Naruto © Masashi Kishimoto
Story © Kumiko Hyuuga
Standard warning applied. No flame, please. No copycat!
Inspired by novel istana kedua.
Enjoy.
.
.
.
-DECISION-
.
.
.
Haruno Sakura terlihat tergesa-gesa memasuki sebuah rumah yang dihuninya selama menjadi istri dari seorang Sabaku Gaara. Ya, istri. Hatinya miris mengingat hal itu. Ya Tuhan, ini rasanya sangat sakit. Mengapa harus keluarganya yang mendapat cobaan seperti ini?
Sakura tahu seberapa besar pun ia mencintai suaminya, perceraian tetap akan menjadi keputusannya untuk menyelesaikan masalah ini. Menyelesaikan? Benarkah dengan perceraian maka semuanya, segalanya akan selesai? Sakura sendiri tidak tahu pasti, yang hanya bisa ia lakukan saat ini adalah menangis, merenung dan meminta petunjuk pada Tuhan, petunjuk bahwa keputusan yang akan ia ambil adalah hal yang benar untuk dirinya, putranya, suaminya, perempuan itu dan juga ... anak perempuan itu.
Air matanya mengalir lagi mengingat Gaara ternyata mempunyai anak dari perempuan itu. Untunglah putranya sudah ia titipkan di rumah Ino sehingga ia tidak akan kaget melihat ibunya pulang dengan keadaan yang menyedihkan. Sakura tidak bisa menitipkan putranya di rumah ibunya atau ibu mertuanya. Karena ia tahu, semuanya akan tambah pelik jika keluarganya tahu. Walaupun Sakura tahu, lambat laun masalah ini pasti tercium oleh keluarganya. Tapi ia ingin sebisa mungkin menyelesaikan masalah rumah tangganya sendiri, oh salah, mungkin bukan sendiri tapi berdua dengan suaminya tepatnya.
Dan sepertinya itu benar, karena tak berapa lama Sakura mendengar suara mobil berhenti dan pintu yang didobrak kasar. Memang benar, sepertinya masalah ini tak bisa ia selesaikan sendiri.
"Sakura..." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Gaara ketika ia akhirnya bisa menemukan Sakura. Lega. Takut. Kalut dan bersalah semuanya ia rasakan dalam waktu bersamaan.
"Berhenti, jangan sentuh aku." ucap Sakura kasar.
Gaara terpaku, egonya terusik. Sangat. Tapi ia menuruti Sakura. Penampilan Gaara sama kacaunya dengan Sakura. Ini sangat berat untuknya. Gaara tahu, ia harus berkata dengan hati-hati agar ia tidak kehilangan Sakura dan Rei.
"Aku tahu kesalahanku teramat besar, sayang. Tapi, kumohon, aku memohon dengan sangat jangan ambil keputusan itu. Perceraian kita tidak bisa menyelesaikan masalah akibat dari kesalahanku. Aku ... aku tahu, semuanya tidak akan cukup jika hanya dengan permintaan maaf dariku, tapi juga tidak benar jika kita mengedepankan ego kita sayang..."
Sakura menghela napas, mencoba untuk berpikir tenang. "Lalu, hal apa yang menurutmu benar Gaara? Apa yang harus kita lakukan dengan keluarga ini? Apa yang harus kulakukan dengan rasa sakit ini?" ucapnya sambil menatap Gaara.
Gaara menutup matanya sejenak, air mata juga mulai mengalir di wajahnya. Tuhan... ia bergumam dalam hati, kumohon berikan aku kesempatan dan kekuatan untuk memperbaiki kesalahanku.
"Aku akan meninggalkannya, seperti yang seharusnya kulakukan dari dulu, aku bersedia mendapatkan hukuman apapun darimu Sakura tapi tidak dengan menceraikanku. Apapun akan kulakukan untuk menebus dosaku padamu, apapun sayang... jadi kumohon berikan aku kesempatan." mohon Gaara.
Sakura mendengus, "Kau bilang kita jangan mengedepankan ego, tapi lihat apa yang baru saja kau katakan. Kau egois. Kau tidak memikirkan perasaanku dan perasaan perempuan itu. Kau hanya memikirkan keinginanmu saja!"
"Justru aku sangat memikirkan perasaanmu, Sakura!" ujar Gaara kalap."Kau sangat terluka karenaku, karena kebodohanku. Aku ingin menebusnya, aku ingin memperbaikinya... kumohon Sakura...Aku sangat mencin-"
"Cukup! Jangan kau teruskan!" ujar Sakura tak kalah kalap. "Aku membenci kata itu! Aku tidak bisa mempercayaimu lagi, Gaara. Tidak bisakah kau lihat itu? Kadang tidak semua hal bisa diperbaiki, kadang tidak semua hal bisa kembali kekeadaannya semula setelah dihancurkan. Kau tahu itu kan?"
"Tidak! Saku..."
"Kau bilang kau akan melakukan apapun untuk menebus dosamu kan? Aku sudah cukup senang mendengarnya, perpisahan diantara kita adalah hukumanmu Gaara. Jadi bisakah kau lakukan itu?"
"Demi Tuhan Sakura! Bisakah kau tidak keras kepala? Aku bilang apapun, asal aku tidak kehilanganmu, jadi singkirkan kata cerai dalam pikiranmu! Karena aku tidak akan pernah menceraikanmu!"
Kali ini giliran Sakura yang memejamkan matanya. Ini tak kan mudah, Sakura. Dan akhirnya, ia memilih cara yang cukup ekstrim agar Gaara mau menceraikannya.
"Apa yang kau rasakan saat kau bercinta dengan perempuan itu? Apakah dia bisa lebih memuaskanmu dibanding aku?"
Gaara terhenyak. Tidak sampai sedetik, dia sudah menyudutkan Sakura ke dinding dengan bunyi yang cukup mengerikan dan diiringi jeritan tertahan dari Sakura.
"Apa maksudmu?" ujar Gaara. Matanya berkilat marah.
Sakura balas menatap Gaara."Apa? Aku hanya menyuarakan isi hatiku Sabaku Gaara? Perlu kuulangi? Aku hanya bertanya apa yang- "
Belum sempat Sakura menyelesaikan perkataannya, tangan Gaara sudah mencengkram bahunya kuat sehingga membuat Sakura meringis kembali.
"Perlukah kau mengungkit kesalahanku Saku...? Sampai sejauh inikah kau ingin berpisah denganku?"
"Tidak! Kau tidak tahu sebesar apa keinginanku untuk berpisah denganmu! Karena kau tidak tahu pertanyaan-pertanyaan apalagi yang berputar dikepalaku tentang kenapa kau melakukan semua ini padaku. Kenapa harus kau yang terus berada disisi perempuan itu untuk menolongnya? Padahal Kankurou yang seharusnya bisa melakukannya. Padahal yang menabraknya bukan kau, tapi juga Kankurou, karena justru dialah yang menyetir! Lalu mengapa kau menikahinya? Karena kau itu seorang Sabaku Gaara, demi Tuhan, kenapa kau tunduk hanya dengan ancaman bunuh dirinya?"
Gaara kembali terhenyak, perlahan melepaskan cengkramannya di bahu Sakura. Lalu menatap Sakura, mencari adakah kesempatan baginya di iris emerald itu.
"Dan kau tahu, seberapa kerasnya pun kau mencoba meyakinkanku, apapun perkataanmu, apapun alasanmu melakukannya aku tidak bisa menerimanya. Kau tahu, aku juga memikirkan kemungkinan-kemungkinan bahwa mungkin semuanya tidak seburuk apa yang kupikirkan, tidak seburuk kelihatannya, mungkin ada alasan yang membenarkanmu melakukan semua ini, tapi semuanya percuma, aku tidak bisa menerimanya karena aku tidak bisa mempercayaimu lagi."
Setelah Sakura menyelesaikan perkataannya. Gaara tahu kesempatan itu tak ada untuknya. Tidak sekarang mungkin. Ia hanya bisa menumpukan kepalanya di bahu Sakura.
"Aku ingin bercerai karena aku ingin bebas dari kewajibanku sebagai istri. Aku ingin menenangkan diri, menenangkan diri dari pikiran bahwa kau memang tertarik padanya. Sampai aku bisa berpikir bahwa semuanya yang terjadi, memang seharusnya terjadi. Tidak lagi berpikir mengapa ini terjadi. Aku berjanji setelah kita bercerai, kau, aku, dan juga putra kita akan tetap berbahagia." kata Sakura sambil terisak, ia juga mulai memeluk Gaara yang kemudian dibalas oleh Gaara.
Sakura kemudian berkata lagi "Mungkin aku egois. Dan kau juga egois, tapi aku bukan hanya memikirkan hubungan antara kita, aku memikirkan Rei dan juga anakmu yang lain. Ini yang terbaik Gaara."
Gaara semakin mengeratkan pelukannya, "Maaf... maafkan aku..."
Dan akhirnya mereka menangis dalam kalut dan rasa kehilangan.
. . .decision. . .
Dua bulan setelah kejadian itu, akhirnya Gaara dan Sakura resmi bercerai. Hal ini tentunya mengejutkan banyak pihak, apalagi keluarga Sakura dan Gaara sendiri. Keluarga Gaara marah besar begitu mengetahui penyebab perceraian mereka adalah Gaara sendiri, tapi kemudian mereka hanya bisa menerima perceraian tersebut. Adapun keluarga Sakura mendukung keputusan mereka.
Perceraian itu sebetulnya tidak membawa perubahan besar untuk Rei, putra mereka. Karena memang Gaara masih sering melakukan hal-hal yang biasa mereka lakukan bersama seperti sarapan pagi, mengantar ke sekolah, menghabiskan akhir pekan bersama dan lainnya. Perceraian itu hanya menjadi legalitas bahwa Sakura maupun Gaara tidak lagi mempunyai kewajiban yang pernah mereka emban sebelumnya. Hanya itu dan semuanya berlalu dengan baik, sebagaimana yang diinginkan oleh Sakura. Kebahagiaan itu ada untuk putranya, untuknya dan untuk Gaara.
Mungkin.
-TBC-
Hello minna-san, saya mau minta maaf karena ternyata chapter kedua kemarin tidak seperti yang seharusnya. Dan yah, inilah chapter 2 yang seharusnya, semoga suka ya..
regard
kumiko hyuuga
