Chapter 4
Gloomy
London, 14 Februari 2001
Harry's POV
Pualam putih itu kini basah dengan guyuran hujan, aku masih terpaku diam memandang nanar bunga lily yang bersandar di nisanmu, Cedric Diggory suamiku telah menutup matanya dan menungguku dipersimpangan menuju surga. Aku masih berlutut di pusaramu, aku tak ingat berapa lama sudah aku di sini. Aku masih ingin menemanimu,masih ingin berbagi denganmu, masih ingin menjadi bagian dari hidupmu walau ku tahu kau akan tetap mencintaiku. Bendunganku jebol airmataku mengalir menuruni pipiku, apa yang harus kulakukan? Dia tak ada lagi, siapa yang akan menjadi temanku, kekasihku, dan ayah dari anak yang ada dalam kandunganku.
" Aku mencintaimu selalu dan selamanya Cedric," ucapku lirih
Aku masih terdiam diatas pusaramu,duduk mengadah melihat langit yang begitu sendu dengan awan kehitamannya. Aku menunduk membiarkan tubuhku basah dengan air hujan, kubiarkan menuruni setiap jengakal tubuhku. Aku menangis, histeris dan meronta sampai sepasang tangan memelukku dan mendekapku ke dadanya. Aku mengangkat kepalaku dan melihat manik abu-abu yang begitu hangat, surai platina yang basah karena hujan. Ya, dia Draco Malfoy, teman suamiku dan mantan rivalku.
"Tenang, aku ada di sini, sudah 3 hari kau disini, kau sudah lemas. Ayo kita pulang" ajaknya
"Aku tak bisa Malfoy, dia akan sendirian dan aku akan kesepian" isakku
"aku mengerti, tapi yakinlah Cedric juga sedih melihat keadaanmu jika begini terus. "
"Malfoy,"
"ayo kita pulang, kamu mau ke Spring End? Grimmauld Palace? Atu kemana?"
"The Burrow, Malfoy."
"baiklah, aku membawamu kesana"
Berapparate ke The Burrow tak butuh banyak waktu hanya butuh beberapa menit. Aku digandeng Malfoy memasuki halaman berjalan dibelakangnya menangis seperti seorang anak yang kehillangan mainannya. Dia mengetuk pintu.
" ? Mrs. Weasley? "
"Iya, sebentar." Teriak suara wanita tua yang tak salah lagi adalah
Pintunya terbuka, seorang wanita tua berambut merah dengan dress merah dan sebuah celemek menggantung di lehernya, keluar dan menyapa,
" Oh, , ada apa?" Tanya
" , aku membawa Harry. Dia 3 hari ini berdiam di makam Cedric dan tak pernah makan" Ucapnya sedikit berbisik
"Oh,Harry anakku. Aku turut berduka cita. Tapi kau harus bangkit nak. Lihat keadaanmu begitu buruk. Ayo masuklah, aku sedang memasak sup seledri dan roti Yunani." Ajak
"Masuklah Harry, kau butuh energi. Kau harus makan" ucapnya sambil mendorongku mendekati pintu.
" anda silahkan masuk juga, "
"terima kasih tapi saya harus kembali ke Kementrian secepatnya"
"baiklah, terima kasih telah mengantarkan Harry" kata sambil berbalik menuju ruang tamu.
" Iya, Mrs. Weasley saya pamit"
"Draco, terima kasih" ucapku dengan bibir yang bergetar
"Anytime, Harry" ucaapnya kemudia berapparate.
Aku masuk ke dalam menuju ruang makan, kulihat ada Ron, Hermione, Ginny, Neville, George, Bill, Fleur, Percy dan . Mata mereka kini mengarah kepadaku semua terdia sampai akhirnya Hermione bangkit dan berjalan kearahku,dan memelukku,
"Aku turut berduka, jadilah kuat Harry!" isak Hermione
"Terima kasih, Mate," ucapku.
Kami semua makan dalam diam hanya yang berusaha mencairkan suasana dengan lelucon yang sebenarnya tidak lucu sama sekali. Semua diam menikmati makanannya, dan sesekali terdengar helaan nafas,bunyi piring dan sendok yang bersinggungan,serta suara rintik hujan yang masih mengguyur di luar. Setelah makan malam, aku diantara Ginny menuju kamarku yang sejak dulu memang disediakan jika aku menginap di sini. Aku tertidur begitu cepat, rasanya lama sekali aku tak pernah tidur senyenyak ini.
London, 12 Juni 2001
Author's POV
Sudah 4 bulan Harry tinggal di The Burrow, bebannya dan rasa sendirinya kini telah terobati sedikit demi sedikit. Harry mulai membuka diri kepada semua orang, senyum sudah mulai terlihat kembali walau senyum itu masih kaku kelihatannya. Harry belum melakukan aktivitasnya sebagai seorang pengajar Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam di Hogwarts, Harrry mengambil cuti selama satu tahun ajaran, dan sebagai penggantinya Harry menyarankan Ronald Weasley untuk menggantikannya sementara waktu.
Harry kini mulai sedikit melupakan rasa sepinya, dia sering membantu memasak untuk makan malam atau sarapan. Seperti sore ini, Harry bersama memasak di dapur The Burrow,
"Harry,son. Bagaimana keadaanmu saat ini" Tanya
"lebih baik dari sebelumnya" senyum Harry
" Sudah 4 bulan kau disini Harry, apakah kau tak mencoba untuk keluar son?"
"em, aku belum tahu kapan aku bisa, aunt"
"aku mengerti son, semoga kau sudah bisa beraktivitas seperti biasa secepatnya"
"iya, terima kasih aunt."
Harry meyiapkan meja makan, hingga waktu makan malam tiba. Di meja makan hampir semua anggota keluarga Weasley duduk bersama dalam satu meja makan. Mata Harry sesekali memutar mengamati sekelilingnya sampai Harry menemukan sepasang bola mata yang memandangnya begitu hangat, tatapan Percy Weasley. Suasana saat itu begitu hangat ada canda dan juga tawa, semua merasa bahwa Harry sudah pulih 100%.
"mate, bagaimana keadaanmu dan bayimu tentunya?" Ron memulai obrolan
"yah, aku dan dia baik-baik saja"
"yeah, aku lihat kau begitu ceria dan sehat sekarang tidak seperti kemarin" ucap Hermione
"yah, ini semua berkat kalian. Terima kasih"
'Oh ya Son, kapan anakmu akan lahir?"
"Beberapa bulan lagi Aunt, bilang kehamilanku akan lebih lama dari kehamilan pada umumnya, mungkin 1 tahun"
"Bloody hell,mate! Itu lama"komentar Ron
"Ron, jangan berlebihan. Aku waktu mengandung Rose juga sama bukan, walau Rose hanya 10 bulan" bela Hermione
"yang penting, jaga kesehatanmu dan "dia" Harry" Percy berbicara kemudian berdiri dan berbalik ke kamar.
"tumben dia, ngomong." Ron terbelalaK
"Haha, kau bisa saja Ron" ikut ngobrol.
Harry menatap punggung Percy yang mulai menjauh dan hilang tepat ditangga. Harry merasa Percy menatapnya dengan berbeda, lebih hangat. Harry yang sejak tadi diam, kemudian berdiri dan pamit menuju kamarnya. Harry berjalan pelan menjauhi meja makan, berbelok menaiki tangga sambil terus memengangi buah apel yang dibawanya dari meja makan. Harry berjalan menuju balkon sesekali memandangi foto-foto yang terpaku di dinding.
"Harry, menghirup udara segar " Percy muncul dibalik jendela
"bisa dikatakan seperti itu bapak Asisten Menteri Sihir" Harry menjawab dengan senyum
"Harry, kau bisa saja. By the way I want to talk to you"
" Oke, I Want heart that"
"Wait, I'll go to there "
" Oke,I'm waiting"
Tak berapa lama menunggu, Percy sudah ada di Balkon dengan setelan piama tidur krem bermotif kotak-kotak,
"Like a Lightning?"
"Haha, you are funny Percy"
" just try make a joking"
"hahaha, not bad. What do you want tell to me?"
"Ok, Harry. Sebenarnya aku sudah lama ingin mengatakannya bahkan sebelum insiden aku dan keluargaku terpecah saat kau tahun ke 5 Harry. Mungkin ini bodoh tapi ya aku hanya ingin bilang aku menyukaimu sejak kau tahun ke 4. Tapi aku tak berani mengatakannya karena kau sudah berpacaran dengan Diggory."
"Percy? It's not joking,right? "
"it's seriously. I love you, Harry James Potter"
"apakah ini artinya kau menembakku Percy?"
"Bisa dibilang seperti itu, Harry"
"Bisa beri aku waktu, aku mungkin butuh berpikir untuk ini Percy."
"Baiklah, aku menunggu"
Sebelum Percy berbalik, Percy sedikit memajukan kepalanya mendekati kepala Harry. Jarak mereka semakin menipis, Harry menutup matanya dan Percy mencium bibir tipis Harry. Ciuman yang lembut tidak ada gairah hanya sebuah ciuman ringan.
"ekhm, apakah kalian tidak akan melepas ciuman kalian didepan kami?" Bill bersama Fleur telah berdiri dipintu balkon.
Harry sedikit mendorong Percy dan berbalik, jelas sekali kini wajahnya merah seperti Apel yang siap petik. Siapa sangka Dia dan Percy akan melakukan sebuah ciuman pertama setelah mendiang suaminya meninggal. Harry hanya menunduk dan berlari kekamar menahan rasa malu terhadap Bill dan Fleur.
Harry's POV
Kejadian kemarin sungguh membuat aku malu, Bill dan Fleur mmelihatku berciuman dengan Percy, Oh God. Tapi kenapa kemarin aku tak melawan ,rasanya kemarin aku tak bisa bergerak terkunci tepatnya. Ya sudahlah, aku harus bersikap seperti biasa itu hanya sebuah kecelakaan.
Oh,aku harus turun ke dapur ini sudah jam 5,aku harus membuat sarapan. Aku turun dan langsung menuju dapur, kulihat belum ada yang bergerak,hanya aku yang melangkah mengambil celemek untuk memasak. Aku memasak roti panggang, daging asap, telur rebus,dan oh ya saus mayones. Semua sudah selesai kumasak tinggal menyajikannya, aku mendongak melihat jam angkanya sudah tepat dijam 6 aku bergegas mengambil beberapa piring,sendok,dan garpu untuk kutaruh dimeja makan. Tak lama aku berjalan menuju meja makan, sudah berdiri diambang pintu sambil terkagum-kagum bak melihat artis terkenal,
"Harry,son. Kau memasak sarapan untuk kami?" tanya
"Ya, Aunty Molly. Aku ingin sekali memasak untuk kalian" jawabku
"Oh, Harry. Peluk Aunty, kau sudah kuanggap anak sendiri"
"terima kasih aunty Molly " aku dan aunty berpelukan.
"anyway,son. Apa benar yang dikatakn Bill dan Fleur tentang kau dan Percy?"
"Oh, maaf Aunty aku tidak bermaksud…"
"tidak apa Son, aku mendukung kalian,"
Mendengar perkataan Aunty Molly membuat wajahku panas dan bersemu merah.
London, 20 Juli 2001
Author's POV
Sudah sebulan lebih Harry mencoba membuka hatinya pada Percy, sedikit demi sedikit mungkin bisa dikatakan berhasil. Tapi semua berubah saat senja yang dibingkai dengan rinai gerimis di 12nd Grimmauld Place ketika Harry mampir di rumah itu. Ketika Harry memasuki halaman rumah walinya itu, sesosok bayangan tinggi berdiri tepat dibelakangnya, belum sempat Harry berbalik, matanya sudah ditutup oleh tangan yang memiliki lengan yang kokoh. Harry bingung apakah ini Percy atau siapa? Tapi mencium aroma mint sama sekali bukan aroma Percy,
" Oh, Merlin. Siapa pun tolong lepaskan" pinta Harry
"Oh ya, kalau aku tak mau bagaimana?" Sosok itu bersuara berat tapi seprti dibuat-buat
"Oh, Apakah kau tak bisa bercanda?"
"Baiklah, tapi tebak siapa aku?"
"Oke, Draco?"
Sosok itu melepaskan tangannya dari mata Harry, dan melangkah maju tepat didepan Harry. Ternyata tebankan Harry benar! Binggo!
"Harry, kenapa kau bisa tahu? Padahal suaraku sudah aku ubah?"
" Feeling Draco, aku punya Feeling kau?"
"Serius?, baru kali ini aku berhasil ditebak!"
" ya, itu jadi pelajaran buatmu untuk tidak berbuat jahil, huh!"
" Benarkah? Tapi kena pipimu merona merah?"
"betulkah? Aku kedalam dulu"
Harry malu dan segera berlari masusk ke rumah nya, dia tak tahu kalo pipinya kini sperti kepiting rebus! Bayangkan reader KEPITING REBUS!.
Draco ikut menysul dibelakangnya, dengan gaya aristokrat yang tak akan pernah hilang darinya di berjalan dingin dan tak bersuara. Draco kini sudah masuk ke dalam rumah Harry, Bersih! Kesan pertama ketika kaki Draco menginjak karpet diruang depan. Draco melangkahkan kaki menyusuri koridor panjang rumah ini, sesekali dia melirik beberapa lukisan dan hiasan rumah yang tertata rapi di dinding. Draco berbelok menuju ruang makan, matanya langsung tertuju pada Harry yang duduk bersama Kreacher yang berdiri disampingnya. Harry tersenyum, manis sekali untuk ukuran laki-laki sepertinya, mata emeraldnya membius Draco yang terdiam di ambang pintu menatap Harry begitu serius,
"Draco? Halo, Pangeran kembalilah dari alam mimpi!"
"Harry, tidak kah kau bisa tidak mencampuri urusan orang lain?"
"Oh, Absoloutly Not! Aku suka itu!"
"berhentilah Harry atau aku akan membuatmu diam!"
"Oh ya? Apa yang kau bisa lakukan pada Pahlawan Dunia Sihir macam aku?"
Draco terdiam, dia masih tetap memandaan manik emerald yang sangat menawan itu, tapi kali ini Draco mendekat dan berdiri tepat disamping Harry,
" Kreacher, tolong tinggalkan kami!"
"Baiklah Master Malfoy" Kreacher menghilang disertai bunyi Duar yang begitu keras.
"Oh, kenapa terdiam? Kau tak bisa membantah bukan Mr. Big Head!"
"Oh, Harry begitu cerewetnya kau. Tutup mulutmu atau aku yang akan menutupnya dengan caraku!"
"Kau mengancamku Draco?"
Draco tak berbicara,Draco mendekatkan kepalanya tepat didepan Harry. Harry merasakan aroma mint Draco kian mendekat tiga senti, dua senti, sesenti dan pup! Binggo! Bibir Draco dan Harry kini bersentuhan, Harry memejamkan matanya sementara Draco terus memperdalam ciumannya, hanya erangan Harry yang terdengar. Draco begitu menikmatinya begitupun Harry, mereka seperti telah menemukan apa yang mereka cari. Begitulah mereka sampai akhirnya mereka butuh Oksigen dan saling melepaskan tautan dibibir masing-masing. Harry kembali mentap Draco seakan tak percaya apa yang tadi mereka lakukan, Draco hanya tersenyum melihat betapa bingungnya Harry,
"Harry, tahu kah kalau aku menyukaimu!"
"Tapi Draco, .."
"Sst, Sejuta rius, and I just wanna say I Love You"
"Draco, kau.."
"jangan memotongku dulu Harry,ada masih ingin kusampaikan kepadamu!"
"Apa?"
"Will you Marry me?"
Harry terdiam mendengar Draco mengatakan kalimat itu, bagaimana tidak! baru tiga hari yang lalu dia menerima Percy sebagai kekasihnya. Draco malah melamarnya tepat di rumah keluarga Black rumah leluhur Draco. Harry masih ternganga dengan ucapan Draco tadi, hanya matanya yang berkedip disertai dengan helaan nafas keduanya, hening akhirnya pecah ketika sosok lain muncul diambang pintu ruang makan Rumah keluarga Black, memakai setelan jas yang hamper sama dengan Draco hanya berbeda warna serta berambut merah. Yup he is Percy Weasley,kekasih baru Harry,
"Harry and Malfoy! Good evening!" Sapa Percy
"Percy…! Ayo kemari aku ingin kau berbicara dengan Mr. Malfoy" sapa Harry
"hai Malfoy, bisa tanganmu jangan menyentuh tangan kekasihku?" Percy mendekati meja makan
"What, kekasihmu Weasley?" Draco tampak kebingungan
"Ya, maaf aku lupa mengatakannya , tiga hari yang lalu aku dan Harry resmi menjadi sepasang kekasih" Percy tersenyum.
"Oh, yeah sangat serasi 1 Congrtaulation. And Longlast." Seru draco dengan ketus
"terima kasih Malfoy!" ucap Percy
"Ok mungkin aku akan segera pulang karena Ayahku pasti menunggu laporanku dari kementerian. " putus Draco
"Oh ya, Draco aku mengantarmu kedepan. Boleh Percy?"
"Iya, Sweetheart aku ke dapur dulu"
Harry dan Draco berjalan berdampingan menuju pintu depan, mereka saling diam tidak ada suara diantara mereka, sampai akhirnya hanya bisikan disertai isakan dari Harry ,
"maafkan aku , Draco"
Tak adalagi sesudahnya Draco tak membalas perkataan Harry, tapi seolah Dewi keberuntungan sedang berpihak pada Harry, Draco berbisik tepat ditelinga Harry saat akan pergi dari rumah Black,
"Aku menunggu jawabanmu, aku tak peduli ! sebelum kau berdiri di altar dan mengucap sumpah sehidup semati aku masih bisa mendapatkanmu!"
Malfoy akhirnya berlalu, meninggalkan Harry yang termenung di depan gerbang menatap punggung Malfoy. Harry mendapatkan dua pilihan yang sulit, Harry harus memilih antara Percy anak dari keluarga Weasley, yang baik dan dekat dengan Harry atau Malfoy yang pernah Harry sukai saat tahun ke 6 mereka yang kelurganya juga tak kalah baik setelah membantu Harry mengalahkan Voldemort. Semua membuat Harry bingung, dia tak dapat menentukan pilihan, dia kini seakan berada di suatu tempat yang gelap dan hanya ada dua jalan yang harus dia pilih salah satunya. Harry merasa dirinya Galau!.
Tbc
Ok, enough dulu ya, entar di Chap berikutnya akanlebih seru..heheh
buat eidelwiana2112 thanks review nya,, nebak yeawww.. liat aja ntar sia pe tuh si Lord greensnake
Namikaze lin-chan heheh,, sengaja dehh supaya Angstnya lebih meresap.. thanks Reviewnya...
Thanks For Read, don Forget for review... Salam DraRry
