dengan khawatir, sampai akhirnya ia tersadar bahwa gadis itu masih ada di bawah pengaruh mantranya. "Ah maafkan aku."
Hermione menghela nafas panjang saat akhirnya tubuhnya terbebas dari mantra pengikat tubuh. Ia melirik garang ke arah dua temannya, sebelum akhirnya mengalah, "kalian berjanji akan meluruskan hal ini?"
"Ya, dan kami janji, kami tidak akan membocorkan hubungan kalian berdua." Ucap Ron disertai dengan anggukan dari Harry. Hermione mendesah, nampaknya kedua sahabatnya benar-benar mengira bahwa ia benar-benar menjalin ubungan dengan si ferret pirang. Gadis brunette itu memandang wajah bersungguh-sungguh sahabatnya, dan merasa percuma meluruskan semuanya. Toh kemarin ia sudah mencoba, dan malah berakir dengan sangat menyebalkan. Si bocah-tengik Malfoy malah menyangkanya menyukainya. Bloody Hell!
"Baiklah, aku memaafkan kalian." Ucap Hermione. Ia harus segera ke perpustakaan, memikirkan cara balas dendamnya ke Malfoy. Ia tak membutuhkan pengalihan perhatian seperti luapkan amarahmu pada dua orang sahabat tak pekamu yang dengan seenaknya menjadi sumber tersebarnya gosip murahan tentangmu. Lebih baik ia berkonsentrasi ke Malfoy, lebih cepat lebih baik. Dan saat itu ia menemukan sebuah cara. "Dengan satu syarat," ucap gadis Gryffindor itu dengan sebuah senyuman terpatri di wajahnya, "pinjamkan aku jubah milik ayahmu malam ini, dan aku akan melupakan segalanya."
Harry dan Ron saling bertukar pandangan heran, akan tetapi tak butuh waktu lama sampai pemuda berambut acak-acakan itu menganggukkan kepalanya, "baiklah."
Senyum Hermione semakin lebar saat mendengar jawaban sahabatnya, tunggulah Malfoy, pembalasan yang sangat manis akan menunggu dihadapanmu.
…
Hermione berharap tebakannya benar, kakinya kini sudah kesemutan menunggu sang pangeran Slytherin itu keluar dari pintu asramanya. Untuk kesekian kalinya ia memastikan bahwa kini semua bagian tubuhnya tersembunyi dengan sempurna di balik jubah milik ayah Harry. Tubuh gadis itu membeku saat mendengar pintu batu milik asrama Slytherin membuka. Hermione secara otomatis menahan nafasnya saat melihat seseorang keluar dari pintu batu itu. Rasa kaget gadis itu berubah menjadi kelegaan saat menyadari bahwa itu adalah sosok yang ia tunggu-tunggu sejak tadi, sang pangeran Slytherin, Draco Lucius Malfoy.
Hermione memutuskan untuk mencari tahu apa yang sedang dilakukan oleh sang pewaris kekayaan Malfoy itu, ia yakin Draco akan memanfaatkan tugasnya sebagai seorang Prefek untuk menyelinap ke perpustakaan di malam hari. Ia juga terkadang melakukannya. Oleh sebab itu ia meminjam jubah Harry, membuntuti Malfoy dan mencari tahu buku apa yang ia baca kemarin. Karena ia yakin, tingkah aneh Malfoy ada hubungannya dengan buku itu. Mungkin saja itu buku hitam mengenai dia yang namanya tak boleh disebut. Jika dugaannya benar, ia akan melaporkan hal ini pada Profesor McGonagall dan tertawa saat si ferret itu mendapatkan hukumannya. Ha, terdengar seperti rencana yang brilliant. Gadis itu mengikuti langkah Malfoy setelah sebelumnya, dengan berbisik ia mengucapkan mantera penyenyap ke sepatunya.
Malfoy berjalan dengan mantap, tanpa menyadari bahwa Hermione kini tengah membuntutinya. Ia berjalan ke arah ruangan tak terpakai yang ada di bawah tanah. Ia tak sengaja menemukannya saat melakukan patroli tahun lalu. Ruangan itu terletak agak jauh dari kelas ramuan maupun ruangan Profesor Snape. Bahkan kau harus masuk melalui pintu kecil dari kayu yang terletak di koridor lantai tiga jika kau ingin masuk ke ruangan itu. Oleh sebab itu Draco memutuskan untuk menggunakan ruangan itu untuk misi rahasianya.
Pemuda berambut pirang itu menoleh ke arah kiri dan ke kanan memastikan bahwa Mrs. Norris sedang tak berkeliaran dan tidak mengadukannya pada . Ia berjalan berhati-hati meniti anak tangga sebelum akhirnya menutup pintu masuk dan mengucapkan mantra agar ruangan menjadi terang.
Hermione menggigit bibirnya, menahan agar suara erangan tak keluar dari bibirnya saat Draco menutup pintu. Gadis itu sempat terkejut saat bukannya menuju ke arah perpustakaan ia malah menuju ke koridor lantai tiga. ia bertambah terkejut saat melihat pemuda itu membuka pintu menuju ke ruangan bawah tanah. Selama tujuh tahun ia mendiami Hogwarts, ia berani bersumpah bahwa ia tidak pernah menemukan ruangan itu sebelumnya. Gadis itu mengutuk saat Malfoy justru memilih moment keterkejutannya dengan menutup pintu itu tepat sebelum ia ikut masuk bersamanya kedalam ruangan. Menimbang beberapa saat, akhirnya ia memutuskan untuk melontarkan mantra penyenyap sebelum membuka pintu dan menyusup masuk ke dalam ruangan. Nafas gadis brunette itu tertahan saat ia memasuki ruangan. Ia melihat sebuah meja panjang berisi berbagai botol dan sebuah kuali, dimana kini nampak Malfoy sedang memasukkan sesuatu kedalamnya. Dengan perlahan, ia mencoba untuk mendekati musuh sejatinya itu.
Draco sedang memasukkan mata kalajengking merah ke dalam kuali miliknya, berusaha menyempurnakan ramuannya seperti malam-malam sebelumnya. Ia mengeratkan pegangannya pada pengaduk kuali saat mengingat malam-malam kegagalannya. Doby sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda bahwa ramuannya berhasil. Sudah satu tahun, dan ia tidak mengalami kemajuan sama sekali. Pemuda itu sedang memutuskan untuk memanggil Doby atau Empy─peri rumahnya yang lain, saat matanya menangkap cahaya yang masuk dari arah luar. Seingatnya ia sudah menutup rapat pintu itu, agar Mrs. Norris tak mengendusnya. Rahang pemuda itu mengeras saat matanya melihat pergerakan di dekat kursi di sudut ruangan
"Stupefy!"
BRAKKK
Terdengar suara entakan yang cukup keras, menandakan bahwa sesuatu telah menghanam dinding dengan lumayan keras. Pemuda itu mendekati 'sesuatu' yang sepertinya kini tergeletak di dekat dinding dia menggunakan kakinya untuk menyingkap sesuatu, dengan tongkat tetap teracung di depan.
"Granger," ucap Draco saat mendapati sosok Hermione yang kini terbaring pingsan. Pemuda itu menatap tubuh Hermione dengan dingin. Gadis itu membuntutinya, dan kini ia tahu ruangan rahasia miliknya. Nampaknya sebuah crucio tak cukup membuat sang Gryffindor menyerah dan berhenti mencampuri urusannya. Draco sedang memikirkan bagaimana cara dia mengatasi gadis itu, saat sebuah ide mucul dalam benaknya.
Draco mengambil sebuah tabung kecil dan mengisinya dengan cairan yang berada di dalam kuali. Saat tabung itu terisi penuh, pemuda itu melangkah mendekati sosok Hermione yang masih belum sadarkan diri. Pemuda berambut pirang itu berjongkok, dan menyentuh rahang sang gadis, hingga bibirnya terbuka. Sebuah seringai terpatri di wajahnya saat tangannya memiringkan tabung yang dipegangnya-membuat ramuan yang dibuatnya mengalir masuk ke dalam mulut dan kerongkongan sang gadis. Yah, kehilangan seorang Granger bukanlah hal yang besar, bukan?
Hermione membuka matanya dengan perlahan. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya saat merasakan pandangannya terasa kabur. Tubuh gadis itu membeku saat melihat sosok Draco Malfoy melihatnya dengan tatapan meremehkan. Gadis itu mengumpat kesal, ia akan membuat pemuda itu menyesal. Saat ini juga. Dengan cepat gadis itu mengambil tongkat yang tersembunyi di kantong jubahnya dan mengacungkannya ke arah Malfoy.
"Expelliarmus!" mata Hermione terbelalak saat tidak ada cahaya yang memancar dari tongkatnya, dan sang Malfoy tetap berdiri angkuh didepannya. "EXPELLIARMUS!" Keringat dingin mulai mengalir di punggung gadis brunette itu. Wajahnya memucat saat menyadari apa yang terjadi, ia tak lagi merasakan aliran hangat saat ia melakukan sihir seperti biasanya. Ia tak merasakan apapun. Hermione Granger kini kehilangan kekuatan sihirnya. Dan ia yakin sepenuhnya, bahwa pemuda yang ada didepannya bertanggung jawab atas hal yang menimpa pada tubuhnya. Draco menyeringai saat melihat apa yang baru saja terjadi. Ia menggenggam batu berwarna merah darah yang sedang dipegangnya. Seperti dugaannya misinya berhasil.
-TBC-
a.n: Maaaaaf atas keterlambatan fict ini… *bungkuk-bungkuk, aku sudah berusaha sebisa mungkin buat ngeupdate fict ini, tapi apa boleh buat, sifat males ngetik itu sangat teramat susah untuk dilupakan…. Oh ya, dengan fict ini, bagi kalian yang penasaran dengan misinya Draco kalian pada sadar kan? Yap.. ini ida misinya JENG JENG JENGGG! Haha, udah pada nebak ya? Maaf ya, kesannya gampang ditebak banget. Ah, aku berterima kasih buat kalian yang udah nyempatin buat review di chapter sebelumnya.
Makasih buat Turugi De Lelouch, SlytherSoul d'Malfoy, Rie Star, Silver Doellet, Sakura Dancer, Zecka S. B. Fujioka, WatchFang, khoirunnisa740, rereristania, Minri, echiprwth, Feltson, Widarsi, Adisi Malfoy, Nana Bodt, cacavvv92, La la la dramione, Riicha, mionio, sera, dan My sister is Hermione.
Makasih banget buat review, saran, dan concrit kalian. Semuanya sangat membangun…. Dan makasih ya buat Minri yang sampe ngereview 2 kali buat chappie kemarin, dan terima kasih buat para silent reader dan para faver serta follower. #terharu
Last, Please gimme your comment, review, or flame about this chapt. Really appreciate it.
Sign, Putri.
