Hermione melangkah dengan gusar, langkah gadis itu terhenti saat ia sudah berada cukup jauh dari ruangan dimana Malfoy berada. Ia menatap tangannya yang gemetaran, tadi ia bertingkah dengan cukup berani karena emosi yang luar biasa ia rasakan pada pemuda blonde itu. Tapi kini saat pemuda itu tak ada lagi di depannya, tubuhnya bergetar dengan hebat.

BLUKH…

Tanpa ia sadari kakinya melemah dan tak sanggup menopang tubuhnya karena bergetar dengan hebatnya. Ia takut. Seluruh sel-sel di dalam tubuhnya merasa takut. Hermione menutup matanya, nampak lelehan air mata mengalir di pipinya. Ia sangat takut.

The Dark

Harry Potter belong's to JK Rowling

Canon AR, no Voldy, no War

Still For You Niss…

Harry dan Ron berlari dengan kencang menuju ke asrama Gryffindor. Mereka berdua bahkan tidak mengacuhkan teriakan seorang prefek dari asrama Ravenclaw yang menyuruh mereka untuk tidak berlari di lorong.

Saat makan malam tadi, Parvati menghampiri mereka dengan peluh membanjiri wajahnya. Gadis itu mengatakan bahwa seorang murid kelas tiga menemukan Hermione dengan kondisi yang mengkhawatirkan di sebuah lorong sepi. Gadis itu menolak saat akan dibawa ke Madam Pomfrey dan lebih meminta untuk diantaran ke asrama Gryffindor. Meskipun Hermione menolah dibawa ke Madam Pomfrey dan berkata bahwa kondisinya baik-baik saja, Parvati merasa kondisi Hermione sangat mengkhawatirkan, oleh sebab itu ia meminta kedua sahabat gadis itu untuk membujuknya agar mau memeriksakan dirinya.

Jika saja yang menemui mereka adalah Lavender, maka mereka akan tak mengacuhkan gadis itu dan tetap memilih untuk melanjutkan permainan catur sihir mereka—Kalian tahulah, Lavender gadis yang sedikit melebihkan segala sesuatu. Sedikit itu maksudnya banyak. Tapi ini Parvati. Gadis yang meskipun sedikit suka bergosip, ia memiliki sikap serius hampir sama seperti Hermione.

"DARAH NAGA!" seru Ron dan Harry secara bersamaan saat sampai di lukisan Nyonya gemuk, membuat wanita itu mengomel tentang anak muda jaman sekarang yang tidak bisa bersikap gentleman, tidak seperti para pemuda di masanya dulu. Harry, Ron, dan Parvati masuk ke dalam ruangan asrama dan mendapati kerumunan siswa di bersama. Nampaknya mereka sedang mengerubungi sesuatu di sofa.

"Kembali ke kamar kalian! Ini bukan tontonan!" Teriak Dean pada beberapa anak yang kebetulan tidak memiliki kelas sore ini.

"Dia disitu," ucap Parvati sambil menunjuk ke arah kerumunan itu dengan dagunya.

"Hermione?" Tanya Harry lembut saat berhasil melewati kerumunan siswa, dan menjumpai Hermione yang terduduk dengan wajah yang pucat. Tampak tubuh gadis itu bergetar karena sesuatu.

"Apa kalian tidak dengar apa yang Dean katakan? Ini bukan tontonan!" Harry mendengar Ron yang berteriak pada beberapa orang siswa yang masih mengerumuni Hermione dan tidak mengacuhkan ucapan Dean. Terdengar beberapa keluhan dari kerumunan siswa, akan tetapi akhirnya mereka pun pergi, menyisakan mereka bertiga serta Dean yang berjaga di dekat tangga, agar tidak ada siswa yang ingin tahu kembali ke ruang bersama.

"Hermione?" Harry melangkah mendekati sahabatnya, dan menyentuh tangan sang gadis, berniat menenangkannya. Pemuda berkacamata itu tersentak saat merasakan betapa dinginnya kulit Hermione.

"Kau dingin sekali. Dean, berikan aku selimut! Ah, dan tolong bawakan butterbeer!" ucap Harry. Dean tampak tergagap saat mendengar ucapan Harry.

"A— Aku tidak tahu apa mak—"

"Oh sudahlah! Bawakan butterbeer yang kau sembunyikan di bawah ranjangmu sekarang!" Sentak Ron saat jengkel dengan reaksi Dean. Pemuda berkulit hitam itu terkejut dan kemudian menaiki tangga dengan tergesa-gesa menuju kamarnya.

"Sebaiknya kami mengantarmu menemui Madam Pomfrey." Hermione menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Aku… aku tidak apa-apa." Harry menatap tubuh Hermione yang masih gemetar. Kondisi gadis itu jauh dari kata tidak apa-apa. "Aku— Aku hanya kedinginan, tadi aku berjalan keluar kastil tanpa menggunakan jaket." Harry memandang ke arah Ron. Kedua pemuda itu tahu bahwa sahabat mereka berbohong. Seorang Hermione tidak akan keluar kastil di pertengahan bulan Januari tanpa menggunakan jaket. Dia bukan Neville.

"Ini!" Perhatian kedua pemuda itu teralihkan saat Dean melangkah turun dari tangga dengan membawa selimut dan sebotol butterbeer di tangannya. "Kau tidak apa-apa Hermione?" Tanya Dean khawatir saat melihat wajah Hermione yang masih memucat.

"Tidak apa-apa. Aku hanya membutuhkan sedikit butterbeer untuk menghangatkan tubuhku, lalu semuanya akan baik-baik saja. Semuanya akan baik-baik saja." Hermione tersenyum lirih, berharap kedua sahabatnya percaya dengan perkataannya. Ia tidak ingin Madam Pomfrey tahu bahwa ia tak memiliki sihir. Apa yang dikatakan Malfoy benar. Tidak akan ada yang percaya padanya. Tidak jika ia tidak memiliki bukti apapun. Harry menyelimuti tubuh Hermione dengan selimut tebal, serta menyuruh gadis brunette itu untuk meminum segelas butterbeer untuk menghangatkan dirinya. Untuk saat ini ia tidak akan memaksa gadis itu untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Tidak saat ini.

Hermione tidak menyangka jika peristiwa tadi sore tidak begitu menjadi pembicaraan pada saat sarapan. Berdasarkan sapaan Lavender yang secara tidak sengaja bertemu dengannya saat akan menuju ke aula untuk sarapan, nampaknya Harry dan Ron mengatakan bahwa itu kecerobohan Hermione karena lupa menggunakan jaket saat mencari mereka berdua di luar bangunan kastil. Gadis itu tersenyum tipis. Ia tahu bahwa Ron dan Harry tidak mempercayai ucapannya sedikitpun tadi sore. Tapi mereka berusaha meyakinkan yang lainnya agar tidak timbul kecurigaan. Terkadang ia lupa betapa ia mencintai kedua sahabatnya itu.

"Terima kasih," ucap Hermione saat duduk di sebelah Harry dan Ron yang sedang memakan sarapan dengan lahap. Kedua sahaatnya menatapnya dengan heran, Hermione terkekeh kecil.

"Tweyima kasi 'tuk apa?" Hermione mengernyit saat Ron berbicara dengan mulut penuh, ia hendak mencela Ron saat tiba-tiba Harry bertanya padanya.

"Kau sudah merasa baikan?"

Hermione menganggukkan kepalanya, "sudah kukatakan, kemarin aku hanya merasa kedinginan." Gadis itu menuangkan jus labu ke piala miliknya saat tidak sengaja bertatapan dengan Draco. Bayangan tentang kejadian kemarin tiba-tiba terlintas di benak gadis itu. Tubuh Hermione gemetar. Tanpa ia sadari piala yang dipegangnya terlepas sehingga membuat jus labu yang ada di dalamnya terbuang membasahi meja makan, membuat orang disekitarnya termasuk kedua sahabatnya menatapnya dengan heran. "Aku—aku kenyang, sebaiknya aku kembali ke asrama." Hermione meninggalkan kedua sahabatnya tanpa menunggu jawaban dari mereka berdua. Harry mengamati Draco Malfoy. Tak luput dari perhatiannya akan sikap Hermione yang berubah menjadi aneh saat secara tidak sengaja bertatapan dengan pemuda blonde itu.

"Ron, nampaknya aku tahu siapa yang bisa menjelaskan apa yang terjadi pada Hermione kemarin." Ron menatap Harry bingung. "Malfoy." Tatapan Ron mengarah ke Draco yang tatapannya kini sedang mengikuti Hermione.

"Kau benar."

Draco mengetukkan jarinya di meja makan. Ia memikiran tentang langkah selanjutnya yang akan dilakukan terkait dengan rencananya. Dua hari yang lalu penelitiannya menunjukkan perkembangan. Tahap pertama dari rencananya sudah berhasil. Meskipun itu memakan waktu yang cukup lama tapi itu setimpal dengan apa yang berhasil ia dapatkan saat ini. Tangan pemuda itu meraba saku jubah miliknya dan menyeringai saat merasakan batu berwarna merah ada di dalamnya. Inti dari kekuatan sihir. Tak peduli meskipun itu inti sihir dari seorang mudblood sekalipun. Ah, bahkan itu lebih baik. Inti sihir seorang mudblood, seorang Hermione Granger.

Pemuda itu memejamkan matanya. Ia masih memerlukan Hermione. Tapi mengingat apa yang terjadi kemarin akan sulit untuk melibatkan gadis itu. Pemuda itu membuka matanya dan secara tidak sengaja melihat sosok Hermione Granger masuk ke dalam aula. Wajah gadis itu tampak sedikit pucat. Ia masih mengamati gadis brunette itu saat secara tidak sengaja Hermione menatap ke arah meja Slytheryn, ke arahnya. Mata gadis itu membelakak dan wajahnya semakin memucat. Ekspresi gadis itu seperti melihat sebuah mimpi buruk yang menjadi kenyataan. Sebuah seringai terpatri di wajah Draco. Nampaknya meskipun kemarin gadis itu tampil dengan berani, ia masih merasa takut padanya.

Ah, Granger dan ketakutannya. Tak ada yang lebih baik dari ini semua.

Pemuda itu menikmati sarapannya saat merasakan sebuah tepukan di bahunya. Ketika menoleh, ia mendapati Harry dan Ron tengah menatapnya tajam.

"Kami ingin berbicara denganmu."

"Aku sedang sarapan Potter." Jawab Draco datar, dan tetap melanjutkan sarapannya.

"Ini tentang Hermione." Gerakan tangan Draco berhenti saat mendengar ucapan Harry, pemuda itu kini merasakan beberapa tatapan anak-anak Slytheryn ke arah mereka.

Granger memberi tahu mereka huh?

"Ikuti aku." Ucap Draco sambil beranjak dari tempatnya. Ia melangkah ke luar aula diikuti oleh Harry dan Ron. Pemuda itu bisa merasakan tatapan anak-anak di aula pada mereka. Draco tak peduli. Ia tak peduli asalkan rencananya tidak terganggu. Draco membawa mereka berdua ke sebuah lorong sepi. Pemuda itu mendesekapan tangannya dan menyandarkan tubuhnya di dinding. Ia menatap dingin ke arah Harry dan Ron, "katakan."

Ron dan Harry saling memandang, agak ragu sebelum akhirnya Harry berdeham.

"Ini tentang Hermione."

"Kalian sudah mengatakannya tadi." Harry menatap Draco sebal. Sepertinya ia harus memikirkan kembali apakah ia akan memberi restu atau tidak pada hubungan Hermione dengan pemuda pirang di depannya ini.

"Kemarin sore seorang anak kelas tiga menemukannya di sebuah lorong dengan kondisi yang memprihatinkan." Draco menatap bosan ke arah harry dan Ron. "Wajahnya sangat pucat dan seluruh tubuhnya gemetaran karena sesuatu."

"Lalu? Apa hubungannya denganku?"

"Kemarin kalian berduaan di bagian tersembunyi kastil. Tentu saja itu pasti ada hubungannya denganmu!" Sembur Ron yang sejak tadi merasa sebal dengan tingkah pongah yang ditunjukkan Draco.

"Dia berkata seperti itu?"

"Tidak. Tapi kami tahu. Anggap saja begitu." Draco mengerutkan keningnya. Harry berkata seolah dia yakin dengan pasti. Pemuda itu tak mungkin membuntutinya, jika ia tahu ia pasti akan lari menerjang dan melindungi sahabatnya. Itu berarti ia tahu bahwa mereka bersama tanpa melihat apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin itu sebuah benda ajaib, sama seperti jubah gaib yang dibawa Hermione kemarin yang hanya bisa menunjukkan dimana ia dan Hermione berada, karena jika benda itu bisa menampilkan mereka berdua, ia yakin sat ini Harry dan Ron pasti sudah melemparinya dengan berbagai kutukan.

Menarik.

"Sudahlah Harry! Tak perlu basa-basi. Apa kau memutuskan Hermione?" Draco mengedipkan matanya secara tak sadar. Ia tahu bahwa kecerdasan pemuda berambut merah yang ada di depannya ini dibawah rata-rata, tapi ia tidak menyangka bahwa ia begitu idiot. Sangat idiot.

"Memutuskan Granger?"

"Iya, dengar. Jika kau memutuskannya karena gosip yang menyebar diantara kalian, itu bukan salah Hermione—" Draco menaikkan alisnya. ia tidak menyangka jika hingga saat ini nampaknya kedua orang yang di depannya itu percaya bahwa ia dan Hermione memang menjalin hubungan percintaan. Dan kini entah bagaimana sepertinya mereka berpikir bahwa kondisi Hermione kemarin karena ia memutuskan hubungannya dengan sang gadis Gryffindor. "—itu, sebenarnya kami yang secara tidak sengaja menyebarkannya." Itu berarti Hermione tidak mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada kedua sahaatnya. Tanpa terasa sebuah senyum terpatri di bibirnya. Jika kondisi ini ia manfaatkan, ia bisa melibatkan Hermione dalam rencananya, dan tentu saja, ia bisa sekaligus mengawasi gadis itu tanpa mendapatkan kecurigaan dari seisi sekolah. Ah, sepertinya Merlin sedang tersenyum padanya. Semua rencananya tiba-tiba berjalan dengan mulus saat ini. Draco terkekeh kecil, pemuda itu berjalan meninggalkan kedua pemuda Gryffindor yang kini menatapnya dengan heran.

"Hei kau mau kemana? Dengar, kami minta maaf—"

"Aku ingin bertemu dengan Granger. Ingin meluruskan tentang kejadian kemarin. Nampaknya ia salah paham, aku tidak akan melepaskannya begitu saja hanya karena sebuah gosip murahan." Kedua wajah Harry dan Ron berubah menjadi sumringah. Mereka yakin kini kondisi Hermione akan jauh lebih membaik. Kedua pemuda itu berjalan di depan sang pangeran Slytheryn, membawanya ke asrama Gryffindor tanpa menyadari sebuah seringai yang kini terpatri di wajah Draco. Ia akan bertemu dengan Hermione Granger. Sang kelinci percobaannya.

Hermione mengurung dirinya di dalam kamar. Ia tidak menyangka bahwa tubuhnya bereaksi secara otomatis tanpa bisa ia cegah saat melihat Draco. Saat melihat sang pemuda, ilustrasi kejadian kemarin terputar begitu saja si otaknya. Ia takut.

Gadis itu membenci dirinya sendiri. Ia seorang Gryffindor, seorang Gryffindor bukanlah seorang penakut. Mereka dikenal dengan keberaniannya. Seharusnya saat melihat Malfoy di aula, ia menatapnya tajam, dan berprilaku bahwa ancaman pemuda itu tak berpengaruh apa-apa padanya. Tapi ia tak bisa membohongi dirinya sendiri.

Hermione melirik ke arah tongkat sihirnya yang terletak di sampingnya. Kekuatan sihirnya hilang. Benar-benar hilang. Tadi pagi ia sempat mencoba sihir mudah seperti Livitation. Tapi tidak berhasil. Ia merasa takut sekaligus frustasi.

"Hermione, kau tidak apa-apa?" Hermione secara refleks memasukkan tongkat sihirnya ke dalam saku celananya. Gadis itu menoleh ke arah pintu kamar dan mendapati Ginny kini tengah menatapnya dengan heran.

"Ah iya, aku hanya sedikit pusing."

"Oh, kalau begitu lebih baik kau istirahat saja. Aku akan memberitahu Harry, Ro—"

"Mereka ingin bertemu denganku?" potong Hermione. Ginny menganggukkan kepalanya.

"Mereka ada di ruangan bersama."

"Aku akan menemui mereka. Mungkin mereka khawatir karena aku pergi begitu saja saat sarapan tadi. Kau tidak akan mau membuat dua pria itu khawatir, kau ingatkan apa yang terjadi saat natal kemarin?"

Ginny terkekeh saat mengingat peristiwa yang terjadi saat itu, "kau benar."

Harmione beranjak dari atas kasurnya, merapihkan kaus yang ia pakai dan melangkah keluar kamar. Ia menuruni tangga dan sekilas mendengar Harry dan Ron berbicara dengan suara nyaring tentang kekhawatiran mereka karena ia tidak memakan sarapannya dan meninggalkan aula begitu saja dengan wajah pucat. Ia tersenyum, dugannya tepat.

"Tenanglah aku tidak ap—" ucapannya terputus saat melihat sosok yang ikut duduk di sofa bersama dengan dua sahabatnya. "Malfoy?" panggilnya dengan suara yang tercekat.

"Ah, Hermione! Lihat siapa yang kami bawa!" Ucap Ron dengan raut sumringah. Wajah Hermione memucat. Orang yang ia ingin hindari, kini justru ada di depannya—terima kasih untuk kedua sahabatnya.

Draco bangkit dari sofa berwarna merah, dan berjalan mendekati Hermione. Tubuh gadis itu menjadi kaku saat jarak antara ia dan pemuda blonde itu semakin berkurang.

"Potter dan Weasley menemuiku. Mereka ingin aku membuatmu merasa lebih baik." Sebuah seringai terbentuk di wajah Draco. Hermione melirik ke arah Ron dan Harry yang menatapnya dengan sebuah senyuman terpatri di wajah mereka.

Hermione refleks menarik tangannya saat merasakan sentuhan di tangannya. Sebelah alis mata Draco terangkat saat melihat reaksi Hermione ketika ia menyentuh tangan gadis itu.

"Ada apa Granger? Kau takut pada kekasihmu sendiri?" Hermione bisa merasakan tatapan aneh dari Ron, Harry dan beberapa anak Gryffindor yang secara kebetulan berada di ruang bersama.

"Aku bukan—" ucapan Hermione terpotong saat tiba-tiba saja Draco menarik pinggangnya, hingga tubuh mereka hampir menempel. pemuda itu mendekatkan bibirnya ke arah telinga Hermione, hingga gadis itu bisa mendengar desau nafas pemuda pujaan semua gadis Hogwarts itu.

"Ikuti aku jika kau masih ingin kekuatan sihirmu kembali." Bisik Draco pelan, sehingga hanya Hermione yang bisa mendengarnya. Tubuh Hermione menegang, dengan perlahan dia menganggukkan kepalanya.

Draco menarik wajahnya dan menunjukkan sebuah senyuman. Dengan perlahan tangan pemuda itu yang tadinya berada di pinggangnya kini telah memegang tangannya. Hermione menurut saat Draco menggiringnya menuju ke pintu asrama. Gadis itu menundukkan kepalanya saat mereka melalui lorong yang secara kebetulan berisi anak-anak kelas dua yang hendak menghabiskan akhir pekan mereka ke Hogsmeade. Ia bisa merasakan tatapan yang diarahkan padanya. Suara yang tadinya bising karena para siswa yang tidak sabar ingin membeli sesuatu di Honeydukes tiba-tiba senyap karena menyaksikan pemandangan seorang Draco Malfoy menggandeng Harmione Granger. Hermione merasa ini semua salah. Tidak seharusnya ia mengikuti Malfoy.

"Mal—"

"Tutup mulutmu, dan kembali berjalan." Desis Draco saat merasakan langkah Hermione terhenti. Draco mengamati sekitarnya saat merasakan tatapan yang ditujukan pada mereka. Pemuda itu menatap dengan tajam ke arah mereka, hingga membuat para siswa mengalihkan pandangan mereka dan kembali ke aktivitas sebelumnya. Draco hendak meraih tangan Hermione dan mengiring gadis itu kembali saat mendengar suara pekikan sumbang menyebut namanya.

"Draco!" Nampak dari jauh Pansy berlari dengan raut wajah penuh emosi. "Apa yang kau lakukan dengan— dengan mudblood sepertinya!" Rahang Draco mengencang. Ia sedang tidak ingin menghadapi Pansy saat ini.

"Pan—"

"Awalnya aku tidak percaya saat Daphne berkata kau sedang bersama dengan mudblood sepertinya." Pansy menatap jijik ke arah Hermione.

"Tidak sekarang Pans." Potong Draco dengan emosi tertahan. Disaat ia berpikir bahwa semuanya akan berjalan dengan lancar, kini muncul gangguan baru.

"Sebaiknya kau mengatakan padaku—" Hermione mencoba untuk melarikan diri disaat Draco sedang eralihkan oleh ocehan panjang Pansy, akan tetapi sayangnya tingkahnya tertangkap oleh Draco.

"Kau tidak akan pergi." Ucap Draco sambil menarik tangan Hermione, hingga tubuh mereka nyaris menempel.

"Apa yang—Draco!" Pansy terkesiap saat melihat interaksi antara Draco dan Hermione yang menurutnya terlalu intim.

"Seperti yang kau lihat Pansy, aku memiliki urusan yang lebih penting saat ini." Emosi terlihat dengan jelas di wajah Pansy. Gadis itu tidak percaya jika Draco merasa urusannya dengan si mudblood Granger lebih penting dibandingkan dirinya.

"Aku— aku akan memberitahu ibumu tentang hal ini!" Gadis itu memberikan tatapan tajam dan sekaligus mengancam ke arah Hermione, "lebih baik kau melihat sekitarmu saat berjalan sendirian Granger," ancam gadis itu sebelum akhirnya membalikkan badannya, dan berjalan dengan angkuh kembali ke arah dungeon. Draco mendengus melihat kepergian Pansy yang penuh dengan drama.

"Menggelikan," ucap pemuda itu pelan akan tetapi masih terdengar oleh Hermione. Draco kembali mengiring Hermione, gadis itu melihat sekitarnya dan menyadari kemana Draco akan membawanya. Ke ruangan rahasia tempat ia menyekapnya kemarin, ke sebuah ruangan tempat dimana Draco melakukan penelitian yang menurutnya berbahaya. Langkah gadis itu terhenti.

Draco menoleh ke arah Hermione saat merasakan langkah gadis itu terhenti, "le—lepas… lepaskan aku…." Ucap Hermione lirih, bahkan Draco tidak begitu jelas mendengarnya..

"Aku tidak mendengarmu Granger." Hermione menggigit bibirnya. Gadis itu menarik nafas, berusaha mengumpulkan keberanian miliknya sebelum akhirnya menarik tangannya dari genggaman Draco dan kemudian menatap lurus ke arah pemuda itu.

"Aku tidak akan menurutimu. Aku akan mendapatkan cara untuk mengembalikan kekuatanku sendiri. Oleh sebab itu aku ingin kau menjauh dariku. Jangan dekati aku, atau aku akan mengadukanmu pada McGonagle. Aku yakin dia akan percaya padaku." Ucapnya pelan tapi pasti. Draco menatap ke arah Hermione yang masih menatapnya dengan berani. Pemuda itu melirik ke sudut lorong sekilas, sebelum kembali menatap Hermione.

"Baiklah. Lakukan apa yang kau mau," ucap pemuda itu dengan sebuah senyuman mengejek terukir di wajahnya. Hermione merasa Draco memiliki rencana licik dibalik senyumannya, akan tetapi dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan pemuda itu.

Hemione membalik tubuhnya dan berlari kencang menjauhi Draco. Berlari tanpa menoleh ke arah pemuda itu yang kini tengah menatap kepergiannya dengan sebuah seringai terpatri di wajahnya.

"Larilah selagi kau bisa Granger. Larilah sebelum aku menangkapmu."

Hermione berhenti berlari saat perut bagian kirinya terasa sakit. Nafas gadis itu terengah-engah, tubuhnya tak sanggup lagi untuk berlari. Hermione menoleh ke belakang dan lega saat tidak mendapati sosok Draco Malfoy di belakangnya. Nampaknya pemuda itu memang melepaskannya untuk saat ini. Entah apa yang sebenarnya pemuda itu pikirkan. Hermione menggeleng-gelengkan kepalanya. Sekarang bukan saatnya untuk memikirkan itu, ia terlalu lelah dan takut untuk berfikir dengan jernih. Sebaiknya ia segera pergi dari lorong sepi ini dan kembali ke asrama Gryffindor. Ia yakin ia akan bisa berpikir dengan jernih di sana. Gadis itu kembali melangkah saat tiba-tiba saja kilatan berwarna merah menggores wajahnya. Hermione menyentuh pipinya dan mendapati darah yang mengalir cukup deras dari pipinya. Sudah ia duga, seharusnya ia tidak boleh mempercayai Draco Malfoy.

Gadis brunette itu membalikkan tubuhnya, bersiap menghadapi Draco yang mungkin kini menatapnya dengan tatapan meremehkan. Mata gadis itu terbelalak saat ternyata bukannya mendapati sosok Draco, ia justru mendapati Pansy yang tengah menatapnya tajam dengan mengacungkan tongkat miliknya tepat ke arah Hermione.

"Sudah kukatakan agar kau berhati-hati saat berjalan sendirian 'kan Granger?"

TBC

a.n:

Rasanya aku udah ga pantas lagi ya buat minta maaf… fict yang ini selalu lama kuapdate sih, hehehe. Tapi tetap aja, maaaf banget ya….

Untuk menjawab pertanyaan yang sering sekali ditanyakan. Ya, ini fict dengan genre Romance. Akan ada kisah romance nantinya antara Draco dan Hermione. Tapi mungkin tidak di beberapa chapter ini, mengingat sikap Draco yang tetap antipati dengan mudblood dan Hermione yang membenci—dan bahkan sekarang takut dengan Draco. Rasanya aneh kan, kalau tiba-tiba saja mereka jatuh cinta dengan kondisi seperti ini? Oleh sebab itu alur ini akan lambat, karena aku ingin menggambarkan perkembangan hubungan antara Draco dan Hermione sehingga bisa timbul romance diantara mereka. Jadi…. Sedikit sabar ya, hehehehe….

Last, Please gimme your comment, review, or flame about this chapt. Really appreciate it.

Love, Putri.