"Expelliarmus!" mata Hermione terbelalak saat tidak ada cahaya yang memancar dari tongkatnya, dan sang Malfoy tetap berdiri angkuh didepannya. "EXPELLIARMUS!" Keringat dingin mulai mengalir di punggung gadis brunette itu. Wajahnya memucat saat menyadari apa yang terjadi, ia tak lagi merasakan aliran hangat saat ia melakukan sihir seperti biasanya. Ia tak merasakan apapun. Hermione Granger kini kehilangan kekuatan sihirnya. Dan ia yakin sepenuhnya, bahwa pemuda yang ada didepannya bertanggung jawab atas hal yang menimpa pada tubuhnya. Draco menyeringai saat melihat apa yang baru saja terjadi. Ia menggenggam batu berwarna merah darah yang sedang dipegangnya. Seperti dugaannya misinya berhasil.
The Dark
Harry Potter belong's to JK Rowling
Canon AR, no Voldy, no War, alur lambat
Still For You Niss…
Hermione menatap horror ke arah Draco Malfoy, entah mengapa ia merasa bahwa kondisinya saat ini berkaitan dengan senyum sinis yang terpatri di bibir pemuda platina itu.
"Kau… apa yang telah kau lakukan padaku?" Draco tersenyum mengejek ke arah Hermione. Pemuda itu memasukkan batu berwarna merah darah ke dalam saku jubahnya.
"Bukankah terlebih dahulu kau harus meminta maaf padaku Granger?"
"Meminta maaf pa— JANGAN MENDEKAT!" seru Hermione saat Draco melangkah ke arahnya. Pemuda itu mengangkat sebelah alisnya dan menyeringai.
"Takut, Granger?" Hermione tanpa sadar menggigit bibirnya. "Kupikir selain terkenal karena kebodohannya, Gryffindor juga terkenal dengan keberanian mereka. Akan tetapi melihatmu, sepertinya dugaanku benar. Keberanian hanya… sebuah sanjungan yang terlalu tinggi untuk Gryffindor. Kalian tak lebih dari sekumpulan orang bodoh. Kurasa kalian bisa bergabung dengan Hufflepuff."
Genggaman tangan Hermione semakin mengerat pada tongkat anggur miliknya. Jemari tangan gadis itu memutih, dan bahkan buku-buku tangannya terasa kaku karena kuatnya ia menggenggam.
"Tenanglah Granger, aku tidak akan melemparkan kutukan pada seorang… mudblood yang kini bahkan telah kehilangan kekuatan sihirnya. Kau kini sama tak berharganya dengan muggle bodoh yang tak tahu apa-apa." Ujarnya dengan nada mencemooh. Hermione tak melewatkan nada merendahkan sang pewaris Malfoy itu saat mengucapkan kata mudblood dan muggle.
Wajah gadis itu semakin memucat saat menyadari maksud ucapan Malfoy. Pemuda itu tahu bahwa kini ia tak bisa lagi mengeluarkan sihirnya. Sepertinya dugaannya benar, jika pemuda itu tahu bahwa kini ia tak bisa lagi menggunakan kekuatan sihirnya, maka tak diragukan lagi. Pemuda itu penyebab ia kehilangan kekuatannya, meskipun ia tidak tahu bagaimana caranya. Selama ini ia tak pernah mendengar—atau bahkan membaca tentang seorang penyihir yang tiba-tiba saja kehilangan kekuatan sihirnya.
Batu merah itu! Ia yakin, bahwa ini semua ada kaitan antara hilangnya kekuatan sihirnya dengan batu merah yang tadi pemuda itu masukkan ke dalam saku jubahnya.
"Batu itu! Pasti ini ada hubungannya dengan ba—"
"Tsk tsk tsk… sudah kubilang padamu Granger, bukankah terlebih dahulu kau harus meminta maaf padaku karena telah mengikutiku secara diam-diam? Kuingatkan padamu Granger, jika kemarin aku berbaik hati padamu, dengan hanya melemparkan sebuah kutukan kecil, tidak berarti aku hanya akan melakukan hal yang sama saat ini. Aku tidak sebaik itu."
Hermione tak pernah meragukan sisi keberanian yang ada di dalam dirinya, bagaimanapun ia adalah seorang Gryffindor. Akan tetapi saat mendengar ucapan dingin yang keluar dari bibir Malfoy, ia merasa tubuhnya bergetar karena rasa takut. Kutukan kecil… Crucio?
"Ak… tidak akan, dalam mimpimu sekalipun breng—" ucapan Hermione terhenti saat tubuhnya merasakan rasa sakit yang luar biasa. Crucio? Tidak… rasanya lebih sakit dibandingkan dengan crucio yang pernah Malfoy lontarkan padanya beberapa hari yang lalu. Dagingnya terasa seperti disayat-sayat, dan tulang-ulangnya seperti dipatahkan secara paksa. Hermione tak bisa berfikir kutukan apa yang dilontarkan Malfoy padanya, apakah ini jenis kutukan baru atau mungkin ini hanya kutukan crucio biasa, tetapi karena kini ia tak memiliki kekuatan sihir, maka kutukan itu bekerja berkali lipat pada tubuhya? Ia tidak tahu, lagipula Malfoy tidak mengucapkan mantra apapun saat tiba-tiba saja ia merasakan rasa sakit ini. Sihir-tanpa-tongkat! Mustahil! Pemuda itu tidak mungkin menguasai sihir tingkat atas seperti itu.
Hermione bersusah payah berusaha menatap ke arah Draco Malfoy. Mata gadis itu bertatapan dengan mata dingin sang pewaris Malfoy.
"ARGHHHHH!" rasa sakit semakin ia rasakan, mau tak mau membuat ia menutup matanya dan menggemeretakkan giginya, tangan gadis itu bahkan mencegkram lengannya hingga membuat baju seragam yang ia kenakan terkoyak. Air mata tanpa terasa mengalir dari sudut matanya.
"—tikan… ku.. mohon… sa… kit… hiks… kumohon…" rintih gadis itu tanpa sadar. "Hiks… sakit…. Hentikan… hiks… maafkan aku…" tiba-tiba dengan sekejap rasa sakit tak ia rasakan lagi.
"Mudah bukan?" Hermione mendengar nada mencemooh dari ucapan Draco.
Jika saja ia masih memiliki tenaga, sedikit saja. Ia akan melontarkan makian pada pemuda sengak yang kini tengah duduk angkuh di atas sofa— nampaknya ia sempat mentransfigurasi kursi tua itu menjadi sofa nyaman berwarna hijau. tipikal Slytherin— tapi kini jangankan memaki pemuda itu, menatap tajam ke arah pemuda itu pun ia sudah tidak memiliki tenaga.
"Katakan, apa alasanmu sering membuntutiku akhir-akhir ini?"
"…."
"Atau benar yang dikatakan Potthead dan Weaselbee bahwa kau tertarik padaku?" tanyanya sinis saat tak mendapatkan jawaban dari Hermione.
"Hahahahahaha…" Draco menaikkan alisnya saat mendengar tawa lemah dari Hermione. "Kau terlalu besar kepala Malfoy. Lebih baik aku menghabiskan malam dengan McLaggen." Ujar gadis itu lemah, namun cukup jelas terdengar oleh Draco Malfoy.
Draco menatap gadis brunette yang terbaring tak berdaya hanya beberapa meter dari kakinya itu. Cormac McLaggen. Pemuda yang selalu mengejar-ngejar sang gadis. Sebenarnya Draco merasa tertarik dengan alasan mengapa tiba-tiba sang mudblood membuntutinya akhir-akhir ini. Bahkan sebuah kutukan crucio tak menghentikan gadis itu. Yah, tak jadi masalah baginya, lagipula berkat gadis yang kini terbaring itu, langkah pertama untuk mencapai tujuannya berhasil ia lakukan.
Draco memasukkan tangannya ke saku jubahnya, dan merasakan keberadaan batu berwarna merah darah.
"Tak jadi masalah, aku bisa membawakan McLaggen padamu besok." Mata Hermione membesar saat mendengar ucapan Draco. Ucapannya secara tak sengaja membuat Cormac dalam bahaya, mungkin. Ia tak tahu jalan pikiran Draco, apakah sang pemuda tengah bercanda, menyindir, atau bahkan mengancam?
"Jangan!" Ia tak tahu mana yang pemuda itu maksudkan, tapi ia tak ingin Cormac terlibat dalam urusan yang bahkan Hermione sendiri tidak tahu sedang terlibat.
"Takut penggemarmu terluka, Granger?" Ejek Draco sinis.
Pemuda berambut platina itu bangkit dari sofa dan melangkah ke arah Hermione. Pemuda itu menyeringai saat melihat tubuh Hermione berjengit saat melihat sosoknya yang mendekat.
"Tenanglah Granger." Draco memungut tongkat Hermione yang gadis itu lepaskan dari genggamannya saat kesakitan tadi dan memasukkannya ke dalam saku jubahnya. Pemuda itu tak mempedulikan pelotan Hermione dan justru melemparkan senyum arogan kepadanya.
"Kembalikan tongkatku, Malfoy." Draco menatap penuh ejekan ke arah Hermione.
"Tongkat penyihir merupakan barang yang langka. Mereka hanya merespon pada penyihir yang cocok dengannya dan mematuhinya."
"Aku ta—"
"Saat ini kau tidak memiliki kekuatan sihir Granger. Kau kini bukanlah seorang penyihir." Ucapan Draco membuat tubuh Hermione membeku.
Ia bukanlah penyihir… kekuatan sihirnya lenyap… ia bukanlah seorang penyihir.
Draco menyeringai saat melihat reaksi Hermione. Ia melambaikan tangannya ke arah meja yang penuh berisi peralatan ramuan dan dalam sekejap semuanya lenyap. Pemuda itu melangkah ke arah pintu keluar, dan menutup ruangan dengan mantra. Meninggalkan sang putri Gryffindor terkurung di dalam tanpa bisa berbuat apa-apa.
…
Harry dan Ron memandang ke sekeliling ruang kaca, dan tidak mendapati keberadaan Hermione. Tadi pagi mereka menunggu Hermione seperti biasanya sebelum sarapan di depan tangga yang menuju asrama putri, namun hingga waktu sarapan hampir habis pun, batang hidung Hermione tak kunjung kelihatan. Mereka memutuskan bahwa mungkin Hermione lebih memilih untuk langsung menuju ke kelas herbologi—setelah mereka juga tak menemui sahabat mereka itu di ruang makan— namun, betapa terkejutnya mereka bahwa hingga Proffesor Sprout muncul, Hermione belum muncul juga.
"Harry, apa kau tidak merasa aneh? Tidak mungkin Hermione membolos kelas herbologi. Ia bahkan tidak pernah membolos kelas ramalan, padahal ia sangat membenci Tralewney!" bisik Ron saat Proffesor Sprout tengah asyik membahas manfaat tanaman Dragon fire. Harry menganggukkan kepalanya, mengiyakan ucapan Ron.
"Apa kau pik—" ucapan Harry terhenti saat merasakan tatapan tajam yang diberikan Proffesor Sprout padanya. Bagaimanapun, Proffesor Sprout menempati urutan keempat pada list wanita yang ia takuti.
"Aku ingin kalian membentuk pasangan untuk membahas manfaat tanaman ini, dan berikan aku tiga buah ramuan yang berasal dari tanaman ini. Nilai ini akan menjadi nilai NEWT kalian di akhir tahun."
"Erm… professor?" Professor Sprout menatap ke arah Pansy yang menaikkan tangannya. Harry menaikkan sebelah tangannya, heran. Sepengetahuannya Pansy Parkinson tidak pernah mengangkat tangannya dalam pelajaran. "Proffesor, aku tidak memiliki pasangan. Draco tidak masuk hari ini." Ujar gadis berambut hitam legam itu. Selama kelas herbologi Draco, Malfoy menjadi partnernya. Professor Sprout mengernyitkan dahinya, seingatnya murid yang mengikuti kelas herbology berjumlah genap. Professor bertubuh gempal itu memandang ke arah murid-muridnya.
"Kau bisa berpasangan dengan Mr. Weasley." Ujar Proffesor Sprout saat melihat bahwa Ron juga tak memiliki pasangan. "Dan ingatkan Miss Granger dan Mr. Malfoy untuk datang padaku dan menjelaskan alasan mereka tidak masuk hari ini. Kalian bisa kembali." Ujar Proffesor Sprout sambil mengusir para murid dari ruangan kaca miliknya.
"Bloody hell Harry! Pansy! Aku tidak mau berpartner dengan—"
"Kau pikir aku mau berpartner denganmu Weasley? Jika tugas ini tidak mempengaruhi nilai NEWT ku, aku tidak mungkin mau berhubungan dengan seorang penghianat sepertimu, Weasley." Potong Pansy sinis. Gadis itu melihat Ron dengan tatapan mencela, nampaknya ia mendengar pembicaraan Ron dan Harry.
"Pansy, kita harus segera menuju ke kelas Ramalan sekarang jika ingin terlambat." Ujar Millicent mengingatkan. Pansy mendengus, namun ia melangkah meninggalkan Ron dan Harry, diikuti dengan Millicent Bulstrode di belakangnya.
"Kasihan sekali kau Pansy, harus berpartner dengannya. Akan tetapi aku juga harus berpartner dengan Goyle. Kau tahu kan seberapa bodohnya dia!" Pansy memutar bola matanya saat mendengar keluhan Millicent.
"Oh, aku lebih baik berpartner dengan Goyle, dibandingkan harus dengan si miskin berambut merah itu. Setidaknya Goyle berasal dari keluarga yang lebih baik." Ujar Pansy dengan nyaring, sengaja agar Ron mendengarkan ucapannya. Telinga Ron memerah. Ia melangkah menuju Pansy dengan lengan terkepal. Akan tetapi langkah pemuda berambut merah itu terhenti saat Harry menarik tangannya.
"Lepaskan aku Harry!" Harry tak bergeming meskipun Ron berusaha menyentakkan tangannya dengan keras.
"Ron, saat ini ada yang lebih penting. Kita harus mencari Hermione! Aku khawatir sesuatu telah terjadi padanya, dia tidak pernah membolos pelajaran sebelumnya!" Desis Harry penuh penekanan. "Apa?" Tanya Harry saat mendapati tatapan konyol yang diberikan Ron padanya.
"Bukankan kau dengar tadi, Harry?" Harry menatap Ron dengan bingung. Sahabatnya itu menghela nafas, sepertinya tidak sabar dengan cara berpikir Harry.
"Malfoy juga tidak masuk hari ini. Karena Hermione kini berpacaran dengannya, maka sudah pasti kini mereka tengah asyik berpacaran di suatu tempat. Ah! Hermione harus membayar ini! Aku rasa ia harus membantuku mengerjakan tugas aritmatika yang dikumpulkan lusa, bagaimanapun karena ia asyik berkencan aku harus berpartner dengan Pansy!" ucapnya dengan pelan, berharap Harry mampu mengerti pola pikirnya yang menurutnya jenius itu. "Ayo Harry!" Harry menatap Ron tidak mengerti, bukankah setelah kelas herbology mereka tidak ada jam pelajaran lagi? "Aku lapar, lebih baik kita ke aula besar sekarang sebelum aku pingsan karena kelaparan." Harry memutar bola matanya. Weasley dan selera makan mereka.
…
Ketika waktu makan siang hampir tiba, Draco yang tadinya sedang membaca di ruang kebutuhan memutuskan untuk kembali ke ruangan rahasia dimana ia membiarkan Hermione terkunci semalam. Meskipun ia tak peduli jika gadis brunette itu terkurung selamanya, ia tak bisa memungkiri bahwa ia tak bisa terus menerus mengurung Hermione. Cepat atau lambat para Proffesor akan menyadari ada yang aneh saat si anak kesayangan semua Proffesor—kecuali Proffesor Snape tentunya, Hermione membolos banyak pelajaran. Pemuda itu telah memikirkan beberapa hal untuk mengatasi hal ini, ia memutuskan untuk sedikit memprovokasi Hermione, sehingga gadis itu tak akan mengadukannya ke Dumbledore. Atau jika itu tidak berhasil, ia bisa memberikan kutukan imperius pada sang gadis brunette. Draco menyeringai.
Ah tidak, sebisa mungkin ia ingin agar rencana awalnya tetap berhasil, kejadian tadi malam justru membuatnya mendapatkan ide yang cemerlang untuk mencapai tujuannya, dan itu hanya akan bisa berhasil jika kutukan imperius tidak dilibatkan di dalamnya.
Hermione mengerjap-ngerjapkan matanya, sepertinya semalam ia bermimpi buruk. Gadis itu mengamati kondisi di sekitarnya dan seketika rasa bingung menyergap dirinya. Ruangan ini bukanlah kamar asrama miliknya. Gadis itu mengerang saat tubuhnya merasa sakit di beberapa bagian. Saat itu ia tersadar bahwa apa yang dianggapnya mimpi buruk benar-benar telah terjadi tadi malam. Ia membuntuti Malfoy, kekuatan sihirnya hilang dan mungkin itu ada hubungannya dengan batu merah yang disimpan Malfoy di dalam saku jubahnya, serta ia yang akhirnya pingsan karena setelah pemuda platina itu memberinya kutukan.
Hermione mengigit bibirnya, menahan rasa sakit di tubuhnya saat ia berdiri. Gadis itu dengan sedikit tertatih-tatih berjalan menuju pintu ruangan,
"Malfoy brengsek!" Umpatnya saat mendapati pintu ruangan itu terkunci. Gadis itu mengamati ruangan rahasia milik Malfoy untuk pertama kalinya. Ruangan ini hanya memiliki satu pintu keluar, tanpa jendela ataupun ventilasi, meskipun begitu ruangan ini tidak lembab, mungkin Malfoy memantrainya. Melihat kondisi ruangan ini, ia yakin bahwa ruangan ini sebenarnya terletak di bawah tanah.
"Aku harus keluar sebelum Malfoy datang," gumam Hermione. Entah bagaimana ia yakin, bahwa Malfoy akan kembali datang ke ruangan ini untuk mengurusnya. Mungkin Malfoy akan membunuhnya lalu membuangnya di Danau menjadi santapan para mermaid, atau ia dibunuh kemudian mayatnya dibuang di hutan terlarang dan menjadi santapan para werewolf. Tunggu, kenapa semua harus berakhir dengan ia yang dimakan para satwa gaib sih? Hermione menggeleng-gelengkan kepalanya, ia harus berpikir optimis. Lebih baik ia menyusun rencana sebelum pemuda berambut platina itu kembali.
Hermione berjalan menyisir ruangan, kakinya berusaha merasakan keberadaan jubah gaib milik Harry, mungkin ia bisa menyusup secara diam-diam ke pintu ruangan saat Draco datang nanti. Gadis itu mendesah lega saat merasakan kakinya menyentuh sesuatu. Bagus, kini hanya perlu mencari sesuatu yang bisa dijadikannya senjata untuk berjaga-jaga, mungkin seperti batu berukuran sekepalan tangan sehingga ia bisa melemparkannya ke kepala Malfoy saat pemuda itu datang nanti. Hermione berdecih saat menyadari bahwa ruangan itu hanya memiliki sebuah sofa nyaman berwarna hijau di dalamnya. Ia tidak mungkin menjadikan sofa berat itu sebagai senjata, baagaimanapun ia hanyalah gadis biasa, ia tidak mungkin bisa mengangkat sofa seberat itu sendirian, apalagi melemparkannya ke kepala Malfoy. Saat Hermione sedang memikirkan sesuatu yang bisa ia jadikan senjata, terdengar suara pintu ruangan yang dibuka. Malfoy sudah kembali.
Refleks gadis itu langsung menyelubungi tubuhnya dengan jubah gaib milik Harry.
Draco membuka pintu ruangan, dan langsung menutupnya kembali. Pemuda itu menaikkan sebelah alisnya saat mendapati ruangannya kosong. Ia sangat yakin bahwa gadis itu kini sudah kehilangan kekuatan sihirnya, oleh sebab itu mustahil ia membuka pintu yang telah ia mantrai itu. Kalau begitu….
Pemuda itu menyusuri ruangan dengan pandangannya, sebuah seringai terpatri di bibirnya saat mendengar sedikit suara dari sisi kiri tubuhnya.
"Kau tak akan bisa keluar dari ruangan ini Granger, lagipula aku tahu kau ada dimana." Ujar Draco sambil melangkah ke arah Hermione. Gadis brunette itu menahan nafasnya, saat melihat Draco melangkah ke arahnya. Tidak mungkin Malfoy bisa melihat dirinya saat ini, ia sedang menggunakan jubah gaib Harry. Pasti ia hanya membual dan kebetulan saja ia melangkah ke ar—
SREET
Mata Hermione terbelalak saat Malfoy menarik jubah gaib yang menutupinya, memperlihatkan sosoknya. Reflex gadis itu melangkah menjauhi Malfoy dengan jubah gaib yang masih berada di tangannya. Pemuda itu nampaknya tertarik dengan jubah gaib milik Harry, ia mengamati jubah itu dengan seksama. Tadi ia sudah menggunakan manta revearo, seharusnya sosok Hermione terlihat meskipun ia menggunakan jubah gaib itu. Hal ini berarti jubah gaib yang kini ia pegang berbeda dengan jubah gaib yang pernah ayahnya berikan saat ia masih kecil dulu.
"Jubah yang menarik Granger," ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya dari jubah yang sedang ia pegang.
"Kembalikan jubah itu, Malfoy!" desis Hermione. Draco meilirik ke arah Hermione yang kini semakin merapat dengan dinding ruangan. Pemuda itu tertawa sinis, ia mendudukkan dirinya di sofa hijau yang ada di tengah ruangan.
"Ambillah." Ucap pemuda itu sambil meletakkan jubah gaib itu di sebelahnya.
Hermione melirik ke arah Draco, ia melihat pemuda itu duduk dengan nyaman di sofa dengan tangan diletakkan di sandaran sofa, wajah pemuda itu tersenyum meremehkan, seolah berpikir bahwa ia tidak berani mengambil jubah gaib yang tergeletak disampingnya. Memang benar sih….
"Takut, Granger?" ejek pemuda itu saat melihat Hermione sama sekali tak bergerak dari tempatnya. Jiwa Gryffindor Hermione bangkit, gadis itu mengepalkan tangannya dan berjalan ke arah Draco Malfoy, saat tangannya hendak mengambil jubah gaib yang tergeletak di samping Malfoy, tiba-tiba saja jubah itu menghilang.
"Ah, setelah kupikir lagi sepertinya aku ingin meminjamnya sebentar lagi," seringai Draco. Hermione menggemeretakkan giginya.
"Kembalikan sekarang Mafoy, atau—"
"Atau apa Granger? Kau kini kehilangan kekuatanmu," ucap Draco sambil memandang Hermione remeh.
"Atau aku akan meninju wajah cantikmu." Jawab Hermione penuh emosi. Draco menaikkan sebelah alisnya, dan tertawa sinis. Hermione tiba-tiba merasa dunianya berputar, saat tiba-tiba saja, entah bagaimana kini tubuhnya berbaring di sofa dengan Draco berada dibagian atasnya. Mata gadis itu membelalak saat merasakan cengkraman yang kuat di lehernya.
"Kuberitahu, tanpa sihir pun aku bisa membunuhmu, Granger." Ujar Draco penuh penekanan. Hermione berusaha melepaskan cengkraman Draco dari lehernya, akan tetapi cengkraman pemuda itu di lehernya justru semakin menguat.
"Uhuk… le... lepash… uhuk…" Tiba-tiba saja Draco melepaskan cengkramannya dan kembali duduk dengan nyaman di sofa. Ia melambaikan tongkatnya ke arah pintu ruangan dan tiba-tiba saja pintu itu terbuka.
Hermione memegang lehernya yang terasa nyeri. Gadis itu menatap ke arah Draco dan pintu ruangan dengan bingung.
"Kenapa? Bukankah kau ingin kembali ke asramamu, Granger?"
"Apa maumu Malfoy?" Geram Hermione. Ia tidak mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh sang pewaris Malfoy ini, sedetik yang lalu ia mencekiknya, dan detik kemudian dengan sangat baik hatinya ia berniat melepaskannya. Ia pasti sedang merencanakan sesuatu. Gadis itu melirik ke arah Draco Malfoy, yang kini justru mengambil sebuah buku dari dalam sakunya dan mulai membaca. Dengan posisi kaki yang disilangkan, tubuh yang menyandar, dan buku yang hanya ia pegang dengan menggunakan tangan kanannya, sedangkan tangannya yang lain ia sampirkan di sandaran sofa, menunjukkan bahwa seolah-olah pemuda itu tak menganggap kehadirannya di ruangan itu lagi.
"Aku akan melaporkanmu ke Proffesor Dumbledore," ucap Hermione sambil melangkah ke arah pintu keluar. Ia tidak tahu apakah ini tipuan atau tidak, tapi ia tak bisa menyia-nyiakan begitu saja saat pintu ruangan itu terbuka mengingat entah kapan si ferret itu kembali membukanya.
"Oh tidak, kau tidak akan melaporkanku, tidak ada yang terjadi semalam." Jawab Malfoy tanpa mengalihkan tatapannya dari buku yang sedang dibacanya. Langkah Hermione terhenti saat mendengarkan ucapan Draco.
"Kalau kau lupa Malfoy, kekuatan sihirku hilang!" desis Hermione tajam.
"Dan kau tidak memiliki bukti bahwa aku yang menghilangkannya. Aku hanya seorang murid kelas 7, Granger. Kau pasti berkhayal jika aku memiliki kemampuan menghilangkan kekuatan sihir seorang penyihir, apalagi jika dia merupakan penyihir tercedas di Hogwarts." Hermione mengepalkan tangannya.
"Tongkatku—"
"Berada di kantung jubahmu." Hermione memasukkan tangannya ke dalam saku jubahnya dan terkejut ketika entah bagaimana caranya, tongkatnya memang berada disana. Gadis itu menatap Draco dengan geram, dengan emosi ia kembali melangkah menuju ke luar ruangan, nampaknya Draco serius melepaskannya.
"Ah, dan Granger, terima kasih sudah memuji wajahku," ucap Malfoy saat Hermione telah berada di luar ruangan.
BRAK!
Hermione membanting pintu dengan penuh emosi.
Brengsek!
TBC
a.n: Tanpa terasa fict ini sudah ku anggurin hampir satu tahun, aku yakin diantara para readers yang dulu baca fict ini, banyak yang sudah lupa apa fict ini. Maaf untuk itu…, dan karena sudah lama sejak aku terakhir membuat fict, aku yakin feel chapter ini berantakan, atau bahkan terasa hambar. Maafkan aku untuk itu. Terkait dengan itu, aku ingin meminta saran dan tanggapan kalian, apakah fict ini menurut kalian sudah terasa darknya? Atau kalian ingin memberikan saran agar sisi darknya lebih terasa?
Makasih buat WatchFang, Tsurugi De Lelouch, Riri 26, Hikari Ciel, kazuki kaeruko, green, Rise star, pinky kyukyu, Guest, SlytherSoul d'Malfoy, Roinette Viole Malfoy, Rirrin nanda, Hikari Rhechen, Ryoma Ryan, Parinza ananda, mochi, SalsaLolly, selvinakusuma1, hana, dderamie, jihan, 3, bubbleshen.
Makasih banget buat review, saran, dan concrit kalian. Semuanya sangat membangun…. Dan maaf karena updatenya lama banget…
Untuk Roinette Viole Malfoy, Maaf kemaren salah nulis pennamenya yaa….
Last, Please gimme your comment, review, or flame about this chapt. Really appreciate it.
Sign, Putri.
