You're my beloved doctor

Kuroko no Basket milik Fujimaki Tadatoshi

You're my beloved doctor milik Akuma Kurama

Rate T

Romance

AkaKuro

Awas! Sho-ai, yaoi, BL, typo dimana mana, cerita pasaran, bahasa nggak jelas jluntrungannya. Bahasa Indonesia sih, tapi nggak baku, alias nggak sesuai dengan EYD. Ini fanfic keduaku di fandom KuroBas, jadi semoga kalian semua suka ya.

Chap 1

-Awal-

"Tetsuya…" panggil Akashi.

"ya?"

"kenapa hanya berdiri saja. Kau tak mau memulai pengobatanmu." Tanya Akashi dengan nada datar yang terkesan cuek.

"tapi kau masih sibuk."

"kalau begitu, bantu aku."

"baik." Kuroko membantu Akashi yang sibuk berkutat dengan buku yang ada di hadapannya, ternyata tugas sekolah tentang kepribadian yang dimiliki setiap orang. Kuroko dengan senang hati membantu Akashi karena itu memang bidangnya.

Padahal Akashi adalah tipe orang yang nggak mau repot dengan hal hal sepele macam tigas sekolah. Ya, Akashi Seijuro memang tak pernah mengerjakan tugas rumah yang dia dapat. Tapi jangan salah, nilainya selalu bagus dan sempurna. Lalu kenapa sekarang dai mau mengerjakan tugas sekolah?

"kau hebat." Puji Akashi.

"terima kasih." Jawab Kuroko kalem, dia melanjutkan menjawab soal yang ada di buku. Sementara Kuroko mengerjakan tugas milik Akashi, sang tuan muda bermata heterochrome itu hanya memperhatikan sosok Kuroko dari samping.

"apa ada sesuatu diwajahku?" tanya Kuroko, karena sedari tadi dia merasa kalau dirinya diperhatikan oleh Akashi. Teguran Kuroko tak membuat Akashi kaget atau mengalihkan perhatiannya.

"rambutmu unik." Sebuah alasan yang selalu di dengar Kuroko.

"banyak yang bilang begitu. Sudah. Ini." Tugas Akashi telah selesai, Kuroko menyerahkan buku tersebut ke Akashi dan beranjak dari duduknya.

"hm."

"bisa kita mulai terapinya? Aku hanya akan membuatmu rileks." Kuroko sudah berdiri di samping ranjang king size milik Akashi, sedangkan di samping ranjang tersebut ada sebuah meja dorong yang berisi buku catatan, stetoskop, pena, dan secangkir teh mungkin.

Akashi berjalan mendekat kearah ranjang miliknya, lalu membaringkan tubuhnya sebelum Kuroko member instruksi. Ia buat posisi senyaman mungkin, karena sepertinya itulah yang ingin dikatakan Kuroko, setelah merasa nyaman, Akashi memejamkan kelopak matanya, menyembunyikan dua manic berbeda warnah itu.

"sepertinya kau tau betul apa yang ingin kukatakan. Ini bukan pertama kalinya untukmu?" tanya Kuroko, dia mulai memasangkan stetoskopnya, dan memeriksa detak jantung Akashi.

"ya. Beberapa kali di terapi para psikolog."

"biar kutebak, mereka gagal?" Akashi hanya mengangguk sebagai sahutannya. Dia merasakan pergelangan tangan kirinya di tekan oleh ibu jari Kuroko. Dan hal itu membuatnya nyaman, entah kenapa, Akashi tak tau alasannya.

"kurasa untuk permulaan, cukup segini saja. Kau boleh membuka matamu. Lalu minumlah teh hijau racikan itu." Pinta Kuroko, meski dia tau kalau Akashi nggak suka di perintah, tapi dia berharap kali ini Akashi mau menuruti permintaannya ini.

"hm. Rasanya lumayan juga." Ternyata Akashi mau melakukan apa yang ia inginkan, Kuroko menghela napas lega. Yah, teh racikannya ini memang memiliki efek tersendiri, yaitu menenangkan dan membuat rileks perasaan orang yang meminumnya.

"kalau begitu, aku permisi." Pamit Kuroko, dia menarik meja dorong yang ada di sebelah ranjang, lalu membawanya menuju keluar.

"hm." Setelah Kuroko pergi, Akashi masih tetap memperhatikan pintu yang tadi dilalui Kuroko. Lalu seulas senyum tulus terukir di wajah ampan nan dingin itu. Senyuman pertama setelah kecelakaan yang terjadi dan mengakibatkan dirinya berubah.

Hari berikutnya…

"Seijuro-sama, sarapan sudah siap." Pagi ini, Akashi bangun agak siang dari biasanya, tapi kenapa dia belum melihat si pemuda bersurai biru lembut itu. Akashi memperhatikan sekitaran rumahnya, mungkin saja dia akan bertemu dengan psikolog-nya itu.

"anda mencari siapa, Seijuro-sama?" tanya kepala pelayan yang dari tadi senantiasa menemani Akashi.

"dimana Tetsuya?"

"Kuroko-san ada dirumahnya, Seijuro-sama." Dan jawaban kepala pelayan itu hanya di tanggapi gumaman kecil oleh Akashi. Ia piker bhawa Kuroko juga tinggal di manor milik Akashi, ternyata dugaannya meleset.

"ini kunci mobil anda, Seijuro-sama." Kepala pelayan yang mengantarkan Akashi sampai di depan manor, dimana sebuah ferary merah telah terparkir disana, menyerahkan kunci kontak mobil mahal tersebut.

"hm."

"Itterasai Seijuro-sama." Dan para pelayan yang ada disana membungkuk penuh hormat saat mobil yang dikendarai Akashi melaju, menjauh dari bangunan megah dan kuno itu.

Dengan kecepatan sedang –standar kecepatan Akashi–, Akashi melaju menuju ke SMA Rakuzan yang berjarak cukup jauh dari kediamannya itu. Yah meskipun dia terlambat, tak aka nada guru yang berani untuk menghukumnya.

Dan benar saja, halaman sekolah sudah sepi, tanpa diminta, penjaga gerbang sekolah sudah membukakan pintu untuk Akashi. Setelah memarkirkan mobilnya, sang kapten basket Rakuzan itu berjalan santai menuju ke kelasnya. Alasan kenapa Akashi tidak di marahi ataupun di tegur guru, selain karena kekayaannya, juga karena Akashi membawa nama baik sekolah tersebut di bidang basket, lalu nilai akademiknyapun juga yang terbagus disekolah elite itu.

Greeek…

Pintu kelas digeser Akashi, membuat suasana kelas jadi hening seketika. Bahkan sang guru diam, tak melanjutkan penjelasannya yang ia tulis di papan. Tanpa berkata apapun, atau meminta maaf, Akashi berjalan menuju ke mejanya. Tak memperdulikan sang guru yang berkeringat dingin di depan kelas.

"sensei… kenapa tak melanjutkan penjelasan anda?" tegur Akashi, karena dari tadi sang guru hanya diam saja.

"a-ah… mari kita lanjutkan.." ucap sang guru, terlihat sekali kalau dia gugup dan juga takut melihat tatapan mata Akashi yang datar. Jam pelajaran pun dilanjutkan kembali, suasana kelas sudah kembali seperti semula, hanya saja dengan Akashi yang tertidur di mejanya sampai jam istirahat tiba.

Dengan langkah yang sedikit malas dan tak bersemangat, Akashi berjalan menuju ke gedung olah raga, dimana tim basket yang ada di bawah pengawasannya tengah berlatih. Tak biasanya Akashi malas seperti ini jika berurusan dengan basket.

'apa yang terjadi padaku sebenarnya' keluh Akashi di dalam hati.

"Akashi-senpai… selamat datang." Ucap semua anggota klub basket yang ada disana saat Akashi memasuki gedung olah raga, seperti biasa ia hanya menjawab dengan anggukan kepala, lalu berdiri di tepi lapangan untuk memperhatikan anggota reguker tim basket Rakuzan bermain. Dan lagi-lagi, Akashi tak bisa berkonsentrasi dengan jalannya permainan, pikirannya tertuju pada sosok pemuda baby blue yang baru-baru ini ditemuinya.

"apa kau sudah dengar? Di ruang kesehatan ada guru baru loh."

"iya, sepertinya dia menjadi topic pembicaraan saat ini."

"aku tadi melihatnya, dia manis."

"he? Benarkah."

"ya. Rambut biru indah, sepertinya lembut kalau dipegang."

Mendengar para kouhai bergosip ria, Akashi jadi sedikit kesal. Tapi dia tetap diam dan mendengarkan apa yang di bicarakan kouhainya ini. Entah kenapa saat mendengar kata biru, pikiran Akashi tertuju pada psikolog-nya.

"lanjutkan latihan kalian." Tegas Akashi, dia segera pergi meninggalkan gedung olah raga dan menuju ke ruang kesehatan, membuat semua anggota klub menatap kepergian Akashi dengan heran.

Dengan langkah yang sedikit tergesa, untuk ukuran Akashi tentu saja, ia menuju ke ruang kesehatan yang ada di gedung utama. Seulas seringaian terlihat dari wajah tampan Akashi, membuat siapa saja yang melihatnya akan berpikir bahwa Akashi mendapatkan sesuatu yang benar-benar membuatnya senang.

Greek…

Pintu ruang kesehatan itu terbuka dengan pelan, membuat seorang guru baru yang bertugas untuk menjaga ruangan tersebut menoleh untuk melihat siapa yang datang. Dan alangkah senangnya hati Akashi saat melihat guru penjaga tersebut.

"Tetsuya."

"hm? Akashi-kun? Ada apa? Apa kau terluka?" tanya Kuroko yang langsung menghampiri Akashi. Ya Kurokolah guru kesehatan yang baru, selain dia seorang dokter, dia juga dapat memeriksa kondisi mental setiap murid yang ada di SMA Rakuzan ini.

"hm. Kenapa tadi kau tak ada di rumah?" dengan seenak jidatnya, Akashi berjalan menuju ke bilik yang ada dan duduk santai disana.

"gomen Akashi-kun. Tadi ada yang harus kulakukan dulu. Dan lagi, tugasku hanya mengecek kestabilan dan kondisi mentalmu saja. Jadi aku-"

"kau harus selalu ada di sampingku." Titah Akashi.

"eh?"

"apa pernyataanku kurang jelas?" Kuroko menggeleng, lalu duduk di kursi yang ada di meja kerjanya.

"jadi Akashi-kun ada keluhan apa, sampai datang ke ruang kesehatan?"

"aku hanya mau tanya, kenapa kau bekerja disini juga?"

"karena aku sudah lebih dulu dikirim untuk menjadi guru kesehatan di sini, sebelum kepala pelayan memintaku untuk menjadi psikolog pendampingmu, Akashi-kun." Jawaban Kuroko membuat Akashi terdiam sejenak, sebelum dia merebahkan dirinya di ranjang putih tersebut,

"aku akan menyuruh orang rumah untuk membawa barang-barangmu ke manor." Ucap Akashi.

"gomen Akashi-kun, aku lebih suka tinggal dirumahku sendiri. Jadi kuharap kau mau memaklumi itu."

"hm, terserah padamu saja." Akashi memejamkan matanya dan mencoba tidur, sedangkan Kuroko terlihat menghela napas sejenak.

'sepertinya anak ini jauh lebih keras kepala dari apa yang aku duga. Hahh… kurasa akan memakan waktu lama untuk membuatnya berubah kembali' batin Kuroko.

To be continued…

Mind to review? ^^